Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 191915 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arinto Bono Adji Hardjosworo
"ABSTRAK
Objektif: infark miokard perioperatif merupakan salah satu komplikasi pada CABG. Prediksi untuk terjadinya komplikasi tersebut dan deteksi dini pada fase paska operasi sangat penting dilakukan untuk menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas. Penelitian kaii ini dilakukan untuk mencari Faktor-faktor predisposisi terjadinya infark miokard perioperatif serta peran troponin T sebagai biomarker prediktor dan deteksi dini komplikasi tersebut.
Metoda: empat puluh enam pasien yang akan menjalani CABG saja dan untuk pertama kali secara elektif diobservasi secara prospektif. Data faktor predisposisi, faktor intraoperasi dan paska operasi pada periode perioperatif dicatat. Diagnosis infark perioperatif ditegakkan berdasarkan EKG dan nilai CK-MB. Nilai troponin T diambil pada 24 jam preoperasi, 1 dan 6 jam setelah total revaskularisasi.
Hasil : enam pasien (13%) teridentifikasi mengalami infark. perioperatif. Mortalitas terjadi pada 1 orang (2,1%) yaitu pada kelompok infark. Faktor preoperasi yang mempunyai hubungan bermakna untuk terjadinya infark adalah EuroSCORE dan angina tidak stabil. Pada fase intraoperasi, faktor yang teridentifikasi bermakna adalah konversi OPCAB ke on pump karena gangguan hernodinamik dan adanya gangguan hemodinamik signifikan preinsisi. Walaupun kurang bermakna, teknik CABG on pump memiliki prosentase infark yang lebih tinggi (19%) dibandingkan dengan teknik OPCAB (7%). Pada CABG on pump, penggunaan CPB, klem silang aorta, waktu iskemia lebih lama pada kelompok infark dan kardioplegia juga lebih sering diberikan. Morbiditas berupa penambahan lama waktu intubasi (p=0,009) dan lama penggunaan inotropik juga terjadi pada kelompok infark (61 jam) dibandingkan non infark (15 jam). Troponin T pada infark sudah berbeda secara bermakna 6 jam setelah revaskularisasi dengan nilai rerata 1 ng/ml (p=0,002). Nilai troponin T preoperatif juga sudah berbeda preoperasi antara kelompok infark dan non infark (0,01 vs 0,02 ng/ml) walaupun secara statistik kurang bermakna. Kenaikkan troponin T juga berkorelasi positif dengan lama pemakaian inatropik, lama intubasi, dan kadar CK-MB paska operasi.
Kesimpulan: infark miokard perioperatif meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas pada fase perioperatif. Empat faktor teridentifikasi sebagai faktor resiko. Trapanin T mampu mengidentifikasi terjadinya infark perioperatif 6 jam paska operasi dengan nilai 1 ng/ml. Terdapat kemungkinan untuk memprediksi resiko terjadinya infark perioperatif dengan pemeriksaan troponin T preaperasi apabila terjadi kenaikkan di alas 0,02 ng/ml."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21187
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anshoril Arifin
"Pendahuluan: Bedah ganti katup jantung menggunakan cardiopulmonary bypass (CPB) berisiko menyebabkan cedera jaringan dan penurunan fungsi jantung akibat perubahan miokardium dan mekanisme iskemia/reperfusi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh glutamin intraoperatif terhadap fungsi ventrikel kiri dan kerusakan miokardium pascabedah ganti katup jantung.
