Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Susbantarsih
"Ruang lingkup dan Cara penelitian : Hormon steroid telah lama digunakan sebagai alat kontrasepsi pada wanita. Didasarkan pada keberhasilan penggunaan hormon ini pada wanita, maka sekarang sedang dikembangkan untuk digunakan pada pria. Akan tetapi, dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan hormon steroid khususnya progestogen pada wanita dapat meningkatkan produksi radikal bebas di dalam tubuh. Diduga penggunaan hormon steroid pada pria, juga akan meningkatkan radikal bebas. Bila terjadi peningkatan radikal bebas, diharapkan pemberian vitamin E sebagai antioksidan dapat mencegah peningkatan radikal bebas tersebut. Untuk itu, dilakukan penelitian dengan menggunakan model hewan coba yaitu tikus jantan. Untuk penentuan radikal bebas, parameter yang diukur adalah kadar peroksida lipid secara spektrofotometris pada panjang gelombang 531 rim, dan kadar glutation pada panjang gelombang 412 am. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam anova dua faktorial, sebelumnya data diuji normalitasnya dan homogenitasnya.
Hasil dan kesimpulan : Penyuntikan kombinasi hormon TE & DMPA pada tikus jantan tidak meningkatkan kadar peroksida lipid plasma darah (P>0,05). Pemberian vitamin E pada tikus jantan yang disuntik kombinasi hormon TE & DMPA, tidak menurunkan kadar peroksida lipid plasma darah (P>0,05). Pemberian vitamin E pada tikus jantan yang disuntik kombinasi hormon TE & DMPA, dapat mempertahankan kadar GSH plasma darah (P>0,05). Dapat disimpulkan bahwa pemberian vitamin E pada tikus jantan yang disuntik dengan kombinasi hormon TE & DMPA, tidak berpengaruh terhadap kadar peroksida lipid tetapi dapat mempertahankan kadar glutation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Trimar Handayani
"ABSTRAK
Mitokondria biogenesis dipengaruhi oleh peroxisome proliferator-activated receptor gamma coactivator-1α (PGC-α) yang dapat diinduksi melalui latihan fisik. Latihan fisik memiliki variasi: latihan kontinu (durasi lama) dan latihan interval (durasi singkat). Selama latihan fisik, laktat yang dihasilkan otot rangka dapat digunakan sebagai sumber energi di jantung yang akan diubah oleh laktat dehidrogenase B (LDHB). Tujuan penelitian ini, untuk membandingkan perubahan kadar PGC-1α dan LDH B di jaringan jantung tikus dewasa setelah diberikan latihan interval dan kontinu. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus Wistar dewasa usia 12 bulan dibagi secara acak menjadi 3 kelompok (n=5). Latihan fisik dilakukan menggunakan treadmill tikus dengan kecepatan yang dinaikkan bertahap selama 8 minggu dengan frekuensi 5 kali perminggu. Pengukuran kadar PGC-1α dan LDH B menggunakan metode ELISA. Uji statistik menggunakan One Way Anova dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok interval dan kontinu terhadap kadar PGC-1α (P<0.05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok terhadap kadar LDH B. Tidak terdapat korelasi antara kadar PGC-1α dan LDH B pada jaringan miokardium tikus dewasa.

