Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Adi Wijaya
"Latar belakang
Depresi sering timbul pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, namun masih sedikit perhatian praktisi kesehatan terhadap depresi. Depresi dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Kualitas hidup yang rendah akan meningkatkan angka rawat inap dan mortalitas pada pasien sakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis
Tujuan
Mengetahui gambaran kualitas hidup pasien sakit ginjal yang menjalani hemodialisis kronik dan mengalami depresi dan mengetahui gambaran karakteristik sosio-demografik pasien sakit ginjal yang menjalani hemodialisis kronik dan mengalami depresi.
Metode
Penelitian deskriptif studi potong lintang pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSCM Jakarta dan RS PGI Cikini Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Pada Subyek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan uji sating :dengan menggunakan kuesioner BDI. Subyek digolongkan menjadi 2 golongan yaitu depresi dan tidak depresi, kemudian dilakukan penilaian kualitas hidupnya dan dibandingkan. Dilakukan juga uji Kai-Kuadrat dan tiji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara depresi dengan kualitas hidup.
Hasil
Subyek penelitian terdiri dari 27 laki-laki (44.3%) dan 34 wanita (55.7%). Usia rata-rata 44.4 ± 11.2 tahun. Nilai rerata Iamanya pasien menjalani hemodialisis 27.6 bulan (SB 17.9). Skor rerata kualitas hidup untuk komponen kesehatan fisik sebesar 52.7 (SB 18.8 ; IK 95% 48.0 - 57.4), komponen kesehatan mental sebesar 55.2 (SB 18.2; IK 95% 50.6 --59.8) dan tingkat kesehatan secara umum 57.5 (SB 18.4; IK 95% 52.8 -- 62.1). angka prevalensi depresi pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebesar 31.1% dengan skor BDI rerata 20.6. Kualitas hidup pasien depresi mengalami penurunan dibandingkan dengan pasien tanpa depresi. Depresi berpengaruh secara bermakna terhadap kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Semakin tinggi derajat depresi pasien makin buruk kualitas hidupnya. Penghasilan merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap depresi (OR 6,90 ; p = 0,008) diikuti oleh tingkat pendidikan (OR 5,87 ; p = 0,016).
Kesimpulan
Prevalensi depresi pada pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis sebesar 31.1%. Sebagian besar komponen kualitas hidup pasien yang mengalami depresi lebih rendah dibandingkan dengan pasien sakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis tanpa mengalami depresi.

Background
Depression is frequently found in patients with chronic kidney disease (CKD) on hemodialysis (HD) treatment. Depression may influence quality of life. Low quality of life could increase rate of hospitalization and mortality in patients with CKD on HD treatment.
Objective
To describe quality of life in patients with CKD on HD treatment and have depression. To investigate sociodemographie characteristic of patients with CKD on HD treatment and having depression.
Methods
A descriptive study was conducted in patients with CKD on HD treatment in I-ID unit of RSCM and Renal unit in RS PG1 Cikini who fulfilled inclusion criteria. Subject who had fulfilled inclusion criteria was screened for depression by using SDI questionnaire. Subjects with BDI score > 10 was interviewed to confirm diagnosis of depression based on DSM-IV. Subjects were categorized into 2 groups. One group consisted of subjects who had depression and the others who had no depression. Further, we evaluated the quality of life of both groups and did the comparison between them,
Results
The result showed that the prevalence of depression in patients with CKD on l-ID treatment was 31.1%. In details, severe depression was found 8.2%; moderate depression 9.8% and mild depression was 13.9% among patients with CKD on HD treatment with mean BDI score was 20.6. After we have done Mann-Whitney Rank test, the' study showed decreased quality of life in patients with CKD on HD treatment who had depression compared those who had no depression. Depression can influence the quality of life significantly. More higher depression level more lower quality of life the patients. After bivariat analysis from several risk factors such as gender, age, marital status, education level, occupation, income, funding source of HD treatment, we found that income was the most significant factor which influenced depression (OR 6.90; p=0.O8) on patients followed by education level (OR 5.87; p-0.016).
Conclusion
The prevalence of depression among patients with CKD on HD treatment was 31.1%. Most of the quality of life components in patients with CKD on HD treatment who had depression were low compare those who had no depression."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T21408
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erwin
"Latar Belakang : lnstabilitas postural I jatuh adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan pusat kekuatan anti gravitasi pada dasar penyanggah tubuh (misalnya, kaki saat berdiri), atau memberi respon secara cepat pada setiap perpindahan posisi atan keadaan staffs. Prevalensi instabilitas postural di AS 30% dari penduduk usia lebih 60 tahun pernah jatuh, di RSCM tahun 2003 sebesar 23,3%. Faktor risiko yang melatar belakangi terjadinya jatuh adalah faktor ekstrinsik an faktor intrinsik. Faktor intrinsik terbagi dua sistemik (pneumonia, hipatensi ortostatik, hiponatremi, gagal jantung, infeksi saluran kemih) dan lokal (OA servikal, OA gem, Benign paroxiysmalpositional vertigo (BPPV), gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, kelemahan otot tungkai bawah). Jatuh memiliki penyulit yang cukup serius, mulai dari cedera ringan sampai fraktur femur. Dengan mengetahui faktor risiko jatuh sedini mungkin, maka kita dapat mencegah terjadinya jatuh dan penyulitnya.
Tujuan : mengetahui sebaran faktor intrinsik lokal serta hubungannya dengan instabilitas postural I jatuh.
Metodologi : Studi potong lintang dengan basal-sampel 97 orang usia Lanjut yang memenuhi kriteria inklusi. Waktu : Januari-Juni 2005 di Divisi Geriatri RSCM. Tingkat instabilitas diukur dengan posturografri.
