Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nasution, Mahdiyah
"Keadaan gizi kurang atau lebih terjadi karena kegagalan mencapai konsumsi gizi seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pola konsumsi mahasiswa UNJ - Rawamangun, seperti jenis kelamin, pengetahuan gizi dan sikap pemenuhan gizi.
Penelitian ini merupakan analisis terhadap data sekunder yang dilaksanakan pada bulan Juni 2001. Pengambilan data secara cross-sectional dilakukan terhadap 327 mahasiswa UNJ tahun 2000. Analisis data menggunakan analisis regresi logistik dan multivariat dengan perangkat komputer.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 48 % responden memiliki pola konsumsi yang balk. Terdapat hubungan yang bermakna (p < 0,05) antara status sosial ekonomi dan sikap pemenuhan gizi dengan pola konsumsi mahasiswa UNJ.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada pengelola program kesehatan dan program pendidikan agar diberikan penyuluhan gizi yang diharapkan dapat mengubah sikap pemenuhan gizi yang positif.
Selanjutnya perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan mengukur jumlah konsumsi atau asupan gizi mahasiswa UNJ untuk mengetahui pola konsumsinya.

Factors Associated to Meal Pattern of Students in Universitas Negeri Jakarta, in 2000The under nutrition and over nutrition occurs doe to the failure in balance nutrition. The objective of this study is to investigate related the meal pattern of students in Universitas Negeri Jakarta (UNJ) - Rawamangun, such as a gender, socio-economic status, nutritional knowledge and the attitude of nutritive food.
This study used secondary data analysis that carried out in June 2001. A cross-sectional study was conducted with sample of 327 students districts in Universitas Negeri Jakarta were collected in 2000. Data analysis conducted of logistic regression analysis and multivariable method was done using statistic package.
The result showed that 48 % of respondent have a good meal pattern. There were significant correlations between socio-economic status and attitude to the nutritive food with students meal pattern (p < 0,05).
The nutritional education program to promote nutritional guidelines should be conducted forward good attitude of nutritive food.
Hopefully another study could be conducted to know a better and stronger association between meal pattern with food consumption or food intake.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T5216
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enik Sulistyowati
"Kesegaran jasmani merupakan salah satu tolok ukur kesehatan masyarakat. Manurut Pocock (1987: 131) kondisi kesegaran jasmani seseorang ditentukan oleh beberapa komponen yang sangat erat hubungannya dengan kesehatan (health related fitness). Orang usia lanjut mengalami penurunan komponen-komponen kesegaran jasmani.
Komponen kesegaran jasmani yang paling penting adalah daya tahan kardiorespirasi yang ditunjukkan oleh nilai V02 max. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1992 ; 3) V02 max yang baik akan diperoleh dengan status gizi dan kesehatan yang baik disamping latihan fisik teratur. Hasil penelitian Astrand dan Rodahl (1986: 344) ditemukan bahwa V02 max laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan ini disebabkan perbedaan massa lemak.
Tujuan penelitian ini adalah diperolehnya informasi tentang V02 max orang usia lanjut binaan puskesmas DKI Jakarta tahun 1998 dan hubungannya dengan faktor-faktor dalam dirinya yang meliputi karakteristik individu, status gizi dan status kesehatan.
Penelitian ini menggunakan rancangan belah lintang (cross sectional). Data yang digunakan adalah data sekunder. Data diambil dari rekaman hasil pemeriksaan kesehatan dan kesegaran Jasmani orang usia lanjut binaan puskesmas yang dilakukan oleh Balai Kesehatan dan Olahraga Masyarakat (BKOM) pada bulan Agustus - September 1998. Sampel dari penelitian ini adalah orang usia lanjut binaan puskesmas DKI Jakarta yang berumur diatas 55 tahun dan berhasfl dilakukan pengukuran V02 max.
Dari hasil penelitian diketahui orang usia lanjut binaan puskesmas DKI Jakarta tahun 1998 yang mempunyai VO2 max kurang sebesar 70,4%. Proporsi orang usia lanjut perempuan (79,3%) jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Rata-rata IMT orang usia lanjut binaan puskesmas DKI Jakarta tahun 1998 adalah 23,8. Rata-rata ini lebih tinggi dibandingkan orang usia lanjut di 12 kota di Indonesia tahun 1996. Rata-rata PLT orang usia lanjut perempuan 20,74 % dan laki-laki 15,87 %. Orang usia lanjut yang menderita kelainan fisik hanya 28,5%. Kelainan fisik yang diderita sebagian besar adalah jantung ringan yaitu 24,7%.
