Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 136784 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Patilima, Hamid
"Tesis ini bertujuan terperoleh gambaran kognitif anak-anak di Indonesia, khususnya anak-anak di Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat mengenai lingkungan kota. Penelitian ini menguunakan suatu desain studi kasus yang akan menghasilkan gambaran persepsi anak mengenai lingkungan kota.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data dan informasi pengamatan terlibat, wawancara semi terstruktur dan menggambar. Informal penelitian adalah anak-anak usia 9-12 tahun, murid kelas IV, V, dan VI SDN Kenari 01 Pagi, SDN Kenari 02 Petang, SDN Kenari 03 Pagi, SDN Kenari 04 Petang, SDN Kenari 05 Pagi dan SDN Kenari 06 Petang. Lokasi penelitian di Kelurahan Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
Dalam penelitian ini anak-anak menguraikan narasi sesuai dengan persepsi dan pengalamannya dari tiap-tiap lingkungan tempat mereka berinteraksi dan bersosialisasi secara sosial, yaitu lingkungan tempat tinggal, lingkungan komuniti, lingkungan sekolah, lingkungan bermain, pelayanan transportasi, dan pelayanan kesehatan. Di lingkungan tempat tinggal, ketenangan dan kenyamanan karena ada orang tua yang menjaga, sanitasi rumah bersih, dan adanya air bersih. Sementara, di lingkungan komuniti tergambar organisasi RT-RW, lingkungan yang aman, karena ada Pos Kamling dan penerangan jalan yang mendukung Sistem Keamanan Lingkungan, pengelolaan sampah dan pemeliharaan saluran pembuangan air kotor. Gambaran lingkungan sekolah adalah anak merasa nyaman dan aman bersekolah, karena gedungnya kokoh dan berpagar besi, sanitasi lingkungan terawat; metode pembelajaran yang klasikal, sehingga tidak melatih anak untuk berdiskusi. Di lingkungan bermain, tidak ada fasilitas tempat bermain sehingga anak-anak berinisiatif menggunakan jalan, taman, bantaran kali dan halaman sekolah sebagai tempat bermain. Hal ini mempunyai resiko kecelakaan. Dalam pelayanan transportasi transportasi kota Jakarta, membuat anak-anak belum merasa tenang dan nyaman, karena pelayanannya tidak memperhatikan keselamatan mereka, dan desain kendaraan tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Selain itu pelayanan transportasi belum ramah terhadap anak. Terakhir, berkaitan dengan pelayanan kesehatan, anak menggambarkan penyakit yang sering mereka derita terkait dengan resiko lingkungan seperti air kotor, makanan yang kurang higiene, dan sanitasi yang buruk.
Penyakit yang sering diderita oleh anak adalah diare, infeksi saluran pernapasan atas, dan kulit. Apabila anak-anak sakit, mereka sering dirujuk oleh orang-tua mereka ke klinik dan atau puskesmas sesuai dengan kemampuan keuangan keluarga.
Pelibatan anak-anak dalam sejenis penelitian demikian membesarkan hati mereka. Hal tersebut terungkap dari antusiasme mereka dalam menggambarkan berbagai keadaan seperti lingkungan perumahan, lingkungan komuniti, lingkungan sekolah, lingkungan bermain, pelayanan transportasi, dan pelayanan kesehatan. Kemampuan mereka menggambarkan situasi di atas menandakan anak-anak ini peka terhadap lingkungan kotanya, dalam batas-batas kemampuan dan pemahaman mereka tentang lingkungannya.
Pengabaian kebutuhan anak dalam pembangunan kota merupakan persoalan lingkungan yang dirasakan anak. Banyak hal yang dibutuhkan, namun belum tersedia dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan membangun sarana kebutuhan masyarakat (orang dewasa), pemerintah kota menganggap kebutuhan anak telah terwakili dan terpenuhi dengan sendirinya. Pengabaian pemerintah kota terhadap anak bukan hanya pada kebijakan dan anggaran terbatas, tetapi juga pada pelayanan dan penyediaan sarana kota yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Perasaan tenang, nyaman, dan aman dengan lingkungan tempat tinggal, lingkungan komuniti, lingkungan sekolah mereka, serta tempat pelayanan kesehatan merupakan gambaran persepsi anak mengenai lingkungan kota di satu sisi dengan kasus Kelurahan Kwitang, sedangkan perasaan terganggu dengan sampah yang menumpuk, saluran pembuangan air kotor yang mampat karena masih adanya warga yang membuang sampah sembarangan, dan jalan-trotoar yang rusak di beberapa titik di lingkungan tersebut merupakan gambaran sisi lain. Permukiman yang padat di kelurahan ini adalah kekhawatiran yang lain anak jika terjadi kebakaran seperti sebelumnya, sehingga menjadi trauma untuk mereka. Masih pada sisi yang sama, fasilitas pada lingkungan bermain dan pelayanan transportasi, menurut mereka juga belum cukup memenuhi kebutuhan anak.
