Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 36 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Safania Salsabilla Lalin
"Indonesia memiliki keunggulan di sektor pertambangan, dengan sumberdaya mineralnya yang melimpah, salah satunya adalah nikel. Menurut data Kementrian ESDM pada tahun 2020, cadangan nikel Indonesia, sebagian besar 90% tersebar di daerah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Daerah penelitian berlokasi di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara dengan tipe deposit atau endapan nikelnya adalah tipe endapan nikel laterit yang berasal dari batuan dasar Komplek Batuan Ultrabasa Halmahera (Ub). Batuan dasar pada endapan nikel laterit, memiliki peranan penting dalam menghasilkan karakteristik endapannya. Namun sampai saat ini penelitian mengenai hal tersebut masih jarang ditemukan terutama pada daerah penelitian sehingga menarik untuk dilakukan studi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit yang dihasilkan dari jenis batuan dasar yang berbeda, serta potens unsur yang ada. Penelitian diawali dengan klasifikasi batuan induk analisis petrologi, petrografi, dan statistik deskriptif dari data geokimia, kemudian dilanjutkan dengan memodelkan kadar Ni menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). Hasil penelitian didapati bahwa daerah penelitian tersusun atas batuan ultramafik harzburgit dan dunit. Dari hasil analisis data geokimia pada setiap lapisan, didapati bahwa persentase nikel tertinggi terdapat pada lapisan saprolit yang dihasilkan dari batuan dasar dunit dengan kemiringan lereng dominan sangat landai.

Indonesia has an advantage in the mining sector, with its abundant mineral resources, one of which is nickel. According to data from the Ministry of Energi and Mineral Resources in 2020, most of Indonesia's nickel reserves, 90% are scattered in Southeast Sulawesi, Central Sulawesi, South Sulawesi and North Maluku. The research area is located in East Halmahera Regency, North Maluku with the type of nickel deposit or deposit being laterite nickel deposit type originating from the bedrock of the Halmahera Ultrabasic Rock Complex (Ub). The bedrock in laterite nickel deposits has an important role in producing the characteristics of the deposit. However, until now research on this matter is still rarely found, especially in the research area, so it is interesting to conduct further studies. This study aims to determine the characteristics of laterite nickel deposits produced from different types of bedrock, as well as the potential of the elements present. The study begins with the classification of the source rock with petrological analysis, petrography, and descriptive statistics from geochemical data, then proceeds with modeling the levels of Ni using the Inverse Distance Weighting (IDW) interpolation method. The results showed that the study area is composed of ultramafik harzburgite and dunite rocks. From the analysis of geochemical data for each layer, it was found that the highest percentage of nickel was found in the saprolite layer produced from dunite bedrock with a very gentle dominant slope.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhandi Maulana Yudhistira
"Penelitian ini membahas rock typing menggunakan metode Flow Zone Indicator (FZI) yang diimplementasikan pada reservoir batupasir “Jaeger” yang termasuk ke dalam Formasi Balikpapan di Blok Sanga Sanga, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Metode tersebut mampu memberikan pemahaman terkait faktor-faktor yang mengontrol kualitas dan karakteristik aliran fluida di dalam batuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan perspektif baru terkait upaya dalam optimalisasi cadangan di mana reservoir tersebut diindikasikan terdapat parallel boundaries. Sehingga, perhitungan cadangan sebelumnya tidak selaras dengan produksi awal yang telah dilakukan. Hasil penelitian menghasilkan dua rock type, yaitu RT 1 (terbaik) dan RT 2 (baik). Kemudian, pseudo-rock type untuk mengakomodasi data yang minimum berjumlah dua, yaitu RT 3 (terburuk) dan batubara. Interpretasi kualitatif dan kuantitatif tiap rock type merujuk kepada nilai porositas dan permeabilitas dari data yang didapatkan maupun diolah dengan pendekatan petrofisika. Selain itu, stratigraphic boundaries teridentifikasi pada reservoir dikarenakan perbedaan fasies lingkungan pengendapan. Hasil integrasi keseluruhan data menunjukkan model fasies lingkungan pengendapan yang secara bertahap berubah secara relatif dari utara menuju selatan reservoir. Pada bagian utara, teridentifikasi fasies fluvial distributary channel yang secara bertahap menuju selatan menjadi fasies tidal distributary channel dan distributary mouth bar. Lalu, hasil rock type yang secara umum mendukung batas-batas tersebut. Hasil implementasi ini cukup berguna bagi kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi lebih lanjut.

