Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 137231 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arsyad Sarimay
"Permukiman kumuh di Kampung Buaran, memang belum terjamah oleh pembangunan Daerah, seperti jalan setapak, jalan lingkungan yang masih tanah serta belum ada saluran air kotor atau drainase. Kenyataannya citra permukiman kumuh dimata sebagian masyarakat dewasa ini digeneralisir cenderung adalah kotor, becek, kumuh, tidak nyaman, penduduknya padat dan sebagainya.
Untuk mengantisipasinya, pada tahun anggaran 2002, Pemerintah Kota Tangerang memfokuskan perbaikan prasarana dan sarana fisik lingkungan di Kampung Buaran Kelurahan Cikokol Kecamatan Tangerang, maka penelitiannya didasarkan pada, bagaimanakah langkah-langkah pembangunan permukiman kumuh dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap penataan permukiman kumuh di Kampung Buaran Kelurahan Cikokol Kecamatan Tangerang.
Bermula dari latar belakang dan masalah tersebut, penelitian diarahkan secara umum untuk dapat mengetahui tingkat keberhasilan dan ketidakberhasilan pembangunan di wilayah permukiman kumuh Kampung Buaran. Secara khusus, ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisa langkah-langkah yang diambil, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan penataan permukiman kumuh di Kampung Buaran terhadap perbaikan fisik lingkungan, yaitu : jalan setapak, jalan lingkungan, saluran air kotor, pembuatan jamban keluarga Pra Keluarga Sejahtera, perbaikan rumah Pra Keluarga Sejahtera, pembangunan Pos Pelayanan Terpadu serta pembuatan mandi cuci kakus.
Sebagai analisis, penulis menggunakan Kornponen-Komponen Analisa Data Model Interaktif, yakni : Data Collection, Data Reduction, Data Display dan Conclusion Drawing & Verifying yang dirujuk dari pendapat ( Huberman dan Miles dalam Bungin, 2003 ).
Penelitian yang dilakukan bersifat eksploratif dan pendekatannya kualitatif, sedangkan untuk mendapatkan informasi memanfaatkan informan, yang didasarkan pada empat ukuran, yaitu : latar, pelaku, peristiwa dan proses yang dirujuk dari pendapat (Huberman dan Miles, 1984 ).
Permukiman kumuh di Kota Tangerang merupakan masalah yang harus ditata sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, agar tidak terjadi kekumuhan.
Perbaikan prasarana dan sarana fisik lingkungan, yaitu : jalan setapak, jalan lingkungan, saluran air kotor, pernbuatan jamban keluarga, pembuatan mandi cuci kakus dan pembangunan Pos Pelayanan Terpadu yang dibangun, terlihat Kampung Buaran Iebih teratur dan rapih. Pelaksanaan pembangunan tersebut berjalan lancar, karena mendapat dukungan baik dari aparat pelaksana ( Dinas Perumahan dan Permukiman dan aparat Kelurahan ) maupun dari masyarakat.
Perlu pembinaan lanjutan pasca pembangunan melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat, untuk membuat program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di kampung-kampung yang telah di tata, seperti program pelatihan peningkatan partisispasi pembangunan masyarakat."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004
T13262
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Galih Lutfi Maulana
"Program Kampung Deret merupakan program yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyelesaikan masalah permukiman kumuh. Skripsi ini membahas mengenai evaluasi dampak program Kampung Deret di RW 05 Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Tujuannya untuk Mengevaluasi bagaimana dampak program yang dirasakan oleh masyarakat di Kampung Deret Petogogan dan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program. Penelitian ini menggunakan teori kriteria evaluasi berdasarkan dampak yang dirasakan oleh penerima program menurut Matt, Givoni, Epstein, dan Feitelson.
Penelitian ini adalah penelitian post-positivist dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dampak secara lingkungan yang dirasakan masyarakat menjadi lebih baik, sementara dampak ekonomi dan dampak sosial belum positif.

