Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 190569 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Edwin Suharlim
"Setiap harinya 1500 wanita meninggal akibat masalah yang berkaitan dengan kehamilan ataupun kelahiran Pada tahun 2005 terdapat 536 000 kematian ibu di seluruh dunia yang sebagian besar terjadi di negara negara berkembang Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan angka kematian ini adalah dengan menggunakan kontrasepsi sehingga kehamilan dapat dicegah Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keberadaan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan keluarga penghasilan keluarga serta paritas terhadap penggunaan serta preferensi kontrasepsi Pengumpulan data berlangsung dari 1 Maret 2011 sampai 1 Juli 2011 di Jakarta Timur Penelitian ini menunjukkan adanya 460 responden berbalita dari 2401 responden Dari 460 responden tersebut terdapat 363 78 9 responden yang menggunakan kontrasepsi dengan preferensi tertinggi berupa suntikan yaitu 165 35 9 dari seluruh data yang dikumpulkan Dengan uji chi squared didapatkan kalau tingkat pendidikan keluarga memiliki hubungan dengan penggunaan kontrasepsi p 0 001 hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu tersebut semakin mudah menerima perkembangan yang ada Sebaliknya tingkat penghasilan keluarga tidak memiliki hubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi p 0 647 hal ini disebabkan oleh banyaknya pelayanan pemasangan kontrasepsi gratis yang dilakukan pemerintah sehingga masyarakat hanya perlu membayar alatnya saja Sedangkan tingkat paritas memiliki hubungan bermakna pada penggunaan kontrasepsi p 0 000 Ini sesuai dengan penduduk semakin memahami kalau resiko kematian ibu meningkat seiring dengan banyaknya melahirkan

Each day there are 15000 women deaths for pregnancy or birth related problems In 2005 there were 536000 deaths for women in the whole world and most of them occurred in developing countries As to reduce this number one of the solutions would be to use contraceptives which could prevent pregnancies The purpose of this research is to ascertain the relation between family education family income and parity towards the usage of contraceptives The data collection started from 1 March 2011 to 1 July 2011 in East Jakarta This Research shows 460 respondents with infants from 2401 respondent which was chosen randomly From the 460 respondents there are 363 78 9 respondents which use contraceptives with injectable contraceptives as the highest preference from our collected data With Chi squared test we know that the level of family education has a significant realtion with contraceptive usage p 0 001 This result is caused by the increasing level of individual acceptance to new things as education level increases Parity also has a significant relation with contraceptive usage p 0 001 which is caused by increasing level of knowledge that maternal mortality risk increases as the number of giving birth increases Familal income do not have a significant relation with contraceptive usage p 0 647 because of the high number of free service for installation of contraception so that people only need to pay for the device itself
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Akbar Nugraha
"Kejadian stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini tidak terkecuali di Indonesia. Stunting dapat dicegah dari awal masa kehidupan yaitu pada kehamilan. Pencegahan stunting dilakukan dengan mengatasi faktor risiko stunting dari ibu hamil yaitu gizi selama kehamilan, infeksi selama kehamilan, dan depresi selama kehamilan. Desain penelitian yang digunakan yaitu quasi experimental pre-post test with control group. Sebanyak 157 ibu hamil dan suami dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok yang mendapatkan pendidikan kesehatan secara offline, kelompok yang mendapatkan pendidikan kesehatan dan terapi kelompok terapeutik (TKT) secara offline, kelompok yang mendapatkan pendidikan kesehatan secara online, kelompok yang mendapatkan pendidikan kesehatan dan TKT secara online dan kelompok kontrol. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster sampling dan purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan secara bermakna lingkar lengan atas pada kelompok pendidikan kesehatan dan TKT offline (p value < 0,05); penurunan nilai depresi pada kelompok intervensi (p value < 0,05), peningkatan kemampuan adaptasi ibu hamil dan dukungan suami (p value < 0,05). Penurunan depresi selama kehamilan yang mendapatkan intervensi secara offline dan online lebih rendah dibandingkan kelompok control (p value < 0,05), peningkatan gizi selama kehamilan dan penurunan jumlah depresi terbanyak berada pada kelompok pendidikan kesehatan dan TKT secara offline dan online dibandingkan kelompok yang hanya mendapatkan pendidikan kesehatan secara offline dan online. pendidikan kesehatan dan TKT secara offline dan online direkomendasikan sebagai tindakan pencegahan faktor risiko stunting pada ibu hamil.

