Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query
cover
R. Wishnu Prahutomo
"Tesis ini mengangkat Serat Gandakusuma sebagai objeknya. Serat Gandakusuma merupakan karya sastra beraksara dan berbahasa Jawa yang bercerita mengenai Raden Gandakusuma, putra mahkota dari negara Bandaralim yang mengalami sebuah petualangan panjang setelah ia hidup kembali dari kematiannya. Dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk menganalisis Serat Gandakusuma dalam dua perspektif. Perspektif pertama adalah Serat Gandakusuma sebagai sebuah teks sastra yang bergenre roman Islam Jawa. Bertolak dari perspektif ini, penelitian ini akan menganalisis struktur pembangun cerita Serat Gandakusuma. Sedangkan, perspektif kedua adalah Serat Gandakusuma sebagai sebuah teks alegoris yang mengandung sejumlah simbol dalam strukturnya yang mengarah pada konsep sufisme Jawa. Metode dan pendekatan yang dipergunakan adalah struktural dan hermeneutika untuk menganalisis simbol yang hadir. Hermeneutika yang dipergunakan adalah hermeneutika Islam atau metode ta`wil yang memang khusus untuk menganalisis simbol dalam teks-teks Islam.

This thesis uses Serat Gandakusuma (Story of Gandakusuma) as its object. Serat Gandakusuma is a literature written in Javanese aphabet and language which tells about Raden Gandakusuma, the crown prince of the Bandaralim Kingdom. He had a long adventure after he came back from his death. In this research, the author tried to analyze Serat Gandakusuma in two perspectives. The first perspective is to treat Serat Gandakusuma as a literature text and Javanese Islamic romace. From this perspective, this research will analyze the structure which constructs the story consisted in the text. The second perspective is to treat Serat Gandakusuma as an allegorical text which consists of several symbols in its structure which directs to the Javanese sufism concept. Methods and approaches which used in this research are structural and hermeneutic to analyzing the symbols. The hermeneutic model chosen in this research is Islamic hermeneutic or ta`wil method which has the specific specialization in term of analyzing symbols in the Islamic texts."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
T27535
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Meutia Wardhani Abyanti
"ABSTRAK
Subyek skripsi ini mengungkapkan deskripsi dan re1e_vansi ajaran yang terkandung dalam Serat Wulang susunan Raden Mas Riya Jayadiningrat I (Jakarta: PN Balai Pustaka, 258 halaman, tahun 1951.) ini terdi.ri dari empat sub judul suluk (Suluk Marga Wirya, Suluk Jekrek, Suluk Mas Nganten,Suluk Candra).
Data deskripsi yaitu berdasarkan jumlah penggolongan dan kualitas ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan; sesama manusia dan alam sekitar (flora, fauna ,dan benda); dengan mempertimbangkan unsur cerita maupun uraian yang terdapat dalam setiap suluknya.
Adapun untuk mengungkapkan relevansi suatu ajaran, yaitu berdasarkan jumlah rumusan dan kualitas ajaran yang tampil dari setiap data deskripsi, dengan mernpertimbangkan pola pemikiran Jawa, pola sebab akibat dan pengalaman hidup di sekitar penulis serta seminim mungkin perbedaan tafsiran antara penulis dengan pembaca.
Kesimpulannya, yaitu dalam Serat Wulang ini terdapat 55 rumusan ajaran (yang dibagi untuk 8 macam sasaran kepada siapa ajaran tersebut ditujukan), di mana ke 55 rumusan ajaran tersebut, keseluruhannya masih relevan dengan kehidupan masa kini.

"
1990
S11377
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moh. Najid
"ABSTRAK
Karya sastra adalah cermin kehidupan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan adalah kenyataan budaya. Paparan tersebut menunjukkan bahwa sastra tidak berangkat dari ketiadaan budaya. Sastra adalah hasil budaya yang di dalamnya jelas terepresentasikan nilai-nilai budaya.
Pada tahun 1990-an terbit beberapa novel. Beberapa ciri yang dapat dicermati dalam novel periode ini ialah dominasi pengarang "mapan", kecenderungan novel bersifat dokurnentatif, memuat persoalan sosial, dan menonjolkan warna daerah. Novel yang menonjolkan warna daerah memiliki ciri: ditulis oleh budayawan, ditulis oleh pengarang yang hidup dan akrab dengan budaya daerah, serta novel tersebut mengangkat kehidupan masyarakat suatu daerah.
