Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 54401 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hani Susilo
"Latar Belakang dan tujuan: penyakit ginjal stadium akhir (End Stage Renal Disease/ESRD) prevalensinya meningkat secara signifikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pada penyakit ginjal kronik dan ESRD mudah sekali terjadi asidosis metabolik, guna mencegahnya diberikan suplemen NaHCO3 oral atau hemodialisis. Sebagian klinisi tetap memberikan suplementasi NaHCO3 oral pada pasien ESRD yang sudah menjalani hemodialisis rutin, namun sebagian lagi tidak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi apakah masih diperlukan suplementasi NaHCO3 oral pada pasien yang sudah menjalani hemodialisis rutin dua kali seminggu.
Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan di Unit Hemodialisis Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta pada Desember 2019 hingga Februari 2020. Sampel secara konsekutif dipilih dari pasien dengan hemodialisis rutin 2 kali per minggu minimal 3 bulan dan tidak dalam kondisi hemodinamik yang tidak stabil; 30 orang yang mendapat suplementasi NaHCO3 oral dan 30 orang yang tidak. Sampel darah vena pre dialisis diambil untuk pemeriksaan analisis gas darah guna mengukur kadar HCO3.
Hasil: Rerata lama HD per kali tindakan pada kelompok tanpa suplementasi (4 jam 14 menit), dan kelompok dengan suplementasi NaHCO3 (4 jam 26 menit) tidak berbeda signifikan ( p =0.051 , CI= -0,4006 - 0,0006). Proporsi pasien ESRD dengan hemodialisis rutin tanpa suplementasi NaHCO3 oral yang mencapai kadar HCO3 pre dialisis dalam rentang normal adalah 26,7%, sedangkan yang mendapat suplementasi NaHCO3 Toral proporsinya secara signifikan lebih tinggi yaitu 53,3% (p=0,035, PR= 1,57; IK=1,013-2,438).

Background and aim: the prevalence of end-stage renal disease (ESRD) has increased significantly worldwide, including in Indonesia. In chronic kidney disease and ESRD metabolic acidosis is very easy to occur, to prevent it given oral NaHCO3 supplements or hemodialysis. Some clinicians continue to provide oral NaHCO3 supplementation to ESRD patients who are already undergoing routine hemodialysis, but some do not. This study aims to evaluate whether oral NaHCO3 supplementation is still necessary in patients who have undergone routine hemodialysis twice a week.
Methods: An analytic observational study with cross-sectional design was carried out in the Hemodialysis Unit of Pertamina Central Hospital Jakarta from December 2019 to February 2020. Samples were consecutively selected from patients with routine hemodialysis twice per week for at least 3 months and were not in a hemodynamically unstable condition; 30 people who received oral NaHCO3 supplementation and 30 people who did not. Pre-dialysis venous blood samples were taken for blood gas analysis to measure HCO3 levels.
Results: The mean length of HD per action in the group without supplementation (4 hours 14 minutes), and the group with NaHCO3 supplementation (4 hours 26 minutes) was not significantly different (p = 0.051, CI = -0.4006 - 0.0006). The proportion of ESRD patients with routine hemodialysis without oral NaHCO3 supplementation who achieved pre-dialysis HCO3 levels in the normal range was 26.7%, while those who received oral NaHCO3 supplementation were significantly higher at 53.3% (p = 0.035, PR = 1, 57; IK = 1,013-2,438).
Conclusion: In ESRD patients with routine HD 2 times per week (8 hours / week, HCO3 supplementation is still needed to maintain predialysis HCO3 levels within the normal range.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kustiyuwati
"ABSTRAK
Halitosis atau bau mulut adalah masalah kesehatan gigi dan mulut yang banyak dikeluhkan dan dapat menjadi persoalan kesehatan yang serius. Penyebab halitosis terutama dan terbanyak adalah bakteri yang hidup dalam rongga mulut terutama bakteri anaerob gram negatif yang menghasilkan sulfur. Keseluruhan senyawa sulfur yang dihasilkan disebut Volatile Sulfur Compounds (VSC) dan inilah yang menyebabkan bau pada mulut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbandingan efektifitas oral hygiene menggunakan chlorhexidine dan normal saline terhadap skor halitosis. Metode dalam peneltian ini adalah quasi eksperimen dengan subjek penelitian pasien dengan penyakit kritis sebanyak 28 orang yang dibagi dalam dua kelompok, 14 responden dilakukan oral hygiene dengan menyikat gigi dan lidah dengan chlorhexidine glukonate 0,1% dan 14 responden dilakukan oral hygiene dengan menyikat gigi dan lidah dengan normal saline. Pengukuran skor halitosis dilakukan sebelum dan 15 menit sesudah oral hygiene. Gas VSC diukur menggunakan alat Tanita BreathChecker . Hasil menunjukkan terjadi penurunan skor halitosis sebelum dan sesudah oral hygiene dengan memperlihatkan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Jumlah responden dengan nilai 0 pada skor halitosis sebanyak 10 responden (72%) pada kelompok pertama dan pada kelompok kedua sebanyak 4 responden (29%). Kesimpulan penggunaan chlorhexidine glukonate 0,1% lebih efektif terhadap penurunan skor halitosis dibandingkan menggunakan normal saline.