Kampung Deret Program is a program made by Provincial Government of DKI Jakarta for solving the problems of slums. This thesis discuss about evaluating the impacts of Kampung Deret program at RW 05 Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Administration city of Jakarta Selatan.
The purpose of this research is to evaluate program effects which is felt by community in Kampung Deret Petogogan and to identify factors affecting implementation of the program. This research uses theory of evaluating criterias based on effects felt by recipient of the program by Matt, Givoni, Epstein, and Feitelson.
This study is post positivist and descriptive design. The result shows that only environmental effects felt better by community, while economic and social effects not positive yet.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2017
S69368
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhidin Susanto
"Kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor telah berkembang pesat menjadi kawasan perkotaan. Tekanan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menyebabkan peningkatan kawasan permukiman dan perubahan fungsi lahan. Penelitian bertujuan menganalisis perkembangan kawasan permukiman di kecamatan Ciampea yang meliputi analisis pola sebaran, kesesuaian guna lahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi lokasi permukiman. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif ditambah dengan penjelasanpenjelasan dengan metode kualitatif.
Dengan analisis tetangga terdekat didapatkan pola sebaran permukiman perkotaan di Ciampea cenderung mengelompok, sementara pola sebaran permukiman pedesaan menunjukkan pola seragam. Hasil evaluasi guna lahan disimpulkan 98,74% permukiman perkotaan sesuai dengan kebijakan tata ruang kabupaten Bogor, sementara kesesuaian permukiman pedesaan 75,56%. Dari kesesuaian kondisi geografis, permukiman perkotaan dan pedesaan sebagian besar berada dikawasan layak bangun (96,82% dan 90,88%).
Hasil analisis komponen utama diketahui bahwa faktor dan variabel yang mempengaruhi sebaran dan perkembangan lokasi permukiman di kecamatan Ciampea adalah: faktor sosial demografi (kepadatan, kondisi pendatang, kesamaan pendidikan & pekerjaan dan kesamaan suku & budaya); faktor infrastruktur (fasilitas, akses jalan, akses pada pekerjaan, kendaraan, dan moda angkutan); faktor Fisik Lingkungan (kualitas hunian, sumber air dan suasana alam); faktor Ekonomi (harga rumah dan biaya transportasi); dan faktor Kebijakan (kredit bank dan pengetahuan kebijakan tata ruang).

Ciampea district, Bogor regency has rapidly developed into urban areas. Pressures of population growth and urbanization led to an increase in settlement areas and land use change. This study aims to analyze the development of residential areas in the Ciampea district that includes distribution pattern analysis, the suitability of land use and the factors that affect settlement location preferences. This study used a descriptive quantitative approach coupled with explanations with qualitative methods.
With nearest neighbor analysis of the distribution pattern obtained urban settlements in Ciampea tend to cluster, while the distribution pattern of rural settlements is dispered. The results of the evaluation of land use 98.74 % of urban settlements concluded in accordance with the Bogor district land policy, while 75.56 % of rural settlements suitability. Suitability of geography, urban and rural settlements mostly decent wake region ( 96.82 % and 90.88 % ).
The results of principal componen analysis shows that the factors and variables that affect the distribution and development of settlements in the district Ciampea are: socio-demographic factors (density ,entrants conditions , the similarity education & employment and culture & ethnicity); infrastructure factors (facilities, access roads, access to jobs, vehicles, and modes of transportation); Environment Physical factors (residential quality, water resources and natural atmosphere); Economic factors (housing prices and transportation costs), and policy factors (bank credit and knowledge of spatial policy).
