Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 50 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Edwin Suharlim
"Setiap harinya 1500 wanita meninggal akibat masalah yang berkaitan dengan kehamilan ataupun kelahiran Pada tahun 2005 terdapat 536 000 kematian ibu di seluruh dunia yang sebagian besar terjadi di negara negara berkembang Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan angka kematian ini adalah dengan menggunakan kontrasepsi sehingga kehamilan dapat dicegah Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keberadaan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan keluarga penghasilan keluarga serta paritas terhadap penggunaan serta preferensi kontrasepsi Pengumpulan data berlangsung dari 1 Maret 2011 sampai 1 Juli 2011 di Jakarta Timur Penelitian ini menunjukkan adanya 460 responden berbalita dari 2401 responden Dari 460 responden tersebut terdapat 363 78 9 responden yang menggunakan kontrasepsi dengan preferensi tertinggi berupa suntikan yaitu 165 35 9 dari seluruh data yang dikumpulkan Dengan uji chi squared didapatkan kalau tingkat pendidikan keluarga memiliki hubungan dengan penggunaan kontrasepsi p 0 001 hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu tersebut semakin mudah menerima perkembangan yang ada Sebaliknya tingkat penghasilan keluarga tidak memiliki hubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi p 0 647 hal ini disebabkan oleh banyaknya pelayanan pemasangan kontrasepsi gratis yang dilakukan pemerintah sehingga masyarakat hanya perlu membayar alatnya saja Sedangkan tingkat paritas memiliki hubungan bermakna pada penggunaan kontrasepsi p 0 000 Ini sesuai dengan penduduk semakin memahami kalau resiko kematian ibu meningkat seiring dengan banyaknya melahirkan

Each day there are 15000 women deaths for pregnancy or birth related problems In 2005 there were 536000 deaths for women in the whole world and most of them occurred in developing countries As to reduce this number one of the solutions would be to use contraceptives which could prevent pregnancies The purpose of this research is to ascertain the relation between family education family income and parity towards the usage of contraceptives The data collection started from 1 March 2011 to 1 July 2011 in East Jakarta This Research shows 460 respondents with infants from 2401 respondent which was chosen randomly From the 460 respondents there are 363 78 9 respondents which use contraceptives with injectable contraceptives as the highest preference from our collected data With Chi squared test we know that the level of family education has a significant realtion with contraceptive usage p 0 001 This result is caused by the increasing level of individual acceptance to new things as education level increases Parity also has a significant relation with contraceptive usage p 0 001 which is caused by increasing level of knowledge that maternal mortality risk increases as the number of giving birth increases Familal income do not have a significant relation with contraceptive usage p 0 647 because of the high number of free service for installation of contraception so that people only need to pay for the device itself
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chessy Ariesca Prisilya
"Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang umumnya menyerang golongan usia produktif dan golongan sosial ekonomi rendah. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia maupun pada tingkat dunia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan pasien pasca tuberkulosis paru. Desain penelitian adalah studi analitik cross-sectional. Data diambil pada bulan juni 2011 hingga bulan agustus 2012 dengan menggunakan kuesioner kepada 194 responden yang memenuhi kriteria sampel penelitian (total sampling). Hasil penelitian menunjukkan responden pada penelitian ini yang berusia dibawah 45 tahun sekitar 56,5% memiliki pengetahuan yang cukup dan sekitar 75,4% memiliki pengetahuan lebih baik, sedangkan pada responden dengan usia di atas 45 tahun yang memiliki pengetahuan yang cukup sekitar 43,5% dan 24,6% memiliki pengetahuan yang lebih baik. Dan responden yang berjenis kelamin laki-laki didapatkan 53,6% memiliki pengetahuan cukup dan 48,8% yang memiliki pengetahuan baik sedangkan pada yang berjenis kelamin perempuan didapatkan 46,4% memiliki pengetahuan yang cukup dan 51,2% yang memiliki pengetahuan yang baik. Responden dengan pengetahuan yang cukup dengan kondisi sedang sakit didapatkan sekitar 82,6% dan sehat sebanyak 17,6%. Sementara itu, pada responden dengan pengetahuan yang baik didapatkan responden dengan kondisi sakit sebanyak 76% dan sehat 24%. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan subyek penelitian mengenai penyakit tuberkulosis paru dan usia subyek penelitian dengan nilai p=0,009. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan subyek mengenai penyakit tuberkulosis paru dan usia subyek penelitian.