ABSTRACT
Halitosis or bad breath is a dental health problem that mainly complaint and can be a serious health problem. The cause of halitosis mainly and mostly bacterias which live in the oral cavity, especially anaerob negatif gram bacteria that produce sulfur. The whole sulfur component that was produced called Volatile Sulfur Compounds (VSC) and this is the cause of bad breath. The purpose of this study was to know the comparison of effectiveness oral hygiene using chlorhexidine and normal saline on halitosis score. This study used Quasy experiment with subjects consisted of 28 patients with critically ill, divided into two groups, 14 subjects conducted oral hygiene to brush their teeth and tongue with chlorhexidine glukonate 0,1% and 14 subjects conducted oral hygiene to brush their teeth and tongue with normal saline. The measurement of Volatile Sulfur Compounds level used Tanita BreathChecker, conducted before and 15 minutes after oral hygiene. The result showed significant differences in reducing VSC components in both groups (p<0,05). Number of subjects with score halitosis 0 by 10 subjects (72%) in first group and 4 subjects (29%) in second group. In conclusion, chlorhexidine glukonate 0,1% is more effective decreased score halitosis than normal saline on patients with critically ill."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T33141
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aidrus
"Tujuan : Membandingkan dan menentukan perbedaan kadar homosistein dalam darah dan zalir folikel pada wanita infertil dengan dan tanpa endometriosis, kemudian menganalisis pengaruh kadar homosistein tersebut dengan mutu oosit.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang (cross sectional). Lima puluh sembilan subjek mengikuti program fertilisasi in-vitro yang masuk dalam kriteria penerimaan dibagi menjadi dua kelompok sama besar, yakni
kelompok endometriosis dan tanpa endometriosis secara konsekutif (consecutive sampling). Masing-masing subjek diambil percontoh dari darah dan zalir folikel kemudian diukur kadar homosisteinnya dengan metode teraimun CMIA. Rerata masing-masing kelompok diuji statistik dengan uji t independen.
Hasil : Rerata kadar homosistein dalam darah pada kelompok endometriosis lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa endometriosis dan secara statisik berbeda bermakna (8,34 ±2,68 vs 6,71 ±1,56, p=0.007;95%CI: 0,02417-0,14657).
Demikian pula dengan kadar homosistein dalam zalir folikel, kelompok endometriosis lebih tinggi dan secara statistik berbeda bermakna (6,19 ±1,67 vs 3,46 ±1,03; p= 0,000; 95% CI : 0,19310-0,32353). Semua mutu oosit baik pada
kedua kelompok, yakni derajat 3. Terdapat korelasi antara kadar homosistein di dalam darah dan zalir folikel pada kelompok endometriosis dan dinilai dengan uji Pearson didapatkan bermakna (p = 0,002) dan nilai korelasi 0,553 (kekuatan korelasi sedang) dan arah korelasi positif.
Kesimpulan : Rerata kadar homosistein dalam darah dan zalir folikel pada wanita infertil dengan endometriosis lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa endometriosis dan secara statistik berbeda bermakna. Kadar homosistein ini tidak
berpengaruh terhadap mutu oosit. Terdapat korelasi positif antara kadar homosistein dalam darah dan zalir folikel pada kelompok endometriosis.

Purpose : Compare and determine the differences in levels of homocysteine in
the blood and follicular fluid in infertile women with and without endometriosis, then analyze the effect of homocysteine levels with oocyte quality.
Method : This study was cross-sectional study. Fifty-nine subjects following the
in-vitro fertilization program are included in the admission criteria were divided into two equal groups, ie groups of endometriosis and without endometriosis consecutively (consecutive sampling). Each subject taken from the blood and follicular fluid then measured the levels of homocystein levels with immuoassay
method : The mean of each group was statistically tested with an independent t
test.
