Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Inditian Latifa
"Skripsi ini membahas terperangkapnya Craig di dalam kepala Emily pada film Being John Malkovich sebagai simbolisasi dari psikosis yang is derita akibat ketidakmampuannya melakukan manajemen libido. Pembahasan dilakukan melalui pendekatan psikoanalisa Freud dengan menganalisis upaya-upaya yang ditempuh Craig untuk memperolch kepuasan seksual dari objek seksual dan ilusi.
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa film ini menampilkan pandangan Freud bahwa kebahagiaan diperoleh dari kepuasan seksual melalui manajemen libido.

This study proves Craig's entrapment inside Emily's head as a symbolization of a psychosis caused by the lack of ability to perform the economics of libido. Analysis is done from the perspective of psychoanalysis by exploring the ways Craig tries to gain sexual satisfaction, i.e. from sexual objects and illusions.
This study conclusively states that Being .John Malkovich shows Freud's outlook that happiness is attained through sexual satisfaction and depends on one's ability to carry out the economics of libido."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S13976
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dea Maria Christa
"Penelitian ini membahas bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional yang memiliki kekuatan untuk menentukan perilaku konsumen dan produsen terhadap merek fesyen Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang telah diterima secara luas oleh dunia. Banyak ahli menyatakan bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa yang eksotis dan eksklusif. Selain itu, bahasa Inggris juga dipercaya sebagai bahasa yang sempurna untuk digunakan untuk berbisnis, khususnya sebagai merek, karena bahasa Inggris dapat memberikan kebanggaan tersendiri dan kesan internasional. Oleh karena itu, banyak perancang busana lokal berpikir bahwa menggunakan bahasa Inggris sebagai identitas dari produk mereka merupakan sebuah cara untuk berkompetisi dengan merek-merek fesyen asing. Bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa yang memiliki peranan besar dalam pemberian sebuah merek, khususnya untuk menentukan perilaku konsumen dan produsen. Konsumen menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa yang lebih menarik dan menambahkan kesan mahal pada sebuah produk. Produsen mendapatkan keuntungan dari perilaku konsumen tersebut dengan memasang kisaran harga produk yang tinggi untuk menambah laba.

This research examines English, as the lingua franca which has a power to determine both consumers and producers' behavior toward Indonesian fashion brands which use the English language. English is a language which has been accepted widely and globally by the world. Many experts point out that the English language is an exotic and exclusive language. Moreover, English is also believed to be the perfect language to use for business purposes, especially as a brand name, since it gives more prestige and global impression. Therefore, many local designers think that using English as the identities of their products is a way to compete the international fashion brands. It is argued that the English language has a huge role in branding, especially in determining consumers' and producers' behavior. Consumers find the English language as a more attractive language, and it gives prestigious and sophisticated impression to the products. Meanwhile, producers get the advantage of consumers' behavior toward local fashion brands which use English by setting a higher range of price and gaining more profit, compared to the local fashion brands which use Indonesian."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Andari Ditya
"Masyarakat kini lebih terglobalisai dibandingkan sebelumnya, dan kebanyakan dari mereka mampu berbicara lebih dari satu bahasa. Hal ini juga terjadi diantara siswa sastra Inggris angkatan 2009 UI yang mampu berbicara dalam bahasa Inggris dalam percakapan sehari hari. Ini bisa berujungg kepada sebuah fenomena yang dinamakan ?Code-mixing?. Namun demikian, ?Code-mixing? lebih berfokus pada komunikasi tertulis di dalam status media di jejaring sosial mereka. Ada dua hal utama yang hendak disampaikan dalam jurnal ini. Pertama, deskripsi makna dari ?Code-mixing? itu sendiri berdasarkan teori yang diberikan oleh Wardhaugh (1986) dan Hoffman( 1991), dan bagaimana hal ini terrefleksikan dalam komunikasi harian, secara khusus komunikasi secara tertulis. Hal ini juga didukung dengan sejumlah foto yang diabadikan sebagai status di jejaring sosial. Dengan menggunakan teori ini, sebuah upaya dibuat untuk menggali lebih dalam sekaligus menganalisa berbagai alasan penggunaan ?Code-mixing? dalam status jejaring sosial dan kata-kata apa yang paling sering digunakan dalam sejumlah topik perbincangan.

