Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Edy Priyanto Utomo
"Paduan Titanium telah banyak digunakan dalam beberapa aplikasi di industri karena mempunyai sifat mekanik yang unik dan mempunyai ketahanan korosi yang sangat baik. Salah satunya digunakan dalam industri kedokteran sebagai implan tulang, karena titanium mempunyai kemampuan biokompabilitas yang baik selain sifat mekanik dan ketahanan korosi yang baik. Saat ini paduan Ti yang banyak digunakan sebagai implan komersil adalah Ti-6Al-4V. Namun studi terbaru menunjukkan bahwa pelepasan ion Al dan V dari paduan Ti-6Al-4V dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang seperti neuropati perifer, osteomalacia, dan penyakit Alzheimer. Oleh karena itu dikembangkan paduan Titanium β-metastabil untuk menggantikan paduan Ti-6Al-4V. Desain paduan titanium β-metastabil biokompatibel terutama difokuskan pada penggunaan elemen paduan logam transisi yang banyak mengandung d-elektron seperti paduan Ti-Nb, Ti-Ni, Ti-Mo. Ion Ni diketahui dapat menyebabkan toxic, alergi, dan efek karsiogen. Paduan Ti-Mo mempunyai nilai kekerasan yang tinggi dibandingkan dengan tulang sehingga dapat menimbulkan stress-shielding yang dapat menyebabkan resorpsi pada tulang dan dapat menyebabkan kegagalan pada implant. Oleh karena itu dalam penelitian ini dikembangkan paduan Ti-Nb dengan tambahan unsur paduan Sn. Paduan metastabil Ti dipengaruhi oleh fasa yang terbentuk dan suhu pembentukan. Sedangkan Sn untuk mengendalikan keberadaan fasa ω yang mempunyai sifat getas dan modulus yang tinggi. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi fabrikasi dengan variasi jumlah peleburan yaitu 3 dan 5 kali dan juga variasi konsentrasi Sn sebesar 2, 5, dan 8 wt%. Hasil optimasi jumlah peleburan menunjukkan bahwa dengan tiga kali peleburan didapatkan paduan dengan dua fasa yaitu fasa β dan α, sedangkan dengan lima kali peleburan didapatkan fasa tunggal β. Hasil optimasi variasi konsentrasi Sn didapat bahwa sifat mekanik dan korosi yang optimum diperoleh pada paduan yang mengandung 5 wt% Sn. Paduan hasil optimasi tersebut, Ti-30Nb-5Sn, kemudian dihomogenisasi pada suhu 1000C selama 5 jam dan didinginkan cepat. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa proses homogenisasi memicu timbulnya fasa α. Kehadiran fasa α dalam konsentrasi yang kecil pada paduan yang dilebur 3 kali dan paduan yang dilebur 5 kali namun dihomogenisasi berkontribusi dalam meningkatkan nilai kekerasan dan juga ketahanan korosi paduan.

