Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 105799 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Annemarie Chrysantia Melati
"Latar Belakang: Hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri yang menjalani pembedahan merupakan hal yang cukup sering ditemukan. Hipotermia memiliki dampak negatif terhadap pasien yang menjalani pembedahan, antara lain meningkatnya lama pemulihan pascaanestesia, risiko infeksi luka operasi, dan komplikasi kardiovaskular. Pada penelitian ini menganalisa hubungan kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum dengan lama rawat di rumah sakit, kekerapan kejadian infeksi luka operasi, dan komplikasi kardiovaskular pascabedah.
Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif terhadap 110 subjek penelitian selama November 2018-Januari 2019. Subjek penelitian adalah pasien geriatri yang berusia di atas 60 tahun yang menjalani pembedahan dalam anestesia umum dengan/tanpa anestesia regional. Kriteria penolakan adalah pasien dengan gangguan termoregulasi, gangguan tiroid, mengalami hipotermia pada saat kunjungan preoperatif dan demam dalam 1 minggu sebelum operasi, dan dalam terapi antipiretik rutin.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan proporsi kejadian hipotermia intraoperatif pada pasien geriatri adalah sebanyak 67,3%. Hipotermia intraoperatif tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan lama rawat di rumah sakit (nilai p = 0,221). Hipotermia intraoperatif juga tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kekerapan kejadian infeksi luka operasi (nilai p = 0,175) dan komplikasi kardiovaskular (nilai p = 0,175).
Simpulan: Hipotermia intraoperatif tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan lama rawat di rumah sakit, kekerapan kejadian infeksi luka operasi dan komplikasi kardiovaskular.

Background: Intraoperative hypothermia among geriatric patients undergoing surgery is commonly found. Hypothermia is associated with negative impact postoperatively, such as increased surgical site infections, prolonged hospital stay, and increased cardiovascular complications. This study aimed to analyse the association between intraoperative hypothermia with length of stay, surgical site infection, and cardiovascular complication among geriatric patients undergoing surgery with general anesthesia.
Methods: This was a prospective cohort study for 110 research subjects from November 2018-January 2019. Research subjects were geriatric patients older than 60 years old undergoing surgery with general anesthesia with/without regional anesthesia. Exclusion criteria were patients with thermoregulation problem, thyroid problem, suffered from hypothermia or fever preoperatively, and with routine antipyretic medication.
Results: In this study, the incidence of intraoperative hypothermia among geriatric patients undergoing surgery with general anesthesia was 67,3%. Intraoperative hypothermia did not have significant association with length of stay (p-value = 0.221). Intraoperative hypothermia also did not have significant association with surgical site infection (p-value = 0.175) and cardiovascular complication (p-value = 0.175).
Conclusion: Intraoperative hypothermia did not have significant association with length of stay, surgical site infection, and cardiovascular complication.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Febrina Alivia Wantania
"Latar Belakang: Hipotermia pascabedah seringkali terjadi pada pasien geriatri karena adanya penurunan fisiologi tubuh. Hipotermia pada pasien geriatri dapat berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas, lama rawat inap serta komplikasi pasca pembedahan yang lebih tinggi. Lingkungan kamar bedah di Indonesia, keterampilan operator dan ketersediaan obat anestesia berbeda dengan negara lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis anestesia, jenis operasi, dan durasi operasi terhadap hipotermia pascabedah pada pasien geriatri di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional analitik retrospektif terhadap 95 pasien geriatri yang menjalani pembedahan dengan anestesia umum dan kombinasi anestesi umum regional di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo pada bulan November 2018 Januari 2019. Kriteria inklusi adalah pasien dengan usia lebih dari sama dengan 60 tahun dan menjalani prosedur bedah elektif. Kriteria eksklusi adalah pasien yang rekam medisnya tidak lengkap dan menjalani pembedahan dengan durasi kurang dari satu jam.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan prevalensi hipotermia pascabedah sebesar 63.15%. Hasil uji Fisher antara jenis anestesia dengan hipotermia pascabedah pada pasien geriatri menghasilkan nilai p sebesar 0.529. Hasil uji Chi Square antara jenis operasi dengan hipotermia pascabedah pada pasien geriatri menghasilkan nilai p sebesar 0.677. Hasil uji Chi Square antara durasi operasi dengan hipotermia pascabedah pada pasien geriatri menghasilkan nilai p sebesar 0.495.
