Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dianali Pitasari
"Anak menjadi pembahasan utama dalam penulisan skripsi ini, dengan mengangkat kekerasan terhadap anak sebagai bentuk nyata dari permasalahan yang terjadi dalam relasi antara anak dengan orang dewasa/orang tua, terutama di dalam relasi yang bersifat paternalistik. Konsep anak yang diusung oleh Locke akan dijadikan sebagai fondasi utama dalam memahami anak sebagai subyek yang masih berkembang dan bagaimana peran orang tua di dalam masa perkembangannya dengan menjadikan akal sebagai acuan dari kedewasaan.

Child become the main discussion in this thesis, by raising issue about violence against children as a tangible form of the problem that occur in relations between children and adults/parents, especially in relation that are paternalistic. The concept of the child that Locke propose will be the foundation in understanding child as a subject who is still developing and becoming and the important role of parent in the process of development by making reason as a reference to maturity. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hario Susanto
"Rumusan keadilan selama ini begitu identik sebagai yang monumental, yang selalu dapat ditunjuk oleh subjek dengan pendasaran pada asumsi keberadaan sensus communis. Asumsi tersebut telah membuat konsepsi keadilan mengeksklusi kesadaran perseptual subjek seperti yang dilakukan oleh kerangka utiliatarianisme, intuisionisme, dan kontraktarianisme. Penelitian ini mencoba menunjukan bagaimana keadilan yang monumental tidak dapat dipertahankan lagi melalui tawaran Derrida tentang keadilan, sehingga keadilan dapat dipahami sebagai integritasnya dengan kesadaran perseptual subjek sebagai ketegangan yang tanpa henti dan dapat terus hadir walaupun tidak pernah dalam kepenuhan, keadilan momentual. Dengan sasaran memberikan pemahaman yang komprehensif akan momen keadilan maka diharapkan dapat memberikan kecukupan ruang untuk dinamika keadilan itu sendiri menghindari kekerasan pada subjek akibat stagnansinya.

Formulation of justice has been very identical to something which is monumental, which has always been able to be referred by subject based on presupposition of the sensus communis. That presupposition has excluded the subject's perseptual consciousness by the justice conception, just like the utilitarianism, intuisionism, and contractarianism have done. This research tries to demonstrate how monumental jutice can no longer be preserved through Derrida's offer about justice, thus justice can be understood as its integrity with the subject's perceptual conciousness as the unstoppable stress and will be always present eventhough it has never been the fully one, which is the momentual justice. The aim of this research is to give a comprehensive understanding of the moment of justice. The author expect that this research can give enough locus for the dynamic of justice itself to prevent the violence on the subject which is caused by its stagnancy."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S43170
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Rizka Lestari
"ABSTRAK
Dalam istilah sosial, umumnya hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga karena diasumsikan bahwa keterampilan merawat anak, memasak dan mengelola pekerjaan rumah dimiliki oleh wanita yang berafiliasi dengan feminitas yang diterima secara dogmatis oleh sosial. Sebaliknya, pria dengan atribut maskulinitas dianggap tidak cocok dalam merawat anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah sehingga mereka terbebani dengan pekerjaan di tempat-tempat umum. Perkembangan pemikiran tentang cairan gender memiliki banyak dampak pada penerimaan konsep ayah rumah tangga atau perumah tangga. Beberapa media populer digunakan sebagai upaya untuk membiasakan pemahaman ini dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan teori-teori Simone De Beauvoir, Nancy Chodorow dan Judith Butler, penelitian ini berupaya mendekonstruksi makna penting gender. Pada akhirnya, melalui pendekatan ontologi, penulis akan menunjukkan bukti bahwa karakterisasi ontologis bukanlah sesuatu yang stabil dan absolut tetapi dapat diubah.