This research examines rock typing performing the Flow Zone Indicator (FZI) method implemented on a sandstone reservoir “Jaeger” within the Balikpapan Formation in Sanga Sanga Block, Kutai Basin, East Kalimantan. This method allows the understanding of factors that control the quality and fluid flow characteristics inside the rock. The scope of this research is to acquire a current outlook about efforts to optimize reserves that indicated the reservoir to have parallel boundaries. Therefore, the prior reserve estimation is not conformable with the initial production. Two rock types are classified, i.e., RT 1 (the best) and RT 2 (good). Then, the generation of two pseudo-rock types accommodates the minimum data, i.e, RT 3 (the worst) and coal. The interpretation of quantitative and qualitative of each rock type assigns to the porosity and permeability values from the data acquired and processed using a petrophysical approach. In addition, the perceived stratigraphic boundaries separate the reservoir due to its different depositional environments. The results of the integration data show a model of the depositional environment that gradually changes approximately from north to south of the reservoir. The recognition of the northern part of the reservoir is the fluvial distribution channel facies. That facies then progressively headed south to become a tidal distribution channel and a distribution mouth bar facies. Subsequently, the result of rock type generally supports those boundaries. The outcomes of this research are valuable enough for further exploration, development, and production activities."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raihan Fathoni
"Pantai Bagedur berada di Kabupaten Lebak, Banten memiliki karakteristik sedimen yang diduga terendapkannya endapan tsunami purba. Daerah penelitian termasuk ke dalam Endapan Aluvium (Qa) dan Endapan Undak Pantai (Qc) pada Peta Regional Lembar Cikarang (Sudana & Santoso, 1992). Sampel sedimen lepas bawah permukaan diambil menggunakan metode lubang bor tangan pada delapan stasisun penelitian dengan kedalaman yang bervariasi. Penelitian kali ini berfokus terhadap studi provenance dari endapan tsunami purba dan juga karakteristiknya berdasarkan geokimia. Metode analisis yang digunakan berupa analisis petrografi, X-Ray Diffraction (XRD), dan X-Ray Fluorescence (XRF). Hasil analisis petrografi menunjukkan bahwa tipe provenance utama dari daerah penelitian menurut diagram Q-F-L dan Qm-F-Lt (Dickinson & Suzcek, 1979) adalah recycled orogen. Kerangka tektonik yang mempengaruhi dari tipe provenance recyceled orogen merupakan zona subduksi dan diinterpretasikan ada kaitannya dengan subduksi di selatan Pulau Jawa. Berdasarkan analisis XRD dan XRF, didapatkan bahwa didominasi oleh senyawa SiO2, Al2O3, dan Fe2O3 dan pada stasiun BG 06 memiliki unsur yang dominanas berasal dari Laut. Endapan tsunami mengalami erosi dan pelapukan yang cukup tinggi.

Bagedur Coast in Lebak Districts, Banten has sediment characteristic that assumed as deposit of paleotsunami deposit. The Research area consisted of Alluvium Deposit (Qa) and Beach Terrace Deposit (Qc) from Geological Map of Cikarang (Sudana & Santoso, 1992). Loose Sediment sample have collected using Hand Auger drilling methods from eight observation stations with various depth. This research is focused in provenance study from paleotsunami deposit and geochemistry characteristics. The method that used is petrography analysis, X-Ray Diffraction (XRD), and X-Ray Fluorescence (XRF). The result of petrography analysis show the type of provenance from research area according to Q-F-L dan Qm-F-Lt diagram (Dickinson & Suzcek, 1979) is recycled orogen. Geological setting that control provenance type of recycled orogen is subduction tectonic regime and interpreted to be related with subduction in South of Java. Based on XRD and XRF analysis, SiO2, Al2O3, and Fe2O3 are the dominating compound and from BG 06 station can be concluded the dominant deposit is originate from marine environment. Paleotsunami deposit have been undergone extreme erosion and weathering.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sarfina Adani
"Parakasak adalah salah satu gunung berapi kuaterner yang sebagian besar tersusun oleh lava andesitik dan piroklastik. Potensi sistem panas bumi terlihat oleh manifestasi sumber air panas di Batukuwung sebagai objek wisata lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem panas bumi di sana dan membuat model konseptual melalui pemahaman kita tentang karakteristik mereka. Metode untuk mencapai ini dapat dilakukan dengan mengambil dan menganalisis sampel geologi, analisis petrografi sebagai data primer, analisis geokimia dan geofisika sebagai data sekunder.
