Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15930 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Devi Mutiara Sari
"Kondisi Danau Rawapening sebagian besar telah tertutup oleh tanaman gulma eceng gondok. Permukaan perairan danau yang tertutup eceng gondok sekitar 75% dari jumlah luas permukaan air. Keberadaan eceng gondok dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku benda kerajinan serta mebel. Pemanfaatan ini membentuk hubungan saling terkait dan mempengaruhi sehingga membentuk suatu ikatan rantai yang bernilai. Rantai nilai eceng gondok dapat menjabarkan keseluruhan proses yang terjadi dan memberikan gambaran terbentuknya harga disetiap simpul. Penelitian ini bertujuan melihat jalur distribusi eceng gondok yang terbentuk mulai dari Danau Rawapening hingga sampai ke konsumen akhir dan mellihat harga yang terbentuk di setiap simpulnya. Proses pengambilan data dilakukan secara purposif sampling dengan teknik snowballing. Teknik snowballing digunakan karena tidak diketahuinya jumlah populasi dari masyarakat pengambil enceng gondok sebagai informan kunci. Analisis yang digunakan adalah analisis keruangan dengan memperhatikan jalur distribusi yang tercipta dari rantai nilai yang ada. Membandingkan jalur distribusi serta harga yang terbentuk di tiap simpul pada masing-masing jalur distribusi. Hasil penelitian menyimpulkan terdapat tiga jalur utama rantai nilai eceng gondok yaitu jalur distribusi menuju Yogyakarta, menuju Sukoharjo dan jalur yang berada di dalam Kabupaten Semarang. Semakin besar perbedaan harga antar simpul maka pertambahan nilai semakin besar. Semakin besar pertambahan nilai antar simpul maka perlakuan terhadap eceng gondok semakin banyak dan sulit.

Most of Rawapening Lake is covered by water hyacinth weeds. The water surface of the lake is covered with water hyacinth, around 75% of the total water surface area. The existence of water hyacinth is used by the community as raw material for craft objects and furniture. This utilization forms interrelated relationships and influences to form a valuable chain bond. The water hyacinth value chain can describe the entire process that occurs and provide an overview of price formation at each node. This research aims to look at the water hyacinth distribution route that is formed from Lake Rawapening to the end consumer and look at the prices that are formed at each node. The data collection process was carried out using purposive sampling using the snowballing technique. The snowballing technique was used because the population size of the water hyacinth harvesting community as key informants was unknown. The analysis used is spatial analysis by paying attention to distribution channels created by the existing value chain. Comparing distribution channels and the prices formed at each node in each distribution channel. The research results concluded that there are three main routes in the water hyacinth value chain, namely the distribution route to Yogyakarta, to Sukoharjo and the route within Semarang Regency. The greater the price difference between nodes, the greater the value added. The greater the increase in value between nodes, the more numerous and difficult the treatment of water hyacinth will be."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asbella Salim
"Eceng gondok sebagai gulma air berkembang dengan sangat pesat dalam perairan tawar. Ia sangat potensial untuk dikembangkan sebagai energi terbarukan. Dengan tingginya kandungan karbon dan lignin, ia dapat dimanfaatkan untuk pembuatan biochar sebagai elektroda superkapasitor. Superkapasitor terdiri atas elektroda, elektrolit berupa KOH, binder berupa PVA, crosslinking agent berupa asam sitrat, dan separator berupa kertas saring. Elektroda dengan impregnasi nikel akan dijadikan sebagai superkapasitor simetris, sedangkan untuk superkapasitor asimetris digunakan hasil impregnasi nikel sebagai anoda dan hasil impregnasi Fe2O3 sebagai katoda. Dalam penelitian ini, digunakan 3 variabel bebas berupa persentase berat impregnasi logam, waktu aktivasi, dan konsentrasi elektrolit. Setelah dirangkai menjadi superkapasitor, hasil sampel dari seluruh variasi diuji dengan multimeter digital untuk mengetahui nilai kapasitansinya. Sampel yang berhasil memperoleh nilai kapasitansi tertinggi (146,72 F/g) adalah sampel 26, yaitu superkapasitor asimetris dengan 15% bahan impregnasi pada setiap sisi elektrodanya, waktu aktivasi selama 90 menit, dan elektrolit KOH sebesar 6 M. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat efek sinergis dari penggunaan bahan impregnasi yang berbeda pada kedua elektroda, serta terdapat pengaruh dari adanya variasi ketiga variabel bebas tersebut. Hasil SEM EDX menunjukkan permukaan biochar dengan distribusi pori yang banyak. Hasil XRF menunjukkan komposisi biochar dan akurasi proses impregnasi yang baik. Hasil FTIR menunjukkan adanya intensitas gugus fungsional yang lebih tinggi dengan adanya peningkatan persentase bahan impregnasi. Hasil band gap energy menunjukkan sampel 26 memiliki sifat semikonduktor dengan band gap energy sebesar 1,0793 eV. Oleh karena itu, seluruh hasil karakterisasi menunjukkan bahwa biochar eceng gondok hasil pirolisis, impregnasi, dan aktivasi dapat berfungsi sebagai penyimpan energi yang baik.

