Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anastasia Asylia Dinakrisma
"Latar Belakang: Kematian kardiak dan reinfark merupakan MACE yang sering terjadi pada pasien SKA. Gelombang fragmented QRS fQRS merupakan penanda iskemia atau jejas miokardium dini pada pasien sindrom koroner akut SKA. Peran fQRS terhadap MACE 30 hari perlu diteliti lebih lanjut pada pasien SKA.
Tujuan: Mengetahui peran fQRS sebagai prediktor MACE berupa reinfark dan kematian kardiak pada pasien SKA di ICCU selama 30 hari.
Metode: Studi dengan desain kohort retrospektif untuk meneliti peran gelombang fragmented QRS sebagai prediktor MACE selama 30 hari pasien SKA, dengan menggunakan data rekam medis pasien SKA yang menjalani perawatan di ICCU RSCM pada bulan Juli 2015 - Oktober 2017. Analisis bivariat dan multivariat dengan logistik regresi dilakukan untuk menghitung crude risk ratio RR dan adjusted RR terjadinya MACE dalam 30 hari antara kelompok fQRS terhadap kelompok non-fQRS dengan menggunakan SPSS.
Hasil: Dalam 2 tahun, didapatkan jumlah subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 353 orang. Fragmented QRS didapatkan pada 60,9 subyek, dengan lokasi terbanyak di inferior 48,8 dan rerata onset 34 jam. Proporsi kejadian MACE 30 hari lebih tinggi pada grup fQRS vs non fQRS 15,8 vs 5,8. Pada analisis bivariat didapatkan fQRS meningkatkan probabilitas terjadinya MACE selama 30 hari pada pasien SKA, dengan risiko relatif RR sebesar 2,72 IK 95 1,3 -5,71. Sedangkan pada analisis multivariat, didapatkan adjusted RR 2,79 IK 95 1,29 - 4,43, setelah memperhitungkan 6 faktor perancu, yakni skor GRACE risiko sedang-berat, eGFR kurang dari 60 ml/menit, LVEF kurang dari 40, riwayat diabetes melitus, usia lebih dari 45 tahun dan hipertensi. Laju eGFR merupakan faktor perancu yang memberikan perubahan paling besar, yakni 12,4.
Kesimpulan: Proporsi fQRS pada SKA selama perawatan di ICCU RSCM sebesar 60,9. Fragmented QRS yang muncul pada fase akut pada pasien SKA yang dirawat di ICCU merupakan prediktor independen terjadinya MACE dalam 30 hari dan meningkatkan probabiltas terjadinya MACE 30 hari berupa kematian kardiak dan reinfark pada pasien SKA.