Kesimpulan: Jenis anestesia, jenis operasi, dan durasi operasi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hipotermia pascabedah pada pasien geriatri.

Background: Postoperative hypothermia occurs in geriatric patients as their physiological functions have decreased. Hypothermia in geriatric patients can be associated with an increased risk of morbidity and mortality, length of stay and higher post surgical complications. The operating room environment in Indonesia, operator skills and supply of anesthetic drugs are different from other countries. The objective of this study was to analyze the relationship between types of anesthesia, types of surgery, and duration of surgery with post surgery hypothermia in geriatric patients at RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo.
Methods: This was a retrospective analytic cross sectional study for 95 geriatric patients undergoing surgery under general anesthesia and a combination of general regional anesthesia at RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo in November 2018 January 2019. The inclusion criteria was patients older than 60 years old and undergoing elective surgical procedures. Exclusion criteria was patients whose medical records were incomplete and undergoing surgery with a duration of less than an hour.
Results: It was found that the prevalence of postoperative hypothermia was 63.5%. Fishers test results between types of anesthesia with postoperative hypothermia in geriatric patients resulted in P value of 0.529. Chi Square test results between types of surgery with postoperative hypothermia in geriatric patients resulted in P value of 0.677. Chi Square test results between the duration of surgery with postoperative hypothermia in geriatric patients resulted in P value of 0.495.
Conclusion: The types of anesthesia, types of surgery, and duration of surgery did not have a significant association with postoperative hypothermia in geriatric patients."
Depok: Fakultas Kedokteran Univeritas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bram
"Latar belakang : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pemberian cairan Ringer laktat dan cairan Ringer asetat dalam mencegah hipotermia dan menggigil yang terjadi pada wanita hamil yang menjalani operasi sesar dengan analgesia spinal.
Metode : Seratus tiga puluh empat pasien yang menjalani operasi sesar menggunakan analgesia spinal di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, diberikan cairan Ringer laktat dan cairan Ringer asetat. Perubahan suhu membran timpani, perubahan suhu perifer dan kekerapan serta derajat menggigil dinilai sampai 50 menit setelah operasi dimulai.
Hasil : Didapatkan perbedaan bermakna (p=0,003) antara penurunan suhu membran timpani di antara kedua kelompok, kelompok yang mendapatkan cairan Ringer asetat mengalami penurunan suhu sebesar 0,730°C, sementara kelompok yang mendapatkan cairan Ringer laktat mengalami penurunan suhu sebesar 1,013°C. Perubahan suhu perifer diantara kedua kelompok juga berbeda bermakna (p=0,005), kelompok yang mendapatkan cairan Ringer asetat mengalami penurunan suhu perifer 0,724°C, sementara kelompok yang mendapat cairan Ringer laktat mengalami penurunan 0,964°C. Kejadian menggigil diantara kedua kelompok berbeda berakna (p=0,012), kejadian menggigil kelompok Ringer asetat 52,23% sementara kelompok Ringer laktat 74,62%. Tidak terdapat perbedaan bermakna derajat meggigil diantara kedua kelompok.
Kesimpulan : Bahwa pemberian cairan Ringer asetat lebih efektif mencegah hipotermia dan menggigil pada pasien yang menjalani operasi sesar dengan analgesia spinal

Background: The aim of this study is to determine the efficacy of lactated Ringer and acetated Ringer solutions in preventing hypothermia and shivering to parturitions women undergoing caesarean section using spinal analgesia.
Methods: One hundred thirty four parturitions women undergoing caesarean sections using spinal analgesia in emergency operating theatre of Cipto Mangunkusumo Hospital were included in this study. Those parturitions women were divided into two groups. One group received lactated Ringer solution and the other received acetated Ringer solution intravenously as maintenance and co-loading fluid. Tympanic membrane temperature and skin temperature were recorded every five minute within 50 minute interval.
Results: There was significant difference (p=0,003) between two groups in tympanic membrane temperature decrease. Acetated Ringer group had 0,730°C decrease in tympanic membrane temperature, while the lactated Ringer group had 1,013°C decrease. There was significant difference (p=0,005) between two groups in skin temperature. Acetated Ringer group had 0,724°C decrease in skin temperature, while the lactated Ringer group had 0,964°C decrease. Shivering incidence also show significant difference (p=0,412). Acetated Ringer group had 52,23% incidence while lactated Ringer group had 74,62%. There were no significant differences in shivering grade between two groups.
