Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rosnani
"Latar Belakang : Indonesia memiliki lebih dari seratus suku dengan nilai dan budayanya masing-masing. Salah satu budaya yang ada yaitu perawatan dengan melakukan penghangatan pada area bagian bawah tubuh ibu setelah bersalin (post partum). Perawatan ini memberi efek berupa peningkatan sirkulasi darah. Pendekatan asuhan keperawatan kepada ibu tersebut adalah dengan transcultural care. Tindakan transcultural care yaitu melakukan modifikasi budaya penghangat tubuh dengan teknologi Photobiomodultion Near Infrared (PBM NIR) yang mempunyai efek yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh intervensi post partum berbasis budaya dengan teknologi PBM NIR terhadap adaptasi fisik dan psikososial ibu.
Metode: Penelitian ini adalah Research and Development. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi adaptasi budaya perawatan post partum dengan penghangatan pada tujuh ibu post partum. Kemudian digunakan instrumen elektronik dengan teknologi PBM NIR untuk memodifikasi keperawatan berbasis budaya. Untuk mengetahui pengaruh instrumen, dilakukan pengukuran adaptasi fisik dan psikososial ibu post partum. Penelitian dilakukan di Palembang, Sumatera Selatan Indonesia. Jumlah sampel sebanyak 90 responden yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Responden dibagi dalam tiga kelompok (satu kelompok intervensi dan dua kelompok kontrol). Analisis data menggunakan paired t-test, uji one way ANOVA dan Kruskal Wallis.
Hasil : Langkah pertama studi kualitatif ditemukan bahwa semua partisipan ibu post partum, dukun pijat dan tokoh adat sepakat bahwa praktik budaya mereka dengan menghangatkan bagian bawah tubuh ibu dapat dimodifikasi dengan perangkat modern selama mudah digunakan dan dapat dijangkau. PBM NIR kemudian diukur pengaruhnya terhadap adaptasi fisik dan psikososial responden. Hasil diperoleh terdapat perbedaan signifikansi semua sub variabel sebelum dan sesudah intervensi pada responden kelompok intervensi (p <0,05) pada hari ke 1, 3, 6 dan 10. Demikian pula perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan dua kelompok kontrol lainnya (p = <0,05).
Kesimpulan : Intervensi PBM NIR efektif meningkatkan adaptasi fisik dan psikososial ibu post partum. Hasil studi ini merekomendasikan agar petugas kesehatan dapat menggunakan alat ini sebagai alternatif intervensi perawatan post partum.

Background: Indonesia consists of more than a hundred ethnic groups that have their own culture and beliefs. One of the beliefs that they do in some areas is post-partum care, which uses heating in the lower area of womens bodies. This culture practice can be modified by a Photobiomodulation Near Infrared (PBM-NIR) with a similar effect. This paper aims to develop culture-based post-partum interventions with PBM-NIR technology and its impact on maternal physical and psychosocial adaptation.
Methods: The study design was Research and Development. This study identified the culture practice by warming the lower part of the mothers body in post-partum care by a qualitative study. The following step was modifying this cultural practice into electronic devices called PBM-NIR. It measured the effectiveness of this device toward physical and psychosocial adaptations of the post-partum women. A total sample of 90 respondents was selected by convenience sampling and divided into three groups (intervention and two control groups). Data analysis used a one-way ANOVA test and Kruskal Wallis.
Result: Step one, a qualitative study found that all post-partum women, the traditional attendants, and cultural leaders agreed that their cultural practice by warming the lower part of the mothers body could be modified by modern devices as long as easy to used and accessible. The PBM-NIR then measured its effectiveness toward Physical adaptation and psychosocial adaptation due to the result of the significance different of all subvariates pre- and post-intervention among respondents in the intervention group (p <0,05) on the 1st, 3rd, 6th, and 10th day. It was also significantly different between the intervention and another two control groups (p = < 0,05).
Conclusion: PBM NIR intervention effectively improves the physical and psychosocial adaptation of post-partum mothers. This study results recommended that health providers can use this device as an alternative intervention for post-partum care.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yani Sofiani
"Diabetes Melitus merupakan penyakit kronik yang dapat dikendalikan, hal ini menjadi bagian penting untuk memperlambat terjadinya komplikasi. Upaya pengendalian dapat berjalan efektif bila dilandasi oleh tingginya Awareness Diabetisi akan penyakitnya termasuk dalam monitoring kadar glukosa, alat monitoring gula darah yang ada dimasyarakat saat ini masih membutuhkan sampel darah menjadi masalah tersendiri bagi Diabetisi.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Disease Awareness Diabetisi melalui pengembangan model konsep pengelolaan diri Model SOFIANI dengan bantuan alat pendeteksi kadar glukosa darah non-invasif. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, tahap 1 pengembangan model kondep pengelolaan diri, tahap 2 pengembangan alat pendeteksi kadar glukosa darah non-invasif, dan tahap 3 uji coba model dengan desain eksperimen yang melibatkan 59 responden pada tahap 3, pada tahap 2 melibatkan 344 responden. Analisis data menggunakan paired t test dan general linier model repetead measure.