Berdasarkan analisis di atas, Mt. Parakasak adalah stratovolcano relief tinggi dengan dua sesar tektonik yaitu sesar Batukuwung dan sesar Wangun. Ia juga memiliki struktur runtuh di pusat gunung sebagai hasil dari letusannya di masa lalu. Karakteristik sistem panas bumi di daerah ini didominasi cairan, air meteorik sebagai sumber, dan memiliki suhu sedang (175˚C-230 ˚C). Sumber panas berasal dari ruang magma dan reservoir adalah lava andesit piroklastik dan fraktur.

Mt. Parakasak is a quaternary volcano composed mostly of andesitic and pyroclastic lava. Potential geothermal systems are seen by the manifestation of hot springs in Batukuwung as a local tourist attraction. This research aims to find out the geothermal system there and create a conceptual model through our understanding of their characteristics. Methods to achieve this can be done by taking and analyzing geological samples, petrographic analysis as primary data, geochemical analysis and geophysics as secondary data.
Based on the above analysis, Mt. Parakasak is a high relief stratovolcano with two tectonic faults, the Batukuwung fault and the Wangun fault. It also has a collapsed structure at the center of the mountain as a result of its eruption in the past. The characteristics of geothermal systems in this area are dominated by liquids, meteoric water as a source, and has a moderate temperature (175˚C-230 ˚C). The heat source comes from the magma chamber and the reservoir is pyroclastic andesite lava and fracture.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rifqi Bambang Prasetio
"Porositas dan permeabilitas merupakan parameter penting kualitas batu pasir. Kualitas batupasir sangat dipengaruhi oleh proses pasca pengendapan yaitu prosesnya diagenesis batupasir seperti kompaksi, sementasi, dan disolusi. Area penelitian merupakan singkapan dari Formasi Jatiluhur yang berumur Miosen Tengah dan disimpan di lingkungan batial (lereng-rak). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui porositas dan permeabilitas serta perilaku mineral lempung terjadi dari singkapan analog formasi Jatiluhur berdasarkan data Pengukuran penampang stratigrafi menggunakan metode analisis data batuan inti rutinitas dan SEM. Hasil porositas batupasir formasi Jatiluhur berada dalam kisaran 9% - 16% sedangkan hasil permeabilitas berada pada range 0.1 mD - 0.7 mD. Hubungan porositas dan permeabilitas batupasir formasi Jatiluhur cenderung berbanding lurus. Mineral tanah liat ditemukan di batupasir Formasi Jatiluhur termasuk kaolinit yang berperan sebagai pengisi pori, smektit dengan sifat sebagai pengisi pori dan pelapis pori, serta illite dengan perilaku sebagai pelapis pori. Dari usia muda hingga tua, kandungan mineral illite semakin parah melimpah karena suhu yang lebih tinggi di lingkungan pengendapan lebih dalam. Hasil porositas dan permeabilitas batupasir formasi Jatiluhur sangat heterogen karena adanya mineral autigenik seperti mineral mineral kaolinit, smektit, ilit, dan detritus seperti kalsit dan kuarsa, serta mineral albite. Hubungan porositas dengan kelimpahan mineral sekunder dari usia muda hingga tua semakin membesar karena semakin banyaknya mineral tidak sehat dapat membentuk mikropori.

