Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4073 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lasher, Heidi
Geneva: GAVI, 2001
614.47 ADV
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Reza Isfan
"Imunisasi merupakan satu tindakan pemberian kekebalan khusus kepada anak terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), seperti tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, dan hepatitis B, sebelum berusia satu tahun. Peningkatan cakupan imunisasi mampu menurunkan kematian akibat PD3I dari 23% tahun 1974 menjadi 10% di tahun 2000. Selama tahun 2005, Seksi Pengamatan dan Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat melaporkan 2.603 kasus campak klinis, 498 kasus hepatitis, 12 kasus tetanus neonatorum, dan 117 kasus pertusis. Kota Padang melaporkan 959 kasus campak klinis, 65 kasus hepatitis, dan 5 kasus tetanus neonatorum selama tahun 2005. Cakupan imunisasi di Puskesmas Pauh Kota Padang pada tahun 2005, adalah; BCG (89,8%), DPT1 (81,2%), DPT3 (67,8%), Polio 4 (75,8%), Hepatitis (66,6%), dan Campak (84,1%).
Imunisasi dasar yang tidak lengkap, hanya memberikan perlindungan sebesar 25-40%. Perkiraan risiko untuk meninggal pada seorang anak balita yang tidak diimunisasi lengkap adalah sebesar 14 kali dibandingkan yang sudah diimunisasi lengkap.
Penelitian ini menggunakan disain kasus kontrol, untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar pada anak. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pauh, dengan pertimbangan jumlah penduduk yang cukup besar, cakupan imunisasi rendah, dan masyarakat yang cukup kooperatif.
Kasus adalah anak usia 12 sampai 23 bulan yang tidak mendapatkan salah satu imunisasi sebelum benisia satu tahun, sedangkan sebagai kontrol adalah anak yang sudah mendapatkan imunisasi berupa BCG, DPT1, DPT2, DPT3, Poliol, Polio2, Polio3, Polio4, Campak, serta hepatitis B1, hepatitis B2, dan hepatitis B3 sebelum berusia satu tahun. Kasus dan kontrol dicari dari register imunisasi di puskesmas, dari tanggal 1 Juni 2004 sampai 31 Mei 2005. Responden pada penelitian ini adalah ibu dari kasus rnaupun kontrol yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Pauh pads waktu penelitian.
Penelusuran variable-variabel yang diduga berhubungan dengan status imunisasi dasar dilakukan dengan mengadopsi konsep Green yang melihat faktor predisposisi (umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, sikap ibu, jumlah anak, dan pekerjaan suami), faktor pendukung (kepemilikan), dan fakt ar pendorong (anjuran).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi yang berhubungan dengan ketidaklengkapan imunisasi dasar pada anak di Puskesmas Pauh adalah umur ibu 30 tahun dengan OR = 3,10 dengan 95% CI: 1,83-5,26, pendidikan ibu yang rendah dengan OR = 2,01 dengan 95% CI: 1,10-3,69, pengetahuan ibu yang tidak bail( tentang imunisasi dengan OR = 2,16 dengan 95% CI: 1,20-3,90, dan pekerjaan suami pada sektor non formal dengan OR = 3,21 dengan 95% CI: 1,19-8,69. Faktor pendukung (kepemilikan) tidak berhubungan dengan ketidaklengkapan imunisasi dasar pada anak. Faktor pendorong berupa anjuran, berhubungan dengan ketidaklengkapan imunisasi dasar pada anak. Ibu yang tidak pernah mendapatkan anjuran imunisasi mempunyai risiko imunisasi anaknya tidak lengkap sebesar 4,17 kali jika dibandingkan dengan ibu yang mendapat anjuran dari tenaga non kesehatan, dan sebesar 3,86 kali jika dibandingkan dengan-ibu yard mendapat anjuran dari tenaga kesehatan.
Anjuran untuk mengikuti program Keluarga Berencana setelah punya dua anak, tidak mempunyai Layi lagi setelah ibu berumur ? 30 tahun, meningkatkan pendidikan ibu, penggalakan kelompok belajar, penyuluhan imunisasi secara berkala dan berkesinambungan, revitalisasi posyandu, dan pelatihan imunisasi leader kesehatan diharapkan dapat ineningkatkan cakupan imunisasi pada masa yang akan datang.

