Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2549 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Tujuan tulisan ini adalah membandingkan penurunan tekanan intraokular (TIO) setelah pemberian obat tetes mata travoprost 0,004% dengan setelah pemberian timolol 0,5% pada glaukoma primer sudut tertutup kronik..."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Edi S. Affandi
"Tujuan tulisan ini adalah untuk membandingkan penurunan tekanan intraokuler (TIO) setelah pemberian obat tetes mata Trovoprost 0,004% dengan setelah pemberian timolol 0,5% pada glaukoma primer sudut tertutup kronik. Penelitian prospektif yang dilakukan dari April 2005 sampai Juli 2005 di Departemen Mata Rumah Sakit Cipto Mangunkitsumo (RSCM) Jakarta pada pasien glaukoma primer sudut tertutup kronik. Subjek dibagi secara acak menjadi 2 grup: grup pertama diberi tetes mata Travoprost 0,004% sekali sehari, dan grup ke dua diberi timolol 0,5% dim kali sehari. Dua minggu sesudah pengobatan dengan obat yang pertama, obat diganti dengan obat yang kedua. Tekanan intraokuler dicatat sebelum pengobatan dimulai, pada hari 1, hari 7 dan hari 14. Masa wash out terlaksanakan selama tiga minggu sebelum terapi awal dan setelah dilakukkan cross over. Enam belas pasien (32 mata) memenuhi kriteria inklusi dan diikutsertakan pada penelitian ini. Sebelum terapi, TIO pada grup Travoprost sebesar 25.38 ± 3,01 sedangkan pada grup timolol sebesar 25,88 ± 2,55 mmHg (p=0,354). Pada hari ke 7 pengobatan, TIO untuk masing-masing sebesar 16,75 ± 1,92 dan 21,25 +_ 3,09 (p=0,00l). Sedangkan pada hari ke 14 pengobatan, TIO untuk masing-masing grup sebesar 13,94 ±_ 2,02 dan 19,25 ± 2,18 (p=000). Dengan demikian Travoprost secara statistik bermakna menurunkan TIO lebih cepat dan besar dari pada timolol (p<0.05). Telex mala Travoprost 0,004% menurunkan tekanan intraokuler lebih cepai dan lebih besar daripada teles mata limolol 0,5%. (Med J Indones 2006; 15:242-5).

The objective of this study is to compare the reduction of intraocular pressure (IOP) after instillation of Travoprost compared with timolol in chronic primary angle-closure glaucoma. A prospective randomized, crossover study was conducted from April 2005 to July 2005 at Department of Ophthalmology, National Central General. Hospital (RSCM) Jakarta on subjects with chronic primary angle-closure glaucoma. Subjects were randomly divided into 2 groups: those taking Tmvoprost once daily and those taking timolol twice daily. Two weeks after treatment with the first drug, the second drug was substituted. Intraocular pressure was recorded before therapy, at day 1, day 7, and day 14. There was a wash out period of three weeks prior to initial treatment and after the cross over. Sixteen subjects (32 eyes) met the inclusion criteria and were included in this study. The mean baseline (OP in the Travoprost group was 25.38 ±3.01 mmHg, while in the timolol group it was 25.88 ±2.55 mmHg (p=0.354). At dav 7, the IOP were consecutively 16.75 ± 1.92 mmHg and 21.25 ± 3.09 mmHg (p=0.00i) and at day 14 IOP were 13.94 + 2.02 mmHg and 19.25 + 2.18 mmHg (p=000). This showed that Travoprost decreased the IOP faster and greater than timolol. The mean baseline IOP was 25.38 ± 3.01 mmHg was decreased to 11.44 ± 1.90 mmHg with Travoprost. In the timolol group, the mean baseline IOP of 25.88 ± 2.55 mmHg was decreased to 6.63 ± 2.25 mmHg. Statistically, Travoprost significantly reduced the IOP faster and greater than timolol "
[place of publication not identified]: Medical Journal of Indonesia, 2006
MJIN-15-4-OctDec2006-242
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Siholita, Magda
"Tujuan: membandingkan penurunan TIO setelah pemberian obat tetes mata travoprost 0,004% dengan penurunan TIO setelah pemberian timomol 0,5% pada glaukoma primer sudut tertutup kronis (GPSTp kronis).