ABSTRACT
Mitochondrial biogenesis is affected by peroxisome proliferator-activated receptor gamma coactivator-1α (PGC-1α), and can be induced through physical exercise. Physical exercise has variations: continuous training (long duration) and interval training (short duration). During physical exercise, lactate from skeletal muscle produced can be used as an energy source in the hearth through conversion by lactate dehydrogenase B (LDH B). The purpose of this study was to compare in PGC-1α and LDH B levels of adult rat cardiac tissue after interval and continuous training. This study used 15 adult Wistar rats aged 12 month, divided into 3 groups (n=5). Training was conducted using a rodent treadmill with gradually increased of speed for 8 weeks and frequency of 5 days/weeks. PGC-1α and LDH B levels in heart tissue were measured using ELISA. Statistical tests using One Way Anova and Pearson correlation. The result showed that there were significant differences between interval and continuous training groups of PGC-1α levels (p<0.05). There were no significant differences between groups of LDH B levels. There was no correlation between PGC-1α and LDH B levels in adult rat cardiac tissue.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jelita Inayah Sari
"ABSTRAKNon-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan penyakit degeneratif yang berkaitan dengan kondisi kurang kalori dan diet tinggi lemak. NAFLD menyebabkan disfungsi mitokondria dan menurunkan aktivitas MnSOD. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan respon hepatosit pada pemberian diet tinggi lemak (DTL) pada tikus dengan intake kalori berbeda selama masa pertumbuhan. Penelitian ini menggunakan organ hati Spraque Dawley usia 6 minggu yang telah diberi intake kalori berbeda selama 8 minggu, dilanjutkan dengan diet tinggi lemak selama 20 minggu. Terdiri atas kelompok kurang kalori+diet tinggi lemak (KK+TL), cukup kalori+diet tinggi lemak (CK+TL), tinggi kalori+diet tinggi lemak (TK+DL) dan kontrol (diet standar). Parameter yang diperiksa adalah berat organ, histopatologi (HE dan Masson trichrom) serta aktivitas MnSOD (ELISA). Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan berat organ dan aktifitas MnSOD pada semua kelompok. Steatosis ditemukan pada kelompok perlakuan dengan prosentase steatosis kelompok KK+TL lebih tinggi dibanding kelompok CK+TL, TK+TL dan kontrol (p<0,05). Kesimpulan: pemberian DTL selama 20 minggu pada tikus dewasa dengan riwayat intake kalori yang berbeda semasa pertumbuhan dapat menyebabkan steatosis, namun belum diikuti dengan gangguan aktivitas MnSOD. Oleh karena itu pemberian diet tinggi lemak pada kasus kurang kalori protein masih perlu dipertimbangkan dan diteliti lebih lanjut terkait faktor keamanan dan manfaatnya pada usia dewasa.

ABSTRACT
Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a degenerative disease associated with less of calorie and high-fat diet (HFD). NAFLD causes mitochondrial dysfunction and decreasing of MnSOD activity. This study aimed to compare the response of hepatocytes to the provision of HFD in rat with different caloric intake during infancy. This study uses the liver of 6 weeks Spraque Dawley rats which have been given a different caloric intake for 8 weeks, followed by HFD for 20 weeks. The groups were divided into less calorie + HFD (KK+TL), enough calories + HFD (CK+TL), high-calorie + HFD (TK+TL), and control. The parameters examined were liver weights, histopathology (HE and Masson Trichrome) and MnSOD activity (ELISA). The result showed no differences in liver weights and MnSOD activity in all groups. Steatosis was found in research groups, with higher percentage in KK+TL compared to CK+TL, TK+TL, and control (p<0,05). We conclude that giving of HFD for 20 weeks in adult rat with a history of different calorie intake during growth may cause steatosis, but there is no MnSOD activity disorder. Therefore, the provision of HFD in the case of less calorie still need to be considered and investigated especially for its safety and efficiency.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sari Tri Yulianti
"ABSTRAK

Proses penuaan menyebabkan penurunan massa otot rangka, terutama pada protein kontraktil. Latihan interval merupakan salah satu latihan fisik yang dapat menginduksi sintesis miofibril, sehingga berpotensi dapat meningkatkan massa otot rangka pada proses penuaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan interval terhadap kadar protein aktin dan myosin heavy chain (MHC) otot rangka tikus dewasa muda dan dewasa. Penelitian ini menggunakan 24 tikus strain Wistar jantan usia 6 dan 12 bulan yang dibagi menjadi 6 kelompok (n=4). Latihan interval terdiri dari berlari selama 4 menit (intensitas tinggi) dengan interval istirahat aktif 1 menit sebanyak 4 kali pengulangan. Kecepatan berlari pada treadmill ditingkatkan dari 16 m/menit hingga 25 m/menit. Latihan diberikan selama 8 minggu. Kadar aktin dan MHC jaringan otot gastrocnemius diukur dengan ELISA. Pada penelitian ini ditemukan bahwa tidak terdapat penurunan bermakna kadar protein kontraktil aktin dan MHC otot rangka antara kelompok usia dewasa muda dengan usia dewasa. Tidak terdapat peningkatan kadar protein kontraktil aktin dan MHC antara kelompok tanpa latihan dan dengan latihan interval pada kelompok usia dewasa muda. Pada kelompok usia dewasa, tidak terdapat peningkatan bermakna kadar protein kontraktil aktin dan MHC otot rangka antara kelompok tanpa latihan dan dengan latihan interval


