Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Is Indratno
"[ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap penggunaan produk inovasi sistem pembayaran dan pengaruh inovasi
sistem pembayaran terhadap pengukuran jumlah uang beredar di Indonesia. Dalam
penelitian ini, produk inovasi sistem pembayaran direpresentasikan oleh
perkembangan instrumen pembayaran elektronis , alat pembayaran menggunakan
kartu (APMK) yaitu kartu debet dan kartu kredit serta emoney. Sedangkan untuk
pengukuran jumlah uang digunakan metode simple sum aggregate dan divisa
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Error-Correction Model
untuk melihat hubungan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan
produk inovasi sistem pembayaran penjualan eceran, jumlah akses, resiko, suku
bunga deposito, sukubunga kredit, nilai transkasi dan volume transkasi dan
hubungan inovasi sistem pembayaran terhadap pengukuran jumlah uang beredar
M2 simple sum dan divisia. Dari hasil studi diperoleh bahwa faktor nilai transkasi
berpengaruh terhadap seluruh produk sistem pembayaran dan inovasi sistem
pembayaran memiliki hubungan jangka pendek dan jangka panjang dengan
pengukuran jumlah uang beredar.

ABSTRACT
The thesis is devoted to the factors that influence the use of product
innovation and influence innovation payment sistem payment sistem to measure
the amount of money circulating in Indonesia. In this study, innovation product of
innovation represented by the development of the payment sistem of electronic
payment instruments (SKN and RTGS) , card payment ( APMK ) that debit cards
and credit cards and emoney also . As for the money demand used simple sum
aggregate and divisa method.
Error - Correction Model is applied in order to study the relationship factors
that influence the use of product innovation of payment sistem , the amount of
access , risk , deposit rates , loan interest rates , transaction value and volume of
transaction and payment sistems innovation relationship to measure the money
supply M2 simple sum and Divisia . This study showed that the transaction value
factor affecting product innovation of payment sistem and payment sistems
innovations have short -term relationships and long-term measurement of the
money supply.;The thesis is devoted to the factors that influence the use of product
innovation and influence innovation payment sistem payment sistem to measure
the amount of money circulating in Indonesia. In this study, innovation product of
innovation represented by the development of the payment sistem of electronic
payment instruments (SKN and RTGS) , card payment ( APMK ) that debit cards
and credit cards and emoney also . As for the money demand used simple sum
aggregate and divisa method.
Error - Correction Model is applied in order to study the relationship factors
that influence the use of product innovation of payment sistem , the amount of
access , risk , deposit rates , loan interest rates , transaction value and volume of
transaction and payment sistems innovation relationship to measure the money
supply M2 simple sum and Divisia . This study showed that the transaction value
factor affecting product innovation of payment sistem and payment sistems
innovations have short -term relationships and long-term measurement of the
money supply.;The thesis is devoted to the factors that influence the use of product
innovation and influence innovation payment sistem payment sistem to measure
the amount of money circulating in Indonesia. In this study, innovation product of
innovation represented by the development of the payment sistem of electronic
payment instruments (SKN and RTGS) , card payment ( APMK ) that debit cards
and credit cards and emoney also . As for the money demand used simple sum
aggregate and divisa method.
Error - Correction Model is applied in order to study the relationship factors
that influence the use of product innovation of payment sistem , the amount of
access , risk , deposit rates , loan interest rates , transaction value and volume of
transaction and payment sistems innovation relationship to measure the money
supply M2 simple sum and Divisia . This study showed that the transaction value
factor affecting product innovation of payment sistem and payment sistems
innovations have short -term relationships and long-term measurement of the
money supply., The thesis is devoted to the factors that influence the use of product
innovation and influence innovation payment sistem payment sistem to measure
the amount of money circulating in Indonesia. In this study, innovation product of
innovation represented by the development of the payment sistem of electronic
payment instruments (SKN and RTGS) , card payment ( APMK ) that debit cards
and credit cards and emoney also . As for the money demand used simple sum
aggregate and divisa method.
Error - Correction Model is applied in order to study the relationship factors
that influence the use of product innovation of payment sistem , the amount of
access , risk , deposit rates , loan interest rates , transaction value and volume of
transaction and payment sistems innovation relationship to measure the money
supply M2 simple sum and Divisia . This study showed that the transaction value
factor affecting product innovation of payment sistem and payment sistems
innovations have short -term relationships and long-term measurement of the
money supply.]"
