Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 145703 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aloysius Suratin
"

Konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit monokultur menyebabkan menurunnya kadar unsur hara. Terbatasnya pengetahuan, akses unsur hara, dan dukungan kelembagaan bagi pekebun kelapa sawit swadaya menimbulkan kompleksitas pada upaya mempertahankan keberlanjutan unsur hara pada perkebunan kelapa sawit di tanah mineral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaringan sosioekologis, akses informasi unsur hara, akses unsur hara, praktik pengelolaan unsur hara dan neraca unsur hara di perkebunan kelapa sawit swadaya. Peneliti menggunakan 5 metode yaitu Social Network Analysis untuk menganalisis struktur jaringan sosioekologis PKSS, Triad Census untuk mengukur stabilitas jaringan dan partisipasi PKSS pada jaringan, perhitungan neraca unsur hara dan Nutrient Use Efficiency untuk menganalisis keseimbangan unsur hara dan keberlanjutan ekologis, dan analisis Benefit Cost Ratio untuk menentukan kelayakan ekonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik pengelolaan unsur hara di lokasi penelitian sangat rendah (IPH =0,63) akibat akses informasi unsur hara yang tergolong sedang (IAI=0,65) dan akses unsur hara yang rendah (IAH=0,37). Structural hole pada jaringan sosioekologis menyebabkan partisipasi PKSS pada proses interaksi pada jaringan sangat rendah (Indeks Partisipasi PKSS 0,13; Standar=0,59) dan stabilitas struktur jaringan sedang (Indeks Stabilitas Struktur Jaringan 0,39; Standar=0,76). Kendala tersebut menyebabkan tingkat pengetahuan PKSS pada sumber unsur hara anorganik lebih tinggi daripada sumber unsur hara organik, 52,29% PKSS tidak melakukan pemupukan; hanya 31,37% PKSS yang memperoleh akses pupuk bersubsidi, dan terjadi ekstrasi berlebihan pada unsur hara tanah. Unsur hara di perkebunan kelapa sawit swadaya tidak berkelanjutan karena tidak seimbangnya neraca unsur hara, tidak stabilnya jaringan sistem sosioekologis, dan sangat rendahnya partisipasi PKSS pada jaringan walaupun secara ekonomi perkebunan kelapa sawit tersebut layak (BCR=1,26).  Membentuk kelompok tani, mengembangkan kemitraan antara kelompok tani dengan jaringan ahli, membentuk kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan kelapa sawit, membentuk kemitraan dengan lembaga keuangan, dan meningkatkan aplikasi biomassa dan sumber unsur hara organik lain adalah intervensi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan keberlanjutan unsur hara.


Conversion of natural habitat to oil palm plantation reduced soil nutrient contents. Limited smallholders’ knowledge, access to nutrients, and institution supports created complexity in efforts to maintain sustainability of socioecological system in the oil palm plantation in mineral soil. This research aimed to analyse the socioecological networks of the smallholders, access to information, access to nutrients, nutrients management practices and nutrients budget. I applied 5 methods: Social Network Analysis to analyse network structure, Triad Census to analyse network stability and smallholder’s participation, Soil Nutrient Budget Measurement and Nutrient Use Efficiency to measure nutrient balance and ecological sustainability, and Benefit Cost Ratio to estimate economic feasibility. Results of the research were: nutrient management practice was very low (IPH=0,63) as the impact of medium access to information (IAI =0,65) and low access to nutrients (IAH=0,37). Structural hole in the network contributed to the very low level of smallholders’ participation in the network (Smallholders Participation Index 0.13 of the standard 0.59) and medium level of network stability (Structure Stability Index 0.39 of the standard 0.79). As a results, the level of smallholders’ knowledge about inorganic fartilizer is higher (100%) than the organic (<100%), 52.29% (N=153) of the smallholders were not fertilized their plots, 31.37% (N=153) of the smallholders that have access to subsidized fertilizers, and soil nutrient mining occurred in the field. The socioecological system at the independent oil palm plantation was unsustainable due to soil nutrient imbalances, instability of the network structure, and limited the smallholders’ participation in the network although they are economically feasible (BCR=1.26). Imbalances of nutrients in the smallholder managed oil palm plantation can be addressed by forming smallholders’ group, developing partnership between the group and expert network, building the group partnership with oil palm plantation, creating partnership between the groups and the financial institutions; and increasing input of biomasses and other organic nutrient sources.

