Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 184578 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bondan Harmani
"Dalam setiap tindakan operasi intra okuler segmen depan seperti operasi katarak, keratoplasti , perbaikan perforasi kornea serta operasi glaukoma , selalu diusahakan mempertahankan kedalaman bilik mata depan. Tujuannya adalah untuk menghindarkan pergeseran yang berlebihan dengan endotel kornea selama operasi, karena
hal ini akan menyebabkan kerusakan pada lapisan endotel tersebut.
Tujuan penelitian: Menilai daya perlindungan natrium hialuronat 1% dibandingkan dengan metilselulosa 2% pada lapisan endotel kornea terhadap trauma udara."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1987
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reni Junita
"Tujuan: Evaluasi pengaruh penggunaan cairan irigasi dingin pada fakoemulsifikasi terhadap ketebalan kornea dan jumlah suar bilik mata depan pasca bedah.
Tempat: Perjan Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dan Jakarta Eye Center, Jakarta. Bahan dan cara: Prospektif, tersamar ganda, randomisasi pada 33 mata katarak senilis gradasi 3-4. Dilakukan fakoemulsifikasi menggunakan BSS® 10°C (n=16) atau BSS® suhu karnar (n=17) dengan prosedur dan terapi pasca bedah yang sama. Pra bedah, pasca bedah hart pertama dan hari ke-7 dilakukan pengukuran ketebalan komea, jumlah suar dan tekanan intraokular, masing-masing dengan OrbscanTM, laser flare-meter Kowa FM-500, dan tonometer non-kontak. Parameter intrabedah; waktu fako efektif (EPT) dan besarnya tenaga ultrasonik(UIS) direkam dalam mesin fako. Subjek yang mengalami komplikasi intrabedah maupun pasca bedah dikeluarkan dari penelitian.
Hasil: Prabedah kedua kelompok memiliki karakteristik yang setara pada umur, gradasi katarak, ketebalan kornea, jumlah suar dan TIO. Tidal( terdapat perbedaan bermakna pada E. dan U/S. Fasca bedah hari pertama, ketebalan kornea pada kelompok BSSQ dingin 548,87±48,31}im, pada kelompok BSS® suhu kamar 582,47±35,48p.m (p0,022). Ketebalan kornea hari ke-7 tidak berbeda bermakna. Tidak terdapat perbedaan bermakna jumlah soar sampai tindak lanjut hari ke-7, namun peningkatan jumlah suar pada kelompok BSS® dingin lebih sedikit dan telah mencapai nilai prabedah pada hari ke-7. Hasil pengukuran tekanan intraokular sesuai dengan pengukuran ketebalan kornea.
Simpulan: Cairan irigasi dingin dapat mempertahankan fungsi endotel komea dan stabilitas sawar darah akuos, sehingga menghambat penambahan ketebalan kornea dan jumlah suar di bilik mata depan pasca fakoemulsifikasi.

Purpose: To evaluate the effect of cooled intraocular irrigating solution during phacoemulsification on postoperative central corneal thickness (CCT) and anterior chamber flare (AC flare).
Setting: Cipto Mangunkusumo Hospital and Jakarta Eye Center, Jakarta
Methods: In a prospective, double masked, randomized study, 33 eyes of third and fourth grade density cataract had phacoemulsification with irrigating solutions cooled to approximately 10°C (n=16) or at room temperature (n=17). Surgical procedure and postoperative therapy were otherwise identical in both groups. lntraoperative parameters; effective phaco time (EPT) and ultrasound energy (U/S) were recorded by phaco machine. Postoperative CCT, AC flare and intraocular pressure (IOP) were assessed respectively with Orbscan pachymetry, Kowa FM-500 laser flare-meter and non-contact tonometry on days 1 and 7. Complicated cases were excluded.
