Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Regina Putri Apriza
"Epilepsi merupakan penyakit kronik dengan gejala yang cukup khas yaitu adanya bangkitan kejang tanpa pemicu. Angka prevalensi epilepsi tergolong tinggi di Indonesia dan hal ini merupakan masalah yang harus segera diatasi. Selain itu, epilepsi pada anak dapat menyebabkan berbagai gangguan perkembangan. Salah satu pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis klasifikasi epilepsi yang tersedia saat ini adalah EEG yang memberikan gambaran pola gelombang spesifik tertentu. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan antara epilepsi pada anak dengan gambaran EEG serta perkembangan anak. Desain penelitian ini adalah potong lintang dengan menggunakan data sekunder rekam medik dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 1995-2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 115 anak (61,5%) dengan klasifikasi epilepsi simtomatik, 105 anak (56,1%) dengan gambaran EEG abnormal, dan 96 anak (51,3%) dengan perkembangan terlambat. Dari hasil analisis hubungan antar variabel menggunakan Chi-Square, terdapat hubungan bermakna antara perkembangan anak dengan klasifikasi epilepsi (p<0,001) disertai dengan hubungan bermakna antara aspek perkembangan yaitu motorik kasar (p<0,001), sosial personal (p=0,024), dan bahasa (p<0,001) tetapi tidak ada hubungan bermakna antara aspek motorik halus terhadap klasifikasi epilepsi.Tidak ada hubungan bermakna antara gambaran EEG secara umum dengan klasifikasi epilepsi tetapi terdapat hubungan bermakna antara adanya gambaran epileptiform multifokal (p=0,018) dan nonspesifik (p=0,015) terhadap klasifikasi epilepsi.

Epilepsy is a chronic disease with typical symptom, seizure without provocation. The prevalence of epilepsy in Indonesia can be classified as high which creates another health problem to overcome. Furthermore, epilepsy in children may cause variety of development impairment. EEG is one of the current available examination to diagnose the classification of epilepsy through specific wave pattern findings. Therefore, this study is determined to analyze the association between epilepsy in children with EEG recording and child development. This study is a cross-sectional study using secondary data from Child Health Department of RSUPN Cipto Mangunkusumo medical records from 1995-2010.The result of the study shows that 115 subjects (61,5%) has symptomatic epilepsy, 105 subjects (56,1%) with abnormal EEG finding, and 96 subjects (51,3%) with delayed development. After performing Chi-Square test, there is a significant association between child development and epilepsy classification (p<0,001)followed by significant association between gross motoric (p<0,001), social personal (p=0,024), and language (p<0,001), however there were no association between gross motoric and epilepsy classification.There were no association between EEG recording with epilepsy classification,however there were a significant association between multifocal epileptiform finding (p=0,018) and nonspecific wave finding (p=0,015) to classify epilepsy
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lady Aurora
"Pemberian terapi yang sesuai, khususnya obat antiepilepsi (OAE) sebagai terapi utama dapat menyembuhkan pasien penyandang epilepsi.Seringkali faktor yang berkaitan erat dengan pemberian OAE kurang diperhatikan.Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan penulis membahas bagaimana hubungan antara faktorfaktor yang memengaruhi respons terapi pada anak penyandang epilepsi.Penelitian dilakukan dengan metode cross-sectional, yaitu dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis epilepsy registry pada pasien anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo dengan tanggal kunjungan 1995-2010. Dari penelitian, ditemukan bahwa dari 174 subyek penelitian, 76,4% mengalami bangkitan umum dan 23,6% mengalami bangkitan fokal. Terdapat 62,1% subyek yang mengalami epilepsi simtomatik dan 37,9% epilepsi idiopatik. Sembilan puluh enam koma enam persen subyek mendapatkan regimen yang sesuai dengan lini pertama, 63,8% mendapatkan OAE dengan dosis sesuai, 77,0% subyek mendapatkan terapi tunggal (monoterapi), dan 70,3% tidak mengalami perubahan regimen selama terapi. Dari analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square maupun Fisher's, tidak ditemukan hubungan yang signifikan baik untuk faktor kesesuaian regimen, dosis OAE, kombinasi OAE, maupun perubahan regimen selama terapi (seluruhnya memiliki nilai p > 0,05). Namun, nilai OR masing-masing faktor menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori sehingga dapat disimpulkan bahwa secara klinis respons bebas kejang akan didapatkan pada pasien yang mendapatkan regimen sesuai, dosis sesuai, monoterapi, dan tidak ada pergantian regimen. Adapun bila dikaitkan dengan klasifikasi epilepsi yang dialami, pasien dengan epilepsi idiopatik memiliki kecenderungan mendapatkan respons bebas kejang (OR=1,407 95%CI 0,732-2,705). Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik menunjukkan monoterapi menjadi faktor yang terkuat dalam pencapaian respons terapi epilepsi walaupun hasil pada penelitian ini tidak signifikan.

