Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 85649 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anugrah Kesuma
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menilai faktor-faktor risiko dan menyusun strategi mitigasi rantai pasokan material distribusi utama di PLN. Identifikasi faktor risiko didasarkan pada tinjauan literatur yang komprehensif di berbagai sektor industri, yang selanjutnya divalidasi oleh ahli. 27 faktor risiko telah diidentifikasi dengan empat sub-kategori risiko yaitu risiko pasokan, risiko operasi, risiko permintaan, risiko man-made dan risiko alam. Penelitian ini menggunakan metodologi Decision Matrix Risk Assessment (DMRA) yang melibatkan evaluasi risiko berdasarkan kemungkinan dan dampaknya dikombinasikan dengan Average Risk Scale untuk mengakomodir jumalah responden sebanyak 66. Hasil analisis menunjukkan terdapat 15 faktor risiko yang berada pada zona risiko tinggi antara lain keterbatasan bahan baku, keterbatasan kapasitas pemasok, dan ketergantungan pemasok yang dapat dimitigasi dengan diversifikasi pemasok, serta risiko keterlambatan pengiriman dengan mitigasi pengalokasian unit penerima dipasok oleh pabrikan terdekat. Terdapat total 33 mitigasi risiko yang telah divalidasi para ahli.  

The aim of this research is to identify, assess risk factors and develop mitigation strategies for the primary distribution material supply chain at PLN. Identification of risk factors is based on a comprehensive literature review in various industrial sectors, which is further validated by experts. 27 risk factors have been identified with four sub-categories of risk, namely supply risk, operational risk, demand risk, man-made risk and natural risk. This research uses the Decision Matrix Risk Assessment (DMRA) methodology, which involves risk evaluation based on probability and impact combined with an Average Risk Scale (ARS) to accommodate a number of respondents of 66. The results of the analysis show that there are 15 risk factors that are in the high risk zone, including limited raw materials, limited supplier capacity, and supplier dependency which can be mitigated by diversifying suppliers, as well as the risk of delivery delays by mitigating the allocation of receiving units supplied by nearby manufacturers. There are a total of 33 risk mitigations that have been validated by experts."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indira Raeesha Aurelia
"Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok di Gudang PCB PT XYZ, sebuah perusahaan manufaktur elektronik. Dengan menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan Analytical Hierarchy Process (AHP), penelitian ini mengukur dan menganalisis kinerja gudang berdasarkan 26 indikator kinerja yang telah divalidasi oleh para ahli perusahaan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai performa gudang pada tahun 2023 adalah 59,01%, yang termasuk dalam kategori average (50-70%) menurut Traffic Light System. Proses dispatch dan periode waktu bulan Juli tercatat sebagai performa terendah. Berdasarkan Importance Performance Analysis, terdapat lima indikator yang masih memerlukan perbaikan, termasuk Accuracy of product delivery according to item, Unfinished Outgoing Process Rate, dan Accuracy of product delivery according to quantity. Usulan perbaikan meliputi integrasi Sistem Active Tracking dan Computerized Maintenance Management System (CMMS) berbasis RFID untuk mengatasi permasalahan terkait akurasi pengiriman, pemeliharaan peralatan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam meningkatkan kinerja operasional dan daya saing PT XYZ di industri elektronik.

This research was conducted to evaluate and improve supply chain efficiency in the PCB warehouse of PT XYZ, an electronics manufacturing company. Using the Supply Chain Operations Reference (SCOR) model and Analytical Hierarchy Process (AHP), this research measures and analyzes warehouse performance based on 26 performance indicators that have been validated by company experts. The evaluation results show that the warehouse performance value in 2023 is 59.01%, which falls into the average category (50-70%) according to the Traffic Light System. The dispatch process and the July time period recorded the lowest performance. Based on Importance Performance Analysis, there are five indicators that still require improvement, including Accuracy of product delivery according to item, Unfinished Outgoing Process Rate, and Accuracy of product delivery according to quantity. Proposed improvements include the integration of Active Tracking System and RFID-based Computerized Maintenance Management System (CMMS) to address issues related to delivery accuracy, equipment maintenance, and operational efficiency. This research provides a practical contribution in improving the operational performance and competitiveness of PT XYZ in the electronics industry."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fadhlun Adzim
"Pemrosesan ulang kembali sebuah produk adalah hal yang biasa dilakukan didalam industri proses. Hal tersebut merupakan enabler untuk reverse supply chain di industri proses. Namun penelitian mengenai reverse supply chain di industri proses masih terbatas. Penelitian sebelumnya mengelola risiko reverse supply chain di industri proses secara terpisah yang dapat menyebabkan munculnya permasalahan baru.
