Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Simandjuntak, Hernardi Laurens
"Sistem Kanban yang telah digunakan sejak lama oleh Toyota sebagai salah satu alat untuk mendeteksi masalah di produksi, telah dikembangkan juga di area purna jual, khususnya pada pengadaan suku cadang. Di TAM sendiri sistem Kanban untuk pengadaan suku cadang ini telah diimplementasikan sejak tahun 2006. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dan menganalisis tingkat efektifitas dan efisiensi dari penerapan sistem Kanban untuk pengadaan suku cadang, yang dapat dilihat dari angka KPI perusahaan, yaitu Service Rate (SR) dan Stock Month (SM). Dari hasil penelitian memang terlihat adanya peningkatan kinerja yang ditandai dengan kenaikan SR dan turunnya SM. Namun pada penelitian lebih lanjut ditemukan bahwa pada beberapa kelompok suku cadang justru mengalami penurunan kinerja, yang ditandai dengan menurunnya SR pada kelompok suku cadang tersebut. Hal ini disebabkan karena dilakukannya pengurangan stok pengaman pada awal implementasi sistem Kanban, tanpa memperhatikan pola permintaan yang berfluktuasi untuk beberapa kelompok suku cadang. Selain itu peningkatan biaya rutin yang timbul akibat penerapan sistem Kanban juga ternyata masih tinggi, sehingga memerlukan beberapa tindakan untuk mengantisipasi lonjakan biaya tersebut.

Kanban syslem has been utilized for years in Toyota as one of tools to detect problems in production side. Recently, this System has been implemented in aftersales area, especially in service pans area. In TAM, Kanban system has been implemented since 2006. This study is intended to evaluate and analyze effectiveness and eficiency rate of Kanban system implementation in Service parts area, which can be monitored from company KPI, Service Rate (SR) and Stock Month (SM). The general result shows there’s increasing in performance, marked by SR increasing and SM decreasing. But from further study, it’s found that performance for some parts group is decreasing, marked by SR decreasing. This is caused by safety stock cutting at the beginning of Kanban system implementation, without any concern of fluctuated demand from customer for certain parts group. Besides, regular cost also increased in monthly operation, so it’s needed some activities to anticipate cost increasing."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T26541
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Gilang Kusumasari
"Karya akhir ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah pengembangan produk barn yang dilakukan oleh salah satu perusahaan consumer product di Indonesia Proses pengembangan produk baru yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut kemudian dibandingkan dengan teori yang ada. Dari penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memperbaiki sistem pengembangan produk di perusahaan sehingga dapat menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan Obyek penelitian adalah pengembangan produk Water Base Liquid Insecticide Spray, yang dikembangkan dengan tujuan menggantikan produk HIT Oil Spray (HOS), sejenis anti nyamuk berbentuk cair. Bahan baku HOS, ± 95% merupakan minyak tanah. Dampak dari kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun 2005 adalah turut naiknya harga minyak tanah industri. Harga minyak tanah industri pada bulan Januari tahun 2005, semula Rp. 2.1007- menjadi Rp. 6.400,- pada bulan Oklober pada tahun yang sama (kenaikan 204,76%), menyebabkan kenaikan biaya bahan baku produk HOS. Tanpa menaikkan harga jual produk, memproduksi HOS tidak lagi menguntungkan bagi perusahaan.
Metodologi penelitian dilakukan dengan cara observasi terhadap langkah-langkah pengembangan produk barn yang dilakukan oieh PT Megasari Makmur, diawali dengan adanya kebutuhan, kemudian timbulnya gagasan, pembuatan dan pengujian prototype sampai dengan perhitungan biaya produk.
Hasil dari pengujian prototype menunjukkan produk baru ini memenuhi syarat sebagai pembasmi serangga, dengan waktu yang diperlukan untuk melumpuhkan serangga uji kurang dari 4 merit dan dari kuestioner yang disebarkan, 93% responder menyatakan puas dengan produk ini. Hasil dari perhilungan biaya menunjukkan bahwa perusahaan dapat menekan biaya bahan baku produk sebesar ± 25,87% dibanding dengan bila tetap memproduksi HOS, dan dapal memperoleh keunlungan melalui penjualan produk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengganti HIT OilSpray dengan water base liquid insecticide spray merupakan gagasan yang tepat bagi perusahaan, sedangkan langkah-langkah pengembangan produk tersebul sesuai dengan teori, sehingga langkah pengembangan produk water base liquid insecticide spray disarankan unluk dipakai sebagai acuan dalam mengembangkan produk insektisida yang berupa produk subsitusi.