Appropiate therapy admission, especially antiepileptic drugs (AED) as the main therapy for epileptic patients, might help the patients to achieve its maximum recovery. Health care providers don?t pay much attention to factors related to AED admission. Therefore, this research was determined to analyze the association between several factors affecting treatment response in children with epilepsy. This research is a cross-sectional study, using secondary data from epilepsy registry medical record in pediatric patient at Pediatric Health Department of RSUPN Cipto Mangunkusumo during 1995-2010. This study showed that among 174 subjects, 76.4% subjects had general seizure and 23.6% subjects had focal seizure. It is also found that 62.1% subjects had symptomatic epilepsy and 37.9% subjects had idiophatic epilepsy. Ninety six point six percent subjects had appropriate regiment with first-line drugs, 63.8% subjects had appropriate AED dose, 77.0% subjects received monotherapy, and 70.3% did not receive any regiment modification during therapy. Through bivariate analysis using Chi-Square and Fisher?s test: there were no significant association between regiment compatibility, AED dose, AED combination, and regiment modification during therapy (p > 0.05). However, the odds ratio (OR) of each factors showed corresponding result with the theory. In conclusion, seizure-free response will be achieved by patients who had appropriate regiment, appropriate dose, monotherapy, and no regiment modification. Analysis about association between epilepsy classification and therapy response showed that patient with idiophatic epilepsy tended to be easier to be seizure-free. Multivariate analysis using logistic regression showed that monotherapy was the strongest factor affecting therapy response, even though in this study it was not statistically significant.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moningka, Maryo Pingkan
"Perubahan aliran darah serebral (cerebral blood flow) merupakan salah satu penyebab kelainan neurologis neonatus. Ultrasonografi dengan teknik Doppler merupakan teknik pemeriksaan noninvasif untuk evaluasi hemodinamika serebral yang memberikan informasi perfusi serta penilaian kuantitatif dari resistensi vaskular dengan mengukur resistive index arteri serebri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai resistive index arteri serebri anterior pada neonatus normal. Dilakukan pemeriksaan ultrasonografi Doppler melalui jendela akustik fontanella anterior menggunakan transduser phase array frekuensi 2 - 4 MHz pada 51 neonatus yang memenuhi kriteria normal (24 laki-laki dan 27 perempuan). Analisis normalitas variabel subyek penelitian dengan menggunakan Shappiro Wilks didapatkan p > 0,05 menggambarkan distribusi data yang normal. Hasil rerata rerata nilai resistive index arteri serebri anterior pada neonatus normal yang didapatkan adalah 0,62 ± 0.03 dengan Confidence Interval (CI) 95% : 0,62 - 0,63.

Cerebral blood flow changes is one of the causes of neurological disorders in neonates. Ultrasound with Doppler technique is a noninvasive examination technique for the evaluation of cerebral hemodynamics that provide information on the quantitative assessment of perfusion and vascular resistance by measuring resistive index of the cerebral artery. The purpose of this study to determine the value of the resistive index of the anterior cerebral artery in normal neonates. Doppler ultrasound examination was performed through anterior fontanella using phase array transducer frequency of 2-4 MHz in 51 neonates who meet normal criteria (24 male and 27 female). Analysis of the research subjects variables for normality using Wilks Shappiro obtained p>0.05, illustrates the normal distribution of data. The mean value of anterior cerebral artery resistive index in normal neonates is 0.62 ± 0,03 with Confidence Interval (CI) 95%: 0.62 - 0.63.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anidar
"Latar belakang. Epilepsi dapat terjadi 34 - 94% pada pasien palsi serebral. Epilepsi pada anak palsi serebral akan sulit dikontrol, sehingga akan meningkatkan bertambah beratnya gangguan fungsi kognitif, gangguan fungsi motorik berjalan, gangguan prilaku, yang nantinya dapat menurunkan kulitas hidup anak di kemudian hari. Faktor risiko terjadinya epilepsi pada palsi serebral berbeda-beda antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.