Ada tiga kecenderungan tema pada karya sastra tahun 1990-an. Kecenderungan tersebut ialah sastra modern mengungkap realisme sosial, sastra modern sebagai media protes sosial, dan sastra modern sebagai sarana pengungkap nilai-nilai budaya. Pada tahun ini, Umar Kayam lah yang taat asas dengan budaya Jawa dalam karya-karyanya.
Berdasar atas kenyataan tersebut novel Para Priyayi dipilih sebagai objek penelitian. Topik penelitian yang akan dikemukakan adalah perubahan kebudayaan Jawa.
Pengaitan antara perubahan kebudayaan Jawa dalam novel didasarkan atas wawancara dengan Matra, Kayam mengatakan, "Says ingin menulis roman, sekaligus saya ingin mengembangkan pemikiran saya tentang kebudayaan kita. Saya dalam tahun-tahun mendatang ini, ingin menggeluti masalah-masalah ini. Dalam pikiran akademis, misalnya, says ingin menjajaki kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijangkau sosiolog, dalam memahami kecenderungan kebudayaan kita.
Memperhatikan apa yang diutarakan Umar Kayam tersebut dapat diduga bahwa novel Para Priyayi adalah hasil pengembangan pemikiran pengarang tentang kebudayaan Jawa. Sedangkan pengembangan pemikiran diperkirakan menunjukkan perubahan yang dilakukan pengarang dalam mengusulkan hal Baru tentang kebudayaan Jawa. Masalah yang dapat dirumuskan ialah bagaimanakah kebudayaan Jawa dalam novel Para Priyayi? dan bagaimana kah mobilitas dan pembatasan kebudayaan Jawa dalam novel Para Priyayi?
Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerangka teori new historicism yang dikemukakan oleh Stephen Greenblatt yang memandang kebudayaan sebagai suatu sistem yang memobilisasi dan sekaligus membatasi segala gerak dan pemikiran anggota masyarakat. Seni dipandang sebagai sesuatu yang penting dalam transformasi budaya Seni (baca: sastra) adalah bentuk yang memungkinkan sebuah improvisasi, pengalaman, dan pertukaran tetap bertahan dan berkelanjutan. Tindakan pemobilisasian dan pembatasan suatu kebudayaan seperti ini tidak terjadi secara acak dan arbitrer tetapi lebih sebagai tindakan pertukaran yang akhirnya menjadi sebuah "jaringan negosiasi" yang kompleks dan utuh.
Seorang pengarang sangat mungkin melakukan tindakan evaluatif atau kritis atas objek budaya yang ditulisnya. Tindakan tersebut dapat berupa pemasukan ide-ide pembaharuan dalam budaya tersebut. Upaya seperti ini oleh Greenblatt dipandang sebagai mobilitas suatu kebudayaan. Karena pengarang terikat oleh norma kebudayaan tersebut, maka pastilah ia juga melakukan pembatasan atas upaya mobilitas tersebut. Keberhasilan seorang pengarang dalam menuangkan ide pembaharuan atas kebudayaan dalam karyanya amat bergantung pada keberhasilan negosiasi tersebut.
Kebudayaan Jawa dalam novel Para Priyayi masih tetap menunjukkan bahwa kehidupan rohani tetap sebagai sesuatu yang penting. Permasalahan wayang sebagai kehidupan rohani masyarakat Jawa tidak ditemukan adanya perubahan. Wayang tetap dianggap sebagai cerita yang mengiaskan perilaku dan watak manusia, cermin identitas manusia Jawa, simbol yang menerangkan keberadaan manusia, ajaran batin dan ajaran lahir, sarana berintrospeksi, melakukan Iangkah evaluatif atas kejadian yang dialami, dan sebagai pendewasaan berpikir manusia. Pujangga keraton dan karyanya yang banyak dijadikan panutan dan banyak dipelajari oleh masyarakat Jawa adalah serat Wulangreh dari Pakubuwana IV serta serat Wedhatama dan Tripama karya Mangku Negara IV.
