Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 124393 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arief Wibowo
"Karya akhir ini memiliki dua tujuan utama yaitu memberikan gambaran kepada pelaku bisnis tentang jasa integrasi dan konsultasi jejaring telekomunikasi seluler dalam konteks pasar jasa B2B dan memberikan rekomendasi pola pengembangan jasa kepada pelaku bisnis dengan berdasarkan kepada pemodelan industri jasa telekomunikasi seluler, yang selanjutnya digunakan untuk menganalisis dampak pilihan keputusan bisnis yang terkait dengan pengembangan jasa, terhadap kinerja perusahaan. Analisis ini mengacu kepada vendor infrastruktur telekomunikasi sebagai organisasi focal dalam rantai pasokan dengan operator telekomunikasi sebagai pelanggannya.
Industri jasa telekomunikasi seluler berkembang sejalan dengan pertumbuhan yang pesat dari industri perangkal infrastruktur telekomunikasi seluler, sebagai produk komplementer yang bersifat konvensional (product-near-services). Pola konsumsi produk jasa ini mengikuti tahapan pembangunan jejaring telekomunikasi seluler, yang melipuli perencanaan, pembangunan, pemeliharaan jejaring dan optimisasi jejaring, dengan jenis produk jasa konsultasi jejaring (network consulting), jasa perencanaan dan pembangunan jejaring (nerwork design and roll our services), jasa pendidikan dan pelatihan (education and trafnfing services); jasa operasi dan pemeliharaan (operation and mainrenance), termasuk di dalamnya jasa integrasi sistem dan yang terakhir adalah managed sewices. Produk jasa konvensional dapal dikembangkan menjadi produk jasa non-konvensional yang tidak lagi mengacu kepada spesifikasi perangkat yang diproduksi vendor tertentu, namun mengacu kepada standar teknologi yang digunakan oleh semua vendor, sehingga jasa ini dapat diaplikasikan untuk perangkat yang diproduksi oleh vendor manapun.
Dinamika persaingan dalam industri infrastruktur telekomunikasi telah menekan marjin keuntungan dari penjualan perangkat yang dilakukan vendor incumbent, dengan masuknya vendor baru yang mencrapkan strategi cost leadership. Kondisi ini telah menempatkan produk jasa yang masih menjanjikan marjin keuntungan yang tinggi pada posisi yang strategis dalam pertumbuhan bisnis vendor. Dengan hanya mengandalkan produk konvensional, maka demand produk jasa akan dibatasi oleh pangsa pasar infrastruktur suatu vendor. Cara umum yang dilakukan untuk meningkatkan demand produk jasa adalah dengan aktivitas swapping yaitu penggantian jejaring satu vendor oleh vendor lain, dengan biaya yang relatif mahal dan membutuhkan upaya yang besar untuk mendapatkan peluang ini. Beberapa hal tersebut selanjutnya menjadikan pengembangan jasa non-konvensional menjadi hal yang penting dalam meningkatkan service demand, tanpa perlu melakukan aktivitas swapping, terlebih lagi saat ini operator mulai membuka peluang vendor untuk menjual produk jasa ini.
Berdasarkan hasil pemodelan dan simulasi yang dilakukan, dapat disimpulkan selama terdapat peluang untuk menjual produk multivendor dan persentase pangsa pasar infrastruktur dari vendor tersebut lebih kecil daripada persentase potensi keunlungan yang didapatkan dari pengembangan jasa multivendor terhadap ukuran pasar jasa, maka pengembangan produk jasa non-konvensional akan lebih menguntungkan. Persentase potensi keuntungan yang didapatkan dari penelitian ini sebesar 30%- Jika persentase pangsa pasar infrastruktur lebih besar dari persentase ini, maka vendor dapat lebih fokus pada produk konvensionalnya dan mengoptimalkan skala ekonomi dari basis infrastrukturnya, serta meningkatkan keunggulan operasional agar produk tersebut dapat semakin kompetitif.

