Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siswarti Adnan
"Latar Belakang. Pekerja pada sektor informal merupakan pekerja yang berada pada kelompok Underserved Working Population, mereka belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja seperti yang diharapkan. Dari seluruh pekerja di Indonesia, 80% berada pada sektor informal. Dan basil beberapa penelitian terdahulu diketahui prevalensi Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada pekerja adalah 70% - 80%. Dan survei pendahuluan pada perajin pelat logam di Kee. Citeureup, Kab. Bogor didapatkan prevalensi NPB sebesar 64,5%. Perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi timbulnya keluhan NPB tersebut.
Metode. Disain penelitian adalah studi kros seksional. Jumlah responden 238 orang yang dipilih secara cluster random sampling dari kelompok perajin. Pengumpulan data berdasarkan wawancara, pemeriksaan fisik dan pengamatan sikap tubuh waktu bekerja (BRIEF Survey), yang dilaksanakan pada bulan Agusutus - Oktober 2002.
Hasil. Pada penelitian ini faktor risiko karakteristik pekerja, faktor pekerjaan, dan faktor lingkungan kerja terbukti tidak berkaitan dengan NPB. Didapatkan prevalensi NPB sebesar 76,9%. Faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya NPB adalah sikap tubuh waktu bekerja (OR suaian = 3,46 ; 95% CI = 1,62 - 6,96 ), sambil membungkuk (OR = 3,47 ; 95% CI = 1,53 - 7,84) dengan derajat membungkuk sebesar 20°- 45° (fleksi sedang) (OR = 3,47 ; 95% CI = 1,53-7,85).
Kesimpulan. Ada hubungan yang bermakna antara faktor risiko sikap tubuh membungkuk dengan sudut 20° - 45° (fleksi sedang) dengan NPB.
Saran. Perlu adanya perbaikan cara kerja, disain ruang kerja, dan disain alat kerja sehingga pekerja tidak membungkuk pada waktu melakukan pekerjaannya.

The Relation Between Working Posture and Low Back Pain Among Metal Craftsman Workers at Subdistrict Citeureup, District of Bogor.Background. Workers at the informal sector are classified underserved working population, as they have not yet been covered by occupational health service as expected. In Indonesia, 80% of the total workers are informal sector. Several researches have found that workers prevalence of Low Back Pain (LBP) is 70% - 80%. Among the craftsman workers at subdistrict Citeureup it is found that there is a symptom of LBP at 64.5% workers. This study will found out what are the risk factors that cause the symptom.
Method. The research design is a cross sectional study. Total subject are 238 workers, which are chosen by a cluster random sampling from the group workers . Data collecting based on interview, physical examination and visual observation of working posture (BRIEF Survey), during August to October 2002.
Result. Risk factor such as worker characteristic factor, job factor and working environment factor are not proven to have correlation with LBP. The LPB prevalence is 76.9 %. The risk factors that affected the occurrence of LBP are working posture (adjusted OR = 3.46; 95% CI = 1.62 - 6.96), forward flexion ( OR. = 3.47; 95% CI = 1.53 - 7.84 ), with degree of flexion from 20° to 45° (mild flexion) (OR = 147; 95% CI = 1.53 - 7.85).
Conclusion. Forward flexion of working posture with an angle from 20 to 45° (mild flexion) affecting the occurrence of LBP.
Recommendation. It is needed to increase job design, working space design, and working tools design or machine, so workers do not need to forward flexion while doing their job.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T573
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nanny Ratna S.
"Ruang lingkup dan metodologi penelitian:
Anemia pada tenaga kerja wanita, masih merupakan masalah kesehatan yang dapat menurunkan produktivitas kerja. Penelitian ini merupakan studi intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan tenaga kerja wanita melalui program penanggulangan anemia dan perbaikan gizi. Sampel berjumlah 44 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, pemeriksaan fisik, dan laboratorium (Hemoglobin dan tinja), penilaian pengetahuan mengenai anemia dan gizi, penilaian pola makan dan asupan makanan (energi, protein, zat besi), pengumpulan data sekunder. Intervensi yang dilakukan adalah; 1. Pemberian tablet besi folat (200 mg ferro sulfat dan 0,25 mg asam folat) seminggu 1 x 1 tablet, selama 16 minggu, pada waktu hid diberikan setiap hari 1 x 1 tablet, 10 hari berturut-turut, 2. Obat cacing (Pyrantel Pamoat 500 mg), dosis tunggal, 3. Penyuluhan mengenai makanan bergizi. Evaluasi hasil intervensi, dilakukan dengan cara membandingkan perubahan dari keluhan subyektif, infestasi cacing, kadar Hb, skor pola makan dan asupan makanan, sebelum dan setelah intervensi.