Hasil analisis diperoleh data terdapat peningkatan skor Diabetes Self Cara Management, penurunan tingkat stres dan kadar HbA1c pada kelompok intervensi pada variabel outcome, sedangkan pada variabel intermediate terlihat penurunan kadar glukosa darah puasa yang efektif sejak minggu 6, peningkatan waktu melakukan aktifitas dan kepatuhan dalam menggunakan terapi. Kesimpulan Model SOFIANI dapat meningkatkan disease awareness dengan indikator variabel outcome dan intermediate. Saran manajemen keperawatan memberikan kebijakan agar model SOFIANI ini dapat digunakan untuk terlaksananya asuhan yang berkesinambungan Continuity of care.

Diabetes mellitus is a chronic disease which can be controllable, and that is being an important part to delay the complication. Control efforts, which, guided by a higher awareness of the patients, can run effectively. Especially the patient 39 s awareness of disease prognosis and blood glucose monitoring. Blood sugar monitoring devices which exist in the community still need a blood sample, in the examination process, and this is being a problem for people with diabetes.
The purpose of this study was to increase the disease awareness among diabetic patients through the concept of self management model SOFIANI equipped with the non invasive blood glucose monitoring tool. This study consisted of the three following steps 1 the development modelofself management concept, 2 the development of non invasive blood glucose detector, and 3 the experimental design for the testing model. A total of 344 respondents was involved in the second stage of this study, while a total of 59 respondents participated in the third stage of this study. Paired t test and General Linear Model with repeated measurement were used for data analysis.
The results of this study were to identified the increaseof diabetes self care management DSCM score, the decrease of stress and HbA1c levels among intervention group, especially for outcome variables.While in the intermediate variables the effectively decrease of blood glucose started from weeks 6, the increasing amount of time for exercise and the adherence towards therapy. Conclusion SOFIANI Model can increase disease awareness with the outcome and intermediate variables as an indicator. This model might be considered by nursing management in the hospital to be implemented to create the continuity of nursing care.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
D2312
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Meity Sulistia Ayu
"Latar Belakang: Ketidaknyamanan kerja perawat semakin meningkat akibat stres, kelelahan serta kecemasan tertular Covid-19 yang mengakibatkan penurunan kinerja dan berdampak pada pelayanan yang tidak aman. Perawat manajer dapat memodifikasi lingkungan kerja menggunakan teknologi terapi sinar biru yang memiliki panjang gelombang nanometer untuk meningkatkan kenyamanan kerja perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat kenyamanan kerja menggunakan nano wave light emitting diode (Nano-LED) dan mengukur efektifitasnya terhadap kenyamanan dan efikasi diri perawat di ruang perawatan Covid-19. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Research and Development dengan tiga tahap penelitian. Penelitian tahap 1 mengidentifikasi masalah dan kebutuhan peningkatan kenyamanan kerja menggunakan Nano-LED, tahap 2 mengembangkan alat Nano-LED, dan tahap 3 mengukur efektifitasnya terhadap kenyamanan kerja dan efikasi diri perawat. Penelitian dilakukan di dua rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayah DKI Jakarta sebagai kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Jumlah sampel sebanyak 187 perawat menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, Mann Whitney dan regresi linear berganda. Hasil: Penelitian tahap 1 menemukan 5 tema. Partisipan perawat manajer dan perawat pelaksana melalui focus group discussion mengonfirmasi perlunya peningkatan kenyamanan kerja perawat menggunakan Nano-LED. Tahap 2 menghasilkan alat Nano-LED blue turquoise light SMD 2835 panjang gelombang 460—470 nm. Tahap 3 diperoleh hasil ada perbedaan signifikan peningkatan rerata kenyamanan kerja (p < 0,001) dan efikasi diri perawat (p < 0,001) sebelum dan setelah intervensi pada responden kelompok intervensi. Selanjutnya ditemukan ada perbedaan signifikan peningkatan rerata kenyamanan kerja perawat (p = 0,002) dan efikasi diri perawat (p = 0,001) antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah intervensi. Kesimpulan: Intervensi Nano-LED efektif meningkatkan kenyamanan kerja dan efikasi diri perawat. Hasil penelitian merekomendasikan agar Nano-LED dapat diaplikasikan di ruang rawat untuk meningkatkan kenyamanan kerja dan efikasi diri perawat.