The purpose of the research is to evaluate the product development process in developing new product that was done by one of the consumers product manufacturing company in Indonesia. The development process being observed was then compared to the available theory on product development process. The research is expected to improve the product development system in the company so that it will be able to deliver products with satisfying quality.
The object of the research is the development of water base liquid insecticide spray, which was developed to replace the existing product : HIT Oil Spray (HOS), a liquid insecticide. The effect of the government regulation on the price of fuel oil in 2005, is the price rise of kerosene used by industry. This caused a rise in the material cost of HOS, being ± 95% kerosene. The puce of industrial kerosene in January 2005 was Rp. 2.100,- and became Rp. 6.400,- in October 2005, a 204.76% increase. Without raising the price of HOS, producing HOS was not profitable for the company anymore.
The research methodology is observation on the process of new product development done by PT Megasari Makmur, starting with needs identified, concept generation, prototyping and testing the prototype and economic analysis of the new product proposed.
The result of the prototype testing showed the new product met the requirement as an insecticide, with the time needed for insect knockdown less than 4 minutes and from the questioner, 93% of the respondent was satisfied with the performance of the product. The result of the economic analysis on the new product proposed showed 25.87% cut down on material cost and the company may gain profit from producing it.
Research showed the replacement of HIT Oil Spray with water base liquid insecticide spray is the right decision for the company and the process development of the new product had correspond with the theory on process of product development, therefore the steps taken in the development of water base liquid insecticide spray is suggested as reference in developing substitute insecticide products for the company."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
T19675
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Wibowo
"Karya akhir ini memiliki dua tujuan utama yaitu memberikan gambaran kepada pelaku bisnis tentang jasa integrasi dan konsultasi jejaring telekomunikasi seluler dalam konteks pasar jasa B2B dan memberikan rekomendasi pola pengembangan jasa kepada pelaku bisnis dengan berdasarkan kepada pemodelan industri jasa telekomunikasi seluler, yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis dampak pilihan keputusan bisnis yang terkait dengan pengembangan jasa, terhadap kinerja perusahaan. Analisis ini mengacu kepada vendor infrastruktur telekomunikasi sebagai organisasi focal dalam rantai pasokan dengan operator telekomunikasi sebagai pelanggannya.
Industri jasa telekomunikasi seluler berkembang sejalan dengan pertumbuhan yang pesat dari industri perangkal infrastruktur telekomunikasi seluler, sebagai produk komplementer yang bersifat konvensional (product-near-services). Pola konsumsi produk jasa ini mengikuti tahapan pembangunan jejaring telekomunikasi seluler, yang melipuli perencanaan, pembangunan, pemeliharaan jejaring dan optimisasi jejaring, dengan jenis produk jasa konsultasi jejaring (network consulting), jasa perencanaan dan pembangunan jejaring (nerwork design and roll our services), jasa pendidikan dan pelatihan (education and trafnfing services); jasa operasi dan pemeliharaan (operation and mainrenance), termasuk di dalamnya jasa integrasi sistem dan yang terakhir adalah managed sewices. Produk jasa konvensional dapal dikembangkan menjadi produk jasa non-konvensional yang tidak lagi mengacu kepada spesifikasi perangkat yang diproduksi vendor tertentu, namun mengacu kepada standar teknologi yang digunakan oleh semua vendor, sehingga jasa ini dapat diaplikasikan untuk perangkat yang diproduksi oleh vendor manapun.
Dinamika persaingan dalam industri infrastruktur telekomunikasi telah menekan marjin keuntungan dari penjualan perangkat yang dilakukan vendor incumbent, dengan masuknya vendor baru yang mencrapkan strategi cost leadership. Kondisi ini telah menempatkan produk jasa yang masih menjanjikan marjin keuntungan yang tinggi pada posisi yang strategis dalam pertumbuhan bisnis vendor. Dengan hanya mengandalkan produk konvensional, maka demand produk jasa akan dibatasi oleh pangsa pasar infrastruktur suatu vendor. Cara umum yang dilakukan untuk meningkatkan demand produk jasa adalah dengan aktivitas swapping yaitu penggantian jejaring satu vendor oleh vendor lain, dengan biaya yang relatif mahal dan membutuhkan upaya yang besar untuk mendapatkan peluang ini. Beberapa hal tersebut selanjutnya menjadikan pengembangan jasa non-konvensional menjadi hal yang penting dalam meningkatkan service demand, tanpa perlu melakukan aktivitas swapping, terlebih lagi saat ini operator mulai membuka peluang vendor untuk menjual produk jasa ini.
