Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Simamora, Laura Sendy
"ABSTRAK
Latar belakang: Kepatuhan terhadap pengobatan multidrug therapy (MDT) merupakan
salah satu kunci utama keberhasilan terapi penyakit kusta. Kepatuhan terhadap
pengobatan akan meminimalkan risiko relaps, mencegah resistensi obat, serta
menurunkan risiko kejadian reaksi kusta dan disabilitas. Untuk memahami perilaku
pengobatan, faktor-faktor penyebab ketidakpatuhan pengobatan, serta untuk efektivitas
usaha meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien, diperlukan penggunaan suatu alat
yang akurat dan praktis secara rutin dalam mengukur kepatuhan pengobatan. Kuesioner
penilaian mandiri untuk menilai kepatuhan pengobatan merupakan metode yang mudah
dilakukan, singkat, nyaman dan dapat diterima pasien, murah, serta dapat memberi
informasi mengenai perilaku dan kepercayaan pasien terhadap pengobatan yang dijalani.
Hingga saat ini belum ada kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya dalam
menilai kepatuhan terhadap pengobatan MDT pada pasien kusta.
Tujuan: Menyusun kuesioner penilaian mandiri yang valid dan reliabel untuk evaluasi
kepatuhan terhadap pengobatan MDT pasien kusta tipe multibasiler.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian metode campuran, yaitu tahap
pertama kualitatif dan tahap kedua kuantitatif. Tahap pertama terdiri atas tahap
pengembangan instrumen dan tahap pre-test instrumen. Tahap pengembangan instrumen
melibatkan 10 orang pakar dengan menggunakan 4 putaran metode Delphi. Butir
penilaian yang dianggap relevan adalah yang memenuhi skala Likert 4-5 oleh minimal
75% pakar atau yang memiliki skor penilaian >3,75. Kami melakukan pre-test instrumen
kepada 10 orang subjek dan kuesioner direvisi jika diperoleh hasil yang tidak valid.
Setelah mendapatkan set instrumen yang valid dan reliabel, dilakukan tahap kedua yaitu
uji coba instrumen kepada 100 orang subjek di 4 fasilitas kesehatan (RSUPN dr. Cipto
Mangunkusumo, RSUP Fatmawati, RS Sitanala, Puskesmas Kecamatan Cakung).
Hasil: Pada uji validitas internal diperoleh 9 butir penilaian yang valid yang mewakili 9
dimensi penilaian, dengan nilai koefisien korelasi masing-masing butir penilaian >0,3,
dan reliabilitas-Cronbach sebesar 0,723. Pada uji validitas eksternal diperoleh 3 butir
penilaian yang tidak valid. Instrumen yang dihasilkan memiliki sensitivitas 88,46% dan
spesifisitas 78,37%. Berdasarkan penilaian kuesioner, dari 100 orang subjek diperoleh
61% subjek dengan kepatuhan baik dan 39% subjek dengan kepatuhan buruk terhadap
pengobatan MDT.
Kesimpulan: Telah dihasilkan sebuah instrumen untuk evaluasi kepatuhan terhadap
pengobatan MDT yang valid dan reliabel, yang terdiri dari 9 dimensi dan 9 butir
penilaian.
"
2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Sagung Seto, 2017
610.7 PAN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Siagian, Joyce Novelyn
"ABSTRAK
Pendahuluan: Kusta merupakan penyakit menular yang belum sepenuhnya dapat
dikendalikan, dan menjadi masalah kesehatan masyarakat karena cacat yang ditimbulkan,
salah satunya akibat reaksi kusta. Terapi utama untuk reaksi kusta adalah kortikosteroid,
dalam dosis standar 12 minggu sesuai rekomendasi WHO dan Kemenkes RI. Dengan
terapi standar ini, kesembuhan dapat tidak tercapai dan sering terjadi rekurensi, sementara
durasi pemberian yang lama diduga dapat memberikan perbaikan klinis lebih baik serta
bertahan lebih lama. Bukti efikasi kortikosteroid pada reaksi kusta masih kurang, dan
dosis optimal serta lama terapi yang dibutuhkan sangat bervariasi. Di sisi lain, kebutuhan
akan kortikosteroid dosis tinggi jangka panjang menimbulkan kesulitan menghindari efek
samping, mencakup hampir semua sistem organ. Dengan adanya perbedaan penetapan
durasi pemberian kortikosteroid pada reaksi kusta, sementara penggunaan jangka panjang
cenderung meningkatkan efek samping, maka diperlukan analisis perbedaan efektivitas
terapi dan efek samping antara kortikosteroid 12 minggu dengan >12 minggu.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain kohort
retrospektif yang membandingkan efektivitas terapi dan kejadian efek samping antara
penggunaan kortikosteroid 12 minggu dengan >12 minggu pada pasien kusta dengan
reaksi, melibatkan seluruh pasien baru kusta dengan reaksi tanpa batasan usia, yang
berobat ke RSCM dan Puskesmas Cakung selama periode 1 Januari 2015 sampai 31
Desember 2017. Data sekunder dikumpulkan dari rekam medik, dan pengamatan
dilakukan sampai Desember 2018. Efektivitas terapi dinilai dari perbaikan klinis hingga
kortikosteroid dapat diturunkan bertahap dan dihentikan, tanpa ada rekurensi dalam 3
bulan setelah siklus pertama selesai. Efek samping dinilai dari seluruh efek samping
terkait kortikosteroid yang tercatat pada rekam medik.
