Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dea Febianli
"Seorang apoteker memegang peranan penting di Rumah Sakit, Apotek, dan Pemerintahan. Apoteker harus memenuhi standar kompetensi sebagai persyaratan untuk memasuki dunia kerja dan menjalani praktik profesi. Standar kompetensi apoteker Indonesia terdiri dari sepuluh (10) standar kompetensi sebagai kemampuan yang diharapkan oleh apoteker saat lulus dan masuk ke tempat praktik kerja profesi. Sebagai bekal dan pengalaman calon apoteker untuk dapat memahami peran apoteker dan meningkatkan kompetensi, maka dilaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 366 Maharaja Depok, Badan Pengawas Obat dan Makanan dan Rumah Sakit Mitra Jambi periode bulan Februari - Augustus 2020. Selama PKPA, diharapkan calon apoteker dapat memperluas wawasan, pemahaman dan pengalaman untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di tempat praktik kerja profesi.


A pharmacist plays an important role in the Hospital, Pharmacy, and Government. Pharmacists must meet competency standards as requirements for entering the world of work and undergoing professional practice. Indonesian pharmacist competency standards consist of ten (10) competency standards as the abilities expected by pharmacists when they graduate and enter professional work practices. As a provision and experience of prospective pharmacists to be able to understand the role of pharmacists and improve competence, the Pharmacist Professional Work Practice was carried out at the Kimia Farma Pharmacy No. 366 Maharaja Depok, Food and Drug Supervisory Agency and Mitra Jambi Hospital for the period of February - August 2020. During PKPA, it is hoped that prospective pharmacists can broaden their horizons, understanding and experience to carry out pharmaceutical work in professional work practices.

"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Zenshiny Starlin
"ABSTRAK
Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 366 Maharaja, PT. Indofarma Tbk., dan Rumah Sakit Universitas Indonesia Periode Februari - Mei 2020

ABSTRACT
Internship at Apotek Kimia Farma No. 366 Maharaja, PT. Indofarma Tbk., and Universitas Indonesia Hospital Period February-May 2020
"
2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tiara Nurul Haq
"Apoteker merupakan profesi yang memegang peran penting di institusi kefarmasian. Demi terwujudnya seorang apoteker yang profesional dalam melakukan pekerjaan kefarmasian, salah satu hal yang penting untuk dilakukan adalah berpartisipasi secara langsung dalam melakukan peran kefarmasian di institusi kefarmasian, seperti apotek dan industri farmasi sehingga calon apoteker dituntut untuk menjalani praktik profesi. Praktik profesi dilakukan sebagai bekal dan pengalaman calon apoteker untuk memahami dan mendapat gambaran mengenai peran apoteker di dunia kerja.. Praktik Kerja Profesi Apoteker dilaksanakan di Apotek Kimia Farma selama periode Februari 2020 dan PT Bayer – Cimanggis Plant selama periode Juli – Agustus 2020. Industri farmasi dan apotek tersebut dapat menjadi wadah bagi seorang calon apoteker untuk mengasah keterampilan kefarmasian. Calon apoteker diharapkan selama menjalani praktik kerja menambah pengetahuan, wawasan, keterampilan, dan pengalaman.

Pharmacist is a profession that plays an important role in pharmaceutical institutions. In order to realize a professional pharmacist in doing pharmaceutical work, one of the important things to do is participate directly in carrying out a pharmaceutical role in pharmaceutical institutions, such as pharmacies and the pharmaceutical industry so that prospective pharmacists are required to undergo professional practice. Professional practice is carried out as a provision and experience for prospective pharmacists to understand and get an overview of the role of pharmacists in the world of work. The Professional Practice of Pharmacists is carried out at Apotek Kimia Farma during the period February 2020 and PT Bayer - Cimanggis Plant during the July - August 2020 period. The pharmacy can be a place for a prospective pharmacist to hone pharmaceutical skills. Prospective pharmacists are expected to increase their knowledge, insight, skills and experience during their work practice.