Stunting is one of the nutritional problems experienced by toddlers in the world today is no exception in Indonesia. Stunting can be prevented from the beginning of life, namely in pregnancy. Prevention of stunting is done by overcoming risk factors for stunting from pregnant women, namely nutrition during pregnancy, infection during pregnancy, and depression during pregnancy. The study design used was a quasi experimental pre-post test with a control group. A total of 157 pregnant women and husbands were divided into 5 groups who received health education offline, groups who received health education and therapeutic group therapy (TKT) offline, groups who received health education online, groups who received health education and TKT in control and online group. The sampling technique used was cluster sampling and purposive sampling.
The results showed an increase in the health education group and the TKT offline (p value <0.05); Decreased depression in the intervention group (p value <0.05), increased adaptability of pregnant women and husband support (p value <0.05). The increase in depression during pregnancy who received offline and online interventions was lower than the control group (p value <0.05), the increase in nutrition during pregnancy and the decrease in the number of most depressions was dependent on the health education group and TKT offline and online health education offline and online. Health education and TKT offline and online are recommended as actions against risk factors for stunting in pregnant women.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Afifah
"Literasi gizi merupakan suatu kapasitas individu dalam memperoleh, memproses, dan memahami dasar informasi dan pelayanan gizi. Literasi gizi yang rendah dapat menghambat seseorang dalam membuat keputusan terkait gizi. Literasi gizi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu literasi gizi fungsional, interaktif, dan kritikal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tingkat literasi gizi dan perbedaan proporsi tingkat literasi gizi berdasarkan tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan, usia, dan paritas pada ibu hamil di Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis desain studi cross sectional. Data diambil menggunakan kuesioner mandiri pada 92 ibu hamil yang sehat dan bisa membaca serta menulis di Puskesmas Kecamatan Cakung, Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dan Puskesmas Kelurahan Batu Ampar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi gizi fungsional, interaktif, maupun kritikal pada responden secara umum tergolong masih kurang dan terdapat perbedaan bermakna antara tingkat pendidikan berdasarkan tingkat literasi gizi interaktif p=0,003; OR=9,412 dan kritikal p=0,039; OR=3,900.

Nutrition literacy is an individual capacity to acquire, process, and understand basic information and nutrition services. Low nutritional literacy can prevent a person from making nutritional decisions. Nutritional literacy is divided into three groups functional, interactive, and critical nutrition. This study aims to see the description of nutritional literacy rate and the difference of nutritional literacy rate based on family income level, education level, age, and parity of pregnant mother in East Jakarta. This research uses quantitative approach with cross sectional study design type. Data were collected using self administered questionnaires in 92 healthy pregnant women who could read and write at Cakung District Health Community Center, Kramat Jati District Health Community Center and Batu Ampar Sub district Health Community Center. The results showed that the level of functional, interactive, and critical nutritional literacy among respondents was generally still low and there was a significant difference between education level based on level of interactive nutrition literacy p 0,003 OR 9,412 and critical p 0,039 OR 3,900. "
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Gian Falah
"Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu indikator kesehatan dalam Millennium Development Goals yang ditetapkan PBB. Hal ini meliputi frekuensi pemeriksaan kehamilan, prevalensi kelahiran yang ditemani petugas kesehatan, pemberian vaksin tetanus toksoid dan pengetahuan ibu mengenai gejala yang menjadi tanda bahaya pada masa kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan terhadap indikator tersebut. Data diambil pada 1 Maret 2011 sampai 1 April 2012 di Jakarta timur. terdapat 463 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan diluar kriteria eksklusi dan dropout. Didapatkan 97% ibu rumah tangga melahirkan ditempat petugas kesehatan, 38,0% bisa menjawab seluruh pertanyaan tentang gejala yang menjadi tanda bahaya pada saat melahirkan dan kehamilan, 78.4% responden pernah diimunisasi vaksin tetanus toksoid ketika hamil, dan 97,2 % responden memeriksakan kehamilan lebih dari 4 kali memalui uji statistik. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara pendidikan ibu dengan prevalensi pemberian vaksin tetanus toksoid (p = 0.650), prevalensi kelahiran ditempat petugas kesehatan (p = 0.693) dan pengetahuan mengenai bahaya kehamilan (p = 0.924). ditemukan hubungan yang bermakna untuk indikator frekuensi pemeriksaan kehamilan (p = 0.047).