Metode: Uji acak terkendali pada pasien dewasa yang menjalani pembedahan ganti katup jantung pada Januari-Juni 2024. Kelompok perlakuan (n=19) mendapatkan glutamin 20% intravena dosis 0,3 g/kgBB dilarutkan dalam 500 ml NaCl 0,9% dan kelompok kontrol (n=18) mendapatkan 500 mL NaCl 0,9% yang diberikan segera setelah induksi. Luaran dari penelitian adalah ejeksi fraksi (EF) dan rasio E/e’ pada 5 menit pasca off CPB dan 5 menit pasca tutup sternum, serta kadar troponin I 12 jam pasca off klem silang aorta (AoX-Clamp)
Hasil: 37 pasien diinklusikan dalam analisis. Durasi CPB lebih singkat pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol (39,84 ± 15,60 vs 51,33 ± 17,23 menit; p=0,030). Tidak ada perbedaan bermakna di antara kelompok perlakuan dan kontrol terhadap nilai EF pasca off CPB (56,26 ± 7,79 vs 54,33 ± 7,17 %; p=0,434), EF pasca tutup sternum (55,66 ± 7,56 vs 54,05 ± 7,27 %; p=0,515), E/e’ pasca off CPB (13,85 ± 8,83 vs 17,01 ± 10,05; p=0,315), E/e’ pasca tutup sternum (15,00 ± 8,94 vs 16,35 ± 8,80; p=0,491), dan kadar troponin I 12 jam pasca AoX-Clamp (8,29 ± 2,52 vs 8,25 ± 2,54 ng/ml; p=0,962).
Kesimpulan: Pemberian glutamin 0,3 g/kgBB intraoperatif tidak menghasilkan efek proteksi miokardium yang bermakna pada pasien pembedahan katup jantung.

Background: Heart valve replacement surgery using cardiopulmonary bypass (CPB) poses a risk of tissue injury and decreased heart function due to myocardial changes and ischemia/reperfusion mechanisms. This study aims to assess the effect of intraoperative glutamine on left ventricular function and myocardial injury following cardiac valve replacement surgery.
Method: This was a randomized controlled trial in adult patients undergoing valve replacement surgery from January to June 2024. The treatment group (n=19) received 0,3 g/kg of intravenous 20% glutamine diluted in 500 mL of 0.9% NaCl, while the control group (n=18) received 500 mL of 0.9% NaCl administered immediately after induction. The study outcomes included ejection fraction (EF) and E/e’ ratio at 5 minutes post-CPB and 5 minutes post-sternum closure, as well as troponin I levels 12 hours post-aortic cross-clamp (AoX-Clamp) release.
Results: 37 patients were included in the analysis. CPB duration was shorter in the treatment group compared to the control (39.84 ± 15.60 vs. 51.33 ± 17.23 minutes; p=0.030). There were no significant differences between the treatment and control groups on EF post-CPB (56.26 ± 7.79 vs. 54.33 ± 7.17%; p=0.434), EF post-sternum closure (55.66 ± 7.56 vs. 54.05 ± 7.27%; p=0.515), E/e’ post-CPB (13.85 ± 8.83 vs. 17.01 ± 10.05; p=0.315), E/e’ post-sternum closure (15.00 ± 8.94 vs. 16.35 ± 8.80; p=0.491), and troponin I levels at 12 hours post AoX-Clamp (8.29 ± 2.52 vs. 8.25 ± 2.54 ng/mL; p=0.962).
Conclusion: Intraoperative administration of 0,3 g/kg glutamine did not produce significant myocardial protective effects in heart valve replacement surgery.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lies Dina Liastuti
"Penelitian ini meneliti tentang selisih antara tagihan dengan klaim yang dibayar oleh para penjamin biaya kesehatan terhadap pelayanan kasus Infark Miokiard Akut di RSJPDHK serta selisih antara tagihan dengan klaim menggunakan tarif INA-CBG`s. Tujuan dari penelitian adalah untuk dapat memperoleh data karakteristik, mutu layanan dan permasalahan biaya dan pembayaran klaim terhadap RS oleh para penjamin/pembayar. Penelitian ini mendapatkan 5472 pasien Infark Miokard Akut selama periode 1 Januari 2009 sampai 31 Desember 2012 terdiri dari laki laki 81,5% dan perempuan 18,5%, rata-rata usia 56,3 tahun rentang usia yang lebar (21-97 th vs 26-96 th). Sebagian besar berasal dari DKI Jakarta (51%), Tingkat keparahan I 46%, Tingkat II 47,4%, dan Tingkat III 5,9%. Lebih dari separuh pasien (54,64%) mendapat tatalaksana intervensi PTCA atau bedah jantung (CABG), sedangkan 44,54% pasien dirawat tanpa tindakan intervensi non bedah maupun bedah. Penelitian mendapatkan 43,7% pasien dengan jaminan Askes, dan hanya 2,9 % dijamin dengan Jamkes yang dibayar dengan sistem INA-CBG`s. Lama rawat pasien rata rata 7,71±6,30 hari, 87,8, % keluar RS dengan status sembuh. Kesimpulan : Mutu layanan IMA di RSJPDHK tidak dibedakan berdasarkan jenis penjamin, dan adanya selisih antara tagihan RS dengan klaim yang dibayar oleh para penjamin berhubungan secara bermakna dengan kode diagnosis, jumlah tindakan sekunder, lama rawat dan tingkat keparahan penyakit. Penelitian mendapatkan nilai selisih dalam simulasi perhitungan antara tagihan terhadap klaim dengan sistem INA-CBG`s.