Hasil dan kesimpulan:
Dari 44 tenaga kerja wanita ditemukan 12 orang (27,27%) menderita anemia, 7 orang diantaranya dengan infestasi cacing positif. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi anemia pada penelitian ini, adalah, status gizi, pengetahuan, pola makan dan asupan makanan. Setelah intervensi selama 16 minggu, berhasil meningkatkan kadar Hb rata-rata sebesar 1,83 g% (SD ±0,51) dari rata-rata 10,56 g% menjadi 12,36 g%, selain itu terdapat penurunan keluhan subyektif, peningkatan skor pola makan dan asupan makanan secara bermakna p < 0,05.

A Study on the Nutritional Deficiency Anemia of the Production Female Workers of PT.BPB, Jakarta, 2000The scope and methodology of the study
Anaemia on female workers is still a health problem that reduces their productivity. This study involves intervention that is aimed to increase the health of the female workers by means of anaemia prevention and nutrition improvement. The approach used to perform data gathering from a sample of 44 person includes, observation, interviews, physical examination, laboratory testing (haemoglobin and feces), measurement of their knowledge level on anaemia and nutrition, examination on the consumed food quality and eating habit, and the use of secondary data pool. Performed interventions include; 1. Providing folat iron tablets (200 mg ferro sulfat and 0,25 mg folat acid), 1 tablet per week for 16 weeks. During menstruation period the dosage is changed to ] tablet daily for 10 days, 2. Providing worm tablets (Pyrantel Pamoat, 500 mg) single dosage, 3. Awareness program on healthy food. The evaluation of interview results is performed by comparing the changes in subjective complaints, worm infestations, haemoglobin level, scoring on consumed food quality and eating habit before and after the intervention.
Result and conclusion
Out of 44 female workers, 12 persons (27.27 %) were found to suffer from anaemia, 7 of them with worm infestation. Other factors that causes anaemia, based on the study, included nutrition status, awareness of consumed food quality and eating habit. After 16 weeks intervention, haemoglobin was sucessfully increased by 1.83 g% (SD ±0,51) from an average of 10,56 g% to 12,36g%, in addition, decrease in subjective symptoms, improvement of consumed food quality and eating habit were also noted."
Depok: Universitas Indonesia, 2000
T8353
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Herliani Sudardja
"Latar Belakang. Indonesia adalah negara agraris dengan 45 % penduduknya bekerja sebagai petani. Untuk meningkatkan hasil pertanian, melindungi tanamannya dari serangan hama, serta memelihara mutu tanahnya, petani banyak menggunakan pestisida. Salah satu penyakit akibat pajanan pestisida adalah dermatitis kontak yang angka prevalensinya pada petani di Indonesia belum diketahui. Karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui prevalensi dermatitis kontak pada petani, khususnya petani sayur, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Metode. Penelitian ini menggunakan disain krosseksional dengan jumlah subyek penelitian 436 orang petani sayur dari Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung. Pengumpulan data dilaksanakan sejak September sampai Nopember 2002. Hasilnya diolah menggunakan program statistik SPSS 10.
Hasil. Ditemukan 40 orang (9.2 %) penderita dermatitis kontak klinis dan 72 orang (16.5 %) penderita dermatitis kontak subyektif. Risiko terjadinya dermatitis kontak (klinis dan subyektif) dipengaruhi oleh faktor kerja langsung dengan pestisida (OR = 8.636), riwayat atopi (OR = 2.519), dan bentuk formula pestisida yang digunakan (OR = L589). Risiko terjadinya dermatitis kontak klinis dipengaruhi oleh faktor riwayat atopi (OR = 2,998) dan bentuk formula pestisida yang digunakan (OR = 1065). Terhadap risiko terjadinya dermatitis kontak subyektif tidak ditemukan faktor yang dominan berpengaruh.