Conclusions: Acetated Ringer solution had greater efficacy in preventing hypothermia and shivering in parturitions women undergoing caesarean section using spinal analgesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18040
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sigit Nugroho
"Dalam proses produksinya, PT. Pupuk Kujang mendirikan Central Control Building sebagai pusat pengawasan proses produksi Kujang 1B. Dengan menggunakan sistem peralatan canggih dengan nama Distribution Control System (DCS) maka diperlukan kondisi ruang kerja yang khusus, yaitu harus berada dalam suhu ruangan 18°C. Keadaan itu mengakibatkan pekerja terpajan suhu dingin selama jam kerjanya. Suhu tersebut merupakan suhu yang berada di bawah nilai suhu nyaman. Hal ini mengakibatkan pekerja merasa terganggu oleh dingin tersebut yang pada akhirnya dapat berpengaruh negatif bagi kesehatan pekerja.
Penelitian ini membahas tentang gambaran pajanan suhu dingin terhadap kejadian hipotermia pada pekerja operator DCS di ruang kontrol Gedung CCB Kujang 1B PT. Pupuk Kujang Cikampek tahun 2009. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan disain cross-sectional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu control room Gedung CCB Kujang 1B berada di bawah nilai ambang batas (NAB) suhu nyaman (21?30°C) berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi Nomor SE.01/MEN/1978. Namun, nilai Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) control room tersebut masih berada dalam batas yang diperkenankan menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No: Kep- 51/Men/1999.
Penelitian ini juga tidak menemukan adanya kasus hipotermia pada pekerja operator DCS, karena penurunan suhu tubuh yang terjadi masih berada di batas suhu normal. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti menyarankan agar dilakukan pengendalian engineering berupa pengaturan ulang suhu control room hingga mencapai suhu nyaman yang diperkenankan (21°C) atau pemasangan pembatas yang memisahkan antara pekerja dengan sumber pendingin (air conditioner - AC) serta memperbaiki fasilitas alat pelindung diri seperti jaket, sarung tangan dan penutup kepala. Memperbanyak aktivitas fisik saat bekerja serta lebih sering menyempatkan minum dan makan juga disarankan agar panas tubuh tidak hilang.

In the process of production, PT. Pupuk Kujang establish Central Control Building as the central control of the production process Kujang 1B. By using the system with the sophisticated equipment Distribution Control System (DCS) is required then the condition that a special work space, must be in the room temperature 18°C. Circumstances that result in workers expose to cold temperatures during work hours. That temperature is below the temperature comfortable. This resulted in the workers feel disturbed by the cold, which in turn can negatively affect the health of workers.
This study discusses illustration exposure to cold temperature incident hypothermia service workers on the DCS control room in Building CCB Kujang 1B PT. Pupuk Kujang Cikampek 2009. This research is descriptive quantitative research with cross-sectional design.
Results of research indicate that the temperature control room building CCB Kujang 1B under the threshold limit value (TLV) temperature comfortable (21-30°C) based on the Circular Letter of the Minister of Manpower and Transmigration No. SE.01/MEN/1978. However, the value of Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) control room is still in the limit permitted by the Minister of Manpower Decree No: Kep-51/Men/1999.
This study also did not find any cases hypothermia on the DCS operator workers, because a decrease in body temperature that°Ccurred was in the normal temperature limits. Based on the results, the researchers suggested that the form of engineering control be reset control room temperature to reach a comfortable temperature allowed (21°C) or the barrier that separates between the workers, the source cooling (air conditioner) equipment and improve facilities such as selfprotective jacket, gloves and headgear. Increase physical activity at work and more often to eat and drink also suggested that body heat is not lost.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ruth Evelin Margaretha
"Latar belakang : Blok perifer yang digunakan saat pasien teranestesi akan mengurangi kebutuhan anestesia dan analgesia selama pembedahan, dan mengurangi kebutuhan opioid sebagai analgetik pasca operatif. Berkurangnya pemakaian opioid intraoperatif akan mengurangi morbiditas pasca operatif yang berkaitan dengan opioid. Penelitian dilakukan untuk mengetahui peran BPSS menggunakan bupivakain 0,5% dalam mengurangi konsumsi fentanil intraoperatif, stabilitas hemodinamik intraoperatif, dan kecepatan waktu pulih pada timpanomastoidektomi dalam anestesia umum.
Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 32 pasien usia 19-65 tahun, ASA I-III dengan berat badan 35-80 kg, yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok BPSS dan kelompok kontrol. Pada kelompok BPSS dilakukan BPSS sebelum induksi menggunakan bupivakain 0,5%. Pada kelompok kontrol dilakukan anestesia umum tanpa BPSS. Anestesia dipertahankan dengan FGF 0,8-1,6 lpm, compress air:O2 (konsentrasi O2 40%); isofluran ± 1 MAC dan atrakurium 0,25 mg/kgBB setiap 30 menit untuk menjaga nilai BIS 45-60. Fentanil diberikan setiap ada peningkatan tekanan darah sistolik atau frekuensi nadi ≥ 20% dari nilai 5 menit sebelumnya. 30 menit sebelum operasi selesai diberikan parasetamol 1 gram iv dan ondansetron 4 mg iv.
Hasil : Dari hasil penelitian didapatkan median konsumsi fentanil intraoperatif kelompok BPSS lebih rendah bermakna secara statistik dibandingkan kelompok kontrol {(150 mcg vs 262,5 mcg), p<0,001)}. Perbedaan median TDS antara kelompok BPSS dan kelompok kontrol bermakna secara statistik psaat insisi { 104 (90-112) vs 120 (110-130), p<0,001}, dan median frekuensi nadi kelompok BPSS lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol {68 (62-86) vs 80 (68-100); p<0,001}.
Simpulan : BPSS menggunakan bupivakain 0,5% sebelum induksi mengurangi konsumsi fentanil intraoperatif, menekan respon hemodinamik terhadap insisi kulit, dan mempercepat waktu pulih.

Background : The peripheral nerve block which is used in combination with general anesthesia will reduce anesthesia and analgesia requirement intraoperatively. The reduction in opioid consumption will reduce pasca operative morbidity which is related to opioid. The aim of this study was to assess the role of superficial cervical plexus block (SCPB) using bupivakain 0,5% before induction in reducing fentanyl consumption, stabilized intraoperative hemodynamic, and reach early emergence in tympanomastoidectomy under general anesthesia.
Methods : The design of this study is single blind randomized clinical trial. The study was done to 32 consenting ASA I-III patients, 13-65 years old, with body weight 35-85 kg which were randomized to be SCPB group and control group. SCPB was done in block SCPB before induction using bupivacaine 0,5%. General anesthesia without SCPB was done in control group. Anesthesia was maintained with FGF 0,8-1,6 lpm, compress air:O2 with O2 consentration 40%, isoflurane ± 1 MAC, and atracurium 0,5 mg/kgBW every 30 minutes to keep BIS level 45-60. Fentanyl intermittent was given intraoperative due to 20% increased in SBP or heart rate from the data 5 minutes earlier. Paracetamol 1 g iv and ondansetron 4 mg iv were given 30 minutes before the end of the surgery.
Results : During surgery the median fentanyl consumption were significantly reduced in SCPB group compared with control group {(150 mcg vs 262,5 mcg), p<0,001)}, and during skin incision, the median SBP and the median heart rate were significantly reduced in SCPB group compared with control group { 104 (90-112) vs 120 (110-130), p<0,001} and {68 (62-86) vs 80 (68-100); p<0,001}. The median emergence time were also significantly reduced in SCPB group compared with control group {(10 minutes vs 20 minutes), p<0,001)}.
Conclusion : SCBP using bupivacaine 0,5% before induction reduced the fentanyl consumption intraoperative, more stabilized hemodynamic in response to skin incision and provided more rapid awakening.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pardede, Dimas Kusnugroho Bonardo
"Latar belakang. Emergence agitation (EA) merupakan gangguan perilaku sementara yang sering terjadi pascaanestesia inhalasi dan berpotensi membahayakan pasien. Pemberian propofol 1-3 mg/kg di akhir anestesia inhalasi mencegah EA tetapi memperpanjang waktu pindah ke ruang pulih. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas propofol dosis 0,5 mg/kg di akhir anestesia untuk menurunkan kejadian EA pasien anak yang menjalani anestesia umum inhalasi. Propofol dinilai efektif jika dapat menurunkan kejadian EA tanpa memperpanjang waktu pindah.
