Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ardhia Kusuma Putri
"Latar Belakang: Telah diketahui infeksi COVID-19 dapat menetap menjadi sindroma pasca COVID-19. Magnetic Resonance Imaging (MRI) kardiak memiliki nilai diagnostik tinggi untuk menilai karakteristik jaringan miokard. Belum diketahui secara pasti efek jangka panjang COVID-19 terhadap jaringan miokardium serta faktor-faktor admisi yang memiliki pengaruh terhadap prevalensi sindroma pasca-COVID-19 pada populasi dengan penyakit kardiovaskular. 
Tujuan: Mengevaluasi prevalensi fibrosis miokardium dengan MRI kardiak pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan riwayat COVID-19 1 tahun pascaperawatan, serta mengidentifikasi faktor admisi yang berpengaruh terhadap fibrosis miokardium. 
Metode: Kohort prospektif dengan menilai parameter MRI kardiak pada pasien terkonfirmasi COVID-19 dengan penyakit kardiovaskular 1 tahun pascaperawatan. Selanjutnya, dilakukan analisa temuan MRI kardiak terhadap kelompok kontrol tanpa riwayat COVID-19 yang telah di-matching berdasarkan umur, jenis kelamin, dan faktor resiko. Analisa multivariat dilakukan untuk mengetahui faktor admisi yang memiliki hubungan dengan kejadian fibrosis miokardium. 
Hasil: Total 32 subjek dengan penyakit KV dan riwayat COVID-19 1 tahun pascaperawatan dengan 49 subjek kontrol disertakan dalam studi ini. Terdapat peningkatan yang signifikan pada parameter MRI kardiak yaitu proporsi abnormal T1 relaxation time (65,5% vs 36,7%; p-value=0,011) serta late gadolinum enhancement (LGE) skar noniskemik 62,5% vs 29,8%;p-value=<0,001) pada kelompok dengan riwayat COVID-19 dibanding kontrol. Tidak ditemukan faktor admisi yang berpengaruh terhadap peningkatan LGE noniskemik/T1 abnormal.
Kesimpulan: Terdapat peningkatan prevalensi fibrosis miokardium pada pasien dengan penyakit KV dan riwayat COVID-19 1 tahun pascaperawatan dibanding kontrol dinilai melalui MRI kardiak. Tidak terdapat hubungan antara faktor admisi dengan fibrosis miokardium 1 tahun pascaperawatan COVID-19.

Background: Presently, it has been acknowledged that COVID-19 infection may persist longer as Post-acute COVID-19 Syndrome. Cardiac Magnetic Resonance Imaging (cMRI) possesses a high diagnostic value to evaluate myocardial tissue characteristics. Data are still limited regarding longer implications of COVID-19 infection towards myocardial tissues and predictive admission factors in patients with Cardiovascular Diseases (CVD).
Aim(s): To evaluate the prevalences of myocardial fibrosis using cMRI in patients with CVD and one year post-COVID-19 hospitalization and identifying admission factors in correlation with myocardial fibrosis. 
Method(s): Prospective cohort to assess cMRI parameters in patients with CVD and history of COVID-19 one year post-hospitalization. The results were then compared with the age-, sex-, risk factors-matched control group without prior of COVID-19 infection. Lastly, multivariat analysis was done to identify relations between admission factors and myocardial fibrosis. 
Result(s): A total of 32 subjects with CVD one year post-COVID-19 hospitalization and 49 controls were included in this study. Significant increases of cMRI parameters, namely abnormal T1 relaxation time (65.5% vs 36.7%; p-value=0.011) and non-ischemic late gadolinum enhancement (LGE) (62.5% vs 29.8%;p-value=<0.001) were observed in the population with prior COVID-19 infection compared to control. No admission factors were found to be related with the increases in nonischemic LGE/abnormal T1.
Conclusion: There is a significant increase of myocardial fibrosis prevalence in patients with CVD one year post-COVID-19 hospitalization compared to control assessed through cMRI parameters. No relationships were found between admission factors and myocardial fibrosis. 