ABSTRACT


Aging process leads to decline skeletal muscle mass, particularly in contractile protein. Interval training is the one of physical training that induce myofibrillar protein synthesis, thus increase skeletal muscle mass in aging process. This study aims to determine the effect of interval training on actin and myosin heavy chain (MHC) levels in rats skeletal muscle young adult and adult. This study use twenty-four male Wistar rats aged 6 and 12 months were divided into six groups (n=4). Interval training consisted of 4 min running (high intensity) interspersed by 1 min of active rest, 4 repetitions. The running speed of the treadmill were gradually increased from 16 to 25 m/min. The treatments were given for 8 wk. Actin and MHC gastrocnemius muscle levels were measured by ELISA. This study shows that there were no significant decrease in actin and MHC skeletal muscle levels between young adult and adult groups. There were no increase in actin and MHC skeletal muscle levels between interval training group and control group in the young adult group. For adult group, there were no significant increase in actin and MHC skeletal muscle levels between interval training group and control group.

"
2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Dwi Putra
"Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan
utama di Indonesia. Sepuluh persen dari TB ekstraparu adalah TB tulang, dan sekitar 50%
penderita TB tulang menyerang tulang belakang (Spinal Tuberkulosis). Respon tubuh
terhadap Mycobacterium tuberculosis (M.tb) sehingga menimbulkan penyebaran
ekstraparu, khususnya respon makrofag sebagai pertahanan lini pertama, masih belum
sepenuhnya dimengerti. Makrofag menghasilkan molekul reactive oxygen species (ROS)
sebagai hasil dari oxygen burst untuk mengeliminasi antigen. Nitrat Oksida (NO) dan
mieloperoksidase (MPO) berperan pada oxygen burst Selain itu, Pada fagositosis
terdapat organel lisosom yang di dalamnya terdapat enzim hidrolase (fosfatase asam dan
beta glukuronidase) berguna pada pencernaan intraseluler. Penelitian ini menguji
hipotesis bahwa ada gangguan fungsi makrofag pada pasien TB tulang belakang. Monosit
diisolasi dari peripheral blood mononuclear cells (PBMC) dari lima pasien TB tulang
belakang dan lima orang sehat sebagai kontrol. Monosit yang terisolasi dikultur dengan
stimulasi dari macrophage colony-stimulating factor (M-CSF) selama tujuh hari untuk
pematangan. Kemampuan fagositosis makrofag dinilai aktivitasnya terhadapa sel darah
merah domba (SDMD). Sedangkan nitrat oksida (NO), mieloperoksidase (MPO), betaglukuronidase,
dan aktivitas fosfatase asam diselidiki dengan metode spektrofotometer.
Analisis data dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 20. Kami menemukan bahwa
monosit yang diisolasi dari PBMC pasien TB tulang belakang secara signifikan lebih
sedikit dibandingkan dengan kelompok kontrol (2992.103 vs 6474.103 (sel / mL)) dan
juga lebih sedikit makrofag yang melekat pada sel darah merah domba (SDMD) (264.103
vs 598.103 (sel / mL)). Namun, produksi NO (2346 vs 325,17 (μmol / gram protein)), dan
MPO (570,7 vs 17,4 (unit / mg), beta-glukuronide (0,149 vs 0,123 (unit / mg)), dan asam
fosfatase aktivitas (1776,9 vs 287,9 (unit / mg)) dari makrofag kelompok TB tulang
belakang lebih tinggi daripada kelompok yang sehat serta korelasi negatif kuat dan
bermakna antara fagositosis makrofag dengan tiap variabel tersebut. Selain itu, Terdapat
korelasi positif lemah dan tidak bermakna antara kejadian fagositosis dan uji WST.
Meskipun pengenalan rendah pada benda asing, proses makrofag intraseluler, termasuk
aktivitas oksidatif dan fungsi lisosom, tinggi secara signifikan. Hasil ini menunjukan
penurunan fungsi makrofag pada pasien TB tulang belakang serta terdapat kemungkinan
adanya dominasi imunitas non-spesifik bawaan pada infeksi TB tulang belakang
Tuberculosis (TB) is still one of the main health problems in Indonesia. Ten percent of
extrapulmonary TB is bone TB and about 50% of people with bone TB affected to the
spine. The immune response against Mycobacterium tuberculosis (M.tb), which causes
extrapulmonary spread, particularly the response of macrophages as a first-line defense,
is still not fully understood. Macrophages produce reactive oxygen species (ROS)
molecules as a result of oxygen bursts to eliminate antigens. Nitric Oxide (NO) and
