Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 144979 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Niken Rahardina
"Kota Semarang pada masa kini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berawal dari dataran lumpur yang kemudian berkembang menjadi suatu lingkungan yang maju. Pada tahun 1992 wilayah Kota Semarang mulai mengalami penataan. Dengan dasar Peraturan Pemerintah RI No. 50 tahun 1992 tentang penentuan Kecamatan-kecamatan, maka Semarang terbagi menjadi 16 kecamatan. Dengan adanya penataan ini maka pertumbuhan unsur wilayah Semarang semakin maju dan relatif merata. Sarana dan prasarana seperti jalan-jalan baru yang menghubungkan pusat-pusat kota dengan daerah yang terisolir mulai dibangun. Sektor formal dan informal sama-sama berkembang dan saling menunjang. Investor berdatangan baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Seiring dengan pesatnya perkembangan tersebut, muncullah masalah-masalah yang harus cepat ditangani seperti kerusakan lingkungan, banjir dan rob, serta pertumbuhan penduduk akibat urbanisasi dan kelahiran. Kerusakan lingkungan terjadi karena kurang terkendalinya eksploitasi lahan di daerah atas sehingga banyak terjadi lahan kritis dan ancaman penurunan permukaan tanah. Pemkot Semarang telah melakukan upaya-upaya pengendalian banjir diantaranya yaitu normalisasi banjirkanal, pembangunan polder, penambahan pompa air, dan lain sebagainya, namun upaya-upaya tersebut belum mampu mengatasi banjir dan rob secara maksimal.
Penelitian Kebijakan Pemerintah Kota Semarang Dalam Menangani Bencana Alam di Kota Semarang (Studi Kasus: Bencana Banjir di Kota Semarang) ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan narasumber staf Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Badan Kesbang dan Linmas Kota Semarang, staf Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang, serta masyarakat yang tempat tinggalnya sering dilanda banjir dan rob.
Dengan menggunakan analisis data yang bersumber pada hasil wawancara, data sekunder serta dokumentasi maka diperoleh simpulan bahwa pelaksanaan kebijakan pengendalian banjir di Kota Semarang oleh Pemkot Semarang belum benar. Pemkot Semarang hanya mengutamakan pembangunan fisik pengendalian banjir tanpa disertai peran masyarakat dan stakeholder, Pemkot Semarang juga belum memaksimalkan fungsi gorong-gorong sebagai resapan air. Pemkot Semarang tidak tegas dalam menindak masyarakat yang mendirikan bangunan-bangunan di atas tanah yang sebenarnya digunakan untuk resapan air. Hal-hal tersebut mencerminkan bahwa Pemkot Semarang tidak memprioritaskan permasalahan banjir di Semarang.

City of Semarang today have tremendous development. Back then, it was a swamp area before it became a modem town, as it is now. In 1992, many area in Semarang city started to be arranged. Based on Government Regulation No. 50 of 1992 on districts establishment, Semarang divided into 16 districts. The effect of this division make the regional growth became higher and relatively equal. Inftastructure, like new roads which connected city centers and isolated region started to be built. Formal and informal sectors escalate equally and complete each other. Many investors come ftom domestic and abroad.
As the growth of the city escalate, problems like environmental destruction, flood, rapid increase of population due to migration and birth came into surface that need to cope with. Environmental destruction happened because there is a lack of control on soil exploitation in the upper area therefore many critical lands are formed and there is thread on land surface become lower then sea level. Semarang City authority have conducted many effort to anticipate flood for examples cleaning the canals ftom wastes, building polder (reservoir), are among those efforts. Nonetheless, those efforts still unable to resolve flood in Semarang.
This research on Semarang City’s Executive Poiicies in Handling Natural Disaster in Semarang (Case Study: Flood in Semarang) use a positivist approach. The data of this research are based on in-depth interview with The City of Semarang General Affairs Agency, The City of Semarang National Guard and Public Safety Board, The City of Semarang Garden and Cemetery Agency and also local people who live in in the nearby neighbourhood which often had flood.
Using data analysis based on the interviews, secondary data and documentation, it is concluded that the implementation of flood control poiicies in Semarang by the authority is inappropriate. The city authority is only focus on creating inftastructure and not taking into account the participation of public and stakeholder, and also have not make the gutter to be in fully function. It also has not put a strict law on people who build semi-detached house upon the area that are meant to be a reservoir. Those factors indicate that the city authority is not put the programme to handle flood as it main priority.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
T26363
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sianturi, Natal Rivaldo Parsaoran
"Papua merupakan pulau dengan kawasan hutan terluas di Indonesia. Papua menjadi rumah bagi lebih dari 250 kelompok etnis asli yang sebagian besar terorganisir ke dalam marga-marga dan memiliki ikatan yang kuat dengan hutan. Sejak tiga dekade terakhir, ekspansi perkebunan kelapa sawit yang diklaim memberikan dampak positif bagi perekonomian negara telah merampas lahan dan merusak lingkungan hidup masyarakat adat di Papua. Salah satu produk visual yang membahas hal tersebut adalah film dokumenter Sa Pu Hutan. Tulisan ini membahas film dokumenter Sa Pu Hutan dengan menggunakan teori konstruksi realitas sosial untuk menjelaskan bagaimana film tersebut mengkonstruksi realitas sosial environmental harm di Papua dengan menggunakan konsep claim makers, claims, frames, narratives, symbolic crimes, dan ownership yang dapat memengaruhi bagaimana seseorang melihat realitas atau dunia yang dianggap nyata.