Results: Both groups were well matched characteristic in age, cataract density, preoperative CCT, AC flare and IOP. Intraoperative parameters were not different significantly. C.1the first postoperative day, CCT (cooled irrigation 548,87±48,31µm, control 582,47±35,48µm; p0,022) was significantly lower in the group with cooled irrigating solution. There was no significant difference in CCT on the 7th postoperative day. Despite no significant between-group difference in AC flare on any postoperative days, AC flare was lower in the group with cooled irrigating solution. Intraocular pressure measurement was well related to corneal thickness.
Conclusions: Cooled intraocular irrigating solution preserved corneal endothelial function and blood aquas barrier, showed with reducing immediate postoperative CCT and AC flare.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T21398
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Grace
"Tujuan: Mengetahui perubahan sensibilitas kornea akibat perbedaan ciri insisi pada prosedur bedah katarak insisi kecil manual dan fakoemulsifikasi serta pengaruhnya terhadap kuantitas dan kualitas lapisan air mata (LAM).
Baban dan Cara: Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional, dilakukan pada 30 penderita katarak senilis yang akan menjalani tindakan pembedahan insisi kecil manual atau fakoemulsifikasi dengan lensa tanam rigid polymethylmethacrylate secara konsekutif. Tindakan insisi kecil manual dilakukan di Kabupaten Buleleng Bali Utara, sedangkan tindakan fakoemulsfikasi di RSCM Jakarta. Kriteria inklusi adalah subyek yang tidak memiliki riwayal inflamasi pada segmen anterior, operasi atau trauma, bukan pemakai lensa kontak, bukan pemakai obat-obatan yang dapat mengganggu lapisan air mata Pemeriksaan dilakukan sebelum pembedahan, setelah hari pertama, ke-7 dan ke-15. Pemeriksaan meliputi sensibilitas kornea di lima lokasi menggunakan estesiometri Cachet-Bonnet, tear meniscus , Nonivasive break up time (NIBUT) dan pola corakan lipid menggunakan Tearscope plus' , serta uji Schirmer. Keluhan subyektifdicatat menggunakan kuesioner dari Ocular Surface Disease Index (OSDO.
Hasil: Sensibilitas menurun dimulai hari pertama setelah pembedahan sampai hari ke-15 pada kelompok fakoemulsifikasi, sedangkan pada kelompok insisi kecil manual ditemukan hanya di hari pertama setelah tindakan pembedahan. Sensibilitas kornea yang menurun ini tidak hanya pada lokasi insisi tetapi juga pada lokasi lainnya terutama pada kelompok fakoemulsifikasi, perbedaan antar kedua kelompok ini signifikan (p<0.05). Penurunan sensibilitas kornea pada kelompok fakoemulsifikasi ini mempengaruhi kuantitas LAM_ Kualitas LAM menurun pada kedua kelompok di hari pertama, dengan penurunan terbesar pada kelompok insisi kecil manual, kualilas LAM ini kembali meningkat mendekati normal sampai hari ke-I5. Keluhan subyektif kelompok fakoemulsifikasi ditemukan meningkat pada hari ke-7 dak ke-15 dan berhubungan dengan produksi air mata.
Kesimpulan: Insisi kornea di temporal pada pembedahan katarak fakoernulsifikasi menimbulkan penurunan sensibilitas kornea di lokasi insisi dan lokasi lainnya sampai hari ke-15. Penurunan sensibilitas kornea ini menyebabkan perubahan kuantitas dan kualitas LAM serta menimbulkan subyektif.

Purpose: To describe corneal sensitivity changes caused by different incision method in manual-small incision cataract surgery (manual-SICS) and phacoemulsification (phaco) and its influence to the tear film quantity and quality.
Material & Methods: A prospective observational study which examined thirthy subjects who planned to underwent cataract surgery with polymelhylmethacrylate intraocular lens concequitively. The manual-SICS group was held in North Bali and phacoemulsification in Jakarta. The inclusion criteria were subject without inflammation of anterior segment, contact lens wearer, history of eye surgery or eye trauma, nerve disorder and drugs which influence the tear film stability. The examination were prior to the surgery, first, seventh and the fifteenth day after surgery, including the five sites of the corneal sensitivity using Cochet-Bonner aesthesiometry, tear meniscus, nonivasive break up time (NIBUT) and lipid pattern using Tearseope plus-m and Schirmer test also were examined. The subjective complains were reviewed based on questionaire by Ocular Surface Disease Index (OSDI).