2015
T42871
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fachriza
"Pengaruh perubahan nilai tukar terhadap perekonomian Indonesia menjadi topik menarik sejak terjadi krisis nilai tukar rupiah pada tahun 1997 yang telah menyebabkan keseimbangan internal semakin parah. Hal ini tercermin dari melonjaknya inflasi dari 5,17% pada tahun 1996/1997 menjadi 34,22% pada akhir tahun anggaran 1997/1998 (BI, 1998). Melemahnya nilai tukar telah menyebabkan kenaikan yang tinggi pada harga barang-barang yang mengandung komponen impor. Pada sisi fiskal, depresiasi rupiah yang tajam telah mengakibatkan pengeluaran pemerintah meningkat.
Keterkaitan antara nilai tukar dan inflasi akan semakin jelas ketika terjadi perubahan sistem nilai tukar dari sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate) ke sistem nilai tukar mengambang bebas (freefloating exchange rate). Inflasi mengalami trend kenaikan yang lebih tajam ketika diberlakukan free floating exchange rate sejak kuartal kedua tahun 1997. Fluktuasi inflasi juga lebih tampak ketika periode free floating exchange rate dibandingkan periode sebelumnya. Inflasi tampak mempunyai trend menurun ketika terjadi penguatan nilai tukar rupiah pada kuartal pertama tahun 1999.
Kenyataan lain akibat depresiasi rupiah adalah adanya kontraksi output ketika sistem nilai tukar yang dipakai free floating exchange rate. Depresiasi rupiah yang tajam terjadi setelah penerapan free floating exchange rate dibarengi dengan adanya kontraksi output Indonesia. Depresiasi rupiah mengakibatkan barang-barang modal yang dibutuhkan industri dalam negeri mengalami lonjakan harga. Keadaan ini membuat perusahaan mengurangi kapasitas produksi barang yang mempunyai kandungan impor tinggi. Penurunan kapasitas produksi inilah yang menandai telah terjadi kontraksi output. Dengan demikian depresiasi rupiah telah menyebabkan terjadinya penurunan output.
Model yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah VECM untuk melihat keterkaitan antara nilai tukar terhadap inflasi dan output dan peranan kebijakan nilai tukar terhadap inflasi dan dampak penerapan kebijakan nilai tukar terhadap output pada krisis tahun 1997/1998 dan krisis tahun 2008. Alasan menggunakan metode VECM untuk melihat dampak nilai tukar terhadap inflasi dan output baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Effect of exchange rate changes on the Indonesian economy has been a hot topic since the exchange rate crisis in 1997 that has led to increasingly severe internal balance. This is reflected in the soaring inflation of 5.17% in 1996/1997 to 34.22% at the end of fiscal year 1997/1998 (BI, 1998). The weakening of the exchange rate has led to a high rise in the price of goods that contain imported components. On the fiscal side, the sharp depreciation of the rupiah resulted in increased government spending.
The linkage between the exchange rate and inflation will be more apparent when there is a change of the exchange rate system from managed floating exchange rate to a free floating exchange rate system. Inflation experienced a sharper upward trend when applied free floating exchange rate since the second quarter of 1997. Fluctuations in inflation are also more visible when the period of free floating exchange rate compared to the previous period. Inflation appears to have a downward trend in the event of strengthening the exchange rate in the first quarter of 1999.
Another fact due to the depreciation of the rupiah is a contraction of output when the exchange rate system used free floating exchange rate. Sharp depreciation occurred after the adoption of free floating exchange rate coupled with a contraction of output in Indonesia resulting depreciation of capital goods needed domestic industry experienced a surge in prices. This situation makes the company reduce production capacity of goods that have a high import content. The decline in production capacity is what marks the output contraction has occurred. Thus depreciation has led to a decrease in output.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2015
T42873
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moh. Arief Djanin, supervisor
"ABSTRACT
Over the last decade, increasing attention has been paid to the effect of monetary policy on the path of economic activities, and it is now generally recognized as a powerful tool in stabilizing the economy. Traditionally, the theory of monetary policy is formulated in terms of the adjustments of the policy instruments in order to achieve the desired values for the ultimate objectives such as the rate of output growth, the inflation rate and the balance of payment objectives. In contrast, to this "one stage procedure" of monetary policy, in the 1960s the new theory of monetary policy which is called "the two stage procedure of monetary policy" introduced the concept of intermediate targets which lie in-between the instruments directly controlled by the monetary authorities and the ultimate objectives of the policy. The efficiency of the monetary policy in a two-stage procedure depends upon the close relationships between the policy instruments and the intermediate target, and also between the intermediate targets and the ultimate policy objectives. In recent years, central bankers from some countries, in conducting monetary policy, have paid increasing attention to controlling monetary aggregates as a mean of achieving the desired values of its ultimate objectives.
