Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eko Ristiyanto
"ABSTRAK
Fistel enterokutan (FEK) mengakibatkan sepsis, malnutrisi, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Tujuan penelitian ini supaya diketahuinya faktor risiko yang mempengaruhi penyembuhan FEK. Penelitian ini dirancang secara potong lhe purpose of this study be discovered the risk factors that affect ECF healing. The study was designed as a cross-sectional retrospective analytic, by recording medical records for the period January 2007 - December 2011 at Cipto Mangunkusumo Public Hospital. Obtained 69 cases, the appropriate inclusion criteria 57 cases, aged 17-76 years, the highest in the group 31-45 years, male 37 cases, 54 cases of post-operative, 3 cases of spontaneous. Factors that affect healing is albumin levels> 3.0 mg / dl 3.8 times, low output fistula 2.9 times, colon fistula site 2.9 times, Subjective Global Assessment A and B 1.6 times. Factors that affect healing is good nutrition, low output fistula, colon fistula site.intang retrospektif analitik, dengan mencatat rekam medis penderita pada periode Januari 2007 - Desember 2011 di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Didapatkan 69 kasus, yang sesuai kriteria inklusi 57 kasus, usia 17–76 tahun, terbanyak pada kelompok 31–45 tahun, laki-laki 37 kasus, 54 kasus pasca operatif, 3 kasus spontan. Faktor yang memengaruhi penyembuhan adalah kadar albumin >3,0 mg/dl 3,8 kali, fistel low output 2,9 kali, lokasi fistel kolon 2,9 kali, Subjective Global Assessment A dan B 1,6 kali. Faktor yang memengaruhi penyembuhan adalah nutrisi baik, fistel low output, lokasi fistel kolon.

ABSTRACT
Enterocutaneous fistula (ECF) resulting in sepsis, malnutrition, fluid and electrolyte imbalance. The purpose of this study be discovered the risk factors that affect ECF healing. The study was designed as a cross-sectional retrospective analytic, by recording medical records for the period January 2007 - December 2011 at Cipto Mangunkusumo Public Hospital. Obtained 69 cases, the appropriate inclusion criteria 57 cases, aged 17-76 years, the highest in the group 31-45 years, male 37 cases, 54 cases of post-operative, 3 cases of spontaneous. Factors that affect healing is albumin levels> 3.0 mg / dl 3.8 times, low output fistula 2.9 times, colon fistula site 2.9 times, Subjective Global Assessment A and B 1.6 times. Factors that affect healing is good nutrition, low output fistula, colon fistula site."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ridho Ardhi Syaiful
"ABSTRAK
Objektif: Pembedahan merupakan tatalaksana paliatif utama dari kanker periampular stadium lanjut, namun hal tersebut memiliki angka komplikasi postoperatif, rekurensi penyakit, dan mortalitas yang tinggi. Objektif dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor prognostik dan sintasan penyakit selama 1 tahun dari kanker periampular stadium lanjut pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Metode: Penelitian ini merupakan uji analisis sintas dengan desain kohort retrospektif. Data dikumpulkan dari pendaftaran per bulan dari Divisi Bedah Digestif dan rekam medis dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dari Januari 2015 hingga Desember 2017. Sintasan penyakit satu tahun dianalisis dengan metode Kaplan-Meier. Dilakukan analisis bivariat dan multivariat dari masing-masing variabel pada sintasan satu tahun pasien. Hasil: Sintasan penyakit selama 1 tahun dari pasien post-double bypass yaitu 19% dengan median (minimal-maksimal) sintasan yaitu 159 (2-365) hari. Berdasarkan perbandingan antarkelompok sintasan pasien, hemoglobin (p=0,013) dan klasifikasi ASA (p=0,001) memiliki estimasi sintasan yang bermakna secara statistik. Pada analisis multivariat, jenis kelamin (p=0,250, HR=3,910) dan nilai laboratorium preoperatif (albumin (p=0,350, HR=0,400), aspartat aminotransferase (AST) (p=0,13, HR=5,110) dan alanin aminotransferase (ALT) (p=0,280, HR=0,05)) berhubungan dengan sintasan. Kesimpulan: Sintasan selama 1 tahun pada pasien post-double bypass pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo rendah. Laju mortalitas satu bulan yang rendah mengindikasikan bahwa double bypass merupakan prosedur yang aman. Faktor prognostik yang berhubungan dengan sintasan yang rendah yaitu jenis kelamin perempuan dan nilai laboratorium preoperatif (albumin, AST, ALT).