Metode: penelitian ini merupakan penelitian prospektif, randomisasi, dengan cross over design pada 32 mata dari 16 subjek GPSTp kronis. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok travoprost dan kelompok timolol. Masing-masing kelompok terdiri dari 8 subyek. Dua minggu setelah pemberian obat, dilakukan penyilangan kelompok. Tekanan intraocular diukur sebelum terapi, dan pada hari ke-1, hari ke-7, hari ke-14 setelah terapi. Periode wash out dilakukan pada saat sebelum diberikan perlakukan dan setelah cross over. Setiap wash out berlangsung selama 3 minggu.
Hasil: Kelompok travoprost mempunyai TIO awal rerata 25,38±2,55 mmHg, penurunan TIO mencapai 11,44±2,55 mmHg, penurunan TIO mencapai 6,63±2,25 mmHg. Dengan uji statistic, travoprost menurunkan TIO lebih besar dibandingkan timolol secara bermakna (p<0,05)
Kesimpulan: Obat tetes mata travoprost 0,004% menunrunkan TIO lebih besar dibandingkan obat tetes mata timolol 0,5%.

Objective: To compare the reduction of intraocular after taking travoprost VS timolol in chronic primary angle-closure glaucoma.
Method: We performed a prospective, randomized, crossover study of 32 eyes of 16 patients with chronic primary angle-closure glaucoma. Patients were randomized to 2 group: those taking travoprost once daily or those taking timolol twice daily. Each group comprise of 8 patients. Two weeks after treatment with the first drug, the second drug was substituted. Intraocular pressure (IOP) was recorded before the start of therapy, at day 1, at day 7, and at day 14. Wash out period conducted prior to initial treatment and after the cross over. The duration of wash out period was three weeks.
Results: The mean baseline IOP was 25.38±3.01 mmHg, which decreased by 11.44±1.90 mmHg with travoprost. The mean baseline IP was 25.88±2.55 mmHg, which decreased by 6.63±2.25 mmHg with timolol. By statistic test, travoprost reduced the IOP greater than timolol significantly (p<0.05).
Conclusion: 0.004% travoprost eyedrops reduce the IOP greater than 0.5timolol eyedrops.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T20892
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Mulyawarman
"Tujuan:Membandingkan perubahan,nilai puncak dan rata-rata tekanan intra okular (TIO) pada pasien glaukoma primer sudut terbuka (GPSTa) yang terkontrol menggunakan travoprost 0,004 %dengantimolol hydrogel 0,1% padauji provokes iminum air.
Metode: ujieksperimental tersamar tunggal pada 42 pasien GPSTa yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok yang mendapatkan pengobatan dengan Travoprost 0,004% dengan frekuensi sekali/hari, selanjutnya dibandingkan dengan yang mendapatkan Timolol hydrogel 0,1% sekali/hari. Pemeriksaan TIO dilakukan pada evaluasi minggu ke-empat pasca terapi, meliputi TIO baseline sebelum uji provokasi minum air, TIO menit ke-15, 30, 45, 60, 75, 90, 105, dan 120 pasca uji provokasi minum air.
Hasil:Setelah terapi selama empat minggu, TIO baseline sebelum uji provokasi minum air tidak berbeda bermakna antara kelompok travoprost 0,004% dibandingkan dengan timolol hydrogel 0,1% (p=0,28; uji T tidak berpasangan). Nilai TIO minimal dan maksimal pasca uji provokasi minum air secara signifikan lebih rendah pada kelompok travoprost 0,004% dibandingkan dengan timolol hydrogel 0,1% (p=0,04; p=0,01, uji T tidak berpasangan). Nilai mean TIO pada kelompok travoprost juga didapatkan lebih rendah dibandingkan dengan timolol hydrogel 0,1% (p=0,02, uji T tidak berpasangan). Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara fluktuasi TIO kelompok travoprost 0,004% dengan timolol hydrogel 0,1% (p=0,15, uji Mann Whitney).
Kesimpulan: Travoprost 0,004% lebihbaikdalammempertahankanTIO dibandingkan dengan Timolol Hydrogel 0,1% pada uji Provokasi Minum Air.

Objective: To evaluate the intraocular pressure (IOP) profile after water drinking test (WDT) in primary open angle glaucoma (POAG) patients who had already treated with travoprost 0,004% eye drop versus timolol hydrogel 0,1%.
Methods: A single-blind experimental study. Fourty two POAG patients were randomly assigned to receive travoprost 0,004% once daily or timolol hydrogel 0,1% once daily. The IOP profiles were evaluated 4-weeks after treatment, including baseline IOP before WDT, IOP 15-, 30-, 45-, 60-, 75-, 90-, 105-, and 120-minutes after WDT.
