Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 100562 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Margaretha T. Kuera
2008
T37627
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rabi`atul Aprianti
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi cognitive behavior therapy (CBT) terhadap penurunan kecemasan dalam interaksi sosial pada siswa korban bullying. Partisipan penelitian ialah seorang siswa laki-laki yang sedang duduk di kelas X SMA dan memiliki riwayat sebagai korban bullying sejak kelas 2 SD hingga kelas VII MTs. Eksperimen dilakukan dengan desain single-case experimental, secara khusus desain AB. Hipotesis yang diajukan ialah terdapat perbedaan kecemasan dalam interaksi sosial pada siswa korban bullying sebelum dan setelah diberikan intervensi CBT. Analisis data menggunakan analisis visual dengan data grafik dan analisis kualitatif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa CBT memberikan pengaruh terhadap kecemasan dalam interaksi sosial pada siswa korban bullying.

This research aims to know the effectiveness of cognitive behavior therapy to reduce anxiety in doing social interaction in bullying victim student. Subject of this research is a first grade high school student (boy) who has experienced bullying as a victim in second grade of elementary school until first grade of junior high school. Experiment is done by single-case experimental design, especially AB design. Hypothesis in this research is there will be an effect of cognitive behavior therapy to anxiety in doing social interaction. Visual inspection by data graph is used as data analysis combined with qualitative analysis. The findings show that cognitive behavior therapy gives an effect to the anxiety in doing social interaction on bullying victim student."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2017
T48397
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maha Decha Dwi Putri
"Kecemasan adalah suatu perasaan gelisah atau ketakutan terhadap sesuatu yang dapat dialami oleh semua individu, termasuk diantaranya lanjut usia. Pada lansia, kecemasan dapat disebabkan oleh perubahan kondisi fisik yaitu kondisi geriatrik, perubahan psikologis yaitu perubahan fungsi kognitif, perkembangan temprament individu, dan perubahan lingkungan seperti kemiskinan, seringnya terjadi kekerasan, pola adaptasi yang gagal, serta peristiwa hidup yang negatif. Kecemasan pada lansia dapat menyebabkan munculnya beberapa penyakit, diantaranya penyakit jantung, hipertensi, hingga berujung pada kematian.
Fenomena kecemasan ini cukup sering ditemui di usia lanjut. Di Indonesia, fenomena ini sering ditemui di beberapa kota dengan tingkat populasi lansia yang tinggi seperti di Kota Depok. Penelitian ini berusaha menjawab fenomena yang ada dengan memberikan intervensi psikologis kepada lansia yang berdomisi di Depok. Intervensi ini merupakan intervensi kelompok cognitive behavioral therapy (CBT) yang diberikan kepada 5 orang partisipan. Pegukuran dilakukan pada saat pra-intervensi dan pasca-intervensi untuk mengetahui perubahan tingkat kecemasan yang jelas pada masing-masing partisipan. Kelima partisipan yang mengikuti intervensi ini mengalami penurunan tingkat kecemasan yang diukur menggunakan skala PSWQ (Penn State Worry Questionaire) dan STAI (State Trait Anxiety Inventory). Penurunan pada kelima partisipan bervariasi tergantung dari masalah dan ketaatan partisipan saat mengikuti intervensi.
Kelima partisipan telah mengikuti teknik-teknik yang sudah diberikan selama proses intervensi seperti mengenali gejala, reaksi tubuh dan dampak cemas, membuat dan mengevaluasi rencana kegiatan, mengenali pikiran negatif, merekonstruksi pikiran negatif, mencari solusi dari masalah, dan berlatih relaksasi. Keberhasilan penelitian tergantung dari motivasi untuk sembuh, kepatuhan dalam mengikuti intervensi dan keinginan untuk melakukan teknik-teknik yang sudah diberikan selama intervensi.