A resurgence of emphasis on money and its influence on the level of economic activity occurred in the decade of the sixties, which has also been supported by a great deal of empirical and theoretical researches. Foremost are the very extensive research findings by Milton Friedman and Anna Schwartz in their monumental work "A Monetary History of the United States 1867 - 1960" which concluded among others, "The changes in the behavior of the money stock have closely associated with changes in economic activity". On the same line of argument, Leonall C. Andersen and Yerry L. Yordan, in their research finding, came to the conclusion that the influences of changes in money stock have a strong, rapid and predictable effect on the rate of change of economic activity. Extending the Andersen-Yordan work over a longer period, Michel W. Keran found that monetary influence has dominated economic activity even in the period when financial and institutional factors were substantially different. These empirical results were derived from the economies of developed countries, especially United States.
"
1990
D104
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Pratomo
"Disertasi ini bertujuan meneliti dampak spillover sejumlah common shocks dalam konteks krisis global subprima terhadap pertumbuhan PDB ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina). Untuk tujuan itu, penulis mengembangkan model Global VAR atas dasar estimasi bayesian VARX dengan Minnesota priors. Penulis juga melakukan uji kausalitas Granger dengan prosedur Toda-Yamamoto untuk meneliti arah kausalitas variabel perdagangan vis-a-vis variabel keuangan dalam sistem yang terkointegrasi. Hasil generalized impulse response functions dari model GVAR menunjukkan dukungan adanya spillover. Shock penurunan pertumbuhan PDB AS menyebabkan penurunan pertumbuhan PDB negara-negara ASEAN-5 dengan besaran berbeda-beda. Peranan China meningkat dalam spillover ke negara-negara ASEAN-5. Atas dasar generalized forecast error variance decomposition, variasi dampak spillover di antara negara-negara ASEAN-5 itu sebagian terkait dengan perbedaan kontribusi faktor domestik. Terakhir, hasil uji kausalitas mengindikasikan dominansi variabel perdagangan terhadap variabel keuangan di sejumlah negara ASEAN-5.

This dissertation studies the spillover effects of commons shocks in the context of the subprime global crisis on the economic growth of the ASEAN-5 countries (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapore, and Philippines). For this purpose, this dissertation develops Global Vector Autoregressive (GVAR) model which is based on the bayesian VARX estimation under the Minnesota priors. This dissertation in addition employs the Granger causality test under the Toda-Yamamoto procedure to investigate the dominance of trade variables vis-a-vis financial variables under a cointegrated system. The generalized impulse response functions (GIRF) of the GVAR shows a strong evidence of spillover. A negative shock on the US GDP growth results in lower GDP growths of all ASEAN-5 countries but with varying degrees. China contributes more significantly to spillover to ASEAN-5 economies. Based on the generalized forecast error variance decomposition, the varying degrees of spillover impacts may partly be explained by the different contribution of domestic factors in respective ASEAN-5 countries. Meanwhile, the Granger-causality test indicates that trade variables dominate financial variabels in few ASEAN-5 countries."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2013
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Telisa Aulia Falianty
"Pembentukan suatu currency union adalah tahap terakhir dari langkah kebijakan menuju integrasi regional. Currency union biasa didefinisikan sebagai suatu area di mana mata uang tunggal beredar. Perdebatan mengenai adopsi dari common currency oleh negara-negara anggota ASEAN mulai bermunculan terutama sejak terjadinya krisis Asia 1997 dan setelah Euro menjadi kenyataan pada awal tahun 1999 dan tetap bertahan dengan baik sampai sekarang. Keinginan untuk membentuk currency union di Asia Timur dan ASEAN juga dipicu oleh semakin meningkatnya integrasi dalam perdagangan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA).