Background: Cardiac death and reinfarction are most common major adverse cardiac events in acute coronay syndrome. Fragmented QRS fQRS in 12 leads ECG is associated with myocardial injury and ischaemia in coronary artery disease. The role of fQRS as predictor of 30 days MACE cardiac death and reinfarction needs to be evaluated in acute coronary syndrome patients in Indonesia.
Objectives: To identify proportion and role of fQRS as a predictor 30 days MACE in acute coronary syndrome patients.
Methods: A cohort retrospective study was conducted by using secondary data acute coronary syndrome patients in Intensive Cardiac Care Unit Cipto Mangunkusumo Hospital from July 2015 ndash October 2017. Analysis was done by using SPSS statistic for univariate, bivariate and multivariate logistic regression to obtain crude risk ratio and adjusted risk ratio of probability 30 days MACE patient with fQRS.
Result: Three hundred and fifty three subjects during 2 years were included in this study. Fragmented QRS was found in 60,9 subjects, more frequent in inferior leads 48,8, with mean onset 34 hours. Major adverse cardiac events were higher in fQRS vs non fQRS group 15,8 vs 5,8. Bivariate analysis showed higher probability of 30 days MACE in ACS patient RR 2,72, 95 CI 1,3 5,71. Multivariate analysis were done by using logistic regression with GRACE score moderate and high risk, low eGFR 60 ml min, low LVEF 40, diabetes melitus, age more than 45 years and hypertension as confounding factors, revealed adjusted RR was 2,79 95 CI 1,29 ndash 4,43. Low eGFR was a potential confounder in this study.
Conclusion: The fQRS proportion in ACS patients during ICCU admission was 60,9. Acute and persistent fQRS developed in ACS during hospitalization was an independent predictor of 30 days MACE cardiac death and reinfarction.Keywords fQRS, acute coronary syndrome, Major adverse cardiac event.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Khairiyadi
"Latar belakang: Pesantren dianggap sebagai tempat yang berisiko untuk penularan TB. Sampai saat ini belum ada penelitian proporsi TB aktif dan Infeksi TB laten ITBL di pesantren dan Hubungan faktor-faktor risiko TB dengan kejadian ITBL dan TB aktif di pesantren. Tujuan: untuk mengetahui proporsi ITBL dan TB aktif dan untuk mengetahui hubungan ITBL dan TB aktif dengan faktor risiko umur, status gizi, riwayat imunisasi BCG, riwayat kontak dengan pasien TB dewasa, durasi mondok di pesantren, dan kepadatan kamar. Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada 300 siswa pondok pesantren putra Darul Hijrah pada siswa SLTP periode September ndash;Oktober 2017. Pemeriksaan anamnesis, fisis, pemeriksaan sputum sewaktu dan uji tuberkulin dilakukan untuk mencari hubungan faktor risiko TB dengan ITBL dan TB aktif. Hubungan faktor risiko dengan kejadian ITBL atau TB aktif dianalisa dengan uji chi-square atau fisher dilanjutkan dengan regresi logistik. Hasil: Proporsi siswa dengan ITBL 11,4 dan tidak ditemukan TB aktif. Hubungan faktor risiko umur >14 tahun berhubungan dengan ILTB P = 0,015 ?OR 4,1 1,4-11,6 ; IK95 . Faktor risiko status gizi, riwayat imunisasi BCG, riwayat kontak dengan pasien TB dewasa, lama tinggal pesantren, kepadatan kamar dengan tidak berhubungan ITBL. Kesimpulan: Proporsi siswa pesantren dengan ILTB sebesar 11,4 dan tidak didapatkan TB aktif. Faktor risiko yang berhubungan dengan ITBL adalah umur lebih dari 14 tahun. Kata kunci: faktor risiko, hubungan, pesantren, proporsi, tuberkulosis
Background Islamic boarding school IBS is considered as a place that is at risk for TB transmission. There has been no research on the proportion of TB in IBS and association of risk factors to LTBI and active TB in IBS. Objectives To identify the proportion LTBI and active TB. To identify association of age, nutritional status, history of BCG immunization, contact history with TB patients, duration of stay in IBS, room density to LTBI and active TB. Methods Cross sectional study was conducted on 300 male students of Darul Hijrah IBS in junior high school on September ndash October 2017. Anamnesis, a physical examination, sputum examination dan tuberculin test was done to find the risk factor of TB. The association of risk factors with the incidence of TB or active TB was analyzed by chi square test or fisher test followed by logistic regression. Results The proportion of students with LTBI was 11.4 and there was no active TB. There was an association of age 14 years to LTBI with P 0.015 OR 4.1 1.4 11.6 IK95 . Another risk factors was not related with ILTB. Conclusion The proportion IBS of students with ITBL was 11.4 and the proportion of students active TB 0 . The risk factors associated with ITBL were age 14 years. Keywords Islamic boarding school proportion risk factors tuberculosis "
2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gratcia Ayundini
"

Latar Belakang. Akumulasi lemak yang berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit metabolik termasuk Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Lipid Accumulation Product (LAP) merupakan rumus yang dikembangkan untuk mengestimasi lemak ektopik dalam tubuh pada populasi Kaukasia dan memiliki nilai prediksi yang baik terhadap kejadian kardiovaskular maupun DMT2.

 

Tujuan. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui apakah LAP dapat digunakan sebagai prediktor DMT2 pada populasi Indonesia serta apakah LAP merupakan prediktor DMT2 yang lebih baik daripada indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut (LP).

 

Metode. Penelitian ini merupakan studi kohor retrospektif menggunakan data sekunder dari Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Litbangkes di Bogor dalam kurun waktu 2011-2016. Subyek dengan usia 25-65 tahun yang belum terdiagnosis DMT2 di awal penelitian diobservasi selama 5 tahun untuk dievaluasi kejadian DMT2 baru pada akhir masa observasi. Uji hipotesis yang dilakukan adalah uji multivariat cox regression. Analisis dipisah berdasarkan gender.

