Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 63897 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mandagi, Michael
"Latar belakang. Komplikasi paru pascaoperasi merupakan salah satu penyebab penting morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang berkaitan dengan anestesia dan pembedahan. Pengaturan ventilasi mekanis berpengaruh terhadap munculnya komplikasi paru pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh volume tidal 6 mL/kg dan 10 mL/kg dengan menggunakan PEEP 6 cmH2O terhadap penanda fungsi paru yaitu PaO2/FiO2.
Metode. Penelitian ini bersifat uji klinis acak senter tunggal terhadap pasien yang menjalani operasi abdominal mayor elektif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan November 2014 sampai April 2015. Sebanyak 52 subyek diambil dengan metode consecutive sampling. Subyek diacak dalam 2 kelompok yaitu kelompok yang medapat volume tidal 6 mL/kg dengan PEEP 6 cmH2O dan volume tidal 10 mL/kg dengan PEEP 6 cmH2O. Keluaran primer adalah pemeriksaan fungsi paru menggunakan rasio PaO2/FiO2. Keluaran sekunder adalah komplikasi paru (pneumonia, atelektasis, ARDS, gagal napas), komplikasi ekstraparu (SIRS, sepsis, sepsis berat), dan mortalitas dalam 28 hari pascaoperatif.
Hasil. Kedua grup memiliki karakteristik dasar dan intraoperatif yang sama. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna rasio PaO2/FiO2 antara kelompok VT-6 mL/kg dengan VT-10 mL/kg, baik pada awal operasi (p=0,14), akhir operasi (p=0,44), hari pertama pascaoperasi (p=0,23), dan hari kedua pascaoperasi (p=0,39). Tidak ada perbedaan bermakna keluaran sekunder berupa kompikasi paru sampai hari ke-7 pascaoperasi, ekstraparu sampai hari ke-7 pascaoperasi, dan mortalitas dalam 28 hari pascaoperasi antara kedua kelompok.
Simpulan. Volume tidal-6 sampai volume tidal-10 dengan PEEP6 cmH2O aman untuk dipakai pada pasien yang menjalani operasi abdominal mayor.

Background. Postoperative pulmonary complications are one of the important causes of postoperative morbidity and mortality associated with anesthesia and surgery. Mechanical ventilation settings influence the emergence of postoperative pulmonary complications. The aim of this study is to investigate the influence of tidal volume 6 mL/kgBW and 10 mL/kgBW with PEEP 6cmH2O to pulmonary function which is measured by the ratio of PaO2 / FiO2.
Methods. This study is a single center randomized clinical trial on patients undergoing elective major abdominal surgery at Cipto Mangunkusumo Hospital in November 2014 to April 2015. A total of 52 subjects were taken with consecutive sampling method. The subjects were randomized into two groups: the group receiving tidal volume 6 mL/kgBW with PEEP 6 cmH2O and the group receiving tidal volume of 10 mL/kgBW with PEEP 6 cmH2O. The primary output is the assessment of pulmonary function using the ratio of PaO2/FiO2. Secondary outputs are pulmonary complications (pneumonia, atelectasis, ARDS, respiratory failure), extrapulmonary complications (SIRS, sepsis, severe sepsis), and mortality within 28 days postoperative.
Results. The two intervention groups had similar characteristics at baseline. There are no significant PaO2 / FiO2 ratio differences between the VT - 6 mL/kgBB with VT - 10 mL/kgBB, at the start of the operation (p=0,14), the end of surgery (p=0.44), the first postoperative day (p=0,23), and the second postoperative day (p=0,39) . There is no significant difference in the secondary outcomes in form of pulmonary complications until postoperative day 7, extrapulmonary complications until postoperative day 7, and in 28-days postoperative mortality between the two groups.
Conclusions : Tidal volume of 6 to 10 mL/kg with PEEP 6 cmH2O are safe for use in patients undergoing major abdominal surgery."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Putu Lokita Pradnyana Putra
"Latar belakang : Perdarahan merupakan salah satu komplikasi tersering pascaoperasi katup jantung. Asam traneksamat merupakan golongan antifibrinolitik umum yang digunakan untuk menurunkan jumlah perdarahan pascaoperasi katup jantung. Secara teori, rute pemberian topikal mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan secara sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi asam traneksamat topikal terhadap jumlah perdarahan dan kebutuhan transfusi darah pascaoperasi katup jantung. 
Metode : Penelitian ini bersifat uji klinis acak terkendali tersamar ganda. Pasien dibagi menjadi kedua kelompok dengan jumlah yang sama, kelompok plasebo (n = 22) dan kelompok perlakuan dengan asam traneksamat (n = 22). Pada kelompok perlakuan, sebanyak 5 gram asam traneksamat dilarutkan dalam 50 mL NaCL 0,9% dan diberikan pada saat mesin jantung paru dihentikan dan saat penutupan sternum. Uji normalitas data dianalisa menggunakan uji Saphiro Wilk, sementara untuk hasil keluaran klinis dan kebutuhan transfusi pascaoperasi menggunakan uji T independen dan Uji Mann Whitney. 
Hasil: Dari penelitian ini didapatkan jumlah perdarahan inisial pascaoperasi kelompok perlakuan lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok plasebo, namun secara statistik tidak bermakna. (kelompok perlakuan 52,5 (5-230) vs kelompok plasebo (37,5 (10-160), p = 0,301). Secara keseluruhan, pada kelompok perlakuan, total jumlah perdarahan 48 jam pascaoperasi lebih sedikit dibandingkan kelompok plasebo (p = 0,438). Kebutuhan transfusi PRC pascaoperasi kelompok perlakuan lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok plasebo, namun secara statistik tidak bermakna (kelompok perlakuan 481,82 ± 372,51 vs kelompok plasebo 543,27 ± 421,11, p = 0,611). Kelompok plasebo merupakan kelompok dengan jumlah kebutuhan transfusi FFP dan trombosit terbanyak (TC p = 0 ,750; FFP p = 0,434). Kebutuhan transfusi kriopresipitat pada kelompok perlakuan lebih banyak dibandingkan dengan kelompok plasebo (median kelompok perlakuan 0 (0-327) vs median kelompok plasebo 0 (0-192), p = 0,962). 
Simpulan: Pada penelitian ini, aplikasi asam traneksamat topikal tidak memberikan efek yang bermakna dibandingkan plasebo dalam menurunkan jumlah perdarahan dan kebutuhan transfusi pascaoperasi katup jantung. 