Hal-hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk mengadakan penelitian mengenai kemungkinan pembentukan currency union di ASEAN. Penelitian mengenai currency union pada umumnya dibagi menjaji tiga bagian besar, yaitu kemungkinan pembentukan dilihat dari beberapa prasyarat pembentukan currency union (properti dari Optimum Currency Area), penghitungan Indeks Optimum Currency Area (OCA Index), dan endogeneitas dari indikator OCA. Disertasi ini merupakan studi komprehensif dari ketiga bagian besar penelitian pembentukan currency union di ASEAN tersebut.
Hasil studi mengenai prasyarat pembentukan currency union (indikator OCA) menunjukkan bahwa negara yang optimal membentuk currency union adalah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Baik dengan menggunakan metode pairwise maupun dengan menggunakan metode clustering didapatkan kesimpulan yang sama bahwa tidak semua negara anggota ASEAN-5 optimal dalam membentuk currency union. Hanya tiga negara anggota ASEAN-5 yang optimal membentuk currency union, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand. Perhitungan indeks OCA juga menunjukkan hasil yang konsisten bahwa Singapura, Malaysia, dan Thailand layak untuk membentuk currency union karcna mcmiliki indeks OCA yang terendah.
Dua prasyarat OCA yang penling adalah korelasi shocks yang positif dan upah yang fleksibel. Dua prasyarat tersebut dibutuhkan sebagai konsekuensi dari currency union di mana nilai tukar antar negara anggota bersifat fixed. Dalam studi mengenai andogeneitas shocks dan upah menjadi variabel endogen. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan evidence bahwa terdapat endogeneitas dari czsynnnetric shocks sebagai prasyarat pembentukan currency union. Peningkatan dalam infra-industry trade dapat menurunkan asymmetric shocks di antara negara anggota. Sedangkan untuk upah ditemukan weak evidence bahwa terdapat endogeneitas dari upah sebagai prasyarat pembentukan currency union. Upah menjadi lebih prosiklus pada rezim nilai tukar yang lebih fixed.
Dengan ditemukannya evidence mengenai adanya endogeneitas dari asymmerric shocks maka terdapat harapan bagi pembentukan currency union untuk negara ASEAN-5. Negara ASEAN-5 perlu melakukan koordinasi dalam kebijakan ekonomi untuk lebih meningkatkan konvergensi dari perekonomiannya agar tercipta siklus bisnis yang lebih sinkron dan menurunkan asymmetric shocks. Salah satu dari kebijakan tersebut adalah mendorong peningkatan intra-industry trade antar negara anggota ASEAN-5. Peningkatan trade intensity yang disertai peningkatan intra-industry trade-lah yang akan menurunkan asymmetric shocks.
Negara Singapura, Malaysia, dan Thailand bisa segera mempersiapkan diri dengan lebih serius ke arah pembentukan currency union di antara mereka karena mereka relatif lebih siap secara ekonomi dibandingkan negara anggota ASEAN lainnya. Sedangkan untuk negara Indonesia dan Filipina, jika ingin bergabung dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand harus melakukan usaha yang lebih keras dalam rangka mencapai harmonisasi perekonomian dengan ketiga negara tersebut. Dengan memperbaiki kinerja ekonominya, diharapkan kedua negara dapat menurunkan OCA Index-nya dan meningkatkan benefit dari optimum currency area."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
D667
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rudi Purwono
"Perubahan (kenaikan) harga minyak internasional mempunyai dampak ekonomi yang besar pada negara pengimpor minyak ncto. Untuk melihat pengaruh perubahan harga minyak internasional pada perekonomian domestik maka diperlukan model yang mampu menangkap perilaku pelaku ekonomi yang mempunyai ekspektasi terhadap setiap perubahan. Sementara model makro ekonometri struktural tidak dapat digunakan untuk pembentukan kebijakan karena mengandung Lucas Critique. Disertasi ini menganalisis pengaruh perubahan harga minyak internasional pada variabel makroekonomi dan respon kebijakan moneter di Indonesia dengan menggunakan model Dynamic Stochastic General Equilibrium, Model makroekonomi ini adalah berdasarkan mikroekonomi dalam New Keynesian tradition. Model memasukan minyak untuk konsumsi rumah tangga dan faktor input dalam produksi, Parameter dalam model diestimasi melalui metode Bayesian dengan teknik simulasi Markov Chain Monte Carlo (MCMC). Metode ini