Hasil: Dari 195 subjek, 57 (29.2%) menggunakan kortikosteroid selama 12 minggu, dan
138 (70.8%) menggunakannya selama >12 minggu. Efektivitas terapi berupa perbaikan
klinis tanpa rekurensi selama 3 bulan terjadi pada 38 (66.7%) pasien kelompok 12 minggu
dan 106 (76.8%) pasien kelompok >12 minggu (RR 0.604 dengan IK 95% 0.307 1.189,
p 0.143). Dari 145 subjek, efek samping kortikosteroid terjadi pada 12 (31.6%) pasien
kelompok 12 minggu dan 70 (65.4%) pasien kelompok >12 minggu (RR 0.244 dengan
IK 95% 0.111 0.538, p<0.001). Dari total 171 kejadian efek samping yang timbul,
37.4% adalah efek samping ringan berupa dispepsia, kelainan kulit dan lipodistrofi,
sementara 62.6% adalah efek samping berat berupa gangguan neuropsikiatrik, kelainan
mata, penyakit kardiovaskular, perdarahan saluran cerna, kelainan metabolik-hormonal,
serta reaktivasi infeksi.
Kesimpulan: Tidak ada perbedaan efektivitas berupa perbaikan klinis tanpa rekurensi
selama 3 bulan, antara penggunaan kortikosteroid 12 minggu dengan >12 minggu,
sementara efek samping yang timbul berbeda signifikan, yakni durasi pemberian yang
lebih panjang menimbulkan kejadian efek samping 4 kali lebih banyak.

ABSTRACT
Introduction: Leprosy is an infectious disease that has not been fully controlled, and has
become a public health problem because of the defects caused, one of which is a leprosy
reactions. The main therapy for leprosy reactions is corticosteroids, in a standard 12
weeks dose according to WHO recommendations and the Indonesian Ministry of Health.
Through this standard, therapy healing can not be achieved and recurrence often occurs,
while long duration of administration thought to provide better clinical improvement and
last longer. Evidence related to the efficacy of corticosteroids in the leprosy reactions is
still lacking, and the optimal dose and duration of therapy needed varies greatly. On the
other hand, the need for long-term high-dose corticosteroids makes it difficult to avoid
adverse effects, covering almost all organ systems. With the differences in the duration
of corticosteroid administration in leprosy reactions, while long-term use tends to increase
adverse effects, an analysis of the differences in therapeutic effectiveness and adverse
effects between corticosteroid use for 12 weeks and >12 weeks is needed.
Method: This study is an observational analytic study with a retrospective cohort design
that compares the effectiveness of therapy and the incidence of adverse effects between
corticosteroid use for 12 weeks and >12 weeks in leprosy patients with reactions,
involving all new leprosy patients without age restriction, who seek treatment at RSCM
and Puskesmas Cakung during the period of January 1, 2015 to December 31, 2017.
Secondary data was collected from medical records, and observations were carried out
until December 2018. Effectiveness of therapy was assessed from clinical improvement
to corticosteroids can be gradually reduced and stopped, without recurrence within 3
months after the first cycle was completed. Adverse effects were assessed from all
corticosteroid-related side effects recorded in the medical record.
Result: Of 195 subjects, 57 (29.2%) used corticosteroids for 12 weeks, and 138 (70.8%)
used it for >12 weeks. The effectiveness of therapy in the form of clinical improvement
without recurrence for 3 months occurred in 38 (66.7%) patients in the 12 weeks group
and 106 (76.8%) patients in the >12 weeks group (RR 0.604 with 95% CI 0.307 - 1.189,
p 0.143). Of 145 subjects, corticosteroids adverse effects occurred in 12 (31.6%) patients
in the 12 weeks group and 70 (65.4%) patients in the >12 weeks group (RR 0.244 with
95% CI 0.111-0.538, p <0.001). Of the total 171 occurrences of adverse effects, 37.4%
were mild such as dyspepsia, skin disorders and lipodystrophy, while 62.6% were severe
in the form of neuropsychiatric disorders, eye disorders, cardiovascular disease,
gastrointestinal bleeding, metabolic-hormonal disorders, and reactivation of infection.
Conclusion: There is no difference in effectiveness in the form of clinical improvement
without recurrence for 3 months, between corticosteroid use for 12 weeks compared with
>12 weeks, while the adverse effects that arise differ significantly, namely the longer
duration of administration causes 4 times more events."
2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library