Kesimpulan. Ditemukan prevalensi dermatitis kontak pada petani sayur sebesar 25.7 %. Hubungan antara pajanan pestisida organofosfat dengan dermatitis kontak pada petani sayur di Kecamatan Lembang dipengaruhi oleh faktor kerja langsung dengan pestisida, jumlah tugas saat bekerja dengan pestisida, bentuk formula pestisida yang digunakan, serta riwayat atopi.

The Correlation between Organophosphate Pesticide Exposure and Contact Dermatitis among Vegetable Farmers in the District of LembangBackground. Indonesia is an agricultural country, in which about 45 % of its populations are farmers. To improve the harvest, to prevent pests attack, and to maintain the fertility of their land , they use very large amount of pesticides. No prevalence data on contact dermatitis caused by exposure to pesticide among Indonesian farmers is currently available. So, a research to find the prevalence of contact dermatitis among farmers, especially vegetable farmers, and other influential factors was proposed.
Method. Cross sectional design was used. The subjects consisted of 436 vegetable farmers from Lembang Subdistrict of Bandung District. Data collecting was performed from September to November 2002, and processed by utilizing SPSS 10 program.
Result. 40 persons (9.2 %) suffered from clinical contact dermatitis and 72 persons (16.5 %) from subjective contact dermatitis. The risks of contact dermatitis (clinical and subjective) was influenced by direct work with pesticides (OR = 8.636), atopic history (OR = 2.519), and the pesticide formulations (OR = 1.589). While clinical contact dermatitis was influenced by atopic history (OR = 2.998) and pesticide formulations (OR = 2.065). No dominant factor that influenced the risk of subjective contact dermatitis was found.
Conclusion. The prevalence of contact dermatitis among vegetable farmers was 25.7 %. The correlation between organophosphate exposure and contact dermatitis among vegetable farmers in the District of Lembang were influenced by the direct work with pesticides, the number of tasks while working with pesticides, the pesticide formulations, and the atopic history."
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T 8371
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dina Dariana
"Pabrik sepatu merupakan suatu industri pengolahan yang pekerjanya hampir seluruhnya wanita dimana pekerja di bagian stitching athletic bekerja dengan kepala menunduk menghadap mesin kerja. Pada saat kepala maju kedepan diperlukan kekuatan untuk keseimbangan kepala dan bila ini berlangsung lama akan timbul kelelahan otot yang berakibat nyeri. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui prevalensi serta faktor-faktor yang berhubungan dengan nyeri tengkuk.
Disain penelitian adalah penelitian potong lintang dengan jumlah sample 251 yang diambil secara random sampling. Data penelitian didapat dari data medical check up, anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan nyeri tekan pada daerah sub occipital, tes kompresi menurut Lhermittet, dan pengukuran-pengukuran antara lain pengukuran sudut fleksi leher menggunakan flexible curve, antopometri, tinggi meja dan penerangan.
Hasil penelitian:
Didapatkan prevalensi nyeri tengkuk sebesar 55.4%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan nyeri tengkuk adalah umur (p = 0.006) dan fleksi leher (p = 0.000). Faktor yang paling berperan adalah fleksi leher (p = 0.000. OR - 4.58).
Kesimpulan:
Dari penelitian ini secara statistik terbukti bahwa fleksi leher berhubungan dengan timbulnya nyeri tengkuk dimana pada fleksi ≥ 20° mempunyai risiko 4.58 kali lebih besar dari pada fleksi < 20°. Perlu adanya penyuluhan atau pelatihan bagi pekerja tentang cara kerja yang ergonomis dan gerakan-gerakan senam ringan untuk mengurangi keluhan nyeri tengkuk. Oleh karena itu untuk mencegah dan mengurangi prevalensi nyeri tengkuk perlu pemahaman dan kerjasama yang baik dari manajemen, pekerja, perawat dan dokter perusahaan serta instansi terkait.
Relation between Neck Flexion and Neck Pain in Woman Workers of Stitching Athletic Division, Shoe Factory in Tangerang
The shoe factory is a manufactory industry where most workers are women. The workers from stitching athletic division usually work with bowing forward. If the head is bent forward muscle strength is needed to maintain the position. In long period this condition leads to muscle fatigue including neck pain. Based on above situation, the research is carried out to assess the prevalence and factors influencing neck pain.
Design research is cross sectional study with amount of 251 samples and randomly selected. The research data are compiled from medical check-up, anamnesis, physical examination, pain pressure examination on sub occipital area , compression test according Lhermitte and other measurements, such as : angle measurement of neck flexion using flexible curve, anthropometry, high' of table and lighting.