ABSTRACT
In social terms, it is generally only known as a housewife because it is assumed that the skills of caring for children, cooking and managing homework are owned by women affiliated with femininity that are accepted dogmatically by the social. Conversely, men with masculinity attributes are considered unsuitable in caring for children and doing homework so they are burdened with work in public places. The development of thinking about gender fluids has many impacts on the acceptance of the concept of the father of the household or household. Some popular media are used as an effort to familiarize this understanding in everyday life. Through the approaches of the theories of Simone De Beauvoir, Nancy Chodorow and Judith Butler, this study seeks to deconstruct the significance of gender. Finally, through the ontology approach, the writer will show evidence that ontological characterization is not something that is stable and absolute but can be changed"
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rendi Lustanto
"ABSTRAK
Perbincangan dalam politik seringkali berfokus pada sistem politik atau pergerakan politik dalam cakupan luas. Fokus tersebut mengarah pada uaha untuk mengarahkan publik dalam percakapan Politik sebagai sebuah sistem, serta melupakan bahwa politik dibangun melalui kristalisasi ide dari individu yang memaknai kondisi togetherness di dunia. Padahal pemaknaan itu menjadi sangat penting karena sebagai titik awal dari diskursus itu tumbuh dan berkembang, sering menyebut kondisi tersebut sebagai pergulatan politik individu. Pergulatan tersebut melibatkan percakapan antara me dan myself yang kemudian diejawantahkan menjadi sebuah gagasan politik individu. Upaya untuk menguak pentingnya politik dalam kerangka pergulatan individu menjadi sangat penting ketika diskursus yang ditawarkan oleh Politik mengalami kemampatan. Kondisi tersebut dapat , berdampak pada kualitas dari Politik yang dapat menyebabkan penurunan yang signifikan, Politik bukan lagi diartikan sebagai jalan untuk mencapai sebuah keadilan, melainkan hanya menjadi sarana mengejar kepentingan semata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berdasarkan kajian teoritis dan studi pustaka terhadap pemikiran eksistensialisme dari Hannah Arendt yaitu teori Vita Activa. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah upaya rekonstruksi konsep politik dari tingkatan individu yang menjadi syarat perlu bagi manusia untuk mengada di dunia.

ABSTRACT
Discussions in politics often focus on a broad range of political systems or political movements. This focus leads to efforts to direct the public in the conversation Politics in the sense of a system, and forget that politics is built through the crystallization of ideas from individuals who interpret conditions togetherness in the world. Though the meaning becomes very important because it is the starting point of the political discourse that grows and develops, it often calls it an individual political struggle. The struggle involved a conversation between me and myself which was later embodied into an individual political idea. Efforts to uncover the importance of politics within the framework of individual struggle become very important when the discourse offered by Politics suffers. These conditions can have an impact on the quality of politics which can cause a significant decline, politics is not interpreted as a way to achieve justice, but only as a means of pursuing mere interests. This study uses qualitative methods based on theoretical studies and literature studies on the existentialism of Hannah Arendt, the Vita Activa theory. The expected result of this study itself is the effort to reconstruct the political concepts of the individual level that are necessary for human beings to be in the world."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimitry Ratulangie Ichwan
"Penerjemahan home secara fenomenologi cenderung berkonotasi romantik, di mana home menjadi sumber keamanan, kenyamanan, dan keselamatan. Kesimpulan mengenai home ini bermasalah, mengingat bila ketiga aspek tersebut sudah tidak ada di tempat yang kita nobatkan sebagai sumber privasi maksimal, home akan menghilang. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode interpretasi peleburan cakrawala ini melihat bagaimana home dapat dicermati melalui pemahaman fenomenologi dan naturalisme, sebuah pendekatan baru yang mempertimbangkan hukum alam dalam penghayatan manusia terhadap ruangwaktu tertentu. Melalui pendekatan ini, home terbentuk melalui hubungan positif antara seorang subjek dengan sebuah tempat di ruangwaktu tertentu. Memori dan pengalaman subjek terhadap tempat memperboleh gelembung home yang selalu dibawa oleh manusia melebur dengan gelembung yang ada di lingkungan. Semakin banyaknya peleburan gelembung yang terjadi, subjek akan memiliki akses ke waktu yang lebih variatif. Dengan itu, melalui perspektif fenomeno-naturalis ini, home dilihat sebagai sebuah gelembung yang bersifat dinamis, transformatif, serta memiliki kemampuan untuk merumahkan keberadaan fisik maupun metafisik.