Tuberculosis is an infectious disease that generally affects the productive age group and low socioeconomic groups of society. The disease is still a major public health problem in Indonesia and also in the world. The purpose of the study is to determine the knowledge about of post-pulmonary tuberculosis patients. The design of this study was cross-sectional analytic study. The data was taken from June 2011 to august 2012 with questionnaire to 194 subjects who fulfilled the criteria of research samples (total sampling). The results shows that among the respondents under the age of 45, 56.5 % have sufficient knowledge and 43.5% have good knowledge, as for the respondents over the age of 45, 75.4 % have sufficient knowledge and 24.6 % have good knowledge. Alsomong the male respondents, 53,6% have sufficient knowledge and 48,8% have good knowledge, as for female respondents, 46.4 % have sufficient knowledge and 51.2 % have good knowledge. Another result shows that among respondents with sufficient knowledge, 82,6% have unhealthy condition while 17,4% others are healthy, as for respondents with good knowledge, 76% have unhealthy condition while 24% others are healthy. Result shows there is a significant relationship between age of post-tuberculosis patients and knowledge of post-tuberculosis patients about pulmonary tuberculosis with p value 0,0009. In conclusion, there is a significant relationship between age of post-ruberculosis patients and knowledge of post-tuberculosis patients about pulmonary tuberculosis.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fabianto Santoso
"Tuberkulosis (TB) dan diabetes melitus (DM) merupakan dua penyakit yang diduga memiliki kaitan erat akibat penurunan sistem imun tubuh. Salah satu metode diagnosis tuberkulosis paru adalah melalui foto polos toraks. Permasalahan pada pasien TB dan DM adalah gambaran radiologi yang tidak spesifik sehingga menyulitkan dalam penegakkan diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran foto polos toraks pasien TB dan/atau DM di Ternate, Indonesia yang merupakan salah satu daerah yang endemis TB dan DM. Besar proporsi pasien DM-TB yang memiliki gambaran tidak spesifik adalah sebesar 80%. Namun, gambaran tidak spesifik juga dimiliki oleh pasien TB sebesar 73,53%. Hasil yang tidak berbeda bermakna ini diduga disebabkan oleh banyaknya pasien TB pasca-primer mengingat kondisi Indonesia sebagai negara endemis TB.

Tuberculosis (TB) and diabetes mellitus (DM) are two diseases that many thought to be significantly caused by the compromised immune system. One of the methods to diagnose TB is chest x-ray. One of the challenges is from the non-specific radiological images of patient with TB and DM, which hinder the diagnosis. This research’s aimed is to present various chest x-ray images of patients with TB and/or DM in Ternate, Indonesia, which is one of the most prevalent city for TB and DM in Indonesia. In the DM-TB group, the radiological images show non TB specific is at 80%. Comparably, in the TB only group show 73.53% of the non specific radiological image. These might be caused by high number of post-primary TB infection as Indonesia is an endemic country for TB."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Steven Zulkifly
"Tuberkulosis dan diabetes melitus telah menjadi double bourden of disease, sehingga diperlukan prediktor sebagai dasar deteksi dini tuberkulosis pada pasien diabetes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah faktor risiko penyakit imunodefisiensi, penggunaan steroid jangka panjang dan riwayat vaksinasi BCG dapat digunakan sebagai prediktor DM-TB. Penelitian ini merupakan survey cross-sectional yang dilakukan di enam Puskesmas dan Diabetes Centre di Ternate. Sebanyak 92 pasien DM diskrining untuk pemeriksaan TB dan 31 pasien didiagnosis DM-TB. Dalam uji statistik, risiko penyakit imunodefisiensi dan vaksinasi BCG tidak signifikan berhubungan dengan kejadian DM-TB (p=0,981 dan p=0,524). Penggunaan steroid jangka panjang memberikan hasil yang signifikan(p=0,01).