"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia , 2020
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yunistia Moura Zakhrifah
"Apoteker memiliki berbagai peran penting dalam pengaturan praktik farmasi. Penyelenggaraan praktik atau pekerjaan kefarmasian meliputi pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan, produksi, distribusi, dan pelayanan sediaan farmasi. Seorang profesi apoteker perlu menguasai standar kompetensi apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian sesuai dengan kompetensi profesi. Standar tersebut memastikan bahwa seorang apoteker memiliki seluruh kompetensi yang relevan untuk mejalankan perannya dan mampu memberikan pelayanan kefarmasian sesuai ketentuan tentang praktik kefarmasian, peraturan, etika, kode etik, dan pedoman praktik apoteker. Terdapat sepuluh (10) elemen standar kompetensi apoteker yang perlu dikuasai sebagai persyaratan untuk memasuki dunia kerja dan menjalani praktik profesi. Standar kompetensi telah dilengkapi oleh elemen yang perlu dikuasai oleh apoteker pada saat lulus dan masuk ke tempat praktik/kerja. Sebagai calon apoteker, pentingnya membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan kemampuan tentang peran, fungsi dan tanggung jawab apoteker melalui Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA). Dengan dilaksanakannya PKPA, seorang calon apoteker diharapkan memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk melakukan pekerjaan kefarmasian sehingga menjadi siap untuk memasuki dunia kerja sebagai tenaga farmasi yang professional.

Pharmacists work in diverse roles and practice settings. The implementation of pharmacy practice includes pharmaceutical work in the procurement, production, distribution of pharmaceutical preparations and and pharmaceutical care. A pharmacist is expected to master pharmacy standard competency to maintain and practice within the limits of professional competence. The standard competency is a commitment to practice with an an obligation to do in accordance with expected behaviours as set down in professional codes, standards and guidelines which results in facilitating professional practice and growth. There are 10 elements of pharmacy competency standards which need to be attained by an individual to practise effectively as a pharmacist. It is important to equip students with knowledge and abilities about the roles and responsibilities of pharmacists in the real field through an internship program. A future pharmacist is expected to have the insight, knowledge, skills and experience through the internship program in order to be become a professional in the pharmacy practice."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia , 2020
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bella Sanara
"ABSTRAK
Resep jamu kuno Au Fere II telah banyak digunakan oleh masyarakat Maluku sebagai pengobatan tradisional dalam terapi hipertensi. Namun potensi dari ekstrak Au Fere II belum dibuktikan secara lebih mendetail akan khasiatnya dalam terapi hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang dapat dihasilkan dari resep jamu kuno Au Fere II terhadap tekanan darah, berat badan, dan morfologi hewan uji. Tujuan lain adalah untuk mengevaluasi efek pemberian ekstrak resep jamu kuno Au Fere II pada hewan uji terhadap aktivitas level renin plasma. Pada penelitian ini digunakan enam jenis kelompok tikus (n=4) berbeda yang terdiri dari satu kelompok Normal dan lima kelompok tikus model 2K1C. Pada tikus model 2K1C, hipertensi diinduksi dengan pemasangan mikroklip stainless steel pada arteri ginjal kiri selama lima minggu. Kelompok tikus model terdiri dari kontrol negatif (2K1C, tanpa perlakuan), kontrol positif (kaptopril 4,5 mg/200 g BB), dan 3 kelompok yang diberikan ekstrak Au Fere II dengan dosis berbeda (0,495; 0,99; dan 1,98 ml/200 g BB). Pemberian ekstrak dan kaptopril dilakukan secara peroral selama satu minggu. Pemberian ekstrak Au Fere II memberikan penurunan terhadap tekanan darah, tidak mempengaruhi pertambahan berat badan, dan menyebabkan atrofi pada ginjal yang di klip. Efek pemberian ekstrak resep jamu kuno Au Fere II pada hewan uji secara signifikan menurunkan konsentrasi level renin tikus percobaan.