Water hyacinth as a water weed grows very rapidly in fresh waters. It has great potential to be developed as renewable energy. With its high carbon and lignin content, it can be used to make biochar as a supercapacitor electrode. The supercapacitor circuit consists of electrodes, KOH electrolyte, PVA as binder, citric acid as crosslinking agent, and filter paper as separator. Electrodes with nickel impregnation will be used as symmetric supercapacitors, while for asymmetric supercapacitors the nickel impregnation is used as anode and Fe2O3 impregnation as cathode. In this research, 3 independent variations were used, including the weight percentage of metal impregnation, activation time, and electrolyte concentration. After being assembled as a supercapacitor, the sample results from all variations were tested with a digital multimeter to determine the capacitance value. The sample with highest capacitance value (146,72 F/g) was sample 26, which was an asymmetric supercapacitor with 15% impregnation material on each side of the electrode, an activation time of 90 minutes, and a KOH electrolyte of 6 M. This shows that there is a synergistic effect from the use of different impregnation materials on both electrodes, and there is an influence from variations in the 3 independent variables. SEM EDX results show the biochar surface with a large distribution of pores. XRF results show the biochar composition and good accuracy of the impregnation process. FTIR results show a higher intensity of functional groups with an increase in the percentage of impregnating material. Band gap energy results show that sample 26 has semiconductor properties with a band gap energy of 1.0793 eV. Therefore, all the characterization results show that water hyacinth biochar resulting from pyrolysis, impregnation, and activation can function as a good energy storage."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pertiwi Wijayanti
"Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu rempah-rempah yang ada di Indonesia. Peningkatan produksi bawang merah menyebabkan pemerintah tidak lagi mengimpor bawang merah. Pemerintah mengupayakan untuk produksi bawang merah  di negeri sendiri terlebih dahulu. Tegal merupakan pemekaran Brebes dalam hal produksi bawang merah. Hal ini didukung dengan kondisi fisik dari wilayah Tegal. Tegal merupakan wilayah dengan struktur tanah berupa aluvial, sehingga bawang merah di lokasi ini tumbuh dengan subur. Teknik pemilihan informan dengan snowball sampling yang bermula dari petani. Di mana dalam teknik ini mencari informan lainnya untuk melengkapi informasi dari informan sebelumnya. Pengolahan data berupa data- data yang sudah terkumpul diolah dan diklasifikasikan sesuai dengan kata kunci yang ada. Data-data yang sudah diolah lalu dianalisis untuk kemudian ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini ditemukan tiga tengkulak yang terdiri dari tengkulak desa dan tengkulak besar. Tengkulak mendistribusikan bawang merah ke pedagang dan manufaktur. Perbedaan pendapatan terjadi di setiap aktor. Aktor dengan biaya pemasaran terbesar adalah tengkulak karena proses distribusi tengkulak harus mengeluarkan biaya transportasi.

