Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 82276 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jafar Shodiq
"Pasca kejadian Tsunami Banten pada Bulan Desember 2018. Kecamatan Sumur, Pandeglang menjadi salah satu daerah yang terdampak akibat kejadian tersebut. Salah satu bantuan yang diberikan oleh Tim UI Peduli Banten adalah hibah toren biogas dengan metode pengolahan anaerobic digestion skala pilot guna membantu masyarakat mengurangi timbulan sampah organik dan menghasilkan biogas sebagai sumber energi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penambahan substrat limbah ikan terhadap produksi biogas dan metana dari pengolahan sampah organik dengan anaerobic digestion. Rasio substrat sampah organik dan limbah ikan tersebut terbagi dalam dua opsi, yaitu Opsi A dengan rasio 100:0 dan Opsi B dengan rasio 80:20. Selain itu, digunakan ko-substrat kotoran sapi dengan rasio substrat dan ko-substrat 9:1. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua reaktor yang sama berukuran 1.200 L selama 21 hari dalam kondisi mesofilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi A dan opsi B secara berurutan memiliki rentang pH sebesar 7,39 dan 7,43; suhu sebesar 29,23°C dan 29,79°C; nilai reduksi TS sebesar 55,92% dan 33,40%; VSD sebesar 40,28% dan 30,28%; reduksi COD sebesar 89,33% dan 92,79%; reduksi SCOD 24,49% dan 76,82%; rasio C/N sebesar 11,39 dan 15,51; rasio VFA/TA sebesar 0,26 dan 0,25; kandungan logam ringan seperti Natrium (Na) sebesar 355 mg/L dan 616 mg/L, Magnesium (Mg) sebesar 413 mg/L dan 620 mg/L, Kalsium (Ca) 556 mg/L dan 607 mg/L, dan Kalium (K) 507 mg/L dan 994 mg/L. Adapun hasil rata-rata produksi biogas pada kedua opsi secara berurutan sebesar 7,56 L/kg.feeding dan 3,21 L/kg.feeding dan produksi gas metana sebesar 1,23 L.CH4/kg.feeding dan 0,4 L.CH4/kg.feeding. Kandungan gas metana pada opsi A dan B sebesar 16,27% dan 12,46%. Hasil menunjukkan bahwa penambahan limbah ikan ke dalam campuran substrat sampah organik sebanyak 20% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada proses pengolahannya. Namun, berpengaruh pada produksi biogas dan metana.

As an effect of the Banten Tsunami that occurred two years ago in December 2018, the Sumur sub-district of Pandeglang became one of the regions affected by the incident. One form of assistance given by Tim UI Peduli Banten was a pilot-scale biogas torrent with anaerobic digestion processing method, which aims to help the locals reduce the accumulation of organic waste by converting it into biogas. This research aims to analyse the effects that the increase of fish waste substrate has to the biogas and methane production from organic waste processing using anaerobic digestion. Two substrate ratio options were considered for this research: Option A with an organic to fish waste ratio of 100:0 and option B with a ratio of 80:20. In addition, cow faeces was used as co-substrate with a substrate to co-substrate ratio of 9:1. This research was conducted by using two identical 1200 L-sized reactors for the duration of 21 days in a mesophilic condition. Results show that options A and B respectively have pH values of 7,39 and 7,43; temperature values of 29,23°C and 29,79°C; TS reduction values of 55,92% and 33,40%; VSD of 40,28% and 30,28%; COD reduction of 89,33% and 92,79%; SCOD reduction of 24,49% and 76,82%; C/N ratio of 11,39 and 15,51; VFA/TA ratio of 0,26 and0,25; and light metal contents with Sodium (Na) contents of 355 mg/L and 616 mg/L, Magnesium (Mg) contents of 413 mg/L and 620 mg/L, Calcium (Ca) contents of 556 mg/L and 607 mg/L, and Potassium (K) contents of 507 mg/L and 994 mg/L. The average biogas production of the two reactors are 7,56 and 3,21 L/kg.feeding while the methane gas production for reactors A and B are 1,23 L.CH4/kg.feeding dan 0,4 L.CH4/kg.feeding respectively. Methane gas contents are 16,27% and 12,46%. These results show that the 20% addition of fish waste in the organic waste substrate mixture does not show any significant difference in its process but affects its outputs, namely its biogas and methane production."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Hartanti Putri Josephine
"Anaerobic digestion(AD) dapat menjadi solusi dalam mengolah limbah organik. Pengadukan dalam AD dapat meningkatkan kinerja proses di dalam AD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengadukan terhadap pembentukan biogas dari degradasi TS dan VS pada AD dengan menggunakan pengadukan dengan kecepatan 30 rpm selama 4 jam/hari dibandingkan dengan AD tanpa pengadukan. Perbandingan substrat sampah makanan dan feses sapi yang digunakan adalah 9:1 dan organic loading rate (OLR) 7,83 kg VS/m3-hari. Operasional reaktor menggunakan 2 buah dry AD satu tahap dengan volume 51 L dalam kondisi suhu mesofilik selama 31 hari. Hasil uji menunjukkan substrat cocok untuk dry AD dengan total solids (TS) sebesar 20,50-28,5%; nilai volatile solid (VS) 86,75-87,53%TS; rasio C/N sebesar 14,12-16,35 dan tingkat inhibitor <3.000 mg/L amonia.
