Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 135633 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Barry Aryandi
"Mesjid Al-Khusaeni Carita dan Mesjid Caringin merupakan dua mesjid yang terletak di daerah Labuan Pandeglang, Banten. Kedua mesjid ini dibangun pada tahun 1883 dan pernah diteliti untuk pembuatan skripsi sarjana oleh Muhammad Wahyudin pada tahun 1995 dan Yayan Ahdiat pada tahun 1992. Penelitian yang dilakukan terhadap Mesjid Al-Khusaeni Carita dan Mesjid Caringin melihat kepada inskripsi yang ada dalam kedua mesjid tersebut dan bertujuan untuk mengetahui hubungan kedua mesjid melalui isi inskripsinya. Penelitian ini juga dilakukan sebagai lanjutan atas penelitian sebelumnya dengan tujuan untuk mengetahui dan menjelaskan kehidupan beragama masyarakat Banten khususnya yang berada di daerah Carita dan Caringin.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode epigrafi yang bersifat meminjam metode sejarah yaitu heuristik, kritik teks, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik dilakukan studi kepustakaan untuk mengumpulkan sumber-sumber pustaka yang ada mengenai kedua mesjid ini dan juga melakukan studi lapangan dengan pengamatan serta perekaman inskripsi pada Mesjid Al-Khusaeni Carita dan Mesjid Caringin. Pada tahap selanjutnya dilakukan penomoran inskripsi, mencatat keletakan inskripsi, dan pembacaan pada inskripsi kedua mesjid tersebut. Selanjutnya dilakukan kritik terhadap hasil teks inskripsi dengan melihat penulisan dan isi serta media tulis inskripsi kedua mesjid. Kemudian di lakukan analisis dan menghubungkan isi inskripsi dengan keletakannya pada mesjid dengan tujuan untuk melihat pola penulisan inskripsi Mesjid Al-Khusaeni Carita dan Mesjid Caringin. Setelah melalui tahap-tahap penelitian yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan mengenai inskripsi pada dua mesjid tersebut.
Dari penelitian ini diketahui bahwa inskripsi pada Mesjid Al-Khusaeni Carita berisi tentang eksistensi mesjid, adab berada di mesjid, prilaku akhlak, dan perihal menuntut ilmu. sedangkan isi dari inskripsi Mesjid Caringin mengetengahkan tentang tauhid dan sholat Jumat. Secara tekstual inskripsi kedua mesjid ini tidak memperlihatkan adanya hubungan langsung antara Mesjid Al-Khusaeni Carita dan Mesjid Caringin, tetapi maksud dan isi inskripsi keduanya mengacu kepada ibadah Islam serta berkaitan dengan fungsi dan peran dua mesjid ini di tengah kehidupan beragama masyarakat Carita dan Caringin."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2004
S11539
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Wahyudin
"ABSTRAK
Mesjid A1-khusaeni Carita merupakan salah satu mesjid tua di daerah Labuan Kabupaten Pandeglang-Banten yang belum pernah diteliti secara khusus. Mesjid ini terletak di pesisir pantai Selat Sunda yang pada tahun 1884 berdasarkan literature sejarah terkena bencana alam letusan Gunung Krakatau sehingga daerah Carita dimana mesjid ini sekarang berdiri lenyap tertelan badai Sunami. Tahun 1993 mesjid ini diteliti oleh Isman Pratama Nasution untuk pembuatan makalah ilmiah.
Penelitian terhadap Mesjid Al-Khusaeni Carita bertujuan untuk melihat pengaruh lokal dan asing melalui pemerian arsitekturnya serta kronologi pembangunan mesjid ini.
Dalam penelitian ini digunakan metode secara bertahap. Pada tahap awal/observasi dilakukan studi kepustakaan yang bertujuan untuk mengumpulkan sumber kepustakaan yang diperlukan. Selain itu juga digunakan studi lapangan dengan cara pengamatan langsung dan perekaman terinci pada unsur-unsur bangunan Mesjid Al-Khusaeni Carita. Selanjutnya pada tahap pengolahan data dilakukan analisis terhadap data yang telah terhimpun yakni dengan melakukan pemerian yang terinci pada unsur_unsur bangunan Mesjid Al-Khusaeni Carita. Pada tahap akhir penelitian yakni dilakukan dengan membuat penge_lompokan terhadap komponen-komponen bangunan dan ragam hias. Dari hasil pengelompokan itu kemudian dilakukan pemilahan antara bangunan dan komponen bangunan dan ragam hias yang mendapat pengaruh lokal dan asing mela_lui metode banding dengan bangunan kolonial serta tradi_sional dan acuan literature mengenai bangunan tradision_al serta kolonial mengenai komponen dan ragam hias pada bangunan.Metode wawancara dilakukan untuk melengkapi keterangan dan data yang telah diperoleh.
