Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 154901 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Adrie Kafa Adinus
"Overreaction merupakan fenomena menarik yang terjadi di pasar modal, khususnya pasar saham. Pembuktian terjadinya overreaction ini menjadi tantangan bagi hipotesis efisiensi pasar modal (efficient market hypothesis) atau EMH yang diperkenalkan oleh Eugene Fama pada tahun 1970. Efisiensi bentuk lemah (weak-form efficiency) mengatakan bahwa data historis seperti harga saham masa lalu tidak dapat digunakan untuk menghasilkan profit yang signifikan. Hasil empiris penelitian overraction membantah hipotesis ini. Penelitian overreaction di pasar modal pertama kali dipelopori oleh Werner F. M. DeBondt dan Richard Thaler pada tahun 1985 yang meneliti perilaku pasar modal Amerika. Penelitian ini membuktikan bahwa harga saham historis dapat digunakan untuk menghasilkan profit dalam berinvestasi saham di pasar modal. Penelitian pada pasar modal Amerika memberikan bukti bahwa saham-saham yang memiliki tingkat pengembalian rendah (saham-saham loser) memiliki kinerja yang lebih tinggi di masa depan bila dibandingkan dengan saham-saham yang memiliki tingkat pengembalian tinggi (sahamsaham winner). Akibatnya, investor dapat memanfaatkan anomali ini dengan membeli saham-saham loser dan menjual saham-saham winner untuk memperoleh profit yang maksimal. Strategi investasi ini dikenal dengan sebutan strategi kontrarian.
Beberapa penelitian mengenai overreaction kemudian berkembang di negaranegara lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah gejala overreaction juga terjadi pada pasar modal di Indonesia, khusunya di Bursa Efek Jakarta. Sebab, kalau fenomena ini terjadi, maka berarti para investor yang 'bermain' saham di BEJ dapat melakukan strategi kontrarian untuk meraih profit yang sebesar-besarnya, sekaligus memperbesar kritik kepada teori EMH.
Penelitian ini rnenggunakan rnetode yang digunakan oleh DeBondt dan Thaler. Bedanya, data yang digunakan merupakan data harian, bukan data bulanan seperti yang digunakan DeBondt dan Thaler. Periode replikasi yang digunakan juga lebih singkat, yaitu tiga bulanan dan satu tahunan. Selain itu, saham yang diteliti hanya terbatas pada saham-saham perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi, khususnya industri makanan dan minuman, rokok dan farmasi. Diharapkan, dengan menggunakan data harian dalam rentang waktu pendek (short horizon), dan pembatasan pada saham industri tertentu, fenomena overreaction dapat dilihat secara mikro.
Hasil akhir dari penelitian ini rnenunjukkan bahwa pada kurun waktu 2001 sampai 2003, belum terlihat adanya gejala overreaction di BEJ, khususnya di sektor barang konsurnsi. Kondisi yang mendekati hipotesis overreaction hanya terjadi pada sebagian kecil replikasi sehingga tidak menunjukkan adanya konsistensi di sepanjang periode penelitian dan memiliki tingkat signifikansi yang rendah. Hal lain yang dapat diamati adalah bahwa hasil penelitian dengan replikasi satu tahunan cenderung lebih mendekati hipotesis overreaction dibandingkan dengan penelitian yang menggunakan replikasi tiga bulanan. Berarti untuk sementara dapat disimpulkan bahwa gejala overreaction dapat diperjelas dengan rnemperpanjang periode replikasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat dikatakan bahwa para investor belum dapat melakukan strategi kontrarian, khususnya pada saham-saham industri barang konsumsi di BEJ. Hasil ini kemungkinan dapat disempurnakan dengan menggunakan metode lain, seperti yang dipakai oleh Conrad-Kaul, Boebel-Carson, ataupun Agus Sartono."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Katoppo, Intansari Abdams
"ABSTRAK
Penelitian ini ingin melihat seberapa jauh peristiwa peledakan bom yang merupakan risiko sosial politik berpengaruh pada abnormal return dan volume aktifitas perdagangan saham untuk saham-saham unggulan yang masuk dalam indeks LQ45 di BEJ. Dua tragedi besar yang gemanya menjadi sorotan dunia intemasional yaitu peristiwa peledakan born di gedung BEJ pada tangga113 September 2000_dan born Bali tanggal 12 Oktober 2002.