Anxiety can be defined as a feeling of discouraged or frightened about something, occur in human beings, as well as to the old ages. For older people, anxiety can be caused by the changing of their physical condition e.g. geriatric condition, the changing of psychological condition e.g. the change of cognitive function, individual temperament development, the changing of their surroundings e.g. poverty, violence, the failure of adaptation pattern, and the negative side of life. Anxiety for the old ages may lead to some diseases such as coronary heart disease, high blood pressure which could lead them to death.
This anxiety phenomenon often appears in the old ages. In Indonesia, this phenomenon can be found in some cities with high population of the old ages such as in Depok. This research was trying to figure out the answer by giving a psychological intervention for old aged individual living in Depok. The intervention was group cognitive behavioral therapy (CBT) given to 5 participants. The measurement was done at pre intervention and post intervention to find the changing of anxiety level of each participant.
All participants who joined this intervention experienced decrease of anxiety level which was measured by PSWQ scale (Penn State Worry Questionnaire) and STAI (State Trait Anxiety Inventory). Various result was found depends on problems and the obediency of the participant during the intervention. The success of this research may be influenced the motivation of healing, obedient, and willingness to do the techniques given by participants.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T31084
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yomi Novitasari
"Kecemasan merupakan kondisi yang dapat dialami banyak orang. Namun kecemasan yang berlebihan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari seseorang. Gangguan kecemasan pada anak yang tidak ditangani dengan efektif dapat membuat anak rentan terhadap masalah dalam fungsi kehidupannya dan mempengaruhi perkembangan emosinya. Tesis ini memiliki desain penelitian single case dan menerapkan bentuk intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk menurunkan kecemasan pada anak. Partisipan penelitian adalah anak perempuan berusia 9 tahun yang mengalami kecemasan pada sejumlah hal, antara lain cemas menyeberang jalan, pergi ke sekolah dan di rumah atau di kamar mandi sendirian. Sesi terapi dilakukan sebanyak dua belas kali selama lebih kurang 45 - 80 menit setiap sesinya. Pengukuran efektivitas terapi ini dilakukan menggunakan alat ukur SCARED (Screen for Child Anxiety Related Emotional Disorders), FSSC-R (Fear Survey Schedulle for Children - Revised), dan CBCL (Child Behavior Checklist). Hasil dari terapi ini adalah CBT tidak efektif untuk menurunkan kecemasan partisipan. Hal ini terlihat dari masih adanya indikasi gangguan kecemasan yang diukur menggunakan SCARED dan FSSC-R.

Anxiety is a common emotional condition in human life. Unfortunately, when the anxiety becomes too intense, it can impair people daily activities. Failure to intervene anxiety disorder in children with effective treatment may render the child vulnerable to impairments in a wide range of functioning and result in deleterious effect on his or her long-term emotional development. This thesis uses a single case research design and applies the Cognitive Behavior Therapy (CBT) in order to reduce anxiety in middle age children. The research participant is a nine-year old girl having anxiety in several things, such as crossing the street, going to school and staying in home or toilet alone. Therapy is conducted through 12, 45-80 minute sessions. This therapy effectivity is assessed by SCARED (Screen for Child Anxiety Related Emotional Disorders), FSSC-R (Fear Survey Schedulle for Children - Revised), and CBCL (Child Behavior Checklist).The results of this therapy is an ineffective CBT to reduce the child's anxiety. The child has not experienced reduced scores in SCARED and FSSC-R. This indicated that she still has anxiety disorder."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
T32571
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadiva Addina
"ABSTRAK
Salah satu gangguan kejiwaan yang paling parah adalah skizofrenia.
Penderita skizofrenia biasanya menarik diri dari masyarakat dan realita, mereka
hidup dalam fantasinya sendiri yang dipenuhi delusi dan halusinasi (Davison &
Neale, 1998). Menurut Long (1995), penderita skizofrenia mengalami gangguan
di banyak area, seperti pada persepsi, pikiran dan atensi, tingkah laku motorik,
emosi dan fungsinya dalam hidup.
