Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 146869 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Purba, Maria Jheny Fulgensia
"Latar Belakang. Migren adalah tipe nyeri kepala tersering yang dapat menyebabkan disabilitas, sehingga berdampak pada kehidupan pribadi, pekerjaan serta kehidupan sosial pasien. Perbaikan pada gejala dan kualitas hidup tidak sepenuhnya berkorelasi, oleh karena itu diperlukan suatu instrumen khusus seperti kuesioner Migraine Disability Assessment (MIDAS). Kuesioner sudah digunakan secara luas di seluruh dunia yang dapat digunakan sebagai panduan untuk memulai terapi profilaksis dan atau mengevaluasi serta melanjutkan terapi migren namun belum ada yang mengadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner MIDAS ke dalam Bahasa Indonesia Metode. Dilakukan translasi dan adaptasi lintas budaya sesuai kaidah WHO, kemudian dilakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner MIDAS versi Bahasa Indonesia. Studi potong lintang dilakukan pada populasi pasien terdiagnosis migren minimal tiga bulan di Poliklinik Neurologi dan rawat inap RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo mulai Mei-Juni 2024. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan Pearson correlation dan uji reliabilitas internal dengan Cronbach’s Alpha serta reliabilitas eksternal dengan metode test-retest. Hasil. Mayoritas subjek adalah perempuan (90,3%), dengan rerata usia 34,85±10,35 tahun, dengan diagnosis terbanyak migren tanpa aura (54,8%). Median total skor MIDAS-Ina adalah 35,5 (0-258) dengan frekuensi nyeri kepala 20 hari dan intensitas nyeri tinggi (median NRS 7). Pada uji validitas kuesioner MIDAS-Ina semua pertanyaan memiliki r-hitung lebih besar dibandingkan r-tabel (0,25). Hasil uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha sebesar 0,778 dan metode test-retest dengan intraclass correlation coefficient (ICC) sebesar 0,656 (95% CI 0,980-0,996) hingga 0,991 (95% CI 0,980-0,996). Waktu yang diperlukan untuk melakukan pengisian kurang dari 10 menit. Kesimpulan. Kuesioner MIDAS versi Bahasa Indonesia adalah kuesioner yang valid dan reliabel untuk menilai disabilitas yang ditimbulkan akibat migren pada populasi di Indonesia.

Background. Migraines are the most common type of headache that can cause disability, thus impacting patients' personal lives, work, and social interactions. Improvement in symptoms and quality of life do not always correlate, making a specialized instrument like the Migraine Disability Assessment (MIDAS) questionnaire necessary. This questionnaire is widely used globally as a guide to initiate prophylactic therapy and/or evaluate and continue migraine therapy. So far, and to the best of our knowledge, no Indonesian version of this tool has been adapted. This study aims to test the validity and reliability of MIDAS questionnaire into Indonesian Language. Methods. Translation and cross-cultural adaptation were carried out according to WHO rules, then the Indonesia version of MIDAS questionnaire was tested for validity and reliability. A cross-sectional study was conducted on a population of patients diagnosed with migraines for at least three months at the Neurology Clinic and ward of RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo from May-June 2024. Validity testing was performed using Pearson correlation, internal reliability testing with Cronbach’s Alpha, and external reliability testing with the test-retest method. Results. The majority of subjects were female (90.3%), with a mean age of 34.85±10.35 years, and the most common diagnosis was migraine without aura (54.8%). The median total MIDAS-Ina score was 35.5 (0-258) with a headache frequency of 20 days and high pain intensity (median NRS 7). In the MIDAS-Ina validity test, all questions had an r-count greater than the r-table (0.25). The reliability test results showed a Cronbach’s Alpha of 0.778 and a test-retest method intraclass correlation coefficient (ICC) ranging from 0.656 (95% CI 0.980-0.996) to 0.991 (95% CI 0.980-0.996). The time required to complete the questionnaire was less than 10 minutes. Conclusion. The Indonesian version of the MIDAS questionnaire is a valid and reliable tool for assessing migraine-related disability in the Indonesian population."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