mengkombinasikan prior information dan data historis. Parameter estimasi menunjukkan karakteristik perekonomian Indonesia. Perilaku rumah tangga dipengaruhi oleh cukup tingginya tingkat habit persistence dalam konsumsi, rendahnya clastisitas penawaran tenaga kerja, rendahnya elastisitas substitusi konsumsi produk minyak dan produk non-minyak, dan rendahnya elastisitas substitusi konsumsi barang-barang domestik dan barang-barang luar negeri. Produsen Iebih sering melakukan pengaturan harga ulang dibanding pengaturan kembali upah optimal dengan tingkat penyesuaian terhadap inflasi periode lalu untuk upah lebih besar daripada harga. Elastisitas substitusi tenaga kerja dan minyak dalam produksi dan elastisitas permintaan barang domestik kc luar negeri mempunyai nilai yang rendah. Selanjutnya, respon kebijakan moneter berupa interest rate reaction function (Taylor rule) menghasilkan parameter estimasi yang sesuai dengan Strategi kebijakan Bank Indonesia. Walaupun penelitian ini memiliki keterbatasan, model ini masih mampu memberikan simulasi impulse response untuk menjelaskan perilaku dinamis perekonomian dan menggambarkan mekanisme transmisi pengaruh perubahan harga minyak internasional di Indonesia.

The change (increase) of intcmational oil price causes immense economic impact to net oil-importer countries. In order to observe the influence ofthe change of international oil price in domestic economy, it is necessary to use a model which can contain the behavior of the agents who have expectation to every change. However, the model of structural macro econometric cannot be applied to construct policy for thc reason that it contains Lucas Critique. This dissertation analyzes the influence of the change of international oil price to the variables macroeconomic and the response of the monetaiy policy in Indonesia, using the model of Dynamic Stochastic General Equilibrium. This macroeconomic model is based on the microeconomic foundation in New Keynesian tradition, The model includes oil for household consumption and input factor in production, The parameter in the model is estimated by using Bayesian method with Markov Chain Monte Carlo (MCMC) simulation techniquc. This method combines prior information and historical data. Estimation parameter describes the characteristics of Indonesia's economy. The household behavior is affected by the moderately high level of habit persistence in consumption, the low elasticity of labor supply, the low elasticity of substitution between oil and non-oil consumption goods, and the low elasticity of substitution between domestic and Foreign consumption goods. Producers tend to instantaneously make pricing adjustment more fiequent than making wage re-optimizadon by way of amendment amount to the past inflation period for wage higher than price. The elasticity of substitution between labor and oil in production, and the elasticity of demands for domestic goods hom foreign countries are low. Subsequently, the response of the monetary policy in form of interest rate reaction function (Taylor rule) results the estimation parameter which is suitable to the policy strategy from Bank Indonesia. Despite the imperfection of this study, the model can still give impulse response simulation to explain dynamic behaviour of economy and to illustrate the transmission mechanism for the influence of the change of international oil price in Indonesia."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
D960
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Farida Indriani
"Metafora hubungan konsumen dengan merek telah mendominasi pemikiran pemasaran dan praktek. Meskipun demikian, masih ada keterbatasan penjelasan mengenai fenomena transgression dalam domain produk konsumsi, khususnya di tingkat merek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brand transgression terhadap hubungan konsumen dengan merek. Sebagai inspirasi, penelitian ini mengacu pada teori hubungan interpersonal, yang menekankan pada penilaian dari kesalahan dan keseriusan dampak dari brand transgression; serta teori keadilan distributif, yang mempertimbangkan prinsip keadilan dan keseimbangan antara manfaat dan biaya. Selain itu, efek dari kedekatan hubungan konsumen dengan merek juga sangat menarik untuk diteliti, karena potensinya dalam mempengaruhi brand behavioral intention.