Results: At 4-week after treatment, travoprost 0,004% and timolol hydrogel 0,1% had equivalent effect on baseline IOP (p=0,28; unpaired t-test). Minimum and maximum IOP after WDT of travoprost 0,004% group were significantly less than timolol hydrogel 0,1% group (p=0,04; p=0,01; unpaired t-test, respectively). Mean IOP of travoprost 0,004% group was lower than hydrogel 0,1% group as well (p=0,02; unpaired t-test). The IOP fluctuation was not different between two groups (p=0,15; Mann Whitney test).
Conclusion: This study suggests that travoprost 0,004% was more likely to maintain IOP after WDT compared to timolol hydrogel 0,1% treatment.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shinta Yoneva
"ABSTRAK
Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal yang bertujuan
membandingkan TIO antara terapi timolol hydrogel 0,1% (®Cendo Timol hydrogel*)
satu kali sehari dengan timolol tetes 0,5% (®Cendo Timol ED*) dua kali sehari pada
pada glaukoma primer kronis terkontrol. Sebanyak 45 pasien dibagi secara acak
menjadi 2 kelompok. Dilakukan pemeriksaan TIO diurnal menggunakan applanasi
Goldmann pada minggu keempat (pk.07.00±2 jam) dan minggu kedelapan
(pk.12.00±2 jam dan pk.17.00±2 jam). Hasil penelitian ini mendapatkan timolol
hydrogel 0,1% satu kali sehari mempunyai kemampuan mempertahankan TIO setara
dengan timolol tetes 0,5% dua kali sehari.

ABSTRACT
This was a prospective, single blind randomized clinical trial. The purpose of this
study was to compare IOP between the use of timolol hydrogel 0,1% (®Cendo Timol
hydrogel*) once daily and timolol solution 0,5% (®Cendo Timol ED*) two times
daily on controlled chronic primary glaucoma. Forty five patients divided randomly
into two groups. Diurnal IOP measurement was followed using Goldmann
applanation at the fourth week (07.00 AM ± 2 hours) and the eighth week (12.00
noon ± 2 hours and 05.00 PM ± 2 hours). The result of this study was timolol
hydrogel 0,1% once daily have the ability to maintain IOP equal to timolol eyedrop
0,5% twice daily."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Damara Andalia
"ABSTRAK
Latar belakang Glaukoma masih merupakan salah satu penyebab kebutaan
terbesar di dunia. Belakangan ini, ketebalan RFNL dan GCIPL diketahui memiliki
hubungan terhadap perubahan struktural yang disebabkan oleh glaukoma.
Tujuan untuk mengkaji kemampuan diagnostik dari pengukuran ketebalan RFNL
dan GCIPL dalam mendeteksi glaukoma pada tahap awal.
Metode Enam puluh empat mata dengan sudut bilik mata sempit (32 glaukoma,
32 non-glaukoma) dari 48 pasien menjalani pengukuran menggunakan Cirrus
OCT dengan protokol 3,4 mm pemindaian cepat RFNL peripapilar. Pengukuran
dilakukan pada sisi superior, inferior, nasal, temporal dari GCIPL dan RFNL,
begitu juga dengan GCIPL superotemporal, superonasal, inferotemporal,
inferonasal, dan minimal.
Hasil Semua parameter yang diuji pada studi ini menunjukkan angka yang lebih
rendah pada kelompok PACG dibandingkan kelompok PAC. Rerata ketebalan
RFNL dan ketebalan GCIPL inferotemporal masing-masing memiliki nilai
spesifitias dan sensitifitas yang paling baik. Parameter dengan determinan terbaik
adalah ketebalan GCIPL inferotemporal dengan sensitifitas dan spesifitas masingmasing
75%
dan
75%.
Kesimpulan
Ketebalan GCIPL dan RFNL peripapil memiliki potensi besar
sebagai parameter diagnostik seperti skrining dan evaluasi respon terapi.
ABSTRACT
Background Glaucoma remains one of the biggest causes of blindness
worldwide. Recently, RFNL and GCIPL thickness were shown to be correlated
with early structural changes caused by glaucoma.