Background: Postoperative bleeding is one of the significant complications in heart valve surgery. Tranexamic acid is a well-known antifibrinolytic drug to reduce postoperative blood loss. Theoretically, the topical application of tranexamic acid provides a better effect than systemic application. This study aims to examine the effect of the topical tranexamic acid application on postoperative bleeding and blood product transfusion after heart valve surgery.
Method: This study was a double-blinded, placebo-controlled, randomized clinical trial. Samples were divided equally into two main groups, the placebo group (n = 22) and the tranexamic acid group (n = 22). Five grams of tranexamic acid were diluted in 50 mL of 0.9% NaCL and was administered after CPB and before sternum closure. The Saphiro-Wilk test was used for analyzing data normality, while clinical outcome and transfusion requirements data were evaluated by the Independent T-test and Mann-Whitney test. 
Result: The initial amount of postoperative bleeding in the tranexamic acid group is greater in comparison of placebo group, however it shows no statistical significance (tranexamic acid 52.5 (5-230) vs. placebo (37.5 (10-160), p = 0.301). Overall, the total of postoperative bleeding within the first 48-hour in the tranexamic acid group is fewer than the placebo group (p = 0.438). PRC transfusion required in the tranexamic acid group is fewer than the placebo group but shows no significance (tranexamic acid 481.82 ± 372.51 vs. placebo 543.27 ± 421.11, p = 0.611). It was found that the placebo group requires the most FFP and thrombocyte transfusion count (TC p = 0 .750; FFP p = 0.434). The need for cryoprecipitate transfusion in the tranexamic acid group is greater than the placebo group (tranexamic acid median 0 (0-327) vs. placebo median 0 (0-192), p = 0.962). 
Conclusion: In this study, the topical tranexamic acid application does not provide significant results compared to placebo group in reducing both postoperative bleeding and blood product transfusion after heart valve surgery.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Qudsiddik Unggul Putranto
"Latar Belakang : Pasien yang menjalani operasi koreksi skoliosis pascaoperasi di RSCMmendapatkan lama ventilasi mekanik pascaoperasi yang beragam. Pemakaian ventilasimekanik pascaoperasi koreksi skoliosis memengaruhi biaya perawatan dan waktu kontakpasien dengan keluarga. Identifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi lama ventilasimekanik diharapkan dapat memprediksi lama ventilasi mekanik pascaoperasi sehinggalebih efektif dalam penggunaan ventilasi mekanik. Penelitian ini dilakukan dengan harapanmengetahui faktor risiko lama ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatanposterior di RSCM.
Tujuan : Mengetahui faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi lama penggunaanventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian kohort retrospektif menggunakan data dari rekammedis. Lima puluh dua pasien yang menjalani operasi koreksi skoliosis pendekatanposterior antara januari 2011 hingga Juni 2016 dianalisis secara retrospektif. Dicatat lamapemakaian ventilasi mekanik pascaoperasi koreksi skoliosis pendekatan posterior. Faktorpreoperasi dan intraoperasi yang dianalisis merupakan data yang biasa dicatat dalam rekammedis antara lain nilai kapasitas vital paksa preoperasi, hipertensi pulmonal, jumlahperdarahan, jumlah cairan intraoperasi, transfusi darah dan lokasi segmen vertebra. Dataakan diolah menggunakan perangkat lunak SPSS dengan uji korelasi dan analisismultivariat regresi linier.
Hasil : Mayoritas sampel adalah wanita 86,5 . Analisis korelasi didapatkan jumlahperdarahan r=0,431."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Adelina
"Latar Belakang: Ileus pascaoperasi (IPO) terjadi pada 3 – 32% pascaoperasi abdomen mayor. Prevalensi IPO di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) sendiri belum diketahui. Imbang cairan perioperatif berkontribusi terhadap kejadian IPO. Berbagai studi menunjukkan imbang cairan intra- dan pascaoperasi yang positif berhubungan dengan peningkatan risiko IPO, namun peran status hidrasi praoperasi belum diketahui. Pemeriksaan bioelectrical impedance vector analysis (BIVA) mulai digunakan untuk evaluasi status hidrasi, namun metode ini belum umum digunakan untuk evaluasi cairan perioperasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui insidensi IPO di RSCM, serta mengetahui hubungan antara IPO dengan status hidrasi praoperasi berdasarkan BIVA. Metode: Penelitian ini adalah studi potong lintang pada pasien yang menjalani laparotomi elektif di RSCM, Jakarta. Diambil karakteristik praoperasi berupa data demografis, antropometri, dan status hidrasi yang meliputi BIVA, osmolalitas serum, imbang cairan, dan rasio blood urea nitrogen/creatinine (rasio BUN/Cr); karakteristik intraoperasi yaitu imbang cairan intraoperasi, lama operasi, dan jumlah perdarahan; serta status hidrasi pascaoperasi yang dinilai pada hari kedua pascaoperasi. Dilakukan analisis hubungan IPO dengan status hidrasi praoperasi berdasarkan BIVA, yang dilanjutkan dengan analisis multivariat untuk menyingkirkan faktor perancu.
Hasil: Sebanyak 90 subjek menjalani laparotomi elektif untuk kasus digestif (37,8%), ginekologi (57,8%), urologi (2,2%), serta join digestif-vaskular dan digestif- ginekologi (2,2%). Status hiperhidrasi praoperasi berdasarkan BIVA didapatkan sebanyak 38,9% dan meningkat menjadi 74,4% pascaoperasi. Osmolalitas serum pra- dan pascaoperasi berada dalam rentang normal dan tidak menunjukkan perubahan yang bermakna, sedangkan imbang cairan dan rasio BUN/Cr meningkat bermakna pascaoperasi. Status hiperhidrasi praoperasi berhubungan bermakna dengan IPO (OR 3.386, 95%CI 1.319 – 8.601; p=0.009). Namun berdasarkan analisis multivariat, hanya jumlah perdarahan intraoperasi (> 500 mL) yang berhubungan dengan IPO (OR 7.95, 95% CI 1.41 – 44.78; p=0.019). Stratifikasi lebih lanjut menunjukkan status hiperhidrasi praoperasi meningkatkan risiko IPO pada subjek dengan jumlah perdarahan intraoperasi kurang dari 500 mL (OR 6.8, 95% CI 1.436 – 32.197; p =0.016). Kesimpulan: Status hidrasi praoperasi menentukan keluaran klinis pascaoperasi. Status hiperhidrasi praoperasi berdasarkan BIVA ditemukan berhubungan dengan peningkatan risiko IPO laparotomi, namun status hiperhidrasi praoperasi dapat dimodifikasi oleh jumlah perdarahan intraoperasi. Dibutuhkan studi lebih lanjut hubungan antara IPO dengan status hiperhidrasi praoperasi, terutama pada kelompok subjek dengan jumlah perdarahan intraoperasi kurang dari 500 mL.

