Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dziki ufidian alwi
"

Penggunaan Biodiesel kelapa sawit sebagai campuran bahan bakar minyak solar semakin meningkat seiring dengan penerapan peraturan pemerintah yang mewajibkan pencampuran biodiesel ke dalam minyak solar sebanyak 20% menjadi biosolar (B-20) pada tahun 2016 dan 30% (B-30) pada tahun 2020. Dilaporkan bahwa penggunaan B-20 menyebabkan penyumbatan pada saringan bahan bakar kendaraan. Penyumbatan disebabkan oleh adanya endapan yang terbentuk dari aglomerasi monogliserida terutama monopalmitin. Adanya endapan ini menurunkan sifat kemudahan alir (flow properties) B-20. Telah dilakukan penelitian untuk memperbaiki flow properties biodiesel dengan penambahan surfaktan Sorbitan Monooleate (SMO). Penambahan SMO pada biodiesel menyebabkan turunnya nilai cold filter plugging point (CFPP) yang dapat menghambat aglomerasi monogliserida. Pada pengujian pengaruh monogliserida terhadap terbentuknya endapan, kadar monopalmitin pada biodiesel divariasikan sebesar 0,4%, 0,5% dan 0,8% massa. Sampel ini dikondisikan pada suhu rendah (160C) selama 24 jam, kemudian dibiarkan pada suhu kamar untuk selanjutnya disaring dan ditimbang endapannya. Semakin tinggi kandungan monogliserida dalam biodiesel, maka semakin banyak endapan yang terbentuk. Penelitian dengan SMO menggunakan biodiesel yang memiliki kandungan monogliserida yang berbeda-beda, yaitu sebesar 0,46% (B-100 A), 0,55% (B-100 B), dan 0,65% massa (B-100 C). Pada setiap biodiesel, penambahan SMO di variasikan 0,1%, 0,5%, dan 1% volume. Penyimpanan sampel biodiesel dikondisikan pada suhu rendah (160C) dan pada suhu ruang (± 270C). Pengaruh SMO terhadap suhu awal pembentukan kristal/wax pada biodiesel dianalisa dengan metode differential scanning calorimetry (DSC), sedangkan pengaruhnya terhadap flow properties dianalisis menggunakan 4 parameter yaitu : viskositas, densitas, titik kabut, dan cold filter plugging point (CFPP). Pengujian dilakukan setiap 1 minggu sekali untuk setiap sampel biodiesel. Penggunaan SMO 0,1% - 1% memperbaiki flow properties dengan menurunkan titik kabut sebesar ± 1,60C dan CFPP sebesar 20C, yang diakibatkan oleh penurunan suhu awal pembentukan kristal dari 10,470C menjadi 6,990C.


The use of palm oil biodiesel as a mixture of diesel oil fuel is increasing along with the application of government regulations that require mixing biodiesel into diesel oil as much as 20% to biodiesel (B-20) in 2016 and 30% (B-30) in 2020. It was reported that the use of the B-20 caused a blockage in the vehicle's fuel filter. Blockage is caused by the presence of deposits formed from agglomeration of monoglycerides, especially monopalmitin. The presence of these deposits decreases the flow properties of B-20. Research has been carried out to improve the flow properties of biodiesel by adding Sorbitan Monooleate (SMO) surfactant. The addition of SMO to biodiesel causes a decrease in the value of cold filter plugging point (CFPP) which can inhibit agglomeration of monoglycerides. In testing the effect of monoglycerides on the formation of deposits, the level of monopalmitin in biodiesel was varied by 0,4%, 0,5% and 0,8% by mass. This sample is conditioned at a low temperature (160C) for 24 hours, then left at room temperature to then filter and weigh the precipitate. The higher content of monoglycerides in biodiesel, the more deposits are formed. Research with SMO uses biodiesel which has different monoglyceride content, which is 0,46% (B-100 A), 0,55% (B-100 B), and 0,65% mass (B-100 C). In each biodiesel, the addition of SMO is varied by 0,1%, 0,5%, and 1% by volume. Storage of biodiesel samples is conditioned at low temperatures (160C) and at room temperature (± 270C). The effect of SMO on the initial temperature of crystal formation / wax on biodiesel was analyzed by the method of differential scanning calorimetry (DSC), while the effect on flow properties was analyzed using 4 parameters: viscosity, density, cloud point, and cold filter plugging point (CFPP). Tests are carried out every 1 week for each biodiesel sample. The use of SMO 0,1% - 1% improves flow properties by decreasing the cloud point by ± 1.60C and CFPP by 20C, which is caused by a decrease in the initial temperature of the crystal formation from 10,470C to 6,990C.

