Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 57 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lia Wanadriani Santosa
"Keterkaitan perdesaan dan perkotaan memunculkan satu konsep pembangunan perdesaan yang dikenal dengan nama pengembangan kawasan agropolitan. Masuknya kawasan agropolitan di perdesaan menawarkan ide dalam pertanian petani. Pada kawasan agropolitan Kampung Cengal, ide ini diwujudkan dalam aturan teknik bertanam secara modern pada manggis dan tata niaga penjualan manggis yang disebut dengan SOP penanaman manggis. Pada kenyataannya, kedua ide tersebut diperkenalkan pada petani yang telah memiliki mekanisme sendiri dalam bertanam manggis dan bertata niaga. Melalui pendekatan kualitiatif yang bersifat deskriptif, penelitian ini bermaksud untuk memahami bagaimana petani melalui budaya bertaninya menghadapi ide dari pengembangan kawasan agropolitan.
Hasil penelitian menemukan bahwa petani di Kampung Cengal mempertahankan mekanisme bertanam melalui perwujudan kebun rancagenya sekalipun telah menerima ide teknik bertanam manggis sesuai SOP dan memahami tujuan diperkenalkannya teknik tersebut. Pun demikian halnya dengan tata niaga penjualan manggis, mekanisme melalui tengkulak masih dipertahankan. Prinsip moral merupakan dasar pertimbangan petani untuk mempertahankan kedua hal ini. Sekalipun demikian, bukan berarti ide dalam bertanam manggis secara modern tidak diadopsi oleh petani, karena kenyataan di lapangan menujukkan bahwa teknik bertanam manggis secara modern diadopsi, namun tidak sepenuhnya.

Rural-Urban linkages brought out one concept of rural development which known as agropolitan area. This concept gave some ideas for peasants' agriculture. From Agropolitan Area of Cengal Village, this ideas shaped into modern planting technique of mangosteens and marketing system of mangosteens which known as SOP Penanaman manggis. The fact is, that ideas has introduced for peasants who have self mechanism of planting and system of marketing, include mangosteens. With qualitative descriptive approach, this research is stand to understanding how peasants with his agriculture face up the ideas from agropolitan.
This research found that the peasants in Cengal Village defends with their mechanism which shaped into rancage's garden although accepted modern technique of planting and understood the purpose of this technique. The same things happened to marketing system of mangosteens. The mechanism of market with middleman is defended. Moral is the reason of this behavior which internalized in peasant's rancage. But, it's not means that peasant not really adopting this modern technique. This research found that some of them adopted this modern technique although not overall.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ayuthia Nathayya Nayanggita
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2011
S8239
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Rivai
"Pengobatan alternatif denganjumlah dan nama yang beragam merupakan realita yang ada di masyarakatsejak dahulu. Keberadan pengobatan alternatif di masyarakat memang pada masa pembangunan yang mementingkan layanan sarana seperti Puskesmas dan Posyandu sepertitidakterdengar. Pendirian sarana kesehatanoleh pemerintah yang selama bertahun-tahun dilakukan untuk menjangkau masyarakat agar dapat menjangkau akses layanan kesehatan ternyata tidak menyebabkan keberadaan pengobatan alternatif hilang. Krisis moneter yang berlangsung pada tahun 1997 merupakan contoh bagaimana keberadan pengobatan alternatif justru berkembang dan populer. Di tengah perkemangandan popularitas pengobatan-pengobatan alternatif yang adaternyata ada sebuah pengobatan yang dalam perkembangannya didasari oleh semangatuntuk menjalankan kembali ajaran-ajaran Islam. Semangat untuk mempromosikan ajaran Islam dalam bidang pengobatankepada masyarakatinilahyangdapat menjadi motivasiuntukterus bertahan dan berkembang. Pengobatan itu adalah bekam.
Dalam penelitian ini, Bekam dan Ruqyah Center (BRC) Jakarta merupakan contoh sebuah lembaga pengobatan yang mendasarkan pengobatannya dengan klaim sebagai lembaga yang melaksanakanpengobatan sesuai sunnah ajaran Islam. Niat ini nampaknya cukupberalasan, sebab BRC bukan hanya sekedar hadir di masyarakat tetapijuga sebagai wujud dan upaya mereka untuk menjadi lawanpengobatan yang menurut mereka tidak Islami dan menyimpang dari ajaran Islam. Peneliti mendapatkan bahwa dalam perkembangannya mereka melakukan suatu upaya inovasi yang dalamcontoh dalam tiga informan bukan hanya mampu mendapat pasien pelanggan dari kalangan Muslim saja, namun juga kalangan non-muslim sebagai pasien setia mereka.