Penelitian ini menemukan tidak ada hubungan antara umur, jenis kelamin dan status kesehatan dengan V02 max. Sedangkan yang berhubungan dengan V02 max adalah status gizi menurut IMT dan status gizi menurut PLT. Berdasarkan pertimbangan statistik serta kemudahan dan kepraktisan cara pengukuran maka yang terpilih adalah variabel status gizi menurut IMT.
Nilai OR untuk orang usia lanjut yang berstatus gizi kurus tingkat ringan adalah 0,2538 ( 95%CI=0,1145-0,5625), untuk status gizi gemuk tingkat ringan 1,8368 (95%CI=1,0713-3,1497) dan untuk status gizi gemuk tingkat berat 5,2001 (95%CI=2,4221-11,73). Sebagai kelompok pembanding orang usia lanjut yang berstatus gizi normal. Dalam analisis ini mengabaikan variabel aktivitas fisik.
Penelitian ini menyarankan orang usia lanjut binaan puskesmas DKI Jakarta 1998 yang mempunyai status gizi gemuk harus berupaya menurunkan berat badannya dengan cara olahraga dan mengurangi konsumsi makanan terutama sumber energi. Nilai V02 max orang usia lanjut perlu ditingkatkan, dengan cara peningkatkan pembinaan olahraga bagi orang usia lanjut. Untuk melengkapi basil penelitain ini, perlu dilakukan penelitain lebih lanjut dengan menganalisis semua faktor yang berhubungan dengan V02 max prang usia lanjut.

Factors Related to Maximum Oxygen Volume of Fostered Elderly People by Health Centers in Jakarta 1998Physical fitness is one of the indicators of public health. According to Polack (1987:131) the condition of physical fitness is determined by several components that closely related to the health (health related fitness). The elderly tend to experience the decreasing of their physical fitness.
The most important component of physical fitness is the cardiorespiratory endurance as indicated by maximum oxygen volume. As stated by Departement of Education and Culture (1992:13), a good maximum oxygen volume is influenced by nutrition status and health as well as physical practice regularly. The result of Astrand and Rodahl's research (1986 : 344) found that maximum oxygen volume in men was relatively higher than in women. It was caused by the difference of body fat mass.
The purpose of this research is to obtain information of maximum oxygen volume of fostered elderly people by health centers in Jakarta 1998 and its relation to the internal factors which including individual characteristic, nutrition and health status.
The research used cross sectional design. The data used was secondary data. The data was taken from the result of health examination and physical fitness of fostered elderly people by health centers in Jakarta, conducted by the institution of Public Health and Sport in Agust to September 1998. The samples were fostered elderly people by health centers in Jakarta with aged of up to 55 years and had maximum oxygen volume measurement.
This research found that low maximum oxygen volume of the elderly people is 70,4%. The proportion in women (79,3%) is relatively high than in man. The average of body mass index is 23,8. This is higher than the elderly people of the other 12 towns in Indonesia 1996. The average body fat of the female elderly people is 20,74 % and male is 15,87%. The elderly with physical handicap is only 28,5%. Many of them had heart disease of 24,7%.
There is no relation between age, sex and health status with maximum oxygen volume. Factors related to maximum oxygen volume are nutrition status according to body mass index and body fat. Based on statistical analysis and practical measurement consideration, the chosen variable is nutrition status according to body mass index.
Odds ratio of the elderly people with mild thinness is 0,2538 (95% CI = 0,11145-0,5625). The elderly people with mild overweight is 1,8368 (95 % CI = 1,0713-3,1497) while those with severe overweight is 5,2001 (95 % CI = 2,4221 - 11,73). The analysis used the elderly people with normal nutrition status as comparative group. This analysis neglected the variable of physical activity.