Hal lain yang juga ditunjukkan oleh unsur kebudayaan Jawa selain wayang dan ajaran pujangga keraton ialah pepatah. Dalam persoalan religi, perubahan yang ditunjukkan adalah adanya gesekan yang kuat antara agama islam dan kristen yang ditunjukkan dengan keinginan salah satu tokoh untuk menikahi tokoh lain yang berbeda agama. Sedangkan laku rohani masyarakat Jawa, seperti upacara selamatan maupun bertapa tetap disebutkan sebagai aktivitas masyarakat Jawa yang merangkum hampir seluruh sendi kehidupan. Mobilitas dan pembatasan kebudayaan Jawa dalam novel ditunjukkan pada unsur fisik; struktur sosial terutama pergaulan dalam keluarga priyayi, pergaulan dengan masyarakat biasa, dan kedudukan wanita; dan pengertian priyayi. Sedangkan keberadaan dua strata sosial, yaitu priyayi dan masyarakat biasa, tidak berubah.
Mobilitas yang ditunjukkan dalam hal ini adalah adanya perkembangan pemikiran dalam persoalan pergaulan masyarakat priyayi, hubungan priyayi dengan masyarakat biasa, dan kedudukan wanita. Dalam pergaulan masyarakat priyayi ditunjukkan adanya pemikiran baru tentang pemilihan pasangan hidup secara pribadi yang dipertentangkan dengan budaya perjodohan serta suasana dialogis dalam keluarga priyayi. Hubungan dengan masyarakat biasa digambarkan dengan diperbolehkannya anak priyayi bergaul dengan anak masyarakat biasa. la diperbolehkan bermain bebas walaupun masih berada di dalam lingkungan rumah sendiri. Sedangkan persoalan kedudukan wanita ditunjukkan dengan keinginan kesederajatan antara suami dan istri dalam keluarga priyayi.
Kebaruan pemikiran yang ditawarkan dalam novel Para Priyayi lebih dipumpunkan pada pergeseran pemaknaan priyayi. Priyayi dalam novel Para Priyayi lebih ditekankan pada optimalisasi peran priyayi bagi masyarakat terutama wong cilik dan peran priyayi bagi kesejahteraan keluarga dan kehidupannya.
Apabila mobilitas dan pembatasan alas kebudayaan tersebut dipandang sebagai sebuah sistem negosiasi maka dapat disebutkan bahwa ada hal panting dan utama yang berhasil dinegosiasikan pada kebudayaan Jawa dalam novel Para Priyayi. Keberhasilan tersebut tampak pada upaya pendefinisian kembali kata priyayi serta relevansi kata tersebut dalam perkembangan selanjutnya. Gila semua ini dikaitkan dengan kedudukan Umar Kayam sebagai seseorang yang ahli dalam negosiasi maka dapat dikatakan bahwa Umar Kayam adalah seorang negosiator yang berhasil dalam menawarkan konsep priyayi pada kebudayaan Jawa.

ABSTRACT
Literary work is the mirror of social living. It is the crystallization of both living values as well as experiences. Literature depicts life, and life is cultural reality. This tells us that work of literature leaves not from the cultural nugatory. Instead, it has become the cultural manifestation where cultural values clearly represented.
Several novels has published during the 1990's with some distinctive features, i.e. the domination of certain 'established' writers; tendency towards clocumentative works; and illustration of social issues which illustrative of nation or nationality. The novels intensify regional or traditional tones left within these characteristics: mostly been or being written by cultural experts, or by writers who live or get accustomed to the given tradition of that given region, and works portray the life of the given community within that region. Darma in Huda says that three thematic preferences found in 90's works, i.e. modern literature is used to expose social realism, utter social criticism, disclose cultural values.
Judged by the work and its author, Umar Kayam is one who keeps practicing the rules and profundities of Javanese culture within his works, Among them - Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Musim Gugur Kembafi di Connecticut, Sri Sumarah, Bawuk, and Para Priyayi-or others, to mention a few: Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, and Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih - may show how obediently he adheres himself to reveal Javanese traditional customs.
Based on this, and by keeping in mind that it is only Para Priyayi that becomes his latest work-the first novel published in 1992 by Pustaka Utama Graffiti-the novel is used as the thesis' object. Thus, the research topic is Javanese culture in which its spiritual living and social structure brought into the main focus. Spiritual living is an idea, the most basic mental attitude possessed by anyone or society along with the belief of 'supra-natural force' above all human. As social structure is then, social order within Javanese society, specifically between nobles and commoners, together with the configuring foundation that governs individual relationship within society which becomes the basic principles for individual manner.