Alternative medicine with varying number and its name is a reality inthe society. The availability of alternative treatment in the community was at the time of development that emphasizes services of healthfacilities by the government over the years done to reach the public in order to reach access to health services does not make the existence of alternative medicine is lost. The monetary crisis which took place in 1997 is an example of how the existence ofalternative medicinebecame popular. In the popularity of some alternative treatments for some people there is one of them which has a spirit to promote Islamic teachings in the field of the treatment. That spirit take a momentwhen reformation era which jus has started and always show their existence in society. The treatment is bekam (cupping).
Research study by mein Bekam and Ruqyah Center (BRC) in Jakarta in this case is an example of an institution that bases its treatment with bekam. As an institutionwhichclaimsimplementappropriatetreatment Sunnah Islamic teachings seems quite reasonable, becausethe BRC is not just present in society but also as beings and their attempts to become the opposite treatment that they think is un-Islamic and deviated from Islamic teachings. Researchers found that in their efforts to promote bekam assharia are not only able to receive patients from Muslim customers, but also among non-Muslims as their patients.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2010
S8276
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Bahri Kurniawan
"Politik dan kekerabatan merupakan dua konsep yang saling terkait dalam praktek politik yang terjadi di masyarakat. Pada masyarakat yang segmenter keterkaitan tersebut semakin kuat dan studi Antropologi Politik memiliki peran dalam menjelaskan bagaimana keterkaitan tersebut melalui data-data yang didapat di lapangan. Dalam kehidupan politik masyarakat desa, pemimpin lokal memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Meskipun tidak memiliki landasan hukum atas kekuasaannya, pemimpin lokal tetap merupakan sosok yang secara politis kuat dalam masyarakat. Beberapa hal diluar unsur legalitas formal menjadikan pemimpin-pemimpin lokal memiliki landasan yang kuat sehingga pemimpin lokal mampu bertahan ditengah perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
Kepala Parit sebagai sosok pemimpin lokal dalam komunitas parit di desa sungai besar merupakan contoh bagaimana pemimpin lokal dapat bertahan ditengah berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Kepala Parit mampu menemukan posisi dalam masyarakat pada setiap momentum perubahan yang terjadi dalam masyarakat tanpa harus kehilangan peran dan kekuasaannya dalam masyarakat komunitas parit. Kemampuan Kepala Parit dalam mempertahankan posisi di masyarakat tidak terlepas dari keberadaan kelompok kekerabatan dominan di belakang sosok kepala parit. Keberadaan Kelompok kekerabatan dominan menjadi penopang kekuasaan bagi sosok kepala parit dan menjadi modal penting dalam proses praktek politik di komunitas parit.

Politic and kinship are two concepts that are intertwined in the political practice that occur in the society. In a society which are segmenter, its intertwined are stronger, and political anthropology studies play a role in explaining how these linkages through the data which are obtained in the field. In a rural political lives, local political leaders has a great influence to the political societies live. Eventhough they don?t have a formal legitimation, local leaders still is a figure who are powerful actors in local political societies. Some of the things outside the formal legal elements, make local leaders have a strong foundation, so that local leaders are able to survive amid the changes taking place in society.
Head of Parit as a local leader personage at the Sungai Besar village is an example how local leader can survive in the middle of many change that occur in the society. Head of Parit were able to find a position in society at any momentum changes that occur in society, without having to lose its role and power in Parit communities. Head of Parit ability to keep their authority in the middle of dynamic society can?t separated from the existance of dominant kinship group behind of local parit head figure. The existence of dominant kin group became a power back up to head of parit personage and became an important aspect in the process of political practice parit comminities.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
S43865
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Sekar Wangi
"Skripsi ini membahas fenomena recreated tradition atas kain cual yang dipercaya berasal dari Kota Muntok pada abad ke-16. Recreated tradition dilakukan dengan tujuan pembentukan identitas di Kabupaten Bangka Barat. Pemerintah daerah setempat berusaha untuk menjadikan kain cual dikenal kembali di kalangan masyarakatnya dan memperomosikan kain cual ke kalangan masyarakat yang lebih luas. Hal ini menjadi penting setalah Kabupaten Bangka Barat berbentuk wilayah administratif yang otonom di masa otonomi daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat membuat beberapa program yang telah diterapkan beberapa tahun belakangan untuk mencapai tujuan tersebut, namun hal itu sulit terlaksana karena komposisi masyarakat Kabupaten Bangka Barat masa lalu sangat berbeda dengan masa kini. Selain itu, tren berbusana di wilayah Kabupaten Bangka Barat pun telah berubah sehingga usaha untuk menciptakan kembali kain cual merupakan sebuah nostalgia yang sulit terlaksana.