Penelitian ini mengintegrasikan semua risiko sehingga proses manajemen risiko dilakukan secara menyeluruh. Untuk mengembangkannya, dibutuhkan daftar risiko dari aktivitas reverse supply chain secara menyeluruh di industri proses, dibutuhkan juga kriteria untuk risiko tersebut. Data yang didapat diolah dengan menggunakan AHP (Analytic Hierarchy Process) - PROMETHEE (Preference Ranking Organization Method for Enrichment Evaluation) berdasarkan preferensi dari ahli.
Telah dikumpulkan 8 kriteria dari penelitian sebelumnya, dengan bobot berdasarkan penilaian ahli sebagai berikut: biaya atau investasi tambahan (0.064), pengelolaan volume barang atau produk (0.040), kerugian karena gangguan (0.047), kecepatan recovery bisnis jika terjadi gangguan (0.111), keunggulan daya saing (0.088), lingkungan (0.241), tanggung jawab sosial (0.097), hukum dan undang-undang (0.312). Selanjutnya, penelitian ini melakukan prioritasisasi risiko dengan pendapat ahli dengan menggunakan PROMETHEE.
Penelitian menemukan urutan risiko dari yang paling tinggi ke rendah dimulai dari risiko regulasi, risiko lingkungan, risiko reputasi dan branding, risiko kualitas dan stabilitas, risiko pemindahan dan penanganan, risiko teknis, risiko informasi, risiko penjadwalan dan kapasitas, risiko kuantitas, risiko persediaan dan risiko perlawanan. Dari hasil analisis sensitivitas didapat bahwa 3 kriteria yang paling mempengaruhi hasil akhir PROMETHEE adalah kriteria biaya atau investasi tambahan, kriteria hukum dan undang-undang dan kriteria keunggulan daya saing.

Reprocessing a product is a common practice in the process industry. This is an enabler for the reverse supply chain in the process industry. But research on the reverse supply chain in the process industry is still limited. Previous research managed the risk of reverse supply chain in the process industry separately which could lead to new problems.
This research integrates all risks so that the risk management process is carried out thoroughly. To develop it, it requires a list of risks from the overall reverse supply chain activities in the process industry, and also the criteria for these risks. The data obtained is processed using AHP (Analytic Hierarchy Process) - PROMETHEE (Preference Ranking of Organization Method for Enrichment Evaluation) based on expert preferences.
8 criteria have been collected from previous studies, with weights based on expert judgment as follows: investment cost (0.064), volume management (0.040), business interruption value (0.047), business recovery time after interruption (0.111), competitive advantage (0.088), environment (0.241), social responsibility (0.097), legislation (0.312). Furthermore, this study prioritizes risk with expert opinion using PROMETHEE.