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bayushi Eka Putra
"Introduksi: Belum banyak studi yang meneliti parameter laboratorium sederhana sebagai prediktor trombus di atrium kiri pada subset stenosis mitral rematik. Selain itu, saat ini masih sangat sedikit studi yang menjelaskan patomekanisme trombus atrium kiri yang berkaitan dengan komponen hemorheologi pada pasien dengan mitral stenosis rematik. Tujuan: menilai hubungan parameter hemorheologi dari laboratorium sederhana Red Cell Distribution Width, Mean Platelet Volume, hematokrit, dan jumlah trombosit dengan kejadian trombus atrium kiri pada stenosis mitral rematik. Metode: Dilakukan studi potong lintang analitik LAMIA Study dengan pengumpulan data terhadap pasien stenosis rematik yang signifikan dimulai dari tanggal 1 Januari 2018 hingga 31 Juli 2021. Evaluasi trombus ditegakkan dari ekokardiografi transtorasik atau transesofagus. Pemeriksaan lab diperiksa dalam waktu 10 hari sebelum evaluasi ekokardiografi. Subjek dengan regurgitasi mitral yang signifikan akan dieksklusi. Hasil: Dari 318 subjek dengan stenosis mitral rematik signifikan yang diikutsertakan dalam penelitian, didapatkan sebanyak 102 pasien (32%) memiliki trombus di atrium kiri. Dari seluruh pasien, diketahui subjek dengan ritme atrial fibrilasi sebanyak 63.8% dan ritme sinus 36.2%. Hematokrit ≥ 45.15 % (OR 2.98; IK 95% 1.27 - 6.98, p = 0.012), Irama atrial fibrilasi (OR 2.39; IK 95% 1.10-5.20, p = 0.028), fraksi ejeksi ventrikel kiri ≥ 56.68 % (OR 0.42; IK 95% 0.23 - 0.77, p = 0.005), dan TAPSE ≥ 18.10 mm (OR 0.44; IK 95% 0.230 - 0.83, p = 0.011) berhubungan secara signifikan dengan kejadian trombus atrium kiri dari hasil analisis multivariat. Kesimpulan: Peningkatan hematokrit berhubungan secara signifikan dengan kejadian trombus atrium kiri, sedangkan nilai RDW dan jumlah platelet tidak berhubungan dengan kejadian trombus di atrium kiri pada stenosis mitral rematik. Kata kunci: LAMIA study, hematologi sederhana, trombus atrium kiri, stenosis mitral rematik

Introduction: Only few studies have investigated simple laboratory parameters as predictors of left atrial thrombus in subset of rheumatic mitral stenosis. In addition, there are currently very few studies describing the pathomechanism of left atrial thrombus related to the hemorheological component in patients with rheumatic mitral stenosis. Objective: A study was conducted to assess the causal relationship of hemorheological parameters from a simple laboratory Red Cell Distribution Width (RDW), Mean Platelet Volume (MPV), hematocrit, and platelet count with the incidence of left atrial thrombus in rheumatic mitral stenosis. Methods: A cross-sectional analytical, LAMIA Study, was conducted with data collection on patients with significant rheumatic stenosis starting from 1 January 2018 to 31 July 2021. Thrombus evaluation was established by transthoracic or transesophageal echocardiography. Lab tests were performed within 10 days prior to the echocardiographic evaluation. Subjects with significant mitral regurgitation will be excluded. Results: Of the 318 subjects with significant rheumatic mitral stenosis included in the study, 102 patients (32%) had a thrombus in the left atrium. Of all the patients, it was known that subjects with atrial fibrillation rhythm as much as 63.8% and sinus rhythm 36.2%. Atrial fibrillation rhythm (OR 2.39; 95% CI 1.10-5.20, p = 0.028), left ventricular ejection fraction ≥56.68 % (OR 0.42; 95% CI 0.23 - 0.77, p = 0.005), TAPSE ≥18.10 mm (OR 0.44; 95% CI 0.230 - 0.83, p = 0.011), and hematocrit ≥45.15% (OR 2.98; 95% CI 1.27 - 6.98, p = 0.012). Conclusion: Increased hematocrit was significantly associated with the incidence of left atrial thrombus, whereas RDW and platelet count were not associated with the incidence of left atrial thrombus in rheumatic mitral stenosis. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ruth Grace Aurora
"Latar belakang: Usia operasi Fontan terbaik masih kontroversial. Pusat jantung di negara maju menggunakan batasan usia 2-4 tahun. Kebanyakan operasi Fontan di Indonesia dikerjakan pada usia tua. Dengan kemajuan teknik operasi, bagaimana dampak usia tua saat operasi Fontan terhadap kesintasan belum ada datanya.