Mother and and child health is one of health indicator of Millenium Development Goals from United Nation. These indicator are including daily pregnant examination, delivery which attended by skilled person, tetanus toxoid vaccination and knowledge of alarm symptom in pregnant and delivery period. This research is to find relationship between mother’s formal education with those indicator. Data collection had started from 1 march 2011 until 1 July 2011. From 2401 respondent that fill s the questionarie, 463 family are having infant in their home and filling questionnaire correctly. 97% delivery attended by skilled person, 38,0% can answer all alarm symptom correctly. 78,4% had vaccination in last pregnancy period and 97,2% doing pregnant examination more than 4 times. Significant result showed up between mother’s education and frequency of pregnant examination (p = 0,047). no significant result showed up between mother’s education and prevalence of delivery which attended by skilled person (p = 0,693), between mother’s education and alarm symptom in pregnancy and delivery period (p = 0,924) and between mother’s education and tetanus toxoid vaccination (p = 0,650)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ajeng Larasati
"Latar Belakang: Gangguan berkemih dalam kehamilan dapat mempengarui kualitas dari hidup seorang ibu hamil. Akan tetapi, Sampai saat ini belum didapatkan data mengenai hubungan paritas dan trimester kehamilan dengan kejadian gangguan berkemih di Indonesia.
Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan berbagai gangguan kejadian berkemih yang terjadi selama kehamilan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode potong lintang. Subjek pada penelitian ini adalah ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Cempaka Putih dan Puskesmas Johar Baru menggunakan metode consecutive sampling pada Juli 2019 sampai Desember 2019. Data yang dikumpulkan melalui wawancara, pengisian daftar harian berkemih, kuesioner Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) dan penilaian indeks sandvik.
Hasil: Didapatkan sebanyak 279 ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Didapatkan multiparitas berhubungan dengan terjadinya inkontinensa tekanan pada wanita hamil (P= 0,045, OR 2,59, CI 95% 1,002-6,73), tetapi tidak bermakna pada variabel yang lain (primipara dan nulipara dengan inkontinensia tekana; multipara, primipara dan nullipara dengan inkontinensia desakan, gangguan frekuensi dan nokturia; trimester kehamilan dengan inkontinensia tekanan, desakan, gangguan frekuensi dan nokturia) (P>0,05). Prevalensi inkontinensia tekanan yang terjadi pada kehamilan sebesar 11,1%, dimana pada trimester I,II,III yakni 12,7%, 12,4%, 10,9%. Prevalensi inkontinensia desakan yang terjadi pada kehamilan sebesar 5,0%, dimana trimester I,II,III yakni 4,6%, 2,8%, 8%. Prevalensi gangguan frekuensi yang terjadi pada kehamilan sebesar 75,6%, dimana trimester I,II,III yakni 67,3%, 74,7%, dan 79,1%. Prevalensi nokturia yang terjadi pada kehamilan 86% ,dimana pada trimester I,II,III, yakni 81,6%, 83,5%,dan 89,2%. Indeks keparahan inkontinensia urin terbanyak dalam kehamilan adalah pada tingkat ringan (93,3%) dan sedang (6,7%).
Kesimpulan: Adanya hubungan yang bermakna antara multiparitas dengan terjadinya inkontinensia tekanan pada wanita hamil. Dilakukan penelitian selanjutnya untuk menilai faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap gangguan berkemih pada ibu hamil dengan cakupan dan subjek yang lebih luas.

Background: Low urinary tract symptoms in pregnancy can affect the quality of life for a pregnant woman. However, until now there has been no data regarding the relationship between parity and trimester of pregnancy with the incidence of urinary disorders in Indonesia.
Objective: Analyzing the factors associated with various Low urinary tract symptoms has occur during pregnancy.
Methods: This research is an observational analytic study with cross sectional method. The subjects in this study were pregnant women who visited the Cempaka Putih Health Center and Johar Baru Health Center using the consecutive sampling method from July 2019 to December 2019. Data collected in the form of obstetric history through interviews, bladder dairy, Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) Indonesian version and index sandvik
Results:Obtained as many as 279 pregnant women who met the inclusion and exclusion criteria. Obtained multiparity associated with the occurrence of pressure incontinence in pregnant women (P = 0.045, OR 2.59, 95% CI 1.00-6.73), but not significant in other variables (primipara and nulipara with stress incontinence; multipara, primipara and nullipara with urge incontinence, frecuency and nocturia; trimester with stress incontinence, urge incontinence, frecuency and nocturia) (P> 0.05). The prevalence of stress incontinence that occurs in pregnancy is 11.1%, where in the I, II, III trimesters that is 12.7%, 12.4%, 10.9%. The prevalence of urge incontinence that occurs in pregnancy is 5.0%, where I, II, III trimesters are 4.6%, 2.8%, 8%. The prevalence of frequency that occur in pregnancy is 75.6%, where I, II, III trimesters are 67.3%, 74.7%, and 79.1%. The prevalence of nocturia that occurs in pregnancy is 86%, where in the I, II, III trimesters, ie 81.6%, 83.5%, and 89.2%. The highest severity index in urinary incontinence in pregnancy was mild (93.3%) and moderate (6.7%).
Conclusion: There is a significant relationship between multiparity with the occurrence of stress incontinence in pregnant women. It is recommended to have further research to study other factors that may influence low urinary tract symptoms on pregnant women with broader scope and subjects background
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jaime Theophania
"Tingkat literasi gizi menggambarkan derajat seseorang memiliki kapasitas untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi dasar. Literasi gizi terdiri dari 3 bentuk, yaitu fungsional, interaktif, dan kritikal. Tingkat literasi gizi yang rendah pada ibu balita dapat berdampak pada praktik pemberian makan yang keliru kepada anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran literasi gizi pada ibu balita, dan mengetahui perbedaan proporsi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pentingnya dilakukan pengukuran literasi gizi pada ibu balita agar dapat diketahui tipe intervensi terkait gizi apa yang cocok dilakukan untuk sasaran di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan dengan cara door-to-door membagikan kuesioner ke rumah-rumah ibu balita yang dibantu oleh ibu kader. Jumlah responden yang didapatkan adalah 100 responden, yang tersebar di 3 kelurahan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi gizi responden secara umum masih kurang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan literasi gizi kritikal bermakna berdasarkan tingkat pendapatan keluarga, dengan nilai p=0,004 dan nilai OR=3,42.