Objective to evaluate the diagnostic performance of RFNL and GCIPL thickness
measurement in detecting early glaucoma
Method Sixty-four eyes with primary angle closure (32 glaucomatous, 32 nonglaucomatous)
of
48
patients underwent peripapillar scanning using Cirrus OCT
using 3,4 mm protocol fast RNFL peripapillary thickness scan. The measurement
includes superior, inferior, nasal, temporal, mean GCIPL and RFNL, as well as
superotemporal, superonasal, inferotemporal, inferonasal, minimal GCIPL.
Result All parameters studied were significantly thinner in PACG group
compared to PAC group. Mean RFNL thickness and inferotemporal GCIPL has
the highest specificity and sensitivity, respectively, in detecting glaucoma.
Parameter with the best determinant is inferotemporal GCIPL thickness with
sensitivity and specificity, 75% and 71.9%, respectively.
Conclusion Peripapillary RFNL and GCIPL could be a potential diagnostic
parameter in detecting early glaucoma and monitoring therapy response in
glaucoma patients. ;Background Glaucoma remains one of the biggest causes of blindness
worldwide. Recently, RFNL and GCIPL thickness were shown to be correlated
with early structural changes caused by glaucoma.
Objective to evaluate the diagnostic performance of RFNL and GCIPL thickness
measurement in detecting early glaucoma
Method Sixty-four eyes with primary angle closure (32 glaucomatous, 32 nonglaucomatous)
of
48
patients underwent peripapillar scanning using Cirrus OCT
using 3,4 mm protocol fast RNFL peripapillary thickness scan. The measurement
includes superior, inferior, nasal, temporal, mean GCIPL and RFNL, as well as
superotemporal, superonasal, inferotemporal, inferonasal, minimal GCIPL.
Result All parameters studied were significantly thinner in PACG group
compared to PAC group. Mean RFNL thickness and inferotemporal GCIPL has
the highest specificity and sensitivity, respectively, in detecting glaucoma.
Parameter with the best determinant is inferotemporal GCIPL thickness with
sensitivity and specificity, 75% and 71.9%, respectively.
Conclusion Peripapillary RFNL and GCIPL could be a potential diagnostic
parameter in detecting early glaucoma and monitoring therapy response in
glaucoma patients. ;Background Glaucoma remains one of the biggest causes of blindness
worldwide. Recently, RFNL and GCIPL thickness were shown to be correlated
with early structural changes caused by glaucoma.
Objective to evaluate the diagnostic performance of RFNL and GCIPL thickness
measurement in detecting early glaucoma
Method Sixty-four eyes with primary angle closure (32 glaucomatous, 32 nonglaucomatous)
of
48
patients underwent peripapillar scanning using Cirrus OCT
using 3,4 mm protocol fast RNFL peripapillary thickness scan. The measurement
includes superior, inferior, nasal, temporal, mean GCIPL and RFNL, as well as
superotemporal, superonasal, inferotemporal, inferonasal, minimal GCIPL.
Result All parameters studied were significantly thinner in PACG group
compared to PAC group. Mean RFNL thickness and inferotemporal GCIPL has
the highest specificity and sensitivity, respectively, in detecting glaucoma.
Parameter with the best determinant is inferotemporal GCIPL thickness with
sensitivity and specificity, 75% and 71.9%, respectively.
Conclusion Peripapillary RFNL and GCIPL could be a potential diagnostic
parameter in detecting early glaucoma and monitoring therapy response in
glaucoma patients. "
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Puranto Budi Susetyo
"Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal yang bertujuan membandingkan tekanan intraokular (TIO) selama 24 jam antara terapi Travoprost 0,004% dengan terapi Timolol gel 0,1% pada pasien glaukoma primer sudut terbuka dengan tekanan yang telah terkontrol. 26 pasien yang mengikuti penelitian dibagi dua kelompok secara acak. Pengukuran TIO selama 24 jam sebanyak 8 kali dengan interval 3 jam setelah diterapi selama 4 minggu. Hasil penelitian ini mendapatkan hasil bahwa fluktuasi, puncak, dan rerata TIO 24 jam Travopost 0,004% lebih rendah dibandingkan dengan Timolol gel 0, 1%.

