Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 54 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Desy Fajarina
"Permasalahan pencemaran air oleh ion logam berat memberikan pengaruh sangat buruk bagi kehidupan dan lingkungan karena sifatnya yang non-biodegradabel. Adsorpsi merupakan metode yang sangat efisien dan murah untuk menghilangkan polutan ion logam berat dari air limbah. Dalam penelitian ini, dilakukan studi adsorpsi ion logam Pb(II) dan Cd(II) menggunakan hidrogel berbasis PAA yang dimodifikasi oleh kitosan. Pembentukan hidrogel poli(asam akrilat)-kitosan (PAA-CTS) dilakukan dengan metode iradiasi gamma melalui reaksi polimerisasi radikal bebas dan dikarakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR. Dilakukan variasi pH, konsentrasi awal ion logam dan waktu kontak untuk menentukan kondisi optimum dari adsorpsi ion logam Pb(II) oleh hidrogel PAA-CTS.
Kondisi optimum adsorpsi ion logam Pb(II) diperoleh pada pH 5,5, konsentrasi awal Pb(II) sebesar 939 ppm dan waktu kontak selama 60 menit. Proses adsorpsi dari ion logam Pb(II) oleh hidrogel PAA-CTS mengikuti isoterm adsorpsi Langmuir dan kinetika adsorpsi orde dua semu dengan konstanta laju, k2, sebesar 1,129x101g/mmol menit. Studi termodinamika menunjukan reaksi yang terjadi selama proses adsorpsi ion logam Pb(II) oleh hidrogel PAA-CTS berlangsung spontan dengan nilai ∆G negatif, ∆H sebesar -88,292 kJ/mol dan ∆S -270,69 J/K mol.

The problems of water pollution by heavy metal ions have very bad influence for the living and the environment because it’s non-biodegradability. Adsorption is the most efficient and inexpensive method for recovery of heavy metal ions pollutans from wastewater. In this research, conducted studies of Pb(II) and Cd(II) metal ions adsorption using hydrogel based on poly(acrylic acid) (PAA) which modified by chitosan (CTS). Synthesis of poly(acrylic acid)-chitosan (PAA-CTS) was made by gamma irradiation method with free radical polymerization and characterized by FTIR spectroscopy. Do variations of pH, initial concentration of metal ion and contact time for determine optimum conditions from Pb(II) metal ion adsorption by PAA-CTS hydrogel.
The optimum conditions for metal ion adsorption of Pb(II) obtained at pH 5,5, initial concentration 939 ppm of Pb(II) and contact time for 60 minutes. Adsorption process of Pb(II) metal ion by PAA- CTS hydrogel followed by Langmuir adsorption isotherm and pseudo second order kinetics with rate constants 1,129x10-1 g/mmole min. Thermodynamics studies showed that adsorption process of Pb(II) metal ion by PAA-CTS hydrogel was spontaneously with negative value of ∆G, ∆H -88,292 kJ/mole and ∆S -270,69 J/K mole.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S52817
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Anggraeni
"Minyak mentah dapat diolah menjadi banah bakar yang berguna bagi manusia, seperti minyak tanan, bensin, solar dan Iain-Iain. Minyak mentan Duri yang akan dikirim ke Dumai harus memiliki kaciar persen Basic Sedimen & Water (%BS&W) yang <1%. Permasalanah yang sering timbul acialan banvva minyak mentan Duri masih mengandung air yang dapat membentuk emulsi dengan adanya emulsifier alami. Adanya air dalam emulsi minyak mentan dapat menyebabkan berkurangnya efisiensi pemurnian minyak bumi, biaya produksi yang tinggi, dan korosi pada pipa.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja demulsifier pada berbagai kondisi operasi yang digunakan dalam proses pemisanan air dari minyak mentan Duri, yaitu dengan memvariasikan dosis demulsifier, jenis dan konsentrasi surfaktan, temperatur, pH, salinitas dan hardness. Penentuan kondisi optimal berdasarkan pengukuran volume air yang terpisan dan %BS&W ciengan metode bottle test. Karakterisasi minyak mentan Duri dilakukan dengan analisis SARA, HPLC dan Kromatografi Gas.