Tujuan. (1) mengetahui manifestasi klinis palsi serebral spastik, (2) mengetahui apakah faktor-faktor risiko seperti kejang neonatus, awitan kejang pertama < 1 tahun, riwayat keluarga epilepsi, subtipe palsi serebral spastik, proses persalinan, usia gestasi, berat badan lahir, ukuran lingkar kepala, riwayat infeksi susunan saraf pusat, gambaran EEG dan gambaran CT scan/MRI kepala berhubungan dengan kejadian epilepsi pada palsi serebral spastik
Metode penelitian. Desain penelitian adalah kasus kontrol dan dilakukan poliklinik rawat jalan Neurologi Anak di RSCM, RSUP Fatmawati dan RSAB Harapan Kita kurun waktu Januari 2010 sampai Agustus 2015 terhadap 250 anak palsi serebral spastik usia 1 sampai 18 tahun. Faktor risiko dianalisis bivariat dan multivariat.
Hasil. Manifestasi klinis palsi serebral spastik yang paling banyak ditemukan adalah tipe kuadriplegia 53,2% dan epilepsi lebih banyak terjadi pada tipe ini yaitu 52%. Pada analisis bivariat didapatkan faktor risiko yang bermakna yaitu awitan kejang pertama < 1 tahun (RO 5,49; IK 95% 2,98-10,10), EEG epileptik (RO 11,60; IK 95% 3,63-37,00), dan pencitraan abnormal (RO 2,96; IK 95% 1,07-8,13). Pada analisis multivariat didapatkan yaitu awitan kejang < 1 tahun dan EEG epileptik merupakan faktor risiko yang berperan untuk terjadinya epilepsi pada palsi serebral spastik.
Simpulan. Manifestasi klinis palsi serebral spastik yang paling banyak ditemukan adalah tipe kuadriplegia. Faktor risiko yang berperan untuk terjadinya epilepsi pada palsi serebral spastik adalah awitan kejang pertama < 1 tahun dan EEG epileptik.

Background. Epilepsy occurs in 34?94 percent of children with cerebral palsy. Epilepsies associated with cerebral palsy are difficult to control and associated with greater impairment of cognitive function, with lower probability of walking, with more severe behavioural problem, and a poorer quality of lifein compromising autonomy. Risk factors of epilepsy in children with cerebral palsy vary among studies.
Objective. (1) to identify clinical feature in spastis cerebral palsy, (2) to identify and analyze the association of risk factors including neonatal seizures, onset of first seizures before 1 year, family history of epilepsy, the type of cerebral palsy, delivery process, gestational age, birth weight, head circumference, history of central nervous system infection, the electroencephalogram (EEG) and magnetic resonance imaging (MRI)/computed tomography (CT) Scan findings with occure of epilepsy in spastic cerebral palsy.
Methods. Casus-control study was conducted in child neurology outpatient clinics in Cipto Mangunkusumo, Fatmawati, Harapan Kita Hospital Jakarta on January 2010 to August 2015 to 250 children of spastic cerebral palsy from 1 until 18 years old age. Data were analyzed using the IBM SPSS for Windowsv, 22 software.
Results. The most common type of spastic cerebral palsy is quadriplegia 53,2% and the occurance of epilepsy 52% in this type. Bivariate analysis showed that significantly onset of first seizures before 1 year (OR = 5.49; 95%CI 2.98-10.10), epileptiform EEG wave (OR = 11.60; 95%CI 3.63-37.00), and abnormal MRI/CT Scan (OR = 2.96; 95%CI 1.,07-8.13). Multivariate logistic regression analysis revealed that onset of first seizures before 1 year and epileptiform EEG wave were all found to be significant and independent risk factors for epilepsy in children with spastic cerebral palsy.
Conclusion. The most common type of spastic cerebral palsy is quadriplegia. The present study reveals that onset of first seizures before 1 year and epileptiform EEG wave are strongly associated with epilepsy in children with spastic cerebral palsy."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ludi Dhyani Rahmartani
"Latar belakang. Hiperplasia adrenal kongenital (HAK) adalah suatu kelainan genetik yang bersifat autosomal resesif. Lebih dari 90% kasus terjadi akibat defisiensi enzim 21-hidroksilase (21-OHD) yang disebabkan oleh mutasi gen CYP21.
Tujuan. Mengetahui profil mutasi CYP21 terhadap profil klinis anak dengan HAK di Indonesia.