Results : The mean levels of homocysteine in the blood is higher in the endometriosis group than without endometriosis group and it was statisticaly significance (8,34 ±2,68 vs 6,71 ±1,56, p=0.007;95%CI: 0,02417-0,14657).
Similarly, the levels of homocysteine in follicular fluid , the endometriosis group
is higher and statisticaly significance (6,19 ±1,67 vs 3,46 ±1,03; p= 0,000; 95% CI : 0,19310-0,32353). All oocytes are in good quality in both groups, maturation grade 3. There is a correlation between the levels of homocysteine in the blood and follicular fluid in the endometriosis group and assessed with Pearson test, and it found significant (p = 0.002) and the correlation value 0.553 (moderate correlation strength) and direction of a positive correlation.
Conclusion : The mean levels of homocysteine in the blood and follicular fluid in infertile women with endometriosis is higher than without endometriosis and were statistically significantly different. These homocysteine levels does not affect the quality of oocytes. There is a positive correlation between the levels of homocysteine in the blood and follicular fluid in endometriosis group.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Taufiq Shidqi
"Tembaga merupakan salah satu mineral yang cukup penting dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bagi sebuah negara. Pada bijih jenis oksida yang berkisar 20% dari seluruh cadangan tembaga dunia, teknologi hidrometalurgi yang lebih ekonomis. Penggunaan alternatif lixiviant selain asam sulfat, misalnya ammonium bikarbonat, perlu diteliti lebih lanjut dengan parameter-parameter tertentu.
Penelitian ini menjelaskan mengenai pengaruh dari konsentrasi lixiviant dan waktu pelindian dengan menggunakan ammonium bikarbonat. Pada penelitian ini juga akan menganalisa mengenai pengaruh klasifikasi dengan menggunakan media air pada wadah bertingkat terhadap tren kecenderungan suatu unsur.
Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin banyak pula kandungan PLS dan pengayaan yang dicapai. Sementara itu, Semakin lama waktu pelindian maka akan semakin banyak pula kandungan PLS dan pengayaan yang didapat. Kandungan PLS tertinggi dicapai pada konsentrasi 2.5 M dengan 4076 mg/L dan recovery sebesar 11.42 %. Pada waktu pelindian, kandungan tertinggi didapatkan pada waktu 120 menit dengan kandungan sebesar 2196 mg/L dan recovery sebesar 6.15%. Pengaruh klasifikasi dengan media air juga diteliti dalam percobaan ini dimana terjadi penurunan kadar pengotor dan kenaikan kadar tembaga.

Copper is the one of important mineral for economic growth and the country development. Copper oxide ore which only 20% of total reserves in the world, hydrometallurgical technology is more economical process. Aside from sulfuric acid, alternative lixivant such as ammonium bicarbonate need further investigation with specific parameters.
This study explain the effect of lixiviant concentration and leaching time using ammonium bicarbonate. This study also analys the effect of classification mineral using water with storay container toward the trend tendency of mineral.
The study shows the pregnant leach solution increased and more recovery gained with the increasing of lixiviant concentration. Also, the increasing of leaching time, pregnant leach solution and recovery increased. The highest PLS gained at 2.5 molar mass of ammonium bicarbonate with 4076 mg/L and 11.42% of recovery. The longest leaching time also gain 2196 mg/L and 6.15 % of recovery. The classification mineral show the decrease tendency of gangue and the increase tendency of copper.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42728
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nova Yanti
"Peningkatan kadar glukosa darah dapat disebabkan oleh peningkatan hormon kortisol dan epineprin yang terjadi selama stress. Terapi zikir dan relaksasi Benson dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan menimbulkan respon relaksasi. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang bertujuan membandingkan efektifitas terapi zikir dengan relaksasi Benson terhadap penurunan kadar glukosa darah pasien diabetes mellitus. Sampel berjumlah 72 orang yang terdiri dari 24 orang kelompok kontrol, 24 orang kelompok zikir, dan 24 orang kelompok relaksasi Benson.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan setelah intervensi pada masing-masing kelompok (p=0,00), selisih rata-rata kadar glukosa darah sebelum dan setelah intervensi antar kelompok (p=0,000), dan rata-rata kadar glukosa darah setelah intervensi antar kelompok (p=0,00). Terapi zikir lebih efektif dibandingkan relaksasi Benson dalam menurunkan kadar glukosa darah.