The founding of the research suggest that fostered elderly people by health centers in Jakarta 1998 who had overweight should decrease their weight through sport and decrease food consumption particulary the food of energy source. The value of maximum oxygen volume of the elderly people is needed to increase, by increasing sport maintenance for them. Finally to develop the result of this research , the follow up research is needed by analyzing all factors related to maximum oxygen volume of the elderly people.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Susanna
"ABSTRAK
Dengan ditingkatkannya sektor industri maupun sektor pertanian diharapkan taraf hidup masyarakat akan meningkat. Tetapi di samping tujuan tersebut terdapat efek sampingan yang perlu dipikirkan yaitu timbulnya limbah. Limbah tersebut dapat berupa cair, padat dan gas. Limbah cair khususnya yang mengandung logam berat perlu mendapat perhatian yang serius karena mempunyai sifat racun, tidak dapat diuraikan oleh alam dan dapat berakumulasi dalam tubuh makhluk hidup. Pengolahan limbah yang mengandung logam berat dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan tanaman air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa.kah Azolla pinnata R.Br dan Hydrilla verticillata dapat dipergunakan untuk mengurangi kandungan logam Pb dan Cd dan air limbah industri.
Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratarium dengan membuat tiga perlakuan. Perlakuan pertama dengan menggunakan Azolla pinnata R.Br, perlakuan kedua dengan Hydrilla verticillata dan perlakuan ketiga menggunakan kedua tanaman tersebut. Tiap-tiap perlakuan dibuat tiga macam konsentrasi air yaitu 75%, 62, 5 % dan 50% dan kontrol dengan menggunakan air bersih, masing-masing tiga ulangan (replikasi) kecuali kontrol. Pengamatan dilakukan setiap 5 hari selama lima belas hari terhadap variabel utama yaitu kandungan logam Pb dan Cd dalam tanaman dan variabel lainnya seperti, pertumbuhan relatif tanaman, pH air, salinitas air dan suhu air.
Dengan menggunakan taraf kepercayaan 5 % diperoleh hasil analisa statistik sebagai berikut: konsentrasi air limbah tidak berpengaruh terhadap penyerapan logam Pb dan Cd oleh A. pinnata dan H. verticillata. Makin lama waktu pengamatan pada perlakuan pertama kemampuan , pinnat. menyerap logam Cd cenderung meningkat, pada perlakuan kedua kemampuan H. vertici11ata menyerap logam Pb cenderung meningkat, sedangkan pada perlakuan ketiga kemampuan A. pinnata menyerap logam Pb cenderung meningkat, kemampuan N. verticil1ata menyerap logam Pb dan Cd cenderung makin besar. Pada konsentrasi air limbah yang sama kemampuan A. pinnata, menyerap Cd perlakuan pertama lebih besar dari perlakuan ketiga, kemampuan H. verticillata menyerap Pb perlakuan kedua lebih besar dari perlakuan ketiga.
Penyerapan logam Pb pada ketiga perlakuan adalah berbeda (alfa = 5 %), dengan nilai rata-rata terbesar adalah perlakuan kedua yaiiu 0,6060 ppm. Sedangkan penyerapan logam Cd tidak berbeda antara perlakuan kedua dan perlakuan ketiga pada taraf kepercayaan 5,83 %, tetapi nilai rata-rata terbesar adalah perlakuan kedua yaitu 0,0774 ppm. Dengan demikian perlakuan yang paling balk untuk penyerapan logam Pb da Cd adalah perlakuan kedua yaitu dengan menggunakan H. verticillata saja dengan kondisi awal konsentrasi air limbah 75 % atau kandungan Pb sebesar 1,89 ppm dan Cd sebesar 0,135 ppm. Tetapi bila sukar menemukan H. verticillata maka disarankan menggunakan A. pinnata yang dipelihara sendiri."
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pamudji Santoso
"Masalah lalu lintas secara garis besar terdiri atas kemacetan lalu lintas, pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas. Penelitian menunjukkan faktor manusia terutama pengemudi memegang peran utama sebagai salah satu penyebab timbulnya masalah dibidang lalu lintas terutama kecelakaan lalu lintas.
