Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pasaribu, A. Syukri
"Tingginya lama hari rawat yang ada di UPF Bedah Umum RS DR. Sarjito menjadi masalah karena, jika dibandingkan dengan lama hari rawat di negara maju dan di Indonesia sendiri, lama hari rawat di UPF Bedah Umum RS Dr. Sarjito termasuk tinggi dan menduduki ranking ke dua tertinggi di banding dengan rata-rata lama hari rawat untuk RS type B diseluruh Indonesia, yang hanya 11.73 hari. Rata-rata lama hari rawat untuk penyakit Bedah di RS Dr. Sarjito pada th 1987, 1988, dan 1989 adalah 18.38 hari, 18.45 hari dan 19.42 hari. Tingginya rata-rata lama hari rawat ini akan ikut menurunkan penampilan RS dan hal ini merupakan masalah bagi administrator RS.
Penelitian ini merupakan studi. korelasional yang dilakukan secara cross-sectional dengan meneliti catatan medik penderita-penderita Appendicitis Acuta, Appendicitis Chronica, Hernia Inguinale, dan Hiperplasia Prostat yang dirawat di RS tersebut pada th 1989. Teknik analisa statistik yang digunakan adalah Analisa Varians satu dan empat faktor serta Analisa Klasifikasi Ganda (MCA).
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya dua faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat penderita keempat penyakit yang diikutkan dalam penelitian, yaitu faktor umur dan kelas perawatan. Faktor dokter, sekalipun hanya pada dua penyakit yang berhubungan dengan lama hari rawat, namun didapat kesan bahwa hubungan tersebut juga ada pada kedua penyakit lainnya. Untuk ketiga faktor, yaitu hari kedatangan, hari kepulangan dan pembayar biaya perawatan, tampak tidak ada hubungan. Hal ini sebetulnya terjadi karena tidak ada perencanaan yang baik dalam pemulangan penderita.
Berdasarkan beberapa pemikiran, maka dikemukakan 7 (tujuh) saran-saran guna menurunkan lama hari rawat.
Pertama, adalah perhatian yang khusus pada pasien yang berumur 40th atau lebih.
Kedua, kwalitas/ketrampilan dokter.
Ketiga, mengadakan quality control.
Keempat, perencanaan yang baik dalam pemulangan pasien.
Kelima, adanya standar kwalitas pelayanan RS.
Keenam, dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor dokter untuk mengetahui sub-faktor sub-faktor yang berperan dan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang berhubungan dengan LHR dari keempat penyakit tersebut.
Ketujuh, melengkapi isian formulir pada catatan medik penderita, terutama formulir-formulir pemeriksaan penunjang yang sering tidak diisi, kapan selesai pemeriksaan penunjang tersebut."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Utami Sudiro
"Masalah penelitian. Hasil pembangunan yang meningkatkan pendidikan dan penghasilan, dan adanya peluang sektor swasta didalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan serta adanya kebijakan rumah sakit pemerintah menjadi rumah sakit swadana, meningkatkan persaingan antar rumah sakit dalam usaha untuk tetap mempertahankan keberadaannya. Di sisi lain terdapat keterbatasan sumber daya, sehingga rumah sakit tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan dan segala segmen pasar yang ada. Dengan pertimbangan ekonomi maka dipilih beberapa segmen pasar yang ditarik guna menjaga kelangsungan hidupnya Rumah sakit harus mengutamakan kepada segmen pasar yang paling menguntungkan.Rumah Sakit Setia Mitra adalah rumah sakit swasta dengan kekhususan kasus-kasus bedah, tidak lepas dari pengaruh persaingan antar RS untuk merebut pangsa pasar. Rumah sakit ini mengalami penurunan BOR sejak tahun 1992 yaitu sekitar 50-60 %. Ditambah pada tahun 1993 mengalami musibah kebakaran, sehingga terjadi pula penurunan sumber daya.
RUANG LINGKUP. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan segmen rawat inap. Lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan segmen rawat inap yang meliputi faktor pendidikan, penghasilan, pelayanan penerimaan, pelayanan medik, pelayanan keperawatan, pelayanan obat, pelayanan makanan, dan ruang rawat.
METODOLOGI. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain `cross sectional'. Populasi penelitian adalah pasien pasca rawat inap dan sampel adalah total populasi. Instrumen pengumpul data yaitu kuesioner.
HASIL. Dari 8 variabel bebas yang diteliti ternyata ada 6 variabel yang terbukti menunjukkan hubungan statistik bermakna dengan segmen rawat inap. Sedangkan 2 variabel lainnya tidak menunjukkan hubungan statistik bermakna.
KESIMPULAN. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor pendidikan, penghasilan, pelayanan medik, pelayanan keperawatan, pelayanan makanan dan ruang rawat berhubungan dengan segmen rawat inap. Sedangkan 2 faktor lainnya yaitu pelayanan penerimaan dan pelayanan obat tidak berhubungan dengan segmen rawat inap.
SARAN. Perlu adanya kerjasama dengan dokter praktek disekitar rumah sakit dalam memberikan informasi (promosi), Dan untuk meningkatkan `performance' rumah sakit diperlukan upaya perbaikan pelayanan medik dan keperawatan tanpa membedakan segmen dan mengembangkan komite medik dan komite keperawatan untuk memantaunya, untuk pelayanan makanan dan ruang rawat perlu dikembangkan adanya gugus kendali mutu di bidang pelayanan makanan serta kenyamanan dan kebersihan ruang rawat disamping adanya perbaikan fasilitas ruang rawat. Perlu adanya `internal marketing' bagi seluruh karyawan terutama dokter dan perawat. Diperlukan juga adanya penelitian lebih lanjut untuk menentukan target pasar kemudian posisi pasar beserta bauran pemasarannya.

Research problem. The development results increasing education and incomes, and there has time to spare the private sector in carrying out of health service, and by the policy of public hospital becomes self funds, raising hospital competition in an attempt to keep constantly their existences. Other side there are resources limitation, of course those of hospital. Cannot covered all of the segmentation needs. There is must be chosen about profitability segmentation. Setia mitra hospital is a private hospital with speciality surgery case not influenced from hospital competition to catch market share. This hospital had decreased BOR from 1992 about 50-60%, additional in 1993 had fired and also decreasing human resources.
Scope. The research is aimed to find information about factors related to impatient segmentation. It is limited on factors that are believed to have a correlation with inpatient segmentation. They consist of education, income, perception of admission service, medical service, nursing care service, medication service, food service and inpatient room.
Methodology. The research is classified as a cross sectional study. The population is inpatient who had recovered, while its sample is total population instrument of data collection is questionary.
Result. It turned out only 6 out of 8 variables showed a significant correlation. Where as the other 2 which failed to be proved.
Summary. This study included that a significant correlation about variables education, income, medical service, nursing care service, food service and inpatient room. Where as the other about admission service and medication service were failed to be proved. Suggestion. Setia Mitra hospital should consider in promotion to set up a good relation ship between practical doctors whose rounded hospital and to raise hospital performance need increasing medical service and nursing care without difference segment and monitoring them with develop a medical committee and nursing committee for monitoring food service and inpatient room should also develop a quality control in preparing food, convenience and room service. Beside increasing facilities have to internal marketing for employee especially for doctors and nurses. Also have to forward research to make market target decession then the position and there marketing mix.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library