This Final Paper is having 2 main research goals, i.c. : to give a brief picture to the business society regarding the system integration and cellular telecommunication network consulting sewices business in the business to business (B2B) services market and to propose a recommendation on the services development strategy based on the modelling of the cellular telecommunication industry. Furthermore the modelling can be used a tool to analyze the impact of each business decisions related to the service development to the company performance. The analysis is based on the perspective of telecolntnunication vendors as thc local organization and telecommunication operators as the first tier customers in the supply chain structure.
The cellular telecommunication service industry has been developing in line with the rapid development of the cellular telecommunication inlrastrueture businesses, as the conventional complementary product of cellular telecommunication infrastructure (product-near services). The consumption pattern of the services product is in line with the cellular network development phases, which is including network design, network roll out, network operation and maintenance, and network optimization, with services product type network consulting service, network design and roll out services, education and training services, operation and maintenance services, including system integration services, and the last one is managed services. The conventional service products can be developed to a certain level of development and resulting new service product category, the non conventional service products, which no longer refer to any specific infrastructure manufactured by certain vendor, but referring to the technology standard as the reference of all vendors. With this case, the type of product is able to be implemented to all infrastructure products manufactured by any vendor within the same technology standard.
The competition dynamics in the telecommunication infrastructure industry with the entry of new vendors applying cost leadership strategy, have been reducing the product margin ofthe infrastructure sales of the incumbent vendors. This condition has put service products which are still offering higher margin as the strategic product in terms of vendor business growth. By only relying on the conventional service products, the service demand of a vendor will be limited by the infrastructure marketsharc of the vendor. The common methode currently applied in increasing service demand is by performing swap activities, which refer to the activity of replacing one vendor infrastructure by other vendor product, with the high cost impact and an extra effort required to get this chance. These conditions linthennore have increased the importance of the development of non conventional service products in order to increase the service demand without the necessity to perform swapping activities. On the other side the operator outsourcing policy has given the chance forthe vendors to sell non conventional service products.
Based on the modelling and simulation result, it can be concluded that as long as there is a chance to sell rnultivendor service product and the infrastmcture market share percentage of a certain vendor less than thc potential revenue percentage from total service market size, received from the multivendor sales, the development of non conventional service product will always be more profitable compared to the conventional product sales only. The modelling and simulation in this research concluded the potential revenue of 30% from the non conventional product development and sales. lf the infrastructure market share of a certain vendor is higher than this percentage, this vendor can be more focused on its conventional service products and gaining advantage from the economy of scale of its installed base infrastructure and improving its operational excellence resulting an even better service product competitiveness."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
T23189
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Wijaya
"Perlunya pemetaan spasial jaringan telekomunikasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi dan distribusi sebaran menara telekomunikasi secara eksisting serta menganalisis jangkauan area layanan menara telekomunikasi yang dapat digunakan berbagai keperluan perencanaan, pengawasan dan pengembangan infrastruktur telekomunikasi tingkat daerah, regional maupun nasional. Karena adanya kebutuhan dan peningkatan kebutuhan layanan, maka perencanaan yang matang, akurat dan komprehensif untuk pengembangan sistem jaringan telekomunikasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi geografis, sebaran menara telekomunikasi serta untuk rencana menentukan arah pengembangan yang akan dibangun. Sistem Informasi Geografis (SIG) telah secara luas digunakan untuk tujuan pemetaan, menganalisis, mengorganisir, dan semua jenis data yang dapat di-interfacekan secara grafis. Dasar struktur GIS adalah data Base konvensional. Namun, tidak seperti data Base tradisional, GIS diperkaya dengan atribut spasial (Koordinat Geografis) untuk semua data. Karena setiap record dalam data Base GIS telah mempunyai koordinat, data dapat dipetakan ke posisi yang benar pada permukaan bumi dan dihubungkan dalam format peta. Dengan adanya informasi geografis berupa Sistem informasi geografis (SIG) dapat memberikan informasi jangkauan dan daerah kekuatan signal yang terdapat pada setiap menara telekomunikasi, informasi mengenai calon pelanggan yang berada di daerah yang belum terjangkau oleh menara yang sudah ada sehingga dapat menjadi acuan untuk penambahan menara, sistem informasi ini dapat memudahkan penyedia jasa untuk menentukan pengguna jasa yang akan berlangganan.