Hasil penelitian menunjukan penyisihan COD pada reaktor dengan pengadukan 66,2±11,0% sedangkan pada reaktor tanpa pengadukan 58,4±17,4%. Penyisihan TS dan VS pada reaktor dengan pengadukan 59,6±7,11% dan 5,71±3,56% sedangkan pada reaktor tanpa pengadukan 64,8±4,80% dan 8,10±2,31%. Perhitungan produksi biogas dari degradasi TS dan VS pada reaktor pengadukan lebih tinggi dengan 2,77±0,57 L CH4/kg VS dibandingkan dari reaktor tanpa pengadukan 2,35±0,37 L CH4/kg VS.
Untuk mendapat kesimpulan dilakukan uji statistik dengan hasil statistik menunjukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara produksi biogas pada reaktor dengan pengadukan dan tanpa pengadukan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengadukan tidak berpengaruh pada penurunan TS, VS, COD, dan produksi biogas.

Anaerobic digestion (AD) can be a solution in treating organic waste. Stirring in AD can improve process performance in AD. This study aims to analyze the effect of stirring on biogas formation with degradation of TS and VS in AD using stirring at a speed of 30 rpm for 4 hours per day compared with an AD without stirring. The comparison of food waste substrate and cow feces used was 9:1 and organic loading rate (OLR) 7.83 kg VS/m3-day. The reactor operation uses 2 dry AD one stage with a volume of 51 L in mesophilic conditions for 31 days. The test results show that the substrate is suitable for dry AD with total solids (TS) of 20.50-28.5%; volatile solid (VS) value of 86.75-87.53% TS; C/N ratio of 14.12-16.35; and inhibitor level <3,000 mg/L of ammonia.
The results showed that removal of COD in the reactor with stirring 66.2±11.0% while in the reactor without stirring 58.4±17.4%. The removal for TS and VS in the reactor with stirring 59.6±7.11% and 5.71±3.56% while in the reactor without stirring 64.8±4.80% and 8.10±2.31%. Meanwhile, biogas production from TS and VS degradation in the stirring reactor produce higher volume of biogas with 2.77±0.57 L CH4/kg VS compared to biogas production from the reactor without stirring which 2.35±0.37 L CH4/kg VS.