 

"
2019
T52662
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Donny Heru Prasetyo
"Indonesia merupakan negara dengan produksi minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia pada tahun 2021 sebesar 46,8 juta ton dan diperkirakan akan terus meningkat di tahun selanjutnya. Di sisi lain, Pemerintah menerbitkan Inpres Nomor 8 Tahun 2018, mengenai pelaksanaan penundaan perizinan perkebunan kelapa sawit (moratorium) dan peningkatan produktifitas kelapa sawit. Salah satu cara untuk meningkatkan produktifitas kelapa sawit di tengah-tengah kebijakan moratorium lahan yaitu dengan peremajaan (replanting). Keberhasilan dalam proses peremajaan kelapa sawit tidak terlepas dari penggunaan alat berat excavator untuk proses penumbangan sampai pencacahan (chipping) pohon kelapa sawit. Salah satu model excavator yang yang diageni oleh PT United Tractors yang digunakan untuk pekerjaan chipping kelapa sawit adalah Komatsu PC200-10M0 CE. Di sisi lain, PT Karya Terang Utama yang merupakan salah satu pelanggan PT United Tractors mempunyai unit Komatsu PC200-10M0 CE yang berdasarkan data logistik produktifitas masih di bawah target yang ingin dicapai, sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk performanya. Performa yang dievaluasi yaitu produktifitas, fuel consumption, dan fuel ratio. Pengambilan data performa dilakukan secara langsung di lapangan, dimana unit akan beroperasi selama 1 jam, kemudian akan dicatat hasil produktifitas berupa jumlah batang kelapa sawit yang dapat dicacah dan fuel consumption. Untuk fuel ratio didapatkan dari perbandingan antara fuel consumption dengan produktifitas. Dari hasil pengetesan di lapangan, didapatkan hasil rata-rata produktifitas sebesar 16,94 pohon/jam, fuel consumption sebesar 19,63 liter/jam, dan fuel ratio 1,16 liter/pohon. Terbukti bahwa memang produktifitas masih di bawah dari target yang ingin dicapai, yaitu 18 pohon/jam. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan produktitas untuk mendapatkan hasil sesuai target yang diinginkan. Peningkatan produktifitas dilakukan dengan cara memperbaiki metode chipping dengan penggunaan sudut chipping 450 – 600 dan perubahan desain bucket yang dibuat lebih melengkung di bagian ujungnya. Dari hasil perbaikan yang telah dilakukan, didapatkan hasil produktifitas dapat meningkat sebesar 11,1% menjadi 18,82 batang/jam, dengan fuel consumption yang relatif tidak ada perubahan maka unit lebih efisien 9,6% dibandingkan pada kondisi sebelumnya. Peningkatan produktifitas ini dapat berpotensi meningkatkan profit bagi pengguna alat sebesar 28,57%, dapat menyelesaikan kontrak pekerjaan 1 bulan lebih cepat, dan bagi distributor dan produsen alat dapat meningkatkan brand image dan penjualan unit excavator merek Komatsu di sektor perkebunan. Dalam proyek ini aspek-aspek keinsinyuran telah diterapkan sebaik mungkin baik dari sisi kompetensi professional, prinsip dasar kode etik serta keamanan, keselamatan, kesehatan, dan lingkungan hidup (K3L).