Kajian ini terbatasi oleh beberapa faktor, sehingga masih ada "ruang penjelasan" yang terbuka untuk diisi peneliti lain. Keterbatasan ini antara lain disebabkan oleh tidak tinggalnya saya bersama anak-anak (informan), sehingga tidak mengetahui dengan baik pola asuh yang diterapkan di masing-masing keluarga anak. Saya pun tidak mengikuti kegiatan anak selama 24 jam penuh, sehingga pola kegiatan dan bermain anak tidak terekam secara utuh. Walaupun informan dalam penelitian ini adalah anak, namun saya tidak mendalami psikologi anak secara khusus, sehingga saya tidak mengetahui Bahasa tersirat anak yang ingin diungkapkan. Selain itu, saya juga tidak mendalami sosiologi secara khusus, sehingga saya tidak bisa memberikan gambaran yang rinci mengenai kehidupan masyarakat di lingkungan tersebut.

This Thesis aimed to study cognitive description of Indonesian children, particularly those living in urban area in Kwitang Sub District in Central Jakarta. The study used a specially designed methods that captured children's perception through interviews and pictures.
The study used a qualitative approach by means of data collecting, involving observation, semi-structured interviews, and drawing. Participants of the study was 9 -12 year-old students on grade 4, 5 and 6 at six (6) Kenari Elementary Schools, a state-owned elementary schools located in Kwitang, Senen District, Central Jakarta. Three of these schools operated in the morning (07.00-12.00) and the other three operated in the afternoon (13.00-17.00)
The study found that all of participating children depicted their surroundings based on their perception and experiences. Those are internal family, schools, neighborhoods, playing grounds, transportation and health service. The study indicated that parents' income influenced their development. Moreover, it showed that good waste management and drainage of the environment supported their physical growth and health. Children described community work ("kerja bakti") organized by community leaders in their neighborhood had a crucial role to keep environment clean. In their school environment, children felt that secured and comfortable because of its permanent building, and good sanitation, despite their dissatisfaction with their schools' rest room. Classical method of learning was found to discourage children to get used to discussion. School facilities do not have adequate playing ground so that the children usually use street, park, and limited schoolyard as their playing ground. This posed them with risks to get accident. For transportation services, the children could not choose kind of transportation. Public vehicles were not designed and friendly to cater their needs. From health perspective, most children's diseases were related to the hygiene and sanitation of their houses, neighborhood, schools, and playing grounds. The study found that poor drainage and sanitation, non-hygienic foods, and air pollution were factors that affect children's health. Common diseases found in children were diarrhea, respiratory diseases, and dermatitis. Community Health Unit (Puskesmas), a government health service provider at district level, provided medical services for most of the sick children.
Involving children in this study made them full of pride. It was appeared through their enthusiasm in depicting their neighborhood, community environment, school environment, playing area, transportation and health service. Their ability in picturing the condition indicated their awareness and recognizing to their urban surrounding.
Negligence of children's needs in developing a city was a problem that was able to realize by children. There were many condition those needed by children but not available. By developing infrastructure for people (adult), city council assumed that children's need had already been fulfilled. It was not only on policy and limited budget, but also on city service that influence to children development.
Children those live in Kelurahan Kwitang felt two paradoxical conditions. They felt comfortable and safe with their neighborhood, community environment, school environment, and health service. On the other hand, they felt uncomfortable with piled of garbage, bad drainage, and smashed pedestrian. Moreover, children worried about dense residential because it tends to conflagration as it happened before. In addition, they stated that they do not have playing ground and access to transportation service.