To conclude, a statistical test was performed with the results of statistics showing that there was no significant difference between the production of biogas in the reactor with stirring and without stirring. This study concluded that stirring had no effect on decreasing TS, VS, COD, and biogas production.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Firyal Tharifa
"ABSTRAK
Anaerobic Digestionadalah teknologi alternatifuntuk mengolah sampah makanan. Namun proses AD dapat dipengaruhi beberapa elemen yang dapat bersifat racun. Salah satunya adalah sodium, kandungan sodium dalam sampah makanan dengan kosentrasi > 3.100 mg/L berpotensi mengakibatkan inhibisi yang berdampak pada ketidakseimbangan proses AD dengan indikator pembentukan VFA dan penghilangan PCOD. Inhibisi sodium dapat dikendalikan dengan magnesium karena ion logam magnesium memiliki efek berlawanan terhadap inhibisi sodium dengan mereduksi konsentrasi VFA dan meningkatkan persentase penyisihan COD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan magnesium terhadap VFA dan PCOD pada tahap hidrolisis. Penelitian ini dilakukan dengan single stagereactor berkapasitas 848 L selama 192 hari. Pada tahap penelitian yang dilakukan selama 50 hari, reaktor diisi substrat 5 hari dalam seminggu dengan Organic Loading Rate(OLR) 10 kg VS/m3dalam 2 fase pengisian, fase kontrol dan fase uji. Pada fase kontrol reaktor hanya diisi substrat, sedangkan pada fase uji, selain substrat, magnesium (MgSO4) ditambahkan sebanyak 170 gr/hari. Pada kondisi steady state, fase kontrol menunjukkan rata-rata penyisihan COD 94,2 ± 3,34%, SCOD 98 ± 1%, PCOD 94 ± 3,6%, serta pembentukan VFA 1.800 ± 200 mg/L dan laju hidrolisis 6,92 ± 0,32 mg.PCOD/L/d. Penambahan MgSO4 pada fase uji menunjukan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada pembentukan VFA menjadi 1.066 ± 57,7 mg/L. Sedangkan rata-rata penyisihan COD, SCOD, dan PCOD tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p > 0,05) dengan nilai masing-masing sebesar 84,7 ± 6,8%; 96 ± 1%; 83,3 ± 7,3%. Laju hidrolisis pada fase uji juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan menjadi 6,24 ± 0,57 mg.PCOD/L/d. Penelitian ini juga meninjau hubungan antara parameter VFA dan PCOD dengan laju hidrolisis. Hasil uji korelasi menunjukkan tingkat korelasi yang kuat (P = 0,67) antara parameter VFA terhadap laju hidrolisis, sedangkan hasil uji parameter PCOD menunjukkan tingkat korelasi sedang (P = 0,41) terhadap laju hidrolisis. Saat laju hidrolisis tinggi maka tingkat pembentukan VFA dan penyisihan PCOD meningkat

ABSTRACT
Anaerobic Digestion is an alternative technology used for treating food waste. But the AD process can be influenced by several elements that can be toxic. One of them is sodium, the sodium content in food waste with a concentration of > 3.100 mg/L has the potential to cause inhibition which results in an imbalance of the AD process with indicators of VFA formation and PCOD removal. Sodium inhibition can be controlled with magnesium because magnesium metal ions have the opposite effect on sodium inhibition by reducing VFA concentration and increasing the percentage of COD removal. This study aims to analyze the effect of magnesium addition on VFA and PCOD at the hydrolysis stage. This research was conducted with a 848 L capacity single stage reactor for 128 days. In the research stage carried out for 50 days, the reactor is filled with substrate 5 days a week with Organic Loading Rate (OLR) of 10 kg VS / m3 with 2 filling phases, control phase and test phase. In the control phase, the reactor is only filled with substrate, while in the test phase, in addition to the substrate, magnesium (MgSO4) is added as much as 170 gr/day. In steady state conditions, the control phase shows the average COD removal 94.2 ± 3.34%, SCOD 98 ± 1%, PCOD 94 ± 3.6%, and formation of VFA 1,800 ± 200 mg/L and hydrolysis rate 6.92 ± 0.32 mg.PCOD/L/d. The addition of MgSO4in the test phase showed a significant difference (p <0.05) in the formation of VFA to 1,066 ± 57.7 mg/L. While the average allowance for COD, SCOD, and PCOD did not show a significant difference (p > 0.05) with a value of 84.7 ± 6.8% respectively; 96 ± 1%; 83.3 ± 7.3%. The hydrolysis rate in the test phase also did not show a significant difference to 6.24 ± 0.57 mg.PCOD/L/d. This study also reviewed the relationship between VFA and PCOD parameters with the hydrolysis rate. Correlation test results showed a strong level of correlation (P = 0.67) between VFA parameters on the rate of hydrolysis, while the PCOD parameter test results showed a moderate correlation level (P = 0.41) to the rate of hydrolysis. Therefore, when the hydrolysis rate is high, the level of VFA formation and PCOD removal increases."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mutiara Tri Sutriswo