Indonesia is a country with the largest palm oil production in the world. Indonesia's CPO (Crude Palm Oil) production in 2021 is 46.8 million tons and is expected to continue to increase in the following year. On the other hand, the Government issued Presidential Instruction Number 8 of 2018, regarding the implementation of the suspension of oil palm plantation permits and increasing the productivity of palm oil. One of the way to increase the productivity of oil palm in the land moratorium policy is by replanting. Success in the process of replanting oil palm cannot be separated from the use of excavators for the felling process to the chipping of oil palm trees. One of the excavator models that is distributed by PT United Tractors that is used for oil palm chipping work is the Komatsu PC200-10M0 CE. On the other hand, PT Karya Terang Utama, a customer of PT United Tractors, has a Komatsu PC200-10M0 CE unit, which is based on logistical data, productivity is still below the target to be achieved, so it is necessary to evaluate its performance. The performance evaluated is productivity, fuel consumption, and fuel ratio. Performance data collection is carried out directly in the field, where the unit will operated for 1 hour, then productivity results will be recorded in the form of the number of palm stems that can be chipped and the fuel consumption. The fuel ratio is obtained from the ratio between fuel consumption and productivity. From the results of field testing, the average productivity was 16.94 trees/hour, fuel consumption was 19.63 liters/hour, and fuel ratio was 1.16 liters/tree. It is proven that productivity is still below the target to be achieved, namely 18 trees/hour. Therefore it is necessary to increase productivity to get results according to the desired target. Productivity was increased by improving the chipping method by using a chipping angle of 450 – 600 and changing the bucket design which was made more curved at the edges. From the results of the improvements that have been made, the productivity results can increase by 11.1% to 18.82 trees/hour, with relatively no change in fuel consumption, the unit is 9.6% more efficient than in the previous condition. This increase in productivity has the potential to increase profits for users by 28.57%, can complete 1 month work contracts faster, and for distributors and equipment manufacturers can increase brand image and sales of Komatsu brand excavator units in the plantation sector. In this project engineering aspects have been implemented as well as possible both in terms of professional competence, basic principles of code of ethics and security, safety, health and environment (K3L).

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Oetami Dewi
"Resistensi petani pada umumnya dipahami sebagai bentuk reaksi terhadap ancaman keamanan atau hilangnya mekanisme sosial yang menjamin terpenuhinya kebutuhan subsistensi rumah tangga petani. Ancaman terhadap subsistensi patani itu dapat muncul dari banyak kasus seperti komersialisasi dan kapitalisasi sistem pertanian di pedesaan, intervensi teknologi baru dalam bidang pertanian yang lebih bersifat padat modal daripada padat karya, tekanan demografis, revolusi hijau dan lain sebagainya.
Resistensi petani plasma perkebunan kelapa sawit mulai berkembang setelah produktivitas kebun menurun dan kesejahteraan hidup mereka semakin merosot bersamaan dengan pertambahan populasi penduduk. Petani plasma yang terikat oleh sistem contract farming dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit ini dalam posisi yang sangat tergantung pada perusahaan dan hampir tidak memiliki bargaining position.
Pada sisi lain pihak manejemen PTPN XIII PIR V Ngabang telah berhasil membangun kerjasama yang kuat dengan pemerintah daerah, aparat keamanan dan tokoh-tokoh politik serta tokoh-tokoh masyarakat setempat guna menahan segala bentuk resistensi dari petani plasma dan warga masyarakat di sekitar tapak perusahaan perkebunan tersebut berada. Dengan demikian tidak cukup memadai peluang politik bagi para petani plasma untuk memperjuangkan permasalahan mereka. Dalam kondisi seperti ini maka dapat dipahami apabila petani plasma cenderung memilih bentuk resistensi yang bersifat tertutup atau terselubung seperti pencurian buah kelapa sawit, pembakaran pohon sawit, penanaman pohon karat di areal kebun inti, dan penanaman benih tidak bersertifikat.
Implikasi teoritis yang dapat dipetik dari studi ini antara lain dalam komunitas petani plasma di Ngabang tidak berkembang kesadaran kelas. Kondisi demikian berkaitan terjadi karena belum berkembangnya institusi kepemilikan atau penguasaan tanah pertanian secara individual. Sebelmn PTPN XIII beroperasi di Ngabang, terdapat institusi penguasaan tanah pertanian secara kolektif atau komunal. Kesadaran kolektif yang berkembang pada komunitas petani plasma Ngabang adalah kasadaran akan identitas kultural mereka sebagai masyarakat Dayak yang tidak dapat dilepaskan dari adat dan hukum adat Petani plasma dan orang Dayak pada umumnya memlliki rasa inferioritas yang sensitif apabila identitas kultural terasa dilecehkan maka akan muncul tindakan impulsif untuk membuktikan diri mereka sebagai putra daerah "yang berkuasa" di wilayah tersebut.