myeloperoxidase (MPO) play a role in oxygen burst. Also, phagocytosis process involved
lysosomal organelles in which there are hydrolase enzymes (acid phosphatase and betaglucuronidase),
which have important role in intracellular digestion. This study examined
the hypothesis about impairment of macrophage function in spondylitis TB patients.
Monocytes were isolated from peripheral blood mononuclear cells (PBMC) collected
from five spinal TB patients and five healthy people as controls. Isolated monocytes were
cultured by stimulation of macrophage colony-stimulating factor (M-CSF) for seven days
for maturation. The phagocytic ability of macrophages is assessed as to their activity on
sheep red blood cells. Whereas nitric oxide (NO), myeloperoxidase (MPO), betaglucuronidase,
and acid phosphatase activity were investigated by spectrophotometer
methods. Data was analyzed using SPSS version 20. We found that monocytes isolated
from PBMC of spondylitis TB patients were significantly less than in the control group
(2992,103 vs 6474,103 (cells / mL)) and also fewer macrophages attached to red blood
cells sheep (264,103 vs 598,103 (cells / mL)). However, NO production (2346 vs 325.17
(μmol / gram protein)), MPO (570.7 vs. 17.4 (units/mg), beta-glucuronide (0.149 vs 0.123
(units/mg)), and acids phosphatase activity (1776.9 vs 287.9 (units/mg)) of macrophages
in the spondylitis TB group were higher than in the healthy group. There was a strong
and significant negative correlation between phagocytosis of macrophages with each of
the previous variables. There was no significant difference between phagocytic ability
and the WST test. Although the recognition against foreign bodies was low, intracellular
macrophage processes, including oxidative activity and lysosomal function, were
significantly higher than control. This result showed a decrease of macrophage function
in spondylitis TB patients as well as a possible dominance of non- specific immunity."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dafsah Arifa Juzar
"Level rekomendasi penggunaan rutin intra-arotic balloon pump (IABP) pada pasien dengan renjatan kardiogenik diturunkan menjadi level III. Manfaat penggunaan IABP sebelum revaskularisasi belum diinvestigasi secara uji klinis acak. Tujuan studi ini untuk menilai pengaruh penggunaan IABP sebelum revaskularisasi pada pasien infark miokard akut dengan komplikasi renjatan kardiogenik.
Uji klinis acak pembanding terbuka dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita periode januari 2018 hingga Mei 2020. Randomisasi dilakukan pada 69 subjek infark miokard dengan renjatan kardiogenik. Alokasi kelompok kontrol 34 subjek dan perlakuan (IABP sebelum revaskularisasi) 35 subjek. Luaran primer adalah mortalitas rumah sakit dan pasca revaskularisasi hari ke_30. Luaran sekunder perfusi global (bersihan asam laktat jam ke_12), perfusi regional (kreatinin), performa jantung yang dinilai secara ekokardiografi (Global longitudinal strain) dan penanda biologis untuk regangan miokard (NT-proBNP dan ST2). Variabel hemodinamik ekokardiografi dan komplikasi tindakan juga dilaporkan.
Setelah drop out, Analisis perprotokol dilakukan pada 18 subjek kelompok kontrol dan 16 subjek kelompok perlakuan. Mortalitas rumah sakit dan 30 hari pasca revaskularisasi, 12 (66,7%) subjek pada kelompok kontrol dan 9 (56,3%) subjek pada kelompok perlakuan, p 0,533. Pada luaran sekunder tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kedua kelompok untuk bersihan laktat efektif jam ke-12; pemeriksaan kreatinin, global longitudinal strain, hemodinamik ekokardiografi dan nilai NT-proBNP dan ST2. Pada hari ke_3, kurva kaplan meier berpisah dan mortalitas RS dini pada kelompok kontrol 9 (50%) subjek dan pada kelompok perlakuan 1 (6,25%) subjek, hasil uji fisher p 0,013. Mortalitas RS lanjut berhubungan dengan IABP dan sepsis. Dua patomekanisme diusulkan untuk menerangkan patomekanisme kematian pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan
Simpulan: Penggunaan IABP sebelum revaskularisasi pada subjek infark miokard akut dengan komplikasi renjatan kardiogenik tidak memperbaiki mortalitas rumah sakit dan pasca perawatan hari ke-30. Pada kelompok kontrol diusulkan patomekanime mortalitas serangan fisiologis kali satu. Kelompok perlakuan, patomekanime mortalitas diusulkan serangan fisiologis kali dua.