Result:
Prevalence of neck pain 55.4%. The neck pain is associated with age (p = 0.006) and neck flexion (p=0.000). The neck flexion is a main factor to deal with the neck pain.
Conclusion:
The research shows that neck pain is statistically associated with neck flexion where neck flexion > 20° has 4.58 greater risks than neck flexion ≤ 20°. Training and counseling on ergonomics of work ethic and light relaxation are needed by the workers in order to reduce neck pain. Awareness and collaboration among management, workers, nurses, company doctors and integrated sector is essential aspect to prevent and minimize prevalence of neck pain of employees.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003
T11287
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hermanto Setia Hadi
"Latar Belakang
Daya tahan jantung paru sebagai komponen kebugaran jasmani mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pegawai sipil. Di era otonomi daerah, peranan Pemerintah Daerah dan Dinas Otonom dalam pembangunan semakin penting. Untuk itu perlu diketahui sebaran daya tahan jantung paru dan faktor yang berhubungan antara pegawai negeri sipil di kedua instansi tersebut.
Metode
Disain cross sectional dengan deskripsi analisis. Didapatkan sample penelitian Pegawai Negeri Sipil umur 30-50 tahun Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah Tk.I di 4 Provinsi sebanyak 654 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan fisik dan daya tahan jantung paru di nilai dengan tes lari 2,4 km.
Hasil
Tingkat daya tahan jantung paru yang baik ditemukan hanya pada 27 % dari total responder. Proporsi tingkat daya tahan jantung paru yang baik di Pemerintah Daerah lebih besar dari Dinas Kesehatan Tingkat I. Faktor yang paling berpengaruh adalah tidak berminum alkohol (OR sesuai 2,39), berolahraga (OR sesuai 2,1) dan golongan kepegawaian ( OR = 1,51 ).
Kesimpulan Saran
Daya tahan jantung paru pada Pegawai sipil pada umumnya masih rendah. Daya tahan jantung pare mempunyai hubungan bermakna dengan golongan, unit kerja, tidak minum alkohol, dan olah raga. Disarankan untuk diteliti lebih lanjut tentang hemoglobin, aktifitas fisik dan pola makan. Perlu penyuluhan mengenai gaya hidup sehat bagi pegawai negeri sipil.

Background
Cardiorespiratory endurance as a component of physical healthy is playing an important role in improving quality and productivity of government officials. In the decentralization era, the role of the provincial government and health office in coordinating the implementation and controlling developments has become more important. Therefore, there is a need to find out the status of cardiorespiratory endurance and its related factors among the government officials of provincial health and government office in four provinces.
Methods
This study is using cross-sectional design with descriptive analysis. A total of 645 samples of government officials, age 30-50 years, working at provincial health office and government office in four provinces were recruited. The data was collected by interview and physical examination; the cardiorespiratory endurance was measured by performing the running test for 2.4km (Cooper Test).
Results
The level of good cardiorespiratory endurance among the subjects was 27.6% out of 645 total respondents. It was better in government office's staff than in the health office (31.6%, 24%). The most affecting factors were; not taking alcoholic drinks (adjusted OR 2.39), sports (adjusted OR 2.1), and grade of government official (adjusted OR 1,51),
Conclusion and Recommendation
The level of cardiorespiratory endurance among the government officials is still low. The provincial government office's staffs have better cardiorespiratory endurance than the provincial health office's staffs. The cardiorespiratory endurance correlated with the grade of government official, working unit, not taking alcoholic drinks, and sports. The health education on healthy life style should be given to government officials. For further research, it is recommended to assess the relations of the haemoglobin, physical activity, and dietary pattern, with the cardiorespiratory endurance.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T13622
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lukman Ruskanda
"Latar belakang. Pekerja sektor informal merupakan pekerja yang berada pada kelompok Underserved Working Population, yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja sebagaimana mestinya. Tidak adanya pelatihan, prosedur kerja dan desain tempat kerja yang kurang baik merupakan faktor penyebab utama pekerja bersikap fleksi > 200 saat bekerja sehingga mengalami NPB. Sedangkan hasil penelitian dr. Siswarti Milan tahun 2003 (tesis) pada pekerja perajin pelat logam di Kecamatan Citeureup mendapatkan prevalensi NPB sebesar 77%.