Tujuan: Mengetahui pengaruh usia tua saat operasi Fontan terhadap kesintasan jangka panjang.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif dengan analisis kesintasan terhadap pasien pascaoperasi Fontan (1 Januari 2008-31 Desember 2019) di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. Pengumpulan data dilakukan dari rekam medis, konferensi bedah, serta follow-up melalui telepon atau surat hingga 1 April 2020. Usia dibagi menjadi usia ≤ 6 tahun dan > 6 tahun.
Hasil: Dari total 261 subjek, median usia operasi yaitu 5 tahun (2-24 tahun). Kesintasan usia operasi ≤ 6 tahun dan > 6 tahun yaitu 95,7% dan 89,3%. Hasil subanalisis kesintasan usia operasi < 4 tahun, 4-6 tahun (referensi), 6-8 tahun, 8-10 tahun, 10-18 tahun, dan > 18 tahun yaitu 90,5%, 97,9%, 93,8%, 84,8%, 91,4%, dan 66,7%. Usia 8-10 tahun (HR 6,79; p = 0,022), 10-18 tahun (HR 3,76; p = 0,147), dan >18 tahun (HR 15,30; p = 0,006) memiliki kesintasan terendah. Usia operasi > 6 tahun (HR 3,84; p = 0,020) dan kebutuhan furosemid jangka panjang (HR 3,90; p = 0,036) signifikan meningkatkan risiko kematian pada analisis multivariat.
Kesimpulan: Usia operasi Fontan > 6 tahun signifikan menurunkan kesintasan jangka panjang. Usia operasi 8-10 tahun dan > 18 tahun memiliki risiko kematian 6,7 kali dan 15,3 kali dibandingkan usia 4-6 tahun.

Background: The optimal age to perform the Fontan procedure is still unknown. Currently, the majority of centres worldwide are performing the procedure between 2 and 4 years old. Most of Fontan procedures in Indonesia are performed at older age. With the advancement in surgical techniques, there is no data regarding the impact of older age at completion of Fontan procedure on long term survival.
Objective: To evaluate the impact of older age at Fontan procedure on long term survival.
Methods: We conducted a retrospective cohort study with survival analysis, of patients underwent Fontan completion (Januari 1, 2008, to December 31, 2019), at National Cardiovascular Center Harapan Kita. The data was collected from medical records, surgical conference, and follow up by phone or mail to the end of the study (April 1, 2020). The age of operation was categorized into ≤ 6 years old and > 6 years old.
Results: Of 261 subjects, the median age was 5 years (2-24 years). The survival rate of operation age ≤ 6 years old and > 6 years old were 95.7% and 89.3%. The survival rate in subgroup analysis of operation age < 4 years, 4-6 years (reference age), 6-8 years, 8-10 years, 10-18 years, and > 18 years were 90.5%, 97.9%, 93.8%, 84.8%, 91.4%, and 66.7% respectively. The age of operation 8-10 years (HR 6.79; p = 0.022), 10-18 years (HR 3.76; p = 0.147), and > 18 years (HR 15.30; p = 0.006) had worse survival rate than the others. In multivariate analysis, age of Fontan completion > 6 years old (HR 3.84; p = 0.020) and need for furosemide use (HR 3.90; p = 0.036) significantly increased long term mortality.
