Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6881 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lough, Mary E.
St. Louis: Elsevier Mosby, 2016
612.140 28 LOU h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Vashist, Sandeep Kumar
"This book describes the emerging point-of-care (POC) technologies that are paving the way to the next generation healthcare monitoring and management. It provides the readers with comprehensive, up-to-date information about the emerging technologies, such as smartphone-based mobile healthcare technologies, smart devices, commercial personalized POC technologies, paper-based immunoassays (IAs), lab-on-a-chip (LOC)-based IAs, and multiplex IAs. The book also provides guided insights into the POC diabetes management software and smart applications, and the statistical determination of various bioanalytical parameters. Additionally, the authors discuss the future trends in POC technologies and personalized and integrated healthcare solutions for chronic diseases, such as diabetes, stress, obesity, and cardiovascular disorders. Each POC technology is described comprehensively and analyzed critically with its characteristic features, bioanalytical principles, applications, advantages, limitations, and future trends. This book would be a very useful resource and teaching aid for professionals working in the field of POC technologies, in vitro diagnostics (IVD), mobile healthcare, Big Data, smart technology, software, smart applications, biomedical engineering, biosensors, personalized healthcare, and other disciplines.
Acts as an up-to-date resource to emerging POC technologies;
Provides readers with extensive knowledge, competence, and analytical skills in POC technologies, mobile healthcare, and clinical diagnostics;
Explains future trends in POC technologies and personalized and integrated healthcare solutions for chronic diseases."
Switzerland: Springer Nature, 2019
e20509370
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Pardede, Ingrid M.
"Kami melakukan studi untuk menganalisis parameter hemodinamik pada pacu jantung jenis satu kamar ventrikel dibandingkan dengan jenis dua kamar secara non-invasif dengan thoracic electrical bioimpedance (Physio Flow?). Dilakukan analisis terhadap 48 pasien rawat jalan dengan pacu jantung permanen secara konsekutif, 27 diantaranya dengan pacu jantung jenis satu kamar ventrikel. Diukur parameter jantung: denyut jantung, indeks volume sekuncup, indeks curah jantung, perkiraan fraksi ejeksi, volume akhir diastolik, rasio fungsi awal diastolik, indeks cairan toraks, dan parameter sistemik: indeks kerja jantung kiri, indeks resistensi vaskuler sistemik. Karakteristik dasar dan indikasi pemasangan pacu jantung pada kedua kelompok sama. Penilaian parameter jantung menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada denyut nadi, indeks volume sekuncup, indeks curah jantung, perkiraan fraksi ejeksi, volume akhir diastolik, indeks cairan thoraks antara kelompok pacu jantung jenis satu kamar ventrikel dengan kelompok pacu jantung jenis dua kamar. Rasio fungsi awal diastolik lebih tinggi bermakna pada pacu jantung jenis satu kamar ventrikel dibandingkan jenis dua kamar: 92% (10,2?187,7%) vs. 100,6% (48,7?403,2%); p=0,006. Parameter sistemik menunjukkan indeks kerja jantung kiri pada pacu jantung jenis satu kamar ventrikel lebih tinggi bermakna dibandingkan jenis dua kamar: 4,9 kg.m/m² (2,8?7,6 kg.m/m²) vs. 4,3 kg.m/m² (2,9-7,2 kg.m/m²); p=0,004. Indeks resistensi vaskular sistemik pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Pacu jantung jenis satu kamar memberikan manfaat hemodinamik yang setara dengan pacu jantung jenis dua kamar. Pengukuran parameter hemodinamik dengan thoracic electrical bioimpedance mudah diterapkan pada pasien dengan pacu jantung permanen.