Dari metode diatas diketahui pengaruh asing dan lokal pada mesjid ini dan perkiraan kronologi mesjid ini adalah dibangun pada abad XIX (antara tahun 1884-1920 Masehi).

"
1995
S11955
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yayan Ahdiat
"Mesjid Caringin merupakan salah satu konponen situs desa Caringin, yang didirikan sekitar sepuluh tahun setelah terjadinya letusan Gunung Krakatau (1883 M), atau sekitar tahun 1893. Penelitian arsitektur Mesid Caringin bertujuan untuk memaparkan ciri kekunoannya, mengetahui segi pemakaian bahan dan konstruksinya, mengetahui pembagian tata ruangnya serta mengidentifikasikan bentuk arsitekturnya secara keseluruhan. Metode penelitian yang dilakukan adalah,kajian bahan pustaka serta pengamatan langsung di lapangan. Setelah dilakukan perbandingan arsitekturnya, diperoleh beberapa kesimpulan yang menarik. Dari penelitian ini diketarui bahwa bentuk arsitektur Mesjid Caringin masih melanjutkan atau mendapat pengaruh tradisi seni arsitektur masa pra Islam. Secara umum, Mesjid Caringin memiliki ciri-ciri kekunoan seperti halnya ciri-ciri mesjid tradisionil di Jawa. Tapi pada beberapa komponen bangunannya menunjukkan adanya pengaruh arsitektur asing, khususnya pengaruh arsitektur Belanda. Dari segi pemakaian bahan, secara keseluruhan bangunan Mesjid Caringin menggunakan bahan baku yang tersedia di sekitar desa Caringin. Demikianlah beberapa kesimpulan dari penelitian ini."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1992
S11922
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Isman Pratama
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1993
LAPEN 02 Nas t
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Isman Pratama
"ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji mesjid Kasunyatan sebagai obyek penelitiannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan sejarah pendirian mesjid kuno ini dan tinjauan arsitekturnya.
Dalam bahasan tentang sejarah mesjid dipermasalahkan hubungan antara nama mesjid dengan tokoh yang mendirikannya, kapan mesjid ini dibangun dan oleh siapa. Sedangkan bahasan terhadap bangunan mesjidnya dilakukan dalam tinjauan deskripsi untuk kemudian dilakukan kajian terhadap apa yang telah dideskripsikan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk nemperoleh ganbaran mengenai sejarah pendirian mesjidhya yang berkaitan dengan tokoh pendirinya, waktu pendirian, dan hubungan antara nama mesjid dengan tokoh pendirinya. Tujuan lain adalah untuk memperoleh ganbaran mengenai pengaruh yang terdapat pada arsitektur mesjid ini.
Metode yang digunakan adalah Studi kepustakaan, observasi langsung kepada obyek, lalu di deskripsikan dan hasilnya diolah untuk disajikan dalam laporan penelitian.
Hasil penelitian memperlihatkan adanya hubungan antafa pendiri mesjid ini dengan hama mesjidnya, yaitu Pangeran Kasunyatan. Haktu pendiriannya diperkirakan pada masa awal pemerintahan Maulana Yusuf yang memerintah pada tahun 1570 hingga 1580 Masehi. Hasil yang berkaitan dengan arsitektur mesjidnya memperlihatkan bahwa mesjid ini didominasi oleh unsur lokal atau pra islam. Pada menara dan kolam wudhunya terlihat adanya pengaruh asing yaitu Portugis. Pada gapuranya terdapat pengaruh gaya "Moor"."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Witjaksono
"Salah satu tinggalan arsitektur Islam adalah Mesjid. Dalam sebuah masyarakat Islam bangunan mesjid tidak hanya memiliki peran dan fungsi sebatas tempat berkupulnya jamaah untuk melaksanakan shalat farhdu bersama-sama, namun lebih jauh mesjid memiliki fungsi sosial, ekonomi, politik, ilmu, seni dan filsafat. Berdasrkan kenyataan tersebut secara tidak langsung mengungkapkan bahwa apabila seorang ingin menyelidiki kehidupan keagamaan di salah satu pulau (Jawa), maka haruslah dimulai dengan mempelajari mesjid sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Pijper (1985).
Dalam sejarah perkembangan Islam Khususnya di Pualau Jawa, wilayah Pesisir Utara Jawa Barat memiliki arti dan peran yang sangat strategis. Pesisir Utara Jawa Barat merupakan distrik pertama dimana Islam dikenal. Keletakan wilayah Pesisir Utara Yang strategis serta merupakan jalur perlintasan pelayaran dan perdagangan merupakan faktor pendukung yang mempercepat proses datangnya Islam ke Wilayah ini. Sehinga tidak mengherankan bila bangunan mesjid kuno dari masa-masa awal (abad 16-17Masehi) ditemukan di daerah pesisir ini.