Penelitian ini dilakukan pada tiga studi eksperimen. Studi pertama meneliti dampak dari brand transgression, brand relationship closeness dan kategori product involvement terhadap brand behavioral intention. Studi kedua meneliti dampak dari brand transgression, brand relationship closeness dan upaya pemulihan apology terhadap brand behavioral intention. Studi ketiga meneliti dampak dari brand scandal, brand relationship closeness dan upaya pemulihan brand recall terhadap brand behavioral intention. Hasil pada semua studi menunjukkan bahwa brand transgression, brand relationship closeness, kategori product involvement dan upaya pemulihan merupakan kunci untuk memahami perbedaan perilaku konsumen pada saat peristiwa brand transgression.

Although the consumer-brand relationships metaphor dominates contemporary marketing thought and practice, surprisingly little empirical work has been conducted on transgression phenomena in the consumer products domain, particularly at the level of the brand. The aim of this research was to investigate how brand transgression influence consumer relationships with the brand. For inspiration, this research draws on interpersonal relationship theory, which highlights judgments of culpability and seriousness of the brand transgression, and distributive justice theory, which considers the fairness and equity-balance of benefits and costs. Furthermore, the effects of brand relationship closeness also become especially interesting in this regard, due to their potential to influence brand behavioral intention.
This research was conducted on three experiment studies. First study examines the impacts of brand transgression, brand relationship closeness and product involvement on brand behavioral intention. Second study examines the impacts of brand transgression, brand relationship closeness and apology on brand behavioral intention. Third study examines the impacts of brand scandal, brand relationship closeness and brand recall on brand behavioral intention. Across all of these studies, results show that brand transgression type, brand relationship closeness, product involvement and recovery effort are a key construct to understanding the differences in behaviors following brand transgression.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rifelly Dewi Astuti
"Kontribusi UKM pada perekonomian Indonesia mencapai 60%. UKM memiliki kekuatan dan keterbatasan yang berbeda dengan perusahaan besar. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mencari tahu cara memaksimalkan kinerja pemasaran UKM dengan menganalisis dimensi entrepreneurial marketing dan kelompok strategi pemasaran. Berdasarkan data dari 130 UKM di Indonesia, studi ini berhasil mengidentifikasi tujuh dimensi entrepreneurial marketing dan lima kelompok UKM berdasarkan strategi pemasarannya. Dengan menggunakan profile deviation pada concept of fit, ditemukan bahwa kelompok UKM pemasar tradisional yang dikombinasikan dengan orientasi proaktif akan menghasilkan pertumbuhan pasar yang maksimum, sedangkan kelompok UKM pemasar masal dengan orientasi yang terfokus pada pelanggan, akan menghasilkan profit yang paling maksimum.

SME contribute to 60% of Indonesia’s GDP, with its strengths and limitations, SME differ from established companies. The aim of this study is to analyse how to maximise SME marketing performance by combining its entrepreneurial marketing dimensions and marketing strategy clusters. Based on 130 Indonesia SMEs, this study identified seven entrepreneurial marketing dimensions and five marketing strategy clusters. The traditional marketers cluster combined with proactive orientation will get the maximum market growth, while the mass marketer cluster combined with customer focus orientation will result in maximising profitability."
Depok: 2017
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suroso
"Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja jangka panjang saham pasca-IPO. Faktor-faktor yang diduga berdampak pada kinerja saham tersebut adalah: optimisme dan divergensi opini investor pada awal perdagangan di pasar sekunder, tindakan oportunis emiten serta kondisi ekonomi dan lingkungan usaha pada waktu pelaksanaan IPO. Optimisme investor pada awal perdagangan di pasar sekunder terbukti berdampak negatif terhadap kinerja jangka panjang saham pasca-IPO. Faktor yang terbukti berpengaruh pada optimisme tersebut adalah rasio penjualan terhadap aktiva tetap perusahaan. Dampak divergensi opini investor dan tindakan oportunis emiten tidak terbukti dalam penelitian ini. Kondisi ekonomi dan lingkungan usaha pada waktu pelaksanaan IPO terbukti berpengaruh pada kinerja jangka panjang saham pasca-IPO. Dalam penelitian ini ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kinerja saham yang IPO pada kondisi stabil, dengan yang IPO pada kondisi krisis dan atau recovery. Adanya perbedaan kinerja saham pasca-IPO antara perusahaan di sektor riil, perbankan dan keuangan nonbank tidak terbukti dalam penelitian ini."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
D555
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>