Background: Postoperative ileus (POI) is a complication commonly found after major abdominal surgery, with a prevalence of 3 – 32%. Prevalence of POI at dr. Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) is yet to be reported. Perioperative hydration status contributes to the risk of developing POI. Studies have shown that positive intra- and postoperative fluid balance are associated with increased risk of POI, but the role of preoperative hydration status is not yet known. Bioelectrical impedance vector analysis (BIVA) has started to be used widely to evaluate hydration status, nonetheless it is still not commonly used in evaluation of perioperative hydration status. This study aims to determine POI incidence in RSCM, and to explore the association between IPO and preoperative hydration status evaluated with BIVA. Methods: This study was a cross-sectional study done at RSCM, Jakarta. We recruited patients who were scheduled to undergo elective laparotomy. Preoperative characteristics were collected such as demographical data, anthropometry, and hydration status including BIVA, serum osmolality, fluid balance, and blood urea nitrogen/creatinine (BUN/Cr) ratio; intraoperative characteristics such as fluid balance, length of surgery, and total bleeding volume; and postoperative hydration status which was analyzed in postoperative day two. Analysis to determine the associatiob between POI and preoperative hydration status by BIVA was done, and continued with logistic regression analysis to control confounding factors.
Results: Ninety subjects recruited in this study underwent elective laparotomy for digestive (37,8%), gynecology (57,8%), urology (2,2%), also joined digestive-vascular and digestive-gynecology (2,2%) surgery. Preoperative hyperhydration by BIVA was found in 38,9% subjects, and increased to 74,4% postoperatively. Pre- and postoperative serum osmolality were within normal range and did not show any significant increment, while fluid balance and BUN/Cr ratio increased postoperatively. Preoperative hyperhydration was associated with POI (OR 3.386, 95%CI 1.319 – 8.601; p=0.009). Only total bleeding volume (> 500 mL) was found to increase the risk of POI after logistic regression analysis (OR 7.95, 95% CI 1.41 – 44.78; p=0.019). Further stratification analysis showed that preoperative hyperhydration increased the risk of POI in subjects with total bleeding less than 500 mL (OR 6.8, 95% CI 1.436 – 32.197; p =0.016). Conclusion: Preoperative hydration status has an impact on postoperative clinical outcome. Preoperative hyperhydration was found to increase the risk of POI, but preoperative hyperhydration status could be modified by the degree of intraoperative bleeding. Further study needs to be done to determine the link between POI and preoperative hyperhydration, especially in subjects with total bleeding less than 500 mL.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sidik Awaludin
"ABSTRAK
Nyeri pascabedah jantung menjadi masalah bagi pasien, sehingga perlu intervensi dengan terapi farmakologi dan non farmakologi seperti terapi komplementer keperawatan. Terapi komplementer dari beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan perawat merupakan terapi tunggal dan kombinasi dua terapi. Bentuk kombinasi tiga terapi seperti pijat, hipnosis, dan musik (Formula PHISIK) bekerja saling menguatkan dalam menurunkan nyeri. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi pengaruh pemberian formula PHISIK terhadap intensitas nyeri pascabedah jantung di RS PJNHK Jakarta. Desain penelitian ini yaitu quasi eksperiment design dengan non equivalent control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah 36 pasien pascabedah jantung. Pemberian formula PHISIK menurunkan intensitas nyeri secara signifikan melalui selisih skala nyeri, denyut jantung, frekuensi pernafasan, dan tekanan darah pra dengan pascaperlakuan (p value < 0,05). Formula PHISIK berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan skala nyeri, denyut jantung, frekuensi pernafasan, dan tekanan darah pada pasien pascabedah jantung. Formula PHISIK dapat digunakan sebagai bagian dari intervensi keperawatan dalam upaya menurunkan nyeri pascabedah jantung.