Berdasarkan hasil pemodelan dan simulasi yang dilakukan, dapat disimpulkan selama terdapat peluang untuk menjual produk multivendor dan persentase pangsa pasar infrastruktur dari vendor tersebut lebih kecil daripada persentase potensi keunlungan yang didapatkan dari pengembangan jasa multivendor terhadap ukuran pasar jasa, maka pengembangan produk jasa non-konvensional akan lebih menguntungkan. Persentase potensi keuntungan yang didapatkan dari penelitian ini sebesar 30%- Jika persentase pangsa pasar infrastruktur lebih besar dari persentase ini, maka vendor dapat lebih fokus pada produk konvensionalnya dan mengoptimalkan skala ekonomi dari basis infrastrukturnya, serta meningkatkan keunggulan operasional agar produk tersebut dapat semakin kompetitif.

This Final Paper is having 2 main research goals, i.c. : to give a brief picture to the business society regarding the system integration and cellular telecommunication network consulting sewices business in the business to business (B2B) services market and to propose a recommendation on the services development strategy based on the modelling of the cellular telecommunication industry. Furthermore the modelling can be used a tool to analyze the impact of each business decisions related to the service development to the company performance. The analysis is based on the perspective of telecolntnunication vendors as thc local organization and telecommunication operators as the first tier customers in the supply chain structure.
The cellular telecommunication service industry has been developing in line with the rapid development of the cellular telecommunication inlrastrueture businesses, as the conventional complementary product of cellular telecommunication infrastructure (product-near services). The consumption pattern of the services product is in line with the cellular network development phases, which is including network design, network roll out, network operation and maintenance, and network optimization, with services product type network consulting service, network design and roll out services, education and training services, operation and maintenance services, including system integration services, and the last one is managed services. The conventional service products can be developed to a certain level of development and resulting new service product category, the non conventional service products, which no longer refer to any specific infrastructure manufactured by certain vendor, but referring to the technology standard as the reference of all vendors. With this case, the type of product is able to be implemented to all infrastructure products manufactured by any vendor within the same technology standard.
The competition dynamics in the telecommunication infrastructure industry with the entry of new vendors applying cost leadership strategy, have been reducing the product margin ofthe infrastructure sales of the incumbent vendors. This condition has put service products which are still offering higher margin as the strategic product in terms of vendor business growth. By only relying on the conventional service products, the service demand of a vendor will be limited by the infrastructure marketsharc of the vendor. The common methode currently applied in increasing service demand is by performing swap activities, which refer to the activity of replacing one vendor infrastructure by other vendor product, with the high cost impact and an extra effort required to get this chance. These conditions linthennore have increased the importance of the development of non conventional service products in order to increase the service demand without the necessity to perform swapping activities. On the other side the operator outsourcing policy has given the chance forthe vendors to sell non conventional service products.
Based on the modelling and simulation result, it can be concluded that as long as there is a chance to sell rnultivendor service product and the infrastmcture market share percentage of a certain vendor less than thc potential revenue percentage from total service market size, received from the multivendor sales, the development of non conventional service product will always be more profitable compared to the conventional product sales only. The modelling and simulation in this research concluded the potential revenue of 30% from the non conventional product development and sales. lf the infrastructure market share of a certain vendor is higher than this percentage, this vendor can be more focused on its conventional service products and gaining advantage from the economy of scale of its installed base infrastructure and improving its operational excellence resulting an even better service product competitiveness."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
T23189
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ferhat Rahadian
"ABSTRAK
PT. PPN saat ini rncrupakan salah satu peruasahaan kontraktor pertambangan batubara yang memegang market leader dalam dunia kontraktor pertambangan batubara di Indonesia. Sebagai market leader PT. PPN menghadapi persaingan yang sangat sengit dari para kompetitor kontraktor penambangan dalam negeri dan luar negeri. Berbagai langkah-Iangkah strategis dilakukan para kompetitor seperti mengusahakan kepemilikan saham pada perusahaan pemilik tambang (integrasi vertikal) termasuk memberikan level harga pada level yang sangat kompetitif.