This study was limited by some factors so that there was open "explanation room" that can be explored by other researcher. The limitation due to I, as a researcher, did not live in the Kelurahan Kwitang to observe child-rearing pattern in the family. I did not observe children for 24 hours so that child activity was not fully recorded. Instead of informant in the study was children, but I did not study psychology deeply. Therefore, I was not able to catch invisible gesture of children that would more reveal children's mind. In addition, I was not study sociology either so that I could not give specific picture of community life.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004
T13228
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Putri Rahayu
"Penelitian ini membahas tentang pengelolaan ruang terbuka hijau oleh Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman di Kota Tangerang Selatan. Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman melakukan pengelolaan yang dilakukan melalui perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan ruang terbuka hijau yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman di Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif karena menggambarkan dan mendeskripsikan masalah yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara yang melibatkan beberapa narasumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ruang terbuka hijau di Kota Tangerang Selatan oleh Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman Kota Tangerang Selatan sampai saat ini belum maksimal, karena masih ditemukan beberapa hambatan. Hambatan tersebut antara lain adalah kondisi sumber daya manusia yang masih kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, serta belum sepenuhnya pemerintah kabupaten tangerang menyerahkan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang menjadi kendala dalam membangun ruang terbuka hijau, selain itu keterbatasan lahan menjadi salah satu masalah pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam memperluas ruang terbuka hijau.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap hal-hal yang mempengaruhi pengelolaan. Mengenai masalah sumber daya manusia, mulai sekarang harus sudah direncanakan rekrutmen dengan perencanaan yang matang,serta memperkuat koordinasi antar instansi dalam kaitannya dengan penyerahan fasilitas sosial dan fasilitas umum dalam mewujudkan ruang terbuka hijau di Kota Tangerang Selatan.

This research discuss about the management of urban green space conducted by Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman in South Tangerang City. The aim was to determine the management of urban green space conducted by Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman in South Tangerang City. Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman conducted by managing the planning, utilization and control. This study used a qualitative approach and this research is descriptive because it describes, summarizes the various conditions and situations as well as describing the problem under study based on the data obtained. The data was collected through interviews with informants.
The results showed that the management of green open space in South Tangerang City by the Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman in South Tangerang City have not been up to date, because they found the condition of human resources is still lacking in terms of both quality and quantity, as well as the Tangerang regency government has not fully hand over social facilities and public facilities are an obstacle in building a green open space, in addition to the limitations of land into one of the city government problem South Tangerang to expand green space.
Based on these results, it is necessary to repair the things that affect management. Regarding human resource issues, from now on should have planned recruitment with careful planning, and strengthen inter-agency coordination in relation to the delivery of social facilities and public facilities in creating a green open space in South Tangerang City.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S46315
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harits Fathurrahman
"Kenaikan suhu dan fenomena Urban Heat Island (UHI) yang terjadi pada beberapa kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah Kota Jakarta Timur yang menjadi kota dengan jumlah penduduk tertinggi di wilayah DKI Jakarta. Ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memitigasi UHI. RTH dapat memberikan efek pendinginan pada lokasi dan sekitarnya dengan cara memberi peneduh (shade) dan evapotranspirasi. Efek pendinginan yang dihasilkan disebut sebagai Greenspace Cool Island Intensity (GCII). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik RTH publik dan sebaran dari GCII yang dihasilkan, serta menganalisis hubungan antara karakteristik RTH publik dengan GCII. Karakteristik RTH publik yang digunakan adalah luas, landscape shape index (LSI), dan leaf area index (LAI). Metode pengukuran yang digunakan untuk mendapatkan nilai GCII adalah metode equal radius. Citra yang digunakan sebagai bahan dasar pengolahan adalah citra Landsat 9 tahun 2023. Hasil penelitian menunjukan jika RTH publik di Jakarta Timur memiliki 6 jenis karakteristik, dengan tipe luas kecil, tidak beraturan, pepohonan atau tanaman berdaun lebar sebagai karakteristik yang mendominasi. Nilai GCII yang diperoleh memiliki rentang 0,04oC – 1,56 oC dengan GCII relatif tinggi mayoritas berada di Kecamatan Cipayung. Karakteristik luas RTH publik memiliki hubungan dengan nilai GCII, sementara LSI dan LAI memiliki hubungan korelasi yang kurang signifikan. Selain itu, tutupan lahan vegetasi disekitar RTH publik juga berkorelasi positif terhadap nilai GCII.