Papua Island has the largest forest area in Indonesia. Papua are home to more than 250 indigenous ethnic groups, most of which are organized into clans and have strong ties with the forest. Over the last three decades, the expansion of palm oil plantations, which has been claimed to have a positive impact on the country's economy, has grabbed the land and harmed the environment for indigenous peoples in Papua. The documentary film Sa Pu Hutan is a visual product that discusses this issue. This paper discusses the documentary film Sa Pu Hutan using the social construction of reality theory to explain how the film socially constructs the reality of environmental harm in Papua by using the concepts of claim makers, claims, frames, narratives, symbolic crimes, and ownership, which can influence how one sees reality or the world is real."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ery Agus Priyono
"Masalah lingkungan hidup senantiasa menjadi fokus pembicaraan hangat di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Lebih-lebih dalam dasawarsa terakhir ini, di mana lingkungan hidup telah menghadapi permasalahan besar akibat ulah manusia dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia sendiri.
Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang religius menyadari sepenuhnya bahwa lingkungan hidup sebagai ruang tempat hidup bangsa dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara adalah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dinyatakan dengan tegas dalam bagian menimbang butir a Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, selanjutnya disingkat UULH.
Menurut UULH, Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahkluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya (Pasal 1 butir 1 UULH). Pengelolaan lingkungan mempunyai ruang lingkup yang luas dengan cara yang beraneka pula. Pertama, ialah pengelolaan lingkungan secara rutin."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Kota Semarang yang berjarak sekitar 417 kilometer dari Jakarta dan
250 kilometer dari Surabaya adalah sebuah kota bersejarah yang memiliki
fungsi sebagai kota pelabuhan, kota industri, kota perdagangan, kota budaya
serta kota pariwisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan
gambaran tentang letak Kawasan Pusaka (Heritage District) Kota Semarang,
Central Business District (CBD) Kota Semarang dan Tourist Business District
(TBD) Kota Semarang sehingga dapat dibuat sebuah Model Spasial Tourist
Business District (TBD) Kota Semarang. Dengan mengadaptasi Model
Perkembangan Kota Bersejarah Ashworth dan Turnbridge (1990), dapat
disimpulkan bahwa Model Spasial Tourist Business District (TBD) Kota
Semarang telah memasuki tahapan kelima dari perkembangan Kota
Bersejarah, yang ditandai dengan meluasnya Central Business District (CBD)
dan Tourist Business District (TBD) ke berbagai arah."
Universitas Indonesia, 2007
S34090
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 2005
S33082
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ario Kusuma
"Tesis ini mengkaji permasalahan kemacetan yang terjadi di salah satu kota besar yaitu Semarang. Di kota ini memiliki keunikan yang mirip dengan Jakarta yaitu masuknya arus kendaraan dari luar kota menuju kota sehingga terjadi penumpukan kendaraan pada jam sibuk. Selain permasalahan tata ruang dan kedisiplinan juga dihadapakan pada masalah rusaknya infrastruktur karena alam yaitu banjir rob yang sering terjadi di kota Semarang.
Tesis ini bertujuan untuk mencari alternatif terbaik untuk mengatasi kemacetan yang terjadi. Metodologi yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process, karena dengan menggunakan metode AHP dapat diambil keputusan untuk memilih alternatif yang terbaik.
Kesimpulan dan temuan dari tesis ini adalah alternatif terbaik untuk mengatasi kemacetan yaitu, meningkatkan kapasitas jalan dengan moda yang terbanyak dipilih untuk digunakan dalam bepergian adalah Bus Rapid Transit.