Shallot (Allium ascalonicum L.) is one of the spices in Indonesia. The increase in  shallot production causes the government to no longer use shallots. The government strives to produce shallots in their own country first. Tegal is a division of Brebes in terms of shallot production. This is supported by the physical requirements of the Tegal region. Tegal is an area with an alluvial soil structure, so shallots in this location grow with suburban. The technique of selecting informants with snowball sampling starts from farmers. Where in this technique look for other information to complete information from previous informants. Data processing consists of data that has been collected and processed in accordance with existing keywords. Data that has been processed and then analyzed for later conclusions. The results of this study found three middlemen consisting of village middlemen and large middlemen. There are brokers who distribute shallots to traders and manufacturers. Income differences occur for each actor. The actor with the biggest marketing cost is the middleman because the middleman distribution process must incur transportation costs."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moh. Zendra Kumar
"ABSTRAK
Skripisi ini membahas rantai nilai yang ada di klaster IKM komponen kapal di
Desa Kebasen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal untuk meningkatkan daya
saing dan produktifitas klaster industri dengan menggunakan alat analisis teori
rantai nilai Porter (1985). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain
deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keseluruhan rantai nilai yang
ada sudah mencakup keseluruhan faktor ?faktor yang dibutuhkan untuk
mendukung berkembangnya daya saing dan produktifitas klaster. Penelitian ini
juga menyarankan bahwa klaster IKM komponen kapal di Kabupaten Tegal harus
meningkatkan kemampuan (skill) sumberdaya manusianya dengan berbagai
macam pelatihan agar dapat menciptakan inovasi baru dalam berproduksi,
meningkatkan teknologi dalam berproduksi untuk mencapai skala ekonomi dan
segera melakukan sertifikasi biro klasifikasi Indonesia untuk seluruh produk yang dihasilkan.

ABSTRACT
The aim of this study is analyzing value chain which exist in small industrial
shipping component cluster in Tegal Regency to increase the competitiveness and
productivity of this cluster using Porter?s value chain theory (1985). This research
is qualitative research by descriptive design method. The result show us that the
value chain of this cluster has enough support to increase the competitiveness and
productivity. This study also suggest that the cluster must be develop their skill
worker with any skill training to create the innovation in production technology,
increasing technological support to achieve economic scale, and very soon to get
classification from Indonesian Classification Bureau for all product."
2016
S62900
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alia Badra Pitaloka
"Superabsorbent polymers SAP adalah material yang dapat menyerap cairan dalam jumlah yang sangat besar. Pada penelitian ini dilakukan sintesis material SAP dengan bahan baku natrium karboksimetil selulosa NaCMC yang berasal dari selulosa eceng gondok. Salah satu karakteristik NaCMC yang sangat berpengaruh adalah derajat substitusi DS . Semakin tinggi nilai DS dari NaCMC, semakin baik kemampuan SAP yang dihasilkan dalam menyerap cairan yang dinyatakan dengan swelling ratio SR . Jenis media yang digunakan dalam sintesis NaCMC sangat berpengaruh terhadap nilai DS. Semakin rendah polaritas media, semakin tinggi nilai DS yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan NaCMC berbahan dasar eceng gondok dengan nilai DS yang tinggi dan menghasilkan material SAP dengan kemampuan mengabsorbsi air yang tinggi.Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu isolasi selulosa, sintesis NaCMC, dan sintesis SAP. Isolasi selulosa dilakukan dengan menggunakan larutan NaClO2 dan NaOH untuk menghilangkan lignin dan hemiselulosa. Kemudian sintesis NaCMC dilakukan dengan menggunakan campuran dua larutan sebagai media reaksi agar diperoleh polaritas yang lebih rendah. Ada lima kombinasi campuran media reaksi yang digunakan, yaitu campuran isopropil alkohol-etanol IPE , 2-butanol-etanol BE , isobutil alkohol-etanol IBE , isopropil alkohol-2-butanol IPB , dan isopropil alkohol-isobutil alkohol IPIB dengan komposisi 20:80, 50:50, dan 80:20. Untuk masing-masing komposisi media, dilakukan variasi larutan NaOH 5-35 . NaCMC yang diperoleh dengan menggunakan media reaksi IPB, digunakan sebagai bahan baku pada sintesis SAP dengan menggunakan asam sitrat sebagai agen pengikat silang. Analisis dilakukan terhadap kadar selulosa di dalam eceng gondok dan selulosa hasil isolasi, nilai DS NaCMC, analisis menggunakan SEM, FTIR dan XRD terhadap selulosa dan NaCMC, serta pengukuran kadar Na di dalam alkali selulosa menggunakan AAS, sedangkan produk SAP dikarakterisasi menggunakan FTIR, SEM dan analisa SR.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kadar selulosa dari produk selulosa sebesar 95,04 dan produk NaCMC eceng gondok memiliki nilai DS di atas 0,72. Nilai DS tertinggi dari NaCMC eceng gondok adalah 2,34 yang dicapai dengan menggunakan media campuran isopropil alkohol dan isobutil alkohol dengan komposisi 20:80 pada konsentrasi NaOH 35 . Produk material SAP yang dihasilkan dapat mencapai nilai SR sebesar 12,99.