Nutritional literacy level describes the degree of capacity to acquire, process, and understand basic nutrition information. Nutrition literacy consists of 3 forms, namely functional, interactive, and critical. Low nutritional literacy rates in underfive mothers can have an impact on the erroneous feeding practices. This study aims to measure nutritional literacy in pre school children mothers, and to know the difference in the proportion of factors that influence it. The importance of measuring nutritional literacy in underfive mothers is to know what type of nutrition related intervention is appropriate for the target in the study sites. This research is done with quantitative approach and cross sectional design. The research was done by door to door distributing questionnaires to the homes of mother to mother assisted by mothers cadres. The number of respondents obtained is 100 respondents, spread over 3 different urban villages. The result of the research shows that the level of nutritional literacy of respondents in general is still less. The results showed that there was significant critical nutritional literacy difference based on family income level, with p value 0,004 and OR 3,42. "
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sahar Salim Saleh Alatas
"Pedikulosis kapitis sering dijumpai di lingkungan padat penghuni seperti di pesantren. Pengobatan pedikulosis mudah dilakukan, tetapi reinfeksi mudah terjadi jika setelah pengobatan tidak diikuti dengan perilaku hidup bersih sehat (PHBS). Agar dapat melakukan PHBS dengan baik dan benar diperlukan survei pengetahuan terlebih dahulu sehingga jika tingkat pengetahuan kurang dapat diberikan penyuluhan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan santri mengenai pedikulosis kapitis dengan karakteristik demografinya (usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan). Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan metode total populasi berupa pengisian kuesioner yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2011 dengan jumlah sampel 151 santri. Data diolah dengan program SPSS versi 11,5. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat santri yang memiliki tingkat pengetahuan baik, 9,9% santri memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 90,1% santri memiliki pengetahuan kurang. Pada uji chi-square, terdapat perbedaan bermakna antara pengetahuan santri dengan jenis kelamin (p=0,019), tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna antara pengetahuan santri dengan usia (p=0,566) dan tingkat pendidikan (p=0,806). Disimpulkan tingkat pengetahuan santri tergolong kurang dan berhubungan dengan jenis kelamin tetapi tidak berhubungan usia dan tingkat pendidikan.

