Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 106607 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andry Yusuf
"Material aluminium, khusunya seri 6xxx meurpakan material alternatif untuk proses pembentukan tempa panas dikarenakan karakteristik logam paduan alumunium ini yang sangat baik untuk ditempa diantara paduan alumunium yang heat-treatable, mampu las yang baik. Kekuatan dan kekerasa yang cukup baik dna juga paduan alumunium merupakan logam ringan (light metal) sehingga beberapa alat-alat industri atau rumah tangga yang selama ini umumnya terbuat dari besi sudah dapat digantikan dengan aluminium, salah satunya adalah tabung gas.
Sehubungan dengan itu penelitian ini membahas kemampuan tempa (forgeability) dari material alumunium 6066 yang berhubungan dengan proses pembuatan neck-ring dari tabung gas. Penelitian dilakukan dengan pengujian komposisi, proses tempa, pengujian metalografi dan pengujian kekerasan. Hal yang akan dipelajari adalah pengaruh temperatur pemanas dan ukuran material dan distribusi kekerasan serta cacat-cacat yang mungkin terjadi.
Hasil proses tempa menunjukkan kemampuan tempa alumunium 6066 terbaik diperoleh pada kondisi H/D 1,7 dan temperatur 500℃ yaitu tinggi sample 19,25 mm, tebal piringan 8,55 mm dan diameter piringan 73,45 mm. Deformasi terbesar untuk perubahan ketinggian dan perubahan diameter juga terjadi pada sampel ukuran H/D 1,7 dan temperatur tempa 500℃ yaitu 66,81% dan 116,03%. Distribusi kekerasa memperlihatkan bahwa kekerasan secara umum relatif lebih besar pada daerah piringan dibanding daerah silinder. Cacat yang terjadi pada hasil tempa disebabkan oleh keadaan sampel awal yang kurang baik dan juga akibat terlalu tingginya temperatur tempa sehingga batas butir menjadi besar, rapuh dan tidak bisa terdeformasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
S41199
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asrimaida
"ABSTRAK
Paduan 7075 dan 7050 adalah paduan alumunium seri 7xxx yang banyak digunakan untuk komponen-kompunen pesawat terbang yang membutuhkan rasio kekuatan terhadap berat yang tinggi. Proses peningkatan kekerasan dilakukan pada material ini adalah proses pengerasan presitasi, karena paduan seri 7xxx ini merupakan jenis paduan alurmmium yang paling besar memberikan respon terhadap proses peningkatan kekuatan tersebut. Sifat-sifat mekanik yang dihasilkan setelah proses pengerasan presipitasi dipengaruhi oleh beberapa parameter proses pengerasan presipilasi, seperti media quench, temperatur media quench, dan proses aging yang digunakan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperature media quench dan proses aging pada proses penbrerasan presipitasi paduan 7075 dan 7050 tarhadap sifat kekerasannya, dengan demikian dapat diketahui kondisi temperatur media quench dan proses aging yung akan digunakan untuk meudapatkan nilai kekerasan yang diinginkau. Pada penelitian ini. Media quench yang digunakan adalah air, dengan temperatur -10, -20, 0, 20, dan 40℃. Sedangkan proses aging yang digunakan adalah T6 dan T7. Selanjutnya pada material hasil perlakuan panas tersebut, dilakukan pengujian kekersan dan foto struktur mikro.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 7050-T6 terjadi peningkatan kekerasan dengan nai!rnya temperatur media quench, yaitu 105, 99, 141, 154 dan 167 gr/μm2. Untuk 7050-T7 nilai kekerasannya cenderung konstcn, yaitu 126, 110, 129, 112, 116 gr/μm2, begitu juga pada 7075-T6 yaitu 130, 157, 137, 120, dan 140 gr/μm2. sedangkan untu 7075-T7 terjadi penurunan nilai kekerasan dengan naiknya temperature media quench, tetapi hanya untuk range -10 sampai 0℃, setelah itu nilai kekersannya meningkat, yaitu 165, 126, 112, 119 dan 129 gr/μm2. Jadi pada penelitian ini terlihat bahwa tidak ada kecenderungan yang signifikan dari pengaruh perbedaan temperature media quench terhadap sifat kekerasan, baik pada paduan 7075 maupun 7050. Pengaruh yang terlihat lebih jelas adallah pengaruh perbedaan proses aging, dimana material yang mengalami proses aging T6 menunjukkan nilai kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan material dengan aging T7.