Karakteristik tradisional dalam diri petani plasma di Ngabang bukan sekedar bersifat given, inheren dan melekat dalam pola perilaku petani plasma. Namun karakteristik ini berkaitan dengan serangkaian kebijakan pemerintah, tanggapan pihak perusahaan, dan konstruksi identitas yang telah lama dibangun oleh para aktivis LSM yang menegaskan bahwa identitas petani dan masyarakat Dayak pada umumnya adalah sebagai masyarakat adat. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pendapat para ahli bahwa petani memiliki kebudayaan asli yang tradisional. Temuan dalam studi ini menyatakan bahwa karakteristik tradisional dalam diri petani juga merupakan dampak dari proses konstruksi sosial yang dilakukan oleh negara dan Iembaga kapital yang bertujuan menundukkan komunitas petani dan mengambilalih kontrol penguasaan sumber daya alam dari tangan petani. Guna mencapai maksud tersebut, negara melakukan pendekatan teritorialisasi sehingga wilayah "pedalaman" tempat tinggal petani dan tempat keberadaan sumber daya alam berada di bawah kontrol kekuasaan birokrasi negara.
Akibat lebih jauh dari konstruksi idenitas tersebut petani plasma menjadi terjebak dalam konstruksi identitas dan solidalitas yang bersifat sempit dan lokal. Dalam keadaan dernikian perusahaan perkebunan merespon semua bentuk resistensi petani seperti permasalahan konflik adat bukan konflik ekonomi. Dengan konstruksi sosial seperti ini segala bentuk resistensi petani plasma menjadi lebih mudah ditundukkan dan dilokalisir dalam ranah kultural adat dan tidak akan berkembang menjadi perlawanan kolektif skala besar. Temuan ini menunjukan bahwa ?adat? menjadi instrument yang dipergunakan perusahaan untuk melokalisasi resistensi petani plasma Resistensi petani plasma Ngabang tidak cukup dijelaskan dari sisi internal petani seperti mari-teori klasik tentang perlawanan petani yakni ada atau tidak adanya ideologi dan pemimpin namun harus mempertimbangkan faktor kontekstual yakni konstelasi relasi pasar, negara dan komunitas serta motivasi petani untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Resistensi terselubung yang dilakukan petani plasma terhadap PTPN XIII di Ngabang bukan bertujuan untuk mengembalikan sistem perekonomian subsisten namun justru didorong oleh motivasi untuk memperbesar akses keterlibatan petani plasma dalam sistem perkebunan kelapa sawit seperti memperoleh penghasilan lebih besar dan manduduki posisi terhormat dalam birokrasi perkebunan. Temuan ini jauh berbeda dengan pernyataan Scott bahwa petani akan selalu mempertahankan sistem perekonomian subsisten karena sistem ini dianggap memberi jaminan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga petani. Petani plasma dalam bertindak lebih mengutamakan kepentingan individual dan tidak mempertimbangkan kepentingan kolektif seperti yang dikatakan oleh para pendukung perspektif teori moral ekonomi. Konsepsi teoritis tentang bentuk-bentuk resistensi petani yang dikembangkan oleh para pendukung paradigma moral ekonomi hanya mampu menjelaskan bentuk resistensi terselubung yang dilakukan oleh petani plasma di Ngabang namun gagal untuk menjelaskan dorongan atau motivasi yang melandasi resistensi petani plasma terhadap PTPN XIII PIR V Ngabang."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
D789
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bernadinus Steni Sugiarto
"ABSTRAK
Tesis ini mengangkat persoalan petani swadaya kelapa sawit dalam menghadapi standar keberlanjutan yang berlaku atas produk kelapa sawit mereka, berupa Tanda Buah Segar TBS . Fokus studi ini adalah menampilkan pengalaman petani di dua desa di Kalimantan Tengah dalam mencari cara dan langkah-langkah yang tepat untuk memenuhi standar RSPO Roundtable Sustainable Palm Oil , terutama ketika menggunakan hukum sebagai salah satu instrumen untuk memenuhi standar pasar. Untuk memeriksa pengalaman-pengalaman tersebut maka studi ini menggunakan metode sosio-legal untuk mengeksplorasi aspek sosial dalam penggunaan hukum, sekaligus memperlihatkan kenyataan sosial dalam dari hukum. Sehingga penelitian lapangan akan memeriksa hukum investasi dan perkebunan dalam konteks dua desa ketika digunakan untuk memenuhi standar pasar terhadap keberlanjutan.