Penelitian ini merekomendasikan agar perawat menerapkan terapi zikir dan relaksasi Benson sesuai dengan keyakinan dan tingkat keimanan pasien serta direkomendasikan penelitian selanjutnya dengan desain Randomized Controlled Trial (RCT) dengan jumlah sampel yang lebih besar.

Increased blood glucose levels can be caused by increased hormone cortisol and epineprin that occur during stress. Dhikr Therapy and Benson relaxation can reduce blood glucose levels by causing a relaxation response. The design was quasi-experimental study aims to compare the effectiveness of dhikr therapy with Benson relaxation to blood glucose levels of patients with diabetes mellitus. Sample of 72 people consisted of a control group of 24 people, 24 people of the group of dhikr therapy, and 24 people of Benson relaxation.
The results showed a significant difference between blood glucose levels before and after intervention in each group (p = 0.000), the difference in average blood glucose levels before and after intervention between groups (p = 0.000), and the mean of blood glucose levels after the intervention (p = 0.00). Dhikr therapy is more effective than Benson relaxation on reducing blood glucose levels.
This study recommends that nurses to apply treatment dhikr therapy and relaxation Benson in accordance with levels of faith and confidence of patients and recommended further research by design Randomized Controlled Trial (RCT) with a larger number of samples.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
T30917
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Atika
"BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) memproduksi suatu bahan pangan padat gizi mengandung polifenol, yang ditujukan bagi korban bencana alam yang rentan akan kondisi penurunan respon imun akibat kelaparan. Polifenol, pada beberapa penelitian disebutkan dapat meningkatkan respon imun. Sebelum dikonsumsi, perlu dilakukan penelitian untuk melihat bukti efektivitas pangan ini terhadap respon imun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain eksperimental. Sebanyak 24 mencit dibuat dalam kondisi lapar selama satu minggu. Lalu 6 ekor mencit diambil datanya sebagai acuan kondisi awal. Kemudian sisa mencit dibagi dalam tiga kelompok perlakuan. Setiap kelompok, tetap dalam kondisi lapar, akan mengonsumsi bahan tambahan yang berbeda. Kelompok pertama diberikan produk pangan padat gizi mengandung polifenol, sedangkan kelompok kedua diberikan produk pangan padat gizi tanpa polifenol, untuk melihat apakah polifenol memang mempunyai efek atau produk pangan padat gizi saja sudah dapat meningkatkan respon imun. Sebagai tambahan perbandingan, maka kelompok ketiga diberikan imunostimulan Phyllanthus niruri. Setelah 4 minggu dilakukan pengambilan data. Sebagai indikator respon imun digunakan data jumlah dan hitung jenis leukosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan perbedaan yang bermakna (p>0,05) pada perbandingan perubahan jumlah leukosit dan hitung jenisnya dari ketiga kelompok perlakuan. Disimpulkan bahwa bahan pangan padat gizi mengandung polifenol belum menunjukkan bukti efektivitas yang lebih tinggi terhadap respon imun dibandingkan tanpa mengandung polifenol, namun bahan pangan padat gizi ini sudah cukup baik karena menghasilkan efek seperti imunostimulan Phyllanthus niruri.

BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) produced a nutrient-rich food product with polyphenols, for disaster victims that vulnerable to condition of depressing immune response because of starvation. Polyphenols, in some research could enhance immune response. Before applying, this food product needs a research to prove the effectiveness toward immune response. Research was done with experimental design. 24 mices set in starving condition in one week. Then 6 mices were taken to get the beginning data. And then, the rest of mices was divided into three groups. Every group, stayed in starving condition, was given different additional materials. First group was given the nutrient-rich food product with polyphenols, and the second group was given the nutrient-rich food product but without polyphenols, to see whether the polyphenols gave the desired effect or the nutrient-rich food product alone could enhance immune response. For additional comparison, the third group was given the immunostimulant Phyllanthus niruri. The data was taken after 4 weeks. Total leukocyte and leukocyte differential count were used to be the indicator of immune response. The result showed that there is no significant differences (p>0,05) in comparison of the change of total and differential count of leukocyte from the three groups. In conclusion, the nutrient-rich food product with polyphenols not yet show a significant effectiveness in immune response than without polyphenols, but this food product had been good enough because resulting the similar effect as immunostimulant Phyllanthus niruri.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"ABSTRAK
Deposit laterit adalah salah satu jenis bijih nikel yang memiliki kandungan nikel
terbanyak di bumi. Di dalam lapisan laterit, saprolit memiliki kandungan nikel
yang lebih tinggi dibandingkan lapisan lainnya. Saprolite biasanya diproses secara
smelting (pirometalurgi) karena memiliki kandungan magnesium yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan proses
hidrometalurgi dengan lixiviant amonium bikarbonat terhadap perolehan nikel.