This was a prospective, single blind randomized clinical trial. The purpose of this study was to compare 24 hours IOP between the use of travaprost 0.004% and timolol gel 0.1% on controlled primary open angle glaucoma. Twenty six patients enrolled this study and divided at two groups. 24 hours IOP measurement was done 8 times with 3 hours interval after 4 weeks therapy. The ressult of this study was travoprost 0.004% has lower IOP fluctuation, peak and mean IOP than timolol gel 0.1%.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T59123
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Latar belakang: Sudut tertutup primer akut (STPA) merupakan salah satu penyebab kebutaan akut dan bersifat permanen di Departemen Mata RSUPN Cipto Mangunkusumo. Tata laksana penyakit tersebut masih dalam perdebatan. Tindakan laser iridektomi perifer sulit dilakukan segera karena tekanan intra okular (TIO) yang tinggi menimbulkan edema kornea, sehingga gambaran iris tidak dapat terlihat jelas. Parasentesis dapat menurunkan TIO secara cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai TIO hasil tindakan parasentesis sebagai tindakan pertama dalam menurunkan TIO pada primer sudut tertutup akut di ras Indonesia Melayu.
Metode: Penelitian intervensi ini dilakukan di Klinik Mata RSUPN Cipto Mangunkusumo dan Jakarta Eye Center dari Januari 2005 sampai Desember 2007. Subjek penelitian adalah penyandang STPA, sesuai konsensus Asia Pasifik pada ras Indonesia Melayu. Seluruh subjek dilakukan parasentesis. TIO awal dan sesudah parasentesis serta luas sinekia anterior perifer (SAP) dicatat. Keluaran parasentesis dikatakan baik bila TIO ≤ 21 mmHg dan buruk bila TIO > 21 mmHg.
Hasil: Dalam penelitian ini, terdapat 45 subjek yang mempunyai STPA. Di antara seluruh subjek, tiga puluh delapan orang adalah perempuan dengan rerata umur 54,6 ± 1,56 tahun. Rerata lama serangan 13,15 ± 7,4 hari dengan rerata luas SAP 7,7 ± 3,1 jam. Terdapat korelasi kuat antara lama serangan dengan luas SAP (r = 0,672; p < 0,001). Rerata TIO awal adalah 55 ± 13,37 mmHg dan TIO setelah parasentesis adalah 27 ± 12,78 mmHg. Terjadi penurunan TIO yang bermakna sebesar 49% ( p < 0.001) dengan keluaran baik pada 19 mata, dan keluaran buruk pada 26 mata.
Kesimpulan: Parasentesis sebagai tata laksana awal pada mata dengan STPA menurunkan TIO segera, tetapi hanya bersifat sementara.

Abstract
Background: Acute primary angle closure (APAC) is one of the causes of blindness in Department of Ophthalmology Cipto Mangunkusumo General Hospital. Management of APAC is still controversial. Laser peripheral iridotomy is difficult to be done due to corneal edema as a result of persistent high intraocular pressure (IOP). It is believe that paracentesis will lower IOP immediately. The objective of the study was to assess outcome of paracentesis as the initial management in Malay Indonesian eyes with APAC.
Methods: This intervention study was conducted at the Eye Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital and Jakarta Eye Center commencing in January 2005 until December 2007. Malay Indonesian eyes with APAC were included in this study in accordance with the new Asia Pacific consensus. All APAC eyes underwent paracentesis to lower IOP. The presenting and post-paracentesis IOP and peripheral anterior synechiae were noted. The outcome was termed as good when IOP was ≤ 21 mmHg and poor when IOP was > 21 mmHg.
Results: A total of 45 APAC eyes were recruited. Thirty-eight of these belonged to women; mean age was 54.6 ± 1.56 years. Meanwhile, average duration of symptoms was 13.15 ± 7.4 days and mean of extent of peripheral anterior synechiae (PAS) was 7.7 ± 3.1 hours. There was a strong correlation regarding duration of symptoms to the formation of PAS (r = 0.672; p < 0.001). The mean presenting IOP was 55 ± 13.37 mmHg and mean post-paracentesis IOP was 27 ± 12.78 mmHg. A decrease of 49% in IOP ( p < 0.001) was observed after paracentesis with good outcome in 19 eyes and poor outcome in 26 eyes.