The idea of connecting Javanese culture and Kayam's work based on his very saying as interviewed with Matra magazine, in which says he, "I want to write a roman, and at the same time, expand my thinking on our culture. By these coming years, I want to deal with these matters. Academically thinking for instance, I look forward to fore-checking any possibilities sociologists can carry through in comprehending our cultural tendency. It is assumed then, judging from what Kayam has said, that the novel 'Para Priyayi is the author's achievement in expanding his own thinking on Javanese culture. Hence, such expansion may also be assumed later as able to exhibit any transformation the author's been being done in proposing different concerns towards Javanese culture.
Based on that research's background as well as considering that the depiction of Javanese culture in Para Priyayi novel is a direct representation of Javanese culture within society, problems of the research can be proposed as follows: How Javanese culture represented within Para Priyayi novel? And how mobility and constraint formed within that given novel?
Theory used is Stephen Greenblatt' new historicism, which sees culture not as material products of given society, but as a system which, for once, mobilizing and constraining behavior as well as creative idea of its member. By this, Greenblatt shifts the meaning of culture once from `material product' towards 'ideological system' as it means more as both internalization and manifestation of praxis of values or norms in the society. Art is an important agent in cultural transformation. As culture functions as a structure that governs, warrants, and limits in the same time, so art (literary work) becomes the only form of manifestation that makes possible any kind of improvisation, experience, and exchange-as basic requirements for cultural norms or values of certain society to continue existing and perpetuating, Such act of mobilizing and constraining happens not randomly or arbitrarily, in fact, more as exchanging act that leads to a complex whole of 'network of negotiation'. This means that a writer is highly possible to commit any evaluative or critical acts towards cultural object which he's written. Those acts may then be a insertion of reformative ideas within the given culture. Greenblatt sees such labors as cultural mobilization. Yet, as writers are bound up with that very norms of that given culture, he must have been doing constraints towards mobilization he performs. This all, in turn, creates 'negotiation network'. Writers are experts in mastering negotiation of cultural norms as well as manipulating language as culture's biggest creative and collective product. This shows that the success of a writer in putting reformative ideas within the culture in his work depends entirely on the success of that negotiation. This makes works of writers become structural model of accumulation; transformation; representation, and communication praxis of societal life.
Such theory is combined with Eagleton's sociologic methods, i.e, realist approach which considers literature is highly conditioned by social reality, And Grebstein's that states literature as unique force of material factor that becomes collective cultural tendencies. Literary forms and contents then, evince sociological development as well as changing in cultural attitudes or patterns. The revealing of Javanese culture in the novel uses sociological method by incorporating Wellek's sociology of literary work, Swingewood's accenting documentative aspect of literature, and Damono's proposing text as material study.
Javanese culture in Para Priyayi novel still argues the importance of spiritual living. Wayang (puppet show) as reflection of Javanese spiritual living shifts not from its heretofore context. It still fables human attitudes and behaviors, mirrors Javanese identities, symbolizes human existence, teaches spiritual and physical dogmas, and used as introspective device in performing evaluative steps towards what has been by gone and maturing human way of thinking as well. Pakubuwana IV's Wulangreh verses (serat) and Mangku Negara IV's Wedhatarna and Tripama verses are both Keraton's (Javanese (=palace) poets and verses whose teachings used as exemplary model and contemplated by many Javanese people. Other element has also been exhibited in Javanese culture, besides wayang and keraton poets teachings, is wise-word. In religious plane, the changing shown is intense friction between Islam and Christianity in which depicted by one of the characters' will to marry another comes from different religion. While Javanese spiritual act, such as selamatan (thanksgiving) ceremony or hermitage (tapa) conduct still being defined as activities that sum up almost whole of Javanese complex living structures.