Agar PT. PPN tetap dapat mempertahankan kepemimpinan pasarnya dan mengalahkan pesaing yang ada maka implementasi corporate strategy pada level operasional harus dapat dilaksanakan secara efektif. Dalam kurun waktu 3 tahun belakang ini PT. PPN menghadapi penurunan pangsa pasar dalam industri ini, sementara itu perusahaan pemegang tambang memberikan porsi yang lebih besar pertumbuhan produksi mereka kepada pesaing PT. PPN, sementara itu secara finansial kondisi keuangan PT. PPN belum dapat dikategorikan sebagai perusahaan yang sehat dengan beberapa parameter kinerja keuangan yang belum memuaskan sehingga upaya-upaya pengendalian biaya menjadi persoalan penting bagi kesehatan finansial dan juga kemampuan kompetitif terhadap persaingan dengan perusahaan kompetitor.
Cost leadershw saat ini menjadi satu-satunya pilihan strategi yang harus dimiliki PT. PPN disamping upaya menjamin pertumbuhan revenue dan profit sebagai persyaratan fundamental yang harus dipenuhi agar dapat memenangkan persaingan bisnis kontraktor pertambangan batubara. Proses operasional yang terkait dengan penciptaan biaya harus mendapatkan perhatian yang sangat khusus terlebih pada sumber / pos biaya terbesar. Fungsi kontrol dan improvement atas aktivitas produksi menjadi hal yang paling menentukan dalam keberhasilan implementasi strategi perusahaan.
Karya akhir ini berusaha melakukan identifikasi terhadap berbagai sumber biaya yang paling berpengaruh dalam struktur biaya operasional perusahaan untuk kemudian dipelajari akar masalah yang menyebabkan tingginya biaya operasional yang terjadi serta berbagai hal yang terkait dan saling berpengaruh terhadap sumber biaya tersebut. Studi atas alternatif-alternatif solusi atas masalah yang terjadi dilakukan dan merumuskan rekomendasi yang perlu untuk dilakukan.
Sumber biaya terbesar datang dari konsumsi bahan bakar, biaya perawatan dan perbaikan unit, biaya subkontraktor dan biaya depresiasi. Berbagai sumber biaya tersebut saling terkait dan dipengaruhi oleh aktivitas operasional penambangan serta kondisi tambang yang ada.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan biaya operasional diantaranya meningkatkan fungsi kontrol dalam pengelolaan bahan baker dan penerapan teknologi autornasi dalam pendistribusian dan pencatatan dalam data base, standarisasi parameter operasi yang telah teruji efektif dalam menurunkan konsumsi bahan bakar, kontrol atas inetisiensi berupa delay dalam aktivitas produksi serta upaya-upaya komprehensif dalam pengelolaan perawatan unit produksi."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
T21245
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ricki Fernando
"Lini Quality Gate merupakan sebuah seksi pada Divisi Stamping Production, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia yang memiliki deskripsi pekerjaan untuk memeriksa kualitas komponen dan mereparasi komponen yang cacat yang diproduksi Lini Press. Permasalahan yang terjadi pada Lini Quality Gate adalah rendahnya efisiensi proses akibat kurang baiknya pengaturan beban pekerjaan antar karyawan dan rendahnya kualitas komponen yang diproduksi oleh Lini Press. Selain itu, ketrampilan karyawan Lini Quality Gate belum memadai yang ditandai dengan jumlah jam kerja yang jauh melampaui waktu standar sehingga sering terjadi lembur. Sistem Produksi Toyota diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan tersebut sehingga efisiensi proses dan tenaga kerja dapat ditingkatkan.