ABSTRACT
This thesis is to disclose the problem of oil palm smallholder farmers in facing the global sustainability standards to crude palm oil. The focus of this study is describing the experiences of farmers in two villages in searching for precise ways and steps to fulfil the Roundtable Sustainable Palm Oil standards, especially in dealing with laws as the instrument to achive the requirements of the standard. To analyse those experiences, this study uses the the socio legal method to explore the social aspects of experiencing with legal instruments and at the same time portraying the reality of laws on the ground. The study will challenge whether plantation laws and investment laws are implemented as such when farmers are facing the requirements to achieve the sustainability standards. "
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2018
T52095
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Winna Putri Meirita
"Telah dilakukan penelitian mengenai identifikasi protein alergen serbuk sari akasia (Acacia auriculiformis dan Acacia mangium) dan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi protein alergen serbuk sari tanaman Acacia auriculiformis, Acacia mangium, dan kelapa sawit. Ekstrak protein sampel serbuk sari menunjukkan hasil negatif pada uji dot blotting karena konsentrasi protein sampel rendah. Protein serbuk sari kelapa sawit dengan berat molekul (BM) 31 kDa diduga sebagai alergen utama karena bereaksi positif terhadap > 80% serum individu alergi maupun individu normal. Individu normal bereaksi positif terhadap protein tersebut diduga karena faktor atopi.

The research was about identification of allergenic pollen protein from acacia (Acacia auriculiformis and Acacia mangium) and oil palm (Elaeis guineensis Jacq.). The aim of the research was to identify allergenic pollen protein from Acacia auriculiformis, Acacia mangium, and oil palm. Protein extract of pollen sample which was extracted by phenol extract method showed negative result in dot blotting assay because protein concentration of sample was low. Oil palm pollen protein with 31 kDa molecular weight was suspected as major allergen because it showed positive reaction to >80% of serum either allergy or normal individual. Normal individual which showed positive reaction to the protein was suspected cause of atopy."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43078
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mustarini Dessy Vitiara
"Kegiatan perkebunan kelapa sawit banyak memberikan keuntungan ekonomi, tetapi memunculkan kerugian lingkungan. Masalah dalam penelitian ini yaitu adanya kerusakan lingkungan akibat perkebunan merugikan masyarakat dan memicu konflik sosial. Tujuan penelitian adalah menyusun strategi penyelesaian konflik sosial akibat kerusakan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan adalah gabungan kuantitatif untuk analisis statistik dan analisis deskriptif kualitatif menggunakan kuesioner skala Likert terhadap 101 responden dan wawancara kepada 7 narasumber. Hasil penelitian menunjukan penyelesaian konflik sosial akibat kerusakan lingkungan dapat dilakukan dengan menurunkan nilai konflik sosial sebesar 67,7%, serta meningkatkan kerusakan lingkungan sebesar 33,2%, partisipasi masyarakat sebesar 33,7%, kemampuan masyarakat sebesar 11,3%, dan pengelolaan lingkungan sebesar 63,6% agar terjadi 1 peningkatan pada upaya penyelesaian konflik sosial, disertai dengan pemanfaatan pendekatan sosial oleh perusahaan dan bantuan dari pihak pemerintah. Kesimpulan penelitian ini yaitu peningkatan masing-masing nilai variabel yang signifikan dan bantuan pihak ketiga sebagai strategi penyelesaian konflik sosial akibat kerusakan lingkungan.