Immunization is a procedure on giving a special protection on children, before one year of age, from diseases that can be prevented by immunization, such as tuberculosis, diphtheria, pertuses, tetanus, polio, measles, and Hepatitis B. The escalation on the immunization coverage has reduced the mortality, caused by the diseases that can be prevented by immunization, from 23% in 1974 to 10% in 2000. During 2005, the province of West Sumatra has reported cases on 2,603 clinical measles, 498 Hepatitis, 12 tetanus neonatorum, and 117 aertuses. Meanwhile, Kota Padang has reported 959 cases of clinical measles, 65 cases of Hepatitis, and 5 cases of tetanus neonatorum. The immunization coverage at Puskesmas Pauh of Kota Padang in 2005 is: BCG (89.8%), DPT i (81.2%), DPT3 (67.8%), Polio4 (75.7%), Hepatitis (66.6%), and measles (84.1%).
Uncompleted basic immunization is only giving 25-40% of protection. An estimation on risk of death for children under five who have uncompleted immunization is fourteen times compare to those who have completed immunization.
The design of the study is case-control in order to find out the factors related to the child status on basic immunization. The study is carried out in the working area of Puskesmas Pauh was chosen based on total among the population approximately, the low coveragi immunization as well as the cooperative behavior of the community. The case is children age 12 to 23 months who has uncompleted one of basic immunization before one year of age. Meanwhile, the control is children who have completed basic immunization before one year of age. The completed immunization should consist of immunization on ECG, DPT1, DPT2, DPT3, Polio], Polio2, Polio3, Polio4, Measles, HepatitisB-l, HepatitisB-2, and HepatitisB-3. The case and the control are found out from puskesmas' immunization registration, during 151 June 2004 to 315` May 2005. Respondents of the study are mothers of the case and the control who lives in the working area of puskesmas.
Exploration on variables that assumed to have relationship with the status of basic immunization is accomplished by applying 'the concept of Green, which is looking at the predisposing factors (age, education, occupation, knowledge, attitude, number of children, and husband's occupation), the enabling factors (ownership) and the reinforcing factors (advice).
The result of the study showed that predisposing factors have relationship with incompleteness of basic immunization status of children. The predisposing factors the are relationship also between the predisposing factors with status on basic immunization are: age > 30 years (OR: 3.19 with 95% CI at 1.83 - 5.26), low education (OR: 2.01 with 95% CI at 1.10 --- 3.69), poor knowledge on immunization (OR: 2.16 with CI 95% at 1.20 - 3.90), and husband's occupation at non-formal sectors (OR: 3.21 with CI 95% at 1.19 - 8.69). There is no relationship between enabling factor (ownership) with the incompleteness of basic immunization of the children. The reinforcing factor, in this case is the advice, is correlated with the incompleteness of basic immunization of the children. The risk of mother have never had an advice about child immunization have a risk 4.17 times to have incompleteness on child immunization compare to mothers who receive the advice from non-health personnel. While the risk is lower 3.86 times if compared to mother who receive the advice from health personnel.
Suggestions are addressed the mothers to: participate on family planning program after having two children, not to be pregnant after 30 years of age, to increase the level of mother education, educational package programme for the mother to foolow sustainability of IEC immunization program. Posyandu revitalization, and immunization training for should voluntary health worker about immunization. Hopely by accomplish all the suggestion the immunization coverage will bw increase in the future time."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T19078
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Washington: USAID, 2003
614.4 UNI i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"The upper respiratory tract is lined with ciliated epithelium or brush border that functions as the primary filter to the respiratory tissue. Epithelial trauma caused by neonatal boedetellosis serves as the predisposing factor for other respiratory diseases in growing pig...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Melinda Ariyanti
"Imunisasi adalah upaya untuk secara aktif meningkatkan kekebalan seseorang melawan terjadinya penyakit, sehingga jika terkena penyakit itu tidak akan sakit atau hanya nyeri ringan. Imunisasi dasar adalah salah satu imunisasi rutin dilakukan terus menerus dan terus menerus, dan diberikan kepada bayi sebelum 1 tahun untuk mencegah beberapa kejadian penyakit (hepatitis B, TBC, difteri, pertusis, tetanus, polio, meningitis dan campak).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi faktor-faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap untuk anak-anak berusia 1-2 tahun di Indonesia pada tahun 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan analisis multivariat regresi logistik berganda. Data yang digunakan adalah data sekunder dari survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel besar diperoleh dari hasil perhitungan uji selisih dua proporsi dan. Sampel yang digunakan adalah 6.091 wanita berusia 15 - 49 tahun yang memiliki anak berusia 1-2 tahun dan menerima imunisasi.