Tuberculosis (TB) and diabetes melitus (DM) have become the double burden of diseases. Therefore, there is a need for predictor for early detection of tuberculosis in diabetic patients. The purpose of this study was to determine whether immunodeficiency disease risk factors, long-term steroid use and BCG vaccination can be used as a predictor in combination of DM-TB. This cross-sectional study was conducted in six public health centers and Diabetes Center in Ternate. Ninety two diabetic patients were screened for TB examination and 31 patients diagnosed with DM-TB. The risk of immunodeficiency diseases and BCG vaccination was not significantly associated with the incidence of DM-TB (p=0.981 and p=0.524). However, long-term use of steroids was significantly related (p=0.01)."
2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harris Soetanto
"Kasus tuberkulosis dan kematian akibat infeksinya merupakan salah satu masalah utama di Indonesia Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan mengenai tuberkulosis dengan faktor sosio ekonomi Desain penelitian adalah cross sectional dengan menggunakan kuesioner Sampel penelitian sebesar 2419 ibu yang dipilih secara acak menggunakan sistem polygonal random sampling dari 11 kelurahan terpadat di Jakarta Timur Data yang dikumpulkan diuji dengan chi square untuk menemukan nilai p rasio prevalens dan interval kepercayaan Hasil penelitian menunjukkan hanya 335 responden 14 yang menjawab seluruh pertanyaan dengan benar dan berhubungan dengan status kerja penghasilan keluarga pendidikan terakhir dan sumber informasi Pengetahuan mengenai tuberkulosis yang tinggi berhubungan dengan status ibu yang tidak bekerja p 0 004 RP 0 894 IK95 0 83 0 97 penghasilan keluarga yang tinggi p 0 001 RP 1 33 IK95 1 12 1 15 pendidikan terakhir yang tinggi p 0 001 RP 1 41 IK95 1 31 1 51 dan mendapatkan informasi p 0 001 RP 0 082 IK95 0 037 0 178 Pengetahuan yang benar mengenai tuberkulosis masih terbilang rendah pada ibu di Jakarta Timur Sumber informasi seperti televisi memiliki peran besar dalam meningkatkan pengetahuan mengenai tuberkulosis pada ibu yang berada di Jakarta Timur Disimpulkan kalau pengetahuan mengenai tuberkulosis berhubungan dengan faktor faktor sosioekonomik ibu dan dapat ditingkatkan dengan sumber informasi yang tepat.

Tuberculosis cases and deaths caused by its infection is major problem in Indonesia This study was done to describe the association between socio economic factors and tuberculosis rsquo knowledge The design of this study was cross sectional survey Research subjects were 2419 housewives from 11 most populated districts within East Jakarta selected at random by using polygonal random sampling Collected data would be tested with Chi square test to find significance risk prevalence and confidence interval Result showed that 335 respondents 14 answered correct all question regarding etiology curability transmission and length of treatment Chi square test showed that tuberculosis rsquo knowledge was significantly associated with level of formal education employment status monthly income level and information source Better knowledge of tuberculosis was significantly related with unemployment p 0 004 PR 0 894 CI95 0 83 0 97 high level of monthly income p 0 001 PR 1 33 CI95 1 12 1 15 high level of formal education p 0 001 PR 1 41 CI95 1 31 1 51 and receiving information about TB p 0 001 PR 0 082 CI95 0 037 0 178 Overall level of tuberculosis knowledge without misconception on housewives within East Jakarta is low Based on the result level of tuberculosis knowledge related to socioeconomic status and can be improved by effective source of information
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tarigan, Immanuel Natanael
"Indonesia masih mempunyai banyak masalah kesehatan, salah satunya adalah mengenai penyakit infeksi. Salah satu masalah terbesar adalah penyakit tuberculosis (TB). Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan penderita TB terbanyak. Banyak cara telah dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut, misalnya aplikasi Strategi DOTS. Namun tampaknya hal ini belum cukup adekuat untuk mengatasi penyakit TB mengingat semakin meningkat angka penderita TB. Keadaan ini diperburuk dengan insiden koinfeksi TB dan HIV. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ada tidaknya hubungan yang berbeda bermakna antara tingkat pendidikan formal, pekerjaan sehari-hari, tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu terhadap penderita TB dan kesediaan ibu menjalani pengobatan TB terhadap persepsi ibu mengenai penyakit TB. Data diambil pada 1 Maret 2011 sampai 1 Mei 2012 di Jakarta Timur.