Quality Gate Line is a section at Stamping Production Division, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia which responsible for checking components quality and repairing defect components which produced by Press Line. The problems faced by Quality Gate Line were low process efficiency due to improper workload among man powers and low components quality that produced. Also, man power skills at Quality Gate Line were less competent which indicated by high overtime. Toyota Production System was implemented to solve the problems in order to improve process and man power efficiency."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25431
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas Sindhunata
"Tesis ini mempunyai tujuan utama yaitu untuk memberikan suatu gambaran mengenai progres dari proyek CBR2 yang sedang berjalan apakah lebih awal atau lebih lambat dari jadwal yang ada maupun dari dana yang telah dialokasikan sehingga dapat diambil suatu tindakan untuk mengatasi keterlambatan maupun pemakaian biaya yang lebih besar dari dana yang dialokasikan. Pengukuran progress dari proyek CBR2 ini dilakukan dengan metoda Earned Value Analysis untuk mengetahui kinerja dari suatu proyek selama proyek itu berlangsung.
Berdasarkan hasil analisis dari metode Earned Value hingga tanggal 31 Juli 2008, dapat diketahui bahwa secara umum aktivitas-aktivitas yang telah dan sedang berjalan dapat sesuai dengan rencana proyek, hanya beberapa aktivitas saja yang masih berada di bawah rencana dari segi waktu dan di atas rencana dari segi biaya. Dapat disimpulkan bahwa hingga tanggal 31 Juli 2008, pelaksanaan proyek CBR2 dapat melebihi rencana awal yaitu dengan rencana progress mencapai 35,1134% di mana pelaksanaan hingga akhir bulan Juli dapat mencapai progres sebesar 35,1466%, dengan besar Cost performance Index 0.991 < 1 dan Schedule Performance Index 0.3511 < 1.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa hingga akhir bulan Juli 2008, proyek CBR2 berjalan tidak sesuai dengan jadwal dan memakan biaya sedikit lebih tinggi dari anggaran tetapi proyek masih berjalan mendekati rencana biaya yang telah ditetapkan tetapi dari segi jadwal mengalami keterlambatan. Untuk dapat mengembalikan performa sesuai dengan rencana semula tentunya harus dilakukan kontrol secara berkala (mingguan) terhadap progres dari proyek CBR2 baik dari segi waktu dan biaya sehingga jika terdapat penyimpangan performa dari rencana, dapat segera di atasi dan tidak berdampak negatif pada proyek.

This thesis has primary goal which is giving a projection progress from CBR2 project which is on going now. It will show whether the project can be done early than the schedule that has been predict before or there is delay from it. Despite of time schedule, it will show whether the fund that has been allocated is enough or not. If there?s any delay or expenses that are more than allocated one, the developer can take action from it. The measurement of progress from CBR2 project can be done with Earned Value Analysis method. We can know the performance of on going project.
Based on the analysis result of Earned Value Method until 31st July 2008, we can know that there?s a common activities which has been done and on going are according to the project plan. But there are some activities that are still below the plan from timing and expenses. It can be concluded that from 31st July 2008, the activity of CBR2 project can beyond the master plan where the progress plan reach out 35,1134% and the performance until end of July can reach out progress 35,1466% with Cost performance Index 0.991 < 1 and Schedule Performance Index 0.3511 < 1.
This shows us that the CBR2 Project progress does not run exactly the same with the master schedule and the cost that has been used slightly higher than the budget but overall the project was running well at the cost side, but from the schedule side there is a delay. To drive back the performance pararell with the master plan, there must be a periodic control (weekly) in order to keep good performance. The control can be done from timing and expense side, so if there?s any deviation, all can be handling right away and it won?t give negative effect to the project.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25563
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hutapea, Johannes Martio
"Tesis ini membahas pemecahan masalah distribusi produk perdagangan umum yang ada di PT Rajawali Nusindo. Pembahasan mencakup analisis rantai pasok pada distribusi produk perdagangan umum, analisis penciptaan nilai dari produk perdagangan umum, dan pemberian alternatif strategi yang sesuai untuk mencapai visi dan misi perusahaan.
Hasil penelitian menyarankan bahwa PT Rajawali Nusindo perlu secara konsisten menerapkan strategi rantai pasok efisien sebagai langkah yang tepat untuk memposisikan diri di masa depan sebagai perusahaan distribusi dan perdagangan yang terpercaya.

The focus of this study is to find solution for a problem in consumer goods distribution at PT Rajawali Nusindo. The purpose of this study is to analyze supply chain in consumer goods distribution, analyze value creation in consumer goods, and give alternatives strategy matched for the company to reach its vision and mission.