Conclusion: Paracentesis as an initial intervention in APAC eyes reduces the IOP immediately, but only as a temporary response."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2012
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dewinta Retno Kurniawardhani
"Perkembangan terapi adjuvan pada glaukoma untuk memperlambat progresi glaukoma saat ini terus dieksplorasi. Penelitian ini mengevaluasi efek Mirtogenol, pada perubahan perfusi okular (perfusi kapiler dan flux index), ketebalan lapisan serabut saraf retina (LSSR), dan tekanan intraokular (TIO) pada pasien glaukoma primer sudut terbuka (GPSTa) yang menerima terapi timolol maleat 0,5% tetes mata. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda. Terdapat 36 subjek (37 mata) dengan GPSTa dan TIO < 21 mmHg yang diacak untuk mendapatkan Mirtogenol atau plasebo selama 8 minggu. Kedua grup dibandingkan, pada kelompok Mirtogenol, rata-rata peningkatan perfusi kapiler dan flux index lebih baik, dan pada kuadran superior terdapat hasil yang signifikan secara statistik setelah 4 minggu (p=0.018). Rerata perbedaan ketebalan LSSR di seluruh kuadran terdapat penurunan dengan nilai yang lebih sedikit pada kelompok Mirtogenol (p>0.05). Penurunan TIO yang konsisten pada kelompok Mirtogenol setelah 8 minggu (p>0.05). Ditemukan efek samping pada 1 subjek yaitu gangguan lambung. Suplementasi Mirtogenol, sebagai terapi adjuvan pada pengobatan glaukoma dapat meningkatkan perfusi okular, mempertahankan ketebalan LSSR, dan menurunkan TIO.

The development of adjuvant therapies in glaucoma to slow its progression is currently being explored. This study evaluates the effects of Mirtogenol on changes in ocular perfusion (capillary perfusion and flux index), retinal nerve fiber layer (RNFL) thickness, and intraocular pressure (IOP) in primary open-angle glaucoma (POAG) patients receiving 0.5% timolol maleate eye drops. This study is a double-blind, randomized controlled clinical trial. There were 36 subjects (37 eyes) with POAG and IOP < 21 mmHg randomized to receive Mirtogenol or placebo for 8 weeks. Compared between the two groups, the Mirtogenol group showed a better average improvement in capillary perfusion and flux index, with statistically significant results in the superior quadrant after 4 weeks (p=0.018). The mean difference in RNFL thickness across all quadrants showed a smaller reduction in the Mirtogenol group (p>0.05). There was a consistent decrease in IOP in the Mirtogenol group after 8 weeks (p>0.05). One subject experienced side effects, specifically stomach disturbances. Mirtogenol supplementation, as an adjuvant therapy in glaucoma treatment, can improve ocular perfusion, maintain RNFL thickness, and reduce IOP."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lisa Maulida
"ABSTRAK Penelitian ini bertujuan membandingkan prediktabilitas refraksi kelompok sudut tertutup primer dengan katarak yang menjalani fakoemulsifikasi berdasarkan perhitungan kekuatan lensa tanam menggunakan formula Hoffer-Q dan SRK/T. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda. Dilakukan analisis pada 46 mata dari 42 orang, dua puluh tiga mata pada masing-masing kelompok. Sebelum operasi, dilakukan pemeriksaan biometri pertama dengan IOL Master untuk tiap kelompok dan pada 2/3 minggu pasca operasi dilakukan pengukuran BCVA. Proporsi dalam 0,5 D 56,52% pada kelompok Hoffer-q dan 52,18% pada SRK/T, Mean Absolute Error (MAE) 0,58 ± 0,39 D pada kelompok Hoffer-q dan 0,59 ± 0,34 D pada SRK/T, Mean Refractive Error (MRE) -0,39 ± 0,59 D pada kelompok Hoffer-q dan -0,41 ± 0,54 D pada SRK/T. Formula Hoffer-q dan SRK/T memiliki prediktabilitas refraksi yang sebanding pada kelompok sudut tertutup primer dengan katarak.

ABSTRACT
This study is aimed to compare refractive predictability of 2 formula; Hoffer-q and SRK/T in primary angle closure disease with cataract. This is a Randomized Clinical Trial. Analysis was done in 46 eyes from 42 subjects, which divided into 23 eyes in each group. The first biometry with IOL Master was done before the surgery and BCVA was done at 2 or 3 weeks after the surgery. Proportion within 0,5 D is 56,52% for Hoffer-q and 51,18 for SRK/T, Mean Absolute Error (MAE) was 0,58 ± 0,39 D for Hoffer-q dan 0,59 ± 0,34 D for SRK/T, Mean Refractive Error (MRE) was -0,39 ± 0,59 D for Hoffer-q and -0,41 ± 0,54 D for SRK/T. Hoffer-q and SRK/T have comparable refractive predictability in primary angle closure disease with cataract.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>