Metode. Studi deskriptif retrospektif dilakukan selama Oktober-Desember 2014. Subjek adalah anak HAK yang terdaftar di Klinik Endokrinologi Anak RSCM dan pernah dilakukan pemeriksaan mutasi gen CYP21. Data diambil dari anamnesis terhadap orangtua, rekam medis dan register HAK tahun 2009-2014.
Hasil penelitian. Didapatkan total subjek sebesar 45 subjek (37 perempuan, 8 lelaki) dengan profil klinis tipe salt wasting (SW) 33 subjek, simple virilizing (SV) 10 subjek, dan non-classic (NC) 2 subjek. Median usia saat terdiagnosis pada tipe SW usia 1 bulan (0-3 bulan), tipe SV usia 3 tahun (2-6 tahun), tipe NC usia 5 tahun. Keluhan utama terbanyak adalah genitalia ambigus (60%). Subjek perempuan mengalami kesalahan penentuan jenis kelamin saat lahir (32,4%) dan memiliki perilaku maskulin (24,3%). Tiga jenis mutasi ditemukan pada dua subjek, dua jenis mutasi ditemukan pada 19 subjek, mutasi R356W saja dialami oleh 9 pasien, dan mutasi I172N saja ditemukan pada 15 pasien. Mutasi I172N ditemukan pada 80% alel, R356W pada 66,7% alel, dan delesi/LGC pada 4,4% alel. Tipe SW yang mengalami mutasi delesi/LGC dan atau R356W sebesar 63,6%.
Simpulan. Manifestasi klinis terbanyak pada penelitian ini adalah tipe SW dengan mutasi R356W dan atau delesi/LGC. Pemeriksaan mutasi gen CYP21 bermanfaat untuk konseling genetik, diagnosis prenatal dan tata laksana pada keluarga yang memiliki risiko HAK.

Background. Congenital adrenal hyperplasia (CAH) is an autosomal recessive genetic disorder. More than 90% of cases are due to 21-hydroxylase deficiency which caused by CYP21 mutation.
Objective. Study the characteristic of CYP21 mutation and clinical manifestation in children with CAH in Indonesia.
Method. A descriptive retrospective study was performed during October-December 2014. Subjects were CAH children who were admitted to Pediatric Endocrinology Cipto Mangunkusumo hospital and tested for CYP21 gene mutation. Data were taken based on parents? interview, medical records and CAH registry during 2009-2014.
Results. A total of 45 subjects (37 girls, 8 boys) participated, with clinical profile of salt wasting (SW) type found in 33 subjects, simple virilizing (SV) in 10 subjects, and non-classical (NC) type in two subjects. Median age of diagnosis in SW type is 1 month old (0-3 month), SV type is 3 years old (2-6 years), NC type is 5 years old. Ambigous genitalia was the major chief complaint (60%). Girls experienced gender reassessment (32,4%) and show masculine behavior (24,3%). Three types of mutations were found in two patients, two types of mutations (R356W and I172N) in 19 patients, only R356W mutation in 9 patients, and only I172N mutation in 15 patients. I172N mutation was found in 80% alleles, followed by R356W in 66,7% alleles, and deletion/LGC in 4,4% alleles. In the SW form, 63,6% subjects had deletion and/or R356W mutation.