ABSTRACT
Post-cardiac surgery pain has become a problem for patients. Therefore, it needs intervention either use pharmacological or non-pharmacological therapies. Complementary therapies from several previous studies by nurses are focused on a single or two combined therapy. No study found to combine more than two. A combination of three therapies such as massage, hypnosis, and music (PHISIK formula) each other may reduce pain.The objective to identify the effect of PHISIK formula to pain intensity of patient with post-cardiac surgery pain at national cardiac center hospital Harapan Kita Jakarta. This study used a quasi-experimental design with non-equivalent control group design. The sample in this study were 36 post-cardiac surgery patients. PHISIK formula significantly reduce pain intensity as showed in the difference of pre post-treatment on pain scale, heart rate, respiratory rate, and blood pressure (p value < 0,05). PHISIK formula is found significant reduce pain scale, heart rate, respiratory rate, and blood pressure on post-cardiac surgery. PHISIK formula can be used as part of a nursing intervention in reducing post-cardiac surgery pain."
2013
T35842
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yoshua Baktiar
"[ABSTRAK
Latar Belakang: Kraniotomi elektif memiliki insidens komplikasi paru pascaoperasi (25%) dan mortalitas (10%) yang tinggi. Pemakaian volume tidal rendah sebagai bagian dari teknik proteksi paru diketahui menurunkan komplikasi paru pascaoperasi. Penelitian ini berusaha mengetahui efek volume tidal 6 mL/kg dan 10 mL/kg terhadap rasio PaO2/FiO2 pascaoperasi pada kraniotomi elektif.
Metoda: Uji klinis acak ini dilakukan di satu rumah sakit pendidikan di Indonesia. Lima puluh dua pasien kraniotomi elektif (usia 18-60 tahun, durasi bedah >4 jam, paru normal) dirandomisasi ke dalam 2 kelompok intervensi: ventilasi mekanik perioperatif dengan volume tidal 6 mL/kg (VT-6) atau 10 mL/kg (VT-10). Hipotesis penelitian ini adalah rasio PaO2/FiO2 kelompok VT-6 lebih tinggi dibandingkan VT-10. Analisis gas darah dilakukan pada 1 jam pascainduksi, akhir operasi, 24 jam pascainduksi dan 48 jam pascainduksi. Komplikasi paru (atelektasis, pneumonia, ARDS, gagal napas) dan komplikasi ekstraparu (SIRS, sepsis, sepsis berat) diobservasi sampai hari ke-7 dan mortalitas pada hari ke-28.
Hasil: Rasio PaO2/FiO2 kelompok VT-6 dan VT-10 secara berurutan adalah: pada 1 jam pascainduksi adalah 413,7 ± 113,4 mmHg dan 401,5 ± 106,3 mmHg (p = 0,69); pada akhir operasi, 466,6 ± 94,6 mmHg dan 471,1 ± 89,0 mmHg (p = 0,86); pada 24 jam pascainduksi, 418,8 ± 108,8 mmHg dan 448,5 ± 119,6 mmHg (p = 0,35); pada 48 jam pascainduksi, 414,9 ± 88,1 mmHg dan 402,5 ± 100,7 mmHg (p = 0,63). Pneumonia ditemukan pada 1 pasien (3,8%) di kelompok VT-6 dan pada 2 pasien (7,6%) di kelompok VT-10. SIRS ditemukan pada 1 pasien (3,8%) di kelompok VT-6 dan pada 2 pasien (7,6%) di kelompok VT-10. Tidak ditemukan komplikasi paru/ekstraparu lain dan mortalitas dalam penelitian ini.
Simpulan: Ventilasi mekanik perioperatif dengan volume tidal 6 mL/kg tidak menghasilkan rasio PaO2/FiO2 yang lebih tinggi pada 1 jam pascainduksi, akhir operasi, 24 jam pascainduksi, dan 48 jam pascainduksi dibandingkan volume tidal 10 mL/kg pada pasien kraniotomi elektif dengan paru sehat. Insidens komplikasi paru/ekstraparu pascaoperasi dan mortalitas serupa di antara kedua kelompok.