Temperature rise and the UHI phenomenon occur in several major cities in Indonesia, including East Jakarta City, which is the city with the highest population in the DKI Jakarta area. Green open space (GOS) is one of the efforts that can be made to mitigate UHI. Green spaces can provide a cooling effect on the location and surroundings by providing shade and evapotranspiration. The resulting cooling effect is referred to as Greenspace Cool Island Intensity (GCII). This study aims to analyze the characteristics of public green spaces and the distribution of GCII generated, as well as analyze the relationship between the characteristics of public green spaces with GCII. The characteristics of public green spaces used are area, landscape shape index (LSI), and leaf area index (LAI). The measurement method used to obtain the GCII value is the equal radius method. The image used as the basis for processing is the Landsat 9 image in 2023. The results showed that in East Jakarta public green spaces have 6 types of characteristics, with small area types, irregular, trees or broadleaf plants as the dominating characteristics. The GCII value obtained has a range of 0.04oC - 1.56 oC with relatively high GCII, the majority of which are in Cipayung District. The characteristics of public green space area have a relationship with GCII values, while LSI and LAI have a less significant correlation relationship. In addition, vegetation land cover around public green spaces is also positively correlated with GCII values."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Luthfi Eryando
"Parkour adalah sebuah metode untuk mencapai dari titik A ke titik B seefisien mungkin. Dengan menggunakan elemen-elemen ruang kota, parkour merupakan salah satu kegiatan yang membebaskan pelakunya dari kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bekerja dengan cara mengubah arti sebuah objek spasial untuk digunakan sesuai dengan yang diinginkan oleh pelakunya. Kemampuan parkour untuk menginterpretasikan sebuah ruang kota dipengaruhi oleh sikap playful dari pelakunya. Ruang kota dan elemen-elemennya secara alami mendukung kegiatan subversif seperti parkour dengan ambiguitas dan ketidakpastian yang ada di dalam sebuah kota. Secara tidak langsung perilaku parkour dapat menjadi sebuah perilaku yang transformatif terhadap ruang kota dan dapat menjadi sebuah kritik dari ruang kota.

Parkour is essentially a way to move from point A to point B in the most efficient way possible. By using elements available in an urban space, parkour is an activity that frees the doer from their daily life. Parkour happens by changing the meaning of a spatial object into something that is used towards the goal of the doer. Parkour rsquo s ability to interpret a city space is affected by the doer rsquo s playful attitude. City space and its elements naturally supports this subversive activity such as parkour with its ambiguity and randomness that is always present in a city. Parkour rsquo s behavior could indirectly transform a city space and could also acts as a critic of a city space."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67421
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lubis, Mira Sophia
"Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia, yang memiliki ratusan, bahkan ribuan, sungai dan anak sungai. Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, dengan panjang 1.143 kilometer, merupakan sungai terpanjang di Indonesia, yang selama berabad-abad telah membentuk masyarakat yang berkebudayaan sungai, dalam wujud kota-kota tepi sungai dari hulu hingga hilir sungai-sungainya. Dengan mengangkat 'lanting', salah satu bentuk permukiman tepi sungai di Kalimantan, penelitian ini ingin mengungkap fenomena kehadiran permukiman tepi sungai dalam konstitusi masyarakat perkotaan di Kalimantan. Ekologi politik digunakan sebagai pendekatan untuk mengungkap proses-proses sosial, ekonomi dan politik serta lingkungan pada permukiman lanting, untuk memberikan makna yang lebih mendalam terhadap hubungan kota dan sungai, yang merupakan representasi hubungan manusia dan alam yang kompleks. Lokasi studi adalah Kota Sintang, Kalimantan Barat. Penelitian di lapangan dilaksanakan dalam rentang waktu Oktober 2016 hingga Januari 2018. Partisipan berjumlah 25 orang, dengan penentuan partisipan melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling, untuk menghasilkan sampel ilustratif. Data-data diolah dengan mengikuti kaidah teori beralas klasik (classic grounded theory), yang meliputi tahapan pengodean terbuka, penyusunan kategori dan properti (sub kategori) serta kategori inti, yang dijalin oleh proses penulisan memo dan perbandingan konstan hingga mencapai tahap saturasi. Penelitian ini menghasilkan usulan teori substantif baru yaitu 'urbanisme jejaring berbasis sungai' atau 'urbanisme dendritik' yang menawarkan cara pandang baru dalam memahami permukiman tepi air perkotaan sebagai manifestasi dari 'nexus' sosial-ekonomi-politik-lingkungan yang kompleks.