ABSTRACT
The ancient Au Fere II herbal recipe has been widely used by the Maluku people as a traditional treatment in hypertension therapy. However, the potential of Au Fere II extract has not been proven in for its efficacy in hypertension therapy. The study aims to determine the potential that can be constructed from the ancient Au Fere II herbal recipe on blood pressure, body weight, and renal morphology of test animals. And at the same time, it also evaluates the effect of extracts of ancient herbal medicine Au Fere II in test animals to determine plasma renin level activity. In this study six different groups of rats (n = 4) were used consisting of one Normal group and five groups of 2K1C rats. In 2K1C rats, hypertension was induced by placing stainless steel microclips in the left kidney artery for five weeks. The rats group model consisted of negative controls (2K1C, without treatment), positive controls (captopril 4.5 mg / 200 g BW), and 3 groups who were given Au Fere II extract with different doses (0.495; 0.99; and 1.98 ml / 200 g BW). Administration of extract and captopril were given orally for one week. The provision of Au Fere II extract gave a decrease in blood pressure, did not affect weight gain, and caused atrophy in the clipped kidney. The effect of prescribing extracts of ancient herbal medicine Au Fere II to test animals were significantly reduced the concentration of renin levels in experimental rats."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asma Fitriani
"ABSTRAK
Beberapa penelitian dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan analgesik dalam menginduksi kerusakan hati pada hewan model. Penggunaan hewan model digunakan dalam studi preklinik untuk mengevaluasi aktivitas obat. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan kondisi kerusakan hati yang diinduksi parasetamol dan natrium diklofenak dan mengevaluasi efek hepatoprotektif lisinopril sebagai obat off label pada hewan model hepatotoksik. Orientasi pembentukan hewan model dilakukan beberapa kali pada beberapa variasi dosis parasetamol melalui rute oral dan natrium diklofenak melalui rute intraperitoneal. Selanjutnya, hewan uji digunakan untuk mengevaluasi pemberian lisinopril. Tiga puluh ekor tikus, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan (normal, kontrol negatif, dan lisinopril 10, 20, dan 40 mg/kg BB) diberikan perlakuan selama 14 hari melalui rute administrasi oral. Dua puluh empat jam setelah administrasi, parasetamol (2000 mg/kg BB) diberikan secara oral dan 6 jam setelah administrasi, sampel plasma dikumpulkan untuk dianalisis kadar AST, ALT, dan ALP sebagai biomarker parameter kerusakan hepatosit dan SOD dan GPx sebagai gambaran kadar antioksidan plasma. Gambaran morfologi hati juga diamati. Hasilnya menunjukkan bahwa parasetamol menimbulkan kerusakan lebih parah dan lebih dapat diimplementasikan dalam studi hepatoprotektif dibandingkan natrium diklofenak. Dosis parasetamol yang memberikan perbedaan signifikan (p<0,05) terhadap kelompok normal adalah 2000 mg/kg BB dan diukur pada waktu 6 jam setelah administrasi. Uji evaluasi lisinopril menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol negatif pada parameter AST, ALT, dan ALP. SOD dan GPx menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibanding kontrol negatif, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada masing-masing dosis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa parasetamol (2000 mg/kg BB, 6 jam) lebih baik digunakan pada hewan model hepatotoksik dibandingkan natrium diklofenak dan pemberian model lisinopril (40 mg/kg BB) selama 14 hari memiliki potensi sebagai hepatoprotektor pada hewan model hepatotoksik.

ABSTRACT
Several studies have been performed to investigate the analgesic drugs for inducing the liver injury in animal model. It is used as animal model to perform the preclinic study in evaluating the activity of drugs. This study was conducted to compare the conditions of paracetamol and sodium diclofenac-induced liver injury and to experimentally evaluate the protective effect of lisinopril as off label drug in hepatotoxic animal models. The orientation for the formation of animals hepatotoxic model was repeated at various doses of paracetamol orally and sodium diclofenac via intraperitoneal for various timeframes. Furthermore, the animal model was used to evaluate the lisinopril administration. A total of 30 rats in 5 treatment groups (normal, negative control, and lisinopril at dose of 10, 20, and 40 mg/kg/BW/day) were used and treated for 14 days via oral administration route. Twenty four hours after administration, paracetamol (2000 mg/kg BW) were given orally and 6 hours after the plasma samples were collected to analyze AST, ALT, and ALP as paramater biomarkers for hepatocyte damage and SOD and GPx as illustrations of plasma antioxidant activity. Morphological observations were also carried out. The result showed that paracetamol cause more damage and that could be implemented in the hepatoprotective study than sodium diclofenac induction. The dose of paracetamol which gives a significant different (p<0,05) to the normal group is 2000 mg/kg BW and measured at 6 hours after administration. The evaluation of lisinopril showed that there were significant difference (p<0,05) between the treatment groups compared to negative control group on AST, ALT, and ALP parameters. In addition, SOD and GPx activity showed a higher value compared to the negative control group but there were no significant differences in each dose. Based on the the result, it be concluded that paracetamol (2000 mg/kg BW, 6 hours) could be better used as hepatotoxic animal model compared to sodium diclofenac and lisinopril administration (40 mg/kg BW) for 14 days has the potential as a hepatoprotector in animal model.