ABSTRACT
BACKGROUND: Elective craniotomy is associated with high incidence of postoperative pulmonary complications/PPC (25%) and mortality (10%). Low tidal volume as part of lung protective strategy is known to decrease PPC. We determined to study the effect of low tidal volume solely to postoperative PaO2/FiO2 ratio (PF ratio) in elective craniotomy.
METHODS: This was a randomised control trial in one university hospital in Indonesia. Fifty two patients underwent elective craniotomy (age 18-60 years, duration of surgery >4 hours, normal lung) were ventilated with tidal volume 6 mL/kg (VT-6) or 10 mL/kg (VT-10) perioperatively. We hypothesized that postoperative PaO2/FiO2 ratio in VT-6 is higher than VT-10. Blood gas analysis were measured at 1 hour postinduction, at end of surgery, at 24 hours postinduction and 48 hours postinduction. Postoperative pulmonary complications (atelectasis, pneumonia, ARDS, respiratory failure) were observed on day 7 and mortality on day 28.
RESULTS: PaO2/FiO2 ratio of VT-6 and VT-10 respectively: at 1 hour postinduction, 413.7 ± 113.4 mmHg and 401.5 ± 106.3 mmHg (p = 0.69); at end of surgery, 466.6 ± 94.6 mmHg and 471.1 ± 89.0 mmHg (p = 0.86); at 24 hours postinduction, 418.8 ± 108.8 and 448.5 ± 119.6 mmHg (p = 0.35); at 48 hours postinduction, 414.9 ± 88.1 mmHg and 402.5 ± 100.7 mmHg (p = 0.63). Pneumonia were found in 1 (3.8%) patient in group VT-6 and 2 (7.6%) patients in group VT-10. SIRS were found in 1 (3.8%) in group VT-6 and 2 (7.6%) in group VT-10. No other pulmonary/extrapulmonary complications and mortality were found in this study.
CONCLUSION: Perioperative mechanical ventilation with lower tidal volume (6 mL/kg) does not result in higher postoperative PaO2/FiO2 ratio compared to higher tidal volume (10 mL/kg) in healthy lung patients undergone elective craniotomy. Incidence of postoperative pulmonary/extrapulmonary complications and mortality were similar between both groups. , BACKGROUND: Elective craniotomy is associated with high incidence of postoperative pulmonary complications/PPC (25%) and mortality (10%). Low tidal volume as part of lung protective strategy is known to decrease PPC. We determined to study the effect of low tidal volume solely to postoperative PaO2/FiO2 ratio (PF ratio) in elective craniotomy.
METHODS: This was a randomised control trial in one university hospital in Indonesia. Fifty two patients underwent elective craniotomy (age 18-60 years, duration of surgery >4 hours, normal lung) were ventilated with tidal volume 6 mL/kg (VT-6) or 10 mL/kg (VT-10) perioperatively. We hypothesized that postoperative PaO2/FiO2 ratio in VT-6 is higher than VT-10. Blood gas analysis were measured at 1 hour postinduction, at end of surgery, at 24 hours postinduction and 48 hours postinduction. Postoperative pulmonary complications (atelectasis, pneumonia, ARDS, respiratory failure) were observed on day 7 and mortality on day 28.
RESULTS: PaO2/FiO2 ratio of VT-6 and VT-10 respectively: at 1 hour postinduction, 413.7 ± 113.4 mmHg and 401.5 ± 106.3 mmHg (p = 0.69); at end of surgery, 466.6 ± 94.6 mmHg and 471.1 ± 89.0 mmHg (p = 0.86); at 24 hours postinduction, 418.8 ± 108.8 and 448.5 ± 119.6 mmHg (p = 0.35); at 48 hours postinduction, 414.9 ± 88.1 mmHg and 402.5 ± 100.7 mmHg (p = 0.63). Pneumonia were found in 1 (3.8%) patient in group VT-6 and 2 (7.6%) patients in group VT-10. SIRS were found in 1 (3.8%) in group VT-6 and 2 (7.6%) in group VT-10. No other pulmonary/extrapulmonary complications and mortality were found in this study.
CONCLUSION: Perioperative mechanical ventilation with lower tidal volume (6 mL/kg) does not result in higher postoperative PaO2/FiO2 ratio compared to higher tidal volume (10 mL/kg) in healthy lung patients undergone elective craniotomy. Incidence of postoperative pulmonary/extrapulmonary complications and mortality were similar between both groups. ]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kadek Yogi Mahendra
"