Superabsorbent polymers SAP is a material which is able to absorb a considerable amount of liquid. In the present study, synthesis of SAP material using Sodium Carboxymethyl Cellulose NaCMC from water hyacinth cellulose as raw material was conducted. One of the most important characteristic of NaCMC is degree of Subtitution DS . Higher DS of NaCMC will improve the ability of produced SAP to absorb liquid, as measured by swelling ratio SR . Type of medium used in NaCMC synthesis also plays a significant role in DS value. Medium with low polarity will result in higher DS value. The aim of this study is to produce NaCMC from water hyacinth with high DS value, thus SAP material with high absorption ability can be obtained.This research consists of three main steps cellulose isolation, synthesis of NaCMC and synthesis of SAP. Isolation of cellulose was performed using NaClO2 and NaOH to remove lignin and hemicellulose content. Synthesis of NaCMC was then carried out using a mixture of two solutions as reaction medium in order to obtain low polarity medium. Five different combinations of reaction medium mixtures were used, i.e. isopropyl alcohol ethanol IPE , 2 butanol ethanol BE , isobuthyl alcohol ethanol IBE , isopropyl alcohol 2 butanol IPB , and isopropyl alcohol isobutyl alcohol IPIB with different ratios 20 80, 50 50 and 80 20 , followed by variation of NaOH 5 35 solution for each ratio. NaCMC obtained using reaction medium IPB was further utilized as raw material in synthesis SAP with citric acid as crosslinker agent. Cellulose content in water hyacinth and cellulose from isolation step and DS of NaCMC were measured. Cellulose and NaCMC were analyzed by SEM, FTIR and XRD. Measurement of Na content in alkali cellulose were performed using AAS, and SAP product was characterized by FTIR, SEM and SR analysis.The results obtained show that cellulose content of cellulose product is 95.04 and degree of subtitusion of NaCMC product from water hyacinth is above 0.72. Highest DS value of NaCMC from water hyacinth is 2.34, which was achieved using a mixture medium of isopropyl alcohol and isobutyl alcohol 20 80 at NaOH 35 . SR value of produced SAP material was 12.99."
2018
D2413
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harnum Setiasih Bintang
"Kecamatan Sidikalang sangat terkenal dengan produk Kopi Robusta Sidikalang yang sudah dikenal luas di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Dalam produksi Kopi Robusta Sidikalang, terdapat perbedaan keuntungan pada setiap aktor produksinya dan produktivitas kopi menjadi salah satu pusat perhatian pemerintah dalam meningkatkan pendapatan daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola rantai nilai produksi Kopi Sidikalang di Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi serta aktor yang berperan di dalamnya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi literatur dengan metode analisis kualitatif deskriptif dan spasial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga simpul rantai nilai produksi Kopi Sidikalang yakni kegiatan pertanian yang diperankan oleh petani dan kelompok tani, simpul distribusi yang diperankan oleh pengumpul dan pedagang, dan simpul pengolahan biji dan ekspor yang diperankan oleh pabrik pengolah dan eksportir. Setiap simpul melakukan kegiatan nilai yakni aktivitas utama dan pendukung yang akan menghasilkan nilai dimana di setiap simpul terdapat perbedaan nilai. Lokasi mempengaruhi bagaimana aktor dalam setiap simpul melakukan peranannya yang akan berhubungan dengan alat transportasi dan sistem kekerabatan Suku Pakpak. Dalam produksi Kopi Sidikalang, terbentuk dua pola terdapat dua pola rantai nilai yakni Petani-Pengumpul-Pedagang-Pabrik pengolah dan eksportir; dan Petani-Pabrik pengolah dan eksportir. Perbedaan pola ini disebabkan oleh perbedaan jumlah produksi dan luas lahan kopi petani di Kecamatan Sidikalang. Perolehan tanah yang digunakan setiap aktor terdiri dari dua cara yakni warisan dan pembelian yang melibatkan Lembaga Sulang Silima Merga Pakpak sebagai lembaga yang memiliki kuasa dan wewenang dalam pengadaan dan penguasaan lahan di Kecamatan Sidikalang.