South, Valerie
Toronto: Key Porter Books limited, 1994
616.857 SOU m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Migrain adalah sakit kepala kronis yang dapat mengganggu kualitas hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh prevalensi, factor risiko, dan komordibitas dari migraine. Metode: Studi potong lintang yang melibatkan subjek sebanyak 4771 orang di 5 kelurahan di kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor tahun 2011-2012. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan WHO STEPS (wawancara, pengukuran, pemeriksaan fisik, dan uji laboratory). Hasil: Pada penelitian ini, prevalensi migraine adalah 22,43%, dengan factor risiko yang signifikan yaitu jenis kelamin, umur, dan stress (p < 0,05). Komorbiditas migraine adalah penyakit jantung koroner (p < 0,05). Tidak ada hubungan yang signifikan antara migraine dengan status perkawinan, tingkat pendidikan, merokok, hipertensi, obesitas, jumlah kolesterol, LDL, HDL, tingkat gliserida, dan diabetes mellitus (p > 0,05). Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan bermakna dengan migraine adalah jenis kelamin, umur, dan adanya stress, sedangkan penyakit jantung koroner sebagai komorbiditas dari migraine. "
BULHSR 17:4 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Smith, Mike
London: Kyle Cathie, 1994
616.849 12 SMI m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hendy Kurniawan
"Latar belakang: Migren vestibular (MV) merupakan salah satu penyebab tersering vertigo berulang. Beberapa penelitian telah melaporkan karakteristik klinis dan hasil abnormal pemeriksaan cervical Vestibular Evoked Myogenic Potential (cVEMP) pada pasien MV. Indonesia belum memiliki penelitian mengenai hal tersebut. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk pengembangan pemahaman MV dan pemeriksaan cVEMP di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong-lintang yang melibatkan 18 subyek MV dan 25 subyek normal. Fungsi vestibular dinilai secara klinis dan menggunakan cVEMP. Seluruh subyek dengan MV menjalani pemeriksaan selama periode bebas serangan/interiktal.
Hasil: Keluhan utama migren atau gejala vestibular terbagi merata (50%). Karakteristik sakit kepala lebih banyak dengan intensitas berat (66,7%), berdenyut (100%), unilateral (61,1%), fotofobia (83%), fonofobia (94,4%), mual dan/atau muntah (88,9%), dan diperberat aktivitas (100%). Karakteristik gejala vestibular lebih banyak non-spinning vertigo (50%). Hasil pemeriksaan cVEMP didapatkan amplitudo yang lebih rendah pada MV (128,84µV [55,01-623,52]). Proporsi absennya gelombang cVEMP lebih tinggi pada MV (55,6%). Terdapat korelasi positif kuat antara frekuensi serangan MV dengan latensi n1 cVEMP.
Kesimpulan: Abnormalitas pemeriksaan cVEMP didapatkan pada pasien MV. Absennya gelombang cVEMP dan penurunan amplitudo merupakan hal yang dapat ditemukan pada pasien MV.

Background: Vestibular migraine (MV) is one of the most common cause of recurrent vertigo. Several studies have reported clinical characteristics and abnormal results of cervical Vestibular Evoked Myogenic Potential (cVEMP) in VM. Indonesia does not have research on this matter. Therefore this research is expected to be a reference for developing VM understanding and cVEMP examination in Indonesia.
Methods: This research is a cross-sectional study involving 18 VM subjects and 25 healthy subjects. Vestibular function is assessed clinically and by using cVEMP. All VM subjects underwent examination during the interictal period.
Results: The chief complaint either migraine nor vestibular symptoms were evenly distributed (50%). More headache with severe intensity (66,7%), throbbing (100%), unilateral (61,1%), photophobia (83%), phonophobia (94,4%), nausea and/or vomiting (88,9%), and aggravation by routine physical activity (100%). Characteristics of vestibular symptoms are more non-spinning vertigo (50%). cVEMP revealed lower amplitudes in VM (128,84µV [55,01-623,52]). The proportion of absence of cVEMP waves is higher in VM (55,6%). There is a strong positive correlation between the frequency of VM attacks with cVEMP n1 latency.
