Ditemukan 180898 dokumen yang sesuai dengan query
Yunita Devianti
"HIV salah satu penyebab utama menurunnya system kekebalan tubuh yang lama kelamaan akan mengarah pada stadium AIDS.Sistem kekebalan tubuh sangat di perlukan untuk mempertahankan diri terhadap mikroorganisme.pada ODHA sering terjadi cemas yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien HIV. Bahkan beberapa masalah yang di hadapi oleh pasien HIV yaitu tingkat kecemasan, masalah finansial, frustasi, merasa bersalah, depresi, bahkan sampai dengan merasa ketakutan untuk menghadapi kematian. Dalam mengatasi kecemasan dapat mengunakan terapi alternative berupa yaga hatha sebagai intervensi dalam menurunkan tingkat kecemasan pada ODHA. Sampel pada penelitian ini berjumlah 22 responden. Metode penelitian ini adalah pendekatan kuntitatif dengan desain “quasy eksperiment”.Tehnik pengambilan sampel dengan cara convenience Sampling sebanyak 22.intervensi yoha hatha memeliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat kecemasan seperti usia (p=0.217), jenis kelamin (p =0.828) pekerjaan (p=0.814). Pendidikan (p=0.797). kesimpulan dalam penelitian ini adalah aadaanya hubungan antara yoga hatha dengan tingkat kecemasan pada ODHA
HIV is one of the main causes of the decline in the immune system which will eventually lead to the AIDS stage. The immune system is needed to defend itself against microorganisms. In PLWHA, anxiety often occurs which can affect the quality of life of HIV patients. Even some of the problems faced by HIV patients are the level of anxiety, financial problems, frustration, guilt, depression, even to the point of feeling afraid to face death. In overcoming anxiety can use alternative therapy in the form of yaga hatha as an intervention in reducing anxiety levels in PLWHA. The sample in this study amounted to 22 respondents. This research method is a quantitative approach with a "quasy experiment" design. The sampling technique is by convenience sampling as many as 22. Yoha hatha's intervention has a significant relationship to anxiety levels such as age (p = 0.217), gender (p = 0.828) occupation ( p=0.814). Education (p=0.797). The conclusion in this study is that there is a relationship between hatha yoga and anxiety levels in people living with HIV."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Winny
"Tesis ini disusun untuk mengetahui efektivitas latihan back exercise dan yoga terhadap intensitas nyeri, meningkatkan kekuatan otot trunk dan disabilitas fungsional. Penelitian menggunakan desain uji eksperimental Randomized Control Trial. Subjek penelitian merupakan pasien overweight dan obesitas derajat I dengan nyeri punggung bawah mekanik kronik, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok back exercise dan yoga. Semua subjek dari kedua kelompok mendapatkan latihan standar berupa latihan aerobik dengan ergocycle sesuai dengan prosedur di Poliklinik Obesitas Departemen Rehabilitasi Medik RSCM Jakarta yang dilakukan dua kali seminggu selama enam minggu. Sebagai tambahan, kelompok back exercise mendapatkan latihan senam punggung dan kelompok yoga mengikuti kelas yoga yang dilakukan 45 menit per sesi, dua kali seminggu, selama enam minggu. Hasil keluaran penelitian ini berupa skala nyeri (Visual Analogue Scale), kekuatan otot fleksor dan ekstensor trunk yang diukur menggunakan handheld dynamometer dan disabilitas fungsional (Oswestry Disability Index). Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan perubahan intensitas nyeri, kekuatan otot trunk, dan disabilitas fungsional sesudah intervensi pada kelompok perlakuan dan kontrol. Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan intensitas nyeri, kekuatan otot trunk, dan disabilitas fungsional setelah intervensi diberikan selama enam minggu. Median selisih total penurunan VAS pada kelompok back exercise dan yoga masing-masing sebesar 2 (1-3) dan tidak didapatkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,054. Rerata peningkatan kekuatan otot fleksor trunk pada kelompok back exercise dan yoga masing-masing sebesar 4.45±2.84 kg dan 5.91±2.20 kg dan tidak didapatkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,139. Rerata peningkatan kekuatan otot ekstensor trunk pada kelompok back exercise dan yoga masing-masing sebesar 7.56±3.73 kg dan 7.06±3.97 kg dan tidak didapatkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,520. Rerata perubahan skor ODI pada kelompok back exercise dan yoga masing-masing sebesar 4.64±4.11 dan 4.57±4.33 dan tidak didapatkan perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,965. Dapat disimpulkan bahwa back exercise dan yoga memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan nyeri, meningkatkan kekuatan otot trunk dan mengurangi disabilitas fungsional pasien overweight dan obesitas derajat I dengan nyeri punggung bawah mekanik kronik. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menilai efektivitas latihan back exercise dan yoga terhadap aktivitas otot trunk secara lebih spesifik menggunakan Surface Electromiography (sEMG) yang menggambarkan rekruitmen motor unit otot.