Sidikalang District is very famous for its Robusta Sidikalang Coffee products which are widely known in Indonesia and even abroad. In the production of Sidikalang Robusta Coffee, there are differences in profits for each production actor and coffee productivity is one of the government's focuses in increasing regional income. The purpose of this study was to determine the pattern of the Sidikalang Coffee production value chain in Sidikalang District, Dairi Regency and the actors who play a role in it. Data collection methods used were in-depth interviews, observation, documentation, and literature study with descriptive and spatial qualitative analysis methods. The results of this study indicate that there are three nodes of the Sidikalang Coffee production value chain, namely agriculture played by farmers and farmer groups, distribution nodes played by collectors and traders, and processing and export nodes played by processing factories and exporters. Each node performs value activities, namely the main and supporting activities that will produce values where in each node there is a difference in value. Location affects how the actors in each node perform their roles which will be related to the means of transportation and the kinship system of the Pakpak Tribe. In the production of Sidikalang Coffee, two patterns are formed, there are two value chain patterns, namely Farmers-Gatherers-Traders-Processing factories and exporters; and Farmers-processors and exporters. This difference in pattern is caused by differences in the amount of production and the area of coffee farmers in Sidikalang District. Land acquisition used by each actor consists of two ways, namely inheritance and purchase involving the Sulang Silima Merga Pakpak Institution as an institution that has power and authority in land acquisition and control in Sidikalang District."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bella Tifa Ardani
"ABSTRAK
Kabupaten Lebak mempunyai produksi bambu sebesar 2.480.904 batang. Oleh sebab itu Kabupaten Lebak mempunyai potensi memasok bambu untuk produksi kerajinan bambu. Potensi tersebut dimanfaatkan oleh produsen kerajinan bambu di Kecamatan Rangkasbitung, Sajira dan Cibadak untuk membuat kerajinan bambu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan produk, harga dan promosi di setiap simpul dan mengetahui pola rantai nilai pada industri kerajinan bambu dengan menggunakan konsep bauran pemasaran dan rantai nilai. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif dan spasial. Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh industri di Kecamatan Rangkasbitung, Sajira dan Cibadak pada simpul produsen mengalami perubahan produk. Perbedaan produk dipengaruhi oleh jumlah modal, tenaga kerja dan promosi yang membuat produk bervariasi sehingga pemasarannya lebih luas. Untuk harga mengalami peningkatan pada setiap simpulnya. Perbedaan harga dipengaruhi oleh biaya produksi dan biaya distribusi. Semakin tinggi biaya produksi dan semakin jauh jarak distribusi maka harga jual produk akan semakin tinggi. Untuk promosi hanya dilakukan oleh industri di Kecamatan Rangkasbitung pada simpul produsen, distributor dan industri di Kecamatan Cibadak pada simpul konsumen. Adanya promosi dapat meningkatkan permintaan konsumen terhadap produk. Pada masing-masing industri di setiap kecamatan memiliki pola rantai nilai yang berbeda berdasarkan pelakunya. Aktivitas yang membuat nilai menjadi tinggi ialah aktivitas operasi pada simpul produsen dan aktivitas logistik pada simpul produsen dan mediasi.