This undergraduate thesis examines the phenomenon of "recreated tradition" in regards to the kain cual (a traditional textile from Banka) which is believed to have come from Muntok in the 16th century. This textile has been utilized by the local government with the purpose of establishing identity in the West Bangka area. The local government have attempted to make kain cual popular again in local society and promote kain cual to people outside the area. This became especially important after West Bangka became an autonomous administrative region within the regency. The local government of West Bangka has made some programs for supporting this purpose, but these has proven problematic due to the differences in the composition of society in West Bangka in the past compared to now. Furthermore, trends in fashion have transformed over time and so the efforts by the local government in “recreating tradition” through kain cual seem nostalgic rather than something practically and/or culturally important to the local populace.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S52761
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Indra Kresna Wijaya
"Pada tahun 1998, terbentuk sebuah kelompok petani yang menamai diri mereka sebagai Kelompok Tani Pramuka Ujung Rawasari. Kelompok tani ini menempati sebuah lahan di wilayah Pramuka dan menjalankan praktik pertanian kota seperti di wilayah lain di Jakarta. Satu hal yang menarik adalah,mereka menempati lahan yang rentan karena masalah kepemilikan. Kelompok tani ini mendapatkan akses pengolahan lahan dari pihak Pemda kemudian menjalankan access control atas lahan yang mereka kuasai dengan cara mereka sendiri. Sebagai bentuk access maintenance mereka menjalin hubungan dengan pihak Pemda, bertujuan memelihara akses yang sudah dimiliki. Access maintenance tersebut merupakan sebuah mekanisme patronclient yang melibatkan pihak Pemda (pemberi akses) dan penguasa lahan (para petani). Pada akhirnya, access control dan access maintenance dilakukan untuk memastikan kegiatan pertanian kota di kebun Pramuka tetap berjalan. Kasus Kelompok Tani Pramuka Ujung Rawasari menunjukan fungsi lain dari pertanian kota, yakni sebagai cara untuk memantapkan kedudukan atas penguasaan lahan. Penelitian skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam.

Back in 1998, a farmer groups who called Pramuka Ujung Rawasari Farmer Group formed. This group occupy a land in the region of Pramuka, they run agricultural practice like in other area in Jakarta. one thing that's interesting is they occupied the issue of ownership of land which is vulnerable for this group. This group of farmers gets access to land from local government then run processing access control over land that they mastered by themselves. As a form of access maintenance they strained a relationship with the local government, for the purpose of maintaining the access they already owned. Access maintenance is a patron-client mechanism involving local government (as a giver of access) and land master (the farmers). In the end, access control and access maintenance is performed to ensure that the activities of the urban agriculture keep running on Pramuka. The case of Pramuka Ujung Rawasari Farmer Group indicated the other function of urban agriculture, which is to establish a notch over the land tenure. This thesis research uses qualitative approach with the collecting data through observation and in-depth interviews techniques."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S53833
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudha Hendra Pratama
"ABSTRAK
Eksistesi teritorial adat adalah hal penting bagi kelangsungan hidup suatu komunitas adat. Masyarakat adat yang tinggal di kawasan hutan memanfaatkan hutan sebagai tempat tinggal dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di dalam hutan untuk kelangsungan hidup mereka. Dalam penelitian ini akan membahas mengenai strategi masyarakat adat Lindu untuk mempertahankan teritorialnya dengan melakukan reclaim wilayah adat. Permasalahan yang dihadapi masyarakat adat Lindu adalah klaim negara pada kawasan mereka. Klaim negara pada wilayah adat ditunjukkan dengan pendirian Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) serta rencana pembangunan PLTA Lindu. Praktik teritorialisasi dan developmentalisme di kawasan Lindu semakin melemahkan kuasa masyarakat adat Lindu atas teritorialnya. Berbagai strategi dilaksanakan masyarakat adat Lindu dengan didampingi oleh LSM untuk melawan negara dan mempertahankan wilayah adat mereka dan mendapat pengakuan kawasan hutan adat. Strategi perlawanan yang dianggap paling ampuh adalah menggunakan ?senjata? yang sama dengan negara untuk melakukan klaim wilayah, yaitu dengan membuat peta. Pemetaan partisipatif dipilih sebagai sebagai upaya melakukan reclaim wilayah adat. Pemetaan partisipatif dianggap cara yang paling tepat karena melibatkan banyak pihak dan bisa mengakomodir kepentingan para pihak.