This thesis was aimed to determine the effectiveness of back exercise and yoga exercises on pain intensity, increase trunk muscle strength and functional disability. The study used an experimental randomized control trial design. The subjects were overweight and obese patients with chronic mechanical low back pain, which were divided into 2 groups: back exercise and yoga. All subjects from the two groups received standard training in the form of aerobic exercise with ergocycle in accordance with the procedures at the Obesity Polyclinic of the Department of Medical Rehabilitation at the RSCM Hospital, which was conducted 2x / week for 6 weeks. In addition, the back exercise group received back exercises and the yoga group attended a yoga class conducted 45 minutes / session, 2x / week, for 6 weeks. Statistical analysis was performed to compare changes in pain intensity (Visual Analogue Scale), trunk muscle strength (using handheld dynamometer), and functional disability (Oswestry Disability Index) after the intervention in the treatment and control groups. The results of the study stated that there were no differences in pain intensity, trunk muscle strength, and functional disability after the intervention was given for 6 weeks. The median difference in total VAS reduction in the back exercise and yoga groups was 2 (1-3) respectively and no significant difference was found with a value of p = 0.054. The mean increase in flexor trunk muscle strength in the back exercise and yoga groups was 4.45 ± 2.84 kg and 5.91 ± 2.20 kg, respectively, and no significant difference was found with a value of p = 0.139. The mean increase in extensor trunk muscle strength in the back exercise and yoga groups was 7.56 ± 3.73 kg and 7.06 ± 3.97 kg and no significant difference was found with the p value = 0.520. The mean changes in ODI scores in the back exercise and yoga groups were 4.64 ± 4.11 and 4.57 ± 4.33, respectively, and there were no significant differences with p = 0.965. It can be concluded that back exercise and yoga have the same effectiveness in reducing pain, increasing trunk muscle strength and reducing functional disability of overweight and obese patients with degree I with chronic mechanical low back pain. Further research is needed to assess the effectiveness of back exercise and yoga exercises on trunk muscle activity more specifically using Surface Electromiography (sEMG) which illustrates the recruitment of motor muscle units."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Firasti Wahyu Saputri
"Risiko perilaku kekerasan merupakan kondisi dimana individu berpotensi untuk melakukan tindakan kekerasan baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Salah satu teknik relaksasi untuk menurunkan risiko perilaku kekerasan adalah yoga pranayama. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan yoga pranayama secara rutin terhadap penurunan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan pada Ny. YA (28 tahun). Karya ilmiah ini menggunakan metode case report. Instrumen yang digunakan adalah instrumen penilaian tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan serta kemampuan mengontrol perilaku kekerasan yang dikembangkan oleh mahasiswa residen spesialis jiwa FIK UI 2023. Proses pemberian asuhan keperawatan generalis dilakukan sebanyak 12 pertemuan yaitu tanggal 12 September hingga 24 September 2024 dimana 10 pertemuan juga difokuskan pada pemberian intervensi yoga pranayama di Ruang Srikandi Rumah Sakit Jiwa Dr H. Marzoeki Mahdi (RSJMM) Bogor. Hasil yang didapatkan dari intervensi ini yaitu adanya penurunan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan dari skor 24 menjadi 2 dan peningkatan kemampuan mengontrol risiko perilaku kekerasan dari skor 2 menjadi 6. Intervensi ini terbukti efektif untuk menurunkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan dan meningkatkan kemampuan dalam mengontrol risiko perilaku kekerasan. Penerapan yoga pranayama diharapkan dapat membantu klien dalam mengendalikan emosinya.