Long (1995) menyatakan bahwa schizoprhenia meliputi perubahan pada
kemampuan dan kepribadian sehingga biasanya keluarga dan teman-temannya
menyadari bahwa orang terseb-jt berbeda dari biasanya. Keberadaan seorang
penderita skizofrenia dalam keluarga dapat menyebabkan masalah finansial,
mempengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan anggota keluarga lainnya, serta
masalah emosional terutama pada saat penderita tersebut relapse (Gottesman,
1991). Adanya anak yang bermasalah dalam keluarga akan menyebabkan
seorang ibu akan menjadi lebih posesif, over control, restriktif dan intrusive
(Page, 1971). Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran mengenai
proses dan bentuk coping ibu yang memiliki anak penderita skizofrenia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan
data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi. Penelitian
dilakukan terhadap tiga orang ibu yang memiliki anak penderita skizofrenia yang
saat ini tinggal di Jakarta. Kriteria anak tersebut telah didiagnosa oleh dokter atau
psikiater, jenis kelamin tidak dibatasi, berusia antara 20 - 40 tahun dan masih
berada sibawah pengawasan ahli.
Dari hasil penelitian teriihat bahwa ketiga ibu tersebut mengalami stres
karena memiliki anak penderita skizofrenia. Keadaan yang dialami ketiga ibu
menimbulkan masalah-masalah, seperti kekhawatiran terhadap perubahan diri
dan perilaku, serta masa depan anak dan masalah biaya perawatan. Selain itu
terdapat masala-masalah lain yang dialami ibu-ibu tersebut. Qua orang subyek
tidak mendapatkan dukungan penuh dari suaminya, sedangkan suami salah
seorang subyek pernah menderita penyakit yang cukup parah dan cucu yang
dirawatnya mengalami gangguan motorik. Ketiga Ibu tersebut berusaha
menemukan coping yang tepat untuk menghadapl keadaan yang dialamlnya.
Strategi coping tersebut antara lain adalah accepting responsibility, emotionfocused
behavioral coping, escape-avoidance, emotion-focused cognitive coping,
planful problem solving, positive reappraisal, problem-focused behaworal coping,
seeking social support, dan self control. Temuan lain dalam penelitian Inl adalah pengamh ayah terhadap
perkembangan psikologis anak, pentingnya infomnasi mengenai skizofrenia bag!
keluarga penderita dan juga seluruh masyarakat, dan juga pengaruh lingkungan
sebagai pemicu timbulnya skizofrenia. Selain itu diketahui bahwa obat-obatan
terlarang juga dapat menjadi salah pemicu berkembangnya skizofrenia. Hal lain
adalah bahwa dukungan pasangan pada penderita skizofrenia yang sudah
menikah mempengaruhi perkembangan psikologis dan keutuhan rumah tangga
penderita.
Beberapa saran praktis yang didapat dari penelitian ini adalah
pengenalan dan pemasyarakatan skizofrenia di masyarakat agar masyarakat
lebih memahami dan tidak berpandangan negatif terhadap penderita itu sendiri
dan keluarganya. Juga diharapkan keluarganya tidak menutup diri dan malu
karena keadaan penderita, sehingga perkembangan keadaan penderita dapat
menjadi lebih baik dan kembali bersosialisasi dengan masyarakat."
2002
S2823
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Sofiah
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2000
S2985
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Zakiatus Solikhah
"Perkelahian pelajar atau yang sering dl sebut tawuran merupakan salah satu bentuk kenakalan pelajar yang ada sejak tahun 70-an. Masalah tawuran sekarang ini telah berkembang menjadi iebih kompleks ditandai dengan peningkatan yang terjadi balk secara kualitas maupun kuantitas. Kegagalan program yang dilakukan selama ini disebabkan adanya fokus penanganan pada individu pelajar yang dianggap bermasalah karena terlibat tawuran. Melihat kenyataan di lapangan bahwa tawuran merupakan bentuk perilaku kelompok yang memiliki dinamika berbeda dengan perilaku individu. Berdasar asumsi diatas telah dilakukan penelitian lapangan yang dilakukan Winarini Mansoer (1998). Penelitian tersebut menjadi dasar bagi Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan Tawuran Depdikbud untuk mengevaluasi dan mencari strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tawuran. Untuk memberi gambaran komprehensif, penelitian ini akan melihat pelajar yang terlibat dan tidak terlibat tawuran. Bagaimana mereka memandang identitas sosialnya berkaitan dengan sekolahnya sebagai "Sekolah Tawuran ", alasan apa yang mendorong mereka terlibat atau tidak terlibat tawuran. Penelitian ini juga akan melihat bagaimana pelajar yang tidak terlibat tawuran dapat tetap menghindarkan dari keterlibatan dalam tawuran. Hasil ini diharapkan akan memberi masukan yang konkret untuk mengatasi tawuran berdasarkan pengalaman dari pelajar yang tidak terlibat tawuran.