"Lumpur merupakan produk sampingan utama yang dihasilkan dari proses pengolahan air limbah. Di Indonesia, seringkali lumpur yang dihasilkan belum terolah secara maksimal dan hanya berakhir di TPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah lumpur aktif IPAL domestik (WAS) guna mengetahui potensi energi dari biogas yang dihasilkan melalui proses anaerobic digestion. Anaerobic digestion (AD) merupakan teknologi pengolahan lumpur yang terbukti efektif untuk pemulihan sumberdaya dan konversi limbah menjadi energi. Eksperimen ini dilakukan menggunakan substrat lumpur IPAL Setiabudi dan inokulum digestat sampah makanan dengan rasio 1:1 (berdasarkan VS). Reaktor yang digunakan merupakan reaktor batch sederhana dan proses berlangsung selama lebih dari 20 hari. Pengujian karakterisasi dilakukan sebelum dan sesudah proses AD untuk parameter pH, COD, TS dan VS, rasio C/N, serta biogas (CH4 dan CO2). Dalam penelitian ini, biogas yang dihasilkan sebanyak 31 ± 2,43 mL CH4/gVS, dengan komposisi biogas yang diukur menggunakan gas chromatography menunjukkan konsentrasi metana sebesar 69,06 ± 1,4%. Sementara itu, nilai energi yang dihasilkan oleh lumpur IPAL tergolong rendah bila dibandingkan dengan gas alam, yaitu sebesar ±0,00224 kWh per m3. Meskipun demikian, hasil ini masih layak untuk diimplementasikan serta diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan rasio S:I yang variatif, penggunaan ko-substrat hingga pre-treatment untuk meningkatkan potensi energi yang dimiliki oleh WAS.

Sludge is a major byproduct generated from the wastewater treatment process. In Indonesia, the sludge produced often remains inadequately treated and ends up in landfills. This study aims to treat domestic wastewater treatment plant (WWTP) activated sludge (WAS) to determine the energy potential of the biogas produced through the anaerobic digestion process. Anaerobic digestion (AD) is a proven sludge treatment technology for resource recovery and waste-to-energy conversion. This experiment was conducted using sludge from Setiabudi WWTP and food waste digestate inoculum of ratio 1:1 (VS-based). The reactor used was a simple batch reactor and the process was carried out for over 20 days. Characterization tests were performed before and after the AD process for parameters such as pH, COD, TS and VS, C/N ratio, and biogas (CH4 and CO2). In this study, the biogas produced amounted to 31 ± 2.43 mL CH4/gVS, with the biogas composition measured using gas chromatography showing a methane concentration of 69.06 ± 1.4%. Meanwhile, the energy value generated by the WAS was relatively low compared to natural gas, at ±0.00224 kWh per m3. Despite that, these results are still feasible for implementation and further research is needed using varied S:I ratios, co-substrate and pretreatment methods to enhance the energy potential of WAS."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ismaniari
"Anaerobic digester telah menjadi salah satu metode untuk mengolah limbah organik yang mampu menghasilkan biogas sebagai energi baru dan terbarukan. Namun, operator dan/atau pengguna teknologi anaerobic digester seringkali mengalami kendala teknis. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi perilaku pengguna teknologi anaerobic digester pada tipe pra-fabrikasi dalam operasional dan pemeliharaannya, menganalisis kinerja operasional, serta menganalisis hubungan antara perilaku dan output untuk penetapan prosedur operasional pengolahan limbah organik. Lokasi penelitian dilaksanakan di Banten, Karawang, dan Bandung karena menyesuaikan dengan proyek penempatan instalasi teknologi anaerobic digester tipe pra-fabrikasi yang masing-masing berada di daerah pesisir, pertanian, serta peternakan. Identifikasi mengenai kendala dan perilaku dalam mengoperasikan teknologi anaerobic digester yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu wawancara. Identifikasi tersebut dilakukan terhadap variabel frekuensi feeding; jumlah feeding; volume air tambahan untuk feeding; sumber air untuk feeding yang digunakan; durasi perendaman substrat dalam ember pencampur untuk feeding; pencacahan substrat untuk feeding; serta frekuensi pemeliharaan waterdrain. Sedangkan, metode kuantitatif juga digunakan dengan melakukan pengukuran beberapa parameter lingkungan yaitu pH, temperatur, total solids, volatile solids, chemical oxygen demand, dan pengukuran produksi biogas, serta konsentrasi metana pada biogas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua variabel identifikasi perilaku pengguna unit anaerobic digester pada tipe pra-fabrikasi mampu mempengaruhi kinerja operasional unit anaerobic digester secara signifikan, yakni volume air yang ditambahkan untuk feeding mampu mempengaruhi warna api dan kestabilan tekanan biogas (p<0,05) serta variabel identifikasi durasi perendaman substrat untuk feeding mampu menghasilkan produk biogas lebih banyak ±13,3% (p<0,05). Dengan demikian, penambahan volume air dan durasi perendaman substrat dapat menjadi perilaku yang efektif dalam menghasilkan biogas. Rata-rata hasil kinerja operasional unit anaerobic digester tipe pra-fabrikasi menghasilkan nilai TSR (84,3±48,35%); VSD (61,4±70,62%); dan CODR (75±69,26%). Sementara, pH output sudah optimum sebesar 7,2±0,51. Parameter temperatur sampel input dan output tergolong mesofilik, masing-masing sebesar 28,1±1,990C dan 27,7±2,010C. Sedangkan, produksi biogas dan kadar metana menghasilkan nilai masing-masing sebesar 498±456,36 Lbiogas/kgVS dan 214±183,41 LCH4/kgVS.