Cara penelitian. Desain penelitian ini adalah studi intervensi, untuk mengetahui seberapa jauh perubahan prevalensi NPB sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dan kontrol, yang rasing-rasing berjumlah 34 orang. Pengumpulan data diperoleh berdasarkan wawancara, pemeriksaan fisik dan pengamatan sikap tubuh saat bekerja. Pengambilan data ini dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, yang dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2004.
Hasil. Setelah intervensi ada penurunan prevalensi NPB pada perajin pelat logam sebesar 67,65 %. Faktor-faktor pekerjaan yang ternyata memberikan hubungan yang bermakna dan sangat signifikan dengan penurunan prevalensi NPB adalah perbaikan desain tempat kerja melalui pembuatan meja setinggi sikut pekerja, sehingga dapat terhindar dari sikap tubuh fleksi > 20° saat bekerja. Selain itu kepada pekerja diajarkan bagaimana melakukan cara kerja yang benar, mengangkat dan memindahkan beban secara manual yang benar, mengetahui bahaya merokok dan manfaat olah raga.
Saran. Perlu adanya upaya peningkatan desain lanjutan agar setiap bagian memiliki desain tempat kerja yang balk sehingga semua pekerja bekerja tidak bersikap fleksi > 20°.

Improving Work Posture to Decrease The Prevalence of Low Back Pain Among Metal Craftsmen in Bogor District, 2004BACK GROUND. Workers in informal sectors belong to the under served working population, who have no access to occupational health services. No job training, bad work procedures and work place design are the main causal factors for working with bending forward more than 200, which contribute to Low Back Pain among the workers. A study conducted among metal sheet craftsmen in Citeureup sub district (Adnan, 2003) found a prevalence of 77% of Low Back Pain.
RESEARCH METHODE. This research design is intervention study, using control group, to find out if the intervention can decrease the prevalence of Low Back Pain. A sample of 34 subjects with Low Back Pain for each group were recruited, data was collected by interviews, physical examination, observation and measuring of bending angle of workers during work, before and after the intervention. The main intervention was a redesign of the working table and development of a SOP to improve the workers manual handling of materials. The study was conducted from March to May 2004.
RESULT. Low Back Pain has decreased among the metal sheet craftsmen as much as 67,65% after intervention. The most important and significant factor related to Low Back pain prevalence found were: The change of workplace design succeeded in helping the workes to avoid excessive bending.
SUGGESTION. Further design improvement at the workplace should be developed to maintain good work posture in each department.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T13623
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Nurkasih
"Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi miopia pada penjahit dan faktor-faktor risiko lain yang mempengaruhinya serta hubungan antara kerja jarak dekat dengan miopia.
Metoda: Desain penelitian adalah cross sectional dengan subyek penelitian terdiri dari 310 penjahit wanita di Departemen Stitching Atletik 11 Pabrik Sepatu `X'. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2004 dengan pengukuran jarak kerja secara langsung pada subyek, pengukuran iluminasi di tempat kerja dan wawancara dengan kuesioner. Sedangkan status refraksi berdasarkan basil pemeriksaan berkala 1 tahun sebelumnya. Hasil yang diperoleh diolah menggunakan komprrter dengan program SPSS 11.0.
Hasil: Terdapat 39 orang (12,6%) penderita miopia pada penjahit wanita di Departemen .S'titching Atletik 11 Pabrik Sepatu terdiri dari 36 orang (92,3%) miopia ringan dan 3 orang (7,9%) miopia sedang. Dengan regresi logistik ditemukan hubungan yang bermakna antara kerja jarak dekat dengan miopia (OR = 1,206; p = 0,001). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara faktor-faktor lain dengan miopia.
Kesimpulan: Ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara kerja jarak dekat dengan miopia pada penjahit wanita di Departemen Stitching Atletik I I Pabrik Sepatu X.

Purpose: To investigate myopia prevalence among stitchers, and other influential factors and the relationship between neanvork and myopia.
Methods: A cross sectional study was performed among 310 female shoe stitchers in Athletic Shoes Stitching 11 Department of `X' Shoe Factory. Data was collected from April until May 2004, including measurement of work distance and ilumination and interviewing with questionnaire. Whereas subject's refraction status based on the medical check-up record of the one year before. The collected data was processed by SPSS 11.0 computer programme.