Porosity and permeability are important parameters of sandstone quality. The quality of the sandstones is greatly influenced by the post-deposition process, namely the diagenesis of the sandstones such as compaction, cementation, and dissolution. The research area is an outcrop of the Jatiluhur Formation which is Middle Miocene and stored in a batial environment (slopes). The purpose of this study is to know the porosity and permeability as well as the behavior of clay minerals occurs from the analog outcropping of the Jatiluhur formation based on the data Measurement of stratigraphic sections using routine core rock data analysis methods and SEM. The porosity results of the Jatiluhur formation sandstones are in the range of 9% - 16% while the permeability results are in the range 0.1 mD - 0.7 mD. The porosity and permeability relationship of the Jatiluhur formation tends to be directly proportional. Clay minerals found in the sandstones of the Jatiluhur Formation include kaolinite which acts as a pore filler, smectite with properties as a pore filler and pore coating, and illite which acts as a pore coating. From young to old age, the mineral content of illite is increasingly abundant due to higher temperatures in the deeper depositional environment. The porosity and permeability of the Jatiluhur formation sandstones are very heterogeneous due to the presence of autigenic minerals such as kaolinite, smectite, illite, and detritus such as calcite and quartz, and albite minerals. The relationship between porosity and secondary mineral abundance from young to old is getting bigger because more and more unhealthy minerals can form micropores."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Johana Wynne Mulyo
"Batupasir Formasi Jatiluhur merupakan lapisan yang merupakan analogi singkapan yang baik dari salah satu lapangan migas di Cekungan Jawa Barat Utara. Aktivitas tektonik sejak Miosen Tengah telah menyebabkan lapisan ini pecah, terlipat, dan terpapar ke permukaan, yang menyebabkan lapisan ini mengalami proses diagenesis secara bertahap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tahapan dan proses diagenesis yang terjadi serta pengaruhnya terhadap porositas batuan. Data dalam penelitian ini berasal dari pengukuran potongan stratigrafi yang kemudian dimasukkan ke dalam laboratorium petrografi dan SEM. Hasil analisis petrografi menunjukkan bahwa batupasir Formasi Jatiluhur telah mengalami proses diagenesis berupa pemadatan, pelarutan, dan sementasi. Pemadatan meliputi penataan kembali butiran sedimen dan rekahan dalam sampel batuan. Sementasi terlihat pada analisis SEM yang menunjukkan bahwa semen pada batupasir adalah kalsit, ilit, smektit, dan pirit mineral autigenik. Pelarutan sampel batuan membentuk porositas sekunder, sehingga meningkatkan bilangan porositas. Porositas berkisar antara 1-20%. Variasi nilai porositas ini disebabkan oleh proses sementasi dan pelarutan yang intensif. Dari hasil integrasi analisis petrografi dan SEM, disimpulkan bahwa batupasir Formasi Jatiluhur telah mengalami regim mesogenesis diagenesis.

The Jatiluhur Formation Sandstone is a layer which is an analogy of a good outcrop from one of the oil and gas fields in the North West Java Basin. Tectonic activity since the Middle Miocene has caused this layer to break, fold, and be exposed to the surface, which causes this layer to undergo a gradual diagenetic process. This research was conducted to determine the stages and processes of diagenesis that occur and their effect on rock porosity. The data in this study came from measurements of stratigraphic pieces which were then entered into the petrographic laboratory and SEM. The results of petrographic analysis show that the sandstones of the Jatiluhur Formation have undergone diagenetic processes in the form of compaction, dissolving, and cementation. Compaction includes the rearrangement of sediment grains and fractures in rock samples. Sementation can be seen in SEM analysis which shows that the cement in the sandstones is calcite, illite, smectite, and autigenic mineral pyrite. The dissolving of rock samples forms secondary porosity, thereby increasing the porosity number. The porosity ranges from 1-20%. This variation in the porosity value is caused by the intensive cementation and dissolving processes. From the results of the integration of petrographic and SEM analysis, it is concluded that the sandstones of the Jatiluhur Formation have undergone a mesogenesis diagenesis regime.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ian Kantona Tareqila