Untuk rnenguji pengaruh peristiwa-peristiwa tersebut pada abnormal return dan
volume akti'fitas, maka digunakan metode event study. Metode ini juga dapat digunakan
untuk menguji efisiensi pasar modal, yaitu mengukur besarnya darnpak suatu peristiwa
dengan menilai kecepatan reaksi harga saham terhadap peristiwa yang bersangkutan.
Semakin efisien suatu pasar modal, maka akan semakin cepat informasi diserap dan
terefleksikan pada harga saham.
Hasil uji signifikansi abnormal return selama periode kejadian peristiwa peledakan
born di gedung BEJ (t-10 hingga t+ 1 0) rnemperlihatkan adanya abnormal return yang
signifikan bagi para pemegang saham untuk delapan hari bursa, yaitu t-10, t-2, t-1, tO
t+1, t+2, dan t+8. Abnormal return pada saat tO merupakan abnormal return yang negatif.
Sedangkan abnormal return pada t+2 merupakan abnormal return yang positif.
Munculnya abnormal return negatif pada tO dan t+ 1 rnenunjuk:kan adanya respon negatif
dari bahwa investor terhadap peristiwa peledakan born Gedung Bursa Efek Jakarta. Nilai
Cumulative Average Abnormal Return (CAAR) ditemukan bernilai negatif sejak t-1
hingga t+ 10. hal ini mengindikasikan adanya penurunan laba dari saham-saham LQ45 dan
penurunan tingkat kekayaan investor.
Rata-rata abnormal return antara sebelum dan setelah peristiwa peledakan born di
gedung BEJ temyata ditemukan tidak ada perbedaan. Demikian pula halnya dengan total
volume aktivitas, dimana hasil uji statistik terhadap rata-rata Trading Volume Analysis
{TV A) sebelum dan rata-rata TV A sesudah rnenunjukkan tidak ada perbedaan TV A antara
sebelum peristiwa peledakan dengan setelah peristiwa tersebut. Hal ini dapat disebabkan
karena adanya kebijakan Bapepam dan BEJ untuk rnenutup perdagangan setelah peristiwa
peledakan born BEJ sehingga investor tidak rnelakukan aksi jual yang berlebihan dalam
mengantisipasi peristiwa tersebut.
Hasil uji signifikansi abnormal return selama periode kejadian peristiwapeledakan
born di Bali rnenunjukkan adanya delapan hari bursa yang rnenghasilkan abnormal return
yang signifikan bagi para pemegang saham, yaitu t-9, t-8, t-5, t-2, t-1, tO, t+1, dan t+4.
Abnormal return pada tO rnerupakan abnormal return yang negatif, sedangkan hari setelah
tO, yaitu t+ 1 dan t+4, rnerupakan abnormal return yang positif. Nilai CAAR adalah negatif
sejak t-10 hingga t+4. Namun, kernudian terjadi peningkatan laba yang ditunjukkan oleh
CAAR yang bernilai positif hingga t+ 10. Hal ini rnenunjukkan tidak ada pengaruh yang
besar dari tragedi born Bali terhadap kinerja saham-saham LQ45.
Hasil uji statistik terhadap rata-rata abnormal return sebelum dan rata-rata abnormal return sesudah peristiwa peledakan born di Bali rnenunjukkan bahwa rata-rata abnormal return antara sebelum peristiwa peledakan adalah sama dengan setelah peristiwatersebut. Sedangkan hasil uji statistik terhadap rata-rata TV A sebelum dan rata-rata TV A sesudah peristiwa peledakan born di Bali rnenunjukkan tidak adanya perbedaan rata-rata TVA antara sebelum dengan setelah peristiwa tersebut. Hal ini dapat disebabkan karena selain pernerintah rnenghirnbau agar investor tetap tenang dan tidak meninggalkan Indonesia, pemerintah juga berkomitmen kuat untuk rnernberantas rnasalah terorisme tersebut.
Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa BEJ merupakan pasar modal tidak efisien
bentuk setengah kuat. BEJ bukan merupakan pasar modal efisien karena investor mampu
memperoleh abnormal return, dan merupakan pasar efisien bentuk setengah kuat karena
adanya informasi publik yang mempengaruhi harga saham serta cepat direspon oleh
investor.