Hasil karakterisasi menunjukkan, banvva minyak mentan Duri mengandung emulsifier alami aspnaltene 23% dan resin 33%. Kondisi optimum yang diperolen yaitu dosis demulsifier 50 ppm, konsentrasi surfaktan SDS 50 ppm, temperatur 82,2°C, pH 7, kadar salinitas 2000 ppm, kadar hardness 1250 ppm. Hampir semua faktor tersebut mengnasilkan volume pemisanan air 50-60 mL per 100 mL sampel dan %BS&W di bavilan 1%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
S30385
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siahaan, Amrina
"Pemisahan gas CO2 dari CH4 yang terdapat dalam gas alam penting dilakukan karena sifatnya dapat menyebabkan korosi pada pipa gas. Gas CO2 juga dapat menurunkan nilai kalor dari gas alam. Teknologi membran telah mulai dikembangkan untuk pemisahan gas CO2 dari CH4 karena prosesnya yang sederhana, mudah, ramah lingkungan serta konsumsi energi dan biaya operasional yang rendah. Di dalam penelitian ini digunakan membran selulosa asetat (CA). Pembuatan membran CA dilakukan dengan melarutkan CA di dalam aseton. Proses koagulasinya dilakukan dengan metode inversi fasa. Untuk memperoleh selektivitas pemisahan CH4 dan CO2 optimum dilakukan penambahan PEG, Formamida, variasi media penyimpanan (desikator, air dan solvent drying desikator dan solvent drying heksan) dan variasi suhu koagulasi ( 10oC, 18oC dan 250C). Pengukuran laju permeasi dilakukan menggunakan sel permeasi pada tekanan 10-100 psi . Nilai selektivitas didapat melalui perbandingan laju permeasi CO2 terhadap CH4.. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa selektivitas optimum pemisahan CO2 dan CH4 adalah dengan menggunakan PEG, dengan media penyimpanan solvent drying desikator dan suhu koagulasi 25oC. Nilai selektivitas optimum 572.74.

The separation of CO2 from CH4 in the natural gas are important because its characteristics can cause corrosion, can also reduce the heat value of natural gas. Nowadays, membrane technology has been environment and energy consumption and operational costs are low. In this research we use membrane made from cellulose acetate (CA). Membrane CA made by dissolved its CA in the acetone. The process coagulation itself using phase inversion. To gain an optimum selectivity in separation CH4 and CO2, we could added PEG, Formamida, variations of the storage media (desiccators, water and solvent drying desiccators and solvent drying hexane) and the variations of coagulation temperature (10oC, 18oC and 25oC). To measured its permeability we can use permeation cell at the pressure of 10-100 psi. Selectivity also been measured by compare its permeatio of CO2 to CH4. This research found that an optimum selectivity for separation CO2 and CH4 is using PEG, with storage media solvent drying desiccators and coagulation temperature measured at 250. Optimum selectivity is 572.74."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S30721
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yomi Fernando
"Pada penelitian ini diformulasikan demulsifier untuk destabilisasi emulsi crude oil Jatibarang, agar diperoleh nilai % basic sediment and water (%BS&W) kecil dari 0,5 %. Karakterisasi fisik (Densitas, Spesific gravity, API gravity, pour point, dan viskositas kinematik) menunjukkan bahwa crude oil Jatibarang adalah heavy crude oil. Karakterisasi kimia didapatkan asphaltene content adalah 10,263 % (w/w), nilai % BS&W 59,8 % dan emulsi yang sangat stabil dengan jenis emulsi air dalam minyak W/O. Seleksi demulsifier didapatkan 3 demulsifier terbaik yaitu, EO PO kopolimer blok RSN 15,5, triol Polyeter EO PO kopolimer blok RSN 9,4 dan tetrol polyether EO PO kopolimer blok RSN 11. Campuran 2 demulsifier terbaik adalah triol polieter EO PO kopolimer blok RSN 9,4 dan tetrol polieter EO PO kopolimer blok RSN 11. Campuran 3 demulsifier diperoleh formula Mix 29-3 dengan perbandingan komposisi 60:20:20 (triol polieter EO PO kopolimer blok RSN 9,4 : tetrol polieter EO PO kopolimer blok RSN 11: EO PO kopolimer blok RSN 15,5), volume injeksi pada 60 μL/100 mL, suhu pemisahan optimal 80° C dengan toluen sebagai pelarut dan pada pH 7 sebagai kondisi optimal untuk memisahkan air dalam minyak hingga didapatkan nilai %BS&W 0,5 %. Pada beberapa formulasi ini bisa menurunkan nilai BS&W crude oil Jatibarang dari 59,8 % hingga 0,2 %.