Results: Corneal sensitivity decreased in phaco group since the first day after surgery until the fifteenth day, while in the manual-SICS group the decreasing only at first day after surgery. Corneal sensitivity decreased not only at the incision site, but also on the other sites of the cornea in phaco group, the difference between two groups was significant (p<0.05). The aquous production decreased in phaco group on the seventh and fifteen days which correlated to the corneal sensitivity. The tear film quality decreased in both groups on the first day and much lower in manual-SICS group, the recovery was shown until the fifteenth day. The increasing subjective complains on phaco group correlated to the changes of the corneal sensitivity.
Conclusion: Temporal-side incision on phacoemulsification caused decreasing corneal sensitivity in the incision site and the other sites up till the 15 day. Decreasing corneal sensitivity caused changes of the tear film quantity and quality, also the complains.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18011
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desrina
"ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah automated keratometry
dapat digunakan sebagai alternatif dari topografi kornea sebagai panduan Limbal
relaxing incision yang dinilai dengan analasisi vektor. Design penelitian adalah
uji klinis acak tersamar tunggal, noninferiority trial. Tiga puluh empat pasien
katarak dengan astigmatisma kornea 1.00-3.00 D dibagi menjadi dua kelompok,
LRI dengan panduan automated keratometry dan topografi kornea. LRI dilakukan
bersama dengan operasi katarak. Perbandingan efektifitas LRI dinilai dengan
parameter analisis vektor antara lain Surgical induced astigmatisma (SIA), Index
of Success (IoS), Magnitude of error (ME), Flattening Effect (FE), Correction
Index (CI) and Absolute angle of error (AE). Hasil menunjukan Surgical Induced
Astigmatism, ME, FE, CI and AE tidak berbeda bermakna antar dua kelompok (p
> 0.05) meskipun IoS LRI kelompok topgrafi kornea lebih baik. Tidak ada
komplikasi LRI langsung dari penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa
autokeratometri dapat digunakan sebagai alternatif dari topografi kornea sebagai
panduan LRI.

ABSTRACT
The purpose of this study is to determine effectiveness of automated keratometry
as LRI guidance compare with corneal topography as golden standart. The
effectiveness was evaluated using vector analysis. The study design was
randomized controlled clinical trials with a single blind, noninferiority trial.
Thirty-four patients with cataract and corneal astigmatism 1.00-3.00 D divided
into 2 groups, LRI based on automated keratometry and LRI based on corneal
topography. LRI was done on phacoemulsification. Comparison of LRI effectivity
determined with vector analysis parameters such as Surgical induced
astigmatisma (SIA), Index of Success (IoS), Magnitude of error (ME), Flattening
Effect (FE), Correction Index (CI) and Absolute angle of error (AE). Results
showed Surgical Induced Astigmatism, ME, FE, CI and AE were not significantly
different (p > 0.05) between two groups however IoS LRI corneal topography
group was better. There was no complication with LRI in this study.