The guideline recommendation on routine use of Intra Aortic balloon pump (IABP) in cardiogenic shock had been downgraded to level recommendation III. The role of IABP insertion before revascularization has never been investigated in randomized control trial. The aim of this study is to investigate the role of IABP insertion before revascularization in acute myocardial infarction complicated by cardiogenic shock.
Randomized control trial was performed in National Cardiac Center Harapan Kita at the period January 2018–April 2020. We randomly assigned 69 patients cardiogenic shock due to acute myocardial infarction. There are 34 patients assigned to control group (no IABP) and 35 patients assigned to intervention group (IABP before revascularization). Percutaneous Coronary Intervention and medical care were performed according to local protocol. The primary end points were in-hospital mortality and mortality at 30 days post revascularization. The secondary end points were perfusion (lactate clearance, creatinine), cardiac performance (global longitudinal strain), Biomarker for myocardial stretch (NT-proBNP & ST2). Echo hemodynamic and complication variables were also reported.
After drop out, a total of 18 patients in the control group and 16 patients in intervention group (IABP before revascularization were included in per protocol analysis for the primary and secondary end points. The primary end result of in hospital mortality and 30 days post revascularization mortality were identical in 12 patients in the control group (66.7%) and 9 patients in the intervention group (56.3%), p 0,533. There were no significant differences in secondary end points, effective lactate clearance at 12 hour, creatinine, Global Longitudinal Strain, NT-proBNP, ST2 including echo hemodynamic, dose of catecholamine therapy and sepsis. At the third day, Kaplan Meier curve demonstrated early separation with significant difference in mortality 9 patients in the control group (50%) and 1 patients in the intervention group (6,25%), p 0,013. Late in hospital was associated with IABP and sepsis. There was also a trend of greater elevation of NT-proBNP on day 3 in the intervention group. Therefore, pathomechanisms of death for control group and intervention group were proposed.
Conclusion: The use IABP before percutaneous intervention in patient shock cardiogenic due to acute myocardial infarction did not improve clinical outcome in hospital mortality or 30 days post Revascularization. One hit of physiological deterioration model for cardiogenic cardiogenic shock patient and two hit of physiological deterioration model for cardiogenic shock patient treated with IABP before revascularization were proposed.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lili Legiawati
"

Kelainan kulit kering banyak ditemukan pada penyandang DMT2. Patogenesis kulit kering pada DMT2 dipicu oleh kondisi hiperglikemia kronik yang meningkatkan Advanced glycation end products (AGE) N(6)-carboxymethyl-lysine (CML), sitokin proinflamasi dan stres oksidatif.  Kombinasi Centella asiatica  oral  (CAo) dan topikal (CAt) diduga dapat meningkatkan efektivitas tatalaksana kulit kering DMT2. Penelitian bertujuan menganalisis efektivitas dan keamanan kombinasi CAo + CAt dalam memperbaiki kulit kering DMT2.

 

Penelitian merupakan uji klinis acak tersamar ganda di Poliklinik Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM dan 5 puskesmas di Jakarta pada bulan Juli 2018–Maret 2019. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok CAo + CAt, plasebo oral (Plo) + CAt, dan Plo + Plasebo topikal (Plt) masing-masing berjumlah 53 orang. Perbaikan kulit kering secara klinis diukur dengan Specified Symptom Sum Score (SRRC) dan Skin Capacitance (SCap). Perbaikan secara molekular diukur  CML, IL-1a, dan aktivitas superoksida dismutase (SOD). Keamanan kombinasi CAo + CAt dilakukan melalui penilaian efek simpang oral dan topikal.