Oil palm plantation activities provide many economic benefits, but cause environmental losses. The problem in this study is that environmental damage caused by plantations harms the community and triggers social conflicts. The research objective is to develop a strategy for resolving social conflicts due to environmental damage based on community participation. The method used is a combination of quantitative for statistical analysis and qualitative descriptive analysis using a Likert scale questionnaire to 101 respondents and interviews with 7 resource persons. The results showed that solving social conflicts due to environmental damage can be done by reducing the value of social conflict by 67.7%, as well as increasing environmental damage by 33.2%, community participation by 33.7%, community capacity by 11.3%, and environmental management by 63.6% so that there is an increase in efforts to resolve social conflicts, accompanied by the use of social approaches by companies and assistance from the government. The conclusion of this study is a significant increase in each variable value and third-party assistance as a strategy for resolving social conflicts due to environmental damage."
Jakarta: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Priambodo
"ABSTRAK
Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan di Indonesia, dengan luas sekitar 11 juta hektar pada tahun 2014. Serbuk sari kelapa sawit memiliki potensi alergi yang cukup besar, karena memiliki ukuran relatif kecil, berjumlah relatif banyak, dan bersifat anemofili.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter kandidat protein alergen serbuk sari kelapa sawit melalui metode SDS-PAGE dan Western Blotting, serta mengetahui aktivitas IgA, IgE, IgG, IgM, dan IFN-γ pada sel Peripheral Blood Mononuclear Cell (PBMC) terhadap induksi protein serbuk sari kelapa sawit yang dilakukan secara in vitro. Penelitian diawali dengan ekstraksi protein serbuk sari kelapa sawit, yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia. Berat molekul protein dianalisis dengan metode SDS-PAGE, serta uji kealergenikan kandidat protein alergen diuji dengan menggunakan 21 serum pasien alergi melalui metode Western Blotting. Protein serbuk sari kelapa sawit juga diinduksikan pada kultur sel PBMC. Proses pendeteksian IgA, IgE, IgG, IgM, dan IFN-γ dilakukan menggunakan metode ELISA. Berat molekul protein serbuk sari kelapa sawit diketahui berukuran 10?80 kDa.
Hasil uji kealergenikan protein tersebut pada Western Blotting menunjukkan kandidat protein alergen memiliki ukuran 14 kDa, 15 kDa, 20 kDa dan 31 kDa. Aktivitas beberapa immunoglobulin dan sitokin berhasil terdeteksi. Konsentrasi IgA didapatkan sebesar 0,022 pg/ml, IgE sebesar 9,655 pg/ml, IgG sebesar 39,856 pg/ml, IgM sebesar 10,369 pg/ml, dan IFN-γ sebesar 2.617,240 pg/ml.

ABSTRACT
Oil palm is a plant that widely cultivated in Indonesia, with an area of about 11 million hectares in 2014. Oil palm pollen is potential to caused allergy, because it has a small size, much in amount, and was dispersed by wind.
This study aims to determine the character of the allergen protein candidate from oil palm pollen by using SDS-PAGE and Western Blotting, and also to know the activity of IgA, IgE, IgG, IgM, and IFN-γ against exposure to oil palm pollen protein performed in vitro on Peripheral Blood Mononuclear Cell (PBMC). The study begins with the protein extraction from oil palm pollen, which is derived from several regions in Indonesia. The molecular weight of these proteins are analyzed using SDS-PAGE. Allergenic test of allergen protein candidates were tested using 21 serum of allergic patients through Western Blotting method. Oil palm pollen protein also induced in PBMC cultures. The detection of IgA, IgE, IgG, IgM, and IFN-γ were performed using ELISA. The molecular weight of oil palm pollen protein is about 10?80 kDa.
Allergenic test results through Western Blotting showed the allergen protein candidates have a size of 14 kDa, 15 kDa, 20 kDa and 31 kDa. Immunoglobulin and cytokine activity successfully detected. The IgA concentrations obtained 0.022 pg/ml, IgE obtained 9.655 pg/ml, IgG obtained 39.856 pg/ml, IgM obtained 10.369 pg/ml, and IFN-γ obtained 2,617.240 pg /ml.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2015
T44879
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Winda Nawfetrias
"The bunch size represented by the fruit number is the main parameter of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) yield. The
fruit number, which is determined during the initial phase of development, is related to various factors, including the
genetic properties of the trees. Trees that have more pistillate flowers have more fruit. The diversity of MADS-box
genes assumed can be used as a marker for trees that have a higher number of pistillate flowers. Therefore, the aims of
this research were to isolate and identify the MADS-box genes from flowers of tenera oil palm using PCR techniques.