Metode. Penelitian uji klinik acak tersamar ganda terhadap anak usia 1-5 tahun yang menjalani anestesia umum inhalasi di RSCM pada bulan Mei – Agustus 2018. Sebanyak 108 subjek didapatkan dengan metode konsekutif yang dirandomisasi menjadi dua kelompok. Kelompok propofol (n=54) mendapat propofol 0,5 mg/kg di akhir anestesia, sedangkan kontrol (n=54) tidak mendapat propofol. Kejadian EA, waktu pindah, hipotensi, desaturasi dan mual-muntah pascaoperasi dicatat. EA dinilai dengan skala Aono dan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED). Analisis data menggunakan uji chi-square dan t tidak berpasangan.
Hasil. Kejadian EA pada kelompok propofol sebesar 25,9% sedangkan kontrol 51,9% (RR = 0,500; IK 95% 0,298-0,840; p=0,006). Rerata waktu pindah kelompok propofol lebih lama (9,51 ± 3,93 menit) dibandingkan kontrol (7,80 ± 3,57 menit) (selisih rerata 1,71 menit; IK 95% 0,28-3,14; p=0,020). Hipotensi didapatkan pada satu pasien (1,9%) pada kelompok propofol sedangkan pada kontrol tidak ada. Mual-muntah terjadi pada lima pasien (9,3%) pada kelompok propofol dan delapan pasien (14,8%) pada kontrol. Tidak ada desaturasi pada kedua kelompok.
Simpulan. Pemberian propofol dosis 0,5 mg/kg di akhir anestesia secara statistik tidak efektif namun secara klinis efektif menurunkan kejadian EA pasien anak yang menjalani anestesia umum inhalasi.

Background. Emergence agitation (EA) is a common transient behavioral disturbance after inhalational anesthesia and may cause harm. Propofol 1-3 mg/kg administration at the end of inhalational anesthesia prevents EA but prolongs transfer time to recovery room. This study evaluated the effectivity of propofol 0,5 mg/kg at the end of anesthesia to reduce the incidence of EA in children undergoing general inhalational anesthesia. Propofol was considered effective if could reduce the incidence of EA without prolonging transfer time.
Method. This was a double-blind randomized clinical trial on children aged 1-5 years old underwent general inhalational anesthesia in Cipto Mangunkusumo Hospital. One hundred eight subjects were included using consecutive sampling method and randomized into two groups. Propofol group (n=54) was given propofol 0,5 mg/kg at the end of anesthesia while control group (n=54) was not. Incidence of EA, transfer time, postoperative hypotension, desaturation and nausea-vomiting were observed. Aono and Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) scale were used to assess EA. Statistical tests used were chi square and unpaired t test.
Result. Incidence of EA in propofol group was 25,9% while in control group was 51,9% (RR = 0,500; 95% CI 0,298-0,840; p=0,006). Mean transfer time in propofol group was longer (9,51 ± 3,93 minute) than control group (7,80 ± 3,57 minute) (mean difference 1,71 minute; 95% CI 0,28-3,14; p=0,020). Hypotension was found in one patient (1,9%) in propofol group while in control group there was none. Nausea-vomiting was found in five patients (9,3%) in propofol group and eight patients (14,8%) in control. There was no desaturation in both groups.
Conclusion. Administration of propofol 0,5 mg/kg at the end of anesthesia statistically ineffective but clinically effective in reducing the incidence of EA in children undergoing general inhalational anesthesia."
Jakarta: Universitas Indonesia, 2018
T58605
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilah Muhammad Hafidz
"Latar belakang. Teknik Target Controlled Infusion untuk anestesia umum semakin banyak digunakan. Jumlah pasien geriatri yang harus menjalani prosedur operasi semakin bertambah, serta memerlukan pertimbangan khusus mengingat risiko operasi dan pembiusan yang lebih tinggi pada golongan ini. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsentrasi plasma (Cp) dan konsentrasi effect site (Ce) propofol menggunakan rumusan Marsh pada pasien geriatri ras Melayu di RSCM dengan dan tanpa pemberian premedikasi fentanil.