Pediculosis capitis is often found in a crowded environment such as in boarding school. Eradication of pediculosis capitis is easy, however reinfection easily occurs if treatment is not followed by healthy living habit. A survey to determine the knowledge level is needed; if the level is low, health promotion can be given. This study aims to find the relationship between students? knowledge on pediculosis capitis and their demography characteristic (age, sex, and grade of study). This cross-sectional study with total population method was conducted on January 22nd, 2011 by giving questionnaires to all 151 students of X islamic boarding school, East Jakarta. Data from questionnaires were analyzed using SPSS version 11,5. The result showed that no student had good knowledge, 9,9% had fair knowledge, and 90,1% had poor knowledge. Based on chi-square test, there was significant difference between the knowledge level of characteristics and symptoms of pediculosis capitis and sex (p=0,019), but there were no significant differences between the knowledge level and age (p=0,566) and the knowledge level and grade of study (p=0,806). It was concluded that the students? knowledge about pediculosis capitis was poor, was associated with sex but not associated with age and study grade."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Aris Furqon
"Salah satu cara untuk mencapai poin keempat Millenium Development Goals (MDGs) adalah dengan imunisasi dasar.1 Program Imunisasi dasar di Indonesia terdiri dari lima jenis imunisasi yaitu BCG, polio, DPT, hepatitis B, dan campak. Jakarta Timur dipilih sebagai tempat Penelitian karena pada tahun 2007 dilaporkan banyak terjadi serangan pertusis dan campak2 yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi dasar. Data yang diambil pada 1 Maret 2011 sampai 1 Juli 2011 menunjukkan bahwa dari 2397 responden yang berhasil diwawancarai terdapat 372 responden yang memiliki anak usia sembilan bulan sampai lima tahun. Dari 372 responden yang memiliki anak balita tersebut hanya ada 50 (13,4%) responden yang imunisasinya lengkap. Imunisasi yang paling sering diberikan dengan tidak lengkap adalah hepatitis B yaitu 259 (69,6%) responden yang memberikannya secara tidak lengkap. Sedangkan yang paling sering diberikan secara lengkap adalah BCG dengan 354 (95,2%) responden yang memberikannya dengan lengkap. Dari uji statistik chi-square, tidak terbukti adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan formal ibu (p=0,270), kepala keluarga (p=0,344), dan kepemilikan KMS (p=0,087) terhadap kelengkapan imunisasi anaknya.

A way to achieve fourth Millenium Development Goals (MDGs) is basic immunization.1 National immunization program in Indonesia consist of five immunization such as BCG, DPT, polio, hepatitis B, and measles. East Jakarta was chosen to become my research field because of the data from Jakarta Health Profile from 2007 show some diseases which could be avoided if the basic immunization is complete, such as pertusis and measles,2 became prevalent there. Data were taken between March 1st to July 1st 20011 at East Jakarta show that there were 372 respondent among 2397 respondent which had child between nine month to five year old child. From 372 respondent which had under five child only 50 (13,4%) under five child which the immunization status wasf full. The most frequent missed immunization was haptitis B which is 259 (69,6%) child. The most frequent immunization which was given appropriately is BCG with 354 (95,2%) child. With chi-squared,there are no significant relation between mother education (p=0,270), head of family education (p=0,344), and health card owning status (p=0,087) with basic immunization coverage.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nindya Savitri
"ABSTRAK
Latar belakang. Menurut SDKI 2007 Angka Kematian Ibu 228/100.000 KH dan Angka Kematian Bayi 34/1000 KH, sementara target MDG?s adalah 102/100.000 KH dan 23/1.000 KH. Untuk mempercepat target MDG?s maka diluncurkanlah program Jampersal untuk mengatasi keterbatasan akses dan ketidaktersediaan biaya sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan Menteri Kesehatan Nomor TU/Menkes/E/391/11/2011 tentang Jaminan Persalinan tanggal 22 Februari 2011.
Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana implementasi kebijakan jampersal di 3 puskesmas DKI Jakarta tahun 2012 berdasarkan variabel komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.
Metode. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dan dilaksanakan pada bulan Juni - Juli 2013 di 3 Puskesmas DKI Jakarta dengan jumlah informan sebanyak 11 orang.
Hasil. Hasil analisa yang didapat menunjukkan bahwa implementasi kebijakan belum berjalan semaksimal mungkin. Angka kematian ibu yang masih tinggi dan alokasi dana yang tidak terserap kemungkinan disebabkan oleh keempat variabel tersebut, sehingga masih perlu adanya tindak lanjut baik dari pemerintah, pemda, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota serta puskesmas.

ABSTRACT
Background. According to the IDHS 2007 Maternal Mortality 228/100.000 lb and Infant Mortality 34/100.000 lb, whilw the MDG?s is 102/100.000 lb and 23/100.000 lb. To accelerate the MDG?s target Jampersal program was launched to address the limitations of access and unavaiability costs in accordance with their circulair issued by the Minister of Health No. TU/Menkes/E/291/11/2011 on Delivery Guarantee dated February 22, 2011.
Puspose. The purpose of this study to determine the extend of policy implemtation Jampersal in 3 health center DKI Jakarta in 2012 based on the communication, resources, disposition and bureaucratic structures variables.
Method. This research is qualitative and held in June-July 2013 in the 3 health centers DKI Jakarta by the number of informants as many as 11 peoples.
Results. Analysis results obtained show that the implementation of the policy has not been running as much as possible. Maternal mortality rates are still high and the allocation of funds that is not absorbed is probably caused by the four variables, so it is still the need for better follow-up of the goverment, local goberment, Province health offices and district health offices and community health center.
"
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>