Results: There were 39 (12,6%) miopic female shoe stitchers, consisted of 36 (92,3%) mild myopia and 3 (7,9%) moderate myopia. Logistic regression model revealed the significant relationship between nearwork and myopia (OR = 1.206; p - 0,001). No relationship was found between other factors and myopia.
Conclusion: There is statistically significant relationship between neanvork and myopia among female shoe stitchers in Athletic Shoes Stitching 11 Department of X Shoe Factory.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T 13641
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Agnes
"Paparan debu keramik yang mengandung silika bebas di lingkungan kerja pabrik keramik Inerupakan faktor resiko untuk terjadinya penyakit pare akibat kerja. Untuk mencegah timbulnya penyakit pneumokoniosis perlu dilakukan upaya pemantauan secara khusus dan berkelanjutan terhadap para pekerja melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala dan pemantauan terhadap lingkungan kerja. Penelitian terhadap tenaga kerja pabrik kerami; di Cikarang dilakukan pada 66 pekerja laki-laki, dengan metode krosseksional., terdiri dari 31 orang dare bagian pembuatan badan keramik dan 35 orang dad bagian pengepakan. Penelitian lingkungan kerja dilakukan dengan mengukur kadar debu total, kadar debu respirable dan kadar silika bebas di bagian pembuatan badan keramik dan di bagian pengepakan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan fungsi paru dan pemeriksaan foto toraks.
Hasil dan kesimpulan: Didapatkan prevalensi batuk kronik 4,5%, bronkitis kronik 4,5%, dahak kronik 4,5%, kelainan radiologi paru 10,6% dan restriksi 47% di pabrik tsb. Dibagian pembuatan badan keramik, kadar debu total, kadar debu respirable dan kadar silika bebas melebihi NAB yang ditetapkan. Tidak ditemukan hubungan antara kelainan fungsi pare dengan faktor-faktor umur, pendidikan, status gizi, masa kerja, kebiasaan merokok, kebiasaan memakai alat pelindung diri. Tidak ditemukan perbedaan prevalensi batuk kronik, bronkitis kronik, restriksi dan kelainan radiologi dengan tingkat paparan.

Scope and Methodology
Exposure to ceramic dust which contains free silica in a ceramic factory is a risk factor for occupational lung diseases. To prevent pneumoconiosis, specific and continuous monitoring of the workers through periodic health examinations and work environment measuring is very important. A study on 66 by ceramic factory workers consisting of 31 men from ceramic-body preparation division and 35 men from packaging division in Cikarang using cross-sectional method has been conducted. The work environment study was done by measuring total dust contamination, respirable dust, and free silica in ceramic-body preparation division and packaging division. Data collection was done by interviews, physical examination, lung function test and X-ray examination.
Results : The prevalence of chronic cough were 4,5 %, chronic bronchitis 4,5 %, changes in lung radiologic 10,6 % and restriction 47 %. The total dust concentration, respirable dust and the free silica concentration was found to exceed the permissible limit in ceramic-body preparation division. No relation was found between lung function changes, age, education, nutrition condition, work period, smoking habits and mask users habits. No significant different in the prevalence of chronic cough, chronic-bronchitis, restriction and radiologic changes was found different level of dust exposure."
Depok: Universitas Indonesia, 2000
T572
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Afrida Yusuf
"ABSTRAK
Ruang Lingkup dan Cara Penelitian:
Produkvitas sangat di pengaruhi oleh lingkungan kerja perusahaan dan harus memenuhi standar yang telah di tetapkan, khususnya mengenai penerangan tempat kerja. Untuk itu telah di lakukan studi dengan upaya intervensi penerangan di bagian penera PT. X Tangerang Jawa Barat, terhadap 5 orang tenaga kerja penera alat catat meter (KWH) yang memerlukan ketelitian dan lingkungan kerja yang baik.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara; wawancara, pemeriksaan fisik (visus), pengukuran amplitude akomodasi serta pengukuran intensitas penerangan. Dilakukan intervensi penerangan dengan penambahan intensitas penerangan dan evaluasi dilakukan terhadap keluhan kelelahan mata, besar perubahan amplitudo akomodasi, dan peningkatan produktivitas.