Metode. Empat puluh pasien geriatri orang Indonesia Asli status fisik ASA 2, usia > 60 tahun dan BMI 18-30 kg/m2 dirandomisasi. Satu kelompok (20 pasien) mendapatkan Fentanil-Propofol, lainnya (20 pasien) mendapatkan NaCl-Propofol. Pemberian propofol menggunakan TCI rumusan Marsh dengan target konsentrasi plasma. Target Cp dimulai dari 1 µ/ml dinaikkan 1 µ/ml tiap menit sampai tercapai loss of consciousness (LoC) dan diteruskan sampai nilai BIS 45-60 selama 5 menit (steady state).
Hasil. Pada kelompok Fentanil-Propofol saat LoC didapatkan Cp 3,15+0,35 µ/ml dan Ce 1,53+0,53 µ/ml dan saat BIS stabil didapatkan Cp 4,14+0,59 µ/ml dan Ce 2,63+0,60 µ/ml. Pada kelompok Nacl-Propofol saat LoC didapatkan Cp 4,20+0,61 µ/ml dan Ce 2,26+0,56 µ/ml dan saat BIS stabil didapatkan Cp 4,78+0,38 µ/ml dan Ce 3,30+0,52 µ/ml. Pasien-pasien yang mendapatkan fentanil terlebih dahulu memiliki Cp dan Ce yang lebih rendah baik saat LoC maupun saat nilai BIS stabil (P < 0,05).
Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna antara Cp dan Ce propofol yang diberikan premedikasi fentanil dan yang tidak.

Background. The application of Target Controlled Infusion (TCI) technique in general anesthesia is progressively growing. Number of geriatric patients scheduled for operations increases every year, while this group needs special consideration following the higher risk of surgery and anesthesia. The purpose of our study was to compare the estimated plasma concentration (Cp) and the effect site concentration (Ce) of propofol using Marsh pharmacokinetic model for geriatric patients in Cipto Mangunkusumo Hospital with and without the administration of fentanyl premedication.
Methods. Forty patients, physical status ASA 2, aged > 60, BMI 18-30 kg/m2 randomly assigned to a fentanyl-propofol group or a saline-propofol group. TCI propofol was initiated using Marsh pharmacokinetic model. Initial plasma concentration in each group was 1 µ/ml and increased by 1 µ/ml every minute until there was no eyelash reflex, which defined as loss of consciousness (LoC). Propofol plasma concentration was increased and decreased to reach a stable BIS value between 45-60, considered as Cp and Ce at steady state.
Results. In the fentanyl-propofol group the estimated Cp at loss of consciousness was 3,15+0,35 µ/ml and Ce 1,53+0,53 µ/ml. At steady state, Cp was 4,14+0,59 µ/ml and Ce 2,63+0,60 µ/ml. In the saline-propofol group Cp 4,20+0,61 µ/ml and Ce 2,26+0,56 µ/ml. At steady state, Cp was 4,78+0,38 µ/ml and Ce 3,30+0,52 µ/ml. The estimated Cp and Ce in the fentanyl-propofol group were lower than saline-propofol group (p < 0.05).
Conclusion. There is a significant difference between Cp and Ce in the salinepropofol group and fentanyl-propofol group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jemmy Wilson Tanod
"Latar belakang: Dalam setiap kunjungan pra anestesia, penilaian jalan nafas sangat penting, terutama pada pasien anak. Namun, pedoman yang ada pada dewasa tidak dapat dipakai pada populasi pediatri.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara lima ukuran parameter kraniofasial dengan skor Cormack-Lehane pada populasi anak usia 4-12 tahun di Indonesia.
Metodologi: Data dikumpulkan secara consecutive pada 134 pasien yang menjalani anestesia umum. Dilakukan pengukuran jarak tepi bawah bibir ke ujung mentum, jarak angulus mandibula ke ujung mentum, jarak tragus telinga ke sudut bibir, jarak mentohioid dan jarak antara angulus mandibula kanan dan kiri. Dilakukan penilaian tingkat kesulitan laringoskopi menggunakan skor Cormack-Lehane, kemudian dibagi menjadi mudah dan sulit laringoskopi. Kemudian dilakukan analisa data untuk mencari hubungan antara lima parameter ini dengan skor Cormack-Lehane.