Nama

:

Kadek Yogi Mahendra

NPM

:

1606927734

Judul

:

Efektivitas Klonidin Dosis 2 Mcg/Kg di Awal Induksi Dalam Menurunkan Angka Kejadian Emergence Delirium Pada Pasien Anak yang Menjalani Operasi Mata

Latar belakang. Emergence delirium (ED) adalah suatu kondisi yang umum terjadi, pada pasien anak-anak yang menjalani pembedahan, dimana anak menjadi sangat agitasi, memberontak, dan sulit untuk diredakan serta berpotensi membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, dengan insidensi di RSCM sebesar 39,7%. Etiologi, faktor resiko, dan patofisiologi diperkirakan multifaktorial. Berbagai upaya dan strategi telah diusahakan untuk mencegah kejadian tidak menyenangkan ini.

 

Metode. Penelitian uji klinik acak tersamar ganda pada anak usia 1-8 tahun yang menjalani operasi mata dengan anestesia umum di OK Kirana FKUI-RSCM pada bulan Januari-Maret 2020. Sebanyak 108 subjek didapatkan dengan metode konsekutif yang dirandomisasi menjadi dua kelompok. Kelompok klonidin (n = 54) mendapat klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat saat induksi anestesia, sedangkan kontrol (n = 54) mendapat NaCl 0,9%. Kejadian ED, waktu pulih, derajat nyeri, hipotensi dan bradikardia selama dan pascaoperasi dicatat. ED dinilai dengan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED).