The need for spatial mapping of telecommunication networks aims to identify the location and distribution of existing telecommunication towers as well as to analyze the coverage area of telecommunication tower services that can be used for various purposes of planning, monitoring and developing telecommunication infrastructure at regional, regional and national levels. Due to the need for and increasing service requirements, careful, accurate and comprehensive planning for the development of a telecommunication network system must be carried out by considering the geographical location, distribution of telecommunication towers as well as for plans to determine the direction of development to be built. Geographical Information Systems (GIS) have been widely used for the purpose of mapping, analyzing, organizing, and all kinds of data that can be graphically interfaced. The basis of a GIS structure is a conventional data base. However, unlike traditional data bases, GIS is enriched with spatial attributes (Geographical Coordinates) for all data. Because each record in the Base GIS data already has coordinates, the data can be mapped to the correct position on the earth's surface and linked in a map format. With the existence of geographic information in the form of a geographic information system (GIS), it can provide information on the coverage and area of signal strength contained in each telecommunication tower, information about potential customers who are in areas not yet reached by existing towers so that they can become a reference for additional towers, This information system can make it easier for service providers to determine which service users will subscribe to."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Riza Abdullah
"PT Chevron Indonesia Company (CICo) mengalami perubahan organisasi yang sebelumnya termasuk dalam entitas PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) menjadi PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) sebagai entitas terpisah. Proses perubahan organisasi juga dibarengi dengan proses migrasi aplikasi bisnis. Proses migrasi tersebut dilakukan dalam bentuk proyek-proyek tiap aplikasi bisnis. Tidak mungkin mencapai Kesuksesan 100% dalam pengerjaan proyek, tetapi dapat diteliti mengapa sebagian berhasil sebagian tidak. Setelah dilakukan gap analysis, didapat bahwa perlu mengidentifikasi critical success factor proyek pengembangan aplikasi bisnis, kemudian dilakukan pemeringkatan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas perbaikan. Peringkat tertinggi untuk Project Success Criteria (PSC) adalah outcome/benefit/manfaat, dan peringkat tertinggi untuk untuk Critical Success Factor (CSF) adalah dukungan manajemen puncak. Rekomendasi perbaikan disusun berdasarkan permasalahan organisasi dan hasil penelitian.

PT Chevron Indonesia Company (CICo) underwent an organizational change that was previously included in the PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) entity to become PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) as a separate entity. The process of organizational change is also accompanied by a process of migrating business applications. The migration process is carried out in the form of projects for each business application. It is impossible to achieve 100% success in working on the project, but it can be investigated why some succeed in part or not. After a gap analysis, it was found that it was necessary to identify the critical success factor of the business application development project, and then ranking using the Analytical Hierarchy Process (AHP) to determine the priority of improvement. The highest ranking for Project Success Criteria (PSC) is the outcome/benefit, and the highest ranking for Critical Success Factor (CSF) is top management support. Recommendations for improvement are based on organizational issues and research results.
"
Jakarta: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2020
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Brady, Roger
Cheltenham: Stanley Thornes, 1992
658.400285 BRA i
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Saldarini, Robert A.
New York: Macmillan, 1989
658.403 8 SAL a
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Saldarini, Robert A.
New York: Macmillan, 1990
658.403 8 SAL a
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Laudon, Kenneth C., 1944-
New Jersey: Prentice-Hall, 1999
658.403 801 1 LAU e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Turban, Efraim, 1930-
New York: John Wiley & Sons, 2002
658.4 INF
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Post, Gerald V.