Bijih saprolit dikarakerisasi secara EDX dan AAS untuk mengetahui komposisi
awal bijih. Saprolit direduksi menggunakan batubara 33.33 % wt pada temperatur
1250 oC selama 120 menit. Hasil reduksi pemanggangan kemudian diuji dengan
XRD. Proses pelindihan agitasi pada bijih saprolit yang direduksi dan bijih yang
tidak direduksi dilakukan dengan menggunakan larutan amonium bikarbonat pada
variasi konsentrasi yaitu 1 M, 2 M, 3 M, 4 M. Kandungan nikel yang larut dalam
pregnant leach solutiont dihitung menggunakan Atomic Absorbance Spectroscopy
(AAS).
Hasil XRD saprolit menunjukkan terjadi transformasi fasa dari goethite dan Fe2O3
sebelum reduksi pemanggangan menjadi Fe3O4, NiO dan FeNi setelah reduksi
pemanggangan Hasil penelitian menunjukan % perolehan Ni semakin meningkat
dengan peningkatan konsentrasi amonium bikarbonat. Perolehan nikel tertinggi
yang diperoleh adalah 1.61 % pada konsentrasi pada konsentrasi 4 M amonium
bikarbonat.

Abstract
Laterite deposit is a kind of nickel ores that has the greatest of nickel reserves in the
world. In the lateritic layer, saprolite has higher nickel content more than other
layers. Saprolite is usually process with smelting method (pyrometallurgy)
because it has higher magnesium content.
The aim of this research is to know the effectiveness of hydrometallurgy process
using ammonium bicarbonate as lixiviant to nickel recovery from saprolite ore.
Saprolite was caracterized with Energy Dispersive X-Ray (EDX) and Atomic
Absorbance Spectroscopy (AAS) to determine it?s chemical composition. Floatsink
process was apllied to saprolite to separate material based on it?s weigth.
Saprolite was reduced at 1250 oC for 120 minutes utilized coal 33.33% wt as a
reductant, then it was tested with XRD. Agitation leaching process was applied to
reduced and unreduced saprolite utilized ammonium bicarbonate solution as lixiviant
at various concentration which was 1 M, 2 M, 3 M, 4 M. Nickel content that
dissolved in lixiviant was determined with Atomic Absorbance Spectroscopy
(AAS).
Result of XRD characterization shows phase transformation in saprolite from
goethite and Fe2O3 before reduction roasting to Fe3O4, NiO and FeNi after
reduction roasting. The result of research shows that % recovery of Ni is tend to
increase along with the increasing of ammonium bicarbonat concentration. The
higest nickel recovery in research is 1.61 % at 4 M ammonium bicarbonat
concentration.
"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43599
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rafael Nanda Raudranisala
"Latar Belakang: Tingginya pajanan tekanan dan beratnya aktivitas fisik saat bekerja menyebabkan nelayan berisiko kehilangan cairan dan elektrolit tubuh. Kehilangan elektrolit ini dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan dan mempengaruhi produktivitas. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan mengkonsumsi cairan isotonik. Air kelapa merupakan cairan isotonik alami yang mudah didapat dan banyak beredar dalam bentuk kemasan dipasaran. Disisi lain mengkonsumsi air kelapa berisiko meningkatkan tekanan darah akibat peningkatan asupan harian natrium. Sehingga diperlukan adanya studi untuk mengungkap pengaruh suplementasi air kelapa kemasan terhadap kadar elektrolit darah dan tekanan darah pada nelayan
Metode: Penelitian true experimental pada populasi nelayan penangkap ikan dan pencari kerang dengan total subjek sebesar 37 yang dibagi secara random dan blinding menjadi 18 subjek untuk kelompok intervensi dan 19 subjek untuk kelompok kontrol. Subjek secara single blind diberikan cairan intervensi berupa air kelapa kemasan yang diberikan bersama dengan air mineral sebagai cairan kebutuhan dasar. Pengambilan data kadar elektrolit darah dan tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah bekerja.
Hasil: Dari hasil analisa statistik sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok suplementasi air kelapa terdapat penurunan bermakna kadar natrium darah (p 0.012) dan klorida darah (p 0.011), sedangkan kadar kalium dan tekanan darah tidak mengalami perubahan bermakna. Perbandingan kadar elektrolit darah dan tekanan darah setelah intervensi antara dua kelompok tidak menunjukan adanya perbedaan bermakna.