A phenomenological interpretation of home is usually done in a romantic manner, in which home is thought to be a source of safety, comfort, and security. This conclusion of home is problematic, considering that if all of these components do not exist in a certain place, home will dissipate. This research, which was conducted by using fusion of horizon method, aims to see if the concept of home can be understood through a new approach which weighs in natural law in human perception towards a certain spacetime. Through this method, home is formed via positive connection between a subject with a certain place in a certain space time. The memories and experience of a subject towards a place allows their home bubble that is always carried by them to merge with the bubbles present in the environment. The more frequent this merger happens, the subject will have access to more time. Hence, through this phenomeno-naturalistic perspective, home is defined as a bubble that is dynamic, transformative, and has the ability to house physical and metaphysical entities."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ajeng Lesmini
"Setiap perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama manusia mestinya dapat berjalan beriringan tanpa perlu meleburkan diri dan menyingkirkan identitas partikularnya dalam sebuah kesamaan. Pemikiran Levinas diambil dalam upaya skripsi ini menjelaskan perbedaan yang ada dalam diri masing-masing manusia sebagai yang selamanya tidak akan terpahami sekaligus tidak dapat diabaikan. Levinas melihat hubungan antar manusia selalu dinyatakan oleh kedekatan dan jarak. Sebuah tindak pendekatan dilakukan oleh manusia dalam keinginannya untuk memahami keberadaan manusia lain yang tidak dapat dipungkiri akan selalu hidup bersamanya, namun dalam kedekatan tersebut suatu jarak harus dipertahankan sebagai sebuah pengingat akan perbedaan dari orang lain yang sampai kapanpun akan terus lepas dari pemahamannya.
Pengakuan serta penghormatan terhadap segenap perbedaan yang dimiliki oleh setiap orang mewakili keinginan untuk mampu melihat orang lain tidak lagi sebagai objek yang terkekang dalam suatu konsep yang kita kenakan terhadap dirinya, untuk melihat setiap orang sebagai individu yang sama sekali unik dan tidak tergantikan. Disaat yang Etis hadir dalam pertemuan kita dengan wajah dari orang lain, muncul suatu posisi yang menempatkan kita untuk berhadapan langsung dengan segenap hal yang membuat kita tidak akan mampu berpaling dari tanggung jawab yang harus kita lakukan terhadapnya. Dan dengan demikian menciptakan suatu fungsi kritik etis yang mempertanyakan ulang seluruh (dorongan) dominasi yang hadir dalam kondisi hidup bersama.

The facticity of differences in every human being living among others should have cope along together without eradicating each of its particularity and dissolves it into sameness. This undergraduate thesis made as an attempt to accentuating the condition of otherness, as the ungraspable part ever in every relation thus cannot be dismissed. Levinas sees that the very marvel of human relation is precisely lay in the distance and proximity of it. An approximation as a notion of human aspire to understand the inevitable fact of being with the other perpetually ought to have its distance as a remainder of the otherness in other person that is always beyond comprehension.
Recognition and consideration for every other's otherness is a statement of our willingness to look at the other as more than another object within our confine concept, to be able to see them as a being that is wholly unique and irreplaceable. When ethics presenting itself in our direct encounter with the face of the other, then we will be hostage of the inevitable responsibility towards him. Hence functioning an ethical critique questioning every (drive towards) domination in living one with another.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S42753
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Saadah Khudri
"Persoalan subjek pertama dibahas oleh Decartes dengan menetapkan bahwa subjek adalah subjek rasional. Pandangan subjek yang rasional memberikan dampak terhadap terbentuknya karakteristik cara berfikir modern, yaitu segala sesuatu selalu bersifat total dan utuh. Namun demikian, gagasan tentang subjek yang utuh dan total telah mengabaikan bahwa subjek dibentuk oleh artikulasi bahasa yang tidak stabil yang mengakibatkan bahwa subjek tidak mungkin mencapai sebuah keutuhan dalam ketidak stabilan bahasa.
Dalam skripsi ini membahas tentang keadaan otologis masyarakat yang selalu mengandung ketidak stabilan yang akan memicu konflik dan politik yang selalu membicara tentang bagaimana mengatur sebuah konflik agar mencapai kestabilan dalam sebuah masyarakat. Agar tidak terjebak pada kestabilan yang total atau tetap, dimana kestabilan yang total selalu mengabaikan dimensi ontologis masyarakat, maka subjek paradoks dijadikan topangan untuk menjelaskan paradoksal antara ketidak stabilan dan kestabilan dalam demokrasi pluralisme.