Menurut Morse (1996), penelitian kualitatif dapat digabung pendekatan kuantitatif dengan melihat frekuensi subyek yang menjawab. Penelitian ini dilakukan dengan 40 subyek dari 4 SLTA yang pelajarnya memiliki tradisi tawuran, yaitu 3 SLTA yang ada di kawasan Budi Utomo dan 1 SMU yang merupakan "musuhnya". Teknik pengambilan sampling menggunakan Purposive Sampling dengan Incidental Sampling, sekolah dan subyek dipilih dengan kriiteria tertentu dan melihat ketermudahan subyek yang ditemui dan memenuhi kriteria. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah Wawancara Semi Terstruktur yang dilengkapi dengan observasi tidak terstruktur perilaku pelajar dalam Basis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pandangan stereotipe yang berkaitan dengan tawuran yang diakui pelajar yang terlibat dan tidak terlibat tawuran di sekolah-sekolah Boedoet. Hasil ini dipertegas dengan pandangan yang same pada sekolah "musuh". Hanya bedanya, pelajar yang terlibat tawuran menganggap stereotipe itu sebagai bagian dari keanggotaannya dalam sekolah Boedoet. Sedangkan pelajar yang tidak tawuran menganggap mereka berhak tidak ikut tawuran, walaupun mereka mengakui bagian dari sekolah yang memiliki Identitas sebagai "Sekolah Tawuran". Semua pelajar dalam penelitian ini mengakui adanya kecemasan adanya rasa aman yang terancam selama berangkat dan pulang sekolah. Untuk mendapatkan rasa aman tersebut, sebagian pelajar memilih ikut Basis dan sebagian dengan menghindari Basis. Alasan pelajar tergabung dalam Basis untuk mendapatkan rasa aman, rasa kebersamaan, rasa solidaritas ke teman, adanya keinginan menjaga dan meneruskan tradisi Basis, dan mencari teman. Alasan mereka terlibat tawuran adalah karena diserang "musuh", membela nama baik sekolah dan rasa solider dengan teman. Alasan pelajar tidak terlibat tawuran adalah adanya keyakinan pribadi yang kuat bahwa tawuran tidak baik, menyusahkan diri dan OT. Adanya pengalaman traumatis, kontrol dari orang tua, dan jarak rumah dekat dapat mendukung pelajar tetap tidak terlibat tawuran. Pelajar yang tidak tawuran intinya karena mereka menyakini tawuran sebagai sesuatu yang negatif dan mendorong mereka menghindari tawuran dengan berbagai strategi yang berbeda pada tiap pelajar disesuaikan dengan kondisi mereka saat itu. Beberapa kelompok sosial yang menjadi pendukung mereka adalah OT, OSIS, Rohis, teman bermain dan klub olah raga. Faktor lain yang mendukung pelajar terlibat atau tidak terlibat tawuran adalah ada tidaknya kegiatan pada jam rawan tawuran.