Hasil Analisis multivariat menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan signifikan status imunisasi dasar yang tidak lengkap adalah jenis kelamin anak (nilai-p = 0,011; OR adj = 1.158; 95% CI: 1.034 - 1.296), jumlah anak yang hidup (p-value = 0,007; OR adj = 1.228; 95% CI: 1.057 - 1.427), tingkat pendidikan ibu (p-value = 0,000; OR adj = 1,301; 95% CI: 1.139 - 1.486), perawatan antenatal (p-value = 0,000; OR adj = 2.574; 95% CI: 2,078 - 3,187), tempat pengiriman (p-value = 0,006; ATAU ajd = 1,259; 95% CI: 1,069 - 1,484), dukun bayi (p-value = 0,000; OR adj = 2,213; 95% CI: 1,712 - 2,861), dan kepemilikan KMS (p-value = 0,000; OR adj = 2,776; 95% CI: 2.293 - 3.360). Faktor yang memiliki efek terbesar pada status imunisasi dasar tidak lengkap adalah Kepemilikan KMS. Karena itu, perlu ada perhatian pada status imunisasi dasar tidak lengkap pada anak untuk meningkatkan cakupan dan pemerataan kesehatan di setiap populasi.

Immunization is an effort to actively increase one's immunity against the occurrence of disease, so that if exposed to the disease it will not hurt or only mild pain. Basic immunization is a routine immunization carried out continuously and continuously, and is given to babies before 1 year to prevent several events of the disease (hepatitis B, tuberculosis, diphtheria, pertussis, tetanus, polio, meningitis and measles).
This research aims to determine the description of the factors associated with incomplete basic immunization status for children aged 1-2 years in Indonesia in 2017. The study design used was cross-sectional with multivariate analysis of multiple logistic regression. The data used are secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). A large sample was obtained from the calculation of the difference test of two proportions and. The sample used was 6,091 women aged 15 - 49 years who have children aged 1-2 years and receive immunizations.
The results of multivariate analysis showed that factors significantly related to incomplete basic immunization status were child sex (p-value = 0.011; OR adj = 1,158; 95% CI: 1,034 - 1,296), number of children living (p-value = 0,007; OR adj = 1,228; 95% CI: 1,057 - 1,427), mother's education level (p-value = 0,000; OR adj = 1,301; 95% CI: 1,139 - 1,486), antenatal care (p-value = 0,000; OR adj = 2,574; 95% CI: 2,078 - 3,187), place of shipment (p-value = 0.006; OR ajd = 1.259; 95% CI: 1.069 - 1,484), traditional birth attendants (p-value = 0,000; OR adj = 2,213; 95% CI: 1,712 - 2,861), and KMS ownership (p-value = 0,000; OR adj = 2,776; 95% CI: 2,293 - 3,360). The factor that has the greatest effect on incomplete basic immunization status is KMS ownership. Therefore, attention needs to be paid to the incomplete basic immunization status of children to increase health coverage and equity in each population.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Iklan Iayanan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan motivasi ibu membawa anak
untuk imunisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh iklan Iayanan masyarakat
terhadap motivasi ibu membawa anak untuk imunisasi. Sample yang digunakan adalah para ibu
yang mempunyai anak 0-3 tahun di wilayah RW 05 Kelurahan Lenteng Agung Jakarta Selatan
sebanyak 93 orang dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan kuisioner untuk data demografi, data pemahaman iklan Iayanan masyarakat dan
data tentang motivasi ibu membawa anak untuk imunisasi yang keseluruhannnya berjumlah 47
pertanyaan. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif korelasi cross
sectional. Uji statistik yang digunakan adalah uji Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian
menunjukan bahwa ada pengaruh iklan Iayanan masyarakat terhadap motivasi ibu membawa
anak untuk imunisasi."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5336
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Umar H. Martadinata
"Masalah utama penelitian adalah belum diketahui bagaimana pengelolaan program imunisasi TT ibu hamil di Puskesmas Kabupaten OKU Sumatera Selatan dalam upaya pencapaian cakupan. Penelitian dilakukan terhadap pengelolaan program imunisasi di Puskesmas Kabupaten OKU Sumatera Selatan dalam upaya pencapaian cakupan imunisasi TT pada ibu hamil. Ruang lingkup penelitian adalah pengelolaan program imunisasi TT ibu hamil di Puskesmas yang meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Koordinasi, Pencatatan dan Pelaporan, Pemantauan serta Evaluasi. Penelitian bersifat kualitatif dengan melakukan studi kasus di 4 Puskesmas untuk menjaga validitas data maka digunakan Metode Triangulasi yaitu Triangulasi Sumber dan Triangulasi Metode.