Conclusions: Abnormality of cVEMP are found in VM patients. The absence of cVEMP waves and decreases in amplitude can be found in VM patients."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rose, Clifford
Jakarta: Bumi Aksara , 1993
616.857 ROS at
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Salim Muhammad Harris
"ABSTRAK
Prevalensi migren di Indonesia tinggi dan migren menyebabkan disabilitas ketujuh terbanyak di dunia. Diagnosis migren menggunakan kriteria IHS, tetapi angka negatif palsu tinggi 50 . Disfungsi endotel adalah dasar patofisiologi migren, melalui gangguan reaktivitas vasomotor dan inflamasi. Pemeriksaan breath holding index BHI hanya menggunakan stimulus hiperkapnia sementara indeks vaskular migren IVM menggabungkan kombinasi hiperkapnia dan hipokapnia. Akurasi IVM dan peran CGRP serta ICAM-1 dalam patogenesis nyeri kepala migren belum dipahami.Penelitian ini menilai respons vasodilatasi dan vasokonstriksi pembuluh darah intrakranial penderita migren, akurasi alat IVM dibandingkan IHS dan BHI, serta menganalisis perubahan kadar CGRP dan ICAM-1 satu bulan pengobatan.Penelitian menggunakan rancangan potong lintang dan pre-post design. Subjek nyeri kepala primer fase interiktal di Poli Neurologi RSCM yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan. Subjek dianamnesis berdasarkan kriteria MS-Q Indonesia, pemeriksaan Doppler transkranial untuk menilai BHI dan IVM pada kedua sisi kepala, dan diberikan obat topiramat dan/atau indometasin sesuai kriteria penelitian. Subjek kontrol 1 bulan untuk menilai respons klinis nyeri kepala. Sampel darah diambil saat awal dan akhir penelitian untuk menilai kadar CGRP dan ICAM-1.Terdapat 104 subjek terkonfirmasi migren dan 24 subjek terkonfirmasi bukan migren. Tidak ada perbedaan karakteristik sosiodemografis: baik usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Nilai MFV MCA kelompok terkonfirmasi migren lebih rendah bermakna saat menahan napas dibandingkan kelompok terkonfirmasi bukan migren pada sisi ipsilateral dan sisi kontralateral. Pada kelompok terkonfirmasi migren kemampuan vasokonstriksi lebih tinggi bermakna dibandingkan kelompok terkonfirmasi bukan migren pada sisi ipsilateral dan kontralateral.Nilai sensitivitas dan spesifisitas IVM gabungan, BHI serta IHS/MS-Q berturut-turut adalah 94,23 dan 91,67 , 59,63 dan 91,67 , 60,58 dan 95,58 . Tidak ada perbedaan bermakna antara IVM gabungan dengan IVM ipsilateral. Kadar CGRP dan ICAM-1 tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok saat awal dan akhir. Pada kelompok terkonfirmasi migren, proporsi kadar CGRP awal tinggi berkorelasi dengan penurunan CGRP akhir. Proporsi kadar CGRP awal tinggi berhubungan bermakna dengan kepositifan IVM.Simpulan: Respons vasodilatasi pembuluh darah MCA penderita migren, lebih rendah dan vasokonstriksi lebih tinggi. IVM terbukti memiliki akurasi baik untuk mendiagnosis gangguan reaktivitas vasomotor pada migren. Kadar CGRP awal tinggi pada migren merupakan prediktor penurunan CGRP dalam 1 bulan. Kata kunci: BHI, CGRP, ICAM-1, IVM, migren, reaktivitas vasomotor

ABSTRACT
Migraine has a high prevalence in Indonesia and is the seventh cause of disability in the world. Migraine is diagnosed using the IHS criteria, but the false negative rate is high 50 . Endothelial dysfunction is the underlying pathophysiology of migraine causing impairment of the vasomotor reactivity and inflammation. Breath holding index BHI examination only uses hypercapnia stimulus, while the migraine vascular index MVI uses a combination of hypercapnia and hypocapnia stimulus. The accuracy of MVI and the role of CGRP and ICAM 1 in the pathogenesis of migraine is not fully understood.This study is aimed to assess the vasodilatory and vasoconstriction response of intracranial blood vessels of migraine patients, to know the accuracy of MVI compared to IHS and BHI, and to analyze changes in CGRP and ICAM 1 levels after 1 month of therapy.The study used a cross sectional and pre post design approach. Subjects with primary headache interictal phase who came to the neurology out patient clinic at Cipto Mangunkusumo Hospital RSCM , that met inclusion and exclusion criteria were included in the study. Subjects underwent anamnesis based on the Indonesian version of the MS Q criteria, transcranial Doppler examination to assess BHI and MVI on both sides of the head, and was given topiramate and or indomethacin based on the study 39 s criteria. Subjects were then asked to come for a 1 month