Dalam upaya penanggulangan masalah lalu lintas utamanya kecelakaan lalu lintas Polri melakukan berbagai upaya melalui pelaksanaan fungsi kepolisian dibidang lalu lintas (fungsi lantaspol) yakni :
-Penegakkan hukum dibidang lalu lintas
-Pendidikan lalu lintas
-Enjinering Ialu lintas
-Registrasi dan identifikasi pengemudi
Salah satu bentuk kegiatan registrasi dan identifikasi pengemudi adalah penyelenggaraan Surat Ijin Mengemudi, dan untuk pengujian kecakapan jasmani dan rohani para pemohon SIM umum, Polri telah membentuk Klinik Pengemudi.
Dengan diharuskannya para pemohon SIM umum diuji kecakapan jasmani dan rohaninya di Klinik Pengemudi diharapkan kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh faktor kecakapan jasmani dan rohani pengemudi yang kurang baik dapat dicegah.
Untuk membuktikan harapan tersebut peneliti mengadakan penelitian dengan tujuan ingin membuktikan hubungan/pengaruh tes klinik pengemudi dan unsur-unsur pada pengemudi dengan kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran lalu lintas.
Dalam penelitian tersebut, peneliti mengemukakan 7 hipotesa dan yang dapat dibuktikan dari 7 hipotesa tersebut adalah: 
1. Bahwa tes Klinik Pengemudi yang baik mempunyai pengaruh menurunkan pelanggaran/Kecelakaan lalu lintas.
2. Bahwa penguasaan terhadap peraturan dan sopan santun lalu lintas mempunyai pengaruh menurunkan pelanggaran/kecelakaan lalu lintas.
Disamping kedua hipotesa yang dapat dibuktikan tersebut faktor-faktor lain seperti: 
1. Riwayat perkawinan pengemudi
2. Penghasilan pengemudi
3. Tajam penglihatan pengemudi
4. Kelainan fisik pengemudi.
Ternyata merupakan faktor resiko yang belum/tidak dapat diabaikan pengaruhnya terhadap pelanggaran/kecelakaan lalu lintas."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Situmorang, Chazali Husni
"ABSTRAK
Alat kontrasepsi merupakan suatu sarana yang penting dalam upaya pengendalian kelahiran baik untuk tujuan menunda dan menjarangkan kehamilan maupun mengakhiri kesuburan. Gerakan KB Nasional telah mempergunakan berbagai jenis kontrasepsi sejak dimulainya program KB di Indonesia. Banyak faktor dari calon peserta KB yang berkaitan dengan penentuan pemilihan kontrasepsi yang diinginkan baik Implant maupun non Implant.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mendapatkan gambaran operasional pemakaian kontrasepsi dilapangan, khususnya pemakaian Implant dan non Implant (Pil dan Suntikan) di 3 Kecamatan tersebut diatas. Penelitian membatasi pada beberapa faktor (13 faktor) dari peserta KB yang diteliti meliputi: umur, pendidikan istri, pendidikan suami, pekerjaan istri, pekerjaan suami, jumlah anak lahir hidup, jumlah anak masih hidup, jumlah anak yang diinginkan lagi, pengetahuan KB (tujuan KB, jenis-jenis kontrasepsi, tempat pelayanan, efek samping kontrasepsi), pendapatan/ekonomi keluarga. Terhadap faktor-faktor diatas sebagai variabel bebas dilakukan tabulasi silang terhadap pemakaian kontrasepsi Implant dan non Implant sebagai variabel terikat.
Hasil penelitian ini dilakukan dengan analisis persentase dan untuk melihat adanya perbedaan bermakna dengan uji Kai Kuadrat, yang secara tidak langsung menunjukkan adakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sedangkan untuk mengetahui keeratan hubungan kedua variabel ditentukan dengan besarnya koefisien dari (Phi, Cramer's V, dan Contingency Coeff.).
Dengan uji Kai Kuadrat didapatkan 5 (lima) variabel bebas yang memberikan perbedaan bermakna terhadap pemakaian kontrasepsi Implant dan non Implant. Kelima variabel bebas tersebut adalah umur istri, pendidikan istri, jumlah anak lahir hidup, jumlah anak masih hidup, dan jumlah anak yang diinginkan lagi. Meskipun kelima variabel bebas tersebut memberikan perbedaan bermakna, keeratan hubungannya lemah (sekitar 19%). Karena lemahnya keeratan hubungan variabel yang diteliti terhadap pemakaian kontrasepsi Implant dan non Implant, disarankan untuk meneliti lebih lanjut terhadap faktor lain diluar faktor yang diteliti diatas.