Anaerobic digester is getting widely known for its capability to treat organic waste into renewable energy. However, its operators and/or users often experienced technical problems. Therefore, this study aimed to identify the pre fabricated anaerobic digester users behaviour in operational and maintenance context, analyze operational performance, as well as establish basic operational concept of organic waste treatment. The study was carried out installed anaerobic digester in Banten, Karawang, and Bandung because they were following the pre fabricated type of anaerobic digester installation project, which were located in coastal area, agriculture, and animal husbandry. The identification of pre-fabricated anaerobic digester users behaviour in operational and maintenance context used qualitative methods by means of interview. Several variables were observed and analysed in terms of feeding frequency; the total amount of feeding; additional water input and its sources; the duration of substrate immersion; pre-treatment substrate for feeding; and the frequency of waterdrain maintenance. Meanwhile, quantitative methods were also used by measuring several environmental parameters, such as pH, temperature, total solids, volatile solids, chemical oxygen demand, and measuring biogas production, as well as the concentration of methane in biogas. The results showed that the additional water and the duration of substrate immersion significantly affected the performance of anaerobic digester. Added water could influence the color of the fire and the stability of the biogas pressure p<0,05, while the duration of the substrate immersion increased biogas production by up to ±13,3% p<0,05. The measurement of anaerobic digester showed TSR values ​​84,3±48,35%; VSD 61,4±70,62%; and CODR 75±69,26%. The optimum pH of effluent was 7,2+0,51, while the temperature of substrate input and effluent were classified as mesophilic, with value of 28,1±1,990C and 27,7±2,010C, respectively. Whereas, biogas and methane were produced by up to 498±456,36 Lbiogas/kgVS and 214±183,41 LCH4/kgVS, respectively."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kintan Akila Naurelia
"Mikroplastik merupakan merupakan fragmen dari plastik yang terdegradasi dan memiliki ukuran yang sangat kecil yaitu kurang dari 5 mm dan dapat terakumulasi pada air dan sedimen. Akumulasi mikroplastik dapat menyebabkan pencemaran pada badan air yang juga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia. Dari segi pencemaran mikroplastik di badan air, IPAL menjadi salah satu instrumen penting dalam mencegah terlepasnya mikroplastik ke lingkungan. Penelitian kali ini berfokus pada salah satu IPAL di Jakarta Selatan yaitu SPAL Interceptor Waduk Brigif yang menggunakan pengolahan biologis dengan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) yang memiliki sumber air limbah grey water. Grey water merupakan air limbah yang berasal dari kegiatan mencuci dan mandi yang langsung dibuang ke saluran drainase maupun perairan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, karakteristik berdasarkan bentuk, warna, ukuran, dan material, mengukur efisiensi penyisihan mikroplastik pada unit di SPALD Interceptor Waduk Brigif, serta melakukan korelasi antara kelimpahan mikroplastik dengan parameter insitu dan kandungan solid. Objek penelitian ini adalah air limbah dan sedimen lumpur yang diambil dari 5 titik yaitu inlet, bak ekualisasi, kolam MBBR, bak sedimentasi, dan kolam outlet. Pengujian analisis kelimpahan mikroplastik dilakukan dengan metode NOAA. Sementara itu, untuk mengetahui jenis polimer mikroplastik dilakukan uji FTIR. Total kelimpahan mikroplastik pada inlet di hari kerja dan libur berada di angka 942 partikel/L dan 675 partikel/L. Sedangkan, pada outlet hari kerja dan libur berturut-turut berada di angka 290 partikel/L dan 211 partikel/L. Sehingga, didapatkan total efisiensi penyisihan mikroplastik dari kedua hari sebesar 69%. Sedangkan, pada lumpur total kelimpahan mikroplastik pada hari kerja dan libur berturut-turut berada di angka 954 partikel/100 gram dan 939 partikel/100 gram. Identifikasi jenis dikategorikan menjadi beberapa bentuk yaitu foam, fragment, fiber, film, dan microbead dengan jenis yang mendominasi adalah fragment. Identifikasi warna dibagi menjadi 6 warna yaitu putih dan transparan, kuning, merah, biru, hijau, dan hitam dengan warna yang mendominasi adalah hitam. Material polimer yang ditemukan pada sampel adalah PVFM, PVB, PVA, Silikon, dan POM. Kandungan solid terbukti memiliki korelasi yang kuat terkait kelimpahan mikropastik yang terdapat pada air limbah.