Conclusion. The most common clinical manifestation in this study is SW type with deletion/LGC and or R356W mutation. CYP21 mutation analysis may provide important information for genetic counseling, prenatal diagnosis and management of families at risk for CAH.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhilah Tia Nur
"Palsi serebral PS adalah gangguan fungsi motorik dan postur akibat gangguan perkembangan otak Anak PS sering mengalami kesulitan makan yang disebabkan gangguan tersebut Anak dengan gangguan fungsi motorik yang berat akan lebih besar kemungkinan mengalami kesulitan makan Kesulitan makan akan menyebabkan capaian kalori berkurang yang dapat mengakibatkan terjadinya malnutrisi Tujuan Mengetahui prevalensi faktor risiko skala GMFCS dengan kesulitan makan pada anak PS serta pengaruh intervensi Metode Penelitian ini merupakan studi potong lintang terhadap pasien palsi serebral yang datang di poliklinik neurologi anak RSUD Dr Moewardi pada Januari sampai September 2015 Anak PS akan diperiksa skala GMFCS status gizi dan kesulitan makan Skala GMFCS diukur menggunakan instrument pengukuran Gross Motor Function Measure 88 GMFM 88 Status gizi antropometri diukur menggunakan kurva CDC NCHS 2000 Pasien PS dengan tipe spastik kuadriplegi dilakukan pengukuran antropometri ulang menggunakan kurva Krick Penentuan status gizi berdasarkan kriteria klasifikasi Waterlow Capaian kalori diukur dengan analisis diet recall selama 3 hari dan dinilai cukup apabila memenuhi 13 9 kkal cm TB 10 Kesulitan makan dinilai dari anamnesis pemeriksaan fisik dan observasi kemampuan makan Hasil Didapatkan 80 anak PS pada penelitian ini sebagian besar subjek adalah PS tipe spastik 96 dengan tipe spastik kuadriplegi dan spastik diplegi dan mempunyai skala GMFCS V Prevalensi malnutrisi pada anak PS sebesar 68 Tujuh puluh delapan persen diantaranya mengalami kesulitan makan 30 dari yang menderita kesulitan makan adalah anak PS dengan skala GMFCS V Simpulan Prevalensi gizi kurang pada anak PS di RSUD Dr Moewardi sebesar 68 dan prevalensi gizi buruk sebesar 10 Skala GMFCS dan tipe PS spastik merupakan faktor risiko kesulitan makan pada anak PS Pemberian terapi oromotor dan postural berpengaruh secara signifikan memperbaiki kelainan oromotor dan kontrol postur.

Background Cerebral palsy CP is a motor and postural disorder due to an insult on the developing brain Children with CP often have feeding difficulties due to their disabilities Children with severe motor impairment are likely to experience greater feeding difficulties This results in inadequate calorie intake which finally leads to malnutrition Objective To determine the prevalence and the relationship between the GMFCS and feeding difficulties in CP Methods A cross sectional study was done from January to September 2015 in the neurology pediatric outpatient clinic of Dr Moewardi Hospital Children with CP underwent the GMFCS scale nutritional and feeding difficulties assessment The GMFCS was evaluated by Gross Motor Function Measure 88 GMFM 88 Nutritional status was determined by the ratio of body weight to body height standardized to CDC NCHS 2000 growth curve and were classified based on Waterlow Spastic quadriplegics CP patients were also compared to CP growth curve of Krick Calorie intake was evaluated by dietary analysis and defined as adequate if it reached 13 9 kcal cm BH 10 Feeding difficulties assessment included history taking physical examination and observation of feeding skill in the outpatient clinic Results Eighty children with CP were included in this study most of them were spastic type 96 mainly spastic quadriplegic and diplegic CP and were in GMFCS level V Malnutrition was found in 78 subject Feeding difficulties were found in 78 subject 30 with GMFCS level V Conclusion The prevalence of undernourished and severe malnutrition in children with CP is 68 and 10 respectively The GMFCS scale and CP with spastic type are risc factor for feeding difficulties in children with CP The effect of oromotor and postural theraphy on improvement of oromotor and postural control are significant."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Junita Elvira Pandji Surya