"
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adinda Ayu Rafika Apriliani
"Kematian akibat penyakit ginjal meningkat 31,7 persen dalam 10 tahun terakhir. Khusus di Indonesia, penyakit ginjal merupakan penyebab kematian terbesar yang menempati urutan ke-10 menurut data WHO Country Health Profiles tahun 2012. Dalam melakukan penelitian obat alternatif baru, terdapat satu fase sebelum obat dievaluasi pada manusia yaitu praklinis. pengujian yang menggunakan hewan uji dengan kondisi patofisiologis dibuat semirip mungkin dengan manusia. Losartan adalah obat hipertensi yang juga digunakan sebagai obat off-label dalam terapi nefrotoksik. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk dapat menemukan metode pembentukan model hewan nefrotoksik yaitu pada hewan uji tikus, dan mengevaluasi efek terapi losartan pada hewan model nefrotoksik. Uji orientasi metode induksi nefrotoksik dilakukan pada 27 ekor tikus yang dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan yaitu normal, 3 kelompok variasi dosis Gentamisin (80, 100, dan 120 mg / kg BB / hari), dan 3 kelompok perlakuan. variasi dosis natrium diklofenak (10, 50, dan 100 mg / kg BB / hari) diberikan secara intraperitoneal selama 15 hari. Uji efektivitas sampel losartan, menggunakan 40 ekor tikus Sprague-dawley yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu normal, kontrol negatif, dan 3 variasi dosis losartan (5, 10, dan 20 mg / kg BB / hari) diberikan secara oral selama 7 hari. . Pemberian Gentamisin dosis 2 dan 3 selama 5 hari secara signifikan meningkatkan kadar urea serum dan BUN (p <0,05). Sebaliknya pemberian natrium diklofenak tidak memberikan perbedaan yang bermakna (p> 0,05) pada parameter kadar kreatinin serum, urea, dan BUN. Selain itu, pemberian natrium diklofenak pada dosis 50 dan 100 mg / kg BB / hari menghasilkan efek toksik pada hewan uji tikus, yaitu menyebabkan kematian pada hewan uji dalam waktu kurang dari 5 hari. Pada hari ke 7 pemberian losartan tidak berbeda nyata pada parameter fungsi ginjal dan aktivitas antioksidan bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Namun dari data yang diperoleh terjadi peningkatan parameter fungsi ginjal yaitu kadar kreatinin, urea, dan BUN serta peningkatan kadar SOD dan penurunan kadar MDA. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Gentamisin memiliki efek nefrotoksik yang lebih tinggi daripada natrium diklofenak, sehingga metode pembentukan hewan nefrotoksik terbaik adalah dengan menggunakan Gentamisin. Dosis dan durasi penggunaan terbaik adalah 120 mg / kg BB / hari selama 5 hari. Sedangkan pengaruh pemberian losartan tidak menunjukkan adanya efek terapeutik pada model hewan nefrotoksik.