Titanium alloys have been widely used in several applications in the industry because they have unique mechanical properties and have very good corrosion resistance. One of them is used in the medical industry as a bone implant, because titanium has good biocompatibility in addition to mechanical properties and good corrosion resistance. At present Ti alloy which is widely used as commercial implant is Ti-6Al-4V. But recent studies have shown that the release of Al and V ions from Ti-6Al-4V alloys can cause long-term health problems such as peripheral neuropathy, osteomalacia, and Alzheimer's disease. Therefore Titanium β-metastable alloys are developed to replace Ti-6Al-4V alloys. The design of biocompatible titanium β-metastable alloys is mainly focused on the use of d-electron-containing alloy metal elements such as Ti-Nb, Ti-Ni, Ti-Mo alloys. Ni ions are known to cause toxic, allergic and carcinogenic effects. Ti-Mo alloy has a high hardness value compared to bone so it can cause stress-shielding which can cause resorption in the bone and can cause implant failure. Therefore in this study Ti-Nb alloys were developed with the addition of Sn alloy elements. Metastable alloy Ti is influenced by the phase formed and the temperature of formation. While Sn to control the existence of phase ω which has brittle properties and high modulus. In this study, fabrication optimization was carried out with variations in the number of smelters, namely 3 and 5 times and also variations in Sn concentration of 2, 5 and 8 wt%. The results of the optimization of the number of smelters indicate that with three fusions obtained a two-phase alloy namely phase β and α, whereas with five times the fusion obtained a single phase β. The results of optimization of variations in Sn concentration were obtained that optimum mechanical and corrosion properties were obtained in alloys containing 5 wt% Sn. Alloying the results of the optimization, Ti-30Nb-5Sn, is then homogenized at 1000˚C for 5 hours and cooled quickly. The characterization results show that the homogenization process triggers the α phase. The presence of α phase in small concentrations in alloys which are melted 3 times and alloys which are fused 5 times but homogenized contribute to increasing the hardness value and also corrosion resistance of alloys."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T52434
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ilham Ditama
"Cat alkid merupakan jenis cat 1 komponen yang memiliki ketahanan daya lekat kurang baik terhadap baja karbon rendah jika dibandingkan resin epoksi atau poliuretan yang merupakan jenis cat 2 komponen. Oleh karena itu, cat alkid ini perlu dibantu dengan penambahan inhibitor korosi untuk meningkatkan sifat perlindungan korosinya pada baja karbon rendah, umumnya menggunakan seng pospat. Namun disisi lain, penggunaan seng posfat kurang bekerja dengan baik saat dilakukan proses percepatan pengujian, akan menurunkan sifat kelenturan lapisan cat, terjadi delaminasi dini dan daya lekat yang kurang baik. Pada penelitian ini dilakukan sintesis inhibitor organik turunan Imidazolin berbasis gugus fungsi metoksi silan dengan tujuan untuk meningkatkan ketahanan korosi yang akan digunakan didalam sistem cat alkid. Pembuatan turunan imidazolin menggunakan asam oleat metil ester sebagai asam lemak dengan N-(2-aminoetil)-3 aminopropiltrimetoksisilan (DAMO) sebagai amina. Hasil karakterisasi FT-IR dan 13C NMR menunjukan bahwa sintesis DAMO Imidazolin telah berhasil dilakukan. Kemudian DAMO Imidazolin divariasikan konsentrasi penggunaan didalam cat alkid sebanyak 0.5, 2, dan 4 wt% yang akan dibandingkan dengan penggunaan 4wt% Seng Pospat dalam menahan laju korosi pada baja karbon rendah. Pengujian yang dilakukan meliputi polarisasi potensiodinamik (TAFEL dan OCP), uji tarik, uji salt spray, dan pengamatan struktur permukaan substrat setelah salt spray test selama 600 jam menggunakan mikroskop optik. Hasil pengujian menunjukan penggunaan 4 wt% DAMO Imidazolin, dapat menandingi kemampuan penggunaan Seng Pospat dalam menahan laju korosi pada baja karbon rendah dalam medium 5 %wt NaCl pada suhu ruang dengan hasil laju korosi sebesar 0.110 x 10-9 mm/tahun, nilai efisiensi inhibisi sebesar 92%, nilai uji tarik daya lekat sebesar 2.59 Mpa, dan hasil tingkat lepuh (di wilayah tergores) dan karat (di wilayah tidak tergores) uji salt spray selama 600 jam berurut yaitu 4MD dan 0%, serta mampu memberikan sebuah lapisan tambahan sehingga kondisi permukaan substrat setelah pengujian dapat bertahan sama seperti kondisi permukaan substrat sebelum pengujian salt spray

Alkid paint is a type of one component paint that has poor adhesion resistance to low carbon steel when compared to epoxy or polyurethane resins which are a type of 2 component paint. Therefore, this alkyd paint needs to be assisted with the addition of corrosion inhibitors to improve its corrosion protection properties in low carbon steel, generally using zinc phosphate. But on the other hand, the use of zinc phosphate does not work well when the testing process is accelerated, it will reduce the elasticity of the paint layer, early delamination occurs and poor adhesion. In this study, synthesis of Imidazoline derivative based on silane methoxy functional groups was carried out with the aim of increasing corrosion resistance to be used in alkid paint systems. The production of imidazoline derivatives using oleic acid methyl ester as a fatty acid with N-(2-aminoethyl)-3aminopropyltrimethoxysilane (DAMO) as an amine. The results of FT-IR and 13C NMR characterization showed that the synthesis of DAMO Imidazoline was successfully carried out. Then DAMO Imidazoline varied the concentration of use in alkyd paint as much as 0.5, 2, and 4 wt% which will be compared with the use of 4wt% Zinc Phospate in resisting the rate of corrosion in low carbon steel. The tests carried out include potentiodynamic polarization (TAFEL and OCP), pull off test, salt spray test, and observation of the surface structure of the substrate after a salt spray test for 600 hours using an optical microscope. The test results show the use of 4 wt% DAMO Imidazolin, can match the ability of using zinc phosphate to withstand the rate of corrosion on low carbon steel in the medium of 5 wt% NaCl at room temperature with a corrosion rate of 0.110 x 10-9 mm/year, the value of inhibition efficiency of 92%, the value pull off strenght of 2.59 MPa, and the results of the blister level (in cross cut area) and rust (in general area) salt spray test for 600  hours sequential ie 4MD and 0%, and are able to provide an additional layer so the surface condition of the substrate after testing can be the same as the surface condition of the substrate before the salt spray test."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T54023
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Wahyu Nugroho
"ABSTRAK