Dari 2415 responden yang berhasil diwawancarai terdapat 2395 responden yang memenuhi kriteria. Dari 2395 responden, sebanyak 1098 responden (45,85%) mempunyai pandangan bahwa penyakit TB adalah penyakit yang memalukan. Tingkat pendidikan formal terakhir ibu yang paling banyak adalah setidaknya SMA (52,7%). Kebanyakan ibu tidak bekerja atau beraktivitas sebagai ibu rumah tangga sehari-harinya (68,73%). Tingkat pengetahuan ibu terhadap TB adalah tinggi sebanyak 57,83%. Dengan uji chi-square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan berbeda bermakna antara pekerjaan dan persepsi ibu (p=0,829). Sedangkan dengan uji yang sama terdapat hubungan berbeda bermakna antara pendidikan, pengetahuan, sikap ibu terhadap penderita TB, kesediaan menjalani pengobatan dengan persepsi ibu terhadap penyakit TB (p<0,01).

Indonesia still has a lot of health problems, one of which is the infectious disease. One of the biggest problems is TB. Indonesia was ranked the fifth largest country with TB. Many ways have been made to overcome these problems, such as applications DOTS strategy. But apparently this has not been adequate enough to cope with TB given the ever increasing number of TB patients. This situation is exacerbated by the incidence of TB and HIV co infection. The purpose of this study was to determine whether there are significantly different relationship between the level of formal education, daily work, the level of knowledge of mothers, maternal attitudes toward people with TB and the willingness of women undergoing treatment for TB of the mother's perception of TB. Data was taken on March 1, 2011 until May 1, 2012 in East Jakarta.
From 2415 respondents were successfully interviewed 2395 respondents found that suitable with the criteria. Of the 2395 respondents, a total of 1098 respondents (45.85%) had the view that TB is a shameful disease. Last formal educational level of mothers is at least senior high school (64.51%). Most mothers do not work or activities as a housewife daily (68.73%). Mother's level of knowledge of TB is high as 57.83%. With chi-square test found that there was no difference between the employment relationship and the perception of the mother (p = 0.829). Whereas the same test are significantly different relationship between education, knowledge, attitudes toward people with TB mother, a willingness to undergo treatment with the mother's perception of TB disease (p <0.01).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Cakasana Janottama
"Indonesia memiliki angka prevalensi tinggi akan tuberkulosis (TB). Berbagai langkah sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan berdasarkan penilaian Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia sudah berhasil mengurangi jumlah kasus TB. Namun, hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan bahwa penderita TB di Indonesia masih banyak. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu studi mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku tuberkulosis yang kali ini dihubungkan dengan kondisi sosio-ekonomi responden. Studi dilakukan dengan metode cross-sectional terhadap Ibu di 11 kelurahan di Jakarta Timur, pada Oktober hingga Desember 2011, dengan menggunakan polygonal random sampling. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kesediaan responden untuk mengikuti pengobatan TB dengan kondisi sosio-ekonomi yang dinilai yaitu tingkat pendidikan, status kerja, dan tingkat penghasilan. Sementara, tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna dengan perilaku mencari pengobatan TB (PR = 1,033 (CI=1,011-1,054), p=0,002). Status kerja memiliki hubungan bermakna dengan perilaku mencari pengobatan TB (PR = 0,967 (CI=0,943-0,991), p=0,002). Dan tingkat penghasilan memiliki hubungan bermakna dengan perilaku mencari pengobatan TB (PR = 1,035 (CI=1,009-1,062), p=0,003).

Indonesia has a high prevalence rate of tuberculosis (TB). Various steps had been made by the government and based on Millenium Development Goals (MDGs) target, Indonesia has been succeeded in reducing the number of TB cases. Despite its success, the result of Riset Kesehatan Dasar 2010 shows that Indonesia still have a lot number of TB sufferer. Therefore, there should be a knowledge, attitude, and practice study regarding tuberculosis, which in this study is associated with socio-economic condition.The study was done with cross-sectional method. It involved randomly selected mothers in 11 district in East Jakarta between October and December 2011, using polygonal random sampling. The result shows that there is no significant relation between respondent’s will to follow TB treatment (6 months long) with socio-economic conditions (education level, employment status, and income level). In the other side, education level has a significant relation with health seeking behavior towards TB (PR = 1,033 (CI=1,011-1,054), p=0,002). Employment status has also a significant relation with health seeking behavior towards TB (PR = 0,967 (CI=0,943-0,991), p=0,002). At last, income level has a significant relation with health seeking behavior towards TB (PR = 1,035 (CI=1,009-1,062), p=0,003).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feigan Yoshua Axello
"Stigma sosial tentang penyakit merupakan sebuah faktor penting yang mempengaruhi sikap pasien. Tujuan penelitian ini ialah untuk menjelaskan hubungan antara stigma ibu terhadap TB dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Survey berbasis kuesioner pada 2415 ibu yang dipilih secara acak dari 11 kelurahan yang paling padat di Jakarta Timur. Status sosio-ekonomi yang diteliti ialah usia, tingkat pendidikan formal, status kerja dan tingkat pendapatan keluarga per bulan. Pengetahuan tentang TB yang diteliti ialah etiologi dan kurabilitas TB.