Permasalahan dari penelitian ini adalah untuk mengamati bagaimana bentuk-bentuk mesjid di Jwa Barat, apakah mesjid-mesjid di pessisir Jawa Barat memiliki berbagai variasi yang pada akhir mampumembedakan dengan mesjid-mesjid di Jawa Barat pada umumnya. Sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu selain untuk melihat variasi gaya dan bentuk dari mesjid di pesisir Jwa Barat, juga untuk mengetahui apakah mesjid-mesjid di pesisir Jawa Barat memiliki persamaan dengan mesjid-mesjid di Jawa pada umumnya.Berdasarkan hasil penelitian tergambar bahwa secara umum bentuk-bentuk mesjid di Pesisir Jawa Barat tidak memiliki perbedaan yang khusus dengan mesjis-mesjid di Jawa pada umumnya..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2000
S11571
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chusnul Chotimah
"Skripsi ini membahas mengenai bentuk dan ciri khas bangunan Mesjid Jami Pesantren Buntet Mesjid Jami Pesantren Buntet terletak di Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon Penelitian tentang arsitektur mesjid pesantren bertujuan untuk menggambarkan bentuk dan ciri khas yang terdapat pada mesjid sehingga dapat dilihat bagaimana bentuk kekhasan mesjid pesantren di Cirebon Metode penelitian yang dilaukan adalah analisis bentuk melalui perbandingan dengan mesjid pesantren lain yang terdapat di Cirebon Hasil penelitian menunjukkan bentuk dan ciri khas Mesjid Jami Pesantren Buntet adalah berdenah persegi panjang memiliki mimbar berbahan kayu mempunyai mihrab yang bermotif ragam hias garis tidak terdapat tiang di ruang utama dan memiliki mustaka.

The Focus consist is talk about form and characteristic of Mesjid Jami Pesantren Buntet Cirebon Mesjid Jami Pesantren Buntet located in Pesantren Buntet Astanajapura Cirebon This examination purpose to explain architectural mosque of old boarding school Besides special purpose is to understand the characteristics of mosque in the old boarding school Method that had been used is analyzing method and comparing The result is the characteristic from the mosque of Mesjid Jami Pesantren Buntet Cirebon is have a rectangular floor plan have a mihrab with line ornamentation mimbar made of the wood there is not the pole at the main room and have a mustaka. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S52388
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Retnowati
"Penyebaran Islam ke berbagai belahan bumi selama berabad-abad memberikan warna terhadap khazanah arsitektur dunia pada umumnya dan arsitektur Islam pada khususnya. Jejak Islam dapat ditemukan di berbagai bangunan peninggalan muslim dalam beragam gaya termasuk pada mesjid. Kubah sebagai salah satu bentuk penutup atap pada mesjid-mesjid telah ada selama berabad-abad dan dapat ditemukan di berbagai wilayah di dunia yang pernah mendapatkan pengaruh Islam.
Seiring dengan perjalanan waktu, bentuk-bentuk kubah mengalami perkembangan dan masing-masing memiliki ciri khas tersendiri yang dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Begitu lekatnya keberadaan kubah pada mesjid selama kurun waktu yang panjang memberikan pandangan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan meskipun kubah sebagai penutup atap pada mesjid bukanlah merupakan suatu keharusan."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S48463
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Imdadun Rahmat, 1971-
Yogyakarta: Lembaga Kajian Islam dan Studi (LKiS), 2008
324.23 IMD i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Isman Pratama
"Mesjid Raya Ambon merupakan mesjid tua dan keramat yang terletak di kota Ambon. Mesjid ini memiliki bentuk dan gaya bangunan yang khas dan unik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kekunoan mesjid ini melalui pemaparan deskripsi bangunannya. Di samping itu, untuk melihat bagaimana proses islamisasi di daerah tersebut.
Hasil penelitian mempelihatkan bahwa mesjid ini memiliki nilai-nilai kekunoannya yang tampak pada beberapa unsur bangunan seperti pada bagian pondasi mesjidnya yang masif, bagian atap mesjid yang hentuknya kubah, gaya menara mesjidnya, bentuk-bentuk tiang yang ada di ruang utama mesjid dan serambi, dan motif hiasnya.
Perihal masuk dan berkembangnya Islam di Maluku, khususnya di Ambon (Hitu) dapat diketahui dari sumber-sumber lokal dan sumber asing. Menurut sumber-sumber tersebut, agama Islam datang ke Maluku sekitar abad ke 13 hingga abad 15 Masehi. Penyebar Islam pertama adalah seorang ulama bernama Syekh Jafar Sadek yang datang dari tanah Arab (Mekah). Syekh ini menetap dan kawin di Ternate dan menurunkan raja-raja Maluku. Para penyebar Islam lainnya adalah Maulana Husayn, Tuhubahahul, Patih Putih dan Patih Tuban. Adapun cara penyebaran agamanya melalui dakwah Islamiah yang penuh kedamaian, dengan metode yang tepat. Di samping itu, juga melalui jalur perkawinan dan perdagangan."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1996
LP.Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>