ABSTRACT
Objective: Surgery is the main palliative treatment of advanced periampullary cancer, however it has high number of post-operative complication, disease recurrence and mortality. The objective of the current study was to examine prognostic factors and one year survival rate of advanced stage periampullary cancer in Cipto Mangunkusumo Hospital. Methods: This is a survival analysis test study with retrospective cohort design. Data were collected from monthly registration of Digestive Surgery Division and medical records from Cipto Mangunkusumo Hospital from January 2015 until December 2017. One year survival rate were analyzed with Kaplan-Meier method. Bivariate and multivariate analysis of each variable on one year survival of the patient were done. Result: One year survival rate of the post-double bypass patients is 19% with median (min-max) survival 159 (2-365) days. From the comparison of survival rate based patients grouping, hemoglobin (p=0.013) and ASA classification (p=0.001) have significant survival estimation statistically. In multivariate analysis, gender (p=0.250, HR=3.910) and preoperative laboratory values (albumin (p=0.350, HR=0.400), aspartate aminotransferase (AST) (p=0.13, HR=5.110) and alanine aminotransferase (ALT) (p=0.280, HR=0.05)) are associated with survival rate. Conclusion: One year survival rate of post double bypass patients in Cipto Mangunkusumo hospital is low. Low one month mortality rate indicates double bypass is a safe procedure. Prognostic factors that associated with lower survival are woman gender and preoperative laboratory value (albumin, AST, ALT)."
2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Supit, Caroline
"Pendahuluan: Kateterisasi vena sentral (KVS) adalah sebuah faktor risiko utama untuk terjadinya stenosis vena sentral (SVS). Kontak berulang dari kateter ke dinding pembuluh darah menyebabkan inflamasi, mikrotrombi, hiperplasia intima, fibrosis dan akhirnya stenosis. Artikel ini melaporkan korelasi antara durasi dan frekuensi KVS dengan terjadinya SVS.
Metode: Studi kasus kontrol dilakukan di Rumah Sakit CiptoMangunkusumo. Data diambil dari rekam medis tahun 2013 sampai 2015.
Hasil: Lima puluh empat dari 717 pasien yang menjalani KVS untuk hemodialisa menderita SVS. 32 pasien dengan SVS menjadi kasus dan 128 tanpa SVS sebagai kontrol. Durasi KVS >6 minggu tidak meningkatkan resiko SVS (p=0,207), rasio odds SVS ditemukan 30 kali pada pasien yang menjalani KVS >2 kali dibandingkan <2 kali (p<0,001).
Konklusi: Frekuensi KVS > 2 kali meningkatkan risiko SVS. Durasi >6 minggu tidak meningkatkan risiko SVS.

Introduction: Central vein catheterization (CVC) is a major risk factor for central vein stenosis (CVS). Repetitive contacts of the CVC to the blood vessel wall results in inflammation, microthrombi, hyperplasia of the intima, fibrosis and thus development of CVS. This article reports the correlation of duration and frequency of CVC in patients with CVS.
Methods: A matched case control study was conducted in CiptoMangunkusumo Hospital. Samples were gathered from the medical record from 2013 to 2015.
Results: Fifty four out of 717 patients underwent CVC for HD had CVS. 32 patients with CVS included in the study with 128 non-CVS patients included as control. Duration of CVC >6 weeks does not increase the risk of CVS (p= 0.207), whilst the odds ratio of CVS on the frequency of CVC >2 times is 30 times compared to those underwent <2 times (p= <0.001).
Conclusion: The frequency of CVC >2 times increased the risk of CVS. Longer duration of CVC for HD did not increase CVS rate.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58603
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aseanne Femelia Ramadora
"Latar belakang: Setengah dari jumlah kasus kolesistolitiasis simtomatis yang dilakukan kolesistektomi meninggalkan sejumlah masalah fungsi saluran cerna yang disebut sindrom pasca kolesistektomi (SPK) dengan frekuensi antara 6-47% yang mengganggu untuk pasien ataupun dokter bedah. Sampai saat ini belum ada data insidensi SPK yang dipublikasikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian SPK 1 bulan dan 1 tahun pasca kolesistektomi laparoskopik.