Background: Nurses' work discomfort due to stress, fatigue and anxiety of contracting Covid-19 can have an impact on decreasing performance and unsafe services for patients. Nurse managers can modify the work environment using blue light therapy technology which has a nanometer wavelength to increase the comfort of nurses' work. The research aims to develop a work comfort tool using a nano wave light emitting diode (Nano-LED) and measure its effectiveness on the comfort and self-efficacy of nurses in the Covid-19 ward. Methods: The study used a Research and Development design with three phases of research. Phase 1 research identifies problems and needs for increasing work comfort using Nano-LED, phase 2 develops Nano-LED device, and phase 3 measures its effectiveness on work comfort and nurse self-efficacy. The study was conducted at two Covid-19 referral hospitals in the DKI Jakarta area as an intervention group and a control group. The number of samples was 187 nurses using total sampling. Data analysis used Wilcoxon test, Mann Whitney and multiple linear regression. Result: Phase 1 study found 5 themes. Participant nurse managers and nurse staffs through focus group discussions confirmed the need to increase the comfort of nurses' work using Nano-LED. Phase 2 produces a Nano-LED blue turquoise light SMD 2835 with a wavelength of 460—470 nm. Phase 3 showed that there was a significant difference in the average increase in work comfort (p < 0.001) and nurses' self-efficacy (p < 0.001) before and after the intervention in the intervention group respondents. Furthermore, it was also found that there was a significant difference in the average increase in nurses' work comfort (p = 0.002) and nurses' self-efficacy (p = 0.001) between the intervention group and the control group after the intervention. Conclusion: The Nano-LED intervention is effective in increasing the work comfort and self-efficacy of nurses. The results of the study recommend that Nano-LED can be applied in the treatment room to increase work comfort and nurse self-efficacy."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Made Kariasa
"Latarbelakang: Kejadian stroke iskemik termasuk stroke berulang terus meningkat di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Stroke berulang berdampak terhadap peningkatan morbiditas, mortalitas dan ketidakmampuan fungsional. Kemampuan self-management adalah salah satu indikator untuk memprediksi terjadinya stroke berulang. Pengamatan lapangan menunjukkan belum ada alat yang dapat meningkatkan kewaspadaan diri penyintas. Oleh karena itu perlu dikembangkan alat deteksi dini untuk menumbuhkan selfawareness dan motivasi pasien yang berdampak pada peningkatan kemampuan self-management.
Tujuan: penelitian ini bertujuan membentuk model pengelolaan perawatan diri menggunakan kombinasi prototipe deteksi dini SenDiKa dan Pendidikan kesehatan untuk meningkatkan kemampuan manajemen diri dalam upaya mencegah stroke iskemik berulang serta membuktikan keefektifannya terhadap self-management pasien stroke iskemik.
Metodologi: Penelitian ini terdiri dari dua tahap; tahap pertama mengembangkan alat sensor digital yang dinamai SenDiKa (Sensor Digital Kariasa) menggunakan desain cross-sectional dan menyusun pendidikan kesehatan manajemen diri dan tahap kedua menguji alat tersebut menggunakan desain quasi-eksperimen pre–post-test control group melibatkan 44 sampel pasien pasca stroke iskemik yang diambil melalui teknik consecutive sampling. Subyek terdiri dari kelompok intervensi dan kontrol dengan lama intervensi 12 minggu.
Hasil: Penelitian ini menunjukan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok dengan p-value = 0,000 dimana kelompok intervensi yang menggunakan alat deteksi dini yang dikombinasi dengan pendidikan kesehatan memiliki perubahan kearah yang baik terhadap self-management dibandingkan kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan penggunaan kombinasi alat deteksi dini Prototipe SenDiKa dan pendidikan kesehatan dapat berfungsi dengan baik serta memberi efek positif terhadap peningkatan self-management pasien pasca stroke.
Simpulan dan Saran Utama: Model kombinasi prototipe SenDiKa dan Pendidikan Kesehatan manajemen diri dapat digunakan untuk mengidentifikasi beberapa indikator utama yaitu; tekanan darah, gula darah dan kolesterol oleh pasien secara mandiri. Rekomendasi lain adalah Menyempurnakan Prototipe SenDiKa sehingga dapat mengeluarkan angka riil dari setiap faktor risiko pasien, kalkulasi dari akumulasi besarnya faktor risiko dan membuat aplikasi Pendidikan Kesehatan Manajemen Diri kedalam sistem android sehingga responden dapat langsung mempelajari manajemen diri yang benar dan sesuai. Prototipe ini dibuat agar teruji kebermanfaatannya, mudah digunakan, mudah didapat dan murah harganya.