Analisis univariate menunjukan bahwa 546 (23,5%) ibu akan menjauhi patien TB. Analisis multivariate menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja (OR 1,464 (CI 1,165-1,773), p<0,05), mengetahui bahwa TB disebabkan oleh infeksi kuman (OR 1,451 (CI 1,110-1,895), p<0,05) dan tidak merasa malu terhadap TB lebih cenderung untuk tidak menjauhi pasien TB (OR 4,184 (CI 3,322-5,197), p<0,001). Hasil ini mengindikasikan bahwa stigma terhadap TB dipengaruhi oleh status sosio-ekonomi dan pengetahuan terhadap TB. Oleh karena itu, intervensi dalam menangani stigma TB sangat diperlukan di daerah-daerah dengan status sosio-ekonomi yang buruk dan tingkat pengetahuan TB yang rendah.

Disease-related social stigma is an important factor in altering patient attitude. The objective of this study is to describe the relation between mothers’ stigma on TB patient and factor associated with it. A questionnaire-based survey was carried out with 2415 housewives, selected randomly from 11 most populated districts in East Jakarta as research subject. Inquired socio-economic status were subjects’ age, level of formal education, employment status and level of monthly family income. Questions regarding knowledge on TB were etiology, transmission and curability of TB.
Univarate analysis showed that 546 (23,5%) of mothers would avoid TB patient. Multivariate analysis showed that unemployment (OR 1,464 (CI 1,165-1,773), p<0,05), knowing that TB was caused by infection (OR 1,451 (CI 1,110-1,895), p<0,05), and not feeling shameful toward TB (OR 4,184 (CI 3,322-5,197), p<0,001) were significantly associated with not avoiding TB patient. These results suggest that various socio-economic status and knowledge on TB may affect the mother’s enacted stigma on TB. Therefore, intervention on tackling stigma on TB is urgently needed on community with poor socio-economic status and TB knowledge.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ghina Khairunnisa
"Penatalaksanaan standar tuberkulosis (TB) yang disusun WHO memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Namun, masalah kesehatan pasien pasca-TB, seperti anemia, belum banyak diketahui. Padahal, anemia merupakan masalah kesehatan yang umum pada pasien TB dan dapat terjadi persisten bahkan setelah pengobatan selesai. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi dan gambaran anemia pada pasien pasca-TB serta faktor-faktor yang berhubungan. Pada penelitian cross sectional ini, subjek diambil dari 3 kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan metode total sampling. Karakteristik subjek dan gambaran klinis didapat dari wawancara menggunakan kuesioner. Data gambaran radiologis didapat dari foto polos toraks. Kadar hemoglobin dan laju endap darah (LED) diperoleh dari pemeriksaan darah perifer lengkap.
Data indeks massa tubuh (IMT) diperoleh dari pengukuran antropometri. Dari 78 sampel, didapatkan prevalensi anemia pada pasien pasca TB sebesar 19,2% yang terdiri dari anemia mikrositik hipokrom (60%) dan normositik normokrom. Tidak terdapat hubungan antara anemia dengan gambaran klinis, baik batuk, demam atau keringat malam, sesak napas, dan nyeri dada (p>0,05). Anemia juga tidak berhubungan dengan gambaran infiltrat, kavitas, maupun peningkatan LED (p>0,05). Terdapat hubungan antara IMT<18,5 kg/m2 dengan anemia (p=0,013), OR 5,0 (95% CI 1,28-19,46). Anemia masih menjadi masalah kesehatan pada pasien pasca-TB dan berhubungan dengan rendahnya status gizi pada pasien pasca-TB.