"Latar belakang: Autisme adalah salah satu gangguan nerodevelopmental yang muncul pada abad ke-20. Berbagai studi epidemiologi menunjukkan peningkatan tajam prevalensi gangguan spektrum autisme (GSA). Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual 5 gangguan sensorik merupakan salah satu kriteria utama GSA. Sampai saat ini belum ada pedoman tatalaksana nonmedikamentosa GSA. Sebagian besar penelitian menekankan bahwa terapi perilaku adalah terapi terbaik untuk GSA sedangkan terapi okupasi sensorik integrasi (TO-SI) hanya memiliki bukti rendah hingga sedang. Pusponegoro dan beberapa ahli saraf anak di Indonesia berdasarkan pengalaman klinis mengamati bahwa TO-SI dapat mengurangi perilaku negatif anak GSA terutama pada usia di bawah 5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh TO-SI dalam mengurangi perilaku negatif anak usia 2 sampai 5 tahun dengan GSA. Metode: Sebuah penelitian pra-eksperimen pertama dilakukan di klinik Check My Child (CMC) dan Klinik Anakku Kelapa Gading pada bulan Desember 2017 hingga April 2018. Populasi penelitian adalah anak baru dengan GSA usia 2 hingga 5 tahun. Subyek dikumpulkan secara konsekutif sampling. Profil perilaku dinilai berdasarkan Aberrant Behavior Checklist (ABC)-2 sebelum dan sesudah TO-SI dua kali seminggu selama 12 minggu (24 kali), 50 menit untuk setiap sesi. Analisis nilai normal dengan uji t dan uji Wilcoxon untuk nilai terdistribusi tidak merata. Hasil: Penelitian dilakukan pada 42 subjek usia 2 hingga 5 tahun dengan GSA, 50% usia 3 tahun, rasio anak lelaki dibandingkan perempuan 5 banding 1. Rerata profil perilaku negatif tertinggi adalah hiperaktifitas 23,61 (SD 8,91), diikuti oleh penarikan sosial 16,81 (SD 8,16), dan iritabilitas 11,43 (SD 6,99). Median perilaku stereotipik adalah 5,25 dan bicara tidak tepat 2,00. Setelah TO-SI, semua perilaku negatif menurun secara signifikan p <0,001. Perilaku hiperaktifitas menurun menjadi 12,71 (SD 8,36) sekitar 53,8%, penarikan sosial menjadi 7,94 (SD 6,18) 47,2%, iritabilitas hingga 6,62 (SD 4,99) 57,9 %, dan median stereotipik 19,0% dan bicara tidak tepat 50%. Kami mendapatkan spektrum profil perilaku anak dengan GSA yang cukup luas. Kesimpulan: Kami menemukan bahwa TO-SI dua kali seminggu selama 12 minggu dapat menurunkan perilaku negatif anak GSA usia dini terutama usia 2 hingga 5 tahun.

Background: Autism is one of emerging neurodevelopmental disorder on 20th century. Studies showed a remarkable increasing prevalence of autism spectrum disorder (ASD). Since 2013, Diagnostic and Statistical Manual 5 included sensory disorder as one of main criteria of ASD. Treatment guideline remain unclear. Most studies stressed that behavior therapy was the best treatment for ASD and sensory integration occupational therapy (SI-OT) only has low to moderate evidence. Pusponegoro and pediatric neurologists in Indonesia based on their clinical experience observed that SI-OT might be useful as ASD treatment for young children especially under 5 years old. Based on that situation, the objective of this study was to evaluate the influence of SI-OT in decreasing negative behavior of children ages 2 to 5 years with ASD. Methods: A first pre-post one group pre-experimental study conducted in Check My Child clinic (CMC) and Klinik Anakku Kelapa Gading on December 2017 to April 2018. The study population were new ASD children ages 2 to 5 years. Subject were collected with consecutive sampling. Behavior profile were assessed with Aberrant Behavior Checklist (ABC)-2 before and after SI-OT twice a week for 12 weeks (24 times), 50 minutes for each session. Analysis of normal value with t test and Wilcoxon test for unequally distributed value. Results: A total of 42 ASD subject ages within 2 to 5 years old were studied, 50% were 3 years, and boys to girl ratio were 5 to 1. The highest mean negative behavior profile was hyperactivity 23,61 (SD 8,91) followed by social withdrawal 16,81 (SD 8,16), and irritability 11,43 (SD 6,99). Stereotypic median was 5,25 and inappropriate speech 2,00. After SI-OT, all negative behavior decreased significantly p<0.001. Hyperactivity behavior decreased to 12,71 (SD 8,36) about 53,8%, social withdrawal to 7,94 (SD 6,18) 47,2%, irritability to 6,62 (SD 4,99) 57,9%, and median of stereotypic 19,0% and inappropriate speech 50%. We found a broad-spectrum behavior profile of ASD children. Conclusions: We found that SI-OT twice a week for 12 weeks could decrease negative behavior of young ASD children especially ages 2 to 5 years."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Prinnisa A. Jonardi
"Kejang demam, riwayat keluarga dan pencitraan merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi klasifikasi epilepsi berdasarkan ILAE 1989. Penentuan jenis klasifikasi berguna untuk penatalaksanaan pasien. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data rekam medis tahun 1995-2010 Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Data diolah dengan multivariat regresi logistik. Dari hasil penelitian ini, didapat sampel sebanyak 99 orang dengan rincian laki-laki 53,4%, perempuan 46,5%. Pasien terbanyak pada kelompok umur 0-2 tahun 12 bulan (37,4%). Terdapat kebermaknaan yang signifikan pada hubungan antara pencitraan dengan klasifikasi epilepsi (p < 0,001). Tidak terdapat kebermaknaan yang signifikan terhadap hubungan antara riwayat epilepsi keluarga (p = 0,393) dan riwayat kejang demam ( p = 0,161) dengan klasifikasi epilepsi. Pencitraan merupakan faktor yang berpengaruh paling besar (OR = 16,725) terhadap penentuan jenis klasifikasi epilepsi bila dibandingkan dengan riwayat epilepsi keluarga dan riwayat kejang demam.