                                                                                   

Hasil. Subyek yang terinklusi penelitian sebesar 2907 orang (748 laki-laki dan 2159 perempuan). Sebanyak 131 kejadian DMT2 baru tercatat selama masa observasi. Analisis multivariat pada subyek perempuan menunjukkan nilai LAP kuartil 4 merupakan prediktor independen terhadap kejadian DMT2 (RR 3,19 (KI 95% 1,63 – 6,26); p<0,01). LAP kuartil 4 juga merupakan prediktor kejadian DMT2 yang lebih baik apabila dibandingkan dengan IMT dan LP pada perempuan.

 

Kesimpulan. LAP dapat digunakan sebagai prediktor terhadap kejadian DMT2 baru pada perempuan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan IMT dan LP.


Background. Excess lipid accumulation may results in metabolic diseases, one of which is type 2 diabetes mellitus (T2DM). Lipid Accumulation Product (LAP) is an index developed in Caucasian population to estimate ectopic lipid accumulation and has high predictive value in estimating cardiovascular diseases and T2DM incidence

                                             

Objective. This study aims to evaluate LAP as a predictor of T2DM in Indonesian population and whether its predictive value superior to body mass index (BMI) and waist circumference (WC).

 

Methods. This is a retrospective cohort using secondary data from Cohort Study of Non Communicable Disease in Bogor City 2011-2016. Subjects aged 25-65 years old who did not meet criteria of T2DM in the beginning of the study were observed for five years to evaluate T2DM incidence in the end of observation period. Multivariate cox regression is used for hypothesis test. The analysis was separated between gender.

 

Result. 2907 subjects were included in this study (748 males and 2159 females). A total 131 new cases of T2DM were observed during the observation period. Multivariate analysis in female showed that fourth quartile of LAP value is an independent predictor of DMT2 incidence (RR 3,19 (CI 95% 1,63 – 6,26); p<0,01). It is also a better predictor of T2DM compared to BMI and WC.

 

Conclusion. LAP may be used as a predictor of DMT2 in female compared to BMI and WC.

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ferina Angelia
"ABSTRAK
Pendahuluan:Penggunaan kortikosteroid KS inhalasi dalam tatalaksana penyakit paru obstruktif kronik PPOK diduga berkaitan dengan risiko pneumonia. Penelitian yang ada memberikan hasil yang tidak konsisten. Belum jelas pengaruh perbedaan jenis, dosis, dan durasi KS terhadap pneumonia. Hal tersebut mendasari pentingnya mengetahui hubungan dan pengaruh pola penggunaan KS inhalasi dengan kejadian pneumonia. Metode:Penelitian kasus kontrol retrospektif ini menggunakan data rekam medik pasien PPOK yang di rawat inap dan jalan di RSUPN Dr.Ciptomangunkusumo dan RS Dr.Ciptomangunkusumo Kencana periode 1 Januari 2012 sampai 30 November 2016. Kelompok kasus dipilih acak dari pasien dengan pneumonia yang ditunjang data radiologis n=67 . Kontrol dipasangkan berdasarkan kategori usia dan penyakit penyerta dengan kasus n=67 . Pada kedua kelompok dinilai pajanan dan pola penggunaan kortikosteroid, lalu dianalisis deskriptif dan analitik. Hasil:Terdapat perbedaan gambaran pajanan kortikosteroid pada kasus dan kontrol. Terdapat hubungan penggunaan kortikosteroid dengan pneumonia p 0,005;OR 0,31;95 CI 0,13-0,71 . Pajanan kelompok kasus didominasi oleh flutikason propionat, sedangkan kontrol adalah budesonid. Tidak ada hubungan jenis dengan pneumonia. Penggunaan terbanyak dosis rendah dan durasi 1 bulan. Ada hubungan dosis dengan pneumonia p 0,019 , tetapi tidak dengan durasi p 0,683 . Kesimpulan:Kortikosteroid inhalasi mempunyai efek antiinflamasi dan imunosupresan. Pajanan kortikosteroid bersifat protektif karena digunakan dengan dosis rendah sehingga meminimalkan risiko pneumonia.