The research found the order of risk from the highest to the lowest starting from regulatory risk, environmental risk, reputation and branding risk, quality and stability risk, transfer and handling risk, technical risk, information risk, scheduling and capacity risk, quantity risk, inventory risk and risk of resistance. From the results of the sensitivity analysis, it was found that the 3 criteria that most affected the final results of PROMETHEE were the criteria for additional costs or investments, legal and legal criteria and criteria for competitive advantage.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T53485
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadel Mahaputra Santoso
"Gudang memiliki peran penghubung yang penting dalam rantai pasokan dan dapat memperkaya keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Agar selalu dapat memberikan pelayanan yang terbaik maka perlu diketahui kondisi gudang saat ini melalui penilaian kinerja dan perbaikan pada aspek-aspek yang mempunyai nilai rendah. Penelitian ini untuk mengukur kinerja dan memberikan rekomendasi gudang Work-in-Process dari perusahaan manufaktur elektronik pada tahun 2023 dengan menggunakan metode SCOR dan AHP. Terdapat 26 indikator kinerja yang akan dijadikan acuan untuk menentukan kinerja gudang. Hasil yang diperoleh adalah kinerja gudang berada pada kategori Sedang menurut Traffic Light System dengan nilai sebesar 58,16%. Indikator prioritas juga diidentifikasi menggunakan metode Importance Performance Analysis untuk mengidentifikasi indikator yang mempunyai nilai rendah namun mempunyai bobot kepentingan tinggi. Diperoleh 5 indikator yang merupakan prioritas yaitu Total Order Lead Time, Supplier Product Defect Rate, Raw Material Usage Accuracy, MTTR from Disruption, and Rate of Return. Rekomendasi yang diberikan untuk meningkatkan kelima indikator kinerja tersebut adalah Computer-aided Visual for Inspection, Vehicle Routing Problem, Digital Twin for Resilience, dan Just In Time (JIT) System in Warehousing Process.

The warehouse has an important linking role in the supply chain and can enrich the competitive advantage for the company. In order to always be able to provide the best service, it is necessary to know the current condition of the warehouse through performance assessment and improvement on aspects that have low scores. This research is to measure the performance and provide recommendations for the Work-in-Process warehouse of an electronics manufacturing company in 2023 using the SCOR and AHP methods. There are 26 performance indicators that will be used as a reference to determine warehouse performance. The results obtained are that the warehouse performance is in the Average category according to the Traffic Light System with a value of 58.16%. Priority indicators are also identified using the Importance Performance Analysis method to identify indicators that have low scores but have high importance weights. Five prioritized indicators were obtained, namely Total Order Lead Time, Supplier Product Defect Rate, Raw Material Usage Accuracy, MTTR from Disruption, and Rate of Return. The recommendations given to improve the five performance indicators are Computer-aided Visual for Inspection, Vehicle Routing Problem, Digital Twin for Resilience, and Just In Time (JIT) System in Warehousing Process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Qanitah Salsabila
"Industri alat kesehatan di Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan dengan perkembangannya yang meningkat cepat. Pertumbuhan produsen dan distributor pada industri ini menunjukkan bahwa persaingan semakin kompetitif sehingga mendorong perusahaan di dalamnya untuk bekerja lebih efektif. PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan distributor alat kesehatan di Indonesia. Saat ini, terdapat beberapa risiko di dalam rantai pasok gudang sentral PT. XYZ. Oleh karena itu, diperlukan sebuah manajemen risiko rantai pasok menyeluruh dalam gudang sentral PT. XYZ sebagai tindak pencegahan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi agen risiko prioritas pada gudang sentral PT. XYZ serta menentukan rekomendasi mitigasi risiko prioritas untuk mengatasinya. Metode yang digunakan adalah House of Risk (HOR) yang terdiri dari dua fase. HOR fase 1 bertujuan untuk menentukan agen risiko prioritas dan HOR fase 2 untuk memilih aksi mitigasi prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 agen risiko prioritas pada gudang sentral PT. XYZ berdasarkan nilai aggregate risk potential (ARP) tertinggi dengan 9 aksi mitigasi prioritas berdasarkan nilai effectiveness to difficulty ratio (ETD) yang direkomendasikan agar diimplementasikan terlebih dahulu oleh perusahaan.