We carried out a cross sectional study to analyze hemodynamic parameters of single-chamber ventricular pacemaker compared with dual-chamber pacemaker by using thoracic electrical bioimpedance monitoring method (Physio Flow?) - a novel simple non-invasive measurement. A total of 48 consecutive outpatients comprised of 27 single chamber pacemaker and 21 dual chamber were analyzed. We measured cardiac parameters: heart rate, stroke volume index, cardiac output index, estimated ejection fraction, end diastolic volume, early diastolic function ratio, thoracic fluid index, and systemic parameters: left cardiac work index and systemic vascular resistance index. Baseline characteristic and pacemaker indication were similar in both groups. Cardiac parameters assessment revealed no significant difference between single-chamber pacemaker and dual-chamber pacemaker in heart rate, stroke volume index, cardiac index, estimated ejection fraction, end-diastolic volume, thoracic fluid index. There was significantly higher early diastolic function ratio in single-chamber pacemaker compared to dual-chamber pacemaker: 92% (10.2-187.7%) vs. 100.6% (48.7-403.2%); p=0.006. Systemic parameters assessment revealed significantly higher left cardiac work index in single-chamber group than dual-chamber group 4.9 kg.m/m² (2.8-7.6 kg.m/m²) vs. 4.3 kg.m/m² (2.9-7.2 kg.m/m²); p=0.004. There was no significant difference on systemic vascular resistance in single-chamber compared to dual-chamber pacemaker. Single-chamber ventricular pacemaker provides similar stroke volume, cardiac output and left cardiac work, compared to dual-chamber pacemaker. A non-invasive hemodynamic measurement using thoracic electrical bioimpedance is feasible for permanent pacemaker outpatients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ketut Vanda Aryanthera Wisnu Nadia
"Masalah respirasi umum terjadi pada bayi prematur. Beberapa masalah respirasi yang dialami bayi prematur adalah kesulitan bernapas, penyakit paru-paru kronis, dan apnea. Apnea adalah kondisi ketika seseorang berhenti bernafas atau mengalami kesulitan menghirup udara melebihi 2 mL/kg. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ lain atau kematian. Oleh karena itu, pemantauan pada proses respirasi diperlukan. Namun, pemantauan respirasi di rumah sakit Indonesia, sebagian besar dilakukan secara manual dalam jangka waktu tertentu.
Dalam penelitian ini, dikembangkan rancang bangun perangkat pemantau respirasi berdasarkan refleksi cahaya untuk aplikasi inkubator bayi yang dapat beroperasi secara real-time. Perangkat ini terdiri dari sumber cahaya dengan panjanga gelombang 650 nm dan daya 5 mW, kertas reflektor, detektor, rangkaian pengkondisi sinyal, mikrokontroler Arduino UNO R3 dan juga buzzer untuk mengantisipasi situasi darurat, seperti apnea.
Perangkat diuji dengan simulator yang dapat diatur secara manual dengan mengikuti aplikasi metronome. Berdasarkan hasil, ditunjukkan bahwa error sebesar 1,99, nilai ini masih di bawah batas maksimal error untuk peralatan medis, yaitu 5. Batas tersebut berdasarkan AAMI Association for Advancement of Medical Instrument.

Respiratory problems are common in premature infants. Some of the problems of respiration experienced by premature infants are difficulty breathing, chronic lung disease, and apnea. Apnea is a condition when a person stops breathing or have difficulty in breathing the air that exceeds 2 mL kg. This disease can cause damage to other organs or death. Therefore, monitoring the premature respiratory process is needed. But in Indonesia, respiration monitoring at health centers mostly is done manually in a certain period of time.
In this research, we propose the design of respiration sensor based on laser reflection for infant incubator that can operate continuously. The device consists of a laser with wavelength 650 nm and power 5 mW, a paper reflector, detector, signal conditioning circuit, microcontroller Arduino UNO and also a buzzer for anticipating the emergency situation, such as apnea.
The device is tested with a simulator that can be set manually by following the metronome application. Based on the results, it is shown that the error is 1.99, this value is still below the maximum limit error for medical equipment, which is 5. The limit is based on AAMI Association for Advancement of Medical Instruments.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nindya Anggi Sinantara
"Latar Belakang. Pemantauan respon keadaan nosiseptif dengan objektif melalui metode non-klinis masih dalam keadaan pengujian dan pengembangan, tanpa metode yang terdokumentasi dan terbukti baik untuk penggunaan sehari-hari secara klinis. Pemantauan terhadap nosiseptif hingga saat ini lebih banyak berdasarkan status hemodinamik pasien yang dinilai dari laju nadi dan tekanan darah. qNOX telah membuktikan korelasi dengan tanda-tanda klinis dari nosiseptif dan/atau antinosiseptif yang tidak memadai, seperti gerakan selama insersi LMA, laringoskopi dan intubasi trakea Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui kesesuaian nilai qNOX dengan perubahan hemodinamik sebagai prediktor respon nyeri pada prosedur intubasi trakea.