"Kualitas batubara kokas dapat diukur melalui banyak parameter. Volatile matter (VM) dan reflektansi virtrinit maksimum (RoMax) merupakan dua parameter kualitas batubara yang memiliki kekuatan korelasi paling kuat. Namun saat ini belum terdapat standar klasifikasi kualitas batubara kokas yang baku serta tidak terjangkaunya proses identifikasi saat penambangan jika harus menggunakan analisis petrografi maceral. Analisis cutoff volatile matter dapat menjadi alternatif dari permasalahan tersebut untuk mengidentifikasi batubara kokas yang memiliki VM lebih rendah (MV1) dan VM lebih tinggi (MV2). Lokasi penelitian berada di tambang Blok X Adaro Metcoal Companies yang memiliki 23 seam batubara dan dipengaruhi oleh tatanan geologi dari Cekungan Kutai Atas. Batubara kokas di daerah penelitian memiliki kualitas VM 23-36% dmmf (kelas Medium Volatile/MV) dan RoMax 1,01-1,30%. Untuk mengidentifikasi rank batubara kelas MV telah ditentukan bahwa RoMax = 1,15% ialah nilai tengah untuk MV1 dan MV2 dan akan menjadi acuan pemotongan nilai VM. Korelasi VM-RoMax dari data bor eksplorasi dipilih basis daf (dried ash free) karena memiliki kekuatan korelasi (Rsq) paling baik, yaitu 72,1%. Kemudian dari korelasi ini dilakukan koreksi anomali (sepeti kadar air dan ash) sehingga korelasi meningkat menjadi 76%. Dari hasil korelasi tersebut didapatkanlah cut-off VM 30% daf ialah nilai perpotongan RoMax 1,15. Kemudian untuk menguji validasi dan keberlanjutan kualitas tersebut antara kondisi saat eksplorasi terhadap penambangan saat ini dilakukanlah korelasi serupa, namun menggunakan pemodelan krigging dan data aktual melalui channel sampling. Deviasi nilai VM model dengan VM aktual rata-rata ±1,08% daf (STD = 2,40%). Oleh karena itu proses identifikasi dengan cutoff VM 30% daf ini valid dan dapat diterapkan untuk operasional penambangan.

The quality of coking coal is measured by several parameters. Volatile matter (VM) and vitrinite reflectance (RoMax) are the two most reliable coal parameter that have a very strong correlation. Unfortunately, the classification standard for coking coal has not readily been determined and the petrography analysis to determine RoMax is unaffordable. Cutoff volatile matter analysis can be used as an alternative to overcome those issue since the output is to identify coking coal by its volatile matter contains, which has lower VM (MV1) or higher VM (MV2). The location of the research is located in Blok X opened-active mining site Adaro Metcoal Companies that has 23 seams coal and affected by its geological setting particularly from Upper Kutai Basin. Thorugh several lab analysis, this coking coal contains 23-36% dmmf that made it classified as Medium Volatile (MV) class. The RoMax ranges between 1.01-1.30%. In order to identify the rank particularly for MV coking coal, it has been decided that RoMax = 1.15% is median for MV1 and MV2 which later will be a cut-off based. Drillholes data has shown the correlation of VM-RoMax is stronger when using daf (dried ash free) bases, where Rsq = 72,1%. The anomaly correction is later conducted and yields 76%, which is higher and better to use. By this correlation the VM cutoff through 1.15 RoMax is 30% daf. Then to test the validation and its sustainability, this research has undertaken a comparison study of exploration modelling data to actual (recent) data through channel sampling. So that from comparison study the difference slightly ranges in ±1,08% daf (STD = 2,40%). From then on using VM cut-off 30% daf for identification process is valid, relatively sustainable and can be applied for daily mining operations."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jimmy
"Gunung Jambu merupakan sebuah bukit karbonat terisolir. Keunikan dari bukit ini ialah pada kondisi geologinya, di mana batugamping tersingkap secara masif. Bukit ini termasuk pada Anggota Batugamping Formasi Bojongmanik yang memiliki umur Miosen dengan komposisi litologi berupa batugamping. Bukit ini terletak pada Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan mikrofasies, zona fasies, serta tipe dan kualitas porositas pada sayatan tipis batugamping di daerah penelitian. Metode yang digunakan berupa analisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan data sayatan petrografi untuk mengetahui tekstur, kandungan fosil, serta porositas. Berdasarkan analisis mikrofasies pada daerah penelitian, ditemukan 5 tipe mikrofasies standar yang berbeda berdasarkan Flugel (2010), yaitu SMF 5, SMF 7, SMF 8, SMF 10, dan SMF 12. Setelah tipe mikrofasies diketahui, didapatkan 4 tipe zona fasies berdasarkan model Wilson (1975), yaitu FZ 2 deep shelf, FZ 4 slope, FZ 5 platform margin reefs, dan FZ 7 open marine. Terdapat 5 jenis porositas yang berkembang, yaitu vug, moldic, intraparticle, fracture, dan fenestral dengan nilai porositas berkisar antara 0 hingga 22% yang dihitung menggunakan rumus berdasarkan data grid point counting. Dari nilai porositas tersebut dapat diketahui batuan pada daerah penelitian terdapat kualitas porositas negligible hingga good, sehingga disimpulkan bahwa zona fasies mungkin memiliki hubungan terhadap kualitas batugamping tertentu.