"
2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Frederik Priotomo
"Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh De Bondt dan Thaler (1985) dengan menggunakan data pasar modal Amerika Serikat (NYSE), telah menemukan suatu anomali baru yang bertentanggan dengan teori pasar efisiensi yang dikenal fenomena reaksi yang berlebihan (overreaction phenomenon). De Bondt dan Thaler menemukan bahwa saham­ saham yang menunjukkan tingkat pengembalian ekstrim positif (winner) atau negatif (loser) selama suatu periode akan mengalami pembalikan tingkat pengembalian (return) pada periode berikutnya atau return dari saham loser akan mengungguli saham winner.
Pada penelitian ini, penulis akan mencoba mengamati apakah keberadaan anomali overreaction terdapat di Bursa Efek Jakarta khususnya pada sektor industri tekstil, perdagangan besar produksi, dan perdagangan eceran selama tahun 200 I sampai dengan tahun 2003 serta melihat apakah anomali overreaction yang terdapat di BEJ merniliki ciri-ciri yang sama dengan anomali overreaction yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya oleh De Bondt-Thaler.
Penelitian ini menggunakan data return saham yang terdapat pada industri tekstil, perdagangan besar produksi, dan perdagangan eceran sesuai dengan periode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode yang sama digunakan oleh De Bondt-Thaler yaitu menggunakan perhitungan saham-saham winner dan loser yaitu dengan menggunakan metode market adjusted excess returns dimana Oit - Rjt - Rmt, dimana winner dan loser portfolio dibentuk berdasarkan penerimaan return yang berlebihan dimasa lampau. Dengan membagi periode penelitian menjadi dua yaitu periode tiga bulanan dan periode tahunan untuk setiap periode pembentukan portofolio dan periode observasi portofolio. Proses selanjutnya adalah menguji tingkat pengembalian yang diamati dengan uji signifikansi t­student.
Berdasarkan pada perhitungan yang diperoleh, dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan periode tiga bulanan anomali overreaction tidak terjadi. Hal ini dikarenakan tidak terpenuhinya hipotesis dari overreaction, dimana anomali overreaction terjadi apabila ACAR loser > 0 dan ACAR winner< 0, serta ACAR loser - ACAR winner>0, sedangkan berdasarkan perhitungan yang didapat pada akhir periode atau bulan ke-3 dari rata-rata replika pada akhir bulan ke-3 atau periode replika yang ada, nilai ACAR loser sebesar -0.07474 dan ACAR winner sebesar 0.022299, serta ACAR loser- ACAR winner sebesar -0.09704, dengan tingkat signifikasi setiap bulan atas nilai dan nilai selisih CAR loser dan winner dari seluruh replika yang ada yang sangat rendah dibawah nilai t-tabelnya sehingga pada periode ini anomali overreaction tidak tetjadi.
Lain halnya dengan basil perhitungan yang menggunakan periode penelitian tahunan, gejala overreaction terlihat atau terjadi secara keseluruhan dalam seluruh periode dari replika yang ada. Dimana secara rata­ rata selama tahun 200 I sampai dengan 2003 ACAR winner < 0 untuk seluruh periode atau bulan pada periode penelitian, dengan ACAR winner pada akhir periode replika (bulan ke-12 atau bulan Desember) sebesar -0.09947 atau -9,947% dan ACAR loser > 0 dengan nilai ACAR loser pada akhir periode replika sebesar 0.710259 atau 71,0259%, serta nilai ACAR loser - ACAR winner > 0 dengan nilai Selisih ACAR loser dan winner pada akhir periode sebesar 0.809733 atau 80,9733% dengan tingkat signifikasi atas selisih CAR loser dan winner yang ada sangat signifikan sebesar 8.29438 pada akhir periode replika yaitu pada bulan ke-12 atau bulan Desember, diatas nilai t-tabel dengan taraf nyata 10% sebesar 3.077685.