Hasil: Insidens skor Cormack-Lehane I sampai IV masing-masing 47,4%; 43,6%; 6,8%; dan 2,3%.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara lima parameter kraniofasial dengan skor Cormack-Lehane pada anak usia 4-12 tahun.

Background: In every pre anesthesia visite, airway assessment is very important, especially in pediatric patient. However, adult airway guidelines can not be applied in pediatric population.
Objective: To perform the association between five craniofacial parameters and Cormack-Lehane score for 4 to 12 year-old pediatric in Indonesia.
Methods: Data collected consecutively in 134 patients who underwent general anesthesia. The distance of lower lip to mentum, mandible angle to mentum, ear tragus to mouth, mentohyoid distance and distance of left and right mandible were measured. Laryngoscopic view were counted using Cormack-Lehane score and divide into two groups: easy and difficult for laryngoscopic view. The associations of these five parameters with Cormack-Lehane score were analyzed.
Results: Incidence of Cormack-Lehane score grade I to IV was 47,4%; 43,6%; 6,8%; and 2,3%.
Conclusion: There are no significant association among the craniofacial parameters and Cormack-Lehane score in 4 to 12 years-old pediatric patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58617
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rama Garditya,author
"Anestesia umum dengan intubasi endotrakeal menggunakan pipa endotrakeal sering digunakan untuk memberikan ventilasi tekanan positif dan mencegah aspirasi. Namun, penggunaan alat ini dapat menimbulkan komplikasi atau keluhan pasca bedah seperti nyeri tenggorok. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan keefektifan profilaksis deksametason intravena dengan triamsinolon asetonid topikal dalam mengurangi nyeri tenggorok pasca bedah.
Metode: Penelitian ini adalah uji klinis prospektif yang diacak dan tersamar ganda. Sebanyak 121 pasien yang dijadwalkan menjalani pembedahan dalam anestesia umum menggunakan pipa endotrakeal dimasukkan ke dalam dua kelompok secara acak; Grup A 61 orang dan grup B 60 orang. Sebelum induksi, pasien dalam grup A diberikan 10 mg deksametason intravena dan pasta plasebo dioleskan pada kaf pipa endotrakeal. Pasien dalam grup B diberikan 2 mL NaCl 0,9% dan pasta triamsinolon asetonid dioleskan pada kaf pipa endotrakeal. Skor nyeri tenggorok pasca bedah dievaluasi 3 kali; sesaat setelah pembedahan berakhir, 2 jam pasca bedah dan 24 jam pasca bedah. Insidens dan derajat nyeri tenggorok pasca bedah dicatat.
Hasil: Tidak didapatkan perbedaan bermakna di kedua kelompok pada insidens nyeri tenggorok pasca bedah sesaat setelah pembedahan berakhir (27,9% pada kelompok A dan 18,3% pada kelompok B, p = 0,214). Derajat nyeri tenggorok pasca bedah tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok.
Simpulan: Triamsinolon asetonid topikal memiliki keefektifan yang sama dengan profilaksis deksametason intravena dalam mengurangi insidens nyeri tenggorok pasca bedah.

Tracheal intubation for general anesthesia is often used to give positive-pressure ventilation and prevent aspiration during anesthesia. However, the use of this airway device can cause complications and complains about postoperative sore throat (POST). This study was undertaken to compare the effectiveness of prophylactic intravenous dexamethasone to triamcinolone acetonide paste in reducing POST.
Methods : This was a prospective, randomized, double-blind clinical trial. A total of 121 patients scheduled for surgery under general anesthesia using endotracheal tube were randomly allocated into two groups; 61 (group A) and 60 (group B). Before induction, group A receives 10 mg of intravenous dexamethasone and placebo paste applied over the endotracheal tube cuff. Group B receives 2mL of intravenous normal saline and triamcinolone acetonide paste applied over the endotracheal tube cuff. POST scores were evaluated 3 times; immediately after the operation, 2-hours, and 24-hours after the operation. The incidence and severity of POST were recorded.
Results: There were no significant differences in the incidence of POST immediately after the operation between the two groups (27,9 % in group A vs 18,3% in group B, p = 0,214).The severity scores of POST were not significantly different between the two groups.