Metode: Penelitian dilakukan secara prospektif dengan pengambilan subjek secara konsekutif pada seluruh pasien kolesistolitiasis simtomatis yang menjalani kolesitektomi laparoskopik di RSCM dan RSU Tangerang periode Oktober sampai Desember 2012. Subjek diminta mengisi kuesioner yang berisi keluhan saluran cerna dan nyeri sebelum operasi, 1 bulan setelah operasi dan 1 tahun setelah operasi.
Hasil: Didapatkan Insidensi SPK 1 bulan dan 1 tahun setelah operasi sebesar 54,29 % dari 35 pasien yang menjalani kolesistektomi laparoskopik di RSCM dan RSU Tangerang. Dimana 25 (71,4%) diantaranya berjenis kelamin perempuan dan 10 (28,6%) laki-laki. Usia rerata pasien saat di operasi adalah 48 tahun, dengan usia termuda 20 tahun dan usia tertua 75 tahun, dengan kelompok usia terbanyak adalah usia 40-49 tahun. Gejala SPK yang terbanyak adalah Mual,kembung, intoleransi makanan berlemak. Nyeri yang menetap pasca operasi 1 tahun 9,375%. Penderita SPK yang ditemukan 78.9% berjenis kelamin perempuan dengan risk ratio 1,5 dan usia diatas 40 tahun 0,7 x lebih berisiko timbul SPK.
Kesimpulan: Insidensi SPK dari penelitian ini lebih tinggi dibandingkan angka penelitian-penelitian sebelumnya dengan gejala tersering yang menetap atau timbul pasca operasi sama dengan gejala umum SPK. Angka nyeri yang persisten pasca operasi lebih rendah dibandingkan penelitian sebelumnya.

Background: Half cases of symptomatic gallstone treated by cholecystectomy leaves certain problems of digestive function whether unchanged, worsened or new symptoms and it called Post –cholecystectomy syndrome (PCS) which varies in frequency between 6 and 47 percent. This Study aimed to get the incidence number of PCS after laparoscopic.
Methods: In this prospective study all patient with symptomatic gallstone whom the indications for cholecystectomy were defined and undergone laparoscopic cholecystectomy between October to December 2012 were included received a self – administered questionnaire before cholecystectomy about specific food intolerance, gastrointestinal problem, the location of abdominal pain and intensity of pain during previous 3 month. The patients were followed at 1 month and a year after laparoscopic cholecystectomy and the same questionnaire was administered.
Result: We found 54,29% incidence of PCS from 35 patient undergone laparoscopic cholecystectomy . from 35 subject, 25 subject are female and 10 male with average age were 47,8 (SD 12,18). The most complain symptoms were nausea, bloating and fat intolerance The incidence of persistent pain after laparoscopic cholecystectomy was 9,375%. Female1,5 had higher risk for developing PCS and age above 40 year 0,7x had higher risk for developing PCS.