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I. B Dwipayana
"I.B. Dwipayana, 0795030096, Beliung Persegi dari Cikokol, Tangerang Jawa Barat. (Dibawah bimbingan Kresno yulianto, M. Hum), Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pada masa Iampau, kondisi disekitar manusia merupakan Iingkungan yang alami, meliputi iklim, tanah, vegetasi dan fauna. Perkembangan budaya mengakibatkan manusia mampu menciptakan benda-benda yang digunakan untuk memanfaatkan sumber Jaya yang diperlukan, kehidupan manusia pada masa itu menunjukkan bahwa penguasaan dan pemanfaatan alam untuk kebutuhan hidupnya maju dengan pesat, hal ini terlihat pada pembuatan alat-alat yang dihasilkan seperti beliung persegi. Beliung Persegi merupakan benda penting pada masa bercocok tanam atau masa neolitik. Daerah temuan beliung ini, secara luas ditemukan di Indonesia, terutama di Indonesia bagian barat, salah satu situsnya adalah Cikokol, Tangerang, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara dominasi bentuk tertentu dengan tipe kegiatan tertentu dan merevisi kembali pendapat Roger Duff mengenai bentuk-bentuk tipe beliung di Indonesia terutama Indonesia bagian barat serta menjelaskan arti pentingnya situs Cikokol bagi kehidupan masyarakat prasejarah pada masa bercocok-tanam. Data yang dipakai dalam peneiitian ini merupakan beliung dari Cikokol, Tangerang koleksi Pusat Arkeologi di Jakarta. Berdasarkan pengamatan terhadap klasifikasi beliung persegi dalam tipe dasar dan variasinya dapat disimpulkan bahwa pada umumnya beliung persegi yang berasal dari Cikokol, Tangerang, Jawa Barat ini terdiri dari 3 macam tipe yaitu; Tipe I (beliung persegi), Tipe II (pahat), Tipe III (belincung). Tiap tipe ini masih terbagi Iagi menjadi beberapa variasi yailu: Tipe I dengan 6 variasi, Tipe II dengan 2 variasi dan Tipe IlI dengan 5 variasi. Sudut tajaman beliung dibagi menjadi 3 kelas yaitu ; tajam, sedang, tumpul. Ukuran beliung dibagi menjadi 3 yaitu: pendek, sedang, panjang. Dari semua tipe dan variasi yang dihasilkan terdapat 1 buah variasi yang tidak terdapat di dalam klasifikasi Roger Duff, maupun klasifikasi yang dibuat oleh para peneliti lainnya, yaitu beliung Tipe II variasi B. Pengamatan terhadap bentuk beliung terlihat bahwa ada 3 bentuk beliung yaitu; empat persegi panjang, berpenampang punggung tinggi dan berpenampang punggung bulat, dari ketiga bentuk tersebut, bentuk beliung empat persegi panjang merupakan bentuk yang paling dominan. Analisis bahan beliung menunjukkan 3 jenis batuan yang dipakai dan merupakan bahan baku beliung yaitu: (1) batuan beku: batuan daslt. (2) Batuan sedimen : Jasper, Rijang (chert), Fosil Kayu (Silisifiedwood), batu lanau (silt stone). (3) Batuan Metamori : Batuan metagamping dan hornfels. Berdasarkan peta geologi lembar Jakarta, Tangerang dan Bogor semua jenis batuan ini terdapat di sekitar DAS Cisadane. Batuan dasit terdapat di daerah Gunung Dago, Jasper didaerah Binong dan Peusar, Batuan Rijang Silisltledwood, batu lanau, metagamping terdapat di daerah Gunungsari, Cihuni, Cigaten. Batu gamplng terdapat di daerah Nagrak, Hawing dan Cipete. Pengamatan terhadap keragaman bentuk, sudut tajaman dan hubungannya dengan jenis kegiatan dapat disimpuikan: Tipe 1 ukuran pendek dan sedang dengan sudut tajaman tajam cenderung mengarah pada jenis kegiatan menyerut, menggergaji, memotong, mengikis, dan mengerik. Tipe I ukuran pendek dan sedang dengan sudut tajaman sedang mengacu pada jenis kegiatan menarah, mengampak, dan membaji.Tipe II ukuran pendek dan sedang dengan sudut tajaman tajam cenderung mengarah pada jenis kegiatan : menyerut, memotong, mengergaji, mengikis dan mengerik. Tipe III berukuran pendek dan sedang dengan sudut tajaman tumpul cenderung mengarah pada jenis kegiatan