The medical device industry in Indonesia possesses promising potential with rapid development in recent years. The growth of manufacturers and distributors within this industry indicates increasing competition, meaning companies are demanded to operate more efficiently. PT. XYZ is one of the medical device distributors in Indonesia. Currently there are several risks associated with the supply chain of PT. XYZ’s central warehouse. Therefore, a comprehensive supply chain risk management within the central warehouse of PT. XYZ is needed as a preventive measure. This study aims to identify the priority risk agents in the central warehouse of PT. XYZ and determine the priority risk mitigation recommendations to address these risks. This study uses House of Risk method which consists of two phases. HOR phase 1 aims to identify the priority risk agents and HOR phase 2 focuses on selecting the priority mitigation actions. The results of the study show that there are 11 priority risk agents in PT. XYZ’s central warehouse based on the highest aggregate risk potential (ARP) values with 9 priority mitigation actions recommended based on the effectiveness to difficulty ratio (ETD) to be implemented by the company first."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Febriardrey Salsabila Hadi
"Penelitian ini dilakukan untuk mengukur kinerja rantai pasok perusahaan pelumas. Pengukuran kinerja rantai pasok perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi rantai pasok dari suatu perusahaan. Metode yang digunakan adalah Supply Chain Operations Reference (SCOR) sebagai kerangka pengukuran kinerja rantai pasok perusahaan. Perbaikan yang dilakukan pada penelitian ini berkaitan dengan permasalahan yang terjadi pada rangkaian rantai pasok. Tingkat kepentingan atribut kinerja diukur berdasar pembobotan dengan kuesioner perbandingan berpasangan oleh beberapa expert. Terdapat 27 indikator kinerja yang diukur dan terbagi ke dalam atribut model SCOR. Dari hasil pengukuran didapatkan kinerja rantai pasok perusahaan pada tahun 2023 sebesar 51,04% yang menunjukkan kinerja perusahaan berada pada kategori average menurut Traffic Light System. Setelah itu, setiap indikator dipetakan ke dalam kuadran Importance Performance Analysis (IPA) untuk mendapatkan indikator yang memiliki Performance belum baik dan memiliki Importance cukup besar untuk diperbaiki atau ditingkatkan. Dengan menggunakan kuadran IPA didapatkan 6 indikator pada rantai pasok perusahaan yang kinerjanya perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, strategi perbaikan dirumuskan yang berupa pengintegrasian Supply Chain Management dengan Internet-of-Things untuk dapat meningkatkan kinerja rantai pasok keseluruhan.

This research aims to measure the supply chain performance of a lubricant manufacturing company. The measurement is crucial to understand the company's supply chain condition. The method used is the Supply Chain Operations Reference (SCOR) model as a framework for measuring supply chain performance. The study addresses issues in the supply chain by prioritizing performance attributes, weighted through pairwise comparison questionnaires filled out by experts. The study measures 27 performance indicators divided into SCOR model attributes. Results indicate the company’s supply chain performance in 2023 is 51.04%, categorizing it as average according to the Traffic Light System. Indicators are mapped into the Importance Performance Analysis (IPA) quadrant, identifying six indicators requiring improvement. A strategy integrating Supply Chain Management with the Internet of Things (IoT) is proposed to enhance overall supply chain performance."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rico Verlando
"Food loss telah menjadi isu terkini yang menjadi tantangan bagi berbagai sektor industri di Indonesia, khususnya industri udang ekspor di Provinsi Lampung dimana pada proses rantai pasoknya memerlukan penanganan khusus dikarenakan temperatur yang harus selalu dijaga agar kualitas udang tidak berubah. Pemerintah yang menyadari isu ini kemudian mengutarakan keinginan untuk membentuk Perpres yang di dalamnya berisi regulasi terhadap penanganan limbah makanan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan alternatif kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengurangi tingkat food loss yang terjadi pada rantai pasok ekspor udang di Provinsi Lampung. Melalui pendekatan sistem dinamis, penulis mengkonstruksi model untuk menguji tiga alternatif strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan Good Manufacturing Practices merupakan kebijakan yang dapat memberikan dampak terbesar dalam mengurangi food loss serta memberikan peningkatan keuntungan dengan konsistensi yang tinggi. Pada alternatif strategi ini, tingkat food loss pada keseluruhan rantai pasok berkurang sebesar 38,8% yang apabila dikonversi, menghasilkan penurunan tingkat food loss sebesar 186.154,64 ton.