Conclusion: The age of operation > 6 years old was significantly reduced long term survival rate. The age of 8-10 years old and > 18 years old had higher risk of death (6.7 times and 15.3 times) than age of 4-6 years old.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hana Soraya
"Latar Belakang: Beban penyakit gagal jantung semakin meningkat dan sekitar 50% kasus adalah HFrEF. Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama HFrEF. Pada kasus ini, pemulihan fungsi ventrikel kiri merupakan tujuan utama terapi karena berhubungan dengan penurunan risiko kejadian kardiovaskular. 1 Populasi dengan pemulihan FEVK dikategorikan sebagai HFrecEF dimana populasi ini memiliki karakteristik yang berbeda. 2 Belum terdapat suatu studi yang melihat prediktor pemulihan FEVK sesuai kriteria HFrecEF JACC pada populasi kardiomiopati iskemik setelah revaskularisasi lengkap.
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pemulihan FEVK pasca revaskularisasi lengkap operasi bedah pintas arteri koroner pada populasi kardiomiopati iskemik.
Metode: Sebuah penelitian kohort retrospektif dengan populasi penelitian kardiomiopati iskemik yang menjalani revaskularisasi lengkap dengan BPAK selama periode Januari 2019 sampai dengan Juli 2022 di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.
Hasil: Terdapat 105 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, dengan 72 (68,5%) subjek pada kelompok nonHFrecEF dan 33 (31,5%) subjek pada kelompok HFrecEF. Pada analisis multivariat, LVESD (OR 0,87; p=0,018)) merupakan prediktor independen HFrecEF. Penggunaan RAAS Inhibitor postoperatif menurunkan risiko mortalitas dalam 1 tahun secara signifikan (HR 0,036; p=0,07). Follow up kesintasan 1 tahun menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok HFrecEF (95%) dan nonHFrecEF (96%) dengan nilai p=0,999. Terdapat perbedaan kesintasan yang signifikan antara pengguna RAAS Inhibitor dan bukan pengguna RAAS Inhibitor pada populasi penelitian (p<0,0001).
Kesimpulan: Nilai LVESD adalah prediktor independen pemulihan FEVK. Angka kesintasan 1 tahun pada seluruh populasi cukup baik yaitu lebih dari 90%. Penggunaan  RAAS Inhibitor pada penelitian ini tidak menunjukkan dampak pemulihan FEVK, namun pengaruhnya pada kesintasan 1 tahun menekankan pentingnya pemberian terapi optimal gagal jantung pada populasi ini.

It is estimated that the disease burden of heart failure has increased and about 50% of cases are HFrEF. Coronary heart disease is the main risk for heart failure. Left ventricular function recovery is the most important goals of heart failure therapy. It is associated with a reduced risk of cardiovascular events. These population is categorized as patients with HFrecEF where they have unique characteristics. There has not been a study looking at predictors of recovery of EF according to the JACC HFrecEF criteria in the ischemic cardiomyopathy population after complete revascularization.
Objectives: To evaluate the factors that predicts the recovery of FEVK after complete revascularization by coronary artery bypass surgery in the ischemic cardiomyopathy population.
Methods: This retrospective cohort study used secondary data. Basic data was obtained through medical record and registry of ischemic cardiomyopathy patients underwent complete revascularization with CABG during the period January 2019 to July 2022 at Harapan Kita Cardiovascular Hospital.
Results: A total of 105 subjects were obtained, there were 72 (68.5%) subjects in the nonHFrecEF group and 33 (31.5%) subjects in the HFrecEF group. In multivariate analysis, LVESD (OR 0.87; p=0.018)) was an independent predictor of HFrecEF. Postoperative use of RAAS Inhibitors reduced the risk of mortality within 1 year significantly (HR 0.036; p=0.07). No significant difference in 1 year survival follow-up between the HFrecEF (95%) and non-HFrecEF (96%) groups with p = 0.999. There was a significant difference in survival between RAAS Inhibitor users and non-RAAS Inhibitor users in the entire study population (p<0.0001).
