Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 178238 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rintis Noviyanti
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui daya tahan pemelihara lebah di PUSBAHNAS Perum Perhutani, Parung Panjang, Bogor-Jawa Barat. Sampel diperoleh dan 12 orang pemelihara lebah dan 11 orang bukan pemelihara lebah. Analisis kadar IqE total dan kadar IgE spesif 1k
terhadap bisa lebah madu (Apis mellif era) dilakukan dengan teknik ELISA, dan analisis kadar IgG total dilakukan dengan teknik RID. Hasil uji statistik non parametrik Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata kadar IgE dan IgG pada pemelthara
lebah. Rata-rata kadar IgE total pada pemelihara lebah lebih tinggi (1046,3 kU/l) dari bukan pemelihara lebah (957 kU/l). Rata-rata kadar IgG total pada pemelihara lebah lebih rendah (13,23 g/l) dari bukan pemelihara lebah (15,99 g/l). Rata-rata kadar IgE spesifik terhadap
bisa lebah madu (Apis mellifera) pada pemelihara lebah lebih rendah (1,59 PRU/ml) dari bukan pemelihara lebah (1,64 PRU/ml). Uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara kadar IgE total, kadar IgG total, kadar IgE spesifik dan jumlah sengatan
per bulan pada pemelihara lebah."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1992
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kristina Hersandi
"Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian Pollen Substitute (PS) dan Nectar Substitute (NS) terhadap produktivitas Apis cerana, dan menganalisis kualitas madu sesuai Standar Nasional Indonesia. Pemberian PS dan NS berfungsi sebagai pengganti pakan alami lebah madu, yaitu pollen dan nectar. Pollen Substitute dibuat dari biomassa basah khamir Saccharomyces cerevisiae dan NS dari sirup nanas. Pakan diberikan dengan cara mencampurkan 2 gr PS dan 50 ml NS. Pada penelitian digunakan 10 koloni lebah madu: lima koloni sebagai kontrol dan lima koloni untuk perlakuan, seluruh koloni dibiarkan tetap mencari pakan alaminya. Pollen substitute dan NS diberikan setiap hari selama 2 periode (6 minggu per periode). Produktivitas lebah madu diamati setiap periode. Analisis kualitas madu dilakukan setelah 6 minggu. Hasil pengamatan pada dua periode menunjukkan penambahan keliling sisir madu dan jumlah sisir madu pada koloni perlakuan lebih besar dibandingkan kontrol. Meskipun demikian hasil uji T menunjukkan pemberian perlakuan tidak berbeda nyata terhadap kontrol (P>0,05). Rerata kenaikan keliling sisir madu dan jumlah sisir madu berturut–turut pada koloni kontrol sebesar 37 ± 23,42 cm dan 0,75 ± 0,95 buah (periode 1); 172,5 ± 79,65 cm dan 3,5 ± 1,73 buah (periode 2). Sedangkan pada koloni yang diberi PS dan NS sebesar 52 ± 55,37 cm dan 1,25 ± 1,5 (periode I); 199,5 ± 79,41 cm dan 5 ± 2,16 buah (periode 2). Volume madu yang dihasilkan koloni perlakuan lebih banyak dibandingkan kontrol, baik pada periode 1 maupun periode 2. Hasil analisis kualitas madu kontrol dan yang diberi PS dan NS sesuai dengan SNI 8664:2018. Pemberian PS dan NS mampu mempertahankan dan meningkatkan produktivitas koloni A. cerana yaitu pada keliling sisir, jumlah sisir, volume madu, dan kekuatan koloni.