Conclusion: The incidence of PCS ini this study is higher than previous study with persisten sympoms similar from prior study. The frequency of persistent abdominal pain after cholecystectomy is quite low in patients with preoperative typical localized pain.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nursyahidah
"ABSTRAK
Latar belakang: Penggunaan antibiotik profilaksis bedah bertujuan untuk mencegah infeksi daerah operasi pada pasien yang dianggap mempunyai risiko tinggi. Meskipun kebijakan penggunaan antibiotik profilaksis dalam operasi telah ditetapkan, masih terdapat penggunaan yang tidak sesuai yang dapat menyebabkan peningkatan risiko resistensi antibiotik dan peningkatan biaya perawatan di rumah sakit.Tujuan: Mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik profilaksis serta efisiensi biaya penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien bedah digestif di RSUPN-CMMetode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif. Data sekunder diambil dari rekam medik pasien rawat inap Departemen Bedah RSUPN-CM selama periode Januari hingga Desember 2015. Pada penelitian ini 102 pasien yang mendapatkan antibiotik profilaksis dievaluasi berdasarkan panduan NHS Lanaskhire untuk ketepatan dosis dan waktu pemberian pada tindakan pembedahan dan panduan antibiotik profilaksis divisi bedah digestif RSUPN-CM untuk pemilihan antibiotik berdasarkan indikasi tindakan.Hasil: Dari 102 pasien penelitian 81,4 pasien mendapatkan antibiotik profilaksis dengan indikasi sesuai tindakan dan 90,8 pasien mendapatkan antibiotik profilaksis tepat dosis. Berdasarkan ketepatan waktu pemberian antibiotik profilaksis, sebanyak 52 pasien mendapatkan antibiotik profilaksis tepat waktu 30 menit . Sementara itu, pasien yang mendapatkan antibiotik profilaksis lebih dari satu dosis yang berarti bukan lagi profilaksis sebanyak 15,7 . Tambahan biaya obat akibat pemberian antibiotik profilaksis yang tidak sesuai pedoman sebesar Rp. 16.016.007,-.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan masih adanya penggunaan antibiotik profilaksis yang tidak sesuai pedoman pada pasien bedah digestif RSUPN-CM. Pemberian antibiotik profilaksis yang tidak sesuai pedoman dapat menyebabkan peningkatan biaya perawatan rumah sakit. Diperlukan upaya untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pedoman yang digunakan.
hr>
b>ABSTRACT
"Background Prophylactic antibiotic is used to prevent surgical wound infections in surgery patients who are considered to have high risk of contamination. Despite established guideline, some studies reported inappropriate use of prophylactic antibiotic which potentially increase the risk of antibiotic resistance and hospitalization cost.Aim To evaluate the appropriateness and cost of prophylactic antibiotic usage in digestive surgery patients at Cipto Mangunkusumo hospital.Methods This was a retrospective study conducted on digestive surgery patients. Secondary data were collected from medical records of hospitalized patients in Surgery Department of Cipto Mangunkusumo hospital during the periode January to Desember 2015. In this study, 102 patients receiving prophylactic antibiotics were evaluated based on NHS Lanaskhire guideline for dosage and timimg in accordance with surgical types and guideline of digestive surgery division Cipto Mangunkusumo hospital for antibiotic selection.Results In 102 patients 81,3 patients received prophylactic antibiotics with appropriate indications and 91,2 patients received prophylactic antibiotics with appropriate doses. While 52 patient received prophylactic antibiotic with appropriate timing of 30 minutes. Meanwhile, patients that received prophylactic antibiotics more than once, which means not prophylactic anymore, were accounted for 15,7 . The estimated extra cost due to of inappropriate use of prophylactic antibiotics was Rp. 16.016.007, .Conclusion The results showed that inappropriate use of antimicrobial prophylaxis was still found in digestive surgery Cipto Mangunkusumo hospital and it increased drug cost. The most frequent inappropriateness was the timing of administration followed by inappropriate indication and dose. More work is needed in order to increase the adherence to the guidelines. "
2017
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Odetta Natatilova Halim
"Latar belakang: Perforasi tukak peptik PTP merupakan komplikasi penyakit tukak peptik yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Luaran pasien yang maksimal dapat dicapai dengan perawatan optimal disertai alokasi sumber daya yang sesuai dengan statifikasi pasien berdasarkan kelompok risikonya. Skor peptic ulcer perforation PULP merupakan sistem penilaian terbaru untuk prediksi prognosis pasien PTP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan skor PULP dalam prediksi mortalitas pasien PTP di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo RSCM.
Metode penelitian: Studi potong lintang analitik dilakukan dengan mengambil total sampel 52 pasien PTP yang datang ke RSCM pada periode Januari 2011-Juni 2015. Pasien perforasi gaster/duodenum akibat trauma dan keganasan gaster/duodenum, pasien yang tidak menjalani pembedahan dan pasien yang sudah menjalani pembedahan di luar RSCM dieksklusi. Analisis statistik diolah dengan program SPSS 20 for windows, untuk menilai variabel apa yang secara independen memengaruhi mortalitas pasien PTP dan bagaimana akurasi skor PULP dalam prediksi mortalitas pasien PTP.