Maka hasil dari perhitungan dari dua rata-rata replika tersebut memenuhi hipotesis dari overreaction tetapi hanya pada hipotesis ketiga saja, dimana untuk hipotesis pertama dan kedua walaupun nilai ACAR winner< 0 dan ACAR loser> 0 tetapi tingkat signifikasinya dibawah nilai critical value-nya yaitu pada akhir tahun dengan tingkat signifikasi 10% tingkat signifikasi loser hanya sebesar 1.6792 < dari critical value-nya sebesar 1.886 dan signifikasi winner sebesar -0.1911 < dari critical value-nya sebesar -1.886, sehingga pada periode penelitian tahunan pun anomali overreaction tidak terjadi."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jordy Tila
"Pasar saham di Indonesia terpuruk selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak berita (jumlah) kasus Covid-19 tingkat provinsi dan tingkat nasional terhadap abnormal return perusahaan yang tercatat di Indonesia. Studi sebelumnya menemukan bahwa berita tentang virus corona telah memengaruhi pasar saham global, termasuk Indonesia. Namun demikian, masih jarang penelitian yang meneliti dampak berita jumlah kasus lokal (provinsi) pada return saham. Penelitian menggunakan berita jumlah kasus Covid-19 di tingkat provinsi dan nasional, serta harga saham perusahaan publik yang berkantor pusat di setiap provinsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Menggunakan regresi data panel (random-effect), Hasil penelitian menunjukkan korelasi yang negatif antara kasus tingkat provinsi dengan return perusahaan publik yang berkantor pusat di provinsi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investor cenderung lebih memperhatikan berita jumlah kasus Covid-19 di tingkat provinsi dibandingkan berita tingkat nasional.

The stock market in Indonesia slumped during the Covid-19 pandemic in Indonesia. This study analyzes the impact of news (number) of Covid-19 cases at the provincial and national levels on the abnormal returns of companies listed in Indonesia. Previous studies have found that news about the coronavirus has affected global stock markets, including Indonesia. However, research is still rare that examines the impact of news on the number of local (provincial) cases on stock returns. The study uses news on the number of Covid-19 cases at the provincial and national levels and stock prices of public companies headquartered in each province listed on the Indonesia Stock Exchange. Using panel data regression (randomeffect), the results show a negative correlation between provincial-level cases and the returns of public companies headquartered in the province. The results show that investors tend to pay more attention to news on the number of Covid-19 cases at the provincial level than news at the national level."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fabian Rizq Nandaru
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas perdagangan saham investor asing terhadap performa pasar modal Indonesia sebelum dan saat periode krisis pandemi COVID-19. Aktivitas perdagangan investor asing diproksikan oleh volume pembelian, nilai pembelian, frekuensi pembelian, volume penjualan, nilai penjualan, dan frekuensi penjualan harian. Lalu, proksi yang digunakan untuk performa pasar modal Indonesia adalah return, likuiditas dan volatilitas harian IHSG. Data perdagangan saham diproses dengan menggunakan metode regresi OLS dan prosedur Newey-West HAC. Penelitian menemukan bahwa aktivitas perdagangan saham investor asing memiliki pengaruh dua arah terhadap return dan likuiditas pada periode normal dan pandemi, dimana pengaruh pada periode pandemi lebih besar dari pada pengaruh pada periode normal. Lalu, aktivitas perdagangan saham investor asing mempengaruhi volatilitas pada periode normal dan meningkatkannya pada periode krisis

The COVID-19 pandemic had caused a decline in the Indonesian stock market performance. This paper analyzes how much of the decline was due to foreign investor trading activity and how much its impact changed from before the crisis period. The stock market’s performance is proxied by return, liquidity, and volatility. While foreign investor trading activity is proxied by buying and selling volume, value and frequency. Trading data for each period are processed through OLS regression with Newey-West's HAC procedure. The results show that foreign investor trading activity has bi-directional impact on return and liquidity, where the impact on both are greater during the crisis period. Additionally, foreign investor trading activity impacts volatility significantly in the non-crisis period, while an increase in trading activity increases volatility in the crisis period"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dayu Nirma Amurwanti
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
S26404
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pondra Nala Permana
"Seiring dengan berkembangnya investasi di pasar modal khususnya di Bursa Efek Jakarta, informasi mengenai arah pergerakan harga-harga saham menjadi sesuatu yang sangat diminati oleh investor. Dengan mengetahui informasi tersebut investor dapat memutuskan kapan saat yang tepat dalam melakukan transaksi saham. Banyak ditemukan baik investor maupun manajer investasi mencoba melakukan peramalan arah pergerakan harga-harga saham dengan beberapa metode seperti analisis fundamental maupun teknikal. Namun menurut konsep Efficient Market Hypothesis (EMH) apabila pasar efisien maka sulit bagi investor dalam menentukan arah pergerakan harga saham karena harga saham berjalan acak (random walk). Walaupun hipotesis tersebut masih menjadi salah satu acuan bagi pelaku pasar, namun hingga kini pertentangan akan konsep tersebut masih ramai diperdebatkan oleh para peneliti yang menemukan adanya anomali-anomali di pasar modal.