Food loss has become the latest issue which is a challenge for various industrial sectors in Indonesia, especially the export shrimp industry in Lampung Province where the supply chain process requires special handling because the temperature must always be maintained so that the quality of the shrimp can be maintained. The government who was aware of this issue then expressed a desire to form a Presidential Regulation which contained regulations for tackling food loss issue in Indonesia. The purpose of this study is to find alternative policies that can be applied to reduce the level of food loss that occurs in the shrimp export supply chain in Lampung Province. Through a dynamic system approach, the authors construct a model to test three alternative strategies. The results showed that the Good Manufacturing Practices policy is a policy that can provide the greatest impact in reducing food loss and provide increased profits with high consistency. In this alternative strategy, the level of food loss in the entire supply chain is reduced by 38.8% which, if converted, results in a reduction in the level of food loss of 186,154.64 tons."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nathaniel Dave Angginta Lumban Batu
"Sejalan dengan evolusi pada industri elektronik dan transportasi, penting bagi perusahaan untuk terus memperbaiki kinerjanya guna mempertahankan daya saing. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja rantai pasok dari perusahaan industri perakitan barang dan merancang strategi perbaikan untuk meningkatkan performa, sehingga didapatkan hasil yang optimal dan daya saing perusahaan tetap terjaga. Metode yang digunakan adalah Supply Chain Operation Reference (SCOR), yang disesuaikan khusus untuk perusahaan sebagai kerangka kerja dalam pengukuran dan perancangan strategi rantai pasok. Indikator kinerja yang bermasalah dipilih berdasarkan pembobotan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Ada 27 indikator kinerja yang diukur dan dikategorikan berdasarkan atribut pengukuran model SCOR. Berdasarkan pengukuran performa tahun terakhir, diperoleh nilai 48.24%, yang menempatkan kinerja perusahaan dalam kategori marginal dengan indikasi warna jingga. Importance Performance Analysis (IPA) kemudian digunakan untuk mengidentifikasi indikator prioritas yang performanya kurang baik namun penting, sehingga strategi perbaikan dapat dirumuskan. Dari analisis tersebut, terpilih enam indikator sebagai prioritas dan dua indikator prioritas perbaikan yang telah divalidasi perusahaan. Strategi perbaikan yang dirancang berdasarkan tinjauan pustaka dan diskusi dengan perusahaan. Dua strategi ini direkomendasikan kepada perusahaan untuk diimplementasikan agar dapat memperbaiki kinerja rantai pasoknya.

In line with the evolution in the electronics and transportation industries, it is crucial for companies to continuously improve their performance to maintain competitiveness. This study aims to measure the supply chain performance of an assembly goods industry company and to design improvement strategies to enhance performance, thereby achieving optimal results and maintaining the company's competitiveness. The method used is the Supply Chain Operation Reference (SCOR), which is specifically tailored for the company as a framework for measuring and designing supply chain strategies. Performance indicators with issues were selected based on weighting using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. There are 27 performance indicators that were measured and categorized based on the attributes of the SCOR model. Based on the performance measurement of the last year, a score of 48.24% was obtained, placing the company's performance in the marginal category with an orange indication. Importance Performance Analysis (IPA) was then used to identify priority indicators whose performance is poor yet crucial, thus formulating improvement strategies. From this analysis, six indicators were selected as priorities and two as focal points for improvement, validated by the company. The improvement strategies were designed based on literature review and discussions with the company. These two strategies are recommended to the company for implementation to enhance its supply chain performance."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meralda Abida Rinaldy
"Penelitian ini membahas peningkatan ketahanan atau resiliensi rantai pasokan dalam industri pelumas, dengan fokus pada pengembangan dan implementasi langkah-langkah mitigasi gangguan strategis. Memastikan kinerja yang kuat terhadap gangguan adalah hal yang terpenting bagi perusahaan untuk menjaga kontinuitas bisnis dan meminimalkan kerugian selama masa krisis. Studi ini menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR), sebuah kerangka kerja yang komprehensif untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas rantai pasokan melalui metrik proses yang terstandardisasi dan Importance Performance Analysis (IPA) untuk memetakan indikator kerja yang dipriotitaskan untuk diperbaiki. Data penelitian diambil saat pandemi COVID-19 bertujuan untuk mengukur kerentanan dalam rantai pasokan pelumas dan mengusulkan usulan strategi yang tepat untuk meningkatkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi selama gangguan/disrupsi. Hasil dari penelitian ini didapatkan nilai kinerja rantai pasok perusahaan pada saat terjadinya disrupsi sebesar 49,37% dimana difokuskan pada masalah pemenuhan permintaan pelanggan tidak tepat waktu, kurang efisiensinya pengelolaan material dan mesin, serta kurang adaptif dalam menghadapi permintaan pasar yang fluktuatif. Usulan strategi perbaikan diantara lain dengan implementasi advanced manufacturing seperti Asset Management Software (AMS) dan Manufacturing Execution System (MES), memakai metode peramalan dengan model TISM-MICMAC dan Machine Learning, serta penggabungan seluruh proses rantai pasok di dalam satu portal yang terintegrasi.