Hasil pengukuran Intensitas penerangan umum sebelum dilakukan intervensi rata-rata 147 luks dan setelah intervensi rata-rata menjadi 310,6 luks. Didapatkan perubahan pada keluhan kelelahan mata, pengukuran amplitudo akomodasi, produktivitas yang diukur dengan waktu yang digunakan untuk menera 7 alat catat meter, namun dengan uji statistik di dapatkan hasil yang tidak bermakna.

ABSTRACT
A Case Study On Scaler Departement In X Company Tangerang With Intervention on LightingScope and method :
The productivity of work is influenced by the enviroment in the work place ; moreover, it must meet all the requirements of work standards including sufficient lighting. A case study has been conducted in X Company Tangerang West Java on 5 employees working on electricity voltage units or Kilo Watt Hour. The job of these workers requires good vision and therefore sufficient lighting.
Data collection study completed by personal interview in person, physical examination (visus), and measurement of amplitudo accommodation with measurement of the intensity of light, the intervention in lighting had been accomplished by adding the intensity of light, and evaluation was done on eyes effectiveness, changes in amplitudo accommodation, and increase of the productivity of work.
Result :
General light intensity measurement before the intervention was average 147 Lux and after the intervention the average was increased to 310,6 Lux. There were changes in complaints on eyes amplitudo accomodation measurement and the productivity of work which was increased by the length of lime to complete one of the electricity voltage but statistically not significant.
"
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harpini Endang Sardewi
"Ruang lingkup dan Metodologi Perusahaan "P" melakukan program konservasi pendengaran sejak 1981. Untuk mengetahui efektifitas program tersebut telah dilakulan pengkajian mengenai permasalahan ketulian akibat bising dan faktor-faktor yang mempengaruhi pada petugas kamar mesin kapal, sehingga dapat dilakukan usaha perbaikan. Telah dilakukan suatu studi intervensi yang terdiri dari 3 tahap: - Pengumpulan data dasar, dilakukan dengan mengukur inlensitas bising pada sebuah kapal tanker , melakukan survei pada pekerja kamar mesin kapal yang berkunjung ke poliklinik jalan Deli bulan Oktober 1998, dan wawancara dengan pihak manajemen, untuk mengetahui program konservasi pendengaran yang sudah dijalankan - Intervensi dilakukan pada pihak manajemen - Evaluasi setelah 3 bulan Hasil: Intensitas bising melampaui NAB diperkenankan (85 dBA selama 8 jam kerja) ditemukan pada kamar mesin saat berjalan dan generator tanker "P 1023" sewaktu bergerak maupun diam, yaitu 86-110 dB. Hasil penelitian pada 30 orang pekerja km mesin yang mengunjungi poliklinik jalan Deli perusahaan bulan September 1998, didapat prevalensi Tali Akibat Bising (TAB) 66,6%. Faktor-faktor yang berhubungan antara lain adalah usia pertama kali bekerja di km. mesin kapal dan sikap terhadap bising dan gunanya ear muff/plug dengan TAB. (p 0.04) Hasil intervensi pada manajemen setelah 3 bulan: telah dilakukan pemeriksaan berkala audiometri pekerja mesin kapal, menyediakan alat pelindung telinga, mutasi pekerja dengan TAB.

Efforts To Improve The Hearing Conservation Program To Prevent Noise Induced Hearing Loss Among Tanker's Engine Room Workers Of "P" Company , Jakarta 1998Scope & Methodology Hearing Conservation Program has been implemented in "P" company since 1981. To study the effectiveness of the program a study on NULL problem and related factors among the company's engine workers. An intervention study consisting of 3 phases was conducted, to increase the effectvvness of the program. - Data base collection, by measuring noise intensity in a tanker's engine room, a survey was conducted an engine's room workers, who were visiting the Deli's policlinic during September 1998, interview to the management to learn about the current hearing conservation program. - Intervention on the management - Evaluation after 3 months The results showed: The noise intensity was above TLV (85 dB A during 8 working hours) either during sailing or when harboured, and the range of noise intensity within the machine room was 86 - 11O dB. The human study on 30 respondents (a total sample), who were visiting Deli's policlinic owned by the company on September 1998, showed that the prevalence of Noise Induced Hearing Loss (NIHL) was 66,6%. Factors found related to NIHL were age when first entering engine room job, attitude towards noise and the use of PPD (personal protective devices). Evaluation after 3 months intervention showed that, management of hearing conservation program, has become more effective, e.g. routine audiometer's examination, ear protective devices are available, rotation among NIHL employees.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1998
T7927
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>