Conclusion: Topical triamcinolone acetonide was equally effective compared to prophylactic intravenous dexamethasone in reducing the incidence of POST."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Matulessy, Theo Adelberth
"ABSTRAK
Latar belakang: Postoperative Cognitive dysfunction (POCD) adalah gangguan
fungsi kognitif dan komplikasi yang sering ditemukan pada pasien usia lanjut pasca
menjalani anestesia umum. Selain faktor usia, pembedahan mayor, penyakit
penyerta dan riwayat konsumi obat-obatan tertentu, salah satu faktor dalam
peningkatan kejadian POCD adalah tingkat pendidikan pasien. Penelitian tentang
tingkat pendidikan dengan angka insiden POCD masih menunjukkan hasil yang
berbeda-beda. Kondisi demografis Indonesia mengalami peningkatan populasi
lanjut usia disertai tingkat pendidikan yang masih rendah sehingga penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan terhadap angka kejadian
POCD pada populasi usia lanjut.
Metode. Penelitian ini merupakan uji potong lintang terhadap pasien lanjut usia ( lebih dari
60 tahun) yang menjalani pembiusan umum di RSCM pada bulan Februari sampai
Desember 2018. Sebanyak 84 subyek diambil setelah memenuhi kriteria inklusi.
Skor kognitif dinilai menggunakan Trail making test B dan Digit Span Backward.
Analisis data menggunakan uji bivariat dengan Chi-Square dan analisis multivariat
regresi logistik.
Hasil. Jumlah subjek yang dianalisis pada penelitian ini 80 subjek dengan 9
(11.8%) pasien dengan pendidikan rendah, 41 (52.6%) pasien dengan pendidikan
menengah dan 30 (35.6%) pasien dengan pendidikan tinggi. Angka kejadian POCD
sebesar 20 (25%) dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak 2 (22.2%), tingkat
pendidikan menengah sebanyak 11 (26.8%) dan tingkat pendidikan tinggi sebanyak
7 (23.3%). Pengaruh tingkat pendidikan terhadap angka kejadian POCD tidak
bermakna dengan p 0.921 dan memiliki OR sebesar 1.124. Pada penelitian ini usia
tidak bermakna menyebabkan POCD (p=0.064), jenis kelamin tidak bermakna
menyebabkan POCD (p=0.242), dan riwayat operasi tidak bermakna menyebabkan
POCD (p=0.196).
Simpulan. Tingkat pendidikan tidak mempengaruhi angka kejadian POCD pada
pasien lanjut usia yang menjalani anestesia umum.

ABSTRACT
Background: Cognitive impairment after anesthesia and surgery, also known as
Postoperative Cognitive dysfunction (POCD) are most commonly found amongst
the elderly population. Factors that elevate the risk of POCD include old age, major
surgery, pre-existing comorbidities and consumption of certain drugs. Another
factor known to increase the incidence of POCD is low education level.
However,study about education level and the incidence of POCD still have different
results. As Indonesias elderly population and low level education dominance are
expected to increase, this study aims to evaluate the association of educational level
and the incidence of POCD amongst the elderly population after general anesthesia.
Method: This study is a cross-sectional study involving elderly patients ( 60
years) who underwent general anesthesia at RSCM during February to December
2018. A total of 84 subjects were selected after fulfilling the inclusion criteria.
Cognitive score was assessed using Trail making test B and Digit Span Backward,
while psychometric test was carried out by a validated psychologist. Data were
analyzed using bivariate analysis test with Chi-Square and multivariate analysis
with logistic regretion.
Results: Demographic studies grouped 9 (11.8%) patients with low education, 41
(52.6%) patients with secondary education and 30 (35.6%) patients with higher
education. The incidence of POCD was 25% and incidence od POCD in group with
low level of education was 2 (22.2%), average level of education and POCD was
11 (26.8%) and the higher level of education and POCD were 7 (23.3%). This study
found no significant association between education level and the incidence of
POCD (p=0.921), with an odds ratio of 1.124. Furthermore, this study found that
no significant association between age with the incidence of POCD (p=0.064) nor
does gender and incidence of POCD (p=0.242), and history of surgery with
incidence of POCD (p=0.196
Conclusion: Education level do not affect the incidence of POCD in elderly
patients undergoing general anesthesia."
2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>