.....Background: The incident rate of Ischemic stroke has been rising either in developed or developing countries, including Indonesia. In addition to physical and functional disability caused by stroke attack, recurrent stroke attack becomes another concern which can cause problems in economic and psychosocial aspect. Recurrent stroke attacks are associated with increased morbidity, mortality, and functional disability. Patient’s Self-Management ability is one of the indicators to predict the occurrence of recurrent ischemic stroke. Based on researchers’ observations, there is no tool available to improve awareness of the stroke survivors to prevent recurrent stroke attacks. Therefore, it is necessary to develop an early detection tool to foster patients’ self-awareness and motivation which have an impact on improving patients’ self-management abilities.
Purpose: This study aim to develop a model that combining a prototype of early detection SenDiKa and health education to improve self-management ability to prevent recurrent stroke attacks and to measure its effectiveness.
Method: This study consists of two stages; the first stage is to develop a device called SenDiKa (Kariasa Digital Sensor) using a cross-sectional design combined with providing health education. The second stage is to test the device to patients using a quasi-experimental design involving 44 post-ischemic stroke patients taken through consecutive sampling technique. The subjects were divided into two groups, the intervention group, which will be using SenDiKa combined with health education, and the control group. They will be provided with intervention and be observed for 12 weeks.
Results: This study shows a significant difference between the two groups with pvalue= 0.0000 where the intervention group had a better self-management abilities compared to the control group. The combination of SenDiKa, a prototype of early self-detection tool and health education on self-management, has a positive effect on improving the stroke survivor’s self-management abilities in order to prevent recurrent stroke attacks.
Conclusion and Recommendations: SenDiKa prototype, combined with health education of self-management, can be used to identify several ischemic stroke risk factors: blood pressure, blood sugar, and cholesterol. Knowing the value of this examination is expected to improve the patients’ self-awareness and motivation which hopefully will encourage the patients to improve their self-management abilities in preventing recurrent stroke attacks. Another recommendation is to continue the development of this combination between early detection prototype devices with health education so that everyone can experience its benefits, especially for stroke survivors."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Winarta
"Metode pendinginan konvensional seperti heat sink dan fan sudah tidak efektif lagi menangani pelepasan kalor yang memiliki tren power density yang makin tinggi (fluks kalor tinggi). Peralatan transfer kalor dua fasa seperti pipa kalor (heat pipe) merupakan salah satu jenis pendingin yang sangat gencar dikembangkan diluar negeri akhir-akhir ini. Karena menghasilkan pendinginan yang efisien (passive cooling) sehingga merupakan salah satu kunci ketahanan produk terhadap umur pakai dan beban kerja yang tinggi. Permasalahan utama pada pengembangan teknologi pipa kalor konvensional adalah manufaktur sumbu kapiler (wick) yang kompleks dan merupakan komponen biaya terbesar produksi.
Studi mengenai pengembangan dan pengujian Pulsating Heat Pipe/Oscillating Heat Pipe (PHP/OHP) yang merupakan salah keterbaruan teknologi pipa sedang gencar dilakukan di luar negeri. Penelitian ini bertujuan ikut mempelajari manufaktur dan pengaplikasian pipa kalor jenis PHP/OHP sampai pada suatu prototipe aplikasi manajemen thermal. Pada tahap awal dipelajari desain dan manufaktur OHP secara umum meliputi proses manufaktur dan pengisian fluida kerja (vakum dan pengisian fluida dengan metode back-filling). Kemudian beberapa pengujian kinerja dilakukan untuk mendapatkan karakteristik thermalnya. Sampai pada akhirnya desain prototipe manajemen thermal yang mengaplikasikan PHP/OHP berhasil dibuat.
Uji pertama menggunakan metode thermography berhasil memberikan informasi secara kuantitatif terhadap proses-proses thermal yang terjadi. Adapun fenomena yang dapat diamati diantaranya proses sebaran kalor pada OHP dan lingkunganya pada saat start-up, beban kalor menengah dan beban kalor tinggi. Aliran kalor pada pipa kapiler saat terjadi osilasi slug flow dan sirkulasi. Pengujian berikutnya memberikan hasil bahwa masing-masing fluida memberikan karakteristik start-up, distribusi kalor yang berbeda. Hasil pengujian juga mendapatkan variasi inklinasi tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada suatu kondisi tertentu. Pengujian visualisasi dengan metode neutron radiography juga dilakukan untuk mengamati gerakan fluida dan pengaruhnya pada transfer kalor.