The Study examined the differences between the published rates and the CBG rates among patients with acute myocardial infarction (AMI) in National Cardiovascular Center (NCC) Harapan Kita. The purpose of this study is to examine whether there is quality and other differences among AMI patients paid by difference payers and payment levels. This study analyzed medical records of patients with AMI during the period of January 1, 2009 until December 31, 2012. The study found 5,472 patients with AMI consisting of 81.5% males and 18.5% females with the mean age of 56.3 years (range between 21-97 years vs. 26-96 years). Most of the patients were from Jakarta (51%). On severity levels, 46% patients were in severity level I, 47.7% severity level II, and 5.9% level III. More than half (54.6%) patients were treated with intervention (PTCA) or surgical procedures (CABG), while 44.4% patients were treated conventionally. We found that 43.7% of patients were covered by Askes, and only 2.9% were Medicaid (Jamkesmas) that were paid on DRGs. The average length of stays was 7.7 days and 87.8% were discharged in a good recovery. There was no difference in quality of treatment by difference payers or payment system although there was significant discrepancy in charges among difference payers. This differences in charges were associated differences in diagnoses, the number of secondary procedures, length of stays, and severity of the cases. It is concluded that the doctors provided the same quality of services among AMI patients, regardless of payers` status or charges."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T36106
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Linda Arintawati
"ABSTRAK
Latar Belakang: Prevalensi gagal jantung semakin meningkat per tahun, 60-70% disebabkan penyakit jantung koroner (PJK). Beberapa faktor risiko penyebab gagal jantung yaitu DM, hipertensi, obesitas, sindrom metabolik, dan aterosklerosis. Patofisologi gagal jantung sangat kompleks dan melibatkan banyak sistem, terjadi hipermetabolisme yang dapat menyebabkan penurunan
berat badan dan memicu terjadinya malnutrisi. Keadaan gagal jantung dekompensasi akut karena infark miokard lama membutuhkan penanganan segera di RS untuk menghindari komplikasi lebih lanjut.
Metode: Laporan serial kasus ini memaparkan empat kasus pasien gagal jantung dekompensasi akut karena infark miokard lama, berusia antara 41 hingga 70 tahun, dan tiga diantaranya dengan riwayat DM tipe II. Semua pasien memerlukan dukungan nutrisi, tiga pasien memiliki status gizi obesitas dan satu pasien berat badan normal. Masalah berkaitan erat pada nutrisi keempat pasien adalah hipoalbuminemia, gangguan elektrolit, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, keseimbangan cairan, serta defisiensi mikronutrien. Perhitungan kebutuhan energi basal (KEB) dihitung berdasarkan rumus Harris Benedict dengan faktor stres sesuai kondisi klinis dan penyakit penyerta. Komposisi makronutrien diberikan menurut
rekomendasi Therapeutic Lifestyle Changes (TLC) dan American Heart Association (AHA), pemberian protein disesuaikan dengan fungsi ginjal masing-masing pasien. Pemberian suplementasi mikronutrien juga diberikan
kepada keempat pasien. Pemantauan pasien meliputi keluhan subyektif, hemodinamik, analisis toleransi asupan, pemeriksaan laboratorium, antropometri, keseimbangan cairan dan kapasitas fungsional.