Microplastics Microplastics are fragments of degraded plastic that are very small, measuring less than 5 mm, and can accumulate in water and sediments. The accumulation of microplastics can cause pollution in water bodies and may lead to health issues in humans. Regarding microplastic pollution in water bodies, wastewater treatment plants (WWTP) are crucial in preventing the release of microplastics into the environment. This study focuses on one of the WWTP in South Jakarta, specifically the SPALD Interceptor Waduk Brigif, which uses biological treatment technology known as the Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) and sources its grey water wastewater. Grey water is wastewater from activities like washing and bathing, which is directly discharged into drainage systems or public waters. The aim of this research is to determine the abundance and characteristics of microplastics based on shape, color, size, and material, measure the microplastic removal efficiency at the SPALD Interceptor Waduk Brigif unit, and correlate the abundance of microplastics with in-situ parameters and solid content. The study objects are wastewater and sludge sediment collected from five points: the inlet, equalization tank, MBBR pond, sedimentation tank, and outlet pond. The analysis of microplastic abundance was conducted using the NOAA method, while FTIR testing was performed to identify the polymer types of microplastics. The total abundance of microplastics at the inlet on working days and holidays was 942 particles/L and 675 particles/L. At the outlet, the abundance was 290 particles/L and 211 particles/L on working days and holidays, resulting in a total microplastic removal efficiency of 69%. In the sludge, the total abundance of microplastics on working days and holidays was 954 particles/100 grams and 939 particles/100 grams. The identification of microplastic types was categorized into several shapes: foam, fragment, fiber, film, and microbead, with fragments being the most dominant. The identification of colors was divided into six categories: white and transparent, yellow, red, blue, green, and black, with black being the most dominant. The polymer materials found in the samples were PVFM, PVB, PVA, silicone, and POM. Solid content was proven to have a strong correlation with the abundance of microplastics in wastewate."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Reed, Sherwood C.
New York: McGraw-Hill, 1988
628.4 REE n
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Akbar Pratama
"Kota Depok memiliki potensi sampah organik yang melimpah untuk diolah secara anaerobik dan aerobik untuk mendapatkan produk biogas dan kompos. Sebanyak 62 ton lebih per hari sampah organik masuk ke Kota Depok. Penelitian ini bertujuan mencari potensi biogas sampah organik TPA Cipayung yang dikombinasikan dengan tinja sapi dengan perbandingan massa 3:1 dengan metode tumpuk mesofilik perkolasi. Hasilnya adalah potensinya sebesar 278,903 L/Kg TS. Namun, terjadi masalah penyumbatan di awal inisiasi dan juga proyeksi bahwa akan sulit untuk mengangkut tinja sapi dengan massa yang begitu besar ke TPA Cipayung. Selanjutnya adalah pembahasan desain untuk instalasi digesti anaerobik dan pengomposan aerobik dengan perbandingan massa sampah dan tinja 100:1 untuk mengolah 60% massa sampah organik yang masuk dan untuk desain 10 tahun. Diperlukan luas lahan sebesar 0,7251 Ha.