Hasil penelitian menyatakan bahwa perencanaan kebutuhan vaksin TT ibu hamil di Puskesmas Kabupaten OKU Sumatera Selatan dilakukan oleh pihak Puskesmas. Perencanaan kebutuhan vaksin TT ibu hamil di Puskesmas berdasarkan jumlah sasaran dan target cakupan masing masing Puskesmas. Jadi seharusnya perencanaan kebutuhan vaksin TT ibu hamil dilakukan masing-masing Puskesmas sebagai unit pelayanan imunisasi sehingga kebutuhan vaksin sesuai dengan jumlah sasaran dan target cakupan dari masing masing Puskesmas.
Kebutuhan cold chain di Puskesmas Kabupaten OKU Sumatera Selatan cukup memadai baik sarana penyimpan vaksin maupun pengangkut vaksin. Adanya Puskesmas di Kabupaten OKU Sumatera Selatan dengan frekuwensi dan pengeluaran vaksin TT ibu hamil lebih dari I kali sehari, sehingga memungkinkan menurunnya potensi vaksin yang lain.
Pemantauan program imunisasi TT ibu hamil di Puskesmas Kabupaten OKU Sumatera Selatan hanya dilakukan melalui PWS atau Pemanatau Wilayah Setempat tanpa adanya supervisi atau pembinaan dari pihak Kabupaten. Evaluasi program imunisasi TT ibu hamil di Puskesmas juga dilakukan hanya melalui data primer sehingga evaluasi dilakukan terhadap tingkat cakupan tanpa analisa Puskesmas dengan cakupan rendah. Adanya droup out imunisasi TT ibu hamil, artinya terdapat ibu hamil dengan imunisasi TT yang tidak lengkap sehingga tidak bermakna dalam pencegahan Tetanus Neonatorum. Imunisasi TT ibu hamil diberikan sebanyak 2 kali selama kehamilan dengan selang waktu minimal 4 minggu.
Angka rata-rata pencapaian cakupan imunisasi TT ibu hamil di Puskesmas Kabupaten OKU Sumatera Selatan dalam kategori rendah sehingga tidak bermakna dalam pencegahan Tetanus Neonatorum. Puskesmas harus meningkatkan pengelolaan program imunisasi TT ibu hamil guna pencapaian cakupan yang tinggi. Pengetolaan program imunisasi TT ibu hamil di Puskesmas meliputi Perencanaan, Pelaksanaan,-Koordinasi, Pencatatan dan Pelaporan, Pemantauan Berta Evaluasi.

Managerail Role of the TT for Pregnancy Immunization Programs in the Public Health Care Centre of OKU Regency South Sumatera ProvinceThe main problem of the research is unknown how to manage the immunization program in the public health care centre of OKU regency South Sumatera Province in achieving the scope of the IT immunization for pregnancy_ The scope of the research is how to manage the immunization grogram in the public health care centre in achieving the scope of the IT immunizationfor pregnancy that are consisting of planning, implementating, coordinating, recording, reporting, observing and evaluating. The qualitataive research is done by taking case study in four public health care centres_ To maintainihe validity-of the-data; we-have-to-take-the-triangulationrnethods, they are the resource and the method triangulations.
The result of the research told that the planning of the TT vaccination necessities for pregnancy in the public health care centre of OKU regency South Sumatera Province are done by regency official. The planning of the IT vaccination necessities in the public health care centre is based on the number of the object and the target of each public health care centre scope.
The planning of the vaccination necessities for pregnancy in care public health care centre is done by each public health care centre as an immunization service unit, so the vaccination necessities are in accorded with the number of the object and the target from each public health care centre. The necessities of the cold chain in the public health care centre of OKU regency South Surnatera Province are provided enough as a vaccination keeper or carrier.
The existence of the public health care centre in of OKU regency South Sumatera Province with the frequency and the using of the TT vaccination for pregnancy is more than once a day, so it may reduce the potencies of the other vaccinatins. The observation of the TT vaccination programs for pregnancy in the public health care centre of OKU regency South Sumatera Province is done through local area observation only without using supervision or guding from the regency side.