This research was formulated some demulsifiers to destabilization emulsion of Jatibarang crude oil, a purpose to getting crude oil with %BS&W less than 0,5 %. Physics characterization (Density, Spesific gravity, API gravity, pour point, and kinematics viscosity) showed which Jatibarang crude oil is heavy crude oil. Chemistry characterization was getting 10, 263 % (w/w) the asphaltene content, % BS&W is 59,8 % and stabil emulsion which the kind of emulsion is water in oil W/O. Selection of demulsifiers showed three best demulsifiers, EO PO copolymer block RSN 15,5, triol Polyether EO PO copolymer block RSN 9,4 and tetrol polyether EO PO copolymer block RSN 9,4. Best mixture for two demulsifier is triol poliether EO PO copolymer block RSN 9,4 and tetrol polyether EO PO copolymer block RSN 11. Best mixture for three demulsifier is Mix 29-3, formula 60:20:20 (triol polyether EO PO copolymer block RSN 9,4 : tetrol polyether EO PO copolymer block RSN 11 : EO PO copolymer block RSN 15,5), injection concentration is 60 μL/100 mL, optimal temperature separation is 80° C with toluen as solvent delivery and pH 7 areoptimal conditional to separates water from crude oil till %BS&W less than 0,5%. Some formulation could decrease % BS&W Jatibarang crude oil from 59,8 % to 0,2 %."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1710
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Falah Setyo Pambudi
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1997
TA942
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bernat Hie
"Fabrikasi Polyelectrolyte Bilayer - Modified Zeolite (PEB - MZ) dilakukan dengan mengadsorpsikan zeolit aktif Clinoptilolite dengan polikation Polyallylamine Hydr°Chloride (PAH) dan polianion Polystyrene Sulfonate (PSS) menggunakan teknik Layer by Layer (LbL). PEB - MZ ini dimanfaatkan untuk mengadsorpsi surfaktan kationik exadecyltrimethyl ammonium Bromide (HDTMA-Br) dan anionik Sodium Dodecyl Sulfate (SDS).
Proses adsorpsi antara polyelectrolyte bilayer dengan surfaktan kationik dan anionik diamati menggunakan Spektrofotometer UV - Vis dan FT - IR. Penelitian ini untuk memfabrikasi PEB - MZ dengan teknik LbL , mencari kondisi optimum adsorpsi HDTMA+ pada PEB - MZ, menentukan metode urutan adsorpsi surfaktan dan mempelajari kestabilan interaksi polielektrolit - surfaktan. PEB - MZ telah berhasil dibuat ditandai dengan spektrum FTIR yang menunjukkan gugus - gugus fungsi dari PAH dan PSS.
Didapatkan kondisi optimum adsorpsi surfaktan kationik pada PEB - MZ pada konsentrasi HDTMA-Br 0,04 M (93,92% teradsorpsi), waktu pengadukan 60 menit, pH 8,0. Jika dibandingkan, daya adsorpsi HDTMA+ pada PEB - MZ 5,35 kali lebih besar daripada nilai ECEC zeolit aktif saja. Interaksi surfaktan dengan polielektrolit sangat kuat, dibuktikan dengan % desorpsi hanya mencapai 6,59% dengan pencucian menggunakan HCl 0,01 N sebanyak 3 kali pada temperatur ruang, dan 4,82% dengan HCl 0,01 N sebanyak 1 kali pada temperatur 60°C."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
S30403
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlaela Ramdhani
"Fabrikasi film polielektrolit terhadap permukaan padatan dengan menggunakan metode adsorpsi layer by layer adalah teknik yang menjanjikan untuk memodifikasi permukaan. Sifat penting Polyelectrolyte Bilayer Modified Zeolite (PEB-MZ) adalah bahwa PEB-MZ memiliki kelebihan muatan positif dan negatif. Kelebihan muatan ini memungkinkan adsorpsi berbagai macam senyawa dengan interaksi elektrostatik.
Penelitian ini memberikan usulan model untuk mengatasi masalah limbah surfaktan dengan metode adsorpsi surfaktan pada adsorben Polyelectrolyte Bilayer Modified Zeolite (PEB-MZ) PAH/PSS. Pembuatan PEB-MZ PAH/PSS dibuat dengan membuat Polymer Modified Zeolite (PMZ) PAH terlebih dahulu pada kondisi optimum hasil penelitian sebelumnya, kemudian melapisi PSS dengan memvariasikan konsentrasi PSS, pH dan kuat ion. Kondisi optimum PEB-MZ PAH/PSS didapat pada konsentrasi PSS 5,0x10-5 M, pH 3 dan konsentrasi kuat ion pada 0.06 M,% PSS yang diadsorpsi sebesar 45.45%. PEB-MZ PAH/PSS diaplikasikan untuk mengadsorpsi HDTMA-Br dan SDS.