membelah. Tipe III berukuran sedang dengan sudut tajaman sedang cenderung mengarah pada jenis kegiatan menarah, mengampak dan membaji. Tipe III berukuran panjang dengan sudut tajaman tumpul cenderung mengarah pada jenis kegiatan mem belah. Berdasarkan data yang dibuat oleh Departernen Dalam Negeri (1999), daerah Cikokol yang dilalui oleh DAS Cisadane ini, memiliki persediaan air yang berlimpah, keadaan solum tanah (unsur Kara) yang balk dan subur, flora dan fauna yang beragam, keadaan suhu dan curate hujan yang tetap dan teratur, memungkinkan menarik minat manusia untuk hidup dan menetap di daerah tersebut. Kondisi inilah setidak-tidaknya mendukung kegiatan bercocok tanam yang pada masa neoiitik mungkin masih berbentuk perladangan berpindah, kondisi lingkungan yang mendukung dan kegiatan yang dilakukan memungkinkan daerah tersebut dapat berkembang."
2000
S11576
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wiwit Ayu Wulandari
"Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mendalam tentang persepsi pasangan usia subur terhadap nilai anak yang dikaitkan dengan preferensi fertilitas, khususnya di wilayah pemukiman kumuh perkotaan Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan persepsi pasangan usia subur terhadap nilai anak di wilayah kumuh perkotaan yang menonjol adalah nilai anak secara ekonomis dibandingkan dengan nilai anak secara sosial ataupun psikologis. Tingginya nilai anak secara ekonomis menyebabkan masih tingginya preferensi fertilitas (keinginan akan anak) di wilayah kumuh. Pemberian informasi tentang nilai anak dan sosialisasi tentang perencanaan keluarga masih sangat perlu dilakukan. Program Keluarga Berencana (KB) "2 anak cukup" di wilayah kumuh sangat penting dioptimalkan dan disertai dengan peningkatan pemberdayaan ekonomi keluarga.

The purpose of this study to obtain in-depth information about perception of the productive-age couple against child value that associated with fertility preferences at the slums area, Kelurahan Kampung Melayu, Kelurahan Jatinegara, Jakarta Timur. This study used a qualitative approach. The results showed that the productive-age couple's perception which stands out the most is the economic value of child compared to the social value and psychological value. The high economic value of the child causes fertility preferences (desire for a child) is high at slum area. Provision of information about the value of children and the dissemination of family planning still needs to be done. Government's family planning program "2 anak cukup" in slums area is very important to be optimized and accompanied by increases economic empowerment of the family.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2015
T45314
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suwarniyati Sartomo
"ABSTRAK
Studi tentang hubungan antara manusia dan lingkungan hidup, khususnya yang melihat aspek hubungan lingkungan buatan dan perilaku manusia merupakan suatu kajian yang cukup menarik. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan antara lain memberikan kesimpulan adanya pengaruh yang kuat baik positif atau negatif, antara lingkungan fisik dan lingkungan buatan terhadap perilaku manusia (Clinard, 1973; Altman, 1975; Rapoport 1982; Bell, 1984).
Studi mengenai hubungan antara lingkungan buatan dan perilaku manusia, yang dalam penelitian ini memusatkan kajian pada lingkungan permukiman kumuh, telah memberikan sumbangan pemikiran berupa hasil penelitian di tiga lokasi permukiman kumuh di wilayah Jakarta Pusat. Tiga kelurahan yang dipilih dengan prosedur penarikan sampel lokasi secara purposive; yaitu Kelurahan Duri Pulo, Kelurahan Sumur Batu dan Kelurahan Kampung Rawa, memberikan gambaran khusus mengenai hubungan lingkungan permukiman kumuh dan perilaku.