ABSTRACT
The existence of adat territorial is a very important thing to maintain the life of an adat community. Masyarakat adat who lives around the forest take advantage the forest as a living space and take advantage the resources to survive. This research I will discuss masyarakat adat Lindu?s strategies to maintain their territorial by reclaiming the wilayah adat. The problem that is faced by Masyarakat Adat Lindu is the state?s claim of their territory. The state?s claim of wilayah adat is shown by the establishment of Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) and also the plan to build PLTA Lindu. These territorialisations and developmentalism in Lindu are weaken Masyarakat Adat Lindu?s powers of their territory. Various strategies are done by Masyarakat Adat Lindu with the help of NGO to fight the state and to maintain their territory and to get an acknowledgement of ?hutan adat? territorial. The most effective strategy is to utilize the same ?weapon? as the state to claim the territory which is by creating a map. Participatory mapping is chosen as an attempt to reclaim adat territorial. Participatory mapping is considered to be the most effective way because it includes many stakeholder and can be accomodated the interest of stakeholders.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
S61923
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muamar Katon Dipoyudo
"ABSTRAK
Identitas merupakan seseuatu yang relasional dan  situasional. Dalam konteks ini, identitas orang Jawa di Desa Bagelen, Lampung  terbentuk dari sebuah relasi sosial antar etnik dan penggunannya akan berubah-rubah sesuai dengan situasi yang ia hadapi. Memahami relasi sosial antar etnik, artinya kita tidak melihatnya secara objektif dan berusaha menempatkan aktor dari individu yang sedang dalam relasi untuk membangun identitas Jawanya. Skripsi ini akan mengkaji bagaimana orang Bagelen membentuk dan mempertahankan identitas Jawanya di tengah kedudukannya di Lampung. Identitas Jawa di Bagelen terbentuk dari sebuah kontak etnik yakni relasi orang Bagelen dengan orang Lampung yang muncul dalam konteks ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Proses konstruksi identitas ini dimanifestasikan dalam bentuk dikotomisasi dan stereotip  yang terjadi antara orang Jawa dan Lampung. Menarik untuk dilihat, bahwa identitas orang Jawa juga dikonstruksi melalui external ascription  yang diciptakan oleh orang Lampung sebagai suatu syarat untuk melegitimasi orang Bagelen adalah orang Jawa. Begitu pun sebaliknya, orang Jawa memperkuat identitasnya, melalui etnosentrisme dan stigmatisasinya terhadap orang Lampung untuk bisa melakukan self identification dan self claim sebagai orang Jawa. Atribut dan ideologi kultural juga bermain secara rumit dalam negosiasi identitas antara siapa yang disebut orang Jawa dan Lampung sehingga pada kasus ini identitas adalah gabungan dari elemen instrumental dan non-instrumental yang terintegrasi secara kompleks.