Hasil : Dari penelitian ini didapat hasil prevalensi instabilitas postural sebesar 64.9%. Prevalensi perempuan 52,3% dan laki-laki 47,7%. Menurut kelompok umur prevalensi tertinggi pada umur > 80 taken sebesar 75,0%. Pada analisa bivariat osteoariritis servikal merupakan faktor intrinsik lokal yang mempunyai hubungan bermakna terhadap kejadian instabilitas postural dengan OR 3,28 (1K 95% 1,25-8,63) p= 0,02 dan pada analisa multivariat dengan inetode backward regresi logistitik didapatkan nilai OR 3,22 (1K 95% 1,18-89,74) p = 0,02. Gangguan pendengaran merupalcan faktor intrinsik lokal yang mernpunyai hubungan bermalma terhadap instabilitas postural pada analisa bivariat dengan nilai OR : 3,95 (1,29-12,11) p= 0,02 dan pads analisa multivariat dengan ailai OR 3,22 (1,18-89,74) pr= 0,02. Osteoartritis genii, BPPV, gangguan penglffiatan dan kelemaban otot tungkai bawah hell m dapat dibuktilcan mempunyai hubungan bermakna dengan instabilitas postural pada penelitian ini.
Simpulan : Prevalensi instabilitas postural pada penelitian ini sebesar 64,9%. Ganggaan pendengaran dan OA servikal menrpakan faktor instrinsik lokal yang mempunyai hubungan yang bermakna terhadap instabilitas postural. OA genii, BPPV, gangguan penglihatan dan kelemahan otot tungkai bawah belum dapat dibuktikan mempunyai hubungan bermakna dengan instabilitas postural pada penelitian ini.

Backgrounds : Instability/falls is inability to maintain central anti gravity strength of supporting structures of the body (e.g. feet while standing) or to give adequate response to positional changes or static condition Prevalence of postural instability in US reached > 30% in population aged > 60 years old A Study conducted in RSCM by Handayani (2003) found the prevalence as high as 23.3%. -Risk factors that responsible for falls are intrinsic and extrinsic factors. Intrinsic factors consist of systemic (pneumonia, orthostatic hypotension, hyponatresmia, heart failure, urinary tract infection) and local factors (cervical OA, knee OA, BPPV, visual impairment, hearing impairment, lower lambs weakness). Falls may have mild complication like mild trauma to serious complications such as femoral fracture. By identifying risk factors of instability/falls earlier, we may prevent falls and its complications.
Objective = to determine intrinsic local factors and its relationship with instability/falls.
Methods : Cross sectional study on 97 elderly patients who fullfled inclusion criteria was conducted in RSCM from January to June 2005 in outpatient clinic, Geriatric Division FKUI 1 RSCM.
Results : From this study we found the prevalence of instability was 64.9%. The prevalence in female (52.3%) was higher than male (47.7%) patience According to age group, the highest prevalence was found in age group of > 80 years (75%). After bivariat analysis, we found cervical OA was intrinsic local factor which bad significant relation with incidence of postural instability with OR 3.28 (CI 95% 1.25-8.63); Bivariat and multivariate analysis of logistic regression using backward method we found OR 3.22 (Cl 95% 1.18-89.74); p= 0.02. Hearing impairment was local intrinsic factor that had significant relation with postural instability after bivariat analysis with OR 3.95 (Cl 95% 1.29-12_ l 1); p= 0.02 and multivariate analysis with OR. 3.22 (Cl 95% 1.18$9.74); p= 0.02. BPPV, knee OA, visual impairment and lower limb weakness had not been proven yet to have significant relation with postural instability in this study.
Conclusion : Prevalence of instability in thus study is 64.9%. Hearing impairment and cervical OA were intrinsic local factors that showed statistically significant relation with postural instability. Knee OA, BPPV, visual impairment, and lower limb weakness had not been proven to have significant relation with instability in this study.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T21412
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Imelda
"Meningkatnya usia harapan hidup berdampak bertambahnya insideris penyakit muskuloskeletal. Diantara berbagai macam penyakit muskuloskeletal yang paling sering dijumpai yaitu osteoartritis (OA), artritis rematoid (RA), osteoporosis dan low back pani. Osteoartritis terjadi akibat kondrosit gagal mensintesis matriks yang berkualitas dan memelihara keseimbangan antara degradasi dan sintesis matriks ekstraselular. Kelainan utama pada osteoartritis adalah hilangnya rawan sendi secara progresif yang disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang subkondral. sendi yang paling banyak terkena OA adalah lutut, panggul, lumbal dan servikal.
Insidens dan prevalensi OA bervariasi antar negara dan jumlahnya rneningkat sesuai bertambahnya usia. Menurut data WHO diperkirakan 10% penduduk dunia berusia lebih atau sama 60 tahun menderita OA. Insidens OA pada perempuan lebih tinggi yaitu 2,95 per 1000 populasi dibandingkan laki-laki yaitu 1,71 per 1000 populasi. Faktor gender pada OA diduga berkaitan dengan hormon estrogen.
Patogenesis OA pada awalnya dianggap hanya akibat proses degenerasi, tetapi kelainan yang ditemukan seperti efusi sendi, kekakuan sendi, dan nodes makin menguatkan adanya proses inflamasi. Proses biomekanik pada sendi penumpu berat badan seperti pada OA lutut tidak bisa menjelaskan kejadian OA pada sendi jari tangan yang bukan sendi penumpu barat badan. Berbagai tanda molekular baik serum maupun cairan sendi dapat digunakan untuk mendiagnosis, menilai progresivitas, dan prognosis penyakit OA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21420
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library