Depok City has abundant organic waste to be processed anaerobically and aerobically. This research try to determine the biogas yield potency of mesophilic percolated batch with mass ratio organic waste:cow dung 3:1. The potency is 278,903 L/Kg TS. Nevertheless, the method has major setbacks for upscaling. The system experienced cloggings and the water must be added and the transportation of the cow dungs on the full scale of the method that would be used. The next exposition is about the design description of combined anaerobic- aerobic waste installation for Cipayung Landfill for 10 years design of 60% organic processed. The proposed design is using mass ratio of organic waste:cow dung for 100:1. 0,7251 Ha area is needed for completion."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S44194
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwica Wulandari
"ABSTRAK
Industri pulp dan kertas merupakan industri dengan tingkat pencemaran yang tinggi terkait kuantitas limbah lumpur yang dihasilkan (0,1 m3/ton produk). Untuk stabilisasi limbah lumpur tersebut bersamaan dengan produksi biogas, metode yang dapat digunakan adalah metode digestasi anaerobik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti produksi biogas dari limbah lumpur kertas dengan pemeriksaan kandungan chemical oxygen demands (COD), padatan volatil, volatile fatty acid (VFA) selama proses digestasi anaerobik berlangsung dengan menggunakan dua reaktor anaerobik skala laboratorium dengan volume 15 L pada kondisi mesopilik (30°C). Reaktor pertama menggunakan lumpur kertas sebagai susbtrat tunggal sedangkan reaktor kedua menggunakan campuran kotoran sapi sebagai ko-substrat untuk mencapai nilai C/N yang optimum serta mengetahui pengaruh penambahan ko-susbtrat pada proses produksi biogas. Proses dilakukan pada kondisi batch dengan kandungan total padatan 20% untuk kedua reaktor. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi produksi biogas dari proses digestasi anaerobik untuk lumpur kertas sebesar 31 ml biogas/ g VS selama 28 hari sedangkan campuran lumpur kertas dan kotoran sapi memperlihatkan hasil potensi produksi biogas 470 ml biogas/gVS selama 45 hari. Potensi gas metan dari limbah lumpur kertas sebesar 15 ml CH4/g VS dengan konsentrasi maksimum gas metan sebesar 58 % sedangkan untuk campuran limbah lumpur kertas dan kotoran sapi 380 ml CH4/g VS dengan konsentrasi gas metan maksimum sebesar 84% dan konsentrasi rata-rata gas metan selama proses adalah 50%. Konstanta hidrolisis proses digestasi anaerobik lumpur kertas dan campuran lumpur kotoran sapi adalah 0,18 dan 0,22.

ABSTRACT
Pulp and paper industry is one of the most polluted in the world because the large quantities of paper sludge (0,1 m3/ton product). Anaerobic digestion process is a potential succesful treatment to stabilize sludge in and produce biogas to be renewable energy. The aims of this study were to investigate the biogas production dan digestate potential of paper sludge based on biogas production while monitoring chemical oxygen (COD),volatile solids, volatile fatty acid (VFA) of sludge digestion. In pilot-scale experiments, paper sludge decomposed under meshophilic condition (30C). Anaerobic digestion monitoring process conducted using 2 lab-scale reactor ( 15 L) under mesophilic digestion. Paper Sludgee was used to feed first reactor (R1) meanwhile second reactor (R2) contains paper sludge and cow manure. Pilot test were performed in batch conditions with 20% total solid content of the input material. pH meter and termometer were installed in reactor for daily monitoring and impeller (80rpm) for continuous mixing. The results shown biogas production by anaerobic digestion process of paper sludge and cow manure higher (470 ml biogas/ gVS) for 28 days than paper sludge as single substrate (31 ml biogas/g VS for 45 days). Methane potential from paper sludge attained to 15 ml CH4/g VS and 380 ml CH4/g VS with maximum concentration 58% and 84%, meanwhile average methane concentration for both substrates reached to 50%. Hydrolysis constants (khyd) were higher for paper sludge than for either of the mixing of paper sludge and cow manure : 0,18 > 0,03. "
2013
T36739
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>