Metode. Penelitian merupakan penelitian reliabilitas dan diagnostik yang menilai kesesuaian nilai qNOX dengan perubahan hemodinamik sebagai prediktor respon nyeri pada prosedur intubasi trakea, dan menilai validitas qNOX sebagai prediktor respon nyeri. 54 subjek dilakukan pendataan nilai qNOX sebelum dilakukan intubasi, dan dua kali pendataan hemodinamik yaitu sebelum anestesia dan dalam satu menit pasca-intubasi. Data hemodinamik kemudian ditentukan selisihnya dan dikategorikan menjadi reaktif dan nonreaktif. Data qNOX yang didapatkan dikategorikan menjadi responsif dan nonresponsif. Hasil. Uji Kappa menunjukkan kesesuaian qNOX dengan perubahan hemodinamik adalah bermakna dengan nilai Kappa 0,715. qNOX menunjukkan sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas sebesar 86%.
Simpulan. Terdapat kesesuaian yang kuat antara nilai qNOX dengan perubahan hemodinamik sebagai prediktor respon nyeri pada prosedur intubasi trakea. qNOX dan perubahan hemodinamik merupakan prediktor respon nyeri yang reliabel dalam prediksi respon nyeri pada prosedur intubasi trakea. qNOX memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi sebagai prediktor respon nyeri pada prosedur intubasi
trakea.

Background. Objectively monitoring the response of nociceptive states through non-clinical methods is still in testing and development, without well-documented and proven methods for clinical daily use. Nociceptive monitoring to date has largely been based on the patient's hemodynamic status as measured by heart rate and blood pressure. qNOX has been shown to correlate with nociceptive and / or inadequate antinociceptive clinical signs, such as movements during LMA insertion, laryngoscopy and tracheal intubation. Therefore, researchers want to find out the suitability of qNOX values with hemodynamic changes as predictors of
pain response in tracheal intubation procedures.
Method. The study is a reliability and diagnostic study that assesses the suitability of qNOX values with hemodynamic changes as predictors of pain response intracheal intubation procedures, and assesses the validity of qNOX as a predictor of pain response. 54 subjects were collected qNOX values before intubation, and hemodynamic data collection twice before anesthesia and within one minute postintubation. Hemodynamic data is then determined by the difference and categorized as reactive and nonreactive. The qNOX data obtained is categorized as responsive and non-responsive. Results. Kappa test shows that the suitability of qNOX with hemodynamic changes is significant with a Kappa value of 0.715. qNOX shows a sensitivity of 100% and a specificity of 86%. Conclusion. There is a strong compatibility between qNOX values and
hemodynamic changes as predictors of pain response in tracheal intubation procedures. qNOX and hemodynamic changes are reliable predictors of pain response in the prediction of pain response in tracheal intubation procedures. qNOX has a high sensitivity and specificity as a predictor of pain response in tracheal intubation procedures.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saptadi Yuliarto
"Tingginya angka mortalitas syok anak dapat dicegah dengan deteksi dini dan terapi adekuat. Parameter hemodinamik digunakan sebagai dasar tatalaksana syok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan parameter hemodinamik pada pasien syok anak pasca resusitasi cairan dan obat-obatan vasoaktif. Penelitian deskriptif ini dilakukan di instalasi gawat darurat dan rawat intensif RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Januari 2013-September 2014, pada seluruh anak yang mengalami syok. Pengukuran hemodinamik dengan USCOM dilakukan pada jam I dan VI. Sebagian besar pasien mengalami syok hipodinamik dan refrakter cairan pasca resusitasi. Pasca pemberian obat-obatan vasoaktif, terjadi peningkatan inotropy pada sebagian besar kasus, namun diikuti oleh peningkatan afterload.

The high mortality rate in pediatric shock can be prevented by early detection and adequate management. Hemodynamic parameters is useful for guiding shock management. The aim of study was describing hemodynamic parameters in pediatric shock after fluid resuscitation and vasoactive drugs therapy. This descriptive study was conducted at emergency room and intensive care unit, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, in January 2013 ? September 2014, including all shock children. The hemodynamic was measured by USCOM in 1st and 6th hour. Most patients suffered from hypodynamic and fluid-refractory shock after fluid resuscitation. Post-administration of vasoactive drugs, inotropy and afterload increased in most cases."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reni Wigati
"Latar Belakang. Transfusi packed red cell (PRC) sering ditemui pada anak sakit kritis, dengan kemungkinan efek samping yang tidak sedikit. Beberapa laporan terakhir merekomendasikan ambang batas transfusi yang lebih rendah yaitu hemoglobin (Hb) 7 g/dL, namun data karakteristik serta pedoman transfusi PRC anak sakit kritis di Indonesia belum diketahui.