Kesimpulan. Secara statistik konsumsi air kelapa kemasan sebagai cairan suplementasi menyebabkan penurunan kadar natrium dan klorida darah mesikipun tidak bermakna secara klinis. Disisi lain jika dibandingkan dengan kelompok kontrol, air kelapa tidak berbeda dalam mempengaruhi kadar elektrolit darah dan tekanan darah.

Background: Being expose to heat stress and heavy physical work make fishermen at risk of losing body fluid and electrolyte. This condition can cause serious health problem and affect productivity. Consuming isotonic water will prevent those risk. Coconut water is a natural isotonic solution that widely available on commercial packaged. In other hand, consuming coconut water can increase daily sodium intake and increase blood pressure. Further study is needed to reveal the effect of packaged coconut water on blood electrolyte level and blood pressure among fisherman.
Method: True experimental study was conducted among fisherman and clam seeker. A total of 37 subjects was divided randomly into interventional group (18 subjects) and control group (19 subjects). Subject was single blindedly given packaged coconut water as interventional solution accompenied by mineral water as basic fluid needs. Blood electrolyte and blood pressure was obtained before and after work.
Result:Statistically analysed on pre and post intervention of packaged coconut water supplementation group, showed a significant decrease of blood sodium level (p 0.012) and blood chloride level (p 0.011). While post interventional comparison between two groups show no difference neither blood electrolyte level nor blood pressure.
Conclusion: Statistically consuming packed coconut water as supplementation resulting on a decrease of blood sodium and chloride level, eventhough the decrease is not clinically significant. In other hand comparing to control group, packed coconut water has no difference on affecting blood electrolyte level and blood pressure.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T59129
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewinta Retno Kurniawardhani
"Perkembangan terapi adjuvan pada glaukoma untuk memperlambat progresi glaukoma saat ini terus dieksplorasi. Penelitian ini mengevaluasi efek Mirtogenol, pada perubahan perfusi okular (perfusi kapiler dan flux index), ketebalan lapisan serabut saraf retina (LSSR), dan tekanan intraokular (TIO) pada pasien glaukoma primer sudut terbuka (GPSTa) yang menerima terapi timolol maleat 0,5% tetes mata. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda. Terdapat 36 subjek (37 mata) dengan GPSTa dan TIO < 21 mmHg yang diacak untuk mendapatkan Mirtogenol atau plasebo selama 8 minggu. Kedua grup dibandingkan, pada kelompok Mirtogenol, rata-rata peningkatan perfusi kapiler dan flux index lebih baik, dan pada kuadran superior terdapat hasil yang signifikan secara statistik setelah 4 minggu (p=0.018). Rerata perbedaan ketebalan LSSR di seluruh kuadran terdapat penurunan dengan nilai yang lebih sedikit pada kelompok Mirtogenol (p>0.05). Penurunan TIO yang konsisten pada kelompok Mirtogenol setelah 8 minggu (p>0.05). Ditemukan efek samping pada 1 subjek yaitu gangguan lambung. Suplementasi Mirtogenol, sebagai terapi adjuvan pada pengobatan glaukoma dapat meningkatkan perfusi okular, mempertahankan ketebalan LSSR, dan menurunkan TIO.

The development of adjuvant therapies in glaucoma to slow its progression is currently being explored. This study evaluates the effects of Mirtogenol on changes in ocular perfusion (capillary perfusion and flux index), retinal nerve fiber layer (RNFL) thickness, and intraocular pressure (IOP) in primary open-angle glaucoma (POAG) patients receiving 0.5% timolol maleate eye drops. This study is a double-blind, randomized controlled clinical trial. There were 36 subjects (37 eyes) with POAG and IOP < 21 mmHg randomized to receive Mirtogenol or placebo for 8 weeks. Compared between the two groups, the Mirtogenol group showed a better average improvement in capillary perfusion and flux index, with statistically significant results in the superior quadrant after 4 weeks (p=0.018). The mean difference in RNFL thickness across all quadrants showed a smaller reduction in the Mirtogenol group (p>0.05). There was a consistent decrease in IOP in the Mirtogenol group after 8 weeks (p>0.05). One subject experienced side effects, specifically stomach disturbances. Mirtogenol supplementation, as an adjuvant therapy in glaucoma treatment, can improve ocular perfusion, maintain RNFL thickness, and reduce IOP."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>