ABSTRACT
Introduction Treatment with inhaled corticosteroids ICS is well established for chronic obstructive pulmonary disease COPD , but might be linked to pneumonia. However, results differed widely between studies. The magnitude of risk and how this compares with different ICS, dose, and duration, remain unclear. The objective of this study was to determine if the use of ICS is associated with pneumonia and impact of different ICS regiment. Method A retrospective, case ndash control study was conducted using medical record data of COPD patient at RSUPN Dr.Ciptomangunkusumo and RS Dr.Ciptomangunkusumo Kencana January 1 rsquo 2012 November 30 rsquo 2016 . Sixty seven patient with radiographically confirmed pneumonia cases were matched to 67 controls by age and comorbid. Statistical analysis used to estimate the odds ratio OR and impact of different ICS regiment. Result There are differences in ICS exposure between cases and controls. Treatment with ICS is protective p0.005 OR0.31 95 CI0.13 0.71 . Exposure to ICS in case was dominated by fluticasone propionate and budesonide in control. There is no relationship between types of ICS with pneumonia. Mostly ICS are used in low dose and short duration. There is a relationship between dose with pneumonia p0.019 , but not with duration p0.683 . Conclusion ICS has antiinflammation and immunosuppressant effect. ICS shows protective effect due to lower dose use."
2017
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hafiz Aini
"Latar Belakang: Derajat kompleksitas lesi koroner yang berat merupakan prediktor mortalitas dan Major Adverse Cardiovascular Event (MACE) serta penentuan revaskularisasi pada penyakit jantung koroner (PJK). Fragmented QRS (fQRS) dinilai sebagai penanda iskemia atau cedera miokardium PJK. Hubungan fQRS dan derajat kompleksitas lesi koroner perlu diteliti lebih lanjut pada pasien PJK di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui hubungan fQRS dan derajat kompleksitas lesi koroner pada pasien penyakit jantung koroner.
Metode: Penelitian potong lintang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengambil data sekunder pada 172 pasien jantung koroner yang menjalani percutaneous coronary intervention (PCI) di Cath Lab pada bulan Januari-Juni 2018 secara total sampling. Pasien dibagi berdasarkan adanya tidaknya fQRS. Data demografi, klinis, dan deajat kompleksitas (skor Gensini) diteliti. Hubungan antara adanya fQRS dan derajat kompleksitas lesi koroner dianalisis dengan uji kesesuaian.
Hasil: Sembilan puluh empat (54,6%) subjek terdapat gambaran fQRS. Pada analisis didapatkan hubungan antara fQRS dengan kategori skor Gensini ringan-sedang dan ringan-berat dengan kesesuaian baik (kappa 0,721 dan 0,820; p <0,001). Hubungan dengan kesesuaian yang baik juga didapatkan antara fQRS dan PJK signifikan (kappa 0,670; p <0,001) serta fQRS dan PJK multivessel (kappa 0,787; p <0,001).
Simpulan: Terdapat hubungan fragmented QRS complexes dan derajat kompleksitas lesi koroner pada pasien penyakit jantung koroner.

Background. The severity of coronary artery lesion is used as a predictor of mortality, major adverse cardiovascular event, and revascularization in coronary artery disease (CAD). Fragmented QRS complex (fQRS) as a novel marker of myocardial ischemia/scar in patients with coronary artery disease. The relationship between the two in Indonesia should be studied further.
Purpose. To determine the relationship between fQRS and the severity of coronary lesion in coronary artery disease.
Methods. A cross sectional study was conducted at Cipto Mangunkusumo Hospital. Secondary data were taken from 172 patients with CAD who underwent percutaneous coronary intervention (PCI) from January-June 2018 with total sampling. Patients were divided based on the existence of fQRS. Demographic, clinical, and severity of coronary artery lesion (Gensini score) characteristics were studied. Data were analysed using Cohens kappa agreement test.
Results. fQRS was present in 94 subjects (54.6%). Bivariate analysis showed a significant difference between fQRS with mild-moderate Gensini score as well as mild-severe Gensini score (kappa 0,721 and 0,820; p<0,001), fQRS with significant CAD (kappa 0.670; p<0,001), and fQRS with multivessel CAD (kappa 0.787; p<0,001).
Conclusion. There is a significant relationship between fQRS and the degree of severity of coronary lesion in coronary artery disease patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Manullang, Indra Sihar M.
"Hipertrofi ventrikel kiri atau Left ventricle hypertrophy (LVH) adalah faktor risiko independen terjadinya gagal jantung pada pasien hipertensi. Diagnosis dini LVH diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada otot jantung. Cardiotropin-1 (CT-1) diproduksi oleh kardiomiosit dan fibroblas, yang kadarnya dilaporkan meningkat pada pasien hipertensi primer.
Tujuan : Membuktikan manfaat CT-1 serum untuk mendeteksi LVH pada pasien hipertensi primer.
Metode : Penelitian uji diagnostik dilaksanakan di RSCM Jakarta periode Februari s/d Maret 2013. Subyek penelitian adalah 75 pasien hipertensi primer dengan atau tanpa LVH. Diagnosis LVH dilakukan dengan ekokardiografi sebagai baku emas dan elektrokardiografi/EKG (kriteria Sokolow Lyon voltage, Cornell voltage dan Cornell product). Kadar CT-1 serum diperiksa dari sampel darah vena dengan metode ELISA.
Hasil : Berdasarkan ekokardiografi 46 orang (61,3%) LVH dan 29 orang (38,7%) tidak LVH. Kadar CT-1 subyek LVH adalah 82,96 ± 351,843 pg/mL dan subyek tanpa LVH 4,55 ± 1,281 pg/mL (p=0,01). Korelasi CT-1 dengan LVMI adalah tidak bermakna (p=0,1). Luas area dibawah kurva ROC CT-1 untuk diagnosis LVH adalah 0,67 (p=0,01). Nilai cut-off CT-1 adalah 4,45 pg/mL. Uji diagnostik CT-1: Sensitifitas 54,4%, spesifisitas 75,9, NDP 78,1%, NDN 51,2 dan akurasi 61,3%. Uji diagnostik kombinasi CT-1 dan EKG (salah satu kriteria positif LVH): sensitifitas 67,4%, spesifisitas 72,4% , NDP 79,5%, NDN 58,3% dan akurasi 69,3%.
Simpulan. CT-1 kurang sensitif namun cukup spesifik untuk diagnosis hipertrofi ventrikel kiri (LVH). Kombinasi CT-1 dengan EKG meningkatkan nilai diagnostik pemeriksaan untuk deteksi LVH pada pasien hipertensi primer.