Metode. Studi dilakukan terhadap pasien yang dirawat di unit perawatan intensif anak (PICU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan diputuskan untuk mendapat transfusi PRC. Kadar Hb, saturasi vena sentral (ScvO2), rasio ekstraksi oksigen (O2ER), oxygen delivery (DO2), indeks kardiak (CI), dan indeks inotropik (INO) diukur/dihitung sebelum dan sesudah transfusi.
Hasil. Dari 92 pasien yang masuk perawatan PICU, 25 anak (27,5%) menjalani transfusi PRC dengan total 38 episode transfusi selama bulan Oktober hingga Desember 2015. Tiga episode dieksklusi dari penelitian sehingga 35 episode transfusi PRC diikutsertakan dalam analisis. Sebagian besar pasien adalah anak lelaki (77,1%) berusia 1 bulan hingga 1 tahun (45,7%), dengan median usia 2,1 (rentang 0,2 ? 16,2) tahun. Rerata Hb pre- dan pascatransfusi adalah 7,7 + 1,46 dan 10,2 + 1,97 g/dL. Rerata ScvO2 dan O2ER pretransfusi normal, yaitu 73,8 + 6,46 % dan 0,25 + 0,070, dengan rerata pascatransfusi tidak berbeda bermakna untuk keduanya, yaitu 79,0 + 5,92 % dan 0,19 + 0,056. Perbedaan rerata DO2, CI, dan INO pre- dan pascatransfusi juga tidak bermakna secara klinis maupun statistik. Analisis subgrup yang menunjukkan perbedaan bermakna secara klinis adalah pada anak dengan ScvO2 pretransfusi < 70%. Subgrup ini menunjukkan rerata Hb pretransfusi 7,2 + 1,69 g/dL, dengan nilai ScvO2 pre- dan pascatransfusi sebesar 64,1 + 4,71 % (nilai p 0,181) serta O2ER pre- dan pascatransfusi 0,34 + 0,055 dan 0,21 + 0,080 (nilai p 0,152).
Simpulan. Studi terhadap praktek transfusi PRC di PICU RSCM tidak menunjukkan perubahan hemodinamik yang bermakna. Analisis lebih lanjut pada anak sakit kritis dengan nilai ScvO2 < 70% sebelum mendapatkan transfusi PRC cenderung menunjukkan perbaikan hemodinamik. Penelitian lebih lanjut mengenai ambang batas Hb atau ScvO2 untuk memutuskan pemberian transfusi PRC perlu dilakukan.

Background. Transfusion of packed red cells (PRC) often found in critically ill children, with the possibility of side effects is not uncommon. Later reports recommended a lower hemoglobin (Hb) for transfusion threshold, nevertheless the characteristics and transfusion guidelines PRC critically ill children in Indonesia is yet unknown.
Methods. This study was conducted on patients admitted to the pediatric intensive care unit (PICU) Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) and underwent PRC transfusion. Hemoglobin level, central venous saturation (ScvO2), oxygen extraction ratio (O2ER), oxygen delivery (DO2), cardiac index (CI), and inotropic index (INO) were measured/calculated before and after transfusion.
Results Of the 92 patients admitted to the PICU, 25 children (27.5%) were given PRC transfusion with a total of 38 episodes of transfusion during October to December 2015. Three episodes were excluded from the study that 35 episodes of PRC transfusion were included in the analysis. Most patients were boys (77.1%) aged 1 month to 1 year (45.7%), with a median of age 2.1 (range 0.2 to 16.2) yearold. Mean Hb pre- and post transfusion were 7.7 + 1.46 and 10.2 + 1.97 g/dL. The average ScvO2 and O2ER before transfusion were still in normal range, i.e. 73.8 + 6.46 % and 0.25 + 0.070, without significantly different levels after transfusion, i.e. 79.0 + 5.92% and 0.19 + 0.056. The mean differences of DO2, CI, and INO pre- and post transfusion were neither clinically nor statistically significant. Subgroup analysis that revealed clinically significant difference was children with pretransfusion ScvO2 <70%. This subgroup mean pretransfusion Hb was 7.2 + 1.69 g/dL, with pre/post transfusion ScvO2 values of 64.1 + 4.71% (p-value 0.181) and pre/post post transfusion O2ER 0.34 + 0.055 and 0.21 + 0.080 (p-value 0.152).