The evaluation of the TT immunization for pregnancy in the public health care centre is also carried out through primary data only, so evaluation is done on the scope level without analizing, especially the public health care centre with low scope.
The dropping out of the TT immunization for pregnancy shows that there are some pregnant women with uncompleted TT immunization, so it won't give anything in preventing Tetanus Neonatorum. The TT immunization for pregnancy is given twice during pregnancy given after four weeks months since the in each giving. The mean of the scope achievement of the immunization for pregnancy in the public health care centre of OKU regency South Sumatera Province is in the low category, so it won't give anything in preventing Tetanus Neonatorum_ The public health care centre should improve the management of the TT immunization programs--for pregnancy in the public health care centre are consisting of planning, implementating, coordinating, recording, reporting, observing and evaluating.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T4599
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ilmiyati Sari
"Penularan penyakit dari satu individu ke individu lainnya dapat terjadi secara horizontal maupun vertikal. Tesis ini membahas model epidemik SIR untuk penyakit yang menular secara horizontal dan vertikal. Dinamika dari model ini digambarkan dari kelakuan titik kesetimbangannya, yaitu titik kesetimbangan epidemik dan titik kesetimbangan bebas-infeksi. Basic reproduction number digunakan untuk menentukan kriteria kestabilan titik kesetimbangan. Dalam upaya pencegahan penyakit yang menular secara horizontal dan vertikal dilakukan strategi pemberian vaksin. Strategi vaksinasi dibedakan menjadi dua, yaitu strategi vaksinasi konstan dan strategi vaksinasi denyut. Efek vaksinasi terhadap penyakit ini dapat dilihat dari dinamika model epidemik SIR dengan pengaruh vaksinasi konstan dan vaksinasi denyut. Secara teori, analisa dinamik model SIR dengan vaksinasi konstan sama dengan analisa dinamik model SIR tanpa vaksinasi. Analisa dinamik untuk model SIR dengan vaksinasi denyut menghasilkan solusi periodik bebas-infeksi yang stabil. Selain itu, solusi periodik model SIR dengan vaksinasi denyut lebih cepat stabil dari pada model SIR dengan vaksinasi konstan dan tanpa vaksinasi jika periode pemberian vaksin untuk strategi vaksinasi denyut T kurang dari Tc. Untuk mendukung pembahasan teori di dalam penelitian ini, dilakukan simulasi dengan menggunakan software Matlab.

Some disease may be passed from one individual to another via horizontal or vertical transmission. In this thesis, it is discussed the SIR epidemic model of disease that are both horizontally and vertically transmitted. The dynamics of this disease model is described from the behavior equilibrium point, that is epidemic equilibrium point and infection-free equilibrium point. Basic reproduction number of criteria is used to determine the stability of equilibrium point. In efforts to prevent outbreaks of diseases that are both horizontally and vertically transmitted is performed vaccination strategies. There are two vaccination strategies, namely constant vaccination and pulse vaccination. The effect of vaccination against this disease can be seen from the dynamics of SIR epidemic models with constant and pulse vaccination. Theoretical result shows that under constant vaccination, the dynamic behavior is similar to no vaccination. Under pulse vaccination, infection-free periodic solution is stable. In addition, this infection-free periodic solution is stable faster than SIR epidemic models with constant vaccination and no vaccination if vaccine delivery period for the pulse vaccination strategy T less than Tc. To support the discussion of the theory in this study, we perform some simulations using the software Matlab."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
T32255
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Prima Yosephine H.
"Kabupaten Garut adalah kabupaten terbesar (urutan ke 2) di Provinsi Jawa Bam!dengan cakupan imunisasi yang belum mencapai target nasional. Cakupan desa UCI di Kabupaten Garut selama tabun 2006 sampai 2008 adalah 75,9"/o, 79% dan 81,8% yang masih dibawah target yaitu 88%, 92% dan 95%. Untuk mempertabankan tingkat perlindungan bayi di daerah ini khususnya dan Jawa Barat pada umumnya serta mencapai target UCI Desa 100% tabun 2010, program imunisasi pada kabupaten ini barns ditingkatkan dan dijaga kcsinambungannya. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis pernbiayaan serta komitmen pernetintab daerah terbedap program imunisasi di Kabupaten Garut pada tahun 2010 - 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran petensi kesinambungan pernbiayaan (financing sustainabi/ity) program imunisasi di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, tabun 2010- 2014. Ruang lingkup penelitian terfokus pada aspek biaya yang dipergunakan di dinas kesebatan kabupaten dan seluruh puskesmas dalam menyelenggarakan kegiatan imunisasi tabun anggaran 2008, sebagai baseline year dan estimasi di tabun 2010-2014, yang berdSal deti berbagai sumber tetapi tidak termasuk biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat (out of pocket) dengan menggunakan data primer dan skunder. Data sekunder adatab data alokasi dan realisasi anggamn program imunisasi dari dokumen keuangan. data primer diperoleh dengan wawancara mendalam pejabat terkait mengenai komitmennya dalam program dan pengalokasian anggaran.
