Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 323 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yayan Andrian
"Cleft orofacialatau celah orofasial di Indonesia termasuk kelainan bawaan sejak lahir yang sering terjadi. Tujuan rencana perawatan pada pasien cleft orofacial adalah memperbaiki fungsi penelanan, bicara, pertumbuhan dan penampilan wajah, rahang dan oklusi gigi, serta gangguan pendengaran. Perawatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan prosedur labioplasty dan palatoplasty. Hambatan pertumbuhan rahang pada pasien-pasien pasca labioplasty dan palatoplastytelah banyak dibahas dalam beberapa literatur. Beberapa teknik untuk mengevaluasi anatomi regio maksilofasial seperti model cetakan dan foto sefalometri. Namun terdapat beberapa kekurangan dari kedua teknik ini. Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan dimensi pada sisi cleft dan sisi normal pasien celah bibir dan langit-langitkarenadapat memberikan gambaran tiga dimensi yang tidak terdistorsi dengan resolusi sangat baik yang memungkinkan visualisasi bentuk struktur anatomis dan ukuran aslinya.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh labioplasty dan palatoplasty terhadap dimensi lengkung maksila dalam arah transversal dan anteroposterior di sisi cleft dan sisi normal pada pasien celahbibir dan langit-langit unilateral.Pada penelitian ini dilakukan studi observasi crossectional melalui analisis radiografi CBCT pasien-pasien celah bibir dan langit-langit yang telah dilakukan labioplasty dan labioplasty dalam arah transversal dan anteroposterior.Uji parametrik independen t-test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) pada dimensi transversal regio kaninus dan regio molar kedua sisi cleft dan sisi normal. Selain itu, Hasil uji non parametrik Mann-WhitneyU menunjukkan terdapat perbedaan bermakna secara statistik dengan nilai p=0,003 (p < 0,05) antara dimensi anteroposterior sisi cleft dan sisi normal. Sehingga seluruh hipotesis penelitian diterimaDari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh labioplasty dan palatoplasty terhadap dimensi lengkung maksila dalam arah transversal dan anteroposterior di sisi cleft dan sisi normalpada pasien celah bibir dan langit-langit

Orofacial cleft is congenitaldisorder that usually occurs since newborn. Aims of treatment of orofacial cleft are to improve swallowing, speech, hearing, aesthetic, and occlusion function. Initial treatment for these patients are labioplasty and palatoplasty. Maxillary growth disruption after labioplasty and palatoplasty hadbeen reviewed in many literatures. There are several technique to evaluate maxillofacial region anatomy such as dental cast and cephalometry radiograph. However, there are several disadvantages of these techniques. Cone Beam Computed Tomography (CBCT)can be used to evaluate dimensional changes both in cleft side and normal side in cleft patient because it can give undistorted 3D imaging with a high resolution. The aim of this study wasto analyze effect of labioplasty and palatoplasty to dimensional changes of maxilla in transversal and anteroposterior direction in cleft and normal side of patient with cleft lip and palate.This crossectional study was done by analyzing the CBCT radiograph of patient with cleft lip and palate after labioplasty and palatoplasty in transversal and anteroposterior direction.Independent parametric t-test showed there wasa significant difference statistically p = 0,000 (p<0,05) in transversal dimension of canine and second molar region in cleft and normal side. Mann-WhitneyU non parametric test showed there wasa significant difference statistically p = 0,003 (p<0,05) in anteroposterior dimension both in cleft and normal side.As conclussion there wasan effect of labioplasty and palatoplasty to dimensional changes of maxilla in transversal and anteroposterior direction in cleft and normal side of patient with cleft lip and palate."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Angky Soekanto
"The sensation of pain is the means by which the body is made urgently aware of the presence of tissue damage. Pain represents a protective reflex for self-preservation. It is often pain that brings the patient to the dental office but also can be the factor that keeps the patient from seeking treatment at the appropriate time.