Left ventricle hypertrophy (LVH) is independent risk factor of heart failure on hypertension patients. Early detection of LVH is necessary to prevent extensive damage of heart muscle. Cardiotropin-1 (CT-1) is produce by cardiomyosite and fibroblast, that the level of CT-1 has been reported increase on primary hypertension patients.
Aim : To prove the benefit of CT-1 serum to detect LVH on primary hypertension patients.
Methods : A diagnostic study has been conducted on RSCM Jakarta on the periode of February to March 2013. Research subjects were 75 primary hypertension patients with and without LVH. LVH diagnosis was performed by echocardiography examination as gold standard and electrocardiography/ECG (Sokolow Lyon voltage, Cornell Voltage and Cornell product criterias). CT-1 level was measured by ELISA method from vein blood sample.
Results : Based on echocardiography examination 46 patients (61.3%) were diagnosed as LVH and 29 patients (38.7%) without LVH. The level of CT-1 of patients with LVH was 82.96 ± 351.843 pg/mL and 4.55 ± 1.,281 pg/mL on patients without LVH (p=0.01). Correlation between CT-1 and Left Ventricular Mass Index was not significant (p=0.1). Area under the ROC curve was 0.67 (p=0.01). The cut-off of CT-1 level for diagnosis of LVH was 4.45 pg/mL. Diagnostic test yield the sensitivity of CT-1 for diagnosis of LVH was 54.4%, specificity 75.9%, PPV 78.1%, NPV 51.2% and accuracy was 61.3%. Diagnostic test of combination CT-1 and ECG (positive LVH by one or more ECG’s criteria) yield sensitivity 67.4%, specificity 72.4% , PPV 79,5%, NPV 58.3% and accuracy 69.3%.
Conclusion. CT-1 examination was not sensitive but specific for LVH diagnosis. Combination of CT-1 and ECG examination was improve diagnostic value of CT-1 for detection of LVH on primary hypertension patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lusiana Kurniawati
"ABSTRAK
Latar Belakang
Trakeostomi merupakan tindakan yang umum dilakukan di unit perawatan intensif. Tindakan trakeostomi dapat menurunkan hambatan udara jalan napas, memiliki potensi untuk menurunkan obat sedasi dan pneumonia terkait ventilator sehingga diharapkan dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas pasien di unit perawatan intensif. Namun batasan waktu untuk melakukan trakeostomi pada pasien kritis yang diprediksikan akan memerlukan bantuan ventilasi jangka panjang hingga saat ini masih dalam perdebatan karena berbagai penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang berbeda-beda.
Tujuan
Mengetahui hubungan antara saat trakeostomi dengan mortalitas perawatan unit intensif. Mengetahui insiden mortalitas antara trakeostomi dini dan lanjut pada pasien perawatan unit intensif dengan ventilasi mekanik.
Metodologi
Penelitian dengan desain kohort retrospektif, dilakukan terhadap 162 pasien kritis dengan ventilasi mekanik yang menerima tindakan trakeostomi selama perawatan intensif di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo pada kurun waktu Januari 2008-Desember 2012. Data saat untuk melakukan trakeostomi, klinis, laboratorium, dan radiologis dikumpulkan. Pasien diamati untuk melihat kejadian mortalitas selama perawatan intensif. Analisis hubungan antara saat trakeostomi dengan mortalitas perawatan intensif menggunakan tes X2. Analisis multivariat dengan regresi logistik digunakan untuk menghitung adjusted odds ratio (dan interval kepercayaan 95%) antara kelompok trakeostomi dini dan lanjut untuk terjadinya mortalitas perawatan intensif dengan memasukkan variabel-variabel perancu sebagai kovariat.
Hasil
Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara trakeostomi dini dan lanjut dengan mortalitas unit perawatan intensif pada uji X2 (p=0,07) dengan RR 0,67 (IK95% 0,51-1,05). Insiden mortalitas pada trakeostomi dini dan lanjut sebesar 28,4% dan 42%.
Kesimpulan
Kelompok trakeostomi dini cenderung untuk memiliki insiden mortalitas yang lebih rendah dibandingkan dengan trakeostomi lanjut. Namun saat trakeostomi tidak berhubungan dengan mortalitas unit perawatan intensif secara statistik.