As conclusion Autokeratometry can be used to guide LRI as an alternative of
corneal topography"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Syukri Mustafa
"ABSTRAK
Keratomikosis adalah infeksi kornea yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini, dalam bentuk Aspergillosis kornea, pertama kali dilaporkan oleh Theodore Leber pada tahun 1879.(1) Sejak itu selalu ada laporan tentang kasus ini setiap tahun, dan selama 30 tahun terakhir ini terjadi peningkatan jumlah kasus keratomikosis. Hal ini diduga karena meluasnya penggunaan antibiotik spektrum luas dan kortikosteroid. Disamping itu juga karena meningkatnya perhatian dan pengenalan serta kemajuan yang dicapai dalam pengetahuan klinis dan laboratorium dalam mendiagnosis penyakit ini.(1-7)
Di Indonesia dalam survei tahun 1982 didapatkan jumlah penderita radang kornea sebanyak 0,22% dari penduduk.( 8 ) Kalau persentase tersebut dipakai sekarang dengan jumlah penduduk kira-kira 170 juta, maka terdapat kira-kira 374.000 penderita, yang sebahagian diantaranya adalah karena infeksi oleh jamur. Karena keratomikosis sering terdapat di lingkungan masyarakat agraris dan beriklim tropis sampai subtropis, dapat diperkirakan bahwa angka kejadian keratomikosis di Indonesia cukup tinggi mengingat sebagian besar masyarakat kita tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian.(9)
Di Bagian Mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dari tahun 1968 sampai dengan 1971 terdapat 68 kasus yang dicurigai keratomikosis dimana 22 kasus diantaranya positif keratomikosis berdasarkan pemeriksaan laboratorium.(2) Sedangkan dari bulan Juni 1984 sampai dengan Desember 1988 terdapat 117 kasus ulkus kornea pada penderita dewasa (berumur diatas 12 tahun) yang dirawat, dimana 13 kasus ( 11% ) diantaranya adalah keratomikosis. (10)
Mengenal infeksi jamur pada kornea sangat perlu, karena infeksi jamur pada kornea tidak dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik untuk bakteri, sehingga bila tidak dikenal maka infeksi jamur pada kornea akan dapat berakhir dengan kebutaan.(11) Upadhyay (12) pada penelitiannya di Nepal dari Mei 1975 s/d April 1976 mendapatkan dari 25 kasus keratomikosis, 5 kasus (20%) berakhir dengan enukleasi atau eviscerasi, dan 5 kasus (24%) mempunyai tajam penglihatan akhir kurang dari 6/60.
Keratomikosis masih tetap merupakan tantangan bagi dokter mata dalam hal diagnosis dan pengobatan. Hal ini disebabkan oleh adanya kemiripan keratomikosis dengan peradangan kornea yang disebabkan oleh organisme lain, terbatasnya obat anti jamur yang tersedia disertai penetrasinya yang buruk ke dalam jaringan kornea.(7,13)
Pada sebahagian besar kasus, tidak mungkin mendiagnosis keratomikosis hanya berdasarkan gambaran klinis.(7,13,14). Diagnosis dini dan tepat keratomikosis merupakan hal yang sangat penting untuk keberhasilan pengobatannya.(9) Diagnosis pasti keratomikosis adalah dengan memastikan adanya jamur di lesi kornea tersebut dengan pemeriksaan laboratorium.(2,3,14,15)?
"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Putri Samira
"[ABSTRAK
Tujuan: Untuk mengevaluasi perbandingan ketebalan kornea dan morfologi sel endotel penderita miopia sedang dengan pemakaian harian lensa kontak lunak hidrogel konvensional (nelfilcon A) terhadap silikon hidrogel (lotrafilcon B) selama 1 bulan.
Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal pada 17 pasien (34 mata) dengan miopia sedang yang dibagi secara acak untuk memakai lensa kontak lunak nelfilcon A atau Lotrafilcon B. Ketebalan kornea sentral (CCT), Coefficient of variation (CV), dan persentase sel heksagonal (6A) diukur menggunakan mikroskop spekuler non-con robo Konan sebelum penelitian (pre-fitting), 1 minggu serta 1 bulan setelah pemakaian lensa kontak lunak. Pasien juga dievaluasi mengenai adanya efek samping subyektif dan komplikasi selama memakai lensa kontak.
Hasil: Terdapat 64,7% subyek dengan riwayat pemakaian lensa kontak lunak sebelumnya, dimana 52,9% diantaranya adalah pemakai hidrogel konvensional yang tidak teratur. Setelah evaluasi 1 bulan, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara pemakai Nelfilcon A dengan Lotrafilcon B dalam hal: ketebalan kornea sentral (p=0,285; uji Mann Whitney), CV (p=0,587; uji t tidak berpasangan), dan 6A (p=0,353; uji t tidak berpasangan). Analisis general linear model terhadap waktu pengukuran mendapatkan perbedaan yang bermakna pada seluru subyek meliputi penurunan CCT (p=0,001) dan CV (p=0,001), serta peningkatan 6A (p=0,022) pada test within subject effect.