Hingga kini, limbah galvanis hanya diekspor ke luar negeri tanpa adanya pengolahan. Padahal, limbah galvanis memiliki potensi untuk diolah menjadi nanopartikel ZnO. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah limbah galvanis sehingga dapat memberikan nilai tambah. Limbah galvanis yang telah dibakar pada suhu 6000C atau 8000C, direaksikan dengan ekstraktor asam asetat, asam sulfat, atau sodium hidroksida dengan perbandingan solid : liquid 1 : 8. Hasil dari proses ini, diperoleh parameter optimum pembakaran pada suhu 6000C dan pereaksi asam asetat yang bereaksi spesifik dengan senyawa seng sehingga menghasilkan ZnO dengan kemurnian mencapai 99%. Dari proses optimasi di atas, larutan seng asetat, diendapkan dengan variasi pH antara 7 hingga 13 yang menunjukkan bahwa pengendapan mulai terjadi pada pH 8. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa nanopartikel ZnO dapat diekstraksi dari limbah seng yang telah dibakar 6000C, direaksikan menggunakan asam asetat dan diendapkan pada pH 11, menghasilkan nanopartikel ZnO dengan ukuran partikel 76.5±18.3 nm


ABSTRACT


Until now, galvanizing waste is only exported abroad without any processing. Whereas, galvanizing waste has the potential to be processed into nanoparticle ZnO. The purpose of this study to treat galvanized waste in order to give added value to this industrial wastes. Roasting galvanized waste at 6000C or 8000C, then reacted with an extractor such as acetic acid, sulphuric acid, or sodium hydroxide by comparison solid: liquid 1:8. The result of this process, roasting temperature at 6000C and acetic acid are obtained as an specific extractor because only react with zinc compound resulted ZnO with the highest purity 99%. From optimizing process of extractor compound, zinc acetate solution, precipitated with the variation of pH between 7 until 13. The result showed that the deposition start at pH 8. From the study, we can conclude that nanoparticle ZnO can be extracted from roasting galvanized waste at 6000C, reacted using acetic acid, deposited at pH 11 and gave nanoparticle ZnO with particle size 76.5±18.3 nm.

"
2015
T54831
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prestika Gema Sari
"Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi polimerisasi oksidasi kimia dari monomer pirol menggunakan oksidan amonium persulfat (APS) dalam media pelarut air, melalui teknik polimerisasi emulsi metode batch selama 4 jam dengan kecepatan agitasi 900 rpm dalam temperatur ruang. Surfaktan yang digunakan diantaranya, surfaktan anionik: Sodium dedocyl sulfate (SDS) dan surfaktan nonionik: Nonylphenol Ethoxylate (NP.EO) dengan 10 mol EO. Senyawa PPy dalam penelitian ini berbentuk padatan (serbuk) berwarna hitam. Terbentuknya PPy dapat diindentifikasi berdasarkan hasil spektra FTIR terlihat munculnya serapan puncak polimer konduktif PPy dengan intensitas yang kuat pada bilangan gelombang 3001 cm-1, 1503 cm-1, 1428 cm-1, 1175 cm-1 dan 1087 cm-1.
Berdasarkan profil perubahan temperatur dan perubahan warna selama proses polimerisasi terlihat polimerisasi emulsi relatif lebih lama kecepatan reaksinya dibandingkan dengan polimerisasi sedimentasi. Nilai pH sistem reaksi polimerisasi dengan surfaktan lebih tinggi (penambahan larutan SDS pH sistem 3.3) dibandingkan polimerisasi tanpa surfakan (1.8). Nilai konduktifitas (σ) PPy dengan surfaktan lebih tinggi (mencapai 186 kali) dibandingkan tanpa surfaktan. Polimerisasi emulsi menggunakan surfaktan anionik, SDS sangat efektif meningkatkan nilai konduktivitas PPy.