ABSTRACT
Background
Tracheostomy is a common procedure in the intensive care unit . Tracheostomy can reduce airway resistance, the usage of sedation and ventilator-associated pneumonia. Based on these advantages, tracheostomy can potentially reduce ICU mortality and morbidity . But the timing to perform a tracheostomy in critically ill patients who are predicted to require long-term ventilatory support is still under debate, because previous studies showed different results.
Objective
Investigating the association between tracheostomy timing with intensive care unit mortality. Knowing the incidence of ICU mortality between early and late tracheostomy in patients with mechanical ventilation in intensive care unit.
Methods
Retrospective cohort study design was conducted on 162 critically ill patients in mechanical ventilation. These patients also underwent tracheostomy procedure during intensive care treatment in Cipto Mangunkusumo during period from January 2008-December 2012. The timing to tracheostomy, clinical, laboratory, and radiological data were collected . Patients were observed for the incidence of mortality during intensive care. Chi Square test was used to analyze the relationship between tracheostomy timing with intensive care unit mortality. Multivariate analysis with logistic regression was used to calculate adjusted odds ratios ( and 95% confidence intervals ) between early and late tracheostomy group to the intensive care mortality by including confounding variables as covariates .
Results
There is no significant association between early and late tracheostomy with the intensive care unit mortality ( p = 0.07 ) with a risk ratio (RR) of 0.67 ( CI 95 % 0.51 to 1.05 ) . The incidence of mortality in early and late tracheostomy was 28.4 % and 42 % .
Conclusion
Early tracheostomy group tended to have a lower mortality incidence compared with late tracheostomy. Association between timing to tracheostomy with the intensive care unit mortality was not statistically significant.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sandra Sinthya Langow
"ABSTRAK
Latar Belakang: Obesitas merupakan faktor risiko utama osteoartritis (OA). Penelitian terdahulu mendapatkan bahwa faktor mekanik saja tidak cukup untuk menjelaskan hubungan kejadian OA dengan obesitas. Leptin diduga berperan dalam proses destruksi kartilago pada OA. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat adakah korelasi antara leptin serum dengan COMP dan dengan lebar celah sendi tibiofemoral medial.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada penderita OA yang berobat di poliklinik Reumatologi RSCM dalam periode Juni-Juli 2014. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling. Diagnosis OA lutut berdasarkan kriteria American College of Rheumatology (ACR) 1896. Dilakukan pemeriksaan leptin dan COMP serum dengan metode ELISA. Pemeriksaan radiologi kedua lutut dilakukan dengan posisi antero-posterior pada pasien yang berdiri tegak. Kemudian dilakukan pengukuran lebar celah sendi tibiofemoral medial oleh ahli radiologi, Analisa statistik bivariat digunakan mendapatkan korelasi antara leptin dengan COMP dan dengan lebar celah sendi tibiofemoral medial.
Hasil: Sebanyak 51 subjek memenuhi kriteria inklusi penelitian, 45 orang (88,2%) adalah wanita. Rerata kadar leptin didapatkan 38119,45 ± 21076,09 pg/ml. Nilai median COMP adalah 805,3(144,1-2241)ng/ml dan rerata lebar celah sendi tibiofemoral medial 3,73 ± 1,58 mm. Pada analisa bivariat tidak ditemukan korelasi antara leptin dan COMP ( r = 0,043, p= 0,764) dan juga antara leptin dengan lebar celah sendi tibiofemoral medial( r = -0,135, p = 0,345). Pada subjek dengan lama sakit > 24 bulan didapatkan korelasi negatif kuat antara leptin dengan lebar celah sendi tibio femoral medial ( r = 0,614, p = 0,015).
Simpulan: Tidak didapatkan korelasi antara leptin dan COMP pada penelitian ini. Penelitian ini juga tidak mendapatkan korelasi antara leptin dengan lebar celah sendi tibiofemoral medial pada pasien OA lutut dengan obesitas.