"
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zaenal Arifin Tanaya
"Pada dekade belakangan ini populasi lanjut usia meningkat di negara-negara sedang berkembang, yang awalnya hanya terjadi di negara maju. Demikian halnya di Indonesia populasi lanjut usia juga mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut disertai dengan peningkatan prevalensi status gizi lebih, yang kemungkinan disebabkan oleh rendahnya aktivitas fisik. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Studi Evaluasi Program Kesehatan Usia Lanjut di Puskesmas DKI Jakarta tahun 1997, yang merupakan kerja sama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktifitas fisik dengan status gizi lebih pada lanjut usia di Jakarta Barat. Penelitian menggunakan Rancangan Potong Lintang (cross sectional) dengan pengambilan sampel secara kluster berdasarkan PPS (probability proportional to size). Sampel adalah lanjut usia yang berumur 55 tahun atau lebih sebanyak 120 orang. Faktor dependen yang dipilih adalah status gizi lebih, sedangkan faktor independen adalah aktivitas fisik. Untuk melihat pengaruh faktor konfonding, maka diuji faktor-faktor umur, jenis kelamin, status kawin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status kesehatan, tingkat ekonomi, konsumsi energi dan kebiasaan merokok terhadap kemaknaan variabel tersebut. Data dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat, serta diuji korelasi antar variabel dengan uji Spearman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi lebih lanjut usia adalah sebesar 44.2%. Prevalensi lanjut- usia dengan aktivitas fisik tingkat ringan sebesar 51.7%, sisanya dengan aktivitas fisik tingkat berat. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan status gizi lebih. Setelah dilakukan pemisahan aktivitas fisik menjadi aktivitas kerja, aktivitas olahraga dan aktivitas waktu luang, ternyata terdapat hubungan antara aktivitas waktu luang dengan status gizi (Indek Masa Tubuh) yang dikontrol faktor wanita, faktor umur 55-59 tahun, faktor pendidikan SMU keatas serta faktor lanjut usia yang mempunyai 3 atau lebih keluhan sakit, menunjukkan hubungan yang bermakna. Kemudian model regresi linier dengan cara dilakukan analisis regresi liner serta dilakukan uji koefisien korelasi parsial yang akan mengetahui faktor yang lebih kuat hubungannya, hasil menunjukkan hanya faktor wanita yang berperan dalam model tersebut. Sebagai saran bagi perencana program pembinaan peningkatan kesehatan lanjut usia adalah: Pola aktivitas pada waktu luang perlu dilakukan perubahan intensitasnya terutama bagi lanjut usia wanita.

Relationship between Physical Activity and Elderly Nutritional Status under Community Health Center Management in West Jakarta in 1997During the last decade, population of the elderly in developing countries including Indonesia has increased due to the improvement of social welfare. Many cases indicated that most elderly people were in malnourished condition that caused the overweight or even obesity. Some studies reported that the elderly people were also lack of physical activities.
This research is aimed to identify the relationship between the physical activities and the overweight status of the elderly in west Jakarta. The research used the secondary data from the Evaluation Studies on the Elderly Health Program in the Public Health Center in Jakarta during 1997. The studies were carried out by Public Health Faculty The University of Indonesia as a joint worked with Jakarta Health Office. The secondary data were taken by cluster sampling through PPS (Probability Proportional to Size) includingmen and women of the age 55 or above. The sample size was 120 persons. The dependent factor was over weight status, and the independent factor was the physical activity. The confounding factors were considered include sex, age group, marital status, education level, health condition, and energy consumption. Data were analyzed using univariate and bivariate correlation test (spearman test). The results showed that the proportion of elderly with overweight was 44.2 % and with the physical activity was 51.7 %.