 

Pada ketiga kelompok, median HbA1c > 7%. Glukosa darah sewaktu (GDS) kelompok CAo + CAt hari ke-15 dan 29 semakin menurun. Efektivitas kombinasi CAo + CAt dinilai melalui analisis subgrup berdasarkan nilai HbA1c dan GDS. Pada glukosa darah terkontrol baik, persentase penurunan SRRC lebih besar pada kelompok CAo + CAt vs Plo + Plt (p = 0,04). Peningkatan SCap kelompok CAo + CAt lebih besar dibandingkan Plo + Plt (p = 0,01). Pada glukosa darah terkontrol kurang baik peningkatan SOD kelompok CAo + CAt lebih besar dibandingkan Plo + Plt  (p = 0,01). Tidak terdapat korelasi antara CML, IL-1α dan SOD dengan SRRC atau SCap. Terdapat korelasi sedang sampai kuat dan arah korelasi sesuai antara CML dengan SOD (r = 0,58, p < 0,05)  dan  IL-1α dengan SOD (r = 0,70, p < 0,05) pada glukosa darah terkontrol baik. Tidak terdapat efek simpang oral dan topikal yang bermakna pada penggunaan CAo + CAt dibandingkan 2 kelompok.

 

Simpulan: Pada glukosa darah terkontrol baik, perbaikan SRRC dan SCap  kelompok CAo + CAt lebih besar dibandingkan Plo + Plt.  Pada glukosa darah terkontrol kurang baik peningkatan SOD kelompok CAo + CAt lebih besar daripada Plo + Plt. Terdapat korelasi sedang sampai kuat antara CML atau IL-1α dengan SOD pada glukosa darah terkontrol baik. Tidak terdapat efek simpang oral dan topikal yang bermakna pada kelompok CAo + CAt dibandingkan 2 kelompok.

 

Kata kunci: CML, DMT2, IL-1a, kulit kering, SCap, SOD, SRRC

 


Dry skin is a common findings in type 2 diabetes mellitus (T2DM). The pathogenesis of dry skin in T2DM rises from chronic hyperglycemic condition which causes an increase in levels of Advanced glycation end products (AGEs)  N(6)-carboxymethyl-lysine (CML), pro-inflammation cytokines and oxidative stress. Combination of oral and topical Centella asiatica (CA) is expected to ameliorate dry skin in T2DM patients more effectively.

 

This study was a double blinded randomized clinical trial in T2DM patients with dry skin in outpatients clinic of Metabolic Endocrine, Internal Medicine Department, dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, and 5 primary health cares in Jakarta from July 2018 to March 2019. The subjects were divided into three groups, CA oral (CAo) + CA topical (CAt) group, oral placebo (Plo) + CAt group, and Plo + topical placebo (Plt) which included 53 subjects respectively. Dry skin improvement was evaluated clinically using Specified Symptom Sum Score (SRRC) and Skin Capacitance (SCap). The molecular improvement was evaluated using levels of CML, inflammation interleukin 1-α (IL-1α) concentration, and oxidative stress superoxide dismutase (SOD).

 

In the three groups, median of HbA1c > 7%. Random blood glucose (RBG) in CAo + CAt group in day-15 and 29 were further decreased. Effectivity of CAo + CAt combination were assessed via subgroup analysis based on HbA1c and RBG. In well controlled blood glucose, on day-29, percentage of SRRC decrement was greater in  CAo + CAt compared to control group without CA (p = 0,04). SCap value in CAo + CAt group was greater than control group (p = 0,01). In the partially controlled blood glucose, increment of SOD activity of CAo + CAt group was greater than control group (p = 0,01). There was no correlation found between CML, IL-1α and SOD with SRRC nor SCap. There were medium to strong correlation between CML with SOD (r = 0,58, p < 0,05)  and IL-1α with SOD (r = 0,70, p < 0,05)  in well controlled blood glucose. Systemic and topical adverse events were not found significantly in CAo or CAt usage compared to the other two groups.

 

Conclusion: In well controlled blood glucose, improvement of SSRC and SCap in CAo + CAt were greater than Plo + Plt.  In partially controlled blood glucose,  increment of SOD in CAo + CAt was greater than Plo + Plt.  There was moderate to strong correlation between CML or IL-1 and SOD in well controlled blood glucose. There were no significant adverse events found due to CAo + CAt compared to the other 2 group in the study.