Deaths from kidney disease increased by 31.7 percent in the last 10 years. Especially in Indonesia, kidney disease is the biggest cause of death which ranks 10th according to data from the WHO Country Health Profiles in 2012. In conducting research on new alternative drugs, there is one phase before the drug is evaluated in humans, namely preclinical. tests using test animals with pathophysiological conditions are made as closely as possible to humans. Losartan is a hypertension drug that is also used as an off-label drug in nephrotoxic therapy. Therefore, this study is designed to be able to find a method of forming a nephrotoxic animal model, namely in rat test animals, and evaluate the effect of losartan therapy in nephrotoxic animal models. The orientation test of the nephrotoxic induction method was carried out on 27 rats which were divided into 7 treatment groups, namely normal, 3 groups of Gentamicin dose variations (80, 100, and 120 mg / kg BW / day), and 3 treatment groups. variations in the dose of diclofenac sodium (10, 50, and 100 mg / kg BW / day) were given intraperitoneally for 15 days. The losartan sample effectiveness test, using 40 Sprague-dawley rats divided into 5 treatment groups, namely normal, negative control, and 3 variations of losartan doses (5, 10, and 20 mg / kg BW / day) were given orally for 7 days. . Giving Gentamicin doses 2 and 3 for 5 days significantly increased serum urea and BUN levels (p <0.05). On the other hand, diclofenac sodium did not give a significant difference (p> 0.05) in the parameters of serum creatinine, urea, and BUN levels. In addition, the administration of diclofenac sodium at doses of 50 and 100 mg / kg BW / day resulted in a toxic effect in rat test animals, namely causing death in test animals in less than 5 days. On day 7, losartan was not significantly different in the parameters of renal function and antioxidant activity when compared to the negative control group. However, from the data obtained, there was an increase in renal function parameters, namely the levels of creatinine, urea, and BUN as well as an increase in SOD levels and a decrease in MDA levels. From these results it can be concluded that Gentamicin has a higher nephrotoxic effect than diclofenac sodium, so that the best nephrotoxic animal formation method is to use Gentamicin. The best dose and duration of use is 120 mg / kg BW / day for 5 days. Meanwhile, the effect of giving losartan did not show any therapeutic effect in the nephrotoxic animal model."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhonna Dwi Safitri
"ABSTRAK
Dalam satu dekade terakhir, para peneliti berfokus dalam upaya penemuan biomarker proteindan peptida untuk penyakit ginjal diabetik. Reviewini bertujuan untuk menelusuri, menelaah, dan mensintesisterkaitperkembangan terkini protein dan peptida sebagai biomarker untuk penyakit ginjal diabetik. Penelusuranliteratur dilakukan secara sistematis dengan melakukan penelusuran studi observasionalpada databaseseperti Sciencedirect, Springerlink, dan PubMed yang dipublikasikan dari Januari 2018 hingga April 2020. Setelah melakukan proses penyaringan, terdapat 20 artikel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Berdasarkan literatur tersebut, biomarker protein dan peptida yang ditemukan menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk memprediksi penyakit ginjal diabetik. Biomarker baru diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan peran biomarker dalam mekanisme patogenesis penyakit ginjal diabetik, seperti biomarker pada glomerulus (ANGPTL4, beta-2 microglobulin, Smad1, dan glypican-5), biomarker inflamasi (MCP-1 dan adiponectin), dan biomarker pada tubulus (NGAL, VDBP, megalin, sKlotho, dan KIM-1). Selain itu, pengembangan panel biomarker diduga memiliki potensi yang lebih baik dibandingkan biomarker tunggaldalam diagnosis penyakit ginjal diabetik. Semua biomarker yang dibahas pada review ini menunjukkan hubungan dengan albuminuria dan nilai eLFG. Namun, belum ada biomarker baru yang memiliki kemampuan prognosismelebihi albuminuria ataupun nilai eLFG. Hingga saat ini penggunaan biomarker protein dan peptida baru pada praktik klinis masih sangat terbatas.