Simpulan: Tidak terdapat perbedaan CCT, CV, dan 6A yang bermakna secara statistik antara pada pemakaian harian lensa kontak lunak Lotrafilcon B dan Nelficon A. Pasien dengan riwayat penggunaan lensa kontak sebelumnya mendapatkan manfaat dengan pemakaian nelfilcon A dan lotrafilcon B dalam hal perbaikan hipoksia jaringan berupa: penurunan ketebalan kornea dan perbaikan morfologi sel endotel.

ABSTRACT
Objective: To compare corneal thickness and endothelial cell morphology in myopic patients wearing 1 month hydrogel conventional and silicon hydrogel contact lenses in daily wear.
Methods: This is a prospective, single blind, randomized study. Seventeen (34 eyes) myopic patients were randomly assigned to wearing either nelfilcon A or lotrafilcon B. Central corneal thickness (CCT), Coefficient of variation (CV), and percentage of six-sided cell (6A) were examined using specular microscope non-con robo Konan. Changes in CCT, CV, and 6A were evaluated before contact lenses fitting as well as 1 week and 1 month after the treatment. Patients were also evaluated for any subjective side effects and complications during the treatment period.
Results: There were 64,7% subjects with history of contact lens weares and 52,9% of them was hydrogel wearers. After 1 month daily wear of nelfilcon A and lotrafilcon B, no statistically differences changes in CCT (p=0,285; Mann Whitney test), CV (p=0,587; unpaired t test) dan 6A (p=0,353; unpaired t test). General linear model analysis in follow up evaluation with test of within subject effect revealed decreased CCT(p=0,001) and CV (p=0,001), also increased 6A (p=0,022) in all subjects.
Conclusions: There were no statistically difference CCT, CV, and 6A between daily wear of nelfilcon A and lotrafilcon B. Subjects with history of contact lens weares gained advantages in oxygen availability, which is decrease in corneal thickness and improvement of endothelial cell morphology., Objective: To compare corneal thickness and endothelial cell morphology in myopic patients wearing 1 month hydrogel conventional and silicon hydrogel contact lenses in daily wear.
Methods: This is a prospective, single blind, randomized study. Seventeen (34 eyes) myopic patients were randomly assigned to wearing either nelfilcon A or lotrafilcon B. Central corneal thickness (CCT), Coefficient of variation (CV), and percentage of six-sided cell (6A) were examined using specular microscope non-con robo Konan. Changes in CCT, CV, and 6A were evaluated before contact lenses fitting as well as 1 week and 1 month after the treatment. Patients were also evaluated for any subjective side effects and complications during the treatment period.
Results: There were 64,7% subjects with history of contact lens weares and 52,9% of them was hydrogel wearers. After 1 month daily wear of nelfilcon A and lotrafilcon B, no statistically differences changes in CCT (p=0,285; Mann Whitney test), CV (p=0,587; unpaired t test) dan 6A (p=0,353; unpaired t test). General linear model analysis in follow up evaluation with test of within subject effect revealed decreased CCT(p=0,001) and CV (p=0,001), also increased 6A (p=0,022) in all subjects.