follow up to assess the clinical response of headache. Blood samples were taken before and after treatment to assess CGRP and ICAM 1 levels.There were 104 confirmed migraine and 24 confirmed non migraine subjects in the study. There were no differences in sociodemographic characteristics between the two groups based on age, gender, education level, and occupation. The MCA MFV value in the confirmed migraine group is significantly lower compare to the confirmed non migraine group on the ipsilateral and contralateral side, where as the vasoconstriction ability is significantly higher in the confirmed migraine group compare to the confirmed non migraine group on the ipsilateral and contralateral side.The sensitivity and specificity of combined MVI, BHI and IHS MS Q respectively are 94.23 and 91.67 , 59.63 and 91.67 , 60.58 and 95.58 . There was no significant difference between combined MVI with ipsilateral MVI. Levels of CGRP and ICAM 1 did not differ significantly between the two groups before treatment and after treatment. In the confirmed migraine group, a high proportion of CGRP levels before treatment was correlated with CGRP decline after treatment. In addition, a high proportion of CGRP levels before treatment was associated with MVI positivity.Conclusions The vasodilatory response is found to be lower, whereas the vasoconstriction response is higher in the MCA of migraine patients. MVI is proven to have good accuracy in diagnosing impairment of vasomotor reactivity in migraine. A high initial CGRP level in migraine patients is a predictor of a decrease in CGRP within 1 month of prophylaxis therapy.Key words BHI, CGRP, ICAM 1, migraine, MVI, vasomotor reactivity"
2018
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hendy Kurniawan
"ABSTRAK
Latar belakang: Migren vestibular (MV) merupakan salah satu penyebab tersering vertigo berulang. Beberapa penelitian telah melaporkan karakteristik klinis dan hasil abnormal pemeriksaan cervical Vestibular Evoked Myogenic Potential (cVEMP) pada pasien MV. Indonesia belum memiliki penelitian mengenai hal tersebut. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk pengembangan pemahaman MV dan pemeriksaan cVEMP di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong-lintang yang melibatkan 18 subyek MV dan 25 subyek normal. Fungsi vestibular dinilai secara klinis dan menggunakan cVEMP. Seluruh subyek dengan MV menjalani pemeriksaan selama periode bebas serangan/interiktal.
Hasil: Keluhan utama migren atau gejala vestibular terbagi merata (50%). Karakteristik sakit kepala lebih banyak dengan intensitas berat (66,7%), berdenyut (100%), unilateral (61,1%), fotofobia (83%), fonofobia (94,4%), mual dan/atau muntah (88,9%), dan diperberat aktivitas (100%). Karakteristik gejala vestibular lebih banyak non-spinning vertigo (50%). Hasil pemeriksaan cVEMP didapatkan amplitudo yang lebih rendah pada MV (128,84µV [55,01-623,52]). Proporsi absennya gelombang cVEMP lebih tinggi pada MV (55,6%). Terdapat korelasi positif kuat antara frekuensi serangan MV dengan latensi n1 cVEMP.
Kesimpulan: Abnormalitas pemeriksaan cVEMP didapatkan pada pasien MV. Absennya gelombang cVEMP dan penurunan amplitudo merupakan hal yang dapat ditemukan pada pasien MV.

ABSTRACT
Background: Vestibular migraine (MV) is one of the most common cause of recurrent vertigo. Several studies have reported clinical characteristics and abnormal results of cervical Vestibular Evoked Myogenic Potential (cVEMP) in VM. Indonesia does not have research on this matter. Therefore this research is expected to be a reference for
developing VM understanding and cVEMP examination in Indonesia.
Methods: This research is a cross-sectional study involving 18 VM subjects and 25 healthy subjects. Vestibular function is assessed clinically and by using cVEMP. All VM subjects underwent examination during the interictal period.
Results: The chief complaint either migraine nor vestibular symptoms were evenly distributed (50%). More headache with severe intensity (66,7%), throbbing (100%), unilateral (61,1%), photophobia (83%), phonophobia (94,4%), nausea and/or vomiting (88,9%), and aggravation by routine physical activity (100%). Characteristics of vestibular symptoms are more non-spinning vertigo (50%). cVEMP revealed lower
amplitudes in VM (128,84µV [55,01-623,52]). The proportion of absence of cVEMP waves is higher in VM (55,6%). There is a strong positive correlation between the frequency of VM attacks with cVEMP n1 latency.