Sebuah manajemen thermal motor listrik yang mengaplikasikan pulsating heat pipe sebagai pendingin juga telah berhasil dibuat dan diuji. Hasil pengujian menunjukkan kemampuan pulsating heat pipe menurunkan temperatur operasional motor listrik. Perbedaan temperatur luar dengan menggunakan variasi fluida kerja acetone yaitu 55,348°C, sementara untuk variasi fluida kerja methanol yaitu 56,071°C. Untuk perbedaan temperatur dalam yaitu 57,13°C dan 55,179°C, untuk variasi fluida kerja acetone dan methanol berturut-turut.

Conventional cooling methods such as heat sinks and fans are no longer effective in handling heat release which has a higher power density trend. Two-phase heat transfer equipment, such as heat pipes, are one type of cooling method that has been intensely developed abroad recently. Because it produces efficient cooling (passive cooling) so that it is one of the keys to product durability against service life and high workload. The main problem in the development of conventional heat pipe technology is the complex manufacturing of wick. And, it is also the largest component of production costs.
The study of the development and testing of Pulsating Heat Pipe/Oscillating Heat Pipe (PHP/ OHP) is one of the state of the art of heat pipe technology is being intensively investigate abroad. This study aims to learn about the manufacturing and application of PHP /OHP to a prototype thermal management application. In the early stages, OHP design and manufacturing were generally studied including manufacturing processes and filling of working fluids (vacuum and fluid charging with back-filling method). Then some performance test is performed to get the thermal characteristics. Finally the thermal management prototype design that applied PHP/OHP was successfully made.
The first test using the thermography method managed to provide quantitative information on the thermal processes that occur. The phenomena that can be observed include heat distribution process on OHP and its environment at start-up, medium heat load and high heat load. Heat flow in the capillary pipe when slug flow and circulation oscillations occur. Subsequent tests give results that each fluid provides start-up characteristics, a different heat distribution. The test results also get a variety of inclinations that do not give a significant difference in certain conditions. Visualization testing with neutron radiography methods was also carried out to observe fluid motion and its effect on heat transfer.
A thermal electric motor management that applies pulsating heat pipes as coolants has also been successfully made and tested. Test results show the ability of pulsating heat pipe to reduce the operational temperature of the electric motor. Outside temperature difference using a variation of acetone working fluid is 55,348oC, while for working fluid methanol variation is 56,071°C. For the difference in internal temperature is 57,13°C and 55,179°C, for variations in working fluid acetone and methanol respectively.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
D2602
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Ariantara
"ABSTRAK
Pembangkitan kalor pada baterai dan motor listrik akan meningkatkan temperatur kerjanya. Temperatur kerja yang terlalu tinggi dapat menurunkan kinerja dan memperpendek umur pakai baterai dan motor listrik. Kemajuan teknologi baterai telah menghasilkan baterai-baterai Li-Ion berdensitas energi sangat tinggi. Namun demikian, kemajuan ini disertai dengan resiko terjadinya thermal runaway yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan serius seperti yang dialami oleh pesawat Boeing 787 Dreamliner di Jepang pada 16 Januari 2017. Untuk operasi kendaraan listrik yang aman, dengan kinerja yang tinggi serta umur pakai yang panjang diperlukan sistem manajemen termal SMT yang handal dengan bobot ringan, ukuran yang ringkas dan hemat energi. Pipa kalor merupakan perangkat termal yang memiliki kapasitas perpindahan kalor per satuan luas yang tinggi, berbobot ringan, berukuran ringkas dan tidak memerlukan pasokan daya eksternal. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan prototipe SMT baterai dan motor kendaraan listrik berbasis pipa kalor serta pengembangan fabrikasi lotus-type porous copper LTP Copper untuk diterapkan sebagai sumbu kapiler pipa kalor. Prototipe SMT baterai dibuat mengunakan simulator baterai dengan menerapkan pipa kalor pipih berbentuk L yang bagian evaporatornya disisipkan di antara permukaan simulator baterai dan bagian kondensernya didinginkan dengan udara sekeliling. Prototipe SMT motor listrik menerapkan pipa kalor pipih berbentuk L yang bagian evaporatornya ditempatkan di bagian luar rumah motor dan bagian evaporatornya di depan kipas. Pada kedua prototip tersebut, pembangkitan kalor disimulasikan dengan pemanas listrik yang dayanya diatur melalui regulator tegangan. Kinerja prototip sistem manajemen termal baterai dan motor kendaraan listrik tersebut ditentukan secara eksperimental. LTP Copper difabrikasi menggunakan teknik slip casting dan sintering menggantikan proses Gasar. Struktur pori memanjang diperoleh dengan menggunakan pore former benang nilon. Parameter proses dioptimasi untuk mendapatkan permeabilitas dan laju pemompaan kapiler terbaik. SMT baterai berhasil menurunkan temperatur simulator baterai dari 71 C menjadi 50 C pada beban kalor 60 W. SMT motor listrik berhasil menurunkan temperatur permukaan motor dari 102.2 C menjadi 68.4 C pada beban kalor 150 W. LTP Copper berhasil dibuat dengan teknik slip casting dan sintering dan diterapkan sebagai sumbu kapiler pipa kalor melingkar. Pipa kalor melingkar tersebut dapat beroperasi pada rentang beban kalor yang lebar, yaitu 16 W hingga 160 W dan tahanan termal minimum 0,126 C/W pada beban kalor 148.6 W.