Borneo is the third-largest island in the world, boasting hundreds, if not thousands, of rivers and tributaries. The Kapuas River in West Kalimantan, with a length of 1,143 kilometers, is the longest river in Indonesia, which for centuries has shaped the culture of the community. By using 'lanting', a form of a river settlement in Kalimantan, this study aims to reveal the phenomenon of the river settlements in the constitution of urban society. Political ecology is used as an approach to reveal social, economic, and political as well as environmental processes in the lanting settlement, to give a deeper understanding of the relationship between the city and the river, which represents a complex relationship between human and nature. The study was conducted in Sintang City, West Kalimantan. In carrying out this research, the Glaserian grounded theory method is used. Field research was carried out in the period from October 2016 to January 2018, at two lanting settlements in Sintang City: Pasar Durian and Tanjung Puri, with 25 participants, which were chosen following the purposive and snowball sampling. This research produces a new substantive theory, 'river-based network urbanism' or 'dendritic urbanism' which offers a new perspective in understanding urban waterfront settlements as a manifestation of a complex socio-economic-political-environmental 'nexus'. The political ecology itself can be seen as a novelty to fill the methodological gap in architectural research and urban settlement studies."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
N. Daldjoeni
Bandung: Alumni, 1992
307.76 DAL s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Raldi Hendro Toro Seputro Koestoer
Jakarta: UI-Press, 1997
307.14 RAL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Raldi Hendro Toro Seputro Koestoer
Jakarta : UI-Press, 1995
307.14 RAL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Terris Ogilvy Morteza
"Penelitian functional diversity pohon, tiang dan pancang dilakukan pada pinggir, tengah dan danau Hutan Kota Universitas Indonesia, Depok dengan 21 plot masing-masing berisi kuadran 20x20m, 10x10 dan 5x5m untuk mengetahui perbedaan plant functional trait (PFT) setiap spesies di ketiga bagian Hutan Kota UI, serta menentukan kelas-kelas PFT sebagai alat seleksi pohon kota. Penentuan seleksi pohon kota dilakukan dengan Dendrogram Clustering dengan Software RStudio menjadi kelas-kelas PFT dan assesmen ruang tanam dan kriteria pertimbangan lainnya seperti nilai estetika, konservasi, serta potensi bahaya spesies. Bagian tengah Hutan Kota UI cenderung memiliki spesies dengan nilai PFT yang lebih besar dibandingkan dengan bagian hutan lainnya, sementara itu bagian danau memiliki jumlah spesies terbanyak. Penelitian ini menghasilkan 4 kelas PFT. PFT Kelas 1 berisi tumbuhan yang hanya dapat ditanam pada ruang non-limited. PFT kelas 2 berisi tumbuhan yang dapat ditanam pada tree pit dan planting strip, namun tidak optimal karena berisi tumbuhan dengan canopy cover rendah. PFT kelas 3 berisi tumbuhan yang paling optimal untuk tree pit dan planting strip. PFT kelas 4 berisi tumbuhan yang dapat ditanam pada ruang tanam non-limited dan planting strip tanpa halangan vertikal. Penelitian lebih lanjut mengenai struktur bawah tanah tumbuhan perlu dilakukan untuk seleksi pohon kota yang lebih baik.

Trees, poles and sappling’s functional diversity research is done on the edges, inner and lakes of the Universitas Indonesia’s city forest in Depok with a total of 21 sample plots filled with quadrants of 20x20m, 10x10m and 5x5m to evaluate the difference of plant functional traits (PFT) of every species found in all three parts of the forest and also evaluating them into seperate PFT classes for urban tree selection. The urban tree selection is done by dendrogram-clustering PFTs into PFT classes then evaluating them based on urban planting spaces and criterias such as aesthethic and conservation value, and potential dangers. The inner forest tend to have bigger PFTs while lake parts have more plant species. Four PFT classes were assessed in this research. PFT class 1 consists of plants that can only be planted in non-limited planting spaces. PFT class 2 has plants that can be used on tree pits and planting strips but won’t be optimal due to low canopy cover. PFT class 3 consists of plants that are most optimal in tree pits and planting strips. PFT class 4 consists of plants that can be used in non-limited planting spaces or planting strips with no vertical obstacles."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>