Mount Jambu is an isolated carbonate hill. The uniqueness of this hill is in its geological conditions where the limestone is exposed massively. This hill belongs to the Limestone Member of the Bojongmanik Formation which has a Miocene age with a lithological composition of limestone. This hill is located in Leuwisadeng District, Bogor Regency, West Java. This study aims to determine the microfacies, facies zones, and the type and quality of porosity in thin sections of limestone in the study area. The method used is in the form of qualitative and quantitative analysis using petrographic incision data to determine texture, fossil content, and porosity. Based on microfacies analysis in the study area, 5 different types of standard microfacies were found according to Flugel (2010), namely SMF 5, SMF 7, SMF 8, SMF 10, and SMF 12. After the microfacies type was known, 4 types of facies zones were obtained based on the Wilson model. (1975), namely FZ 2 deep shelf, FZ 4 slope, FZ 5 platform margin reefs, and FZ 7 open marine. There are 5 types of porosity that develop, namely vug, moldic, intraparticle, fracture, and fenestral with porosity values ​​ranging from 0 to 22% calculated using a formula based on grid point counting data. From the porosity value, it can be seen that the rock in the study area has a negligible to good porosity quality, so it can be concluded that the facies zone may have a relationship with certain limestone qualities."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yogie Sani
"Formasi Bojongmanik adalah endapan yang termasuk bagian Blok Banten, memiliki rentang umur Miosen Tengah hingga awal Pliosen yang perselingan batupasir, napal, batulempung menyerpih dan batugamping (Sudana dan Santosa, 1992). Anggota batugamping Formasi Bojongmanik merupakan batugamping mengandung moluska dengan umur setara Miosen Tengah (Efendi, 1998). Tujuan daripada penelitian ini untuk mengetahui penamaan mikroskopis, proses diagenesis yang bekerja pada batugamping di Formasi Bojongmanik, mengetahui tahapan diagenesis dan hubungan proses diagenesis dengan porositas batugamping. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa petrografi. Berdasarkan hasil penelitian dari 15 sampel sayatan tipis Formasi Bojongmanik terdapat 3 jenis batugamping yakni, batugamping packstone, batugamping floatstone, dan batugamping wakckestone yang mengalami proses diagenesis sementasi, pelarutan, neomorfisme, mikritisasi mikrobial dan kompaksi. Lingkungan pengendapan diagenesis batugamping Formasi Bojongmanik berada pada lingkungan marine phreatic, burial, meteoric phreatic dan meteoric vadose. Porositas yang dominan ditemukan yakni tipe vuggy dan intraparticle. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses diagenesis adalah keterbentukan porositas sekunder pada batugamping. Semakin rendah nilai porositas menandakan hanya sedikit efek pelarutan, semakin tinggi nilai porositas menunjukan berada di zona phreatic banyak terjadinya pelarutan.