ABSTRACT
Heat generation in batteries and electric motors will increase the working temperature. Excessive working temperatures will degrade performance and shorten the life span. Advances in battery technology have resulted in a very high energy density Li Ion batteries. However, these advances are accompanied by the risk of thermal runaway that could lead to a serious accidents such as those experienced by a Boeing 787 Dreamliner aircraft in Japan on January 16, 2013. A safe operation with high performance and long service life requires a reliable thermal management system TMS with light weight, compact size, and low energy consumption. Heat pipes are thermal devices with a high heat transfer capacity per unit area, lightweight, compact size and requires no external power supply. This research develops the prototype of heat pipe based TMS of electric vehicle battery and motor and the fabrication of lotus type porous copper LTP Copper to be applied as heat pipe capillary wick. The prototype of the battery TMS was made using a battery simulator by applying L shaped flat heat pipes whose evaporator portion is inserted between the battery s simulator surfaces and the condenser portion cooled with ambient air. The prototype of the electric motor TMS also applied L shaped flat heat pipes whose evaporator section is placed on the outer surface and the condenser portion in front of the fan. In both prototypes, the heat generation is simulated with electric heaters whose power is regulated through a voltage regulator. The performance of the battery and motor TMS are determined experimentally. LTP Copper was fabricated using the slip casting and sintering techniques to replace a very complicated and costly Gasar process. Unidirectional pore structure is obtained by using nylon thread pore former. Process parameters consisting of copper powder diameter, pore former diameter, sintering temperature and holding time are optimized to obtain the best permeability and capillary pump rate. The battery TMS has successfully reduced the battery simulator temperature from 71 C to 50 C at 60 W heat load. The motor TMS has successfully reduced the surface temperature of the motor from 102.2 C to 68.4 C at 150 W heat load. LTP Copper with high permeability and capillary pumping rate was successfully made by slip casting and sintering technique and applied as a loop heat pipe capillary wick. The loop heat pipe could operate in a wide heat load range, which is 16 W to 160 W and a minimum thermal resistance of 0.126 C W at a 148.6 W heat load."
2017
D2296
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khamelia
"Latar belakang: Halusinasi auditorik verbal (HAV) dialami 70% dari 23 juta penderita gangguan skizofrenia di seluruh dunia. Data pasien skizofrenia di rawat jalan Departemen Psikiatri RSCM/FKUI periode tahun 2016-2017 kasus HAV resisten pengobatan berkisar 25-30%. Tujuan penelitian ini mengetahui abnormalitas spasiotemporal aktivitas neural otak kondisi istirahat yang berhubungan dengan HAV pada orang dengan skizofrenia (ODS) dan peran rTMS dalam memodulasi abnormalitas tersebut.
Metode: Penelitian ini dilakukan di Departemen Psikiatri dan Departemen Neurologi FKUI/RSCM selama Maret 2017 sampai Maret 2019 dengan desain uji klinis acak plasebo tersamar ganda. Studi  mengikutsertakan 120 orang yaitu 40 ODS dengan halusinasi, 40 ODS tanpa halusinasi, 20 subjek saudara kandung dan 20 subjek sehat. Kriteria kelompok intervensi rTMS pasien skizofrenia HAV resisten pengobatan usia dewasa 18-59 tahun. Pemeriksaan dimensi temporal dan spasial aktivitas otak keadaan istirahat menggunakan perekaman elektroensefelografi (EEG). Pemeriksaan simtom halusinasi menggunakan instrumen PSYRATS dan uji kemampuan pemantauan-sumber. Dilakukan rTMS 1 Hz 90% AM 1000 pulse di titik T3P3 selama 10 hari berturut-turut. Data klinis pasien diperoleh dari wawancara atau catatan medis. Informed consentdiperoleh dari pasien dan orang tua atau pasangan pasien. 
