Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Merry Dwi Anggraeni
"Salah satu indikator pencemaran air adalah bakteri Escherichia coli. Disinfeksi secara kimiawi menggunakanklor palingbanyakdigunakan,namun memilikikekurangan yaitu menghasilkan senyawa halogen organik yang bersifatracun. Proses fisika menggunakan sinar UV yang terbatas pada penyebaran cahaya serta biaya yang lebih mahal juga telah diteliti. Kavitasi dapat menjadi salah satu alternatif proses disinfeksi bakteri E.coli.Kavitasi bertindak sebagai biosida lewat senyawa kimia melalui pembangkitan radikal OH dan melalui mekanisme fisik.Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa kavitasi water jet dapat mengurangi konsentrasi E.coli hingga 99,99%.

One of indicator in water pollution is Escherichia colibacterium. Disinfection using chlorine is the most widely used, but has the disadvantage that generates an organic halogen compounds which are toxic. Physical processes using UV light that is limited in light scattering and more expensive also been investigated. Cavitation can be an alternative disinfection of E. coli. Cavitation by acting as a biocide chemical compounds through the generation of OH radicals and through physical mechanisms. From the research that has been done known that the water jet cavitation can reduce E. coli concentrations of 99.99%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43092
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Indika Sunarko
"ABSTRAK
Pada penelitian ini dilakukan proses disinfeksi bakteri Escherihia coli
(E.coli) menggunakan metode kavitasi hidrodinamika dengan menggunakan dua
jenis kontaktor yang berbeda yaitu orifice plate dan injektor venturi. Dari kedua
perlakukan berbeda ini didapatkan hasil bahwa orifice plate dengan konsentrasi
awal 104 CFU/mL mengalami penurunan menjadi 0 CFU/mL dalam waktu 20
menit, dan pada injektor venturi dari konsentrasi awal 104 CFU/mL mengalami
penurunan menjadi 0 CFU/mL dalam waktu 30 menit. Disimpulkan bahwa orifice
plate dapat mendisinfeksi E.coli dengan lebih efektif dan lebih cepat
dibandingkan dengan injektor venturi. Metode disinfeksi ini layak dan berpotensi
untuk dikembangkan ke dalam skala yang lebih besar karena biayanya yang
murah dan hasilnya yang effisien."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43186
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimatuz Zahroh
"Penelitian ini merupakan aplikasi teknik ozonasi pada media padat. Penelitian ini dapat dipandang sebagai alternatif pendukung dari program pemerintah untuk menekan pertumbuhan dan penyebaran bakteri Bacillus anthracis, yaitu mikroorganisme penyebab utama penyakit antraks yang mematikan, baik pada hewan ternak maupun manusia. Pendekatan utama yang diambil adalah bahwa spora bakteri Bacillus cereus memiliki kemiripan struktur dengan spora bakteri Bacillus anthracis, sedemikian sehingga dapat dianggap sebagai representasi ideal untuk proses ozonasi pada media padat. Proses ozonasi dilakukan dengan menggunakan ozonator yang telah dirancang-bangun sebelumnya di Laboratorium Intensifikasi Proses DTK FTUI. Ozonator dioperasikan dengan tegangan listrik sebesar 150 volt pada primer transformator tegangan tinggi (plasmatron), setara dengan tegangan 10 KV pada sekunder plasmatron, pada suhu ruang dan tekanan 1 atm. Udara yang digunakan dicatu dari kompresor dengan laju alir udara sekitar 850 liter/jam. Media yang diozonasi divariasikan menjadi tiga jenis, yaitu tanah, zeolit, dan campuran keduanya. Selanjutnya, setiap sampel diambil dari masing-masing media setelah dilakukan ozonasi selama 15, 30, 60, 90, dan 120 menit. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa proses ozonasi dapat mendeaktivasi spora Bacillus sp. pada media tanah dan zeolit dengan capaian efektivitas sebesar 99,8%.