Hasil penelitian: Variabel syok saat masuk rumah sakit dan awitan penyakit >24 jam merupakan prediktor independen mortalitas pasien PTP dengan nilai kemaknaan masing-masing 0,04 dan 0,03. Nilai area under the curve skor PULP dalam prediksi mortalitas pasien PTP mencapai 71,60 95 IK 53,80 -89,40.
Kesimpulan: Penggunaan skor PULP dinilai cukup baik untuk prediksi mortalitas pasien PTP di RSCM. Kata kunci: Perforasi tukak peptik, skor peptic ulcer perforation PULP , mortalitas, syok, awitan penyakit.

Background: Perforated peptic ulcer PPU is a complication of peptic ulcer disease with high rates of morbidity and mortality. Maximum outcomes could be achieved by optimal care combined with allocation of resources in accordance with patient's risk stratification. Peptic ulcer perforation PULP score is the newest scoring systems for predicting the prognosis of PPU patients. This study aims to determine the application of PULP score in predicting mortality of PPU patient in Cipto Mangunkusumo Hospital.
Method: A cross sectional analytical study carried out by taking the total sample of 52 patients who came with PPU to Cipto Mangunkusumo Hospital in the period of January 2011 June 2015. Those with perforation at stomach duodenum due to trauma and malignancy, those who did not undergo surgery and those who have undergone surgery outside Cipto Mangunkusumo Hospital were excluded. Statistical analysis is processed with SPSS 20 for windows, to determine which variables independently afffect the mortality of PPU patients and how is the accuracy of PULP score in predicting mortality of PPU patients.
Results: Shock on admission and onset of disease 24 hours were independent predictors of mortality in PPU patients p value 0.04 and 0.03 respectively. The value of area under the curve of PULP score in predicting mortality in PPU patients was 71.60 95 CI 53.80 89.40.
Conclusions: PULP score is considered good enough to predict mortality of PPU patients in Cipto Mangunkusumo Hospital. Keywords Perforated peptic ulcer, peptic ulcer perforation PULP score, mortality, shock, onset of disease.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T55626
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lam Sihardo
"Latar belakang. Ileus berkepanjangan pascaoperasi IBPO sering ditemukan terutama pada pasien pasca laparatomi mediana. Ileus secara signifikan berhubungan dengan peningkatan morbiditas pasien, pembiayaan kesehatan, dan peningkatan angka readmission 30 hari pascaoperasi.Metode. Dilakukan studi cross-sectional di Departemen Ilmu Bedah FKUI/RSCM dengan mencatat rekam medis pasien laparatomi mediana pada pasien infeksi intraabdomen pada periode Januari 2015 hingga Desember 2015. Variabel volume kontaminasi, lama operasi, hipokalemia, kondisi dehidrasi dan IBPO menjadi fokus pada penelitian ini. Dilakukan analisis bivariat dan multivariat untuk melihat hubungan dari variabel-variabel tersebut.Hasil. dari 100 kasus pasca laparatomi mediana, 60 pasien 60 mengalami IBPO, dimana hipokalemia terdapat pada 25 orang 25 , dehidrasi terdapat pada 34 pasien 34 . Faktor yang berhubungan dengan IBPO adalah volume kontaminasi p = 0,004 dan lama operasi p = 0,000 . Analisis multivariat menunjukkan bahwa volume kontaminasi dan lama operasi sebagai faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian IBPO p = 0,026 dan p = 0,002 . Lama operasi ge; 130 menit berhubungan dengan IBPO p=0,004 dan nilai OR sebesar 3,44.Kesimpulan. Volume kontaminasi dan lama operasi merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan pada kejadian IBPO, dapat dijadikan prediktor. Lama operasi ge; 130 menit berisiko 3,44 kali menimbulkan IBPO.