Conclusion: In ischemic cardiomyopathy patients undergoing CABG, LVESD score is an independent predictor of recovery of LVEF. The 1-year survival rate in the entire population was >90%. Although the use of RAAS inhibitors in this study did not show an impact on recovery of LVEF, its effect on 1-year survival emphasizes the importance of providing optimal therapy for heart failure in this population.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Charles Krisnanda
"Latar Belakang: Konfirmasi diagnosis gagal jantung dengan fraksi ejeksi terjaga (HFpEF) berdasarkan algoritma HFA-PEFF masih dirasa sulit untuk diaplikasikan karena terdapat komponen uji lanjutan berupa uji ekokardiografi dengan protokol uji latih beban dan hemodinamik secara invasif. Belum terdapat pemeriksaan untuk mengkonfirmasi diagnosis HFpEF secara lebih mudah dan terbukti secara klinis.
Tujuan: Mengevaluasi apakah pemeriksaan ekokardiografi melalui protokol uji angkat kaki secara aktif (AKA) dapat menjadi alternatif diagnostik uji ekokardiografi dengan protokol latih beban menggunakan ergocycle (ergocycle stress echo) dalam mengkonfirmasi diagnosis pada populasi suspek HFpEF berdasarkan algoritma HFA-PEFF.
Metode: Studi komparatif diagnostik yang mengevaluasi pasien suspek HFpEF berdasarkan algoritma HFA-PEFF dengan skor intermediate dan high. Pasien suspek HFpEF menjalani pemeriksaan ekokardiografi protokol uji AKA dan protokol uji latih beban menggunakan ergocycle (ergocycle stress echo) yang sesuai algoritma HFA-PEFF.
Hasil: Dari 66 pasien suspek HFpEF, terdapat 14 pasien (21%) dengan hasil ergocycle stress echo positif (average E/e' >=15). Dari 14 pasien, protokol ekokardiografi dengan uji AKA positif terhadap 8 pasien (57,1%). Sensitivitas dan spesifisitas ekokardiografi dengan protokol uji AKA bila dibandingkan dengan protokol ergocycle stress echo adalah 57,1% dan 100% secara berurutan. Area di bawah kurva receiver operating characteristic (ROC) adalah 0,96 (p<0,001). Didapatkan tiga nilai potong untuk average E/e’ (>=15, >12,8 dan >12,2) pada protokol uji AKA yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas sebesar 57,1% dan 100%; 85,7% dan 88,5; dan 100% dan 84,6% secara berurutan.
Kesimpulan: Pemeriksaan ekokardiografi dengan protokol uji AKA dapat menjadi alternatif diagnostik ekokardiografi dengan protokol ergocycle stress echo dalam mengkonfirmasi diagnosis pada pasien suspek HFpEF dengan skorintermediate dan high berdasarkan algoritma HFA-PEFF.

Background: Confirmation of heart failure with preserved ejection fraction (HFpEF) diagnosis based on the ESC HFA-PEFF algorithm is still difficult to apply because further tests are needed through echocardiography stress test and invasive hemodynamic test. There are currently no clinically proven and less complex tests to confirm the diagnosis of HFpEF.
Objective: To evaluate whether echocardiography through the active leg raise (ALR) protocol can become an alternative diagnostic test to ergocycle stress echocardiography protocol (ergocycle stress echo) in confirming the diagnosis of suspected HFpEF patients based on HFA-PEFF algorithm.
Methods: This is a comparative diagnostic study that evaluated patients with HFA-PEFF algorithm suspected HFpEF patients (intermediate and high scores). Suspected HFpEF patients underwent echocardiographic examination through the ALR protocol and ergocycle stress echo according to the HFA-PEFF algorithm.
Results: Of the 66 patients with suspected HFpEF included in the study, 14 patients (21%) had positive ergocycle stress echo results (average E/e' >=15). Of the 14 patients, the echocardiography protocol with the ALR was positive for 8 patients (57.1%). The sensitivity and specificity of echocardiography with the ALR when compared with the ergocycle stress echo protocol were 57.1% (95%CI 28.9% - 82.3%) and 100% (95%CI 93.2% - 100%), respectively. The area under the receiver operating characteristic (ROC) curve is 0.96 (p<0.001). Three cutoff values for the average E/e' >=15, >12.8 and >12.2 in the ALR protocol ​​were proposed which had a sensitivity and specificity of 57.1% and 100%; 85.7% and 88.5%; and 100% and 84.6%, respectively.