Hasil: pemantauan selama di RS, keempat pasien menunjukkan perbaikan klinis, peningkatan toleransi asupan, perbaikan kadar elektrolit dan peningkatan kapasitas fungsional.
Kesimpulan: Terapi nutrisi medik yang adekuat dapat memperbaiki kondisi klinis pasien gagal jantung dekompensasi akut karena infark miokard lama.

ABSTRACT
Background: The prevalence of heart failure increase annually, 60-70% due to coronary heart disease (CHD). Some of the risk factors associated with heart failure are diabetes, hypertension, obesity, metabolic syndrome, and atherosclerosis. The phatophysiology of heart failure is very complex and involves many systems. The occurance of hypermetabolism can lead to weight loss and triger malnutrition. The state of acute decompensated heart failure due to old myocardial infarction require immediate treatment in hospital to avoid further complications.
Methods: This series of case report describes four cases of patients with acute myocardial heart failure, due to old infarction, aged between 41 to 70 years old, and three of them with a history of type 2 diabetes melitus. All patients required nutritional support, three patients had nutritional status of obese and one patient was normal in weight. The problems which closely linked to all nutrition of the four patients were hypoalbuminemia, electrolyte disturbances, impaired renal function, impaired liver function, fluid inbalance, and micronutrient deficiencies. Basal Energy Requirement was calculated using Harris Benedict formula with stress factors corresponding clinical condition and comorbidities. Macronutrients composition was given according to the recommendation of the Therapeutic Lifestyle Changes (TLC) and the American Heart Association (AHA), while the provision of proteins was
tailored with the kidney function of each patient. Micronutrients supplementation was also given to four patients. Patient monitoring parameters included subjective complaints, hemodynamic, analysis tolerance
of intake, laboratory tests, anthropometric, fluid balance and functional capacity.
Results: During the monitoring period in the hospital four patients showed clinical improvement, increased tolerance of intake, improved electrolyte levels and increased functional capacity.
Conclusion:Adequate medical nutrition therapy can improve the clinical condition of patients with acute decompensated heart failure due to old myocardial infarction.
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sjahrir Nurdin
"Telah dilakukan penelitian terhadap beberapa variabel dari penderita-penderita infark miokard akut pertama, dalam hubungannya sebagai prediktor terhadap kejadian
komplikasi gagal jantung dengan uji statistik secara analisis univariat. Penderita terdiri dari 85 (82,52%) pria dan 18 (17,48%) wanita dengan infark miokard akut pertama yang dirawat di-Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta antara
1 Januari 1991 sampai dengan 31 Desember 1992. Umur penderita berkisar antara 30 tahun sampai dengan 95 tahun (rata-rata 57,20 ± 14,06 tahun). Dari 103 penderita yang masuk dalam penelitian ini, 60 orang (58,25%) yang mengalami komplikasi gagal jantung akut. Sisanya 43 orang (41,75%) tanpa komplikasi
gagal jantung akut berfungsi sebagai kontrol. Kelas gagal jantung akut yang terjadi terdiri dari : 35 orang (30,3%) Killips 2, 7 orang (11,7%) Killips 3 serta 18 orang (30,0%) Killips 4. Dari 13 macam variabel yang diuji secara univariat , hanya variabel frekuensi denyut jantung yang kemaknaannya <0.05.
Sebagai kesimpulan bahwa:
1. Aplikasi klinik dari penelitian ini bagi dokter di daerah bila tidak ada peralatan penilai fungsi ventrikel , maka frekuensi denyut jantung lebih dari 85 kali permenit pada saat pertama pemeriksan merupakan tanda awal yang perlu dipantau. Tentu saja parameter yang lain perlu diperhatikan. 2. Variabel-variabel lainnya (lokasi infark miokard di anterior, hematokrit > 48 vol.%, riwayat diabetes melitus, umur, rasio kolesterol total/HDL 5, hipertrofi ventrikel kiri, riwayat hipertensi, kadar kolesterol total > 240 mg/dl, rasio kardio toraks > 55%, terapi trombolitik, riwayat nyeri dada dan kadar serial enzim CKMB 160 IU/L) statistik belum bermakna.