Salah satu anomali atau geja!a yang cukup populer ialah anomali overreaction yang ditemukan oleh penelitian De Bondt dan Thaler (1985). Berdasarkan penelitian yang menggunakan data pasar modal Amerika Serikat (NYSE), mereka menemukan suatu anomali baru yang bertentangan dengan teori pasar efisiensi yang dikenal fenomena reaksi yang berlebihan (overreaction phenomenon). De Bondt dan Thaler menemukan bahwa saham-saham yang menunjukkan tingkat pengembalian ekstrim positif (winner) atau negatif (loser) selama suatu periode akan mengalami pembalikan tingkat pengembalian (return) pada periode berikutnya atau return dari saham loser akan mengungguli saham winner.
Berdasarkan hal tersebut, penulis akan mencoba mengamati apakah keberadaan anomali overreaction terdapat di Bursa Efek Jakarta khususnya pada saham-saham yang tergabung dalam perhitungan indeks LQ 45 selama tahun 2002 sampai dengan tahun 2005 serta melihat apakah anomali overreaction yang terdapat di BEJ memiliki ciri-ciri yang sama dengan anomali overreaction yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya oleh De Bandt-Thaler.
Penelitian ini menggunakan data return saham yang terdapat pada indeks LQ 45 sesuai dengan periode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan perhitungan saham-saham winner dan loser yaitu dengan menggunakan metode market adjusted excess returns dimana Ujt - Rjt - Rmt, dimana winner dan loser portofolio dibentuk berdasarkan penerimaan return yang berlebihan dimasa lampau. Penulis membagi periode penelitian menjadi tiga yaitu periode tiga bulanan, enam bulanan dan periode tahunan untuk setiap periode pembentukan portofolio dan periode observasi portofolio. Kemudian untuk membuktikan apakah teijadi gejala overreaction, penulis, penguji tingkat pengembalian yang diamati dengan uji signifaksi t-student.
Berdasarkan perhitungan yang diperoleh, dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan periode tiga bulanan menunjukan beberapa kali teijadi gejala overreaction. Berdasarkan pengamatan penulis gejala overreaction tersebut terjadi pada observasi periode bulan ke tiga. Walaupun faktanya demikian, uji signifikansi gejala overreaction pada ACAR winner< 0, ACAR loser> 0 dan selisih ACAR loser winner > 0 tidak terbukti secara statistik dan tingkat konsistensi anomali overreaction sangat rendah.
Pengamatan pada replikasi periode enam bulanan pun mendapatkan hasil yang relatif sama dengan periode replikasi 3 bulanan dimana terdapat beberapa kali gejala overreaction namun dengan tingkat konsistensi yang rendah. Beberapa gejala overreaction yang terjadi kemudian dilakukan uji statistik pada seluruh ACAR winner, ACAR loser dan nilai selisih ACAR loser winner yang menunjukan nilai dihitung 0.553 (bulan 1), 0,07723 (bulan 3) dan 0.338 (bulan 4) tidak masuk dalam area penerimaan altematif hipotesis sehingga overreaction tidak terjadi pada penelitian periode replikasi enam bulanan.
Observasi dilanjutkan pada replikasi tahunan yang juga ditemukan beberapa gejala overreaction. Pada periode observasi ini terbukti apa yang dikemukakan De Bondt dan Thaler bahwa efek dari overreaction sangat berpengaruh pada portofolio loser. Hal ini tergambar dalam grafik pergerakan ACAR periode tahunan yang menunjukan lonjakan pembalikan arah yang ekstrim pada ACAR loser. Observasi ini pun memiliki tingkat konsistensi gejala overreaction yang relatif tinggi. Namun hasil pengujian statistik pada nilai ACAR winner, ACAR loser dan ACAR loser winner pada periode obseryasi ini masih memiliki t-hitung yang tidak masuk ke dalam tingkat signifikansi uji statistik sehingga gejala overreaction tidak terbukti.