People today are more globalized than before, and most of them are now able to speak more than one language. It also happens among the English Literature students 2009 in Universitas Indonesia who are able to speak English in their daily conversation. This may lead to the phenomenon called code-mixing. However, this code-mixing focuses more on written communication in their social media's status. There are two major points that this paper attempts to make. First, the description of code-mixing itself according to the theory given by Wardhaugh (1986) and Hoffman (1991), and how it is reflected in daily communication, especially in written communication. Second, the reasons why those students tend to do code-mixing in their written communication. This will be supported by all the captured-pictures of their status in their social media. Using this theory, an attempt is made to dig deeper and analyze the students? reasons for using code-mixing in their social media?s status and what words are commonly used in certain topics of conversation.."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Tambunan, Fitri
"Hubungan antara perempuan dan konstruksi gender telah banyak diteliti sampai saat ini. Beberapa penelitian mengenai kasus ini banyak berfokus pada dampak negatif dari konstruksi gender yang dialami perempuan. Seringkali perempuan menjadi korban dari fenomena konstruksi gender dalam masyarakat sebagaimana perempuan dituntut sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Adanya persepsi ini, memunculkan pertanyaan, seperti: apakah perempuan selalu seperti itu? Apakah perempuan harus selalu mengikuti konstruksi gender dalam masyarakat? Konstruksi gender juga berdampak pada peranan manusia dalam masyarakat, dan kemudian menciptakan suatu identitas. Tulisan ini membahas tentang gambaran seorang perempuan (khususnya perempuan yang belum menikah) melalui sebuah film berjudul Confession of a Shopaholic, yang dipengaruhi oleh konstruksi gender dalam masyarakat. Hal ini juga membahas bagaimana respon tokoh perempuan terhadap konstruksi gender yang pada akhirnya berpengaruh dalam pembentukan identitas tokoh perempuan tersebut.

The relation between women and gender construction has been discussed many times. Most discussions of the issue focus on the negative impacts of gender construction for women. Women become the victim of the phenomenon of gender construction in society that they have to be what the society expects them to be. This perception then leads to questions: are women always like that? Do women always have to follow gender construction in society? Gender also constructs human's roles in a society, and those roles then create an identity. This paper talks about a woman?s image (especially a single woman) through a movie Confession of a Shopaholic, which is influenced by gender construction in society. It also extends the woman?s response towards gender construction of the society around her as it later creates her identity."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ferdi
"Karya ilmiah ini meneliti tentang proses transformasi identitas yang terjadi terhadap Josephine Alibrandi dan John Barton di dalam novel Looking for Alibrandi. Josephine Alibrandi dan John Barton berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang berbeda. Josephine berasal dari keluarga imigran Italia yang tinggal di pinggiran kota, sebaliknya John Barton berasal dari keluarga politisi di Australia. Walaupun mereka berasal dari keluarga dengan latar belakang berbeda, mereka memiliki permasalahan yang sama terhadap identitas yang mereka punya. Keinginan mereka untuk diakui sebagai diri mereka sendiri mendorong mereka untuk mencari identitas mereka. Alasan saya memilih penelitian terhadap novel ini karena saya merasa bahwa novel ini menarik bagi para remaja dan juga dapat menginspirasi mereka untuk mencari identitas mereka di dalam masyarakat. Transformasi identitas adalah sesuatu yang pasti dan akan terjadi pada hidup seseorang. Josephine Alibrandi dan John Barton mewakili kelompok umum dari remaja-remaja di dunia dalam hal jenis kelamin dan juga kelas sosial. Setiap individu, akan tetapi, memiliki solusi mereka masing-masing terhadap masalah ini dan juga cara untuk mencari identitas mereka. Karya ilmiah ini menyimpulkan bahwa transformasi identitas terjadi pada Josephine Alibrandi dan John Barton terjadi dengan cara yang berbeda. Masing-masing juga memiliki strategi yang berbeda untuk mengatasi permasalahan mereka dan juga mendapatkan hasil yang berbeda.