The risk of violent behavior is a condition where individuals have the potential to commit acts of violence, either toward themselves or others. One relaxation technique to reduce the risk of violent behavior is pranayama yoga. This scientific paper aims to describe the regular application of yoga pranayama in reducing the signs and symptoms of violent behavior risk in Mrs. YA (28 years old). This scientific paper uses the case report method. The instruments used are assessment tools for the signs and symptoms of violent behavior risk and the ability to control violent behavior, which were developed by resident students of the psychiatric specialty at FIK UI in 2023. The process of providing generalist nursing care was carried out over 12 sessions from September 12 to September 24, 2024, with 10 sessions also focused on providing yoga pranayama interventions in the Srikandi Ward of Dr. H. Marzoeki Mahdi Mental Hospital (RSJMM) Bogor. The results obtained from this intervention showed a decrease in the signs and symptoms of violent behavior risk from a score of 24 to 2, and an improvement in the ability to control violent behavior risk from a score of 2 to 6. This intervention proved to be effective in reducing the signs and symptoms of violent behavior risk and enhancing the ability to control violent behavior risk. The application of yoga pranayama is expected to help clients in managing their emotions. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Sembiring, Sada Ulina
"Pendahuluan: kemoterapi menyebabkan efek samping kelelahan pada pasien kanker. Tujuan: penelitian ini adalah menganalisis perbandingan aktivitas fisik yoga dan aerobik terhadap kelelahan anak usia sekolah yang menjalani kemoterapi. Metode: jenis penelitian ini menggunakan desain quasi experimental jenis nonequivalent control group pretest-posttest design. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. Pengambilan data menggunakan instrumen Fatigue Onkologi Anak_Allen (FOA-A). Sampel berjumlah 36 anak usia sekolah yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 18 intervensi yoga dan 18 intervensi aerobik. Setiap intervensi dilakukan 2 kali seminggu selama 4 minggu. Hasil: penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna skor kelelahan setelah intervensi yoga (p value= 0,0005) dan aerobik (p value= 0,0005). Analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna rerata selisih penurunan skor kelelahan setelah intervensi yoga dan aerobik (p value= 0,072). Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, jenis kanker, obat kemoterapi, dan stadium kanker dengan kelelahan setelah yoga maupun aerobik. Simpulan: yoga dan aerobik sama efektifnya dalam mengurangi skor kelelahan. Rekomendasi: anak dapat memilih salah satu intervensi tersebut untuk mengatasi kelelahan.
Introduction: chemotherapy causes side effects of fatigue in cancer patients. Objective: This study is to analyze the comparison of yoga and aerobic physical activity on fatigue in school-aged children undergoing chemotherapy. Method: This type of research uses a quasi-experimental nonequivalent control group pretest-posttest design. The sampling technique used nonprobability sampling, consecutive sampling. Data collection used the Child Oncology Fatigue Allen (FOA-A) instrument. The sample consisted of 36 school age children who were divided into two groups, namely 18 yoga interventions and 18 aerobic interventions. Each intervention was carried out 2 times a week for 4 weeks. Results: This study shows that there is a significant difference in fatigue scores after yoga (p value= 0.0005) and aerobics (p value= 0.0005) interventions. The analysis showed that there was no significant difference in the mean difference in fatigue score reduction after yoga and aerobics intervention (p value = 0.072). There was no relationship between gender, type of cancer, chemotherapy drugs, and stage of cancer with fatigue after yoga or aerobics. Conclusion: yoga and aerobics are equally effective in reducing fatigue scores. Recommendation: children can choose one of these interventions to overcome fatigue."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
McCall, Timothy
Canada: Bantam Books, 2007
613.7 MCC y
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Mia Estika Kurniawaty
"Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan otak dan saraf yang dintandai dengan kesulitan dalam komunikasi sosial dan adanya minat terbatas serta perilaku berulang. Selain itu, gangguan yang juga umum dialami pada anak ASD yaitu adalah gangguan tidur dengan prevalensi 50-80%. Penyebab pasti dari gangguan tidur pada anak ASD belum diketahui secara jelas, namun banyak yang mengaitkan gangguan ini dengan pemrosesan sensorik pada anak. Gangguan tidur dapat berdampak pada orang tua dan kualitas tidur anak. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tidur pada anak ASD yaitu dengan menggunakan aktivitas Yoga. Teknik Yoga yang digunakan yaitu pose Asana pemanasan, penguatan, relaksasi, teknik pernapasan serta sun salutation yang dilakukan selama 45 menit dan dengan total 12 sesi pertemuan. Dengan menggunakan desain penelitian pre-experimental dengan metode one group pre-test post-test design dan dengan menggunakan instrumen Children’s Sleep Habit Questionnaire (CSHQ) serta Profil Sensori Singkat. Dari hasil uji t berpasangan, didapatkan hasil pada penelitian ini bahwa Yoga memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengatasi gangguan tidur pada anak ASD dengan p-value <0,001. Namun tidak ditemukan hubungan yang berarti antara usia, jenis kelamin dan profil sensorik terhadap kualitas tidur anak ASD dalam penelitian ini.