This research addresses improving supply chain resilience in the lubricants industry, focusing on the development and implementation of strategic disruption mitigation measures. Ensuring robust performance against disruptions is paramount for companies to maintain business continuity and minimize losses during times of crisis. This study uses the Supply Chain Operations Reference (SCOR) model, a comprehensive framework for evaluating and improving supply chain effectiveness through standardized process metrics and Importance Performance Analysis (IPA) to map work indicators that are prioritized for improvement. The research data was collected during the COVID-19 pandemic to measure vulnerabilities in the lubricant supply chain and propose appropriate strategies to improve resilience and adaptability during disruptions. The results of this study obtained a value of the company's supply chain performance at the time of disruption of 49.37% which focused on the problem of fulfilling customer requests not on time, less efficient management of materials and machinery, and less adaptive in dealing with fluctuating market demand. Proposed improvement strategies include the implementation of advanced manufacturing such as Asset Management Software (AMS) and Manufacturing Execution System (MES), using forecasting methods with TISM-MICMAC and Machine Learning models, and combining all supply chain processes in one integrated portal."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abigail Naomi Ariela
"Perusahaan yang bergerak di industri pergudangan, sebagai salah satu industri dengan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia, perlu mempertahankan performanya agar tetap baik melalui pengukuran kinerja prosesnya, salah satunya proses rantai pasok. Maka dari itu, penelitian terkait pengukuran kinerja rantai pasok Perusahaan dilakukan menggunakan metode Supply Chain Operation Reference (SCOR), dibantu dengan metode MCDM Analytical Hierarchy Process (AHP), dan Importance-Performance Analysis (IPA) untuk mendapatkan indikator rantai pasok, kinerja rantai pasok Perusahaan, dan perancangan strategi untuk perbaikan. Data dikumpulkan melalui kuesioner pairwise comparison, interview dengan para expert, serta data historis Perusahaan sepanjang tahun 2023. Perancangan strategi difokuskan terhadap enam indikator yang menjadi prioritas, yaitu yang memiliki kepentingan tinggi, namun performanya masih rendah. Strategi yang bisa diterapkan perusahaan untuk memperbaiki kinerja rantai pasok yaitu menerapkan mekanisme real-time vehicle routing, menggunakan Autonomous Guided Vehicle (AGV), menerapkan metode Lean Manufacturing, mengadakan pelatihan karyawan, menerapkan konsep ABC Analysis, dan menerapkan Just-In-Time Logistics (JIT-L) Management

Companies engaged in the warehousing industry, as one of the industries with a significant contribution to the Indonesian economy, need to maintain their good performance through measuring the performance of their processes, one of which is the supply chain process. Therefore, research related to measuring the Company's supply chain performance was conducted using the Supply Chain Operation Reference (SCOR) method, assisted by the MCDM Analytical Hierarchy Process (AHP) method, and Importance-Performance Analysis (IPA) to obtain supply chain indicators, the Company's supply chain performance, and design strategies for improvement. Data was collected through pairwise comparison questionnaires, interviews with experts, and historical data of the Company throughout 2023. The strategy design focused on six prioritized indicators, which have high importance, but low performance. Strategies that can be applied by the company to improve supply chain performance are implementing real-time vehicle routing mechanisms, using Autonomous Guided Vehicles (AGV), applying Lean Manufacturing methods, conducting employee training, applying ABC Analysis concepts, and implementing Just-In-Time Logistics (JIT-L) Management."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>