Hasil: Ditemukan perbedaan kekuatan amplitudo gelombang theta di prefrontal kiri dan kanan (skizofrenia = 15.19±4.54 mV, sehat= 7.37±2.49 mV, p 0.004), frontal kiri dan kanan (skizofrenia=18.62±17.55 mV, sehat = 9.90±3.77 mV p 0.007), temporal kiri dan kanan (skizofrenia= 6.97±7.26 mV, sehat= 3.59±1.34 mV , p 0.010). Kelompok skizofrenia ditemukan penurunan gandeng-fase amplitudo theta/gamma di frontal-parietal kiri F3-P3 (sehat=28.06, skizofrenia=24.06), frontal-temporal kiri F3-T3 (sehat=30.89, skizofrenia=22.47) dan frontal sentral kanan FP2-C4 (sehat=25.78, skizofrenia=25.00). Didapatkan peningkatan konektivitas fungsional di jejaring mode-standar yang berkaitan dengan kemampuan ODS memantau sumber stimulus. Antara jejaring mode-standar dengan sentral-eksekutif didapatkan korelasi positif di BA 8L-39L (r = 0.792, p = 0.000), BA 29L-40L (r = 0.522, p = 0.032) dan BA8R-39R (r = 0.480, p = 0.004). Korelasi positif abnormal antara jejaring mode-standar dan eksekutif-pusat berhubungan dengan kesulitan ODS membedakan sumber stimulus. Pemberian rTMS 1 Hz menurunkan konektivitas jejaring mode-standar dan menurunkan gandeng theta-gamma yang menghasilkan perbaikan gejala HAV dan kemampuan pemantauan sumber.
Simpulan: Pada ODS keseimbangan aktivitas otak istirahat bergeser ke kekuatan frekuensi rendah, demikian juga peningkatan koherensi kortikal. Didapatkan hiperkonektivitas jejaring mode standar, korelasi abnormal antara DMN dan CEN, serta gandeng theta-beta DMN yang berhubungan dengan halusinasi auditorik verbal. Pemberian rTMS bisa memodulasi abnormalitas spasiotemporal tersebut mendekati kondisi normal dan berakibat perbaikan gejala halusinasi. EEG concordance alfa prefrontal frontal otak berpotensi menjadi kandidat penanda biologi respon terhadap terapi rTMS. 

Background: Auditory Verbal Hallucinations (AVH) occur in 70% of 23 million people with schizophrenia worldwide. According to the 2016-2017 data on schizophrenia patients in the Outpatient Clinic of the Department of Psychiatry RSCM / FKUI, AVH treatment-resistant cases reach about 25-30%. The aim of this study was to determine the spatiotemporal properties of resting brain neural activities that cause changes in perceptions and abnormal space-time experience in people with schizophrenia, which then manifest as auditory verbal hallucinations, and also to determine the role of transcranial magnetic repetitive stimulation (rTMS) on modulating spatiotemporal abnormalities. 
Method: This study was a double-blind placebo-controlled clinical trial conducted in the Department of Psychiatry and the Department of Neurology of FMUI/RSCM  from March 2017 to March 2019. The study included 120 subjects consisting of 40 schizophrenia patients with hallucinations, 40 schizophrenia patients without hallucinations, 20 siblings of the patients, and 20 healthy subjects. The criteria for the rTMS intervention group were treatment-resistant schizophrenia with AVH of 18-59 years of age. Electroencephalography (EEG) was used to examine temporal and spatial dimensions of resting brain activities. The PSYRATS instrument and source-monitoring ability test were used to assess symptoms of hallucinations. Patients clinical data were collected from interviews or medical records. Informed consents were obtained from patients and their parents or spouses.
Results: Differences in amplitude strength of theta fequency were found at the left and right prefrontal cortices (schizophrenia = 15.19±4.54 mV, healthy = 7.37±2.49 mV, p 0.004), left and right frontal cortices (schizophrenia=18.62±17.55 mV, healthy = 9.90±3.77 mV p 0.007), left and right temporal cortices (schizophrenia= 6.97±7.26 mV, healthy = 3.59±1.34 mV , p 0.010). Temporal cortical activities were shifted to low frequency fluctuations, and there were also decreasing relationships between various brain frequencies. The increase of functional connectivity in default-mode networks was found, which relates to schizophrenics ability to monitor sources of stimuli. This abnormal positive correlation between the default mode and the central executives network might disturb schizophrenics ability to distinguish internal stimuli from external stimuli. The administration of 1Hz of rTMS decreases connectivity in default-mode networks and theta-gamma coupling resulting in improved symptoms of HAV and source monitoring capabilities.