"
2000
S41577
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sibagariang, Balugu Gomo
"Paduan AA 333.0 yang merupakan padanan dari AC4B adalah paduan hasil pengecoran seri 3xx.x yang sudah banyak digunakan di industri otomotif. Paduan ini merupakan paduan yang sudah sering dikembangkan untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan. Masalah yang sering mucul dalam pengecoran adalah munculnya cacat berupa misrun. Cacat ini dapat diatasi dengan meningkatkan fluiditas leburan paduan saat proses pengecoran. Salah satu cara meningkatkan fluiditas adalah dengan menambahkan modifier Sr kedalam paduan saat proses pengecoran. Namun penambahan Sr modifier Sr ini cenderung menurunkan kekerasan, oleh karena itu kekerasan hams ditingkatkan setelah proses pengecoran yang salah sau caranya adalah dengan perlakuan panas T4 atau T6. Penelitian ini dilakukan dengan menambahkan 0.0015 wt.%Sr pada leburan paduan AA333.0 kemudian dilanjutkan dengan pengerasan melalui proses pengerasan penuaan T4 dan T6 pada temperatur 150, 175, dan 200_C. Pengamatanjuga dilakukan pada struktur mikro dengan menggunakan mikroskop optik dan SEM/EDS. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah Sr sebesar 0.0015 wt.% mengubah mikrostruktur paduan AA333.0 namun perubahan yang terjadi tidak signifikan. Setelah proses solution treatment ditemukan bahwa terjadi pelarutan fasa CuAl2 sementara proses pengerasan penuaan T4 dan T6 pada temperatur 150, 175, dan 200_C berhasil meningkatkan kekerasan paduan sampai 92.51%"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S41650
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Demas Seto A.
"Aluminium merupakan logam non ferrous yang memiliki kelebihan utama yaitu ringan dan kelahanan korosi yang baik. Namun dalam aplikasinya, aluminium tidak dapat digunakan sebagai logam mumi karena kekuatan dan kekerasannya rendah. Untuk itu unsur paduan menjadi sangat penting dalam logam aluminium sebagai solusi dari kelemahan tersebul. Karena sifatnya yang ringan, material aluminium banyak digunakan sebagai komponen otomotif. Industri otomolif lerus berupaya meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar produk kendaraannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan komponen-komponen yang tipis untuk mereduksi berat total kendaraan. Untuk menghasilkan komponen yang tipis, diperlukan sifat mampu alir atau fluiditas dari logam cair yang baik sehingga mampu mengisi rongga-rongga cetakan dengan sempurna. Penelitian ini difokuskan pada pengaruh komposisi tembaga lerhadap fluiditas dan kekerasan aluminium paduan ADC 12 yang merupakan material yang digunakan untuk proses high pressure die casting. Komposisi aktual Cu pada penelitian ini adalah 2.25 wt%, 2.62 wt%, 2.89 wt%, 3.11 wt%, dan 3.26 wt%. Pengujian fluiditas pada penelitian ini menggunakan metode vakum dengan bahan baku 100 % scrap dan dilakukan pada temperatur tuang 640_C, 660_ C, 680_C, dan 700_C. Pengujian kekerasan yang dilakukan menggunakan metode Brinnel. Untuk mengetahui karakteristik mikrostrukturnya, dilakukan pengamatan mikrostruktur dengan mikroskop optik dan SEM/EDS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa setiap peningkatan temperatur tuang sebesar 20_C dari temperatur 640_C ke temperatur 700_C, nilai fluiditas paduan ADC 12 dengan komposisi Cu 3.11 wt% meningkat rata-rata 4.59%. Pada temperalur tuang 680_C, nilai fluiditas paduan ADC 12 meningkat sebesar 24.11% dari 25.3 cm pada komposisi Cu 2.25 wt% menjadi 31.4 cm pada komposisi Cu 3.11 wt%. Nilai kekerasan paduan ADC 12 meningkal sebesar 31.48% dari 54 BHN pada komposisi Cu 2.25 wt% menjadi 71 BHN pada komposisi Cu 3.26 wl%."