Mobility and constraint of Javanese culture in the novel are shown in the element of social structure especially within the relationship between the two strata, i.e. interconnection of nobility and common people and among the nobility themselves. Whilst, the existence of the two strata, nobility and common, is maintained. In detail, the mobility and constraint in the novel shown as follows:
In social structure, nobility and commoners (wont a/1 k) continue being the characteristic of Javanese social structure. The mobility shown is the expanding thinking on the relationship between the two. Nobility's kindred allowed to hang around with commoners'. He can play freely though still within his own foreground. Other fashionable thinking mobilizes changing is a trial to modify system of match-making. Although changing in relationship between Javanese social structure does exist and get manifested as ideas towards alternative and fashionable thinking, in fact, restriction also shown as constraint. Nobility's kindred may not play outside houses. Home foreground, by the very fact, is the outermost he can be. In contrast, peasant's kindred can play wherever with friends outside houses. Besides, commoners are still subject to nobility's rules as calling names and using language strata (krama). Hanging with peasant's or other subclasses still considered precarious towards evil or ruthless attitude. Not before finally though, that it no more becomes perilous. Traditional culture in match-making opposed with fashionable one. It seems that the new idea seeks another alternative to open. Here, the tradition of match-making gets mobilized. Regretfully, the idea is being constrained as well. At last, old tradition wins and revives, i.e. match-making is determined though unsatisfactorily.
Newness on idea proposed in Para Priyayi novel concentrates more on shifting the meaning of nobility. Nobility within Para Priyayi novel highlights the roles of nobility towards commoners and towards his own life and family welfare.
If cultural mobility and constraint seen as a negotiating system, so remark can be made that there is important matter successfully negotiated with Javanese culture in Para Priyayi novel. This is apparent in redefining the word `nobility' along with its relevance towards any further development. Reconnect this with Umar Kayam's position as expert in cultural negotiation, be that as it may that Kayam is a successful negotiator in proposing new concept of nobility within the Javanese social structure.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
T4941
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Darni
"ABSTRAK
Kehadiran Sastra Jawa Modern
Sastra Jawa modern adalah sastra Jawa yang hidup di masyarakat saat ini. Kehadirannya sebagian besar tertuang dalam majalah-majalah berbahasa Jawa. Sastra Jawa modern. juga hadir dalam bentuk buku dan dijual di toko-toko buku. Namun masih ada sekelompok orang yang tidak mau melihat kenyataan tersebut. Mereka memiliki anggapan bahwa sastra Jawa adalah sastra keraton Surakarta dan Yogyakarta saja. Karya sastra yang dihasilkan setelah masa kepujanggaan R. Ng. Ronggowarsito, yang disebut sastra Jawa modern, seakan-akan tidak ada. Sebenarnya mereka hanya merupakan sekelompok orang yang ingin terus bermimpi tentang kejayaan karya-karya sastra keraton.
Kehadiran sastra Jawa modern itu penting sekali sebagai pertanda kehidupan sastra Jawa."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teguh Imam Subarkah
"ABSTRAK
Sejumlah bukti menunjukkan tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap cerita pendek (cerpen). Pertama, sejumlah besar majalah dan koran mingguan memuat cerpen sebagai bagian yang penting pada setiap terbitannya. Suratkabar nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Suara Karya Minggu, Pelita, Suara Pembaruan, Republika, Bisnis Indonesia dan sejumlah majalah seperti Ulumul Quran, Amanah, Pandji Masyarakat, Matra, Kartini, Pertiwi, Femina, serta koran-koran daerah seperti Bali Post (Bali), Jawa Post, Surabaya Post, (Surabaya), Berita Nasional, Minggu Pagi (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), Pikiran Rakyat (Bandung), Aceh Post (Aceh), Waspada (Medan), Sriwijaya Post (Palembang), Riau Post (Riau) menyediakan ruangan khusus untuk cerpen. Kedua, lomba penulisan cerpen sudah beberapa kali diselenggarakan oleh badan penerbitan atau lembaga. Lomba tersebut selalu mendapatkan tanggapan yang antusias dengan banyaknya karya yang ikut serta dalam lomba tersebut. Akhir-akhir ini banyak bermunculan kumpulan-kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh beberapa penerbit, seperti Gramedia dan Pustaka Grafiti. Hal tersebut menepis anggapan bahwa kumpulan cerpen bukan barang dagangan.