Background Postoperative prolonged ileus PPI often found in patient post median laparatomy. Ileus significantly associated with the increasing of morbidity patient, patient cost, and 30 days readmission patient rate.Method Cross sectional study in FKUI RSCM Departement of Surgery, noted the medical record patient which conducted median laparatomy in intraabdominal infection from January 2015 until December 2015. Our study focussed at contaminated volume, duration of surgery, hypokalemia, dehydration, and PPI as a research variables. We counducted bivariat and multivariat analysis to see associated between those variables.Result There were 100 patients, 60 patients 60 had PPI, there were 25 patients 25 had hypokalemia, 34 patients 34 had dehydration. Factors which significantly associated to the PPI were contaminated volume p 0,0004 and duration of surgery p 0,000 . Multivariate analysis showed contaminated volume and duration of surgery were independently associated to the PPI p 0,026 and p 0,002 . Duration of surgery more than 130 minutes was associated to PPI with the OR 3,44.Conclusion Contaminated volume and operation of surgery as factors which significantly associated in PPI and it can be predictor. Duration of surgery more than 130 minutes had a risk 3,44 times to cause PPI."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Febriadi Ismet
"Pengaruh Prekondisi dan Hipotermia pada Cedera Iskemia-Reperfusi Terhadap Endotel Pembuluh Darah Perifer pada Oryctolagus cuniculusM Febriadi Ismet1 Yefta Moenadjat2 Aria Kekalih3 1Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia2Departemen Medik Ilmu Bedah, RSUPN Cipto Mangunkusumo Pendahuluan. Cedera iskemia -reperfusi CI/R merupakan masalah serius yang dihadapi pascahipoksia; menyebabkan kerusakan sel yang letaknya remote organ injury. Intervensi prekondisi iskemia-reperfusi PI/R merupakan fenomena jaringan yang diberikan stimulasi hipoksia berulang sebelum mendapatkan keadaan iskemia lama. Keadaan hipotermia iskemia reperfusi HI/R menyebabkan metabolisme sel menurun termasuk respon sel terhadap iskemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek intervensi PI/R dan HI/R terhadap perubahan morfologi endotel pembuluh darah dan peningkatan kadar malondialdehyde MDA sebagai respon stress oksidatif pada jaringan endotel a/v femoralis komunis distal obstruksi iskemia dan kontralateral CI/R.
Metode: Studi eksperimental yang bersifat deskriptif analitik pada Oryctolagus cuniculus, Pada kelompok CI/R dilakukan ligasi arteri femoralis komunis dalam pembiusan selama empat jam untuk menginduksi iskemia. Pada kelompok PI/R dilakukan dengan ligasi berulang arteri femoralis komunis kanan selama dua menit, dilepaskan tiga menit sebanyak dua siklus, kemudian diligasi selama empat jam. Pada kelompok hipotermia, dilakukan ligasi arteri femoralis komunis selama empat jam yang disertai dengan membungkus ekstremitas bawah kanan dengan es dengan target suhu antara 31-33 C, kemudian pada ketiga intervensi ligasi dibuka dan kelinci dibiarkan beraktivitas selama delapan jam. Setelah itu, dilakukan pengambilan sampel a.v yang berasal dari distal dari ligasi ipsilateral dan kontralateral untuk pemeriksaan histopatologi dan biokimia. Pemeriksaan biokimia dilakukan menggunakan malondialdehid MDA.
Hasil: Pada pemeriksaan histomorfologi menunjukan perbedaan bermakna antara skoring kerusakan endotel jaringan a.v. ipsilateral pada ketiga sampel intervensi dibanding kontrol dan nilai sampel intervensi preventif lebih baik daripada sampel CI/R p< 0,05 . Pada sampel a.v kontralateral kelompok PI/R dan HIR tidak memiliki perbedaan bermakna dengan kontrol p> 0,05 . Pada evaluasi kadar MDA ditemukan kadar MDA meningkat pada semua intervensi baik pada CIR, PI/R, dan HI/R yang tidak berbeda bermakna dengan kontrol p> 0,05.
Konklusi: Keadaan CI/R menyebabkan disfungsi endotel bukan hanya pada daerah iskemik, namun pada organ yang letaknya berjauhan. Kerusakan endhotelial lining dapat dicegah dengan tindakan PI/R dan HI/R dan peningkatan kadar MDA merupakan respon fisiologis jaringan terhadap iskemia dan cedera reperfusi yang terjadi baik pada CI/R, PI/R, dan HI/R.