Standard tuberculosis (TB) treatment that has been established by WHO has high success rate. Yet, health problem among post-TB patient, such as anemia, has not been studied, though anemia is common health problem in TB patient and can persists even after successful treatment. The study aimed to fnd out prevalence of anemia in post-TB patients and its associated factors. In this cross sectional study, subject was enrolled from 3 subdistrict in Timor Tengah Selatan district, using total sampling method. Subject characteristic and clinical presentation of TB was obtained by interview based on questionnare. Data of radiologic finding was collected by conducting chest X-Ray. Hemoglobin level and erythrocyte sedimentation rate (ESR) was obtained from complete blood count.
Body mass index (BMI) is calculated from anthropometric measurement. Involving 78 subject, this study found prevalence of anemia in post-TB patient is 19,2% consisted of normositic normochromic (60%) and micrositic hypochromic anemia. Neither cough, fever or night sweat, breath difficulty nor chest pain has associaton with anemia (p>0,05). Anemia also has no association with infiltrate, cavity, and elevated ESR (p>0,05). There is association between BMI <18,5 kg/m2 and anemia (p=0,013 ), OR 5,0 (95% CI 1,28-19,46). Anemia still become a health problem for post-TB patient and it is associated with poor nutritional status among post-TB patient.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Halida Umi Balkis
"TB paru masih menjadi masalah di Nusantara. Diperkirakan sejumlah 460.000 kasus baru ditemukan setiap tahunnya. Berbeda dengan kebanyakan penyakit, TB paru dinyatakan sembuh berdasarkan pengobatan lengkap dengan bukti pulasan dahak bebas basil tahan asam. Dalam penelitian ini, akan dipaparkan gambaran keluhan yang masih dijumpai pada pasien pasca-TB paru dihubungkan dengan sebaran jenis kelamin dan usia pasien. Rancangan penelitian ini adalah studi potong lintang dengan data berasal dari penelitian pada Juni-Juli 2011 serta data follow up pasien penelitian Pakasi et al tahun 2007 di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Data yang diambil berupa keluhan pasien pasca-TB paru dengan beberapa data relevan melalui kuesioner dan pulasan dahak.
Dari hasil analisis, didapatkan keluhan pada 127 dari total responden 188 orang. Empat puluh lima kasus di antaranya mengarah pada kecurigaan lesi aktif TB. Terdapat hubungan bermakna antara usia dengan keluhan suspek lesi aktif TB (p=0,02). Sedangkan, kaitan keluhan dengan jenis kelamin tidak didapatkan hubungan bermakna (p=0,80). Dengan demikian, meski telah dinyatakan sembuh, masih terdapat keluhan pasien pasca-TB paru yang mengarah pada suspek lesi aktif TB. Bahkan setelah dikonfirmasi dengan pemeriksaan pulasan sputum, 12 dari 30 spesimen memiliki hasil BTA positif. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan lebih lanjut terhadap pasien yang telah dinyatakan sembuh sebagai bagian dari evaluasi pengobatan.

Pulmonary-TB is still a problem in Indonesia. Approximately around 460,000 new cases are found every year. Unlike most diseases, pulmonary-TB recovery defined based on a complete medication with the evidence of negative acid-fast bacilli sputum smear. In this study, symptoms which still encountered from the post-pulmonary-TB patients and its relations to the patient genders and their ages are explained. Method of this research is a cross-sectional study using the data from the research held on June-July 2011 and patient?s follow-up data from the research conducted by Pakasi et al in East Nusa Tenggara, 2007. Data taken are the complaints of post-pulmonary-TB patients complemented by relevant questionnaire and the sputum smear.
From the analysis, symptoms from 127 of 188 respondens are found, with 45 cases lead to the suspicion of an active TB lesion. There is a statistically significant correlation between ages and the symptoms from the suspected active tuberculosis lesion (p=0.02). Meanwhile, the correlation between symptoms and genders is not found (p=0.80). In conclusion, symptoms from the post-pulmonary-TB which lead to the suspected active TB lesion are still encountered in spite of the fact that the patient has evidently cured. Moreover, after confirmed with sputum smear investigation, 12 of 30 speciments result positive AFB. Therefore, further surveillance to the cured patients is necessary as a part of treatment evaluation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>