The result of the study suggests that PT Rajawali Nusindo should be consistently implement efficient supply chain strategy as the right tep to position the company in the future as a trusted distribution and trading company."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25758
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Helman Arif
"Fokus penelitian ini adalah optimalisasi model distribusi voucher Telkom yang sekarang digunakan PT Pos Indonesia Optimalisasi merupakan sebuah upaya yang dilakukan olch suatu pihak dalam meningkatkan efektivitas dan cfisiensi kinerja. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan sebuah alternatif model distribusi voucher Telkomsel yang lebih cfektif dan efisien dibandingkan dengan model distribusi youcher Telkomsel yang sekarang digunakan oleh PT Indonesia. Melalui penelitian ini diharapkan PT Pos Indonesia mendapatkanmasukan yang berguna bagi peningkatan kinerja distribusi voucher sesuai yang disyaratkan oleh Telkomsel dengan cara yang lebih efisien. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melalui wawancara secara mendalam dengan beberapa pihak dari PT Pos Indonesia dan Telkomsel Pendekatan penelitian yang digunakan dalam menganalisis permasalahan di antaranya adalah Comparative Performance of Delivery Nerwork Designs, Opsi model jaringan distribusi, Center of Gravity Method, Data Envelopment Analysis, serta Logistical Cost Trade off. Berdasarkan hasil analisis penelitian didapatkan model kombinasi antara Manufacturer/Distributor Storage with Customer Pickup dengan Retail Storage with Customer Pickup yang menggunakan 8 DC sebagai model distribusi voucher
Telkomsel yang optimal
The focus of this study is to optimalize current Telkomsel's voucher distribution model used by PT Pos Indonesia An optimalization is an attempt to improve performance effectively and efficient. The purpose of this study is to acquire an. Telkomsel's voucher distribution model more effective and efficient
compared with current voucher distribution model used by PT Pos Indonesia. This
research expected to gain useful input for PT Pos Indonesia to improve voucher distribution performance required by Telkomsel in more efficient way Data used
in research collected by doing deep interview with involved parties from both
side, PT Pos Indonesia and Telkomsel. An approach used in this rescarch is to
analyze several problems include Comparative Performance of Delivery Network Designs, Design Option for A Distribution Network, Center of Gravity Method, Data Envelopment Analysis, and Logistical Cost Trade-off Based on research
analysis results produce a new model of combination between Manufacturer/
Distributor Storage with Customer Pickup and Retail Storage with Customer Pickup using 8 DC as optimum Telkomsel's voucher distribution model.
"
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Irwan Saidi
"Penggunaan voucher elektronik terus meningkat hingga melebihi 95% dari total voucher yang digunakan. Mengingat bahwa voucher hal yang sangat penting bagi bisnis telekomunikasi maka operator elekomunikasi selular harus memiliki sistem distribusi yang handal. Tesis ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi yang digunakan oleh PT XYZ, performansi dan pengembangannya ke depan dengan melihat pada kondisi eksternal dan internal perusahaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem distribusi PT XYZ yang menggunakan multi channel masih dapat berjalan efektif tetapi masih harus diperbaiki dari sisi performansi sistem untuk meningkatkan responsivenss terhadap pasar. Perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki service level agreement, edukasi kepada mitra distribusi, helpdesk yang harus bekerja selama 24 x 7 dan optimalisasi network. Dalam pengembangan sistem distribusi voucher ke depan perlu dipertimbangkan adanya inovasi sistem distribusi voucher elektronik. Pengembangan sistem yang dimaksud adalah dengan melakukan disintermediation pada sistem. Tetapi hal tersebut harus dikaji lebih lanjut mengenai aspek financial, operation and marketing.

The usage of electronic voucher has been increased significantly exceeded 95% of total voucher. Considering that voucher is one of the most important things for business telecommunication, therefore telecommunication operator has robust electronic system distribution. The aims of this thesis are to evaluate the electronic distribution system in PT XYZ, their performance and the future development. The result of this research show that electronic voucher distribution system of PT XYZ has run effectively but there are some are that need improvement from performance to increase the market responsiveness. The required improvements are service level agreement improvement, distribution channel education, 24 x 7 helpdesk, and network optimalization. For future development, the electronic voucher shall consider about innovation of distribution channel. The alternative of improvement is doing the disintermediation, so operator distributes the voucher directly to retailer. But this idea shall be analyzed deeply from financial, operation and marketing impact."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T26493
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>