The aims of this study were to examine the effect of pollen substitute (PS) and nectar substitute (NS) on the productivity of Apis cerana colonies and the quality of honey according to Indonesian National Standard for honey. Provision of PS and NS serves as a substitute for natural pollen and nectar. Pollen Substitute was prepared from wet biomass of yeast Saccharomyces cerevisiae and NS from pineapple syrup. The feed were given to the colony by mixing 2 g of PS and 50 ml of NS. Ten honeybee colonies were used in this study, five colonies were used as feeding trials and five colonies as control, and they were allowed to forage on flowers. Pollen substitute and nectar substitute were provided to the colonies every day for two periods (total 12 weeks, six weeks per period). Honey quality analysis was performed after six weeks. The results of provision of PS and NS in two periods to the colonies showed the greater than the control in their increasing of honeycomb circumference and the number of honeycombs. However, the results of the T test showed that the provision of PS and NS was not significantly different from the control (P>0,05). The average increase in the honeycomb circumference and the number of honeycombs in control colonies were 37 ± 23.42 cm and 0.75 ± 0.95 pieces (period 1); 172.5 ± 79.65 cm and 3.5 ± 1.73 pieces (period 2). Meanwhile, the colonies fed on PS and NS were 52 ± 55.37 cm and 1.25 ± 1.5 (period 1); 199.5 ± 79.41 cm and 5 ± 2.16 pieces (period 2). The yield of honey produced from colonies fed on PS and NS was higher than control colonies, both in periods 1 and 2. The quality of honey produced by the colony fed on PS and NS met the criteria of the Indonesian National Standard for honey SNI 8664:2018. This study revealed that the provision of PS and NS was able to maintain and increased the productivity of A. cerana colonies, in terms of honeycomb circumference, number of honeycombs, honey yield, and colony strength.

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irvan Maulana
"Penelitian bertujuan mengetahui keragaman spesies khamir dari saluran pencernaan lebah madu Apis cerana di apiari Desa Ciburial, Bandung. Sebanyak 48 isolat khamir dari saluran pencernaan Pollen-collecting bee (PCB) (27 isolat) dan Nectarcollecting bee (NCB) (21 isolat) diidentifikasi berdasarkan data sequence daerah internal transcribed spacer (ITS) rDNA dan dikarakterisasi secara morfologi untuk melengkapi hasil identifikasi. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa 48 isolat khamir tersebut terdiri atas delapan genus dan 16 spesies. Sebanyak 12 spesies khamir ditemukan pada PCB dan sembilan spesies khamir ditemukan pada NCB. Candida cf. apicola, C. etchellsii, Debaryomyces hansenii, Rhodotorula mucilaginosa dan Zygosaccharomyces rouxii ditemukan pada PCB maupun NCB. Spesies-spesies khamir yang diperoleh secara taksonomi heterogen, yaitu termasuk ke dalam class Hemiascomycetes dari phylum Ascomycota (13 spesies) dan class Urediniomycetes dari phylum Basidiomycota (3 spesies).

The aim of this study was to study the diversity of yeast species isolated from the digestive tract of honey bee Apis cerana in apiary in Ciburial, Bandung. A total of 48 yeast isolates from the digestive tract of pollen-collecting bees (27 isolates) and Nectar-collecting bee (21 isolates) were identified based on sequence data of internal transcribed spacers regions of ribosomal DNA (ITS rDNA). In addition of their sequence data, yeasts were also characterized morphologically. The results showed that those yeasts comprised of eight genera and 16 species. Twelve yeast species were found from PCB and nine yeast species were found from NCB. Candida cf. apicola, C. cf. azyma, C. etchellsii, C. naeodendra, C. orthopsilosis, Cryptococcus heveanensis, Debaryomyces hansenii, Rhodotorula mucilaginosa and Zygosaccharomyces rouxii were found both in PCB and NCB. Our molecular analysis showed that A. cerana harbors taxonomically diverse yeasts. They consisted of species belong to the class Hemiascomycetes of the phylum Ascomycota (13 species) and class Urediniomycetes of the phylum Basidiomycota (3 species)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S149
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Suatu studi untuk mengetahui tingkat infestasi tungau-tungau Tropilaelaps clareae dan varroa jacobsoni pada lebah madu Apis mellifera telah dilakukan di Apiari Pramuka, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan dengan wawancara, perhitungan jumlah ektoparasit pada 20 sisir sarang lebah dan identifikasi parasit di laboratorium. Tingkat infestasi rata-rata tungau T.clareae dan V.jacobsoni adalah 16,313% dan 13,41% dengan larva/pupa kerugian ekonomi akibat infestasi kedua ektoparasit tersebut berupa penurunan produksi telur lebah ratu yang mengakibatkan terjadinya penurunan pengisian sel oleh “brood” (telur/larva/pupa) lebah menjadi sebesar 45,43%. Di samping itu, sejumlah kerusakan dapat dijumpai, yaitu larva yang mengering (mumifikasi), sel yang tutupnya terbuka da mati, dan pertumbuhan lebah yang abnormal. "
MPARIN 8 (1-2) 1995
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Desi Pertiwi
"Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pollen substitute (PS) mengandung biomassa C. hawaiiana CR014 terhadap jumlah larva dan pupa lebah pekerja A. mellifera. Sebagai kontrol positif koloni lebah madu diberi pakan tambahan pollen jagung. Pemberian pakan dilakukan sekali seminggu selama enam minggu pada musim kemarau. Hasil uji ANOVA satu faktor menunjukkan bahwa rerata jumlah larva yang dihasilkan per minggu pada koloni perlakuan dan koloni kontrol positif tidak berbeda nyata (P>0,05). Begitu pula dengan rerata jumlah pupa pada koloni perlakuan dan kontrol positif per minggu tidak berbeda nyata (P>0,05).