The Bojongmanik Formation is a deposit that belongs to the Banten Block, has an age range from Middle Miocene to early Pliocene which is interspersed with sandstone, marl, shale claystone, and limestone (Sudana and Santosa, 1992). The limestone members of the Bojongmanik Formation are limestones containing mollusks with an age equivalent to the Middle Miocene (Efendi, 1998). This research aims to know the microscopic labeling, the diagenetic process that works on the limestone in the Bojongmanik Formation, the stages of diagenesis, and the relationship between the diagenetic process and the porosity of the limestone. The method used in this research is petrographic analysis. Based on the research results from 15 samples of thin incisions of the Bojongmanik Formation, there are 3 types of limestone namely, packstone limestone, floatstone limestone, and wackestone limestone which undergo the process of diagenetic cementation, dissolution, neomorphism, microbial micritization, and compaction. The depositional environment of the diagenetic limestones of the Bojongmanik Formation is in marine phreatic, burial, meteoric phreatic and meteoric vadose environments. The dominant porosity was found to be vuggy and intraparticle types. One factor that influences the process of diagenesis is the formation of secondary porosity in limestone. The lower the porosity value indicates that there is a little dissolving effect, the higher the porosity value indicates that there is a lot of dissolving in the phreatic zone."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azky Ramaniya Sukardi
"Daerah penelitian terletak pada Pulau Seram merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi prospek komoditas emas dikarenakan ditemukannya indikasi mineralisasi emas. Hal ini juga dikorelasikan berdasarkan penelitian sebelumnya bahwa daerah penelitian merupakan endapan emas orogenik. Subjek utama penelitian ini adalah conto sedimen sungai aktif. Penelitian ini dilakukan menggunakan analisis statistik dan geologi. Analisis statistik dilakukan untuk mengetahui sebaran anomali dan juga asosiasi unsur yang terdapat pada daerah penelitian. Sedangkan untuk analisis geologi dilakukan dengan mengintegrasi conto sedimen sungai aktif dan conto konsentrat dulang yang berasal dari PSDMBP dengan melakukan analisis petrografi, morfografi dan morfometri  Hasil penelitian menunjukkan persebaran anomali yaitu Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, Li, Co, Na, Bi, Sr dan Ba sebesar 44.255ppm, log 1.900ppm, 148.605ppm, 4.734ppm, log 3.189ppm, 27.302ppm, 41.374%, 7609.713ppm, 53.807ppm, log 1.480ppm, log 1.592ppm, 184.198ppm, log 1.924ppm dan 263.139ppm. Berdasarkan analisis multivariat, didapatkan 4 kelompok asosiasi unsur yaitu : Cu-Zn-Rb-Ba-(Fe), Cu-Co-Fe, Na-Sr dan Fe-Mn. Unsur yang digunakan sebagai pathfinder untuk deposit emas adalah unsur Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, Na, Bi, Co, W, Rb, Sr dan Ba sehingga terdapat 4 daerah prospek pada daerah penelitian. Persebaran anomali pada daerah penelitian diinterpretasikan terjadi akibat faktor geologi berupa transportasi, erosi, serta pelapukan dari litologi dan mineral bijih yang terdapat pada daerah penelitian.

The research area, Seram Island, is one of the areas that has potential prospects for the commodity gold due to the indications of gold mineralization were found. This also correlated with based on previous research, the research area is an orogenic gold deposit. The main subject of this research is sediment stream samples. This research was conducted using statistic and geological analysis. Statistic analysis was carried out to determine the distribution of anomalies and also the elemental associations found in the study area. Meanwhile, geological analysis was carried out by integrating active river sediment samples and pan concentrate samples originating from PSDMBP by conducting petrographic, morphographic and morphometric analysis. The results showed an anomalous distribution of Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, Li, Co, Na, Bi , Sr and Ba of 44.255ppm, log 1.900ppm, 148.605ppm, 4.734ppm, log 3.189ppm, 27.302ppm, 41.374%, 7609.713ppm, 53.807ppm, log 1.480ppm, log 1.592ppm, 184.198ppm, log 1.924ppm and 263.139ppm. Based on multivariate analysis, 4 groups of elemental associations were obtained, namely: Cu-Zn-Rb-Ba-(Fe), Cu-Co-Fe, Na-Sr and Fe-Mn. The elements used as pathfinder for gold deposit are the elements Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, Na, Bi, Co, W, Rb, Sr and Ba ​​so that there are 4 prospect areas in the study area. The distribution of anomalies in the study area is interpreted to occur due to geological factors in the form of transportation, erosion, and weathering of lithology and ore minerals found in the study area."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>