ABSTRACT
Background: Obesity is a well-recognized risk factor for osteoarthritis. However, the relationship between obesity and OA may not simply due to mechanical factor. Increasing evidence support the role of leptin in OA cartilage destruction. The objective of this study was to examine the possible correlation between leptin serum with COMP and medial joint space width in knee OA with obesity. Methods: This study was a cross sectional study in OA patients visiting Rheumatology outpatient clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital between June- July 2014. Samples were collected using consecutive sampling method. Knee OA was diagnosed from clinical and radiologic evaluation based on American College of Rheumatology 1986 criteria. Serum was collected from 51 knee OA patients, serum leptin and COMP were measured by ELISA. Antero-posterior radiographs of the knee have been taken in weight bearing position, and then the radiologist measured the minimum medial joint space width. The correlation between leptin and same variables, such as COMP and tibiofemoral medial minimum joint space width were analized by bivariate analysis.
Results: Fifty one subjects met the inclusion criteria, with 45 (88,2%) are women. Mean of Leptin was 38119,45 (SD 21076,09). Median of COMP was 805,3(144,1-2241) and mean of minimum joint space width was 3,73 (SD1,58) mm. In bivariate analysis we found no correlation between leptin and COMP ( r = 0,043, p= 0,764) and also between leptin and medial joint space width ( r = - 0,135, p = 0,345).Cluster analysis for the subject with disease onset >24 month showed strong negative correlation between leptin and tibiofemoral medial minimum joint space width (r = 0,614, p = 0,015).
Conclusion: There was no correlation between leptin and COMP in this study. This study also showed that there was no correlation between leptin and medial tibiofemoral joint space width in knee OA with obesity."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roza Kurniati
"Latar Belakang: Keganasan merupakan salah satu penyebab terbanyak pada efusi pleura, baik sebagai tumor primer di pleura maupun merupakan metastasis dari berbagai tumor di tempat lain. Prognosis efusi pleura maligna pada umumnya buruk dengan survival rata-rata 3-12 bulan. Belum ada suatu model dalam bentuk skoring yang memprediksi mortalitas pasien efusi pleura pada keganasan di IndonesiaTujuan: Mengetahui proporsi mortalitas 90 hari pasien efusi pleura pada keganasan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dan membuat model skoring untuk memprediksi mortalitas 90 hari pasien efusi pleura pada keganasanMetode: Penelitian berupa kohort retrospektif, data diambil dari rekam medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo secara konsekutif, yaitu pasien yang secara klinis dan dari hasil pemeriksaan penunjang didiagnosis sebagai efusi pleura maligna,Variabel penelitian dikelompokkan menjadi data kategorik dan dilakukan analisis bivariat dengan chi square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik dengan metode backward stepwise sehingga didapatkan model akhir berupa variabel dengan nilai