Boston: McGraw-Hill Irwin, 2003
658.403 8 POS m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Iwan Herdian
"Berkembangnya sistem informasi dan teknologi informasi (SI/TI) dalam waktu yang cepat membuat perusahaan untuk saling berkompetisi dengan menggunakan SI/TI. Bahkan SI/TI sudah menjadi inti dari perusahaan tersebut dalam menjalankan bisnisnya (IT Enabler). Dengan memanfaatkan SI/TI, diharapkan dapat membantu dalam pekerjaan, pemrosesan dan pengolahan data-data penting serta pelayanan supaya perusahaan menjadi maju. Namun pemanfaatan SI/TI tersebut juga membutuhkan nilai investasi yang besar. Investasi dalam bidang Sistem Informasi dan Teknologi Informasi (SI/TI) merupakan persoalan krusial di setiap industri untuk mencapai keunggulan kompetitif. Salah satu tantangan dari penyelarasan strategi bisnis perusahaan dengan strategi SI/TI perusahaan adalah bagaimana cara suatu perusahaan dapat menerjemahkan manfaat bisnis dari investasi SI/TI. Tiap-tiap manfaat bisnis tersebut memiliki risiko yang berbedabeda dan organisasi dapat meminimalisir risiko yang mungkin terjadi.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari pemetaan manfaat finansial dari implementasi ERP Oracle Finance di PASI pada Departemen Finance Accounting serta melakukan kuantifikasi dari manfaat-manfaat yang sudah dipetakan dan mencari indikator risiko pada tiap-tiap manfaat yang dikuantifikasi. Metode yang digunakan adalah Tabel Generik, System Dynamics dan menggunakan analisa untuk mencari risiko potensial untuk mendapatkan indikator risikonya. Hasil penelitian menunjukkan manfaat yang didapatkan dari implementasi Oracle Finance adalah 3 manfaat dari subkategori Tabel Generik yang dikuantifikasi. Tiga manfaat tersebut adalah mempercepat proses pembuatan laporan keuangan, meningkatkan kualitas laporan, dan restrukturisasi pembagian fungsi kerja.
Total nilai manfaat dari 3 manfaat tersebut adalah sebesar Rp. 81.031.968.763; dimana manfaat meningkatkan kualitas laporan memberikan nilai yang paling siginifikan. Analisa potensi risiko menghasilkan indikator risiko seperti persentase tidak adanya aktivitas kerja, kurangnya penempatan pegawai di posisi yang tidak seharusnya, pergantian karyawan, proses transfer knowledge yang belum dilakukan, ketidakmampuan karyawan dalam pemanfaatan teknologi, penentuan KPI untuk setiap karyawan yang berhubungan langsung dengan operasional sistem, hari penutupan transaksi, downtime jaringan, kemampuan kapasitas jaringan dan kemampuan kerja server.

The rapid development from information system and information technology make organization compete each other by using information system and information technology. Information system and technology already becomes the core of that organization for running their business. By using IS/IT, can help the tasks, process and data processing and service for the development of the company. However, the use of IS/IT also requires a substantial investment value. Investments in the field of Information Systems and Information Technology (IS / IT) is a crucial issue in every industry to achieve competitive advantage. One of the challenges of aligning business strategy with the corporate strategy companies is how a company can translate the benefits of the investment IS/IT. Each business benefits that have different risks and organizations can minimize the risks that may occur.
This study aimed to explore the financial benefits of Oracle Finance ERP implementation in PASI in Accounting and Finance Department and also quantify of the benefits that have been mapped and look for indicators of risk in each of the quantified benefits. The method used is Table Generic, System Dynamics and using analysis to look for potential risk to get key risk indicators. The results show the benefits obtained from the implementation of Oracle Finance are three subcategories IS/IT Generic Table which are quantified. Three of these benefits are to accelerate the financial reporting process, improve the quality of the report and the restructuring of the division of labor function.
The total values of the benefits are Rp. 81.031.968.763; where the benefits of improving the quality of reports provide the most significant value. Analysis of the potential risk of generating risk indicators such as the percentage of absence of work activities, lack of staffing in positions that are not supposed to, employee turnover, the process of knowledge transfer that has not been done, the inability of employees in the use of technology, the determination of KPI for each employee that is directly related to the operational system, the closing of the transaction, network downtime, the ability of network capacity and the ability to work server.
"
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2014
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>