The SQUAMOSA (SQUA) gene and the GLOBOSA (GLO) gene are members of the MADS-box genes family that are
responsible for sepal, petal and stamen organ development. The genomic DNA of the staminate flowers of trees that
have more staminate flowers (P1) and the genomic DNA of the pistillate flowers of trees that have more pistillate
flowers (P2) were isolated using the CTAB+ PVP method. The CTAB+PVP method was more efficient for isolating
pistillate flower genomic DNA than staminate flower genomic DNA. The genomic DNA of P1 and P2 was amplified
with two primers: BMS and BMG. The BMS primers gave a PCR product size of 1250 bp for the genomic DNA of P1
and P2. Meanwhile, the BMG primers gave a PCR product size of 1250 bp and 1300 bp for P1 and P2, respectively.
The PCR products were sequenced and analyzed for homology using the GenBank database. BLAST analysis showed
the PCR products have high homology with the SQUA1 gene and the GLO2 gene. Alignment analysis showed that the
DNA fragments amplified with the BMS primers of the P1 and P2 sequences have variations in the exons and introns,
and the variations were observed only in the introns of the DNA fragments amplified with the BMG primers.
Identifikasi Gen MADS-box pada Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Ukuran tandan yang dipresentasikan
dengan jumlah buah merupakan parameter utama pada produksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Jumlah buah,
yang dapat diduga selama fase awal perkembangan tanaman, berkaitan dengan berbagai faktor, salah satunya adalah
properti genetik pohon. Pohon yang mempunyai bunga betina lebih banyak mempunyai buah lebih banyak. Keragaman
gen MADS-box diduga dapat digunakan sebagai marka untuk pohon yang mempunyai banyak bunga betina. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi gen MADS-box dari bunga kelapa sawit Tenera
menggunakan teknik PCR. Gen SQUAMOSA (SQUA) dan gen GLOBOSA (GLO) termasuk dalam famili gen MADSbox
yang berperan pada perkembangan organ sepal, petal dan stamen. DNA genom bunga jantan dari pohon yang
mempunyai bunga jantan lebih banyak (P1) dan DNA genom bunga betina dari pohon yang mempunyai bunga betina
lebih banyak (P2) diisolasi menggunakan metode CTAB+PVP. DNA genom P1 dan P2 diamplifikasi menggunakan dua
primer: BMS dan BMG. Primer BMS menghasilkan produk PCR berukuran 1250 bp untuk DNA genomP1 dan P2.
Primer BMG menghasilkan produk PCR berukuran 1250 bp dan 1300 bp untuk P1 dan P2. Produk PCR disekuensing
dan dianalisis homologinya menggunakan database GenBank. Analisis BLAST menunjukkan bahwa produk PCR
mempunyai homologi yang tinggi dengan gen SQUA1 dan gen GLO2. Analisis alignment menunjukkan fragmen DNA
yang teramplifikasi primer BMS dari sekuen P1 dan P2 mempunyai keragaman pada ekson dan intron, keragaman
hanya terdeteksi pada intron fragmen DNA yang teramplifikasi primer BMG."
Agency of Assessment and Application of Technology/BPPT, Jakarta, 2016
J-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hutauruk, Joko Elias
"Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan salah satu biomasa yang sangat berpotensi digunakan sebagai sumber energi terbarukan. Selulosa merupakan salah satu komponen penyusun dari limbah TKKS. Komponen selulosa yang berasal dari TKKS sebesar 39,79%, yang diperoleh dari hasil pretreatment dengan menggunakan NaOH 10% (w/v). Selulosa menjadi bahan dasar reaksi konversi menjadi asam levulinat. Dalam reaksi konversi ini, proses degradasi selulosa berlangsung dengan reaksi menyerupai reaksi Fenton dengan adanya katalis Mn/ZSM-5 dalam media asam fosfat sehingga mampu mendegradasi selulosa menjadi unit monomer gula yang mudah larut dan menjadi selulosa dengan derajat polimerisasi (DP) yang lebih rendah.