Pain control is of great importance in dental practice. The clinician has to know the functional neuroanatomy, peripheral and central nervous system pathways, pain modulating system and various categories of pain of the head, neck and face. Psychological and psychosocial factors also contribute to pain, whether pain arises endogenously from pathologic processes or exogenously from trauma or even dental treatment. The dentists task is threefold: first, to establish the correct diagnosis, second to find the cause of the pain, and third to select the treatment plan that the addresses the patients complaint. By knowing the classification of orofacial pain, the clinician will easily make a diagnosis and determine the cause of the pain. After establishing the physical diagnosis it is easy then to determine the therapy to be made. The treatment in managing dental pain from pharmacotherapy is still effective using analgesic and local anesthetic drug."
[Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Journal of Dentistry Indonesia], 2002
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rifa Astari Gumay
"Latar belakang: Gangguan sendi temporomandibula dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Belum ada penelitian yang membahas hubungan gangguan sendi temporomandibula dan kualitas hidup khususnya dengan menggunakan indeks OHIP-TMD-ID dan ID-TMD di Indonesia.
Tujuan: Menganalisis hubungan gangguan sendi temporomandibula dan kualitas hidup, hubungan gangguan sendi temporomandibula dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan tingkat ekonomi, hubungan kualitas hidup dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan tingkat ekonomi.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode potong lintang pada 115 subjek berusia 20-40 tahun dari pasien Klinik Integrasi RSGM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dilakukan pencatatan data diri subjek dan wawancara untuk pengisian kuesioner ID-TMD dan OHIP-TMD-ID.
Hasil penelitian: uji analisis Man-Whitney menunjukan perbedaan bermakna yang signifikan antara gangguan sendi temporomandibula dan kualitas hidup. Namun, tidak terdapat perbedaan bermakna yang signifikan antara kualitas hidup dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi. Hasil uji analisis Chi Square menunjukan tidak perbedaan bermakna yang signifikan antara gangguan sendi temporomandibula dan faktor sosiodemografi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi.
Kesimpulan: Penderita gangguan sendi temporomandibula mengalami penurunan kualitas hidup dari aspek nyeri orofacial.

Background: Temporomandibular disorders may have an impact on quality of life. No studies have been done to analyze relationship between temporomandibular disorders and quality of life in particular by using OHIP TMD ID and ID TMD in Indonesia.
Objectives: To analyze the relationship between temporomandibular disorder and quality of life, temporomandibular disorder and sociodemographic factors age, gender, education level economic level, quality of life and sociodemographic factors age, gender, education level, economic level.
Methods: Cross sectional study was conducted on 115 subjects aged 20 40 years from patients at Integration Clinic of RSGM FKG UI. Subject rsquo s personal data were obtained and interview for ID TMD questionnare and OHIP TMD ID questionnare were conducted.
Results: Man Whitney test showed significant differences between temporomandibular disorders and quality of life. However, there are no significant differences between the quality of life and sociodemographic factors age, gender, education level, economic level. Chi Square test showed no significant differences between temporomandibular disorders and sociodemographic factors age, gender, education level, economic level.
Conclusion: Temporomandibular disorders patients suffered from impaired orofacial pain related quality of life. Keywords temporomandibular disorder, quality of life, OHIP TMD ID, ID TMD.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
P. Tamilla Artizar Kodijat
"Tujuan: Tujuan dari kajian sistematis ini adalah untuk mengidentifikasi alat ukur yang dapat mengevaluasi disfungsi otot orofasial saat mastiksai dan/atau deglutasi pada pasien Temporomandibular Disorders (TMD). 
Metode: Protokol kajian disusun dan diregistrasikan pada International Prospective Register of Systematic Reviews. Pencarian literatur dilakukan pada enam basis data daring yaitu Pubmed, Scopus, EBSCO, ProQuest, SpringerLink and Wiley dengan membatasi hanya literatur dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2022. Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah studi yang mengevaluasi otot orofasial dalam pemeriksaan perilaku, performa, efisiensi, durasi, frekuensi mastikasi dan/atau deglutasi pada pasien TMD. Studi yang terpilih sesuai kriteria inklusi dilakukan ekstraksi data dan penilaian risiko bias menggunakan borang Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklist.