Conclusions. Study on PRC transfusion practice in PICU RSCM showed no significant hemodynamic changes. Subgroup analysis of critically ill children with ScvO2 <70% before PRC transfusion indicated hemodynamic improvement. Further research on optimal transfusion thresholds, e.g. hemoglobin level or ScvO2, for PRC transfusion decision-making need to be done.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tori Rihiantoro
"Terapi musik memiliki manfaat yang besar dalam dunia kesehatan. Beberapa studi telah dilakukan, namun yang berfokus pada pasien koma dan status hemodinamik masih sedikit yang dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap status hemodinamik pada pasien koma. Penelitian ini menggunakan disain quasi experimental one group pre post, dengan teknik consecutive sampling didapatkan sampel sebesar 21 pasien. Analisi deskriptif mengambarkan terjadi penurunan rata-rata MAP sesudah dilakukan terapi musik sebesar 6,80 mmHg, penurunan rata-rata heart rare sesudah terapi musik sebesar 6,76 kali/menit dan terjadi penurunan rata-rata frekuensi pernapasan sesudah terapi musik sebesar 4,08 kali/menit. Hasil analisis bivatiat dengan dependent t test menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna terapi musik terhadap MAP (p value = 0,03l), heart rare (p value = 0,015) dan frekuensi pernapasan (p value = 0,000). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna terapi musik terhadap status hemodinamik pada pasien koma di ruang ICU RSUDAM Propinsi Lampung. Hal ini dapat terjadi karena terapi musik dengan memperdengarkan musik instrumentalia healing sound mampu menciptakan efek relaksasi sehingga mampu menurunkan tingkat kecemasan, stressor dan stimulus-stimulus lain yang berpengaruh buruk terhadap hemodinamik pasien. Efek relaksasi tersebut dapat menurunkan indikator-indikator hemodinamik seperti MAP, heart rare dan frekuensi pernapasan. Penurunan indikator status hemodinamik pada pasien koma dengan cidera kepala dan stroke akan membantu stabilisasi hemodinamik pasien sekaligus membantu proses pemulihan pasien."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T22853
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mefri Yulia
"Latar Belakang. Laringoskopi dan intubasi dilakukan untuk memfasilitasi tindakan anestesia umum. Prosedur ini mengakibatkan nyeri dan memicu pelepasan katekolamin yang dapat menimbulkan respon hemodinamik berupa hipertensi dan takikardia. Berbagai macam obat digunakan untuk menekan respon hemodinamik salah satunya lidokain namun masih tidak dapat meniadakan respon hemodinamik. MgSO4 memiliki banyak manfaat salah satunya untuk menekan hipertensi dan takikardia yang dicetuskan oleh tindakan intubasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas MgSO4 dibandingkan lidokain dalam menekan respon hemodinamik saat intubasi.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis acak tersamar ganda, dengan 42 pasien yang menjalani anestesia umum dengan intubasi endotrakeal dan dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu MgSO4 dan lidokain. Kriteria inklusi adalah usia 18-65 tahun dengan status klinis ASA 1-2. MgSO4 25 mg/kg intravena diberikan dengan syringe pump selama 10 menit sebelum induksi dan lidokain 1,5 mg/kg diberikan secara bolus setelah pemberian atrakurium. Respon hemodinamik diukur pada saat awal, pasca induksi, saat intubasi, menit ke-1,3 dan 5 setelah intubasi. Data hemodinamik kemudian ditentukan selisihnya dari nilai pasca induksi dan dibandingkan antara kedua kelompok.
Hasil. Uji General Linear Model menunjukkan MgSO4 25 mg/kg intravena tidak lebih efektif dibandingkan lidokain 1,5 mg/kg intravena dalam menekan respon hemodinamik saat intubasi dinilai dari sistolik, diastolik, MAP dan laju jantung dengan p > 0,05 pada saat intubasi dan menit ke-1,3,5 setelah intubasi dibandingkan nilai pasca induksi pada semua variabel hemodinamik antara kedua kelompok.
Simpulan. MgSO4 25 mg/kg intravena tidak lebih efektif dibandingkan lidokain 1,5 mg/kg intravena dalam menekan respon hemodinamik saat intubasi.

Background. Laringoscopy and intubation is performed for facilitating general anesthesia procedure. This procedure induces pain and stimulate cathecolamine release which gives rise to a hemodynamic response such as hypertension and tachycardia. Many methods has been used to prevent this response such as lidocain, but still there is no method that can eliminate the hemodynamic response. MgSO4 has a lot of benefit effect including supressing hypertension and tachycardia which is induced by intubation procedure. This study aims to compare the effectiveness of MgSO4 with lidocain in supressing hemodynamic response during intubation.