The Effect of Preconditioning and Hypothermia in Ischemia Reperfusion Injury to the Endothelial Cells from Peripheral Blood Vessels in Oryctolagus cuniculusM Febriadi Ismet1 Yefta Moenadjat2 Aria Kekalih31General Surgery Science Study Program, Faculty of Medicine Universitas Indonesia2Department of Surgery, Dr. Cipto Mangunkusumo National General HospitalIntroduction. Ischemia reperfusion injury IRI is a serious problem in the post hypoxia period, which causes remote organ injury. Ischemic preconditioning IPC is a phenomenon where tissues are subjected to repeated hypoxic stimulations to protect against subsequent prolonged period of ischemia. Hypothermia during ischemia reperfusion injury HI decreases metabolism of cells including their response to ischemia. The goal of this study is to investigate the effects of interventions such as IPC and HI on the morphology of endothelial cells in blood vessels and the increased level of malondialdehyde MDA as an oxidative stress response in endothelial tissues of distal common femoral artery and vein obstruction ischemia and its contralateral IRI.
Method: This is a descriptive and analytic experimental study using Oryctolagus cuniculus. In the IRI group, the common femoral artery was ligated during anesthesia for four hours to induce ischemia. In the IPC group, the right common femoral artery was continually ligated for two minutes, which was then released for three minutes for two cycles, and then ligated for four hours. In the hypothermia group, the common femoral artery was ligated for four hours and the right lower extremity was wrapped in ice with the target temperature range between 31 33o C. Then the arteries from the three interventions were unligated and the rabbit was released to observe its activity for eight hours. Next, samples of artery and vein distal from the ligation ipsilateral and its contralateral were obtained for histopathological and biochemical examinations. The biochemical analysis was performed using malondialdehyde MDA.
Results: The histomorphological examination showed significant difference in the injury scores between the endothelial tissues from ipsilateral artery and vein in the three interventional samples compared with control, and the scores for the preventive intervention groups were better than the IRI sample p0.05.
Conclusion: Ischemic reperfusion injury can cause not only endothelial dysfunction in the ischemic area, but also remote organ injury. Endothelial lining injury can be prevented by IPC and HI. The elevated level of MDA is a physiological response of tissue after ischemia reperfusion injury which could be found on IRI, IPC, and HI.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Charley Dokma Tua
"Latar belakang dan objektif: Keberhasilan hemodialisis ditentukan oleh kesuksesan akses vaskular, baik dicapai melalui arteriovenous fistula AVF , arteriovenous graft AVG , atau central venous catether CVC . Dari berbagai pilihan akses vaskular lainnya, AVF adalah akses vaskular hemodialisis yang paling disarankan untuk jangka panjang karena memiliki patensi yang lebih panjang dan tingkat komplikasi yang rendah. Meskipun demikian, AVF memiliki tingkat kegagalan maturasi tinggi, dengan angka sekitar 43-63 . Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional Cipto Mangunkusumo RSCM , rumah sakit tersier terbesar di Indonesia, tidak memiliki data mengenai tingkat patensi AVF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat patensi primer AVF di RSCM. Metode: Penelitian kohort retrospektif dilakukan pada seluruh pasien yang menjalani pemasangan AVF di RSCM pada periode Januari 2011 sampai Desember 2013. Hasil: Dari 269 pasien rerata umur 53.1 13.9 , 190 70.6 pasien menjalani pemasangan fistula brakiosefalika, 71 26.4 pasien menjalani pemasangan fistula radiosefalika, dan 7 2.6 pasien menjalani pemasangan fistula jenis lainnya. Tingkat patensi tahun pertama adalah 71.4 . Kesimpulan: Tingkat patensi primer AVF pada pasien end-stage renal disease ESRD memenuhi standar target yang ditentukan oleh pedoman National Kidney Foundation Dialysis Outcomes Quality Initiative NKF/DOQI . Penelitian ini menunjukkan bahwa diameter vena memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat patensi primer AVF. Faktor-faktor lainnya tidak berkaitan dengan patensi primer.