Dengan tidak terjadinya anomali overreaction pada penelitian ini khususnya pada saham-saham LQ 45, maka dapat disimpulkan bahwa pasar modal di Indonesia memiliki bentuk pasar yang efisien.
Walaupun ditemukan beberapa kali gejala overreaction dalam penelitian ini, strategi kontrarian belum dapat sepenuhnya dilakukan untuk mendapatkan abnormal return. Hal ini disebabkan tingkat konsistensi gejala overreaction pada penelitian ini sangat rendah sehingga sulit bagi investor dalam memprediksi kapan saat yang tepat menentukan pembelian atau penjualan portofolio winner-loser."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syahrul Ali Ib’rohim
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara volatilitas pasar saham, Foreign Portfolio Investment, suku bunga, nilai tukar, dan Indeks Produksi Industri pada saham syariah sektor energi di Indonesia tahun 2011-2023. Penelitian ini menggunakan data dengan frekuensi bulanan sejak tahun 2011. Penelitian ini menggunakan Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dengan melibatkan fenomena structural breaks yang terjadi pada September 2013 dan fenomena tersebut digunakan sebagai variabel dummy. Hasil penelitian menunjukkan adanya kointegrasi atau hubungan jangka panjang pada setiap variabel yang diuji sebagai variabel dependen. Hasil uji jangka panjang menunjukkan bahwa volatilitas pada saham syariah sektor energi dipengaruhi secara positif oleh aktivitas Foreign Portfolio Investment. Selain itu, nilai tukar secara positif mempengaruhi Indeks Produksi Industri. Sedangkan dalam jangka pendek, aktivitas Foreign Portfolio Investment dipengaruhi secara negatif oleh nilai Foreign Portfolio Investment periode sebelumnya. Di sisi lain, volatilitas pasar saham secara positif mempengaruhi Foreign Portfolio Investment. Selain itu, Indeks Produksi Industri dipengaruhi secara positif oleh nilai Indeks Produksi Industri selama 3 bulan sebelumnya, nilai tukar, aktivitas Foreign Portfolio Investment, serta volatilitas pasar saham hingga 1 bulan sebelumnya.

This research aims to analyze the relationship between stock market volatility, Foreign Portfolio Investment, interest rates, exchange rates, and the Industrial Production Index on sharia stocks in the energy sector in Indonesia in 2011-2023. This research uses data with a monthly frequency since 2011 as the initial year when the Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) was launched. This research uses Autoregressive Distributed Lag (ARDL) involving the structural breaks phenomenon that occurred in September 2013 and this phenomenon is used as a dummy variable. The research results show that there is cointegration or long-term relationship in each variable tested as the dependent variable. Long-term test results show that volatility in sharia stock in the energy sector is positively influenced by Foreign Portfolio Investment activity. In addition, exchange rate positively influences the Industrial Production Index. Meanwhile, in the short term, Foreign Portfolio Investment activity is negatively influenced by the value of Foreign Portfolio Investment in the previous period. On the other hand, stock market volatility positively affects Foreign Portfolio Investment. In addition, the Industrial Production Index is positively influenced by the value of the Industrial Production Index for the previous 3 months, exchange rates, Foreign Portfolio Investment activity, and stock market volatility for the previous 1 month."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Zata Ismah
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis reaksi pasar terhadap pengumuman boikot yang disampaikan oleh Gerakan BDS Indonesia pada akhir tahun 2023. Studi ini menggunakan pendekatan event study untuk mengevaluasi dampak pengumuman tersebut terhadap abnormal return saham tiga kelompok perusahaan: (1) perusahaan target boikot, (2) perusahaan pembanding tidak terasosiasi boikot, dan (3) perusahaan yang diasosiasikan sebagai pendukung Palestina. Penelitian ini menggunakan data harian harga saham selama periode event window dan dilakukan pengujian perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman boikot. Hasil penelitian menunjukan bahwa perusahaan target boikot mengalami penurunan abnormal return setelah pengumuman boikot, namun tidak signifikan secara statistik. Sebaliknya, perusahaan pembanding menunjukkan perubahan abnormal return positif yang signifikan secara statistik. Perusahaan yang diasosiasikan sebagai pendukung Palestina juga menunjukkan tren positif pada return sahamnya, meskipun perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mencerminkan bahwa reaksi pasar terhadap pengumuman boikot bersifat selektif dan sangat dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing perusahaan. Dalam perspektif Efficient Market Hypothesis (EMH), hasil ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia belum sepenuhnya efisien dalam merespons informasi sosial-politik seperti boikot. Meski demikian, investor secara agregat menunjukkan kecenderungan bersikap rasional daripada bersikap emosional terhadap isu sosial.