Methods. This study is double blind clinical study on 42 patients undergoing general anesthesia with endotracheal intubation and is divided into two groups: MgSO4 and lidocaine. Inclusion criteria were age 18-65 years old with physical status ASA 1-2. Intravenous MgSO4 25 mg/kg was given by syringe pump for 10 minutes before induction and lidocaine 1,5 mg/kg was given by bolus injection after atrakurium was administered. Hemodynamic response were recorded at baseline, post induction, intubation, 1,3,5 minutes after intubation. Hemodynamic data is determined by the difference from the post induction value and is compared between two groups.
Results. General Linear Model Test shows intravenous MgSO4 25 mg/kg is not more effective than intravenous lidokain 1,5 mg/kg in supressing hemodynamic response during intubation from systolic, diatolic, MAP and heart rate variable with p > 0,05 during intubation, and 1,3,5 mintues after intubation between two groups.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Kautsar
"Latar belakang: Duktus arteriosus persisten signifikan hemodinamik (DAPsh) ditandai dengan peningkatan aliran darah paru dan penurunan aliran darah sistemik. Hipoperfusi sitemik yang menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan dapat dideteksi menggunakan near-infrared spectroscopy (NIRS) yang dipasang di area serebral, renal, dan abdomen.
Tujuan: Mencari nilai diagnsotik dari NIRS serebral, renal, dan abdominal dalam mendeteksi dini DAPsh pada bayi <32 minggu.
Metode: Sebanyak 43 subjek bayi prematur dilakukan pemantauan dengan memasang NIRS serebral, renal, dan abdomen pada 3 jam pertama selama 72 jam. Semua subjek dilakukan pemeriksaan dengan ekokardiografi dalam 24 jam pertama untuk menilai adanya DAPsh. Kriteria ekokardiografi yang digunakan termasuk parameter oversirkulasi paru dan pola aliran doppler di serebral, renal, dan abdominal. Nilai rerata dari NIRS selama 72 jam dibandingkan antara kelompok DAPhs dan non-DAPhs.
Hasil: Terdapat 10 subjek dengan DAPsh dan 33 subjek tanpa DAPsh. Median dari nilai RrSO2 pada kelompok dengan DAPsh lebih rendah dibanding kelompok tanpa DAPsh, 72 (44-87) vs 78 (48-89) (p=0,044). Dengan menggunakan kurva ROC, nilai titik potong < 74% memiliki sensitivitas sebesar 80% dan spesifisitas sebesar 70%. Sedangkan nilai CrSO2 dan SrSO2 tidak bermakna secara statistik.
Simpulan: Nilai RrSO2 < 74% dapat memprediksi adanya DAPsh pada bayi <32 minggu.

Background: Hemodynamically significant patent ductus arteriosus (hsPDA) is characterised by systemic hypoperfusion and pulmonary overcirculation. Systemic hypoperfusion with subsequent decrease of tissue oxygenation can be detected using near-infrared spectroscopy (NIRS) applied at the cerebral, renal, and abdominal areas.
Objective: To seek the diagnostic value of cerebral, renal, and splanchnic NIRS to detect hsPDA in infants < 32 weeks of gestation.
Methods: Forty-three very preterm infants (birth weight <1500 gr and gestational age <32 weeks) were monitored continuously with cerebral, renal, and abdominal NIRS within three hours after birth for 72 hours. All infants were prospectively evaluated using echocardiography to detect hsPDA within 24 hours after birth daily during the NIRS application. Echocardiography criteria to diagnose hsPDA included indices of pulmonary overcirculation and organ Doppler pattern at cerebral, renal, and splanchnic. The mean value of regional NIRS during its application was compared between the hsPDA and no- hsPDA groups.
Results: Of 43 infants, there were 10 infants with hsPDA and 33 with no hsPDA. A lower median of mean RrSO2 was noted in hsPDA groups compared to no-hsPDA groups, 72 (44-87) vs 78 (48-89), respectively (p=0.044), while no significant difference was found in CrSO2 and SrSO2. Using ROC curves, Mean RrSO2 < 74% identified an hsPDA with a sensitivity of 80% and specificity of 70%, while CrSO2 and SrSO2 were not significant
Conclusion : Low RrSO2 <74% was associated with the presence of hsPDA in infants < 32 weeks of gestation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>