Salah satu daya tarik cerita pendek adalah bentuknya yang ringkas. Hal ini memungkinkan pembaca untuk membaca seluruh cerita sekali duduk. Sifatnya yang ringkas itu juga merupakan daya tarik tersendiri bagi pencipta cerpen karena waktu yang dibutuhkan untuk menulis cerpen relatif lebih pendek dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk menulis novel. Walaupun menulis cerpen tidak berarti lebih mudah daripada menulis novel, kenyataan menunjukkan bahwa jumlah penulis cerpen lebih besar daripada jumlah penulis novel. Sapardi Djoko Damono mengemukakan, bahwa banyak penulis novel yang pada mulanya memulai karier kepengarangannya sebagai penulis cerita pendek.
Sebagai pencipta karya fiksi yang diproduksi secara massal dan dipasarkan dalam suatu jaringan bisnis, penulis cerpen pun tidak dapat lepas dari nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Demikian juga para redaktur sangat mempertimbangkan nilai-nilai tersebut dalam hubungannya dengan cerpen yang dimuat. Ini berarti bahwa nilai-nilai yang ada dalam masyarakat boleti jadi ikut menjadi bahan pertimbangan yang menentukan dimuat tidaknya sebuah cerpen dalam media massa tertentu. Hal ini berbeda dengan para pujangga istana (poet Laurette) yang menulis atas pesanan raja karena mereka hidup dari belas kasih raja yang menjadi patron mereka. Karya-karya pujangga tersebut dapat digunakan sebagai legitimasi kekuasaan raja."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Moh. Reza P.
"Tradisi cingcowong di Kuningan adalah ritual untuk memanggil hujan. Ritual dilakukan oleh punduh menggunakan boneka sebagai medium memanggil hujan diiringi musik dan lagu. Saat ini di Kuningan terdapat pula tari cingcowong yang penciptaannya diinspirasi oleh ritual cingcowong. Penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan munculnya tari cingcowong, yaitu kebijakan pemerintah, adanya komodifikasi dan otonomi daerah, serta melemahnya dukungan masyarakat. Penelitian juga membicarakan bagaimana pengaruh tarian ini terhadap ritual cingcowong.

Cingcowong is a ritual rain summoning ritual in Kuningan. The rite is staged by the shaman using a puppet as the media to summon the rain, accompanied by music and singing. Recently, there is a Cingcowong dance inspired by the ritual. This thesis focuses on the factors that cause the dance creation which are governments policy, commodification and regional autonomy, and the diminishing of people support. This thesis also discusses about the influence of the created dance towards the ritual."
2009
T25941
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Solichin
"Tunggak-Tunggak Jati (Pustaka Jaya, 1977) karangan Sasmito, adalah sebuah karya sastra Jawa modern yang disajikan dalam bentuk novel. Novel ini mengetengahkan kisah seorang pejabat muda, pemuda pribumi (Jawa) masa kini, dalam kisah cintanya dengan seorang gadis keturunan Cina,maupun dalam kisah konfliknya dengan sebuah komplotan yang dipimpin dan dibiayai oleh seorang pengusaha keturunan Cina, yang kebetulan adalah ayah kandung si gadis tersebut. Di dalam skripsi ini dibicarakan mengenai tema dan amanat yang terkandung dalam novel Tunggak-Tunggak Jati, dalam suatu pengungkapan tema dan amanat melalui analisis latar dan penokohan. Dalam hal ini, tema dan amanat dipahami dan dirumuskan berdasarkan penjabarannya dalam penampilan latar dan penokohannya. Sudah tentu tema dan amanat hanya dipahami serta dirumuskan dalam kerangka struktur novel tersebut."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ida Bagus Rai Putra
"ABSTRAK
Babad Ksatrya Tamanbali (BKT) adalah salah satu jenis karya sastra Bali Tradisional. Penelitian terhadap BKT menggunakan 4 macam metode, yaitu (1) studi pustaka, (2) wawancara, (3) metode kritik teks, dan (4) metode terjemahan. Dari 7 buah naskah yang dikumpulkan, yaitu naskah A, B, C, D, E, F. dan G maka ditetapkan teks dari naskah A menjadi naskah landasan untuk edisi dan terjemahan.