This paper examines the progress of identity transformation of Josephine Alibrandi and John Barton in the novel Looking for Alibrandi. Josephine and John come from different family backgrounds. Josephine comes from an Italian immigrant family who lives in a suburban area, whereas John Barton comes from a politician family in Australia. Although they come from different family backgrounds, they still have the same problems in their identities. Their desire to be seen as themselves in the society compels them to find their identity. The reason I intend to do a research on this novel is because I think this novel is interesting for teenagers and it can inspire them to find their identity in the society. Identity transformation is something that should and will occur in anyone?s life. Josephine Alibrandi and John Barton represent the general group of teenagers in the world in terms of gender and social class. Each individual, however, has their own solution and way to find their identity. This paper concludes that identity transformation happens in both Josephine Alibrandi and John Barton in different ways. Each of them also has different strategies to overcome the problem and get different results."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Griselda Tassa Hosiana
"Karakterisasi negatif pada karakter perempuan dalam karya sastra tidak dapat dipisahkan dari pengaruh masyarakat patriarki yang terjadi sejak terbentuknya suatu sistem masyarakat. Dalam masyarakat patriarkal, seorang wanita harus memenuhi peran tradisionalnya agar dapat dikatakan sebagai seorang wanita yang ideal. Sebaliknya, apabila seorang wanita tanpa karakteristik yang tidak biasa, dia akan dinilai negatif. Dalam tulisan ini, saya meneliti karakter tokoh Daisy Buchanan dalam film berjudul The Great Gatsby. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Scott Fitzgerald pada tahun 1925. The Great Gatsby menceritakan kehidupan seorang pria muda kaya bernama Jay Gatsby yang mengejar cinta sejatinya, Daisy Buchanan. Daisy Buchanan merupakan karakter yang penuh tantangan untuk dianalisa karena karakternya terdiri dari beberapa lapisan yang berbeda. Ada banyak penilaian negatif sebelumnya melawan karakternya, namun penilaian tersebut sebagian besar berasal dari perspektif pria yang didasarkan pada stereotip tradisional gender. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk menganalisa stereotip karakter wanita melalui karakter Daisy Buchanan. Dia karakter yang menarik dan terdiri dari karakteristik yang berbeda. Meskipun pada banyak penelitian dan karya ilmiah lain menitikberatkan Daisy Buchanan sebagai tokoh antagonis, dia sebenarnya korban dari stereotip pada masyarakat patriarkal.

Negative portrayal of women characters in literary works cannot be separated from the patriarchal influence that has occurred since the society first begun. In a patriarchal society, a woman has to fulfill traditional gender roles to be categorized as an ideal woman. In contrast, without the unusual characteristics, she will be negatively judged. In this paper, I examine Daisy Buchanan character from the movie entitled The Great Gatsby. The movie was adapted from a novel with the same title written by Scott Fitzgerald in 1925. The story was about a young wealthy man named Jay Gatsby who pursues his true love, Daisy Buchanan. She is a challenging character to identify because her character is full of layers. There are many previous negative judgments against her character, yet those judgments mostly come from the male perspectives which are based on the false stereotypes of gender roles. Therefore, this work is aimed to analyze the false stereotype of female characters through the character of Daisy Buchanan. Her character is intriguing and consists of different layers. Even though many previous studies have portrayed Daisy Buchanan as a devilish figure, she is actually a victim of the patriarchal society.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Suci Lestari
"Makalah ini membahas bagaimana film Hollywood tahun 2009 yang berjudul, The Proposal merepresentasikan kekuasaan wanita dalam karir, percintaan dan hubungan keluarganya. Dalam beberapa dekade terakhir, para wanita di negara-negara maju tak jarang memimpin dan memulai perubahan di dalam komunitas lokal mereka sendiri. Sebagai contoh, wanita Amerika kini menjadi lebih tegas dibandingkan sebelumnya. Mereka menegaskan peran baru dan menuntut kebebasan yang sama seperti pria. Saat ini, kebanyakan dari mereka mengambil peran sebagai pemimpin di tempat kerja mereka. Representasi wanita karir dalam posisi kepemimpinan telah menunjukkan adanya dominasi wanita terhadap pria. Ini dapat berujung kepada sebuah fenomena yang dinamakan kekuasaan perempuan. Melalui karakter Margaret Tate, gagasan kekuasaan perempuan dapat berkembang menjadi isu yang lebih luas. Namun demikian, isu seputar kekuasaan perempuan dalam film The Proposal ini lebih berfokus pada pemahaman relasi kuasa perempuan, yang mempengaruhi sikap Margaret. Ada tiga hal utama yang hendak disampaikan dalam makalah ini. Pertama, makalah ini menganalisis bagaimana Margaret menggunakan kekuasaannya sebagai wanita karir di tempat kerja. Kedua, makalah ini membahas tentang kekuasaan perempuan dalam hubungan percintaan Margaret yang dihadirkan dengan sudut pandang yang kompleks. Ketiga, makalah ini memaparkan hubungan antara isu seputar keluarga dan kekuasaan perempuan. Akhir kata, makalah ini menyimpulkan bahwa gagasan relasi kuasa perempuan memainkan peran penting dalam menggambarkan perubahan sikap Margaret.