 

Hasil. Kejadian ED pada kelompok klonidin sebesar 29,6% sedangkan kontrol 31,5% (IK 95% 0,481-2,475; p=0,835). Waktu pulih kelompok klonidin memiliki nilai rerata 6 menit dibandingkan kelompok kontrol selama 5 menit (p=0,998). Nyeri sedang dirasakan pada 3,7% kelompok klonidin berbanding 0% pada kelompok kontrol. Hipotensi dialami pada 1 pasien di kelompok klonidin dan 1 pasien di kelompok kontrol, sedangkan bradikardia ditemukan pada 2 pasien di kelompok klonidin dan 3 pasien di kelompok kontrol

 

Simpulan. Pemberian klonidin 2 mcg/kgbb bolus IV lambat di awal induksi tidak lebih efektif dibanding plasebo dalam mencegah kejadian ED pada pasien anak yang menjalani operasi mata

Kata Kunci : emergence delirium, klonidin, kontrol, pasien anak, operasi mata, pembiusan umum

 


Name

:

Kadek Yogi Mahendra

NPM

:

1606927734

Title

:

Effectiveness Clonidine 2 Mcg/Kg during Anesthesia Induction to Reduce Emergence Delirium Rate in Pediatric Patient Underwent Eye Surgery

Background. Emergence delirium (ED) is a common condition in pediatric patient after surgery, when they become agitated, difficult to calm and could be harmful for themself or people around with incidence 39,7% in RSCM. Etiology, risk factor, and patyhophysiology are multifactorial. Some effort and strategy have been attempted to reduce this unpleasant incident

 

Method. This was a double-blind randomized clinical trial on children aged 1-8 years old underwent eye surgery under general anesthesia in OR Kirana FKUI-RSCM on January until March 2020. One hundred eight subjects were included using consecutive sampling method and randomized into two groups. Clonidine group (n=54) was given clonidine 2 mcg/kgbw slow intravenous injection during anesthesia induction while control group (n=54) was given NaCl 0,9%. Incidence of ED, recovery time, pain scale, during and postoperative hypotension and bradycardia were observed. Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) scale was used to assess ED.

 

Result. Incidence of ED in clonidine group was 29,6% while in control group was 31,5% (IK 95% 0,481-2,475; p=0,835). Recovery time in clonidine group was 6 minutes and control group was 5 minutes (p=0,998). There was 3,7% in subject group was in moderate pain and 0% in control group. Hypotension was suffered by each 1 subject in both group and bradycardia suffered in 2 patient in clonidine group compared to 3 patients in control group

 

Conclusion. Administration of clonidine 2 mg/kg as a slow intravenous injection right after induction was not effective to prevent the incidence of ED in children underwent eye surgery"

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dennis William Pratama
"Latar Belakang: Surgical Site Infection (SSI) adalah infeksi sekitar luka operasi dalam kurun waktu 30 hari pascabedah. SSI merupakan 23,6% dari total infeksi nosokomial pascabedah abdomen di RSCM tahun 2009-2011. Tingginya angka morbiditas dan mortalitas dikarenakan SSI menyebabkan biaya penangganan SSI, sehingga pencegahan SSI akan mengurangi biaya pengobatan. Aquadest diketahui cairan yang efektif untuk irigasi luka, mudah didapatkan, murah dan aman untuk irigasi luka. Tujuan: Mengetahui pencucian luka dengan aquadest dibanding perawatan luka Standar. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental terandomisasi tersamar tunggal, yang dilakukan di departemen bedah, Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Mei-Juni 2018. Subyek berjumlah 80 orang setelah laparatomi mediana, dibagi menjadi grup kontrol (n=40) yang menerima perawatan standar dengan tulle setiap 2 hari dan grup eksperimental (n=40) yang menerima pencucian luka dengan aquadest setiap hari, dimulai hari kedua pascabedah. Pada hari ketujuh, dilakukan kultur mikrobiologi yang diambil dari benang jahitan. Parameter yang dievaluasi adalah pertumbuhan kuman, tanda infeksi, dan biaya per subyek antara 2 grup untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas keduanya. Hasil: Penelitian ini dilakukan pada 80 subjek yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi untuk menentukan efektivitas pencucian luka dibandingkan dengan teknik perawatan luka standar untuk mencegah infeksi daerah operasi setelah laparotomi mediana. Hasil analisis statistik antara kedua kelompok perlakuan terhadap pertumbuhan bakteri dalam hasil kultur menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (p = 0,82). Dalam penelitian ini juga diamati adanya tanda-tanda infeksi berdasarkan CDC dalam waktu satu minggu perawatan luka. Tanda-tanda infeksi yang diamati dalam penelitian ini adalah tanda infeksi superfisial. Dari hasil analisis tidak ada perbedaan yang signifikan dalam tanda-tanda infeksi pada dua kelompok perlakuan (p = 1,00). Kesimpulan : Pencucian luka dengan aquadest sama efektifnya dengan perawatan luka standar dalam mencegah infeksi daerah operasi