Dari basil penelitian, didapatkan total anggaran untuk pembiayaan program imunisasi termasuk gaji dan investasi di Kabupaten Garut pada tahun 2008 yang berasal deti berbagai suruber adalab sebesar Rp. 18.938.099.676,·. Tren total pembiayaan Program lmunisasi (di luar gaji) yang bersumber dana APBD Kabupaten Garut mengalarni peningkatan dari Rp. 202.200.000 (2006) ke Rp. 366.918.000 berkesinambungan. Proporsi biaya imunisasi terhadap belanja Dinas Kesehatan pada tahun 2010-2014 perlu peningkatan kurang lebih 3 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2008 agar kelangsungan pembiayaan prognun imunisasi dapat terjaga.

Garut is the second largest dlstrict in West Java Province with immunization coverage has not achieved the National target Coverage of UC!village in Garut district during 2006,2008 namely 75,9%, 79% and 81,8% respectively comparing with the national target 88o/o, 92% and 95% in respective years. To maintain the protection among babies against VPD especially in this district area and province generally, and also to achieve the.national target of UCI village 100"/o in 2010, immunization program must be strengthened and sustained, So that an analysis of financing and local government commitment toward immunization program 2010-2014 in order to appraise the sustainability of immunization program in Garut District become crucial to be conducted.
The research aimed to get the potency picture of the financial sustainability of immunization program in Garut district, West Java province in 2010-2014 Scope of the research focuses on the budget that used for implementation of immunization program activities in District Health Office and all puskesmas during 2008 as baseline year and estimated in year 2010 2014, but not including the expense released by society ( out of pocket) based on both primary and secondary data. Secondary data includes data allocation and budget realization in immunization program based on financial document mean while, primary data gained from interview among providers related (respondents) regarding tlteir commitment toward immunization program and budget alocation.
The research finds that the total budget for immunization program, includes salaries and investment in Garut District in 2008 from all resources budget, is an amount of Rp. 18.938.099.676,-. The tren of total budget for immunization program (excluded salary) that from APBD Garut district increases from Rp. 202.200.000 in expenses to District Health Office expenses in the year 2010-2014 need to increase around 3 times compared to the year 2008 so that the financing sustainability of immunization program should be secure.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
T32460
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dorce Sisfiani Sarimin
"Penanganan nyeri pada bayi yang dilakukan suntikan imunisasi belum optimal, sementara metode menurunkan nyeri yang teridentifikasi tidak digunakan dengan rutin.Tujuan studi mengetahui efektivitas paket dukungan keluarga (PDK) terhadap respon perilaku nyeri bayi yang dilakukan suntikan imunisasi. Desain penelitian quasi eksperiment, sampel 30 bayi intervensi dan 30 bayi kelompok kontrol. Pengukuran nyeri menggunakan modified behavior pain scale (MBPS) melalui rekaman video. Hasilnya terdapat perbedaan rerata respon nyeri kelompok intervensi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol dimana p value < 0,05 (p = 0,000 pada α = 0,05). Implikasi keperawatannya adalah optimalisasi keterlibatan keluarga dalam menajemen nyeri bayi yang dilakukan suntikan imunisasi.

Treatments for decreasing the pain when the infant is having immunization are not sufficient, while some methods in decreasing pain are not well implemented. The purpose of this study is to examine the effect of family support package on the pain response of the infant when they are having immunization. This study used quasi experiment design. Total sample is 60 respondents, where 30 respondents in control and another 30 respondents in intervention groups. Pain was measured by using modified behavior pain scale (MBPS) on patient?s recorded video. The result shows that intervention group?s mean scores are significantly lower than control group?s where p value < 0,05 (p=0,000, α = 0,05). The nursing implication from this study is that optimizing the family involvement in pain management on the baby who are having immunization are important."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
T31394
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>