Pemilihan sampel purposive wilayah Jakarta Pusat sebagai lokasi penelitian didasarkan atas beberapa alasan: pertama, Jakarta Pusat merupakan pusat kegiatan terbesar di antara kelima wilayah di DKI Jakarta; kedua, memiliki keunikan dalam hal angka kejahatan (angka kejahatan cukup tinggi dibandingkan wilayah DKI Jakarta lainnya); dan ketiga, memiliki lokasi hunian kumuh cukup banyak.
Tipe penelitian ini bersifat deskriptif, dengan metode statistik non parametrik. Populasi penelitian adalah kepala keluarga (KK) yang berdomisili di tiga kelurahan terpilih. Sementara itu penarikan sampel responden di tiga kelurahan dilakukan dengan prosedur penarikan sampel acak terlapis tak seimbang (disproporsional stratified random sample), berdasarkan dua indikator pokok, yaitu kepadatan penduduk per-kilometer persegi dan frekuensi kejahatan.
Adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah seperti berikut:
1. Sejauh mana pengaruh lingkungan permukiman kumuh terhadap perilaku individu penghuni.
2. Seberapa jauh lingkungan permukiman kumuh berpengaruh pada tumbuhnya perilaku menyimpang.
Bertitik tolak dari dua permasalahan di atas, hipotesis penelitian yang dicoba untuk dibuktikan adalah:
1. Semakin buruk kondisi fisik permukiman kumuh, semakin rendah kepedulian anggota masyarakat terhadap lingkungannya.
2. Lingkungan permukiman kumuh berpengaruh pada tumbuhnya perilaku menyimpang.
Dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan dengan metode survai dan metode wawancara mendalam (depth-interview), diperoleh beberapa temuan penelitian berikut:
1. Tingkat kepedulian anggota masyarakat permukiman kumuh yang diukur dengan indikator tingkat intensitas hubungan antar warga, menunjukkan hasil bahwa semakin baik lingkungan permukiman kumuh, semakin tinggi tingkat kepedulian warganya. Variabel tingkat intensitas yang dibagi ke dalam kategori: tidak akrab, kurang akrab, dan sangat akrab, dikorelasikan dengan variabel kondisi lingkungan permuidman, menghasilkan nilai korelasi Kendall: rb = 0.21. Uji korelasi menggunakan tabel distribusi normal Z, memperlihatkan basil Z hitung = 3.81, pada taraf signifikansi α= 0.05, nilai Z tabel = 1.67. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa hipotesis nomor 1 diterima.
2. Kondisi lingkungan permukiman kumuh ternyata tidak selalu identik dengan perikehidupan yang kurang harmonis, bahkan tidak pula identik dengan tempat tumbuhnya perilaku menyimpang. Data lapangan di tiga lokasi penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara mendalam, memperlihatkan bahwa lingkungan permukiman yang relatif baik memiliki angka kejahatan relatif tinggi.
Sementara itu data lapangan yang diperoleh dengan kuesioner memperlihatkan hanya sepertiga dari anggota sampel penelitian yang pemah mengetahui dan mengalami peristiwa kejahatan. Perkelahian dan pencurian merupakan ciri kejahatan yang terjadi di lingkungan permukiman kumuh. Hasil pengamatan sepanjang penelitian lapangan dilakukan, justru memberi gambaran bahwa perjudian juga merupakan ciri perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan permukiman kumuh.
Meskipun beberapa jenis kejahatan dan perilaku menyimpang menggambarkan salah satu ciri perilaku anggota masyarakat di lingkungan permukiman kumuh, untuk sementara hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa lingkungan permukiman kumuh tidak berpengaruh terhadap tumbuhnya perilaku menyimpang. Dengan demikian, salah satu temuan penelitian dari Clinard dan Abbot tentang hubungan antara lingkungan permukiman kumuh dan tingginya angka kejahatan, tidak berlaku untuk kondisi lingkungan permukiman kumuh di Indonesia.