Hasil uji T juga menunjukkan bahwa rerata jumlah larva dan pupa per minggu antara koloni perlakuan dan koloni kontrol positif tidak berbeda nyata (P>0,05). Pemberian PS pada A. mellifera memberikan pengaruh yang hampir sama baiknya dengan pemberian pollen jagung terhadap jumlah larva dan pupa lebah pekerja A. mellifera selama periode pengamatan tujuh minggu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa PS yang mengandung biomassa C. hawaiiana CR014 dapat menggantikan peran pollen alami sebagai sumber protein A. mellifera untuk mempertahankan produktivitas koloninya pada musim kemarau.

The research aimed to examine the effect of pollen substitute (PS) containing Candida hawaiiana CR014 on the number of larvae and pupae of worker bees Apis mellifera. Colonies of a positive control were fed with maize?s pollen. The colonies were fed once a week for six weeks in the dry season. The one-way Anova test showed that the mean number of larvae produced per week in the treated group were not significantly difference from the positive control (P> 0,05). Similarly, the mean number of pupae produced per week in treated group and the positive control were not significantly difference (P>0,05).
The T-test showed that the mean number of larvae and pupae per week between the treated group and the positive control were not significantly difference (P>0,05). The study indicated that PS and the maize?s pollen has an almost similar effect on the number of larvae and the number of pupae of worker bees produced by the colonies during the experiment. It is concluded that PS containing C. hawaiiana CR014 might be used to replace natural pollens as a protein source to maintain productivity of A. mellifera during the dry season.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S62001
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hilda Handayani
"Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pollen substitute (PS) yang dibandingkan dengan pemberian pollen pada Apis mellifera. Sebanyak dua koloni Apis mellifera diberi perlakuan PS (P2 dan P3) setiap minggu selama tujuh minggu. Pollen substitute dibuat dari biomassa basah Candida hawaiiana CR014 yang disajikan dengan gula pasir, dan sari nanas dengan rasio 6: 100: 40 (b/b/v). Sebanyak dua koloni A. mellifera yang digunakan sebagai kontrol positif (K2 dan K3) diberi pakan berupa sari nanas dan pollen setiap minggu selama tujuh minggu. Jumlah larva dan lebah pekerja diamati setiap minggu selama tujuh minggu.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Anava satu faktor dan uji T. Secara umum, terjadi penurunan jumlah lebah pekerja pada koloni yang diberi PS dan koloni yang diberi pollen, namun jumlah lebah pekerja pada koloni yang diberi PS tidak berbeda secara signifikan (P>0,05) dengan koloni yang diberi pollen. Jumlah larva pada koloni yang diberi PS tidak berbeda secara signifikan (P>0,05) dengan koloni yang diberi pollen. Pemberian PS dapat menggantikan peran pollen sebagai sumber protein dalam mempertahankan jumlah lebah pekerja dan jumlah larva A. mellifera.

The research aimed to determine the effect of pollen substitute and compared with pollen to feed Apis mellifera. Two colonies (P2 and P3), as a treatment, were each fed with PS once a week during seven weeks experimental period. PS was made of wet biomass of Candida hawaiiana CR014 which served with sugar and pineapple juice with ratio 6: 100: 40 (b/b/v). Two colonies (K1 and K2), as positive control were fed pineapple juice and pollen once a week during seven weeks. The number of larvae and the number of worker were determined every once in a week for seven weeks.