Conclusion: Echocardiography with the ALR protocol may become an alternative to ergocycle stress echocardiography in diagnosis confirmation of suspected HFpEF patients with intermediate and high scores based on the HFA-PEFF algorithm.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andini Nurkusuma Wardhani
"Latar Belakang: Defek septum atrium (DSA) dengan hipertensi arteri pulmoner (HAP) mengakibatkan terjadinya kelebihan beban pada ventrikel kanan dan mencetuskan respon adaptif dan maladaptif sehingga ventrikel kanan mengalami fibrosis. Fibrosis ventrikel dapat dinilai melalui pemeriksaan MRI kardiak dan biopsi endomiokardium (BEM). Sampai saat ini, belum ada penelitian yang berfokus tentang hubungan dan evaluasi diagnostik BEM dibandingkan dengan MRI kardiak yang menilai fibrosis ventrikel kanan pada kelompok penyakit jantung bawaan khususnya pada DSA dengan HAP.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mencari korelasi antara nilai native T1 dan extracellular volume (ECV) pada pemeriksaan MRI kardiak dengan biopsi endomiokardium ventrikel kanan sebagai penanda fibrosis ventrikel kanan pada pasien defek septum atrium dengan hipertensi arteri pulmoner.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain studi potong lintang pada pasien DSA sekundum dengan HAP berusia ≥18 tahun yang menjalani kateterisasi jantung kanan dan kemudian dilakukan pemeriksaan MRI kardiak dan biopsi endomiokardium untuk menilai fibrosis ventrikel kanan.
Hasil: Studi ini melibatkan total 32 pasien DSA sekundum yang menjalani kateterisasi jantung kanan, pemeriksaan MRI kardiak dan biopsi endomiokardium, dengan median usia 32 tahun dan mayoritas berjenis kelamin perempuan (81,3%). Nilai native T1 rata-rata dan nilai native T1 poin insersio ventrikel kanan anterior memiliki korelasi positif kuat terhadap fibrosis berdasarkan biopsi endomiokardium dengan nilai korelasi r=0.763, p<0,001 dan r=0.703, p <0,001, sedangkan nilai native T1 septum dengan r=0.421 (p=0,026), posterior dengan r=0.525 (p=0,004) dan inferior dengan r= 0.442 (p=0,019) memiliki korelasi positif sedang terhadap fibrosis berdasarkan biopsi endomiokardium. Sedangkan, nilai ECV menunjukkan tidak adanya korelasi terhadap fibrosis berdasarkan biopsi endomiokardium dengan nilai korelasi ECV rata-rata r=0,185 (p=0,347).
Kesimpulan: Pada pasien defek septum atrium sekundum dengan hipertensi arteri pulmoner, parameter fibrosis ventrikel kanan yang dinilai dari nilai native T1 berkorelasi positif kuat dengan persentase fibrosis berdasarkan biopsi endomiokardium. Sedangkan tidak terdapat korelasi antara parameter extracellular volume (ECV) dengan persentase fibrosis pada biopsi endomikardium.

Background: Atrial septal defect (ASD) with pulmonary arterial hypertension (PAH) result in an increased load on the right ventricle thus triggering adaptive and maladaptive responses leading to the formation of right ventricular fibrosis. Right ventricular fibrosis can be assessed through cardiac MRI examinations and endomyocardial biopsy (EMB). There is a lack of focused research on the relationship and diagnostic evaluation of EMB compared to cardiac MRI assessing right ventricular fibrosis in congenital heart disease, particularly in ASD with PAH.
Objective: This study aims to find a correlation between native T1 values and extracellular matrix volume (ECV) in cardiac MRI examinations and right ventricular endomyocardial biopsy as markers of right ventricular fibrosis in patients with atrial septal defect with pulmonary arterial hypertension.
Methods: This is an analytical observational study with a cross-sectional design in patients with secundum ASD with PAH aged ≥18 years who undergo right heart catheterization, followed by cardiac MRI and endomyocardial biopsy to assess right ventricular fibrosis.