Conclusions: Abnormality of cVEMP are found in VM patients. The absence of cVEMP waves and decreases in amplitude can be found in VM patients."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Newanda Mochtar
"ABSTRAK
Latar belakang: Migren adalah serangan nyeri kepala primer, bersifat spesifik, paroksismal, dengan atau tanpa aura, dengan manifestasi subjektif baik sebelum maupun sesudah serangan, merupakan nyeri kepala tipe kronik dengan gejala rekurensi, menyerang usia produktif dan dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja hingga 80%, sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup dan kehidupan perekonomian dan pendidikan secara global yang mengarah kepada kerugian bagi penderita migren dan institusi tempat penderita migren bersekolah ,bekerja serta dalam kehidupan keluarga penderita. Dengan tingginya angka prevalensi dan disabilitas pada penderita migren, dilain pihak sampai saat ini pengobatan yang tepat terhadap migren belum didapatkan secara maksimal maka diperlukan pendalaman dalam pengobatan maupun pencegahan migren sangat dibutuhkan., dan sampai saat ini belum didapatkan obat yang pasti, baik terhadap pencegahan dan pengobatan, sehingga perlu dikembangkan terapi yang dapat memberikan pertolongan yang lebih akurat pada penderita migren
Tujuan penelitian ini adalah menilai keberhasilan dalam penatalaksanaan migren dalam mengurangi frekuensi serangan, mengurangi intensitas serangan dan mengurangi durasi serangan dari minggu ke-0,ke-4 hingga ke-8. Metode: Uji klinis acak tersamar tunggal dengan kontrol dilakukan terhadap 34 subjek dengan migren yang dialokasikan secara acak kedalam kelompok manual akupunktur (n=17), serta kelompok medikamentosa (n=17). Penilaian menilai frekuensi, durasi dan intensitas serangan migren yang dinilai pada saat sebelum perlakuan, minggu ke-4 dan minggu ke-8 dari baseline. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada rerata jumlah frekuensi (p=0,040), durasi (p=0,012) dan intensitas (p=0,003) serangan migren pada minggu ke-4 dibandingkan dengan medikamentosa. Serata terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok pada rerata jumlah jumlah frekuensi (p=0,029), durasi (p=0,001) dan intensitas (p<0,001) serangan migren pada minggu ke-8. Kesimpulan: Intervensi akupunktur manual dapat menurunkan frekuensi, durasi dan intensitas serangan migren lebih baik dibandingkan dengan preventif farmakologi asam valproat pada minggu ke-4 dan minggu ke-8.

ABSTRACT
Background: Migraine is a primary headache attack, specific, paroxysmal, with or without aura, with subjective manifestations both before and after the attack, a chronic type of headache with symptoms of recurrence, attacks at productive age and can cause a decrease in work productivity up to 80%, so that it will affect the quality of life, economic life and education globally which leads to losses for migraine sufferers and institutions where migraine sufferers attend school, work and in the lives of sufferers families. With the high prevalence and disability rates for migraine sufferers, on the other hand, the right treatment for migraine has not yet been obtained to the maximum, it is necessary to deepen the treatment and prevention of migraine is needed, and until now there has been no definitive cure, both for prevention and treatment, so it is necessary to develop therapies that can provide more accurate relief for migraine sufferers. The purpose of this study is to assess the success in managing migraine in reducing the frequency of attacks, reducing the intensity of attacks and reducing the duration of attacks from weeks 0, 4 to 8. Methods: A randomized controlled trial with control was conducted on 34 subjects with migraine who were randomly allocated into the manual group of acupuncture (n = 17), as well as the medicine group (n = 17). The assessment of frequency, duration and intensity of migraine attacks assessed at the time before treatment, at the fourth and eight week from baseline. Results: The results showed there were significant differences between the two groups in the mean number of frequencies (p = 0.040), duration (p = 0.012) and intensity (p = 0.003) of migraine attacks at the fourth week. There were significant differences between the two groups in the average number of frequencies (p= 0.029), duration (p=0.001) and intensity (p<0.001) of migraine attacks at the eight week. Conclusion: Manual acupuncture interventions can reduce the frequency, duration and intensity of migraine attacks better than the use of valproic acid in the fourth and eight week."
2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>