ABSTRACT
In the past decade, researchers are focused on the discovery of protein and peptide biomarkers for diabetic kidney disease (DKD). This paper aims to search, analyze, and synthesizethe current updates regarding the development of proteins and peptides as biomarkers for DKD. We systematically searched ScienceDirect, Springerlink, and PubMed (January 2018 until April 2020) databases for observational studies of protein and peptide biomarkers in patients with diabetes mellitus. Following the screening process, only 20 research articles met the inclusion criteria. Protein and peptide biomarkers found showed promising results for predicting DKD. These biomarkers include glomerular biomarkers (ANGPTL4, beta-2microglobulin, Smad1, and glypican-5), inflammatory biomarkers (MCP-1 and adiponectin), and tubular biomarkers (NGAL, VDBP, megalin,sKlotho,and KIM-1). Besides, the developmentof a panel biomarker showed a more promising result than a single biomarker at diagnosing DKD. All biomarkers discussed in this review correlate with albuminuria and eGFR. However, there's still no biomarker that has a prognostic value beyond albuminuria or eGFR. Until now, the use of biomarker proteins and peptides in clinical practice is still very restricted."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Avira Tri Cahyani
"Hipertensi merupakan kondisi patologis ketika tekanan darah terlalu tinggi yang di atas normal. Diperkirakan 13 miliar orang menderita hipertensi dan penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) memiliki peran penting dalam pengaturan tekanan darah arteri. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) merupakan salah satu lini pertama untuk pengobatan hipertensi. Obat ini dapat menginhibisi ACE yang memecah angiotensin I untuk membentuk vasokonstriktor poten angiotensin II. Penelitian dilakukan dengan metode penapisan virtual menggunakan AutoDock Vina yang terdapat dalam PyRx untuk mencari kandidat ACEI yang berasal dari senyawa bahan alam flavonoid. Flavonoid telah diketahui bertindak sebagai komponen dalam diet yang efektif dalam menghambat ACE. Flavonoid, terutama glikosidanya, merupakan fitokimia yang paling vital dalam diet dan sangat menarik karena diketahui bioaktivitasnya yang beragam. Struktur kristalografi target makromolekul diperoleh dari pangkalan data PDB (PDB ID: 1O86). Optimasi dilakukan dengan ukuran grid box yang divariasikan serta ion Zn2+, Cl- & 6 molekul air yang dipertahankan terhadap makromolekul. Berdasarkan hasil penapisan virtual, didapatkan 10 senyawa bioaktif peringkat teratas diantaranya yaitu epigallocatechin 3-O-gallate-7-O-glucoside-4-O-glucuronide, theaflavin 3-O-gallate, theaflavin 3,3-O-digallate, eriocitrin atau eriodictyol 7-O-rutinoside, luteolin 7-O-diglucuronide, malvidin 3-O-(6-caffeoyl-glucoside), narirutin 4-O-glucoside, quercetin 3,4-O-diglucoside, peonidin 3-O-(6-p-coumaroyl-glucoside) dan delphinidin 3-O-glucosyl-glucoside. Senyawa tersebut menunjukkan afinitas pengikatan optimum terhadap target makromolekul ACE dengan energi ikatan berada direntang -10,3 kkal/mol hingga -10,9 kkal/mol yang dibandingkan dengan standar moeksipril (-9,1 kkal/mol). Hasil menunjukkan 10 senyawa tersebut dapat menjadi ligan potensial untuk mengobati hipertensi.

Hypertension is defined as condition of blood pressure that abnormally too high. An estimated of 1.13 billion people worldwide has hypertension and this disease is one of the most cause of premature death worldwide. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) has an importent role in arterial blood pressure regulation. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) is one of the first line treatment for hypertension. This drug can inhibit ACE which cleaves angiotensin I to the form potent vasoconstrictor angiotensin II. This study was conducted by virtual screening method used AutoDock Vina in PyRx to search ACEI candidate from flavonoid natural compounds. Flavonoids have been known to act as components in the diet that are effective to inhibit ACE. Flavonoids, especially their glycosides, are the most vital phytochemicals in diet and are of great general interest due to their diverse bioactivity. The crystallographic structure of macromolecule target was obtained from PDB database (PDB :1O86). Optimization was performed by variying grid size and maintaning Zn2+, Cl- & 6 water molecules in the macromolecule. Based on virtual screening results, the top ten ranking bioactive compounds was obtained. They are epigallocatechin 3-O-gallate-7-O-glucoside-4-O-glucuronide, theaflavin 3-O-gallate, theaflavin 3,3-O-digallate, eriocitrin atau eriodictyol 7-O-rutinoside, luteolin 7-O-diglucuronide, malvidin 3-O-(6-caffeoyl-glucoside), narirutin 4-O-glucoside, quercetin 3,4-O-diglucoside, peonidin 3-O-(6-p-coumaroyl-glucoside) and delphinidin 3-O-glucosyl-glucoside. Those compounds showed optimum binding affinity to ACE macromolecule target with binding energy range -10,3 kcal/mol to -10,9 kcal/mol as compared to the moexipril standard (-9,1 kcal/mol). The results indicated that 10 compounds could be the potential ligands to treat hypertension.