Studi ini sebaiknya dijadikan dasar untuk melakukan studi kuantitaif pada banyak pelajar yang tidak terlibat tawuran di sekolah yang pelajarnya memiliki tradisi tawuran. Sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan untuk pelajar yang tidak terlibat tawuran di sekolah-sekolah yang memiliki tradisi tawuran. Melihat kuatnya persepsi pelajar tentang rasa aman yang terancam selama perjalanan berangkat dan pulang sekolah, dan melihat kuatnya keyakinan pelajar yang tidak terlibat tawuran tentang efek negatif tawuran, perlu kiranya segera dilakukan pelatihan untuk megubah pemikiran kognitif pelajar yang tawuran. Melihat karakteristik pelajar yang dekat dengan Basis, alangkah baiknya kegiatan tersebut melibatkan Basis sebagai kelompok sosial pelajar. Untuk membantu program penanggulangan yang dilakukan, perlu dilakukan penelitian tentang motivasi keterlibatan alumni yang dari penelitian ini sangat berperan melestarikan tradisi tawuran di sekolah Budi Utomo. Dengan melibatkan mereka dan mengetahui proses dokrinasi yang dilakukannya, akan membantu untuk mengurangi dan mencegah tawuran. Mengingat makin kompleknya masalah tawuran, semua penanggulangan tawuran tidak akan berhasil tanpa kerjasama semua pihak yang terkait."
Depok: Universitas Indonesia, 1999
S2692
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eunike Mutiara
"ABSTRAK
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering dialami
lanjut usia di Indonesia. Mereka yang menderita diabetes tidak hanya memiliki
masalah dalam hal fisik, namun juga bermasalah secara psikologis. Kondisi fisik
yang lemah memiliki korelasi dengan tingkat harapan (hope) pada individu.
Harapan yang rendah berdampak pada rendahnya kebahagiaan serta kesejahteraan
hidup. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menguji efektivitas cognitivebehavioral
therapy (CBT) dalam meningkatkan harapan pada lanjut usia yang
menderita diabetes melitus.
Penelitian dilakukan di Panti Werdha Bina Bhakti, Serpong, Tangerang.
Desain penelitian berupa kuasi eksperimen dengan desain pretest-posttest dan
within-subjects, dengan jumlah partisipan sebanyak tiga orang (berusia 65 sampai
85 tahun). Dari hasil penelitian, dua dari tiga partisipan mengalami peningkatan
untuk skor harapan dan disertai dengan penurunan kadar gula dalam darah.
Peningkatan harapan ini diwujudkan dengan kepatuhan (adherence) terhadap
aturan medis yaitu pengontrolan konsumsi makanan yang mengandung glukosa.
Disamping itu, peningkatan harapan juga diwujudkan dengan perasaan yang
tenang dan bahagia, serta merasa diperhatikan dan dipedulikan. Kondisi tersebut
juga dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan kadar gula dalam darah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa CBT cenderung efektif dalam
meningkatkan harapan pada lanjut usia yang menderita diabetes melitus.

ABSTRACT
Diabetes mellitus is one of the most common chronic disease suffered by the
elderly in Indonesia. Those who suffered from diabetes are not only physically
impaired, but psychologically impaired as well. Weak physical condition has a
correlation with the level of individual hope. Low level of hope has an impact on
the low level of well being. The aim of this research was to measure the
effectiveness of cognitive-behavioral therapy (CBT) in enhancing hope for older
adults who suffered from diabetes melitus.
The research was conducted in Panti Werdha Bina Bhakti, Serpong,
Tangerang. Research design was made in the form of quasi experiment with
pretest-posttest and within-subjects design, and with the three participants (aged
65 to 85 years). From the research, two out of three participants increased their
level of hope and decreased their sugar levels in blood. This increasing level of
hope was manifested with the adherence of medical rules in controlling food
consumption containing glucose. Besides that, the higher hope was also
manifested with a calm and happy feeling, and also feel cared for. Such conditions
could give a contribution to the decreased sugar levels in blood. Thus, it could be
concluded that CBT tends to be effective in increasing the level of hope for older
adults who suffered from diabetes mellitus."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
T35895
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Astiliani
"ABSTRAK
Keterikatan karyawan terhadap perusahaan sangat diperlukan bagi perusahaan
untuk dapat tetap bertahan pada dunia usaha saat ini yang telah mengalami
perkembangan dan perubahan yang semakin cepat. Rendahnya keterikatan organisasi
pada karyawan dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan, yaitu tingginya
tingkat absensi dan pergantian karyawan (turnover). Namun di pihak lain, tingginya
keterikatan karyawan terhadap perusahaannya dapat membawa dampak negatif bagi
karyawan terutama yang telah berkeluarga.
Waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk perusahaan akan mengurangi
interaksi individu dengan keluarganya, sehingga individu tidak sepenuhnya dapat
memenuhi peran di dalam keluarganya. Hal ini terutama dialami olah pasangan bekerja
yang memiliki anak usia balita. Kesulitan yang dihadapi pasangan bekerja tidak hanya
terbatas pada pengurusan anak yang masih membutuhkan perhatian yang besar dari
kedua orang tua, tetapi terbatasnya waktu yang diluangkan bagi pasangannya dan
dalam penyelesain tugas-tugas rumah tangga.
Beberapa penelitian di negara Barat menunjukkan bahwa peran dalam keluarga
berhubungan dengan perkembangan keterikatan organisasi seseorang. Suatu penelitian
yang dilakukan terhadap karyawan yang memiliki anak usia balita menyatakan bahwa
tingginya keterlibatan peran dalam keluarga berhubungan dengan tingginya keterikatan
organisasi karyawan. Namun, terdapat pula penelitian yang menunjukkan bahwa
rendahnya keterlibatan diri seseorang terhadap perannya di dalam keluarga
berhubungan dengan tingginya keterikatan organisasi seseorang.
Dapat terlihat bahwa masih terdapat hasil yang kontradiksi dari penelitian-
penelitian tersebut. Berdasarkan hal ini, maka pada penelitian ini ingin diketahui lebih
jelas hubungan antara peran dalam keluarga dan keterikatan organisasi pada pria dan
wanita bekerja yang memiliki anak usia balita, khususnya di Jakarta. Penelitian ini
menggunakan pengumpul data berupa kuesioner yang terdiri dari dua alat ukur yang
telah diadaptasi, yaitu Life Role Salience Scale dari Amatea et al. dan Commitment
Organization Scale dari Allen dan Meyer. Subyek dalam penelitian ini adalah pria dan wanita yang merupakan suami istri bekerja, memiliki anak usia balita,
berpendidikan minimal D3, dan telah bekerja di perusahaan minimal 15 bulan.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signikan antara peran dalam keluarga dan keterikatan organisasi. Pada subyek
wanita menunjukkan hubungan yang positif dan keterikatan yang tidak
berhubungan dengan peran dalam keluarga adalah keterikatan afektif. Sedangkan
pada pria, hubungan yang terjadi adalah hubungan negatif dan keterikatan yang
tidak berhubungan dengan peran dalam keluarga adalah keterikatan
kesinambungan.
Hasil tambahan menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada tingkat keterikatan organisasi. Namun berdasarkan komponennya,
hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat
keterikatan afektif dan normatif antara pria dan wanita. Dalam hal keterlibatan
terhadap peran dalam keluarga, pria dan wanita menunjukkan skor yang berbeda
secara signifikan pada peran dalam keluarga dan dalam dimensi peran sebagai
orang tua dan pengurus rumah tangga. Selain itu hasil menunjukkan bahwa pada
wanita terdapat perbedaan tingkat keterikatan organisasi dan komponen
kesinambungan berdasarkan jumlah pengeluaran. Hal ini tidak berbeda dengan
pria, bahwa terdapat perbedaan skor rata-rata yang signiilkan pada keterikatan
organisasi serta pada komponen afektif dan normatif berdasarkan jumlah
pengeluaran untuk rnemenuhi kebutuhan anak dan keluarga. Hasil juga
menunjukkan bahwa semakin besar gaji yang diterima oleh pria bekerja, maka
semakin tinggi keterikatan organisasi, terutama keterikatan kesinambungannya"
1998
S2675
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>