Results: A total of 32 patients with secundum ASD who underwent right heart catheterization, cardiac MRI, and endomyocardial biopsy are involved in this study, with a median age of 32 years and the majority are female (81.3%). The average native T1 values and anterior T1 showed a strong positive correlation with fibrosis based on endomyocardial biopsy (r=0.763, p<0.001, and r=0.703, p<0.001, respectively). The native T1 values of the septum, posterior, and inferior had a moderate positive correlation with correlation values of r=0.421, p=0.026; r=0.525, p=0.004; and r=0.442, p=0.019, respectively. There was no correlation between all ECV values and endomyocardial biopsy for all ECV parameters as right ventricle fibrosis’ parameter, with correlation values of average ECV of r=0.185 (p=0.347).
Conclusion: In patients with ASD with PAH, the right ventricular fibrosis parameter assessed from native T1 values strongly correlates with the percentage of fibrosis based on endomyocardial biopsy. Meanwhile, there was no correlation between ECV parameter and the percentage of fibrosis in endomyocardial biopsy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Susandy Oetama
"Aplikasi mHealth memiliki potensi menurunkan angka rekurensi sindrom koroner akut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas ekonomi layanan standar disertai monitoring menggunakan aplikasi HARKIT iCARE dibandingkan layanan standar pada prevensi sekunder paska sindrom koroner akut. Penelitian ini berbentuk uji klinis acak tersamar dengan perspektif sosietal yang melibatkan 106 pasien paska sindrom koroner akut yang dirawat di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dari bulan Juni sampai Desember 2022. Randomisasi menggunakan permutasi blok acak dengan tindak lanjut selama enam bulan. Utilitas kesehatan dinilai menggunakan kuesioner EQ-5D-5L yang dikonversi menjadi quality adjusted life years. Luaran penelitian berupa incremental cost effectiveness ratio. Permodelan Markov sederhana dengan jangka waktu lima tahun dan siklus 30 hari dilanjutkan analisis bootstrapping 10.000 kali simulasi menunjukkan quality adjusted life yearslebih tinggi pada kelompok HARKIT iCARE (3,23 vs 3,06) namun total biaya yang lebih tinggi (Rp 5.495.920.454 vs Rp 5.041.510.027). Incremental cost effectiveness ratio per quality adjusted life years sebesar Rp 2.673.002.511 melebihi ambang batas kesediaan untuk membayar Indonesia yaitu Rp 225.000.000. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada kematian segala sebab dan kejadian kardiovaskular mayor. Layanan standar disertai monitoring aplikasi HARKIT iCARE tidak bersifat efektif secara biaya jika dibandingkan dengan layanan standar pada prevensi sekunder paska SKA.

mHealth application has a potential to improve acute coronary syndrome recurrency. The objective of this study was to determine the economic effectiveness of HARKIT iCARE compared to standard secondary prevention in acute coronary syndrome. This study was an economic evaluation alongside randomized clinical trial with societal perspective. A total of 106 hospitalized acute coronary syndrome patients from June to December 2022 in National Cardiovascular Center Harapan Kita were randomized using permuted block method. Base case trial follow-up period was six months. Health utility values were assessed using EQ-5D-5L questionnaire and then converted into quality adjusted life years. Study outcomes were incremental cost effectiveness ratio. A simple Markov model was constructed with time horizon of five years and 30 days cycle. Bootstrapping analysis with 10,000 simulation showed quality adjusted life years was higher in HARKIT iCARE group (3,23 vs 3,06) but higher total cost (Rp 5.495.920.454 vs Rp 5.041.510.027). Incremental cost effectiveness ratio per quality adjusted life years was Rp 2.673.002.511, exceeding the willingness to pay threshold based on three times of Indonesia gross domestic product per capita in 2023 Rp 225.000.000. There was no difference in all-cause mortality and major adverse cardiovascular event. HARKIT iCARE as addition to standard secondary prevention was not cost effective compared to standard care in post acute coronary syndrome patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library