Background and objectives The success of haemodialysis relies on the success of the vascular access, whether achieved with an arteriovenous fistula AVF , an arteriovenous graft AVG , or a central venous catether CVC . Among other access options, arteriovenous fistula is the preferred long term haeemodialysis vascular access due to longer patency and low complication rate. However, AVF maturation failure rates are high, ranging from 43 to 63 . Cipto Mangunkusumo Hospital, the largest tertiary referral hospital in Indonesia, lacks data on AVF patency rates. This study is aimed to determine the primary patency rates of AVF in Cipto Mangunkusumo Hospital. Methods A single centre retrospective study was performed in all patients who had primary arteriovenous fistulas created at Cipto Mangunkusumo Hospital during the period between January 2011 and December 2013. Results Of 269 patients mean age 53.1 13.9 , 190 70.6 patients underwent brachiocephalic fistula creation, 71 26.4 patients underwent radiocephalic fistula creation, and 7 2.6 patients underwent other fistula types creation during the two year study period. The first year patency rate was 71.4 . Conclusions In this setting, the rate of AVF creation for end stage renal disease patients meets the standard of the target goals set forward by the National Kidney Foundation published updated Dialysis Outcomes Quality Initiative NKF DOQI Guidelines. Our study suggested that venous diameter was significantly correlated with primary patency rates of AVF. Other factors were not associated with primary patency. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Charley Dokma Tua
"Latar belakang dan objektif: Keberhasilan hemodialisis ditentukan oleh kesuksesan akses vaskular, baik dicapai melalui arteriovenous fistula AVF , arteriovenous graft AVG , atau central venous catether CVC . Dari berbagai pilihan akses vaskular lainnya, AVF adalah akses vaskular hemodialisis yang paling disarankan untuk jangka panjang karena memiliki patensi yang lebih panjang dan tingkat komplikasi yang rendah. Meskipun demikian, AVF memiliki tingkat kegagalan maturasi tinggi, dengan angka sekitar 43-63 . Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional Cipto Mangunkusumo RSCM , rumah sakit tersier terbesar di Indonesia, tidak memiliki data mengenai tingkat patensi AVF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat patensi primer AVF di RSCM. Metode: Penelitian kohort retrospektif dilakukan pada seluruh pasien yang menjalani pemasangan AVF di RSCM pada periode Januari 2011 sampai Desember 2013. Hasil: Dari 269 pasien rerata umur 53.1 13.9 , 190 70.6 pasien menjalani pemasangan fistula brakiosefalika, 71 26.4 pasien menjalani pemasangan fistula radiosefalika, dan 7 2.6 pasien menjalani pemasangan fistula jenis lainnya. Tingkat patensi tahun pertama adalah 71.4 . Kesimpulan: Tingkat patensi primer AVF pada pasien end-stage renal disease ESRD memenuhi standar target yang ditentukan oleh pedoman National Kidney Foundation Dialysis Outcomes Quality Initiative NKF/DOQI . Penelitian ini menunjukkan bahwa diameter vena memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat patensi primer AVF. Faktor-faktor lainnya tidak berkaitan dengan patensi primer.

Background and objectives The success of haemodialysis relies on the success of the vascular access, whether achieved with an arteriovenous fistula AVF , an arteriovenous graft AVG , or a central venous catether CVC . Among other access options, arteriovenous fistula is the preferred long term haeemodialysis vascular access due to longer patency and low complication rate. However, AVF maturation failure rates are high, ranging from 43 to 63 . Cipto Mangunkusumo Hospital, the largest tertiary referral hospital in Indonesia, lacks data on AVF patency rates. This study is aimed to determine the primary patency rates of AVF in Cipto Mangunkusumo Hospital. Methods A single centre retrospective study was performed in all patients who had primary arteriovenous fistulas created at Cipto Mangunkusumo Hospital during the period between January 2011 and December 2013. Results Of 269 patients mean age 53.1 13.9 , 190 70.6 patients underwent brachiocephalic fistula creation, 71 26.4 patients underwent radiocephalic fistula creation, and 7 2.6 patients underwent other fistula types creation during the two year study period. The first year patency rate was 71.4 . Conclusions In this setting, the rate of AVF creation for end stage renal disease patients meets the standard of the target goals set forward by the National Kidney Foundation published updated Dialysis Outcomes Quality Initiative NKF DOQI Guidelines. Our study suggested that venous diameter was significantly correlated with primary patency rates of AVF. Other factors were not associated with primary patency. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>