 

Keywords: CML, diabetes mellitus, dry skin, IL-1a, SCap, SOD, SRRC

 

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diana Sunardi
"ABSTRAK
Pasien kanker umumnya mengalami penurunan berat badan terkait kaheksia. Patofisiologi kaheksia kanker multifaktorial, termasuk efek sitokin pro inflamasi dan inflamasi sistemik. Profil asam amino plasma pada pasien kanker mengalami perubahan. Deplesi protein dapat terjadi akibat asupan yang menurun atau efek langsung dari tumor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil dan hubungan antara asam amino serum, status nutrisi dan sitokin-sitokin pro-anti inflamasi, serta sel T helper 17 pada pasien kaheksia kanker paru. Penelitian potong lintang dengan consecutive sampling pada pasien kanker paru dengan kaheksia ini mengambil subjek berusia lebih dari 18 tahun dan belum diterapi atau sudah selesai terapi lebih dari 2 bulan di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Analisis asupan dilakukan dengan food frequency questionnaire semikuantitatif dan 24-hours food recall. Pemeriksaan asam amino serum dengan metode spektofotometri, Sel T helper-17 dengan metode flowcytometry, dan C-reactive protein dengan metode latex agglutination, serta kadar IL 17, IL 6 dan TNFα dengan metode ELISA. Data yg didapat kemudian di analisis dengan uji T atau Mann Whitney untuk melihat hubungan dan untuk menganalisis hubungan dalam tabel digunakan uji Chi-Square atau Fischer Exact, sedangkan untuk korelasi digunakan uji Pearson atau Spearman. Asam amino triptofan, asparagin, glutamin, valin, lisin dan sistein berkorelasi positif dengan sitokin anti-inflamasi dan status nutrisi, sebaliknya negatif dengan sitokin pro inflamasi. Asam amino fenilalanin, treonin, dan glutamat berkorelasi positif dengan sitokin pro-inflamasi dan berkorelasi negatif dengan status nutrisi dan sitokin anti inflamasi. Khusus aspartat, selain berkorelasi positif dengan sitokin pro inflamasi, juga berkorelasi positif dengan indeks massa tubuh, tetapi menunjukkan korelasi negatif dengan penurunan berat badan. Beberapa asam amino serum terbukti berhubungan dengan status sitokin dan status nutrisi pada subjek kanker paru dengan kaheksia, sehingga perlu menjadi perhatian dalam terapi nutrisi pasien kanker
Kata kunci: asam amino serum, status nutrisi, sitokin, kaheksia kanker

ABSTRACT
Cancer patients generally experience weight loss associated with cancer cachexia. The pathophysiology of cancer cachexia is multifactorial, including the effects of pro inflammatory cytokines and systemic inflammation.. The plasma amino acid profile was found to significantly undergo changes in cancer patients. Protein depletion can occur due to decreased intake or direct effects of tumors on protein metabolism. This study aimed to determine the profile and relationship between serum amino acids, nutritional status and pro-anti-inflammatory cytokines, and T helper 17 cells in lung cancer cachexia patients. This cross-sectional study with consecutive sampling in lung cancer patients with cachexia took subjects over the age of 18 years and who had not been treated or who had finished therapy for more than 2 months at the Dharmais Cancer Hospital. Dietary intake analyses were carried out with semiquantitative food frequency questionnaire and 24-hour food recalls. Blood tests were carried out in the form of serum amino acids, cytokines, C-reactive protein and T helper 17 cells. Data obtained were then analyzed by the T or Mann Whitney test to see the relationship and to analyze relationships in the table used chi-square or Fischer Exact, while for correlation used Pearson or Spearman test. The amino acids tryptophan, asparagine, glutamine, valine, lysine and cysteine were positively correlated with anti-inflammatory cytokines and nutritional status, and negatively correlated with pro-inflammatory cytokines. Phenylalanine, threonine and glutamate amino acids were positively correlated with pro-inflammatory cytokines and negatively correlated with nutritional status and anti-inflammatory cytokines. Aspartate showed a positive correlation pro inflammatory cytokines and body mass index, but a negative correlation with weight loss. Some serum amino acids have been shown to be related to cytokines and nutritional status in lung cancer cachexia patients, so it should be a concern in nutritional therapy for cancer patients"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library