Background Surgical site infections (SSIs) still a global problem in the surgical field. The report of the Center for Disease Control and Prevention (CDC) in 1999 stated that SSIs reached 38% of all hospital-acquired infections (HAIs). Although this number can be reduced by 2%-5%, according to the CDC report in 2008, it requires global efforts that are not easy and expensive that involve all stakeholders (stakeholders) to achieve that number. In preventing SSIs, wound hygiene is one of the absolute factor. The majority of medical personnel apply the concept of using antiseptics containing various types of antibiotics accompanied by temporary topical antibiotics. However, The best cleanser is water, effective, easy to obtain, and does not require additional fee. Therefore we conducted a study aimed at demonstrating that wound washing is an efficient SSIs prevention measure eventhough it is done at RSCM. If the results of this study are meaningful then postoperative wound care at RSCM will be more economical because the materials needed for wound care are inexpensive.
Method This research is a randomized experimental study. Randomization will be done in a single blind manner. The patient will not know whether he is a control or experimental group. The research team will objectively evaluate germs according to each treatment group. This research was conducted in the Medical Department of Surgery, Faculty of Medicine, University of Indonesia-RSCM for the period January-July 2018. The target population in this study were all patients undergoing postoperative wound care.
Result This study was conducted on 80 subjects who had met the inclusion and exclusion criteria to determine the effectiveness of wound washing compared to standard wound care techniques for the rate of infection in the area of surgery after median laparotomy. The results of statistical analysis between the two treatment groups on bacterial growth in culture results showed no significant relationship (p = 0.82). In this study also observed the presence of signs of infection based on CDC within a week of wound care. Signs of infection observed in this study are a sign of superficial infection. From the results of the analysis there were no significant differences in signs of infection in the two treatment groups (p = 1.00). Conclusion Washing wounds with aquadest is as effective as standard wound care in preventing infection in the surgical site.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nismara Datyani
"Latar Belakang Nyeri merupakan salah satu gejala yang paling banyak dirasakan pasien sesudah menjalani operasi. Sebanyak lebih dari 80% pasien melaporkan nyeri akut pascabedah. Nyeri akut pascabedah dipengaruhi oleh banyak faktor preoperatif seperti usia, jenis kelamin, komorbiditas, tingkat pendidikan, jenis analgesia, nyeri prabedah, dan jenis pembedahan. Maka dari itu, peneliti ingin menginvestigasi faktor-faktor yang memengaruhi derajat nyeri akut pascabedah elektif pada pasien dewasa di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Metode Penelitian kohort retrospektif dilakukan dengan mengambil rekam medis pada bulan 15 Juni—14 Juli 2022. Didapatkan sejumlah 137 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data rekam medis dianalisis dengan uji Chi-square untuk melihat hubungannya. Hasil Faktor preoperatif yaitu jenis analgesia dan nyeri prabedah bermakna signifikan secara statistik terhadap derajat nyeri akut 24 jam pascabedah (p<0,05). Faktor lain seperti usia, jenis kelamin, komorbiditas, dan tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan bermakna yang signifikan terhadap derajat nyeri akut 24 jam pasacabedah (p>0,05). Kesimpulan Faktor preoperatif seperti jenis analgesia dan nyeri prabedah mampu memengaruhi derajat nyeri akut 24 jam pascabedah elektif pada pasien dewasa di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

Introduction Pain is one of most common symptoms experienced by patients after undergoing surgery. More than 80% of patients report acute postoperative pain. Acute postoperative pain if influenced by many preoperative factors, such as age, gender, comorbidities, education level, type of analgesia, preoperative pain, and types of surgery. Therefore in this study, researcher wants to investigate the factors that influence the degree of acute postoperative pain after elective surgery in adult patients at RSUPN Dr. Cipto Mangunkosomo. Methods A retrospective cohort study was conducted by taking medical records from 15 June to 14 July 2022. A total of 137 samples that met the inclusion and exclusion criterias were obtained. Medical records data was analyzed using the Chi-square test to see the relationship between factors and acute postoperative pain. Results Preopetaive factors, such as the type of analgesia and preoperative pain, were statistically significant on the degree of acute pain 24 hourse after surgery (p<0,05). Other factors such as age, gender, comorbidities, and education level do not have a significant relationship to the degree of acute pain 24 hours after surgery (p>0,05). Conclusion Preoperative factors such as the type of analgesia and preoperative pain can influence the degree of acute pain 24 hours after elective surgery in adult patients at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dmochowski, Roger
"Includes detailed discussions and illustrations, case studies, and video footage that clarify how to select and perform a variety of procedures and manage complications of urinary incontinence."
Philadelphia: Elsevier Saunder, 2013
616.62 DMO s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>