Autism Spectrum Disorder (ASD) is a brain and neurodevelopmental disorder characterized by difficulties in social communication and limited interests and repetitive behaviours. In addition, sleep disorders are also common in ASD children with a prevalence of 50-80%. The exact cause of sleep disturbance in ASD children is not yet clear, but many attribute this disorder to sensory processing in children. Sleep disturbances can have an impact on parents and the quality of the child's sleep. One way to improve sleep quality in ASD children is by using Yoga activities. The Yoga techniques used are warm-up Asana poses, strengthening, relaxation, breathing techniques and sun salutation which are done for 45 minutes and a total of 12 meeting sessions. By using a pre-experimental research design with the one group pre-test post-test design method and using the Children's Sleep Habit Questionnaire (CSHQ) and Short Sensory Profile as the instrument. From the results of the paired t test, it was found that Yoga has a significant effect in overcoming sleep disorders in ASD children with a p-value <0.001. However, there was no significant relationship between age, gender and sensory profile on the sleep quality of ASD children in this study."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Jamieson, Theresa
Australia: Sterling Publishing Co., Inc., 2000
613.704 6 JAM c
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
McGilvery, Carole
"This is a comprehensive, practical guide to achieving mental and physical well-being, relieving stress and discovering new vitality using natural, therapuetic techniques."
New York: Hermes House, 1998
615.851 MCG e
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
B.S. Buanadjaya
Solo: [Publisher not identified], 1993
613.7 SID h
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Aat Djanatunisah
"Penyakit Covid-19 atau SARS CoV-2 menyebabkan kejadian darurat kesehatan secara global. Gejala yang sering ditemukan kepada pasien Covid-19 diantaranya hipoksemia, dimana pada pasien tidak mengalami sesak dan bisa beraktivitas seperti biasa. Salah satu penanganan non farmakologi adalah dengan pengaturan posisi pasien. Adapun posisi yang dapat direkomendasikan adalah posisi tripod. Posisi ini dapat meningkatkan aktifitas otot-otot utama pernapasan yang dapat memperbesar volume rongga dada sehingga paru dapat mengembang maksimal untuk meningkatkan proses difusi dan perfusi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas posisi tripod dalam meningkatkan saturasi oksigen pada pasien Covid-19. Design penelitian ini menggunakan one group pre and post test design untuk melihat efektifitas satu perlakuan suatu tindakan, dengan responden sebanyak 67 dengan menggunakan lembar observasi.
Hasil penelitian menunjukkan pada analisa bivariat didapatkan perbedaan nilai saturasi oksigen yang signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan tindakan posisi tripod (p 0,000; ɑ 0,05). Analisa multivariat menunjukkan bahwa menunjukkan kemungkinan terjadinya saturasi oksigen normal pada terapi oksigen dengan menggunakan nasal kanul sebesar 25,16 kali lebih besar dibandingkan terapi oksigen menggunakan NRM setelah dikontrol dengan usia. Posisi tripod merupakan salah satu alternatif terapi non farmakologi untuk meningkatkan saturasi oksigen pada pasien Covid-19 yang mengalami desaturasi atau hipoksemia
Covid-19 disease or SARS CoV-2 causes a global health emergency. Symptoms that are often found in Covid-19 patients include hypoxemia, where the patient does not experience tightness and can carry out activities as usual. One of the non-pharmacological treatments is by adjusting the patient's position. The position that can be recommended is the tripod position. This position can increase the activity of the main muscles of breathing which can increase the volume of the chest cavity so that the lungs can expand optimally to improve the process of diffusion and perfusion. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the tripod position in increasing oxygen saturation in Covid-19 patients. The design of this study used one group pre and post test design to see the effectiveness of one treatment of an action, with 67 respondents using observation sheets. The results showed that in the bivariate analysis, a significant difference in oxygen saturation values was obtained between before and after the tripod position action (p 0.000; ɑ 0.05). Multivariate analysis showed that the probability of normal oxygen saturation in oxygen therapy using nasal cannula was 25.16 times greater than oxygen therapy using NRM after being controlled with age. The tripod position is an alternative to non-pharmacological therapy to increase oxygen saturation in Covid-19 patients who experience desaturation or hypoxemia"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
T-Pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library