2006
S41684
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Uliana
"Komponen otomotif dengan menggunakan paduan aluminium AA 333 yang mempimyai densitas rendah sebagai solusi dari permasalahan penggunaan energi dan polusi gas buang kendaracm harus memenuhi permintaan lain, yaitu dengan memperhatikan kekerasan dan kekuatan. Peningkatan kekerasan dan kekuatan mi dapat dicapai salah satunya dengan proses perlakuan panas. Proses perlakuan panas yang dipilih dalam penelitian ini adalah proses perlakuan panas T6 (artifcial aging), yang meliputi tahapan : solution treatment pada temperatur 525 ?C selama 8 jam, quenching dan pengerasan presipitat pada selama 5 jam. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variasi temperatur pengerasan presipitat yaitu 110, ISO, 180, 200 dan 250 ?C, sehingga diharapkan dari penelitian ini dapat diketahui pengaruh dari variasi tersebut terhadap perubahan struktur mikro dan nilai kekerasan paduan AA 333. Hasil penelitian menunjukkan bahva proses pengerasan presipitat selama 5 jam menyebabkan peningkatan kekerasan dari tiap fasa: matriks a-Al. silikon primer, eutektik Al-CuAl:, dan Al15(Fe,Mn)3Si2-"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S41690
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dedy Desifintarto
"ABSTRAK
Paduan Al - Zn - Mg kurang popular pemakaiannya secara komersial hal ini disebabkan sifat paduan yang memiliki kemampuan cor yang buruk, namun paduan ini mempunyai keunggulan tertinggi dibandingkan paduan aluminium lainnya, yaitu respon terhadap penakuan panasnya.
Penafifian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh penambahan Mg sebesar 1,5% dan 2,5% ferhadap paduan AI-Zn 9% serta perlakuan panas yang menyertainya.
Peleburannya menggunakan dapur krusibel jenis ciduk. Cetakan yang digunakan cefakan Iogam standar JIS Z-2210 yang hasilnya sudah bempa sampel uji tank.
Hasil penelitian menunjukan dengan penambahan Mg cenderung akan menaikkan nilai kekerasannya, namun akan menurunkan nilai regangannya. Penurunan juga terjadi pada sifat kekuatan dikarenakan banyaknya cacat coran seperti porisitas shrinkage pada sampel pengujiannya. Sedangkan dengan adanya penakuan panas untuk paduan tanpa Mg hampir tidak memiliki respon yang berarti dibandingkan dengan adanya penambahan Mg.
Sifat kekerasan dan kekuatan umumnya terdapat pada paduan ascast (kondisi sebelum perlakuan panas) dengan kompusisi yang ada unsur Mg-nya.

"
1996
S41212
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Didit Hermawan
"Material Alumunium khususnya seri 6xxx merupakan material alternatif untuk proses pembentukon tempa panas dikarenakan karakteristik logam paduan alumunium ini sangat baik untuk ditempa diantara paduan Alumunium heat-treatable, mampu las yang baik, kekuatan dan kekerasan yang cukup baik dan paduan ini juga merupakan logam ringan sehingga beberapa alat-alat industri maupun rumah tangga yang selama ini umumnya terbuat dari besi sudah dapat digantikan dangan Alumunium. Salah satunya adalah bagian tabung gas yaitu neck-ring dibuat secara tampa panas dengan bahan bakunya Alumunium paduan 6066 dan 6063, Sehubungan dengan itu penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemampuan tempa dari material seri 6xxx khususnyo AI 6066 dan AI 6063 yang berhubungan dengan proses pembuatan neck-ring tabung gas. Tampa panas dilakukan pada temparatur 500 "'C dengan memvariabelkan perbandingan tinggi awal dan diameter awal dari sampel. Terhadap produk tempo dilakukan pangujian distribusi kekerasan, pengukuran akhir dari produk setelah ditempa pengamatan metalogrofi mikro dan makro serta cacat-cacat yang mungkin terjadi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
S41254
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iwan Setyadi
"Permasalahan mampu tempa merupakan hal yang banyak ditemukan pada proses penempaan cetakan tertutup. Kesulitan yang dihadapi berkaitan erat dengan pola aliran-butir (grain flow patterns) yang tidak sesuai, cetakan yang tidak terisi sepenuhnya (lack of die fill) dan kwalitas produk (sifat mekanik, struktur mikro yang tidak sesuai dengan keinginan enjiniring atau standar).