The result of bivariate analysis showed that there was no meaningful correlation between physical activity and overweight status. After categorizing the physical activity became to work activity, sport activity and leisure time activity it was shown that there was the meaningful correlation between the leisure time activity and the nutritional status (body mass index) after controlling with age of 55-59, high school education and over and the elderly with 3 and over illness complaints. Further more, the multiple liuier regression analysis that in stages made the model also it used the partial correlation coefficients test to the strength correlation. The result showed that only women factor was activity. Suggestions for action on planning the program of elderly health improvement are activity leisure time pattern need for the improvement the intensity of the women elderly.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Tjahjani Budi Utami
"ABSTRAK
Rumah tangga merupakan salah satu sumber air buangan domestik yang patut mendapat perhatian. Sebab sumber pencemaran air permukaan dan air tanah di Indonesia mengungkapkan bahwa 75% berasal dari rumah tangga.
Semakin padat penduduk, semakin besar pengaruhnya sampah dan kotoran manusia pada pencemaran air permukaan dan air tanah dan sumber penyakit bagi rakyat. Karena itu perlu diusahakan langkah usaha pengolahan limbah buangan rumah tangga/ domestik sedini mungkin.
Kabupaten Gowa adalah salah satu wilayah dari Propinsi Sulawesi Selatan, penduduknya 99% memakai air tanah. Menurut data statistik perumahan dan lingkungan tahun 1986, hanya 47.86% yang saluran limbahnya lancar, selebihnya tidak ada got atau parit, yaitu 52,14% saluran air kotornya buruk dan di dalam pekarangan. Berhubung masih banyak lahan dan iklimnya tropis maka penelitian ini merupakan suatu experimen dengan mengolah limbah rumah tangga secara biologis dalam kolam oksidasi dan effluennya diharapkan dapat digunakan untuk budidaya ikan mas dan ikan nila. Data diperoleh dari mengambil sampel air limbah rumah tangga seminggu sekali pada jam 600 dan 1800 pada tiga (3) titik lokasi, yaitu pada inffluent limbah rumah tangga, effluent kolam I, effluent kolam II selama 4 minggu. Dan dengan menimbang berat badan ikan Mas dan ikan Nila yang diambil dari dalam kolam II pada lima (5) titik yaitu keempat sudut kolam dan bagian tengah kolam secara acak, dengan interval waktu sebulan seks.li. Data diolah dan dianalisa dengan menggunakan program Statpact, SPSS, uji statistiknya dengan Anova. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dari parameter kualitas fisik, kimia, biologi limbah rumah tangga ada yang dapat dijadikan indikator untuk budidaya ikan Mas dan ikan Vila yaitu BOD, COD, DO, NO2, N03, NH3, H2S, P04-3, SS, Telur Cacing, PH, Total Coli. Dan dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa, pada pengujian hipotesa ternyata ada perbedaan kualitas air limbah rumah tangga sebelum dan sesudah melalui kolam oksidasi dan ada perbedaan berat badan ikan sebelum dan sesudah masuk dalam kolam oksidasi. "
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Johana Titus
"ABSTRAK
Tujuan: Mengetahui status metabolisme penderita SHD rawat inap di rumah sakit, dan memperoleh rumus untuk menentukan kebutuhan energi yang sesuai dengan status metabolisme penderita.
Tempat: Bagian Gizi dan Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta.
Metode Penelitian didisain Cross Sectional, pada 49 subyek SHD laki-laki atau perempuan 30-80 tahun yang diseleksi secara konsekutif, dan 40 kontrol sehat yang diseleksi secara random dari karyawan RSSW. Data REE diperoleh dari hasil pemeriksaan konsumsi O2 dan CO2 yang dikeluarkan tubuh, dengan mempergunakan Kalorimeler Indirek. Asupan makanan dicatat selama 3 hari berturut-turut sebelum pemeriksaan REE. Data antropometri (LLA, TLLBK, KAOLA, TB, dan BB) dan pengumpulan urin dilakukan satu hari sebelum pemeriksaan REE, pengambilan darah untuk pemeriksaan IGF-l dan GH dilakukan setelah pemeriksaan Kalorimetri Indirek. Uji Statistik: Univariat mempergunakan tes Kormogorov Smimov, Bivarial mempergunakan uji t tidak berpasang, uji Mann Whitney dan Korelasi Pearson. Uji multivariat mempergunakan uji regresi linier ganda.