Saran diperlukan suatu penelitian prospektif dengan jumlah sample yang besar."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suryo Wibowo
"Latar Belakang: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status pekerjaan sebagai suatu faktor risiko infark miokard pada para pekeija pxia yang dirawat di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.
Metode: Desain penelitian kasus-kontrol dengan 77 kasus infark miokard dan kontrol 77 orang yang dipilih dan disamakan kclompok umumya. Informasi mengenai pekezjaan dan falctor-faktor risiko klasik infark miokard diperoleh melalui questionnaire dan dengan menelusun berkas rekam medik subyek. Hubungan antara infark miokard dan status pekerjaan dinilai dengan analisis regresi logistik, disuaikan terhadap sejumlah faktor risiko lainnya.
Hasil: Setelah disuaikan terhadap obesitas, hipertensi, riwayat keluarga, kelompok pendidikan, status perkawinan, dan jam kerja, kami menemul-can bahwa, dibandingkan terhadap status pekerjaan manual tidak terlatih, pda yang status pekerjaannya semakin tinggi semakin bcrisiko untuk terjadi infark miokard yakni OR 4,17 (95% CI 0,98 - 17,73), OR 6,67 (95% CI 1,56 _ 2s,5z), OR 11,11 (95% CI 2,94 - 41,95) dan OR 14,17 (95% CI 3,24 - 6l,99) berturut- turut untuk status pekerjaan manual terlatih, non manual tingkat rendah, non manual tingkat menengah, dan non manual tingkat tinggi.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan dalarn risiko infark miokard antara status pekeljaan yang berbeda. Pria yang status pekerjaannya non manual tingkat tinggi paling bcrisiko. Perbedaan dalam faktor-faktor psikososial di negara-negara sedang berkembang mungkin mempunyai andii terhadap hasil yang diamati dalam penelitian ini.

Background: This study was carried out to identity occupational status as a risk factor associated with myocardial infarction among male workers who hospitalized at National Cardiovascular Center Harapan Kita.
Methods: Case-control study with myocardial infarction as cases (n = 77) and controls (n = 77) were selected and matched on age. lnfomtation about occupation and classical risk factors for myocardial infarction was obtained with questionnaire and through subjects? medical record. The relation between myocardial infarction and occupational status was evaluated by logistic regression analysis, adjusting for a number of selected risk factors.
Results: After adjusting for obesity, hypertension, family history, educational group, marital status, and working hour, we found that, compared to manual unskilled occupational status, higher occupational status increased risk of myocardial infarction with OR 4,17 (95% CI 0,98 - 17,73), OR 6,67 (95% C1 1,56 - 28,52), OR 11,11 (95% CI 2,94 - 41,95), and OR 14,17 (95% Cl 3,24 - 61,99) respectively for manual skilled, non manual low level, non manual middle level, and non manual high level occupational status.
Conclusions: Differences in myocardial infarction risk among occupational status were found. Non manual high level occupational status were at highest risk. Differences in psychosocial factors in developing countries may contribute to observed results.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T29188
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Persepsi perawat tentang nyeri dada pada klien miokardiak infark berbeda-beda dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentiiikasi persepsi perawat mengenai nyeri dada yang dapat memberikan respon positif dan respon negatif pada klien miokardiak infark. Penelitjan ini dilakul-mn di Rumah Sakit Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita Jakarta Barat. Desain penclitian ini adalah deskriptif sederhana. Penelitian ini dilakukan terhadap 30 orang perawat yang bekelja di ruang Cardio Vascular Care unit (CCVU) dengan laiar pendidikan dan pengalaman kemja yang berbeda-beda. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner tentarlg demograti dan persepsi pezawat terhadap nyeri dada klien miokardjak infark Data dianalisa dengan menggunakan tendensi sentral: median dan disuibusi ii'ekuensi. Hasil penelitian ini didapatkan karakteristik responden 70% wanita, usia rcspon 55% berusia 25-30 tal-nun, pendidikan 73% adalah akademi perawat sisanya adalah szujana, agama 93,4% Islam, larna bekenja 2-5 tahun sebesar 47%. Respon positif yang paling banyak adalah bahwa pada klien rniokardiak infark perlu penanganan serius sebesar 97%. Respon negatif yang paling banyak adalah respon perawat pada keluhan nyeri dada klien miokardiak infark sebesar 57%. Respon perawat terhadap nyeri dada klien miokardiak infark dari tiap pertanyaan berupa respon negatif sebesar 80%."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2003
TA5207
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Listiani
"Latar Belakang : STEMI merupakan kasus kegawatan kardiovaskuler yang bersifat mengancam jiwa. Tatalaksana segera dengan reperfusi koroner berupa primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) menjadi pilihan utama. PPCI efektif diberikan di jam awal onset gejala STEMI. Kedatangan pasien bukan di jam awal serangan masih menjadi masalah tatalaksana STEMI. Mencegah keterlambatan kedatangan pasien bertujuan menyelamatkan miokardium dari kerusakan lebih luas. Penting mencegah keterlambatan tatalaksana STEMI terutama di fase prehospital.