Conclusion: In people with schizophrenia, the balance of resting activity shift to low frequency power, as well as increase in its cortical coherence. It also found functional hyperconnectivity in default mode network among schizophrenia patients with HAV and abnormal positive correlation between DMN-CEN. The resting state theta-gamma coupling was increased in patient with schizophrenia that might underlie HAV. The administration of rTMS modulate spatiotemporal abnormalities to near-normal conditions, resulting in the improvement in hallucinatory symptoms. The alpha EEG cordances of prefrontal and frontal cortices has the potential to become a biological marker of response to rTMS therapy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Hadi Kusuma
"Untuk meningkatkan keselamatan termal pada saat terjadi kecelakaan akibat station blackout, vertical straight wickless-heat pipe pipa kalor lurus tanpa sumbu kapiler yang diletakkan secara vertikal diusulkan sebagai sistem pendingin pasif baru untuk pembuangan panas sisa hasil peluruhan di kolam penyimpanan bahan bakar bekas nuklir. Pipa kalor akan membuang panas peluruhan dari kolam penyimpanan bahan bakar bekas nuklir dan dapat menjaga sistem tetap aman.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi karakteristik, fenomena perpindahan kalor, dan unjuk kerja termal pipa kalor yang digunakan mencari pengaruh kecepatan pendinginan dengan besarnya kalor yang harus dibuang, menganalisis keserupaan dimensi dari pipa kalor yang digunakan, dan mengetahui teknologi pipa kalor yang dapat digunakan sebagai sistem keselamatan pasif di instalasi nuklir pada kondisi kecelakaan akibat station blackout.
Investigasi secara eksperimen dilakukan dengan mempertimbangkan pengaruh tekanan awal pipa kalor, evaporator filling ratio, beban kalor evaporator, dan laju aliran pendingin di water jacket. Air pendingin disirkulasikan dalam water jacket sebagai penyerap kalor di bagian condenser. Simulasi dengan program perhitungan termohidraulika RELAP5/MOD3.2 dilakukan untuk mendukung dan membandingkan dengan hasil eksperimen yang didapatkan.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa unjuk kerja termal terbaik pipa kalor didapatkan pada tahanan termal 0,016 C/W. Unjuk kerja termal terbaik didapatkan pada saat pipa kalor diberikan filling ratio 80 , tekanan awal terendah, laju aliran pendingin tertinggi, dan beban kalor evaporator tertinggi. Dari nilai tahanan termal tersebut didapatkan bahwa pipa kalor ini memiliki kemampuan memindahkan kalor 199 kali lebih besar jika dibandingkan dengan batang pejal tembaga dengan geometri yang sama. Model pipa kalor dalam simulasi dengan RELAP5/MOD3.2 dapat digunakan untuk mendukung investigasi secara eksperimen dalam memprediksi fenomena yang berlangung di bagian dalam pipa kalor.
Analisis dimensi dan keserupaan pipa kalor yang didapatkan bisa digunakan untuk merancang pipa kalor lain dengan geometri yang berbeda namun tetap menghasilkan unjuk kerja termal yang sama. Kesimpulan investigasi yang dilakukan menunjukkan bahwa pipa kalor ini memiliki unjuk kerja termal yang tinggi dan dapat digunakan sebagai sistem pendingin pasif di kolam penyimpanan bahan bakar bekas nuklir pada saat terjadinya kecelakaan akibat station blackout.

To enhance the thermal safety when station blackout accident occurs, a vertical straight wickless heat pipe is proposed as a new passive residual heat removal system in nuclear spent fuel storage pool. The heat pipe will remove the decay heat from nuclear spent fuel pool and keep the system safe.
The objective of this research is to investigate the characteristics, heat transfer phenomena, and thermal performance of heat pipe, to analyse the effect of coolant flowrate against heat to be removed, analysing the dimensional similarity of heat pipe, and to know the heat pipe technology that could be used as passive safety system in nuclear installation during to station blackout accident.
The experimental investigation was conducted to investigate the heat transfer phenomena and heat pipe thermal performance with considering the influence of heat pipe initial pressure, evaporator filling ratio, evaporator heat load, and coolant volumetric flow rate of water jacket. Cooling water was circulated in water jacket as condenser cooling system. A numerical simulation with nuclear reactor thermal hydraulic code RELAP5 MOD3.2 was performed to support and to compare with the experimental results.
The experimental results showed that the best thermal performance was obtained at thermal resistance of 0.016 C W, with filling ratio of 80 , the lower initial pressure, higher coolant volumetric flow rate, and higher heat load of evaporator. From thermal resistance analysis, it is found that the heat pipe has the ability to remove heat 199 times greater than copper rod with the same geometry. The RELAP5 MOD3.2 simulation model can be used to support experimental investigation and to predict the phenomena inside the heat pipe.
The dimensional analysis and similitude of the heat pipe can be applied to design the other heat pipe with different geometries with produces the same thermal performance. The conclusion of investigation showed that vertical straight wickless heat pipe has higher thermal performance and can be used as passive residual heat removal system of nuclear spent fuel pool when station blackout occurs.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
D2297
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library