This paper examines how a 2009 Hollywood movie, The Proposal represents female power in women?s career, love and family relationship. In recent decades, women in developed countries often take the lead and initiate change in their own local communities. Current American women, for instance, become more assertive than before. They assert new roles and demand the same freedom as men. Nowadays, most of them take up leadership roles in their workplaces. The representation of women in leadership positions has showed women?s dominance toward men. This may lead to the phenomenon called female power. The notion of female power in the movie The Proposal illustrates a broader issue of female power through the character of Margaret Tate. However, this female power focuses more on the understanding of female power relation, which affects Margaret?s attitudes. There are three major points that this paper attempts to make. First, it analyzes how Margaret uses her power capably as a career woman in the workplace. Second, it discusses the female power in Margaret?s love relationship in multiplex viewpoints. Third, it views on the relation between the idea of family and female power. At last, the paper concludes that the notion of female power relation can actually play a substantial role in depicting the change of Margaret?s attitudes."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Marcella
"Analisis ini membahas mengenai pilihan perempuan dalam memilih untuk melakukan kohabitasi. Pilihan-pilihan yang ada dianalisis melalui karakter dalam film Love & Other Drugs. Di Amerika, kohabitasi adalah bagian dari gaya hidup. Berkat modernisasi, kohabitasi setelah menjalin asmara merupakan hal yang lazim terjadi pada pasangan -pasangan di Amerika. Akan tetapi, perempuan tidak mempunyai keharusan untuk melakukan kohabitasi dengan pasangannya. Perempuan mempunyai pilihan iya dan tidak dalam melakukan kohabitasi. Kehendak bebas yang dimiliki perempuan adalah hal yang menentukan mereka dalam memilih untuk melakukan kohabitasi atau tidak, sehingga pilihan perempuan untuk kohabitasi bukan hanya berdasarkan pada kohabitasi adalah gaya hidup yang lazim dan perempuan akan dengan senang hati mengikuti gaya hidup tersebut. Analisis ini menyimpulkan bahwa perempuan mempunyai kehendak bebas untuk memilih kohabitasi; entah itu untuk keuntungan mereka atau ada alasan lainnya.

This analysis examines women's choice in choosing cohabitation. The choices are examined through a character in the movie titled Love & Other Drugs. In the USA, cohabitation is a part of lifestyle. Thanks to modernization, it is customary these days for American couples to cohabit after dating. However, it is not an obligation for women to cohabit with their spouses. Women have choices to choose whether to cohabit or not. Their free wills are what make them decide whether to cohabit or not, so it is not simply because it is a common lifestyle and they will just gladly follow it. This analysis concludes that women have free wills to choose cohabiting; either for their own benefits or for other reasons."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Mutia Afifah Riza
"Makalah ini berusaha mencari tahu aspek historis dan biografis yang melatarbelakangi kemampuan Shakespeare dalam membentuk kata dan frase, berkaitan dengan aspek morfologis pada jenis proses pembentukan kata yang paling sering ia gunakan. Shakespeare diketahui menciptakan sekitar 2.000 kata dan frase yang dikontribusikan ke dalam bahasa Inggris. Penciptaan tersebut telah menumbuhkan tidak hanya kekaguman tetapi juga pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana ia dapat menciptakan sebegitu banyaknya kata dan frase sehingga membuatnya dijuluki penulis terbaik berbahasa Inggris. Dalam ilmu morfologi, Shakespeare paling banyak menggunakan lima jenis proses pembentukan kata berikut: penggabungan, penyematan, pengubahan, Latinisme, dan neologisme.
Kelima proses ini berhubungan erat dengan tiga zaman bersejarah di saat Shakespeare hidup, yaitu: Zaman Renaisans, Zaman Elizabethan, dan Zaman Bahasa Inggris Modern Awal. Selain itu, bahasa puitis Shakespeare, yang juga meliputi pembentukan frasa, berakar pada tiga latar belakang biografisnya, yaitu: ia adalah seorang aktor, seorang dramawan, dan sekaligus seorang penyair. Analisis historis dan biografis tersebut berkisar pada fakta bahwa terdapat pergerakan, perubahan, dan perluasan secara besar-besaran di dunia seni, pendidikan, dan sastra pada masa Shakespeare hidup. Penemuan fakta-fakta pada aspek-aspek tersebut menawarkan kesimpulan bahwa bahasa puitis Shakespeare memiliki kekuatan khusus dalam memperkaya bahasa Inggris.