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S70486
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Dhaniaputri
"ABSTRAK
Dislipidemia dan diabetes melitus merupakan komponen utama dalam klaster kelainan metabolisme yang disebut dengan sindrom metabolik, diikuti dengan komponen penyusun lainnya berupa obesitas abdominal dan hipertensi dimana setiap komponen tersebut merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Tingginya angka mortalitas dan morbiditas sindrom metabolik mendorong dunia medis melakukan upaya preventif agar kondisi sindrom metabolik tidak berkembang menjadi penyakit kardiovaskular yang salah satu upaya tersebut ialah dengan melakukan pengembangan hewan model sindrom metabolik dengan tujuan untuk mempelajari patofisiologis dan upaya mengatasi sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek dislipidemia (kadar kolesterol total dan trigliserida plasma) pada pengembangan hewan model sindrom metabolik melalui profil lipid setelah pemberian kombinasi diet tinggi-lemak dan streptozotosin (STZ) dosis rendah. Untuk menganalisis efek variasi dosis STZ, hewan uji dibagi menjadi 4 kelompok; 1 kelompok kontrol yang tidak diberikan diet tinggi-lemak dan STZ dan 3 kelompok induksi yang diberikan diet tinggi-lemak serta injeksi tunggal STZ dosis rendah (25, 35 dan 45 mg/kg.BB). Hasil menunjukkan tidak adanya perubahan bermakna pada profil kolesterol pada semua kelompok dosis terhadap kelompok kontrol, sedangkan peningkatan signifikan (p<0,05) terjadi pada profil trigliserida plasma setelah pemberian diet tinggi-lemak selama 26 hari. Namun, terjadi penurunan kadar trigliserida yang menunjukkan pola dose-dependent setelah injeksi STZ dosis 25 dan 35 mg/kgBB. Secara keseluruhan, induksi kombinasi diet tinggi lemak selama 26 hari menunjukkan peningkatan trigliserida plasma secara bermakna dibandingkan kelompok normal dan kondisi hipertrigliseridemia ini hanya dapat dipertahankan pada kelompok yang diberikan STZ dosis dengan dosis 25 mg/kgBB.

ABSTRACT
Dyslipidemia and diabetes mellitus are the main components of a cluster of metabolic abnormalities called metabolic syndrome, followed by other components such as abdominal obesity and hypertension which each component is an independent risk factor for cardiovascular disease. The high mortality and morbidity of metabolic syndrome encouraged medical scientists to make a precautionary strategy to prevent metabolic syndrome developed to cardiovascular disease which one of the strategies is to develop the experimental models of metabolic syndrome to study pathophysiology and try to overcome metabolic syndrome. This study analyzed the dyslipidemic effect (total cholesterol and triglyceride plasma concentration) in the development of an experimental model of metabolic syndrome induced by a combination of high-fat diet and low dose streptozotocin. To analyze the effect of low dose streptozotocin variance, 3 groups received a combination of high-fat diet and variance of low dose streptozotocin (25, 35, and 45 g/kg body weight) compared to 1 control group which not given a high-fat diet nor low dose streptozotocin. The result showed no significant difference in total cholesterol concentration between groups given a combination of high-fat diet and STZ and control group, while a significant increase occurred on triglyceride plasma concentration (p<0,05) after 26 days of induction of high-fat diet. However, low dose streptozotocin injection showed decreasing lipid profile dose-dependently on groups given 25 and 35 mg/kg STZ. In conclusion, 26 days of induction of high fat-diet increased plasma triglyceride concentration significantly compared to the normal group and the condition of hypertriglyceridemia could only be maintained in a group given 25 mg/kg STZ.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>