Tujuan: Mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi lama waktu pasien STEMI sampai di rumah sakit rujukan PCI.
Metode : Penelitian crossectional dengan pendekatan consecutive sampling yang melibatkan 100 pasien STEMI.
Hasil: Terdapat hubungan bermakna antara Usia (p: 0,008), tipe gejala STEMI (p: 0,015), keparahan nyeri (p: 0,0001), pilihan fasilitas kontak medis pertama (p: 0,043), dukungan keluarga (p: 0,001), waktu tempuh (p: 0,043) , pengetahuan (p: 0,0001) dengan lama waktu pasien STEMI sampai di RS rujukan PCI. Tidak terdapat hubungan bermakna antara gender (p: 0,585), pendidikan (p: 0,437), kemampuan ekonomi (p: 0,957), riwayat PJK (p: 0,647), riwayat diabetes (p: 0,339) dengan lama waktu pasien STEMI sampai di rumah sakit rujukan PCI. Faktor paling berhubungan dengan lama waktu pasien STEMI sampai di Rumah sakit rujukan PCI adalah tipe gejala STEMI.
Rekomendasi : Edukasi tentang gejala STEMI terutama gejala atipikal tanpa nyeri dada untuk mencegah keterlambatan kedatangan pasien ke fasilitas kegawatan STEMI.

Background: STEMI is a life-threatening in cardiovascular disease. Immediate treatment with primary percutaneous coronary intervention (PPCI) is the main choice of management. PPCI is effective in the early hours of STEMI onset. The arrival of patients not in the early hours of the attack is still a problem in the management of STEMI. Preventing delay in patient arrival aims to save the myocardium from severe damage. It is important to prevent delays in the management of STEMI, especially in the prehospital phase.
Objective: To identify the factors influencing the length of time STEMI patients arrive at the PCI referral hospital.
Methods: Cross-sectional study with consecutive sampling involving 100 STEMI patients.
Results: There was a significant relationship between age (p: 0.008), type of STEMI symptoms (p: 0.015), pain severity (p: 0.0001), choice of first medical contact facility (p: 0.043), family support (p: 0.001) , travel time (p: 0.043), knowledge (p: 0.0001) with the length of time STEMI patients arrived at the PCI referral hospital. There was no significant relationship between gender (p: 0.585), education (p: 0.437), economic ability (p: 0.957), history of CHD (p: 0.647), history of diabetic (p: 0.339) and the length of time STEMI patients arrived at the PCI referral hospital. The predominan factor related to the length of time STEMI patients arrived at the PCI referral hospital was the type of STEMI symptoms.