Hasil dari 49 subyek SHD yang masuk RS karena komplikasi: hematemesis (34,69%), malaria (46,94%), ikterus (55,1%), dan yang terbanyak asites (87,76%). Dari jumlah tersebut 67,35% tergolong Child C, sisanya Child B. Ditemukan 63,27 % subyek SHD mengeluh mual dan 75,52% anoreksia. Rerata asupan energi subyek SHD secara bermakna lebih rendah dari kontrol sehat (1282,04 ± 229,85 vs 1448,71 ± 325,56; p = 0,006), dan mempunyai korelasi dengan derajat penyakit. Proporsi asupan terhadap kebutuhan energi subyek SHD hanya mencapai 79,49% ± 17,60% REE. Proporsi asupan terhadap kebutuhan energi lebih besar pada subyek SHD yang tanpa keluhan mual dan anoreksia. Penelitian ini menemuken 73,57 % dari subyek SHD daiam keadaan malnutrisi, dan 58,26 % diantaranya (42,86% total subyek SHD) dalam keadaan muscle wasting (AOLA pada persentil < 5) dan menunjukkan korelasi dengan asupan energi (p=0,007). Meningkatnya mobilisasi lemak dan oksidasi substrat lemak ditandai oleh TLLBK pada lebih dari 67% subyek SHD pada persentil < 15 dan RQ = 0,7 ± 0,08, serta menunjukkan korelasi yang bermakna dengan kurangnya asupan energi (p = 0,005). Meningkatnya mobilisasi lemak dan lipolisis diduga mempunyai hubungan dengan rendah IGF-1 dan tingginya GH dalam darah. Walaupun oksidasi lemak diduga untuk mencegah berlanjutnya katabolisme otot, penelitian ini menunjukkan katabolisme otot berlanjut, hal ini ditandai dengan; imbang nitrogen negatif, rasio NUU/K.AOLA subyek SHD bermakna lebih tinggi dari kontrol sehat, dan RQ sekitar 0,43-0,86. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang bermakna REE subyek SHD dengan kontrol sehat; hal ini disebabkan oleh menurunnya massa otot, dan meningkatnya oksidasi substrat lemak sehingga konsumsi oksigen dan REE rendah. Data menunjukkan rasio REE/K.AOLA bermakna lebih tinggi dari kontrol sehat. Keadaan ini menujukkan subyek SHD dalam kondisi hipermetabolisme disertai penyimpangan metabolisme yang dapat ditandai oleh berlanjutnya mobilisasi lemak; oksidasi substrat lemak (tak sempurna); dan oksidasi substrat protein berlangsung bersama. Asupan nutrisi, komposisi tubuh, dan status metabolisme penderita SHD telab diidentifikasi merupakan acuan penting untuk menentukan REE. Dengan menggunakan variabel; rerata asupan energi, komposisi tubuh (TB, BB, AOLA, dan lainnya) dan derajat penyakit (skor Child-Pugh, albumin, dan NUU) sebagai variabel independen. Melalui uji regresi linier ganda (metode STEPWISE) penelitian ini menemukan 3 variabel merupakan determinan kuat REE yaitu TB, AOLA dan kadar albumin. Dan uji tersebut diperoleh persamaan model yang merupakan model REE estimasi SHD yang reliabel, sehingga dapat direkomendasikan sebagai rumus estimasi REE atau kebutuhan energi penderita SHD yaitu :
kebutuhan energi = -270,40+17,26*AOLA - 217,83*Albumin + 11,42*TB.
Kesimpulan Pada penderita SHD, keadaan hipermetabolisme tidak dapat ditentukan hanya dengan indikator REE. Hipermetabolisme pada subyek SHD menjadi nyata dengan menentukan REE/K.AOLA dan NUU/K.AOLA. Nasib oksidasi makronutrien pada SHD berbeda dengan pada starvasi. Pada subyek SHD lerjadi rangsangan mobilisasi lemak, oksidasi substrat lemak, katabolisme protein otol, dan oksidasi substrat protein secara bersama. Keadaan yang membuktikan adanya penyimpangan metabolisme. Dengan uji regresi limier ganda (metoda STEPWISE), AOLA, albumin dan tinggi badan ditemukan sebagai determinan kuat dari REE atau kebutuhan energi pada penderita SHD rawat inap di RS.