Conclusions: There were no statistically difference CCT, CV, and 6A between daily wear of nelfilcon A and lotrafilcon B. Subjects with history of contact lens weares gained advantages in oxygen availability, which is decrease in corneal thickness and improvement of endothelial cell morphology.]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nashrul Ihsan
"ABSTRAK
Tujuan Untuk mengetahui perbadingan efektivitas dan keamanan antara fakoemulsifikasi torsional dan transversal menggunakan parameter phaco time dan perubahan sel endotel dan ketebalan kornea sentral Metode Penelitian prospektif menggunakan katarak senilis NO 3 4 LOCS III yang dilakukan randomisasi menjadi dua kelompok torsional Ozil IP dan transversal Ellips FX Keluaran primer berupa phaco time sel endotel kornea ketebalan kornea sentral tajam penglihatan terkoreksi pada hari pertama ketujuh dan ke 30 pasca operasi Hasil Penelitian ini menggunakan 61 pasient Karakteristik dasar setara dan dapat dibandingkan Phaco time torsional CDE memiliki nilai kecil hingga hanya 1 3 phaco time transversal EFX Penurunan ECD kelompok torsional 7 9 dan kelompok transversal 8 9 Tidak ada perbedaan bermakna pada perubahan ECD dan CCT antara fakoemulsifikasi torsional dan transversal Simpulan Efektivitas dan keamanan kedua mesin fakoemulsifikasi torsional dan transversal tidak berbeda signifikan.

ABSTRACT
Purpose To compare the effectivity and safety between torsional and transversal phacoemulsification using intraoperative parameter phaco time and postoperative parameter endothelial cells and central corneal thickness changesMethods This prospective study with senile cataract eyes NO 3 4 LOCS III which randomized to have phacoemulsification using torsional Ozil IP or transversal Ellips FX Primary outcomes were phaco time endothelial cell density ECD central corneal thickness CCT corrected distance visual acuity with 1 7 and 30 days after phacoemulsificationResults The study included 61 patients Baseline characteristic were comparable The phaco time torsional CDE only one third of phaco time transversal EFX The results of the percentage of ECD loss were 7 9 in torsional and 8 9 in transversal No difference in ECD and CCT changes between torsional and transversal statistically Conclusions The effectivity and safety of torsional and transversal phacoemulsification did not differ significantly.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, [2016;2016, 2016]
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faraby Martha
"Tujuan : Membandingkan hasil biakan bakteri dari spesimen kornea yang diambil dengan metode kerokan dilanjutkan mikrohomogenisasi dan hasil biakan bakteri dari spesimen kornea yang diambil dengan apusan kornea. Desain: Penelitian ini adalah perbandingan potong lintang comparative cross sectional , Metode: Delapan belas subjek yang dibagi menjadi 2 kelompok terandomisasi, Kelompok A kerokan dilakukan pertama, apusan kedua , dan kelompok B apusan dilakukan pertama, kerokan kedua . Pada analisis data kedua metode kerokan dan apusan dipisahkan kemudian dibandingkan. Hasil: Proporsi Gram sesuai biakan pada teknik Kerokan-Mikrohomogenisasi sebesar 6/13 46.2 , proporsi Gram sesuai biakan pada teknik Apusan sebesar 5/13 38.5 . Nilai p uji McNemar adalah 1.000 p> 0.05 . Proporsi biakan positif pada teknik Kerokan-Mikrohomogenisasi sebesar 13/18 72.2 , proporsi biakan positif pada teknik apusan sebesar 9/18 50 . Nilai p uji McNemar adalah 0.219 p> 0.05 . Nilai uji kesesuaian Kappa dari teknik kerokan mikrohomogenisasi terhadap apusan kornea adalah 0.333. Kesimpulan: Hasil biakan bakteri dari spesimen kornea yang diambil dengan metode Kerokan dilanjutkan Mikrohomogenisasi memiliki angka biakan positif yang lebih besar dibandingkan biakan bakteri dari spesimen kornea yang diambil dengan apusan kornea namun tidak bermakna secara statistik. Kata kunci : apusan kornea; biakan bakteri; kerokan mikrohomogenisasi

Purpose To compare the results of bacterial culture that specimens was taken by the corneal scrapings followed by microhomogenization method and bacterial culture that specimens was taken by corneal swabs. Methods This study was cross sectional comparisons, which 18 subjects were divided into two randomized groups Group A scrapings performed first, smear performed second , and group B smear performed first, scrapings performed second . In data analysis both methods scrapings and swabs are separated then compared. Results The proportion of Gram corresponding culture in scrapings Microhomogenization technique was 6 13 46.2 , the proportion of Gram corresponding cultures in smear technique was 5 13 38.5 . McNemar test p value is 1.000 p 0.05 . The proportion of positive cultures in scrapings Microhomogenization technique was 13 18 72.2 , the proportion of culture positive on smear technique was 9 18 50 . McNemar test p value is 0219 p 0.05 . Kappa suitability test value is 0.333. Conclusion The results of bacterial culture that specimens was taken by the corneal scrapings followed by microhomogenization have a culture positive larger than bacteria cultures that specimens was taken by a swab of the cornea but not statistically significant. Keywords bacterial cultures corneal swabs scrapings microhomogenization "
Depok: Universitas Indonesia, 2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Agung Fujiyono
"Latar Belakang: Mayoritas kasus kebutaan kornea dapat direhabilitasi dengan tindakan transplantasi kornea. Akan tetapi, tingkat donor kornea di Indonesia dirasa masih kurang untuk memenuhi kebutuhan transplantasi kornea.