ABSTRACT
Identity is something that is relational and situational. In this context, Javanese identity in Bagelen Village, Lampung, is formed from a social relationship between ethnic groups and its use will change according to the situation that it faces. Understanding social relations between ethnic groups means that we do not see them objectively and try to place actors from individuals who are in relations to build their Javanese identities. This thesis will examine how the Bagelen people form and maintain their Javanese identity in the middle of their position in Lampung. Javanese identity in Bagelen was formed from an ethnic contact namely the relation of the Bagelen people to Lampung people who emerged in economic, social, political and cultural contexts. The process of constructing this identity is manifested in the form of dichotomization and stereotypes that occur between Javanese and Lampung people. It is interesting to see that Javanese identity was also constructed through external ascription created by Lampung people as a condition to legitimize Bagelen people as Javanese. Likewise, on the contrary, the Javanese strengthen their identity, through ethnocentrism and stigmatization of Lampung people to be able to carry out self-identification and self-claim as Javanese. Cultural attributes and ideologies also play intricately in identity negotiations to determine who is called Javanese and Lampung so that in this case identity is a combination of instrumental and non-instrumental elements that are complexly integrated."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elvi Suryani
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk memberikan pemahaman terkait konstruksi pengetahuan dan stereotip tentang magang di Jepang, realitas dan pengalaman yang signifikan, serta strategi individu maupun kolektif dalam menghadapi permasalahan dan perbedaan realitas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode penelitian Antropologi, yaitu melakukan observasi partisipan dan wawancara mendalam dengan trainee asal Indonesia yang bekerja di pabrik material baterai Kichinan, Kitakyushu. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan trainee mengenai Jepang dan magang di Jepang dikonstruksi oleh berbagai pihak yang memanipulasi pengetahuan untuk kepentingan masing-masing, sehingga pengetahuan yang telah dikonstruksi kurang relevan dengan realitas trainee. Selama menghadapi realitas hidup dan magang di Jepang, trainee terus melakukan proses belajar, mengubah dan memperbarui pengetahuannya, hingga pengetahuan tersebut dapat dijadikan acuan dalam menentukan strategi. Para trainee menggunakan strategi kolektif berupa solidaritas berdasarkan hubungan senior-junior. Di samping itu, masing-masing mereka memiliki strategi individu untuk mengatasi berbagai permasalahan selama hidup dan magang di Jepang.

ABSTRACT
This research was conducted to complement another research about Indonesian trainees, providing comprehensive and deep understanding of the construction of knowledge and stereotypes of internship in Japan, reality and significant experiences, and strategies by both individuals and collective in dealing with problems and differences of reality. This research used qualitative approach by Anthropological research methods, which is doing participant observation and indeepth interviews with Indonesian trainees who work in the Kichinan battery material factory, Kitakyushu. The results showed that knowledge of trainees about Japan and internship in Japan were constructed by various parties who manipulated knowledge for their own interests, so the knowledge which was constructed is not relevant to the trainees. While confronting the realities of life and internship in Japan, trainees continued the process of learning, changing and reforming of their knowledge, so that knowledge can be used to determining proper strategies. The trainees used a collective strategy consisting of solidarity based on senior-junior relations. In addition, each of them has an individual strategy to resolve various problems during life and internships in Japan."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahrudin
"Skripsi ini menguraikan pranata penguasaan tanah pada kelompok petani tambak di Kelurahan Marunda Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Fokus perhatian dalam skripsi ini pada pembentukan dan pemeliharaan pranata penguasaan tanah pada kelompok petani tambak. Pranata penguasaan ini mengatur bagaimana suatu tanah dimanfaatkan dan dikuasai oleh petani tambak. Pranata penguasaan ini terwujud dalam suatu mekanisme di antara aktor-aktor yang terlibat dalam penguasaan tanah.
Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa masalah tanah di kota bukan hanya menyangkut hubungan penduduk dengan tanah, melainkan adanya hubungan atau relasi kekuasaan dalam memanfaatkan tanah di kota. Hubungan yang terjalin berlandaskan pada hubungan patron-klien. Hubungan patron-klien ini mampu memperlihatkan corak hubungan vertikal maupun hubungan horisontal. Hubungan vertikal terjadi di antara pemilik tanah, perantara, dan petani tambak. Sementara itu, hubungan horisontal terjadi di antara sesama petani tambak dan warga sekitar.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan pengamatan terlibat. Analisa yang diterapkan dalam skripsi ini adalah lebih berlandaskan pada hasil-hasil kerja lapangan (field work) yang kemudian dapat disebut sebagai analisa terhadap data primer. Namun demikian, pada bagian-bagian tertentu, kajian ini dilengkapi pula dengan analisa terhadap data sekunder.

This thesis described about the institution of land tenure in a group of fish farmer in Marunda, sub-district Cilincing, North Jakarta. The main focus of this thesis is the creation process and the value-preserved for land tenure in that group. This institution of land tenure maintained how the land has its value in use and its authority for the fish farmer. This institution is showed in a mechanism which involved many actors / subjects.
The result of my research shows that problems of the land not only invoke the relation between society and land, but also the power relation for landmaintaining in the city. This relation grows based on the relation ?patron-client?. This kind of relation can really show the variety of vertical and horizontal relationship. Vertical relationship happens between the owner of land, mediator, and the fish famer. Mean while, horizontal relationship is the relation between the fish farmer and society.
Method used in the research is quality method with deeper observation and interview. The analysis applied in this thesis is based on the field works called by primer data analysis. But in certain part, the description also completed by the secondary data analysis.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2011
S1406
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>