The result were analyzed using one way Anova test and independence T test. Commonly, there were a decrease in the number of worker between colony fed PS and colony fed pollen but there were no significant variations (p>0,05) in the number of worker between colony fed PS compare to pollen. There were no significant variations (p>0,05) in the number of larvae between colony fed PS compare to pollen. PS can replace pollen as source of protein and maintain the number of worker and larvae of A. mellifera.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S62007
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Produksi madu dari peternakan lebah di Irian Jaya, khususnya kabupaten Jayapura menurun dengan drastis disebabkan oleh adanya infestasi tungau Tropilaelaps clereae dan Varroa jacobsoni dan adanya protozoa Nosema apis. Infestasi T.clareae hanya ada pada satu koloni Apis mallifera, sedangkan Varroa jacobsoni pada koloni Apis cerana. Infestasi T.clereae pada 14 koloni A.mellifera yang diamati bervariasi antara 0% - 59%, sedangkan derajat infestasi V.jacobsoni antara 0,59% - 1,2%. Nosema apis ditemukan pada 2 koloni A.mellifera. Pemakaian campuran belerang dan kamper dapat memberantas tungau belum digunakan oleh peternak lebah dengan perbandingan yang tepat ( 2 gram belerang dan 1 gram kamper) serta dengan jadwal yang tertentu, sehingga campuran tersebut tidak bekerja dengan hasil yang memuaskan."
MPARIN 6 (1-2) 1993
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ita Yuni Rachmawati
"Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian PS terhadap jumlah larva, sel madu, volume dan kualitas madu hasil panen. Pemberian PS dapat menggantikan pollen sebagai sumber protein bagi Apis mellifera untuk mempertahankan produktivitas koloninya. Pollen substitute dibuat menggunakan 6 g biomassa basah Candida hawaiiana CR014 dicampur dengan 100 mL sirup nanas. Dua koloni (P.2 dan P.3) sebagai perlakuan diberi PS, sedangkan dua koloni (K.1 dan K.2) sebagai kontrol positif diberi campuran pollen jagung dengan 100 mL sirup nanas, setiap minggu selama enam minggu pada musim kemarau. Jumlah larva dan sel madu diamati setiap minggu selama delapan minggu.
Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu faktor, HSD Tukey, dan uji T. Volume dan kualitas madu hasil panen ditentukan pada minggu ketujuh setelah pemberian PS. Rerata jumlah larva pada koloni perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol positif. Rerata jumlah sel madu pada koloni perlakuan berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol positif. Volume madu hasil panen dari setiap koloni relatif stabil. Kualitas madu dari koloni perlakuan dan kontrol positif secara umum memenuhi SNI Madu 01-3545-2004, kecuali konsentrasi sukrosa. Pemberian PS selama enam minggu pada musim kemarau dapat mempertahankan produktivitas koloni A. mellifera (jumlah larva, sel madu, dan volume madu yang dihasilkan).

The study aimed to examine the effect of PS on the number of larvae, honey cells, volume and quality of honey yields. Feeding PS can replace pollen as a protein source for Apis mellifera to maintain productivity of colonies. Pollen substitute was made from 6 g of wet biomass of Candida hawaiiana CR014 mixed with 100 mL pineapple sugar. Two colonies (P.2 and P.3) as treatment, were each fed with PS, while two colonies (K.1 and K.2) as positive control, were each fed with 100 mL of a mixture of maize?s pollen and pineapple sugar, once a week for six weeks during dry season. The total number of larvae and honey cells were counted every week for eight weeks.
The results were analyzed using one way ANOVA test, HSD Tukey, and independent T test. The volume and quality of honey yields were determined on seventh week after the PS feeding. The number of larvae in treated colonies was not significantly different (P>0,05) from positive control. The number of honey cells in treated colonies was significantly different (P<0,05) from positive control. The volume of honey yields from each colonies relatively stable. The quality of honey yields from treated colonies and positive control met the National Quality Standard based on SNI 01-3545-2004, except sucrose concentration. It is concluded that feeding of PS for six weeks during dry season could maintain productivity of A. mellifera colonies (the number of larvae, honey cells, and volume of honey yields).