ABSTRACT
The study on the relation between man and the living environment, especially the relation between man-made environment and human behavior constitutes an interesting study.
Some previously conducted research has concluded among other things that there is a strong influence, whether positive or negative, of the physical and man-made environment on human behavior (Clinnard, 1973; Altman, 1975; Rapoport, 1982 and Bell, 1984).
The Study of the relationship between the man-made environment and human behavior, focusses on slum areas in Central. Jakarta. The three lcelurahan were selected through purposive location sample selection; they are the Kelurahan Duri Pula, Kelurahan Surnur Batu and Kelurahan Kampung Rawa, which have provided a specific picture of the relationship between the slum environment and human behavior.
The choice of Central Jakarta as the purposive sample of the research was based on the following arguments: first, Central Jakarta is the largest centre of activities among the five areas; second, it is unique in its crime rate, i.e. the crime rate is significantly high in comparison with the other areas; and third, it has a quite large slum area.
The type of this research is descriptive, and the researcher has made use
of the statistic nonparametric.
The population of the research consists of the family heads (KK) living in three-selected kelurahan. The samples of respondents from three kelurahan were drawn through the disproportional stratified random sample method, based on two main indicators, i.e. the population density per square kilometer and the crime frequency.
The problem posed in this research is as follows:
1. To what extent is the influence of the slum area on the individual inhabitant.
2. To what extent is the influence of the slum area on the development of deviant behavior.
Starting from the two problems posed above, the hypothesis that this research will try to prove is:
1. The worse the physical condition of the slum area, the more indifferent the member of community feels towards the environment.
2. The slum environment has a strong influence on the development of deviant behavior.
The fields study executed through the survey method and in-depth interviews, has resulted in the following findings:
The concern of slum inhabitants measured by and indicator of the intensity of relationships between fellow inhabitants shows that the better the environment, the higher the concern of the inhabitants is The variable of degrees of intensity divided into three categories, namely: non intimate, less intimate and very intimate is correlated with the variable of the condition of the living area and has resulted in the Kendall coefficient correlation rb = 0.21. The test of correlation has used the Z normal distribution. This shows that Z hit. = 3.81 on the level of significance α= 0.05, while Z tab. = 1.67. Thus it can be stated that hypothesis 1 is acceptable.
From this is clear that the condition of the slum area is not always identical with discordant living conditions and is event not identical with the location of deviant behavior emergence. The data of the three locations of research obtained through in-depth interviews shows that relatively good location have relatively the highest crime figures.
Meanwhile the field data obtained through the questionnaire show that only one-third of the respondent have been exposed to crime. Fights and thefts are incidents that occur in slums. Even though crime and deviant behavior are traits of slums areas, the results of the research tentatively show that slum areas do not influence the occurrence of deviant behavior, Thus, Clinard and Abbot's theory that there is correlation between the existence of the slum areas and the height crime rate is not valid for the condition of the slum areas in Indonesia.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mulyatno Kurim
1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Muhammad Ilham Akbar
"Skripsi ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni di Kelurahan Mekarsari Kecamatan Cimanggis oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok dengan menggunakan konsep implementasi kebijakan publik dari George C. Edwards III (1980). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah post positivist sehingga penelitian akan disusun dengan data, bukti, dan pertimbangan ilmiah yang mempunyai dasar teori dan bersifat logis. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik pengumpulan kualitatif melalui wawancara mendalam dan studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi rehabilitasi rumah tidak layak huni di Kelurahan Mekarsari Kecamatan Cimanggis oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok berdasarkan empat faktor yang mempengaruhi implementasi program menurut George Edwards III belum diterapkan dengan baik oleh para pelaksana. Terdapat permasalahan pada indikator kejelasan komunikasi dan tidak adanya SOP pada pelaksanaan program rehabilitasi rumah tidak layak huni. Saran yang dapat diberikan mengenai proses implementasi program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni di Kelurahan Mekarsari Kecamatan Cimanggis oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok adalah dengan memperbaiki beberapa kekurangan terkait dengan proses transmisi dalam mengkomunikasikan isi pesan kebijakan dan penerapan SOP pada pelaksanaan program rehabilitasi rumah tidak layak huni agar menciptakan keseragaman cara kerja antar pelaksana program.