Febrile seizure, family history, and imaging are factors that determine the classification of epilepsy based on ILAE 1989. The classification is important to patient's treatment.This study used medical record from Pediatric Department of RSCM in 1995-2010. This study is a cross-sectional analytic. The data was proceed with multivariate logistic regression. There are 99 sample, 53.4% are male and 46.5% female. The most distribution of patient's age is in 0-3 years (37.4%). There is significant results in correlation between imaging with epilepsy classification (p<0.001) and there are less significant results between family history (p=0.393) and febrile seizure (p=0.161) with epilepsy classification. Imaging is the most powerful factor (OR = 16.725) that contribute to determine classification of epilepsy compared to family history and febrile seizure."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arifianto
"Latar belakang: Epilepsi Rolandik adalah salah satu sindrom epilepsi terbanyak pada anak dan umumnya dianggap benign dan self-limited. Tetapi komorbiditas kognitif dan perilaku dapat ditemukan pada anak-anak dengan epilepsi yang bernama lainnya benign Rolandic epilepsy with centrotemporal spikes (BECTS) ini. Pasien epilepsi Rolandik harus dievaluasi adanya komorbiditas kognitif dan perilaku.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara usia awitan kejang dan jumlah hemisfer yang menjadi fokus kejang dengan kemampuan kognitif dan gangguan perilaku pada anak-anak dengan epilepsi Rolandik.
Metode: Penelitian potong-lintang di sembilan RS/klinik dengan konsultan neurologi anak di Jakarta dan Banten, terhadap anak-anak berusia 6 – 12 tahun dengan epilepsi Rolandik. Penelitian meliputi anamnesis semiologi kejang, interpretasi hasil elektroensefalografi (EEG) oleh dua orang konsultan neurologi anak, dan pemeriksaan intelligence quotient (IQ) oleh psikolog.
Hasil: Nilai verbal IQ sebagai parameter kognitif berbicara/berbahasa lebih banyak bernilai  average pada subjek dengan usia awitan kejang yang lebih muda (< 6 tahun). Nilai verbal IQ < average lebih banyak didapatkan pada subjek dengan fokus gelombang kejang pada salah satu sisi hemisfer. Jumlah subjek yang mengalami gangguan perilaku berupa gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) dan gangguan spektrum autism (GSA) lebih banyak pada kelompok usia awitan kejang < 6 tahun dan fokus kejang hemisfer bilateral. Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara usia awitan kejang dan jumlah hemisfer yang menjadi fokus kejang dengan komorbiditas kognitif dan perilaku.
Simpulan: Anak-anak dengan epilepsi Rolandik dapat memiliki komorbiditas kognitif berupa gangguan berbicara/berbahasa dan komorbiditas perilaku berupa GPPH/GSA, dan dapat dipengaruhi oleh usia awitan kejang dan jumlah hemisfer yang menjadi fokus kejang, meskipun hubungannya tidak bermakna secara statistik.

Background: Rolandic epilepsy is one of the most common epilepsy syndromes in children and is generally considered benign and self-limited. But cognitive and behavioral comorbidities can be found in children with this epilepsy, which has another name: benign Rolandic epilepsy with centrotemporal spikes (BECTS). Rolandic epileptic patients should be evaluated for cognitive and behavioral comorbidities.
Objective: To determine the relationship between age at onset of seizures and the number of hemispheres that are the focus of seizures with cognitive abilities and behavioral disorders in children with Rolandic epilepsy.
Methods: Cross-sectional study in nine hospitals/clinics with pediatric neurology consultants in Jakarta and Banten, on children aged 6-12 years with Rolandic epilepsy. The research includes interviews on seizure semiology history, interpretation of electroencephalographic (EEG) results by two child neurology consultants, and intelligence quotient (IQ) tests performed by psychologists.
Results: The verbal IQ score as a cognitive speaking/language parameter  average was found more in subjects with younger seizure onset (<6 years). Verbal IQ < average scores were greater in subjects with seizure focus on one side of the hemisphere. The number of subjects who experienced behavioral disorders in the form of attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) and autism spectrum disorders (ASD) was more in the age group of seizure onset < 6 years and bilateral hemispheric seizure focus. There was no statistically significant relationship between age at onset of seizures and the number of hemispheres that were the focus of seizures with cognitive and behavioral comorbidities.