Telaah struktur dalam penelitian ini berhasil mengungkapkan kesatuan dan kebulatan cerita Ksatrya Tamanbali. Tema dasar dari BKT adalah untuk memberikan pengesahan terhadap keturunan Ksatrya Tamanbali di Bali. Tema cerita ini digambarkan dalam alur: leluhur supranatural, silsilah, dan pemerintahan yang sejahtera; mendapatkan perwujudan dalam tokoh dan motif pendukung; serta latar cerita untuk menjadikan nyata peristiwa--peristiwa yang berhubungan dengan raja keturunan Ksatrya Tamanbali.
Telaah fungsi sosial teks berhasil mengungkapkan maksud dan tujuan pengarang menciptakan BKT, yaitu (I) ditujukan kepada keturunan Ksatrya Tamanbali agar mereka menyadari garis keturunan dan nenek moyang dan Tirttha Arum, dan (2) ditujukan kepada masyarakat luas agar mereka mengetahui status sosial dari anggota Ksatrya Tamanbali.

ABSTRACT
Babad Ksatrya Tamanbali, here in after referred to as BKT was one of literary works of Tradisional Bali. Research on BKT using four kinds of method, that is (1) book study, (2) interview, (3) text criticism method, and (4) translation method. From seven manuscripts being collected, namely A, B, C, D, E, F, and G, the A one was decided as the base of manuscript for the edition and its translation.
The study on the structure of this research has been succeeded in uncovering the unity and completeness of the story of Ksatrya Tamanbali. The basic theme of BKT is to provide ratification towers the descent of Ksatrya Tamanbali in Bali. The theme of this story was plotted in the screen play as follows: Supranatural ancestors, genealogy, and prosperous government; getting phenomenon in figure and supporting motive; and the background of the story to make it abvious the happenings in respect of Kings, the descent of Ksatrya Tamanbali.
The study on social function of the text has been succeeded in uncovering the purpose and aim of the writer in creating BKT, namely (1) to be directed to ancestors of Ksatrya Tamanbali in order that they realize the family tree and ancestors of Tirttha Arum, and (2) to be directed to the public in order that they know the social status of Ksatrya Tamanbali member.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Ketut N. Natih
"Pendahuluan
Sastra Bali, sebagai salah satu "sastra daerah Indonesia, termasuk sastra klasik, sampai sekarang masih terlantar" (Robson, 1978: 5). Naskah-naskah sastra Bali, yang sebagian besar ditulis dalam lontar dengan aksara Bali, sangat banyak jumlahnya, namun belum ditangani sebagaimana mestinya, Naskah-naskah lontar itu ada yang disimpan sebagai milik pribadi, dan ada pula yang disimpan di perpustakaan-perpustakaan, seperti: Perpustakaan Gedong Kirtya di Singaraja, Perpustakaan Museum di Denpasar, Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Udayana di Denpasar, dan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali milik Pemerintah Daerah Propinsi Bali di Denpasar.
Beberapa di antara lontar-lontar itu sudah ada yang ditransliterasikan dari aksara Bali ke huruf Latin, kemudian, disebarluaskan dalam bentuk buku cetakan dan stensilan. Transliterasi itu sangat menolong masyarakat, terutama mereka yang tidak menguasai aksara Bali, namun ingin mendalami makna dan hakikat hidup yang terkandung di dalamnya.
Sastra-sastra daerah Indonesia, termasuk sastra daerah Bali, banyak yang terlantar karena penelitian naskah klasik memakan waktu banyak, karena naskah tersebut ditulis dalam Bahasa dan aksara daerah. Pada hal makna isi naskah tersebut sesungguhnya sangat berharga dan penting."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Surojo
"ABSTRAK
Tesis ini meneliti tokoh Anoman yang terdapat di dalam Novel wayang Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata dan Ramayana, karya Sunardi DM dilihat dari segi budaya masyarakat Jawa.
Penelaahan dalam tesis ini dilihat dari metode diskriptif, yaitu metode yang menguraikan peristiwa atau keadaan nyata dalam kehidupan sehari-hari atau hal yang sebenarnya di dalam masyarakat yang telah diamati sendiri oleh peneliti.
Tujuan metode diskriptif ini adalah untuk menghubungkan peristiwa nyata di dalam masyarakat dengan gambaran fiktif yang diuraikan di dalam buku bacaan yang sedang diteliti. Dengan demikian metode diskriptif ini berupaya membuka tabir ideologi dalam suatu teks sehingga nampak betul-betul nyata terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Atau sebaliknya keadaan dalam kehidupan sehari-hari dapat berpedoman pada teks suatu bacaan, terutama dalam hal meneladani tokoh-tokoh di dalam suatu teks.