This research is application of ozonation techniques on solid media. This research is alternative supporting government program to reduce growth and spread of Bacillus anthracis, the main cause of disease anthrax deadly, either on farm animals and humans. The main approach taken is that spore the bacterium Bacillus cereus has similarities with Bacillus anthracis spores structure, such that it can be considered as a ideal representation for ozonation process on solid media. Ozonation process is carried out using the ozonator has been designed earlier in the Process Intensification Laboratorium Chemical Engineering Departemen UI. Ozonator operated with a voltage of 150 volts on the high voltage primary transformer (plasmatron), the equivalent of 10 KV voltage at the secondary plasmatron, on room temperature and pressure of 1 atm. Air supplied from the air compressor used with air flow rate of about 850 litres/hour. An ozonated medium varied into three types, that is, a soil, a zeolite, and a mix of both. Furthermore, each sample is taken from each media after ozonation process for 15, 30, 60, 90, and 120 minutes. From the research, got that ozonation process can deactivates spores of Bacillus sp. in the soil and zeolite medium with the effectiveness of 99.8 %."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43225
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Indriani Mukti
"Pada penelitian ini, virus IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus), yang menjadi penyebab utama turunnya produksi udang di Indonesia, didisinfeksi menggunakan aplikasi teknologi oksidasi lanjut (teknik ozonasi dan sinar UV), yaitu dalam skala laboratorium. Parameter utama yang divariasikan dalam penelitian ini ada tiga, yaitu perlakuan tanpa menggunakan ozon dan sinar UV, menggunakan ozon, dan menggunakan ozon dan sinar UV.
Analisis hasil pengamatan dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif, yaitu dengan mengamati pertumbuhan udang (jumlah udang yang bertahan, dan berat badan), kualitas air (DO, suhu, salinitas, NO2, NH3, PO4, dan kH), dan gejala klinis (otot berwarna putih dan bagian ekor maupun badan berwarna oranye seperti udang rebus).
Berdasarkan hasil pengamatan, perlakuan tanpa menggunakan ozon dan sinar UV memiliki Survival Ratio (SR) 53,3%, perlakuan menggunakan ozon memiliki SR 100%, dan perlakuan menggunakan ozon dan sinar UV memiliki SR 60%. Dari hasil pengamatan, disimpulkan bahwa perlakuan disinfeksi menggunakan ozon adalah perlakuan yang terbaik untuk meningkatkan produksi udang di Indonesia.

In this research, IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus), the prime factor decreasing shrimp production in Indonesia, was disinfected by advanced oxidation process application (ozonation technique and UV radiation), in laboratorium scale. There were three prime parameters varied in this experiment, such as using ozone, using ozone and UV lamp, and using neither ozone nor UV lamp.
Analysis of the result in this experiment was done quantitatively and qualitatively, such as by observing shrimp growth (sum of survivor shrimps and shrimp weight), water qualities (DO, temperature, salinity, NO2, NH3, PO4, dan kH), and clinical symptom (white color of shrimp's muscle and orange color on shrimp's abdominal like boiled shrimp).
Based on the experiment results, Survival Ratio (SR) for the treatment without using ozone and UV lamp, the treatment using ozone, and the treatment using ozone and UV lamp respectiveily are around 53,3%, 100%, and 60%. Then, it could be concluded that the treatment using ozone was the maximum treatment for increasing shrimp production in Indonesia.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43044
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Wulansarie
"Bakteri Escherichia coli yang banyak mengakibatkan pencemaran air minum di Indonesia didisinfeksi menggunakan teknologi ozon dan sinar UV dalam penelitian ini, khususnya untuk mengatasi masalah penyediaan air minum. Penelitian ini dilakukan dengan variasi waktu disinfeksi, ada atau tidaknya sinar UV pada penelitian, dan laju alir keluaran pompa. Semua hasilnya, yaitu yang berhubungan dengan jumlah koloni E. coli dianalisis dengan menggunakan metode TPC (Total Plate Count).
Berdasarkan hasil penelitian, jumlah bakteri setelah proses disinfeksi menunjukkan penurunan yang cukup signifikan baik menggunakan ozon saja, sinar UV saja, ataupun keduanya, terutama pada waktu disinfeksi selama 3 menit. Pada sistem sirkulasi, teknologi yang paling optimal untuk proses disinfeksi adalah sinergi antara teknologi ozon dan sinar UV terbukti dengan jumlah bakteri sama dengan 0 setelah proses disinfeksi selama 30 menit pada sampel air keran. Sedangkan untuk sistem kontinyu teknologi yang paling efektif untuk proses disinfeksi adalah sinar UV terbukti dengan jumlah bakteri sama dengan 0 setelah proses disinfeksi dengan laju alir 1,5 LPM pada sampel air minum dalam kemasan (AMDK).

Escherichia coli bacteria are a lot of lead contamination of drinking water in Indonesia disinfected using ozone technology and UV light in this experiment, particularly to address the problem of water supply. The experiment was carried out by the variation of time disinfection, presence or absence of UV light on the research, and the pump output flow rate. All the results, which are related to the number of colonies of E. coli analyzed by using the method of TPC (Total Plate Count).
Based on the results of the experiment, the number of bacteria after disinfection show a significant decline either using ozone alone, UV alone, or both, especially at the time of disinfection for 3 minutes. The circulatory system, the most optimal technology for the disinfection process is a synergy between ozone technology and UV light proven by the number of bacteria equal to 0 after the disinfection process for 30 minutes in tap water samples. As for the continuous system the most effective technology for UV disinfection is proven by the number of bacteria equal to 0 after disinfection with a flow rate of 1.5 LPM on samples of bottled water (bottled water).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43042
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library