Hasil: Dari proses seleksi didapatkan 2848 literatur dan terdapat 21 literatur yang termasuk dalam kriteria inklusi. Untuk mengukur disfungsi otot orofasial, empat belas literatur menggunakan alat ukut surface electromyography (sEMG), dua belas literatur menggunakan Orofacial Myofunctional Evaluation with Scores (OMES) dan satu literatur menggunakan MBGR Protocol. OMES and MBGR merupakan protokol pemeriksaan yang mencakup postur, mobilitas dan fungsi otot orofasial dari persepsi operator. 
Kesimpulan: Meskipun sifatnya yang non invasif, perolehan data sEMG saja tidak cukup untuk mendapatkan informasi disfungsi otot orofasial saat mastikasi dan deglutasi. OMES dan MBGR memberikan data tambahan yang luas dalam aspek postur, mobilitas dan fungsi dari otot orofasial. Keduanya dapat diaplikasikan secara efisien dalam mengidentifikasi serta mengevaluasi perawatan pada pasien TMD. 

Objectives: The aim of this systematic review was to identify instruments that evaluates orofacial muscle dysfunctions during mastication and/or deglutition in temporomandibular disorders 
Materials and methods: Protocol was organized and registered to the International Prospective Register of Systematic Reviews. Literature search were conducted in 6 databases, Pubmed, Scopus, EBSCO, ProQuest, SpringerLink and Wiley with restriction for studies that are published in English between 2012-2022. The inclusion criteria are studies evaluating orofacial muscle within behaviour, performance, efficiency, duration, frequency assesment during mastication and/or deglutition in TMD patients. Data extraction were followed by risk of bias (RoB) assessment using the Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklist and continued with further analysis. 
Results: Through selection process on 2848 articles found, 21 were included. For measurement on orofacial muscle, fourteen studies used surface electromyography (sEMG), twelve studies used Orofacial Myofunctional Evaluation with Scores (OMES) and one study used MBGR Protocol. OMES and MBGR are examination protocols that covers posture, mobility and functions from the perception of operator.  
Conclusions: Despite that it is non invasive, sEMG data are not sufficient to obtain information on muscle dysfunction during mastication and deglutition. OMES and MBGR protocols provides broad supplementary data on posture, mobility and functions of orofacial muscle. Both protocols are efficiently applicable for identification and treatment evaluation for TMD patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Safira Anindya
"Celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit merupakan salah satu kelainan kongenital yang memengaruhi regio orofasial. Kelainan ini merupakan cacat lahir orofasial yang paling sering terjadi dengan prevalensi 1:700. Pada beberapa pasien dengan celah bibir dan langit-langit komplit, dapat ditemukan suatu jembatan jaringan lunak yang dapat menghubungkan tepi medial dan lateral dari celah bibir atau nostril, bibir dengan prosesus alveolaris, ataupun menghubungkan prosesus alveolaris yang terpisah, yang biasa disebut dengan soft tissue band. Mekanisme terbentuknya band ini belum diketahui secara pasti. Terdapat tiga tipe soft tissue band, tipe 1 yaitu band yang menghubungkan bibir dengan bibir (band Simonart); tipe 2 band yang menghubungkan bibir dengan alveolar (band oblique); dan tipe 3 band yang menghubungkan antar prosesus alveolar (band alveolar). Penelitian mengenai soft tissue band pada kasus celah bibir dan langit-langit di Indonesia masih sangat sedikit, sehingga penelitian deskriptif retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi soft tissue band pada pasien celah bibir dan langit-langit berdasarkan tipe celah di RSAB Harapan Kita periode Januari 2010 Desember 2012. Analisis dilakukan pada 296 rekam medik. Dari 296 pasien celah bibir dan langit langit di RSAB Harapan Kita tahun 2010-2012, ditemukan 30 kasus soft tissue band (10,1%). Pada tahun 2010 terdapat 6 kasus, tahun 2011 terdapat 