The issue about the first subject has been discussed by Descartes who told that subject is a rational subject. The point of view of rational subject give the impact to the formation of caracteristic the way of modern tought, that is all the term that have the total and intact quality. However, the issue about the total and intact subject has ignored that subject was formed by the articulation of unstable language that make the subject is impossible to reach the stability in the unstable language.
This writting want to discuss about the ontlogical aspect of society that always contain the unstability that caused the conflict and politic that usually discuss about the way to manage a conflict in order to reach the stability in society. In order in order not to get caught to the stability that always ignore the ontological dimension of society, so the paradoxal subject become a strut to explain the paradoxal between the unstability and stability in pluralism democracy.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S42113
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Taufiq Rahmat Hidayatullah
"ABSTRACT
Penelitian ini merupakan telaah kritis terhadap teori politik John Rawls dan
Jürgen Habermas dalam menghadapi persoalan fakta pluralisme, utamanya
mengenai asas neralitas sebagai fondasi politik demokrasi liberal. Rawls
mengembangkan konsepsi politik tentang keadilan melalui gagasan konsensus
yang saling bertumpang-tindih, sementara Habermas mengelaborasi gagasan
tentang validitas dan legitimasi politik di atas tindakan komunikatif. Penelitian ini
berusaha menunjukkan bahwa politik demokrasi adalah ruang serba mungkin
yang tidak dapat dipagari oleh eksklusi atau inklusi terhadap kategori tertentu.
Melalui perspektif teori diskurus Habermas, penelitian ini berusaha mengupas
defisit dalam konstruksi teori politik prosedural Rawls tentang perumusan asasasas
keadilan politik. Sasarannya adalah mencapai suatu pemahaman tentang
keadilan politik yang tidak beku dan senantiasa terbuka terhadap segala rupa
kemungkinan baru.

ABSTRACT
This undergraduate thesis is a critical analysis of the political theory of John
Rawls and Jürgen Habermas in terms of addressing the pluralism, particularly
regarding the principle of neutrality as the foundation of liberal democratic
politics. Rawls developed a political conception of justice through the idea of
overlapping consensus, while Habermas elaborated the notion of political validity
and legitimacy above the communicative action. This critical analysis aims to
prove that democracy is a room with unlimited probability, which is most unlikely
to be restricted with neither exclusivity nor inclusivity towards particular groups.
Through the perspective of Habermas’ discourse theory, this analysis seeks to
unravel the deficit in the construction of Rawls’ political theory of the principles
of political justice. The objective is to achieve an understanding of political justice
that is not frigid and open to all sorts of new possibility.
"
2014
S56114
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rabia Edra Almira
"ABSTRACT
Kehidupan di dalam tatanan sosial, menyertakan permasalahan di antara dua pihak, yaitu karakter institusi dan karakter masyarakatnya. Sehingga kehadiran dari Teori Keadilan oleh John Rawls, dapat membantu untuk membawa ke arah titik yang stabil. Komponen pemikirannya memberikan peranan bahwa individu perlu menyadari persoalan keadilan yang bukan hanya sekedar hak, namun juga merupakan tugas dan kewajiban. Keputusan atau kebijakan yang hadir dari negara adalah hal yang tidak mutlak. Semua orang dapat mengevaluasi dan memodifikasi kembali, untuk mencapai stabilnya moral politik. Sehingga mampu berdampak pada adanya jarak untuk memisahkan integrasi total, antara individu dengan negara yang dapat diaplikasikan melalui kebernalaran masyarakat, dan pembangkangan sipil untuk melawan dominasi ketidakadilan.

ABSTRACT
Here is a problem within the social order, between the character of the institution and its people. Therefore, the presence of A Theory of Justice by John Rawls can bring it to a stable point. His thought gives an important role to the individuals, that issues of justice are not just concerning on the rights, but also about the duty and obligation. Decisions or policies that come from the state is not absolute. Everyone can re-evaluate and modify it to achieve the stability of political moral. Then, it can give an impact to make the distance and denied the total integration to separate between the individuals and the state. It can be applied through reasonable society, and civil disobedience to against the dominance of injustice."
2014
S56053
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mahdityo Jati Endarji
"ABSTRAK
Melalui kerangka pikir Chantal Mouffe dalam teori politiknya, yang
mengonsepkan kondisi masyarakat sebagai bentuk pluralisme yang tidak dapat
terhubung satu sama lain ke dalam sebuah kesepakatan dan kesamaan, pluralisme
radikal, berkonsekuensi pada tidak mungkin tercapainya sebuah bentuk ruang
publik Hannah Arendt yang bersifat asosiatif mampu mengakomodir suatu tujuan
kolektif.

ABSTRACT
Through Chantal Mouffe framework in her political theory, which conceptualized
the condition of society as pluralism form that can not be connected to each other
into an unanimity and similarity, radical pluralism. As a consequence, Hannah
Arendt’s concept of public realm form which are associative and able to
accomodate a collective goal is impossible."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S55949
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>