Background Malignancy is one of the most common causes of pleural effusion, either as a primary tumor in the pleura or a metastasis of various tumors elsewhere. The prognosis of malignant pleural effusion is generally poor with an average survival of 3 12 months. There is not yet a model in the form of scores predicting mortality of malignant pleural effusion patients in Indonesia.Objective To know the 90 days mortality proportion, to identify factors affecting mortality and also to create a scoring prediction models of 90 days mortality in malignant pleural effusion patientsMethods The study was a retrospective cohort. Data were taken from Cipto Mangunkusumo Hospital rsquo s medical record on a consecutive basis, the diagnosis of malignant pleural effusion was made on the basis of clinical and investigation. The variables of study were grouped into categorical data. Bivariate analysis was performed using chi square and multivariate analysis was performed using logistic regression with backward stepwise method to get the final model in the form of variable with p value "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chrispian Oktafbipian Mamudi
"ABSTRAK
Latar Belakang: Angka mortalitas ARDS khususnya di RSCM masih tinggi, sebesar 75,3%. Prokalsitonin dan CRP bisa dipakai sebagai prediktor mortalitas pada ARDS. Saat ini belum didapatkan penelitian yang fokus pada peran PCT dan CRP sebagai prediktor mortalitas tujuh hari pada pasien ARDS di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui peran PCT dan CRP sebagai prediktor mortalitas tujuh hari pada pasien ARDS di RSCM.
Metode: Penelitian ini menggunakan disain kohort prospektif yang dilakukan secara konsekutif pada pasien ARDS di RSCM, November 2015-Januari 2016. Saat pasien didiagnosis ARDS, dalam 6-24 jam dilakukan pemeriksaan PCT dan CRP, diobservasi selama tujuh hari, lalu dilakukan analisis statistik. Data kategorikal disajikan dalam jumlah dan persentase. Data numerik dengan sebaran tidak normal disajikan dalam bentuk median dan rentang. Variabel faktor-faktor yang memengaruhi mortalitas diuji dengan analisis bivariat (menggunakan uji Mann Whitney bila memenuhi persyaratan distribusi tidak normal). Untuk menentukan cutoff PCT dan CRP dipakai kurva ROC dengan mencari sensitivitas dan spesifisitas yang terbaik.
Hasil: Dari 66 pasien ARDS, didapatkan 40 (60,61%) meninggal dan 26 (39,39%) hidup. Uji normalitas PCT dan CRP didapatkan distribusi dari data-data tersebut tidak normal. Dengan uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan p<0,05. Median PCT pada yang meninggal sebesar 4,18 (0,08-343,0) dibandingkan yang hidup sebesar 3,01 (0,11-252,30) p=0,390, AUC 0,563 (IK 95% 0,423-0,703). Median CRP pada yang meninggal sebesar 130,85 (9,20-627,78) dibandingkan yang hidup sebesar 111,60 (0,10-623,77) p=0,408, AUC 0,561 (IK 95% 0,415-0,706).
Simpulan: Pemeriksaan PCT dan CRP hari pertama pada penelitian ini belum dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas tujuh hari pada pasien ARDS.
Kata kunci: ARDS, CRP, mortalitas, PCT

ABSTRACT
Background: The mortality rate of ARDS, specifically in RSCM is still high, that is of 75.3%. Procalcitonin and CRP can be used as mortality prediktor on ARDS. Until today there is no research focusing in the role of PCT and CRP as seventh day mortality predictor on ARDS patients in Indonesia.
Objectives: To identify the role of PCT and CRP as mortality predictors on seventh day of ARDS patients in RSCM.
Methods: This research used a prospective cohort design that was done consecutively on ARDS patients in RSCM during November 2015 to January 2016. When a patient was diagnosed with ARDS, within the next 6-24 hours, the PCT and CRP test were run and an observation was done for seven days, and a statistical analysis followed after. The categorical data descriptions are presented in numbers and percentage. Numerical data with abnormal distribution are presented in the forms of medians and spans. The variables of the factors that influence mortality were tested by using bivariate analysis (using Mann Whitney’s test whenever they met the conditions of abnormal distribution). To determine the PCT and CRP cutoff (values), the ROC curve is used to search for the best sensitivity and specificity.
Results: Out of the 66 patients ARDS, 40 (60.61%) died and 26 (39.39%) survived. The PCT and CRP normality tests results obtained from the distribution of those data are not normal. By using the Kolmogorov-Smirnov the value of p<0.05 was obtained. The PCT median on those who died is 4.18 (0.08-343.0) compared to those who survived that is 3.01 (0.11-252.30) p=0.390, AUC 0.563 (CI 95% 0.423-0.703). CRP median on those who died is 130.85 (9.20-627.78) compared to those who survived that is 111.60 (0.10-623.77) p=0,408, AUC 0.561 (CI 95% 0.415-0.706).
Conclusions:, The PCT and CRP tests on first day in this research are not yet available to be used as mortality predictor on seventh day of ARDS patients.
Key words : ARDS, CRP, mortality, PCT"
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>