10 kasus, dan tahun 2012 terdapat 14 kasus. Soft tissue band lebih sering ditemukan pada pasien dengan celah unilateral (10,3%) dibanding pasien dengan celah bilateral (9,5%). Sebanyak 9 kasus soft tissue band ditemukan pada celah bibir dan langit langit unilateral sisi kiri. Berdasarkan tipenya, soft tissue band paling banyak ditemukan pada tipe Simonart (bibir ke-bibir) yaitu 18 kasus (60%), tipe oblique(bibir ke-alveolus ditemukan 10 kasus 33,3%, dan tipe band alveolar alveolus ke-alveolus) ditemukan 2 kasus 6,7%. Berdasarkan variasinya, sebanyak 21 kasus soft tissue band tertutup oleh kulit 70% dan 9 kasus hanya berupa jaringan mukosa atau yang disebut varian subklinis 30%."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Univeritas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Malamed, Stanley F., 1944-
"From the Publisher: Combining essential theory with "how-to" technical instruction, this concise guide is the leading reference for basic techniques in sedation and anxiety control in the dental office. The latest guidelines from the ADA and the American Society of Anesthesiologists keep you up-to-date with the latest medical standards. Content on patient management for pediatric, geriatric, physically compromised, and medically compromised patients helps you successfully treat any patient population. In-depth discussions of the pharmacology of commonly used sedative agents allow you to fully understand properties and characteristics of drugs used. Combines all aspects of sedation with essential theory and instruction. Boxes and tables highlight key information and make it easy to find important content. Chapter 40-Legal Considerations include the current liability standards for patient treatment to help you protect yourself and your patients. Chapter 41-The Controversial Development of Anesthesiology in Dentistry focuses on the growing controversies, legal and otherwise, from both without and within the profession. Updated patient management procedures provide the most current guidelines on everything from AHA CPR standards to the safest sedative procedures. Full-color art program shows anatomy and other important concepts in vibrant detail. Photos of the newest sedation and emergency equipment ensure you have the latest information on developments in the field."
St. Louis, Mo. : Mosby Elsevier, 2010
617.967 MAL s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Shafa Ahmad Bawazier
"Latar Belakang: Orofacial cleft merupakan ruang abnormal kongenital yang terjadi pada bibir atas, tulang alveolar, dan palatum. Orofacial cleft terdiri dari berbagai jenis yaitu, celah bibir, celah palatum, dan celah bibir dan palatum. Orofacial cleft adalah anomali kongenital yang dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun faktor lingkungan. Belakangan ini penelitian menunjukkan bahwa beberapa gen terlibat dalam penyebab terjadinya orofacial cleft, salah satunya adalah gen BMP4. Terdapat penelitian yang menunjukkan hubungan antara polimorfisme nukleotida tunggal gen BMP4 T538C dengan terjadinya orofacial cleft di populasi Cina.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara polimorfisme gen BMP4 T538C dengan penderita orofacial cleft di Indonesia.
Metode: Analisis polimorfisme gen BMP4 T538C dilakukan dengan metode PCR-RFLP dengan enzim restriksi Hph1.
Hasil: Dari 100 sampelg yaitu, 25 sampel orofacial cleft dan 75 sampel non orofacial cleft, ditemukan 25 sampel orofacial cleft memiliki genotip CC (100%) sedangkan pada kelompok non orofacial cleft ditemukan 11 sampel memiliki genotip CC (14.7%), 55 sampel memiliki genotip CT (73.3%), dan 9 sampel memiliki genotip TT (12%). Seluruh sampel orofacial cleft memiliki alel C sedangkan pada kelompok non orofacial cleft 77 sampel memiliki alel C (51.3%) dan 73 sampel memiliki alel T (48.7%).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna pada distribusi genotip dan alel gen BMP4 T538C antara penderita orofacial cleft dan non orofacial cleft (p value genotip dan alel = 0.001).