Di dalam novel wayang Anak Bajang Menggiring Angin terdapat seorang tokoh yaitu Anoman yang pantas untuk menjadi teladan dalam pelaksanaan kewajiban atau tugas sehari-hari karena sikap pengabdian Anoman yang menonjol. Sikap pengabdian Anoman yang tanpa pamrih ini sangat cocok jika dikaitkan dengan tugas hidup sehari-hari terutama bagi tugas seorang guru atau pengajar dan pendidik masyarakat. Namun jangan dilupakan bahwa seorang guru atau pendidik atau pengajar ini adalah seorang manusia biasa yang selalu terdapat hal-hal yang tidak sempurna di dalam dirinya.
Ketidaksempurnaan pada diri seorang ini tergambar di dalam tokoh Anoman yang berwujud setengah manusia dan setengah kera walaupun nampak gagah dan perkasa serta berwibawa.
Tetapi gambaran tokoh Anoman dewasa tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari tubuhnya yang sangat tidak sempurna pada waktu kecilnya sebelum mengenal siapa dirinya termasuk di dalamnya saudara-saudara ghaibnya yang di dalam masyarakat Jawa disebut sedulur papat lima pancer.
Anoman kecil oleh Sindhunata dilukiskan sebagai anak bajang, yaitu seorang anak kecil yang semua anggota tubuhnya tumbuh tidak sempurna dan penuh cacat cela. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi sempurna dalam hidup, kita harus selalu menyadari bahwa diri kita ini adalah tidak sempurna. Sebaliknya orang yang merasa dirinya sudah sempurna akan bersikap sombong yang pada gilirannya akan membawa kehancuran dalam dirinya seperti yang telah dialami oleh Sukesi dan Wisrawa dalam Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata.
Dengan membaca dan memahami teks novel Sindhunata tersebut diharapkan orang akan menjadi lebih mawas diri dan mau memperbaiki ketidaksempurnaannya terutama dalam hidup berkarya. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada saat ini mengakibatkan betapa semakin tidak sempurnanya kita jika. tidak terus menerus mengikuti perkembangan iptek tersebut lebih-lebih jika kita adalah seorang pengajar atau guru.

ABSTRACT
This thesis study the Anoman figure in the novel of Anak Bajang Menggiring Angin by Sindhunata and Ramayana by Sunardi DM from the perspective of the Javanese community culture.
The study in this thesis is from the perspective of the descriptive method that describes the event or condition in daily life Qr the reality observed by the researcher.
The purpose of the descriptive method is to relate the real events in the community with the fictive description narrated in the readings studied. As result, the descriptive method try to open the ideological screen in a text that is really can be seen in daily life. Or in contrast, in the daily life a text in a reading can be used as a guide, especially in following the figures in a text.
In the novel of Anak Bajang Menggiring Angin there is a figure called Anoman who can become a model in the performance of obligation or daily routines due to the outstanding dedication of Anoman.
Anoman's self-less dedication is very suitable with daily lives especially for teachers or educators and community leader. However, do not forget that a teacher or educator is a common people that they are also not perfect. The imperfection of a person is described in the Anoman figure that is a semi human and semi ape, eventhough he is handsome and gentle and influential.
However, the description of the mature Anoman is a development of an invalid person during his childhood before he knows himself and his mystic brothers which in the Javanese culture is called the sedulur papat lima pancer.
The little Anoman is described by Sindhunata as a bajang child, i.e. an infant whose limbs grow imperfectly and full of weaknesses, which means that to become perfect in this life, we must always realize that ourselves are imperfect. On the contrary, people who feel that they have become a perfect ones will become arrogant which in turn will bring to their destruction as experienced by Sukesi and Wisrawa in the Anak Bajang Menggiring Angin by Sindhunata.
By reading understanding the text of the Sindunata's novel it is expected that one will become more introspective and willing tq improve his imperfection especially in a productive life. The increasing science and technology presently will make how imperfect we are if we do not following the science and technology especially if ones are teachers and educators.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>