This paper examines the historical and biographical aspects of Shakespeare?s ability in forming words and phrases, related to the morphological use of his mostly used word formation processes. Shakespeare is known to have invented around 2,000 words and phrases contributed to the English language. This invention has caused a number of both admirations and questions towards how he could possibly do such number of inventions making him labeled the greatest writer in the English language. Morphologically, it is said that Shakespeare?s most used five word formation processes are compounding, affixation, conversion, Latinism, and neologism.
These processes are connected to the three historical eras in which Shakespeare lived: the Renaissance era, the Elizabethan era, and the Early Modern English era. Furthermore, Shakespeare?s poetic language, which also involved forming phrases, rooted in his three occupational backgrounds: as an actor, playwright, and poet at the same time. These historical and biographical analyses revolve in the fact that there were massive movements, changes, and expansions in the art, education, and literature world in the time when Shakespeare lived. Finding facts of these aspects offers a conclusion that Shakespeare's poetic language has a certain power in the enrichment of the English language.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Monica Kansy
"[ ABSTRAK
“Brave” adalah sebuah film animasi komputer dari Amerika yang bertemakan fantasi komedi yang
diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan di diterbitkan oleh Walt Disney Pictures pada tahun 2012. Film
ini berbeda dari cerita fairy tales klasik. Film ini mempresentasikan perempuan sebagai tokoh utama.
Masalah yang akan dibahas di sini adalah bagaimana tokoh-tokoh perempuan direpresentasikan dalam film
“Brave”. Penelitian ini menggunakan semiotik dan kode televisi oleh John Fiske. Beberapa subtema yang
digunakan adalah feminism dalam kekuatan, feminism dalam kepemimpinan, feminism dalam stereotip,
feminism dalam karakterisasi, dan feminism dalam kebebasan. Lebih lanjjut lagi, film ini menunjukan
beberapa perubahan mendasar dari stereotip film Disney.

ABSTRACT
"Brave" is an American computer-animated fantasy comedy film produced by Pixar Animation Studios and
released by Walt Disney Pictures in 2012. This film is different from classic fairy tales. This film
represented a tough woman as the main character. The problem that will be discussed here is how the female
characters are represented in "Brave". This study uses semiotics, particularly codes of television by John
Fiske. Subthemes are used to analyze feminism in power, feminism in leadership, feminism in stereotypes,
feminism in characterization, and feminism in freedom. The conclusion of this study is that the film contains
feminism in power, leadership, stereotypes, characterization, and freedom. Furthermore, this film shows
some basic changes from the common stereotype of Disney movie.;"Brave" is an American computer-animated fantasy comedy film produced by Pixar Animation Studios and
released by Walt Disney Pictures in 2012. This film is different from classic fairy tales. This film
represented a tough woman as the main character. The problem that will be discussed here is how the female
characters are represented in "Brave". This study uses semiotics, particularly codes of television by John
Fiske. Subthemes are used to analyze feminism in power, feminism in leadership, feminism in stereotypes,
feminism in characterization, and feminism in freedom. The conclusion of this study is that the film contains
feminism in power, leadership, stereotypes, characterization, and freedom. Furthermore, this film shows
some basic changes from the common stereotype of Disney movie., "Brave" is an American computer-animated fantasy comedy film produced by Pixar Animation Studios and
released by Walt Disney Pictures in 2012. This film is different from classic fairy tales. This film
represented a tough woman as the main character. The problem that will be discussed here is how the female
characters are represented in "Brave". This study uses semiotics, particularly codes of television by John
Fiske. Subthemes are used to analyze feminism in power, feminism in leadership, feminism in stereotypes,
feminism in characterization, and feminism in freedom. The conclusion of this study is that the film contains
feminism in power, leadership, stereotypes, characterization, and freedom. Furthermore, this film shows
some basic changes from the common stereotype of Disney movie.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>