Conclusion: Children with Rolandic epilepsy may have cognitive comorbidities in the form of speech/language disorders and behavioral comorbidities in the form of ADHD/ASD, and may be affected by the age of seizure onset and the number of hemispheres that are the focus of seizures, although the relationship is not statistically significant.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Riski Muhaimin
"ABSTRAK
Latar belakang: Spasme infantil (SI) sering dikaitkan dengan kejang yang sulit terkontrol dan timbulnya disabilitas intelektual yang berat. Pengobatan SI dengan
ACTH saat ini di Indonesia sangat terbatas. Data mengenai karakteristik, penggunaan terapi, dan luaran jangka pendek berupa bebas spasme, resolusi gambaran EEG, dan angka kekambuhan pasien SI belum terdata dengan baik.
Tujuan: (1) Mengetahui insidens pasien SI. (2) Mengetahui karakteristik pasien SI. (3) Mengetahui karakteristik luaran jangka pendek pasien SI berdasarkan jenis terapi yang didapat. (4) Mengetahui faktor risiko luaran SI.(5) Membandingkan angka event free survival pasien SI berdasarkan jenis terapi yang didapat.
Metode: Penelitian kohort retrospektif dilakukan pada pasien SI usia 0-2 tahun yang datang ke Poliklinik Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM
dari bulan Januari 2010 hingga Desember 2015. Pengambilan data dilakukan dengan melihat data rekam medis dan wawancara kepada orangtua. Faktor- faktor yang dianggap berpengaruh dianalisis secara multivariat.
Hasil: Insidens SI selama 2010-2015 86 pasien. Pada analisis bivariat, didapatkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap luaran tidak bebas kejang adalah
klasifikasi simptomatik (p=0,039; RR 0,67; IK 95% 0,51-0,88), respon awal yang baik terhadap terapi awal (p<0,001; RR 2,69; IK 95% 1,75-4,14), dan jenis terapi
saat bebas kejang (p<0,001). Pada analisis multivariat, tidak didapatkan hubungan antara masing-masing faktor. Median event free survival pada kelompok ACTH dan prednison masing-masing 8 hari dan 14 hari.
Simpulan: Status bebas kejang tampaknya lebih banyak didapatkan pada pasien yang mendapat terapi ACTH dengan atau tanpa kombinasi dengna OAE. Pengobatan menggunakan prednison juga menunjukkan luaran bebas kejang yang baik dibandingkan dengan pemberian kombinasi OAE.

ABSTRACT
Background: Infantile spasm is commonly related with uncontrolled seizure and severe intellectual disabilities. Treatment of infantile spasm with ACTH is
currently limited in Indonesia. Furthermore, some data regarding characteristics, therapies, short-term outcomes - which are free interval of spasm and resolution of electroencephalography, and recurrent rate of infantile spasm, are not well documented.
Objective: (1) To obtain the incidence of infantile spasm. (2) To obtain the characteristic of infantile spasm. (3) To obtain the characteristic of short-term
outcome of infantile spasm based on the therapies given. (4) To obtain the risk factor outcome of infantile spasm. (5) To obtain the event free survival of infantile spasm based on the therapies given.
Method: This was a retrospective cohort study on infantile spasm patients aged 0-2 years old at Neurology Outpatient Clinic of Child Health Department, Cipto
Mangunkusumo General Hospital during a period of January 2010 until December 2015. Data were taken from medical record and direct interview with parents of patients. Factors that had statistically significant were analyzed with multivariate method.
Result: The incidence of infantile spasm in 2010-2015 is 86 patients? On bivariate analysis, it was found that factors which are related with no seizure-free outcome is symptomatic classification (p=0,039; RR 0,67; CI 95% 0,51-0,88), satisfied early responds prior initial treatment (p<0,001; RR 2,69; CI 95% 1,75-4,14), and types of therapies on free interval seizure (p<0,001). On multivariate analysis, it was found that there was no correlation between each factor. The median of event free survival on ACTH and prednisone groups are 8 days and 14
days, respectively.
Conclusion: Free seizure status is generally more common in patients receiving ACTH with or without the combination of anti epileptic drugs. Treatment with
prednisone also shows good seizure-free outcome compared to combination with anti epileptic drugs.
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>