Tujuan: Mengetahui hubungan faktor sosiodemografi, pengetahuan, dan sikap terhadap perilaku masyarakat mengenai donor kornea.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional study) untuk menilai hubungan antara faktor sosiodemografi, pengetahuan, dan sikap terhadap perilaku donor kornea.
Hasil: Komponen sosiodemografi yang berhubungan terhadap perilaku (P < 0,05) antara lain kategori responden, jenis kelamin, agama, suku bangsa, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Pengetahan dan sikap juga memiliki hubungan terhadap perilaku. Berdasarkan analisis multivariat, jenis kelamin, kategori responden, agama, pengetahuan, dan sikap diduga mepengaruhi perilaku donor kornea. Sedangkan nilai OR terbesar yang diperoleh yaitu 7,305 pada variabel pengetahuan.
Kesimpulan: Tingkat pengetahuan sikap dan perilaku mengenai donor kornea relatif rendah pada subjek yang diamati. Tidak seluruh komponen sosiodemografi yang diamati berhubungan terhadap perilaku donor kornea. Pengetahuan dan sikap memiliki hubunngan terhadap perilaku. Pengetahuan merupakan variabel yang paling mempengaruhi perilaku donor kornea.

Background: The majority of cases of corneal blindness can be rehabilitated by a corneal transplant. However, the level of donor corneas in Indonesia is still insufficient to meet the needs for corneal transplants.
Objective: To determine the relationship between sociodemographic factors, knowledge, and attitudes towards people's behavior regarding corneal donors.
Methods: This study used a cross-sectional study design to assess the relationship between sociodemographic factors, knowledge, and attitudes towards corneal donor behavior.
Results: The sociodemographic components related to behavior (P < 0.05) included respondent categories, gender, religion, ethnicity, education level, and occupation. Knowledge and attitudes also have a relationship to behavior. Based on multivariate analysis, gender, respondent category, religion, knowledge, and attitudes are thought to influence the behavior of corneal donors. While the largest OR value obtained is 7.305 on the knowledge variable.
Conclusion: The level of knowledge, attitudes and behavior regarding corneal donors is relatively low in the subjects studied. Not all observed sociodemographic components are related to corneal donor behavior. Knowledge and attitudes have a relationship to behavior. Knowledge is the variable that most influences the behavior of corneal donors.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tabery, Helena M.
"This book presents the morphological features, dynamics, and sequelae of adenovirus and Thygeson's keratitides captured at high magnification in the living human cornea. It thereby fills the existing void between conventional photographs and slit-lamp observations. Case reports demonstrate the importance of patient history in differential diagnosis, illustrate the need for familiarity with early manifestations of adenovirus infections, and assist in the diagnosis of rare variants of TSPK. Furthermore, the detailed observations on the natural course of the diseases ensure that the book will serve not only as a diagnostic tool but also as a reference when evaluating the effects of potential new treatments.
"
Berlin: Springer, 2012
e20420681
eBooks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>