A conductive Polypyrrole (PPy) has been successfully synthesized and characterized. The PPy was prepared through oxidative chemical polymerization using ammonium persulfate (APS) as an oxidizing agent in aqueous media. Anionic and non-ionic emulsifiers, sodium dodecyl sulfate (SDS), nonylphenol (NP) ethoxylate (EO) with 10 mole EO were respectively used during polymerization to increase the electrical conductivity. In this research is produced PPy which is formed as black powder. The FTIR spectrum of PPy indicates a change in the absorbance peaks of pyrrole monomer, emergence of strong absorbtion peaks specially at 3001 cm-1, 1503 cm-1, 1428 cm-1, 1175 cm-1 and 1087 cm-1 which is indicating the conductive polymer polypyrrole is formed.
Based on color changing and temperature changing during the polimerization process, the reaction rate of emulsion polymerization is shown relatively slower than sedimentation polymerization. The pH value of SDS added solution was 3.3 higher than that of SDS free solution (1.8). The final characteristic of PPy was carry out by measuring the electrical conductivity (σ) value. It is concluded that the presence of surfactant in a polymerization reaction increased the electrical conductivity of PPy (reached 186 times higher) compared with that obtained of emulsifier free solution. Anionic surfactant, SDS is more effective to enhance the electrical conductivity value of PPy.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T54427
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nazarudin
"Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan material komposit armor yang lebih handal sebagai pelindung yang dibutuhkan militer dan sesuai dengan National Institute of Justice Standard. Material komposit ini berbentuk panel terbuat dari fiberglass sebagai penguat, resin unsaturated polyester sebagai matriks, dan biofiller (abu sekam padi-pati tapioka) sebagai filler. Panel komposit terdiri dari 4 tipe, yaitu: tipe-1 (single-panel), tipe-2 (multi-panel), tipe-3 abu sekam padi sebagai filler, dan tipe-4 pati tapioka sebagai filler. Komposisi panel komposit tipe-1 dengan memvariasikan jumlah layer, tipe-2 dengan memvariasikan jumlah panel, tipe-3 dengan memvariasikan fraksi volume abu sekam padi (3, 5, 7, dan 9 %v.) sebagai filler, dan tipe-4 dengan memvariasikan fraksi volume pati tapioka (30, 40, 50, dan 60 %v.) sebagai filler. Kemudian dilakukan uji balistik dengan Pistol FN amunisi kaliber 9 mm kecepatan proyektil 380 m/s dan Senapan FNC amunisi kaliber 5.56 mm kecepatan proyektil 890.2 m/s dengan rekaman video high speed camera. Karakterisasi dilakukan dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) Spectroscopy, X-Ray Diffraction dan Simultaneous Thermal Analyzers (STA). Kemampuan balistik optimum didapatkan pada komposit bi-panel dengan jumlah 7 lembar fiberglass di masing-masing panel. Kemampuan balistik komposit bi-panel meningkat dengan penambahan 9 %v. abu sekam padi sebagai filler. Kemampuan balistik bi-panel terbaik didapatkan dengan penambahan 50 %v. pati tapioka sebagai filler.

The objective of this research is obtain more reliable composite armor material as a military-required protector in accordance with the National Institute of Justice Standard. The composite material is in the form of panels made of fiberglass as reinforcement, unsaturated polyester resin as a matrix, and biofiller (rice husk ash-tapioca starch) as fillers. Composite panels consist of 4 types, namely: type-1 (single-panel), type-2 (multi-panel), type-3 rice husk ash as filler, and type-4 tapioca starch as filler. Type-1 composite panel composition by varying the number of layers, type-2 by varying the number of panels, type-3 by varying the volume fraction of rice husk ash (3, 5, 7, and 9% wt.) As filler, and type-4 with varying the volume fraction of tapioca starch (30, 40, 50, and 60% wt.) as a filler. Then a ballistic test was performed with a 9 mm FN ammunition gun with a projectile speed of 380 m/s and FNC rifles caliber 5.56 mm projectile speed of 890.2 m/s with high speed camera video recording. Then the characterization of the materials were carried out by means of Fourier Transform Infrared (FTIR) Spectroscopy, X-Ray Diffraction (XRD), and Simultaneous Thermal Analyzers (STA). The optimum ballistic ability were obtained from bi-panel composites with 7 fiberglass layer in each panel. The ballistic ability of bi-panel composites increased with the addition of rice husk ash as a filler. The best bi-panel ballistic ability is the composite with 50 %v. tapioca starch as a filler."
Depok: Universitas Indonesia, 2019
D2646
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library