Recommendation: Education about STEMI symptoms, especially atypical symptoms without chest pain, to prevent delays in patient arrival to STEMI emergency facilities.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Program rehabilitasi jantung merupakan proses berkelanjutan yang ditujukan pada kiien
infark miokard yang sifatnya fleksibel karena perkembangannya disesuaikan dengan
kebutuhan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif sederhana yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi klien infark miokard untuk mengikuti program rehabilitasi jantung. Sampel terdiri dari 49 responden yang mengikuti program rehabilitasi di klub jantung koroner Rawamangun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan data dianalisa dengan metode statistik deskriptif sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi responden untuk mengikuti program rehabilitasi jantung dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis( 87,75 % ), kebutuhan biologis ( 81,63 % ), kebutuhan sosial ( 75,51 % ) dan kebutuhan spiritual (69, 38 % )."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5401
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aminah Noor
"ABSTRAK
Kebarhasilan BPK (Bedah Pintas Koroner) dalam mancapai
revaskularisasi dipengaruhi kekerapan IMP (Infark Miokard
Perioperatif). Dalam penelitian prognostik ini dioari faktor-faktor
yang diduga berperan dalam kekencapan IMP pada BPK dengan tujuan pencegahan. Penelitian bersjiat retrospektji terhadap 171 penderita
yang menjalani BPK di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta antara Maret
1986 sampai dengan Februari 1989. Penderita yang dimasukkan dalam
penelitian ini adalah yang mempunyai data EKG serial, enzim miokard
(CK dan CKMB) pra dan pascabedah. Penderita BPK disertai badah
katup, aneurismektomi dan ventricular venting'tidak diikut
sertakan. Seratus tigapaluh satn penderita (76,6%) memenuhi
persyaratan paenelitian ini terdiri atas 126 lak-1aki dan 5 wanita
dengan usia antara 31-72 tahun (rata-rata 53 (kurang lebih) 7,5 tahun).
Kriteria IMP adalah timbulnya gelombang Q haru atau pelebaran Q lama yang menetap disertai puncak enzim CKMB dalam 24 jam pertama
>/40 IU dan fraksi CKMB > 5%. Perubahan EKG pada segmen ST,
gelombang T atau gangguan kcnilu]»:si menetap enzim
dianggap suatu oedera miokard dan diduga nnmg}'.:i.n IMP. Kekerapan IMP berdasarkan kriteria EKG dan enzim adalah 16 olang (12,2%),
penderita yang diduga IMP adalah 10 orang (T,6%) dan bulgan IMP
adalah 131 orang (80,2%).
Tujuh belas variabel prabedah, 6 variabel bedah dan 5 variabel
pasczabedah diuji secam univariat dengan tabulasi silang untuk
mejihat huhmgan antara variahel tersebut dengan hasil akhjr, yaitu
IMP dan rmmgkin IMP.
Variahal prognostik yang bannalcna secara univariat adalah jumlah 'gra_'Et'(p = 0,003), Jana klein aorta (p = 0,G17),1ama mesin pintas jantnmg-paru (p = 0,032), pemakaian IABP ('intra aortic balloon pump') (p = 0,002) dan parakaian dobutaruin (p = 0012). Variabel prognostiki.ndepende.n prabedah dan intra bedah diuji secara analisis lmnltivariat logistik regresi polikotern dan yang terhadap kejadian IMP adalah usia > 50 tahun (OR 4,26), 'graft' >3 (GR 6.26) dan lama klem aorta )B5 menit (OR 3,03). Satu-satunya varzialzuel yang terbukti palling terhadap kejadian yang diduga IMP adalah 'graft' 3(or 2,28). Analisis multivariat manunjukkan bahwa variabel laina klem aorta (GR 4,52} graft (OR 2,73) dan umur (OR 9.22) be antara penderita IMP bila dibandingkan panderita yang diduga IMP.
Disimpulkan bahwa pada penderita dengan kebutuhan 'graft' yang
lebih dari 3, usia >50 tahun dan lama krem aorta 85 menit, risjko
untuk kejadian IMP menjadi lebih besar. Sehingga penderita yang
demikian perlu perhatian khusus saat intrabedah dan pascabedah.
Penderita yang diduga IMP sebaiknya dilakukan pemeriksaan penunjang lain seperti radionuklid rnaupun ekokardiografi. Karena faktor yang berperan tidak sama seperti halnya IMP, perlu dilakukan penalitian prospektif dengan mengeksplorasi faktor-faktor lain seperti peranan iskemi perioperatif, perubahaan hemodinamik perioperatif, paranan obat anestasi dan teknik pnroteksi miokard."
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>