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S62611
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ikeu Nurhidayah
"Mukositis adalah salah satu efek samping kemoterapi yang sering terjadi. Oral care menggunakan madu direkomendasikan untuk mencegah mukositis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh madu terhadap mukositis akibat kemoterapi. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Sampel diambil dengan consecutive sampling, terdiri dari kelompok intervensi yang mendapatkan oral care menggunakan madu (24 responden) dan kelompok kontrol mendapatkan oral care rutin (24 responden). Skor mukositis dievaluasi dengan Oral Assessment Guide. Data dianalisis dengan independent t test dan analysis of covarian.
Hasil analisis menunjukkan terdapat penurunan yang signifikan pada rerata skor mukositis setelah intervensi pada kelompok intervensi (p=0,000). Peneliti menyimpulkan pemberian madu dalam oral care dapat menurunkan mukositis akibat kemoterapi, sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam protokol oral care pada anak yang sedang menjalani kemoterapi.

Mucositis is known as a one common of side effects of chemotherapy. This study aimed to identify the effect of honey on nursing?s oral care intervention for chemotherapy-induced mucositis among children undergoing chemotherapy. The study was quasi experiment. A consecutive sampling was used with 24 patients were in a control group and 24 patients were in the intervention group. Intervention group were treated with oral care by using honey, while the control group received regular oral care. Mucositis score was evaluated by using an Oral Assessment Guide (OAG). Data were analyzed using independent t-test and analysis of covariance.
The result of this study showed that there was a significant reduction in the average of mucositis score after intervention in the intervention group compared to the control group (p=0.000). The study demonstrated that oral care intervention with honey was effective in managing chemotherapy-induced mucositis among children with cancer. Based on the findings, it is recommended to apply oral care with honey as a nursing intervention to patients undergoing chemotherapy.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Christina Amelia
"Studi mengenai kualitas madu dari lebah tanpa sengat dalam berbagai kondisi penyimpanan penting dilakukan untuk menjaga karakteristik alaminya serta memastikan produk tetap aman dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh suhu penyimpanan dan proses dehumidifikasi terhadap kualitas fisikokimia madu tanpa sengat asal Indonesia. Sampel terdiri dari dua perlakuan: madu tanpa perlakuan dan madu hasil dehumidifikasi, yang disimpan selama dua bulan pada suhu -20°C, 4°C, 25°C, dan 35°C. Parameter yang diuji mencakup kandungan gula, kadar air, keasaman, serta bentuk fisik madu, berdasarkan Standar Nasional Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa suhu tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula, namun memengaruhi kadar air dan keasaman secara signifikan. Suhu rendah (-20°C) memberikan penurunan kadar gula yang paling minimal. Madu raw memiliki kadar air lebih tinggi dibanding madu dehumidifikasi, dan penyimpanan pada suhu tinggi cenderung meningkatkan keasaman. Dapat disimpulkan bahwa penyimpanan madu pada suhu rendah, khususnya -20°C, lebih efektif dalam mempertahankan kestabilan mutu madu. Stabilitas kadar gula, air, dan keasaman selama penyimpanan mendukung masa simpan yang lebih panjang serta menjaga kualitas dan keamanan produk.

A study on the quality of stingless bee honey under various storage conditions is important to maintain its natural characteristics and ensure the product remains safe for consumption. This research aims to evaluate the effects of storage temperature and dehumidification treatment on the physicochemical quality of stingless bee honey from Indonesia. Samples consisted of two treatments: untreated (raw) honey and honey that had undergone dehumidification, a process that reduces moisture content using a dehumidifier. All samples were stored for three months at temperatures of -20°C, 4°C, 25°C, and 35°C. Parameters analyzed included sugar content, moisture content, acidity, and physical appearance, following the Indonesian National Standard. Results showed that temperature had no significant effect on sugar content, but significantly affected moisture and acidity. Low-temperature storage (-20°C) resulted in the least reduction of sugar content. Raw honey tended to have higher moisture content than dehumidified honey, and acidity increased with higher storage temperatures. It can be concluded that storing honey at low temperatures, particularly -20°C, is most effective in maintaining the stability of sugar, moisture, and acidity. This stability supports a longer shelf life and helps preserve the nutritional value, and safety of the honey."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>