This thesis try to explore the subsistency problem that happen on the traffic in Semarang. It is happen because of there is a lot people that works in the urban area is living at sub- urban, there will be an overload capacity in the rush hour such as in the moming and after work hour. The trafic jam happened because a lot of causes such as nature cause. So the infrastrucutre is need more attention. Int this examamination is come to need of integration of transportation and special attention to infrastructure that can be more reliable and resist for nature cause.
The goal of this thesis is to seek the best alternatives to overcome the bottleneck. The methodology that is used in this thesis is AnalyticaI Hierarchy Process, since using this method the decision to choose the best alternatives can be taken..
The summary and discovery of this thesis reflect the best altematives to overcome bottleneck, which is increasing the road capacity with the most chosen mode to be used in travelling, that is Bus Rapid Transit.
"
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T26473
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Irpan Sejati Tassakka
"ABSTRAK
Dry Anaerobic Digestion (AD) dapat menjadi salah satu solusi pengolahan sampah organik Universitas Indonesia (UI) dengan menggunakan pengomposan yang masih kurang efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah
menentukan kesesuaian substrat campuran sampah organik dan feses sapi dengan perbandingan 9:1 (m/m) dan Organic Loading Rate (OLR) 8-14 kgVS/m3hari optimum dry AD untuk menghasilkan Volatile Solids Destruction (VSD) dan produksi metana tertinggi. Operasional reaktor menggunakan dry AD satu tahap berukuran 500 L dalam kondisi mesofilik selama 134 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat sangat ideal diolah menggunakan dry AD dengan konsentrasi Total Solids (TS) sebesar 23,2-27,1%; konsentrasi Volatile Solids (VS) sebesar 89,7-94,9 %TS; rasio C/N sebesar 18,5-27,3; dan tingkat inhibitor yang rendah. OLR optimum pada penelitian ini adalah 10 kgVS/m3hari yang menghasilkan VSD sebesar 92,2% dapat menjadi solusi reduksi timbulan sampah organik sebesar 179 kg/hari. OLR 10 kgVS/m3hari memproduksi gas metana sebesar 127 LCH4/grVShari yang dapat dikonversi menjadi energi sebesar 14,0 kw/hari. Selain itu, OLR 10 kgVS/m3hari memiliki stabilitas reaktor yang paling stabil diantaranya suhu sebesar 28,7 oC; nilai pH sebesar 6,52; dan konsentrasi amonia sebesar 848 mg/l.

ABSTRACT
Dry Anaerobic Digestion (AD) is one of solution to organic waste
processing in Universitas Indonesia (UI) by using composting that still less
efficient. The purpose of this study is to determine the suitability of the mix
substrate of organic waste and cow manure with a ratio of 9:1 (m/m) and Organic Loading Rate (OLR) of 8-14 kgVS/m3day optimum dry AD to produce highest Volatile Solids Destruction (VSD) and methane production. Operational reactor using single stage dry AD size of 500L in mesophilic condition for 134 days. The results showed that the ideal substrate processed using dry AD with Total Solids (TS) concentration of 23,2 to 27,1%; Volatile Solids (VS) concentration of 89,7 to 94,9% TS; C/N ratio of 18,5 to 27,3; and low level of inhibitor. OLR optimum in this study was 10 kgVS/m3day that produce VSD of 92,2% can be a solution of reducing organic waste amount of 179 kg/day. OLR 10 kgVS/m3day produce methane gas of 127 LCH4/grVSday can be converted into energy by 14,0 kw/day. In addition, OLR 10 kgVS/m3day had the highest stability reactor such as temperature of 28,7 °C; pH value by 6,52; and ammonia concentration of 848 mg/l."
2016
T46657
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sawab
"ABSTRAK
Keputusasaan merupakan penilaian negatif terhadap hasil yang akan dicapai dan ketidakberdayaan terhadap suatu harapan. Keputusasaan dapat terjadi pada stroke survivor karena disabilitas akibat defisit neurologisnya serta waktu yang lama dalam penyembuhannya. Kondisi ini dapat berlanjut pada gangguan mental emosional maupun tindakan suicide. Oleh karena itu gambaran pengalaman keputusasaan stroke survivor dibahas dalam penelitian ini. Metode penelitian kualitatif deskriptif fenomenologi terhadap 6 partisipan. Hasil penelitian didapatkan tujuh tema utama yaitu (1) Perubahan fisik sebagai akibat respon keputusasaan, (2) Respon kehilangan sebagai stressor keputusasaan, (3) Disfungsi proses keluarga, (4) Kehilangan makna hidup, (5) Dukungan dan motivasi diri sebagai sumber koping menghadapi keputusasaan, (6) Hikmah spiritual dibalik keputusasaan stroke survivor dan (7) Dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Penelitian ini menyarankan dikembangkannya standar asuhan keperawatan keputusasaan dan pemberian dukungan keluarga serta psikoedukasi keluarga bagi stroke survivor.

ABSTRACT
Hopelessness was a negative assessment of the results to be achieved and powerlessness against an expectation. Hopelessness can occur due to disability in stroke survivors and neurologic deficit due to a long time in healing. This condition can lead to mental disorders or emotional or suicide action. Therefore To explore of hopelessness stroke survivors experience discussed in this study. Methods qualitative descriptive phenomenology to 6 participants. The finding was revealed 7 themes (1) The physical changes in hopelessness response, (2) Loss of response as a hopelessness stressor, (3) Dysfunction of the family process, (4) Loss of meaning in life, (5) Support and self motivation as coping resources stroke survivors with hopelessness, (6) The Spiritual wisdom behind hopelessness the stroke survivor (7) Can be living in a better life. This study suggests to development standards of nursing with hopelessness, given family support and family psychoeducation for stroke survivors"
2013
T35468
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muh. Munhaji
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2005
T39410
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>