"
2019
T52106
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rifqi
"60 juta ton produksi minyak sawit dunia menghasilkan 600 ribu ton limbah SBE. SBE dikelola dengan cara dibakar (menggunakan incinerator) atau dibuang pada landfill. Namun, karena SBE mengandung kadar minyak yang tinggi, maka pembuangan SBE dalam bentuk landfill mengakibatkan polusi tanah dan air yang substansial (Raksi, 2009). SBE digunakan karena masih mengandung minyak nabati yang tinggi sekitar 20-40% yang berpotensial untuk dilakukannya pengolahan lebih lanjut seperti dijadikan biodiesel atau biolubricant.
Tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis dan mengkarakterisasi ester propilen glikol atau biolubricant yang dihasilkan dari hasil modifikasi alkohol yaitu propilen glikol dengan asam lemak yang berasal dari SBE oil sebagai biolubricant. Hasil dari modifikasi ini adalah produk ester propilen glikol. Propilen glikol dipilih karena memiliki struktur yang bercabang, viskositas yang tinggi dan memiliki titik leleh yang rendah. Tahapan pada penelitian ini terbagi menjadi empat buah tahapan. Pada tahap pretreatment telah menghasilkan SBEO dengan kualitas sesuai dengan standar nilai RBDPO.
Pada tahap esterifikasi telah menghasilkan minyak SBE yang memiliki nilai asam lemak bebas yang rendah untuk mencegah penyabunan. Pada proses transesterifikasi tahap 1 minyak SBE telah diubah menjadi metil ester atau biodiesel dengan variasi rasio mol yaitu 1:6 antara SBEO dengan metanol dengan yield 99,21%. Proses transesterifikasi tahap 2 metil ester atau biodiesel telah diubah menjadi ester propilen glikol. Setelah proses sintesis selesai, tujuan terakhir yaitu karakterisasi, dilakukan uji GC-MS, densitas, viskositas, flash point, dan pour point. Hasil dari modifikasi ini adalah produk ester propilen glikol dengan nilai flash point adalah 252°C dan nilai pour point adalah -7°C

60 million tons of world palm oil production produces 600 thousand tons of SBE waste. SBE is managed by burning (using an incinerator) or disposed of at the landfill. However, because SBE contains high oil content, the disposal of SBE in the form of landfills can caused soil and air pollution (Raksi, 2009). SBE is used because it still contains about 20-40% high vegetable oil which has the potential to be processed further such as biodiesel or biolubricant.
The purpose of this study is to synthesize and characterize propylen glycol ester derived from propylen glycol and fatty acid from SBE oil as a hidraulic lubricant. The results of this modification are propylene glycol esters. Propylene glycol is chosen because it has a branching structure, high viscosity and has a low melting point. The stages of study are divided into four stages. In the pretreatment stage, the SBEO has been produced with quality in accordance to the RBDPO value standards. At the esterification stage, SBE oil produced a low value of free fatty acids to prevent saponification.
In the first transesterification stage, SBE oil has been converted into methyl esters or biodiesel with a variation of the mole ratio of 1:6 between SBEO and metanol with a yield of 99.21%. The step 2 transesterification process of methyl esters or biodiesel has been converted into propylene glycol esters. After the synthesis process is complete, the final goal is characterization, GC-MS test, density, viscosity, flash point, and pour point. The results of this modification are propylene glycol esters with a flash point value of 252°C and the pour point value is -7°C.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Karenza Amarabelle Andjani Latief
"ABSTRAK
Minyak nabati digunakan sebagai sebagai bahan baku untuk menghasilkan pelumas sebagai pengganti pelumas mineral karena tidak seperti pelumas mineral, minyak nabati adalah sumber daya alam berkelanjutan yang dapat terurai secara hayati dengan ekotoksisitas rendah. Biopelumas disintesis melalu transesterifikasi minyak kelapa dan minyak sawit mentah di mana gliserida bereaksi dengan alkohol dan katalis membentuk ester alkil asam lemak dan alkohol. Katalis heterogen dapat memberikan rute baru untuk produksi biopelumas yang ramah lingkungan. Katalis ini memberikan efisiensi konversi yang lebih tinggi daripada katalis homogen. Katalis heterogen partikulat dapat dengan mudah dipisahkan dari produk mengikuti reaksi yang memungkinkan katalis untuk digunakan kembali, menghasilkan lebih sedikit limbah, dan mengkonsumsi lebih sedikit energi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, kalsium hidroksida (Ca(OH)2) digunakan sebagai katalis heterogen, dengan proses kalsinasi. Untuk mengetahui karakterisasi katalis, dilakukan analysis XRD (X ray powder diffraction). Keberhasilan penelitian ini diperoleh dari sifat fisik dan kimia biopelumas menurut standar biopelumas melalui uji viskositas, densitas, titik nyala, titik awan, FTIR, dan GCMS. Hasil yield tertinggi yang diperoleh dari penelitian ini adalah 73.72% dengan minyak kelapa sebagai bahan baku, katalis Ca(OH)2 yang dikalsinasi, rasio methanol terhadap minyak 12:1, jumlah katalis 8% (terhadap minyak), waktu reaksi 3 jam, dan suhu reaksi 65°C.

ABSTRACT
Vegetable oil is used as a feedstock to produce lubricant as the substitute of mineral oil because unlike mineral oil, vegetable oil is a biodegradable and sustainable natural resource with low eco toxicity. Bio lubricant was synthesized by transesterification of coconut oil and crude palm oil in which a glyceride reacts with an alcohol in the presence of a catalyst forming fatty acid alkyl esters and an alcohol. Heterogeneous catalyst can provide new routes for the environmentally benign production of biolubricant. It provides higher conversion efficiency than a homogeneous catalyst. Particulate heterogeneous catalysts can be readily separated from products following reaction allowing the catalyst to be reused, generating less waste, and consuming less energy. Thus, in this research, calcium hydroxide (Ca(OH)2) is used as the heterogeneous catalyst, prepared using calcination. To find out the characterization of the catalyst, XRD (X ray powder diffraction) analysis is used. The success of this research is obtained by the physical and chemical properties of biolubricant according to commercial biolubricant standard through viscosity, density, flash point, FTIR, and GCMS test. The highest yield obtained from this research is 73.72% with coconut oil as the feedstock, calcined Ca(OH)2 catalyst, 12:1 methanol to oil ratio, 8% catalyst amount (in relation to oil), 3 hours reaction time, and 65C reaction temperature."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library