ABSTRACT
Objective: To study the metabolic status of the Decompensated Liver Cirrhotic (DLC) patients who were hospitalized, and to formulate the equation of energy requirements equal to their metabolic status.
Places: The Department of Nutrition and the Department of Internal Medicine at Sumber Waras Hospital (SWH), Jakarta.
The cross sectional study was carried out on 49 DLC subjects, aged 30-80 years, selected consecutively, and on 40 healthy control subjects, selected at random, from SWH staff. The REE data was determined by assessing the Oz consumption (V02) and CO2 production (VCO2] using an Indirect Calorimeter. Food intake was recorded for 3 consecutive days before determining REE. The anthropometrics data (AC, TSF, C.AMA, Height and Weight) and urine samples were assessed one day prior to determining REE. The blood samples for determining IGF-1 and GH were taken after the Indirect Calorimetric assessment (REE data). The statistical tests: Univarian (using Kormogorof-Smimov), Bivarian (using unpaired T-tests, Mann-Whitney and Pearson Correlation), Multivariate (using multiple linear regression).
Results The 49 DLC subjects were hospitalized mainly due to complications of ascites (87.76%); many also suffered with hematemesis (34.69%), melena (46.94%), or icterus (55.1%). Of the 49 subjects, 67.35% were classified as Child C, the rest were Child B. The subjective findings were nausea (63.27%) and/or anorexia (75.52%). The mean energy intake of DLC subjects was significantly lower than the control (healthy volunteers) (1282.74 229.85 vs. 1448.71 * 325.56; p = 0.006), and had a correlation to the degree of disease, Their intake had only been 79.49 17.60% of REE. The proportion of food intake to energy requirements was larger in the DLC subject who had no symptoms of nausea and anorexia. This study has proved that 73.57% of DLC subjects had malnutrition, and 58.26 % of them (42.86 % of all DLC subjects) were in a muscle wasting condition (the percentile of AMA < 5). Il showed a correlation to a decrease in the energy intake (p = 0.007). The increase of fat mobilization and lipid substrate oxidation were shown by the DLC subjects' TSF of more than 67% with a percentile of less than 15 and the mean RQ = 0.7 ± 0.08. This also had a significant correlation to a decrease in the energy intake (p = 0.005). The increase of fat mobilization and lipolysis was assumed to have a correlation with the low level of blood IGF-1 and the high levels of blood GH. The increase of lipid substrate oxidation was assumed to prevent the subsequent of muscle catabolism, however this study showed that the process of muscle catabolism does not end, which was marked by a negative nitrogen balance, a significantly higher the UNUIC.AMA than the control and a RQ of 0.43 - 0.86. In this study, there was no significant difference between the REE of the DLC subjects and the control; this was due to the decrease of muscle mass and the increase of lipid substrate oxidation. This caused a low V02 consumption and a low REE. This study showed REEIC.AMA of the DLC subjects was significantly higher than the control. This condition indicated that the subjects were hyper metabolic with several abnormalities in metabolism such as: continued stimulation causing lipid mobilization from adipose tissue; incomplete oxidation of fatty acid and protein substrate oxidation running together. Energy intake, body composition, the metabolic status of DLC patients was an important reference for the identification of the REE. By using variables which influenced REE, i.e. the mean energy intake, body composition (height, weight, C.AMA, etc.) and the degree of disease severity (Child-Pugh score, albumin, and UNU), which were tested by the multiple linear regression of STEPWISE method, the equation model has been formulated and tested The final equation for estimating energy requirement is:
Energy requirements = -270.40 + 17.26*AOLA - 217.83*Albumin + 11.42?Height.
Conclusion RITE is not the only indicator of hyper metabolism in DLC patients. Hyper metabolism can be identified in DLC patients using REFIC.AMA and UNUIC.AMA. This study has proved abnormalities in metabolism of DLC patients as follows: continued stimulation causing lipid mobilization from adipose tissue; oxidation of fatty acid; muscle protein catabolism; and protein substrate oxidation running together. Through multiple linear regression analysis (the STEPWISE method), AMA, albumin level and height have been found as strong determiners of REE or determiners of energy requirements for DLC subjects.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003
D476
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library