This study aims to analyze the market reaction to the boycott announcement made by the BDS Indonesia Movement at the end of 2023. An event study approach is employed to evaluate the impact of the announcement on the abnormal returns of three groups of companies: (1) boycott target companies, (2) comparison companies not associated with the boycott, and (3) companies perceived as supporting Palestine. The study uses daily stock price data within the event window and conducts tests on the difference in abnormal returns before and after the boycott announcement. The findings show that boycott target companies experienced a decline in abnormal returns following the announcement, although the decline was not statistically significant. In contrast, comparison companies recorded a statistically significant positive change in abnormal returns. Companies perceived as supporting Palestine also showed a positive trend in stock returns, although the change was not statistically significant. These findings indicate that the market's response to the boycott announcement was selective and highly influenced by the specific characteristics of each company. From the perspective of the Efficient Market Hypothesis (EMH), the results suggest that the Indonesian stock market is not yet fully efficient in responding to socio-political information such as boycotts. Nevertheless, investors as a whole tend to act rationally rather than emotionally in the face of social issues. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Miftah Agus Nugroho
"ABSTRAK
Dari berbagai sertifikat yang telah diterbitkan oleh
Danareksa ada kecenderungan ketentuan pengelolaan yang
monoton pad satu jenis sertifikat. Hal ini dapat dilihat
pada sertifikat saham, Sertifìkat Dana Unit Umum, dan
sertifikat Dana Unit Pendapatan. Keadaan ini kurang begitu
rnenguntungkan karena bila kemudian hari ditemukan adanya
kelemahan dalam ketentuan pengelolaan tersebut,maka kebu
tuhan koreksinya terlalu berat,Jadi meskipun pendukung
suatu jenis sertifikat itu sama, sebaiknya ketentuan
pengelolaannya dibuat berbeda. Dengan demikian dapat menun
jukan ciri khas masing?masing penerbitan sertifikat.
Meskipun Danareksa sebagai Badan usaha Milik Negara yang
dibebani dengan misi-miSi tertentu, tidak brerarti dalam
operasinya tidak boleh memikirkan keuntungan buat dirinya
demi kelangsungan hidupnya perusahaan.Hal ini terlihat
pada penerbitan sertifikat saham, Sertifikat Dana Unit Umum
dan sertifikat Dana Unit Pendapatan I,II,III. Dimana tidak
ada pembebanan management fee sebagaimana lazimnya pener
bitan mutual fund. Dengan demikian dapat dipertanyakan
darimana pengelola dana membiayai operasi pengelolaan ser
tifikat untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Hal ini dapat terjadi dan tidak begitu dirasakan oleh Danareksa karena belum terpisahnya pengelolaan sertifikat dengan kegiatan Danareksa lainnya secara tuntas.
Pada saat ini penerbitan sertifikat belum ada saingannya di bidang yang sejenis. Hanya saja pesaing tidak langsung yang berupa deposito dan tabungan perbankan punya pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan sertifikat danareksa.
Dengan adanya ketentuan diperbolehkannya pembentukan reksadana yang mengelola sejenis mutual fund, maka hal ini merupakan alternatif pilihan yang menarik bagi investor. Oleh karena itu patut dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh faktor persaingan ini apabila Danareksa akan menerbitkan sertifikat baru atau membentuk reksadana diwaktu waktu yang akan datang karena selama ini dalam penerbitan sertifikat, Danareksa sudah terbiasa tanpa adanya persaingan pada bidang yang sejenis.
"
1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>