Pada penelitian ini, selulosa yang digunakan dalam reaksi konversi berasal dari hasil pretreatment yang berbeda, yaitu berasal dari hasil delignifikasi dengan NaOH 10% (w/v) dan delignifikasi oksidatif dengan NaOCl 2% (v/v). Disamping itu, pada reaksi konversi, dilakukan juga variasi konsentrasi asam fosfat dan variasi pengaruh katalis Mn/ZSM-5. Diperoleh persen yield asam levulinat sebesar 28,08% dari hasil reaksi dengan menggunakan 0,1 g katalis Mn/ZM-5, 20 mL H3PO4 40%, dan 0,5 mL H2O2 30% dengan suhu reaksi ±100 oC selama 10 jam.

Empty Palm Oil Fruit Bunch (EPOFB) is one of the potential biomass that can be used as the source of renewable energy. Cellulose is one of the biomass components from EPOFB waste. The content of cellulose from EPOFB is 39,79% that obtained from alkali pretreatment using NaOH 10% (w/v). Cellulose is became the initial feedstock in conversion reaction to levulinic acid. In this process, the degradation of cellulose under a combination of heterogeneous Fenton-like reagent with catalyst Mn/ZSM-5 and phosporic acid media can effectively depolymerize cellulose to soluble sugars and partly degraded cellulose with much lower degree polymerization.
In this research, the cellulose that used was from different pretreatment, which are from delignification with NaOH 10% (w/v) and oxidative delignification with NaOCl 2% (v/v). Beside that, in this conversion reaction we did various of phosporic acid concentration and various effect of catalyst. From the reaction, the yield of levulinic acid achieved was 28.08 % with optimum reaction condition involved 0.1 g catalyst Mn/ZSM-5, 20 mL H3PO4 40%, and 0.5 mL H2O2 30% with temperature 100 oC for 10 h.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
T44349
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuliany
"Tesis ini membahas mengenai perjanjian kemitraan perkebunan plasma melalui program revitalisasi perkebunan kelapa sawit. Permasalahan hukum yang dibahas dalam tesis ini, antara lain: bagaimanakah ketentuan mengenai kemitraan perkebunan plasma dan revitalisasi perkebunan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, bagaimana pelaksanaannya dalam praktek termasuk segala kendala- kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini adalah normatif yuridis dengan menggunakan data sekunder dan bahan hukum primer, sekunder dan tertier. Hasil penelitian menemukan bahwa kemitraan plasma dan revitalisasi perkebunan di atur dalam beberapa peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah serta keputusan dan peraturan menteri, khususnya menteri pertanian dan menteri keuangan. Dalam pelaksanaannya, kemitraan plasma melalui program revitalisasi perkebunan menemui banyak kendala, seperti kendala birokrasi, biaya sertifikasi lahan yang tinggi, ketersediaan lahan untuk perkebunan, kekurangan tenaga teknis dari pemerintah untuk membantu dan mendampingi pelaksanaan, dan adanya perbedaan pemahaman program oleh perusahaan perkebunan, petani melalui koperasi, dan aparat pemerintah daerah. Penyederhanaan prosedur dan sosialisasi program merupakan salah satu cara untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan.

The focus of this thesis is the contract farming in terms of revitalisation program of palm oil plantation. The legal issues which discussed in this thesis, among others, contract farming and plantation revitalisasion program in the prevailing laws and regulations, how its implementation, including the problems incurred on the implementation. This study is a juridis normatif research and used secondary data with primary, secondary and tertier legal data. The result of study found that contract farming and revitalisation program are regulated in laws, govemment regulations and decree or decision of minister, particularly in agricultural and finance ministry. In the implementation, this revitalization program have several problems, among others, bureaucracy, high cost for land certification, land avaibility for plantation, less of technical support from govemment, and different point of view between plantation company, farmers or cooperative, and govemement officers. Simplify the bureaucracy and program sozialisation is one of the solve way to settle the problems at implementation."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2009
T26410
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>