Background: Orofacial cleft is a congenital abnormal space or gap in the upper lip, lveolar bone, or palate. There are many types of orofacial cleft, such as, cleft lip, cleft alate, and cleft lip and palate. Orofacial cleft is congenital anomalies that often appened. Orofacial cleft caused by many factor, such as, genetic and environment. ecent studies showed that several genes could affect orofacial cleft, such as, BMP4 ene. There was study that showed association between single nucleotide polymorphism f BMP4 gene T538C with orofacial cleft in Chinese population.
Objective: To escribe the correlation between BMP4 T538C polymorphism and orofacial cleft in" "ndonesia.
Methods: Analysis of BMP4 T538C gene polymorphism was performed by CR-RFLP methods with Hph1 restriction enzyme.
Results: From 100 samples that onsist of 25 orofacial cleft samples and 75 non orofacial cleft samples, 25 samples of rofacial cleft showed genotype CC (100%) while in non orofacial cleft samples, 11 amples showed genotype CC (14.7%), 55 samples showed genotype CT (73.3%), and 9 samples showed genotype TT (12%). All of orofacial cleft samples showed C allele hile in non orofacial cleft samples were found 77 allel C (51.3%) and 73 allele T" "48.7%).
Conclusion: There were significance differences between orofacial cleft and on orofacial cleft samples, both in genotype and allele distribution of BMP4 T538C ene polymorphism (p value for both genotype and allele = 0.001).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simbolon, Uji Tesli Haralini Br.
"Latar Belakang: Gen Wnt3a berperan pada pembentukan orofacial cleft.
Tujuan: Melihat distribusi polimorfisme gen Wnt3a rs 752107 pada penderita OFC.
Metode: Menggunakan teknik PCR-RFLP pada 30 sampel DNA penderita OFC dan 70 DNA kontrol, diperoleh gambaran polimorfisme gen tersebut.
Hasil: 100% sampel penderita OFC memiliki genotip CC (wildtype). Selanjutnya, dengan uji chi-square menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara distribusi polimorfisme gen Wnt3a rs 752107 pada penderita OFC dan kontrol (p>0.05).
Kesimpulan: Pada penelitian ini tidak ditemukan distribusi polimorfisme gen Wnt3a rs 752107 pada penderita OFC.

Background: Wnt3a plays role in the process orofacial cleft.
Aim: to observe the distribution of Wnt3a rs 752107 gene polymorphism in OFC.
Methods: This research were used PCR-RFLP technique of 30 OFC and 70 control DNA samples, obtained a description of the gene polymorphism.
Results: 100% OFC samples have CC genotype (wildtype). Then, with chi-square test in SPSS 22 there were found no significant differences between the distribution of the gene polymorphism in OFC and control (p>0.05).
Conclusion: In this research found no distribution of Wnt3a rs 752107 gene polymorphism in orofacial cleft.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sekar Dwi Purnamasari
"Fraktur merupakan dampak yang paling sering terjadi akibat cedera baik yang disebabkan karena kecelakaan lalu lintas maupun disebabkan karena penyebab lain seperti terjatuh. Salah satu manifestasi klinik yang disebabkan karena fraktur adalah nyeri. Penatalaksanaan nyeri pada fraktur dapat menggunakan terapi farmakologi dan terapi non-farmakologi. Studi kasus ini menganalisis asuhan keperawatan pada pasien dengan fraktur femoral neck dengan nyeri menggunakan terapi non-farmakologi berupa teknik relaksasi napas dalam. Hasil studi kasus penggunaan teknik relaksasi napas dalam dapat menurunkan nyeri yang ditimbulkan akibat fraktur.

Fracture is the common impact in accident that caused by traffic accident or other cause such as fall. One of clinical manifestation from fracture is pain. The pharmacology and non-pharmacological therapy can be used in pain management for the patient with fracture. This case study analizing the nursing care of patient with pain in femoral neck fracture by using non-pharmacological technique, deep breathing relaxation technique. The result of this case study show that the deep breathing relaxation technique can reduce the level of pain in patient with fracture."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill, 2006
616.047 2 CUR
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>