Penelitian mampu tempa baja S48C dalam kasus pembuatan komponen gear dengan cetakan tertutup, telah dilakukan dengan mengkarakterisasi aliran tegangan material S48C terhadap perubahan temperatur melalui pengujian tarik panas serta mempelajari pengaruh parameter proses, dalam hal ini temperatur penempaan dan rasio tinggi awal terhadap diameter awal bahan baku (ho/Do) yang dikaitkan dengan mampu tempa produk gear yang dihasilkan.
Pengujian tarik panas dilakukan pada variasi temperatur 850, 900, 950°C dan laju regangan 0,01 dan 1 detik^-1, sedangkan pengujian penempaan gear dilaksanakan dengan variasi temperatur 1000, 1100, 1200°C dan variasi rasio ho/Do 1,58; 2,13; 2,41.
Hasil pengujian tarik panas menunjukkan semakin tinggi temperatur akan menurunkan tegangan tarik maksimum (UTS) dan tegangan alir baja S48C. Penurunan UTS paling tinggi terjadi pada temperatur 950°C sebesar 85% dari kondisi temperatur kamar, sedangkan penurunan tegangan alir paling tinggi terjadi pada temperatur pengujian 950°C sebesar 31 % dibanding temperatur 850°C, regangan (ε) 0,23 & laju regangan (ε) 1 detik^-1 dan sebesar 27% dibanding temperatur dan regangan yang sama tetapi ε 0,01 detik^-1 . Untuk kenaikkan lain regangan dari 0,01 detik^-1 menjadi 1 detik^-1 pada kisaran temperatur 850-950°C akan meningkatkan UTS sebesar 33 - 50 % dan tegangan alir sebesar 46-53%.
Hasil pengujian penempaan menunjukkan semakin tinggi temperatur dan semakin besar rasio ho/Do akan meningkatkan kekerasan rata-rata, yaitu tertinggi pada temperatur 1200°C dan ho/Do 2,13 sebesar 223 HB dan yang terendah pada temperatur 1000°C dan ho/Do 1,58 sebesar 204 HB. Peningkatan temperatur dan rasio ho/Do ini menyebabkan pertumbuhan butir austenit yang besar saat penempaan, namun secara bersamaan butir hasil rekristalisasipun bertambah.

Forgeability problems are found frequently in closed die forging. Forging difficulties closeness of the relationship with poor grain flow patterns, lack of die fill, and product quality (like as mechanical properties, microstructure that not suitable with engineering standard).
The research of the carbon steel (S48C) forgeability for manufacturing gear component in closed die forging has been done by characterized influence of temperature for flow stress of S48C with hot tension testing and studied influence of process parameters (like as forging temperature and ratio of initial height for initial diameters ho/Do) for the forgeability of the gear product.
The hot tension testing was performed on temperatures and strain rates variation (T 850, 900, 950°C and ε 0,01; 1 second^-1), while the gear forging testing was performed on forging temperatures and ratio ho/Do variation (T 1000, 1100, 1200°C and ratio ho/Do 1,58; 2,13; 2,41).
The result of hot tension testing showed that increasing temperature decreases ultimate tensile strength (UTS) and flow stress of S48C. The higher decreasing of UTS is on 950°C about 85% from room temperature condition, while the higher decreasing of flow stress has occured on 950°C about 31 % compare to conditons of temperature 850°C, strain (ε) 0,23 & srain rate (ε) 1 second^-1 and about 27% compare to the same conditions but ε= 0,01 second^-1 . For increasing strain rate from 0,01 to 1 second^-1 on the temperature range (850-950°C) increases UTS about 33 - 50% and flow stress about 46-53%.
The forging testing showed that increasing temperature and ratio ho/Do increases the average hardness, i.e., the higher hardness has occurred on 1200°C & ratio ho/Do 2,13 about 223 HB, while lower hardness has occurred 1000°C & ho/Do 1,58 about 204 HB. Increasing temperature and ratio ho/Do cause increasing austenite grain growth, but while amount of grain from recrystallization also has added."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2001
T8971
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
G. Hanny Budi Santoso
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
S39582
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
S47984
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>