Hasil HDTMA-Br 2,0x10-2 M yang diadsorpsi PEB-MZ PAH/PSS sebesar 93.5% dan SDS 3,5x10-2 M yang diadsorpsi pada PEB-MZ PAH/PSS sebesar 32%. Hasil karakterisasi spektrum FTIR PEB-MZ PAH/PSS terlihat adanya puncak serapan pada í = 714,3 cm-1 yang menunjukkan vibrasi regang S-O dari PSS. Hasil karakterisasi spektrum FTIR HDTMA-Br yang teradsorpsi pada PEB-MZ PAH/PSS terlihat adanya puncak serapan pada í = 2923,29 dan 2851,64 cm-1 yang menunjukkan vibrasi regang alifatik sp3 CH dari HDTMA-Br dan pada í = 1473,27 cm-1 yang menunjukkan vibrasi N-H bending dari HDTMA-Br."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
KIM.028/08 Ram s
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Sumarjanto
"ABSTRAK
Saat ini minyak bumi masih merupakan sumber energi utama. Sebagai sumber energi yang tidak dapat diperbaharui maka minyak bumi yang dihasilkan semakin berkurang pada masa, yang akan datang. Proses pengurasan minyak bumi dengan cara. cc primer" dan "sekunder" memberikan hasil yang terbatas (± 35%), sedangkan minyak bumi yang tersisa pada reservoar masih cukup banyak *(± 65%). Nlinyak bumi yang tersisa, tedebak di dalam pori-pori batuan reservoar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kemampuan. suatu surfaktan untuk menarik beberapa jenis minyak bumi dari pori-pori beberapa jenis batuan reservoar ke dalam. fasa air formasi buatan dengan melihat perubahan sudut kontak yang terjadi dari sistem air fonnasi/minyak bumi/batuan reservoar. Surfaktan yang dipakai mempunyai gugus a-olefin sulfonat. Dengan memvafiasikan konsentrasi surfaktan di dalam air formasi buatan dilihat pengaruh surfaktan terhadap sudut kontak yang terbentuk pada sistem air formasi/minyak bumi/batuan reservoar. Temperatur yang dipakai disesuaikan dengan keadaan reservoar pada umumnya yaltu 50'C dan 60'C. Alat yang digunakan untuk mellhat sudut kontak adalah Goinonieter. Digunakan tiga jenis minyak butni yaltu A, B dan C serta dua jenis batuan reservoar yaltu batuan pasir dan batuan kapur. Sifat fisika darl batuan reservoar yaltu porositas, permeabilitas dan ukuran pori-porinya ditentukan dengan dengan porosimeter, permeameter dan scanning mikroskop elektron. Hasil darl penguk-uran sudut kontak sistern air formasi/minyak bumi/batuan reservoar mernberikan hasil yang baik pada konsentrasi surfak-tan 10 mg/100ml balk pada temperatur 50'C dan 60T. Sudut kontak pada subu 50'C ada'iah 25,50' dan pada suhu 60'C adalah 59,17' untuk minyak burni A dengan batuan. pasir,- minyak bumi A dengan batuan kapur pada suhu 50'C adalah 42,91' dan pada subu 60'C adalah 46,45'; minyak bumi B dengan batuan pasir pada suhu 50T adalah 54,40' dan pada suhu 60T adalah 65,500; minyak bumi B dengan *batuan kapur pada suhu 50'C adalah 40,57' dan pada suhu 60'C adalah 47,71', minyak bumi C dengan batuan. pasir pada suhu SOT adalah 70,44' dan pada suhu 60*C adalah 78,40'; minyak bumi C dengan batuan kapur pada suhu 50T adalah 43,50' dan pada suhu 60'C adalah 49,66'. Surfaktan yang mempunyai gugus cc-olefin sulfonat dapat memberikan peningkatan sudut kontak. Batuan dengan pori-pori yang lebih besar dan. n^nyak burni yang bersifat lebih polar memberikan peningkatan sudut kontak yang lebih besar."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1997
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>