This thesis discusses about the factors that affecting the implementation of the rehabilitation program for Uninhabitable Houses in Mekarsari Sub-District, Cimanggis District by the Depok City Housing and Settlements Department by using the concept of implementing public policies from George C. Edwards III (1980). The approach used in this research is post positivist so that the research will be arranged with data, evidence, and scientific considerations that have a theoretical basis and are logical. The data used in this study were obtained by qualitative collection techniques through in-depth interviews and library research. The results showed that the implementation of rehabilitation of uninhabitable houses in Mekarsari Subdistrict Cimanggis District by the Department of Housing and Settlements of the City of Depok based on four factors that influenced the implementation of the program according to George Edwards III had not been implemented well by the implementers. There are problems with communication clarity indicators and the absence of Standard Operating Procedures (SOP) on the implementation of an uninhabitable housing rehabilitation program. Suggestions that can be given regarding the implementation process of the Uninhabitable Housing Rehabilitation Program in the Mekarsari Sub-District Cimanggis District by the Depok City Housing and Settlements Department is to correct some of the deficiencies associated with the transmission process in communicating the contents of the policy message and the application of Standard Operating Procedures (SOP) in the implementation of the uninhabitable housing rehabilitation program in order to create a uniformity way of working between program implementers.

"
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dywangga Auliannisa
"Perkembangan kota yang tanpa arah menyebabkan Kota Bandung memiliki masalah dalam perkembangan permukiman, khususnya permukiman kumuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai pola persebaran permukiman kumuh di Kota Bandung. Identifikasi permukiman kumuh dilakukan dengan menggunakan citra satelit QuickBird 2007 dengan digitasi on-screen secara manual, serta didukung oleh pengecekan survey lapang dengan memperhatikan variabel kerapatan bangunan, tata letak dan ukuran atap rumah. Sedangkan variabel lainnya seperti kondisi bangunan, kondisi prasarana lingkungan dan kepadatan penduduk diperoleh melalui survey lapang dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan meliputi teknik analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran permukiman kumuh dan buffer analisis untuk mengetahui jarak permukiman kumuh terhadap sungai. Pola persebaran permukiman kumuh di Kota Bandung sebagian besar membentuk pola acak dan cenderung mendekati daerahdaerah pusat kegiatan seperti perkantoran, industri, perdagangan dan jasa. Pola mengelompok terdapat di Wilayah Pengembangan Bojonegara, pola acak terdapat di Wilayah Pengembangan Cibeunying, Gedebage dan Karees, pola tersebar terdapat di Wilayah Pengembangan Tegallega dan Ujung Berung.

Disorganized city development in Bandung City has caused problems in the development of settlements, particularly slums settlements. This research focuses on pattern of distribution of slums settlement using spatial analysis which is includes the nearest neighbor and buffering analysis. In this research, an attempt has been made to identify and mapping of slums using QuickBird satellite imagery in 2007 and ground verification in assessing of slum environment. The slums were identified on the basis of visual interpretation and were captured manually using on-screen digitization method. For this purpose, interpretation variable like building density, layout, and roof size were used in detection process using QuickBird. While the other variable such as building condition, infrastructure, environmental conditions and population density were obtained from field survey and secondary data. This research indicates that pattern of distribution of slums settlement in Bandung city were mostly distributed as a random pattern and close to offices, industrial and also trade and services areas. Cluster pattern was found in region of Bojonegara, random pattern were found in development region of Cibeunying, Karees, and Gedebage, while scattern pattern were found in development region of Tegallega and Ujung Berung."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S34104
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>