ABSTRACT
Lebak Regency has produced 2,480,904 bamboo stem. Therefore, Lebak Regency has potential to supply bamboo for bamboo handicrafts production. The potential is utilized by bamboo handicrafts producers in Rangkasbitung District, Sajira District and Cibadak District to make bamboo handicrafts industries. This research aims to analyze the difference of product, price and promotion in each node of bamboo handicraft industry and to know the value chain pattern in bamboo handicraft industry by using the concept of marketing mix and value chain. The method used in this research is qualitative method with descriptive and spatial analysis. The results showed that all bamboo industries in Rangkasbitung District, Sajira District and Cibadak District at producer 39s nodes is experiencing product changes. Product differences is influenced by the amount of capital, labor and promotion that make the product vary so that its marketing is wider. Price has increased on every bamboo industry 39s node. Price differences are influenced by production costs and distribution costs. The higher the production cost and the more distant distribution distance of bamboo industries are, the higher selling price of the products will be. On Rangkasbitung District, bamboo handicrafts 39 promotion only done in producer 39 s node and distributor 39 s node. Meanwhile at Cibadak District, bamboo handicrafts 39 promotion only done in consumer 39s node. Promotion can increase consumer demand for bamboo handicrafts. In each industry at all districts, bamboo 39 s value chain is different. Operating activities at producers node and mediation 39s node makes bamboos value chain becomes high. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monica Angeline Sudarsono
"Salah satu turunan selulosa, selulosa mikrokristal, merupakan bahan penting dalam pembuatan sediaan farmasi, yaitu sebagai eksipien dalam pembuatan tablet secara cetak langsung. Tumbuhan gulma eceng gondok memiliki kadar selulosa yang cukup tinggi yaitu sekitar 60 . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan serbuk selulosa mikrokristal dari eceng gondok dan identitasnya melalui spektrofotometri inframerah dan penentuan titik lebur, serta karakteristik fisika dan kimianya dan membandingkan hasilnya dengan Avicel PH 101 sebagai standar. Pada penelitian ini, selulosa mikrokristal diperoleh melalui hidrolisis enzimatis dengan enzim selulase. Identitas dari selulosa mikrokristal diperoleh melalui spektrum inframerah yang mirip dengan standar serta suhu lebur dalam rentang 247-250 C. Selulosa mikrokristal yang diperoleh berupa serbuk sedikit kasar, tidak berbau dan berasa serta berwarna sedikit kekuningan dibandingkan standar. Karakteristik selulosa mikrokristal yang diperoleh meliputi tidak terbentuk warna biru dengan larutan iodin, distribusi ukuran partikel sebesar 741 nm, pH 7,49, kadar abu 0,203 , kadar air 3,685 , susut pengeringan 3,8741 , serta kerapatan partikel, laju alir dan sudut istirahat yang memenuhi persyaratan sesuai literatur. Berdasarkan perbandingan pola difraktogram dengan difraksi sinar-X dan secara morfologi dengan SEM Scanning Electron Microscope sudah terlihat kemiripan antara selulosa mikrokristal hasil hidrolisis dengan standar.

One of the cellulose derivatives, microcrystalline cellulose is normally used in the pharmaceutical industry as an excipient in the manufacturing of tablets. Water hyacinth is a weed plant that has high cellulose content for about 60 . The purpose of this study was to obtain microcrystalline cellulose powder from water hyacinth and the identity by infrared spectrophotometry and melting point determination and the physical and chemical characteristics were compared to Avicel PH 101 as standard. In this study, microcrystalline cellulose obtained by enzymatic hydrolysis with cellulase enzymes. The identities were obtained from infrared spectrum which similar as standard and melting point chars between 247 250 C. The powder was moderately fine, odorless, tasteless and yellowish compared to standard. The characteristics were obtained, including not giving blue coloured with iodine solution, particle size distribution for 741 nm, pH 7,49, ash contents 0,203 , moisture content 3,685 , loss on drying 3,8741 also the density, flow rate and angle of repose fulfilled the requirements based on the literature. Based on the comparison of diffractogram patterns by X ray Diffraction and morphology by SEM Scanning Electron Microscope , there is similarity for both microcrystalline cellulose from hydrolysis and standard."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
S67879
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jagad Paduraksa
"ABSTRAK
Lithium Ion Capacitor (LIC) telah menunjukkan kinerja yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan akan energi tinggi dan kepadatan daya di era kendaraan listrik saat ini. Pengembangan bahan elektroda dan elektrolit dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan kinerja LIC secara signifikan. Salah satu bahan aktif elektroda LIC, karbon aktif (AC) dapat disintesis dari berbagai biomassa, salah satunya adalah eceng gondok. Ketersediaannya yang melimpah dan pemanfaatannya yang rendah menjadikan eceng gondok sebagai sumber karbon aktif yang menjanjikan. Untuk mengamati sifat fisik AC yang paling optimal, penelitian ini juga membandingkan berbagai suhu aktivasi. Dalam penelitian ini, LIC sel penuh dibuat menggunakan anoda berbasis LTO dan AC yang berasal eceng gondok sebagai katoda. Sel penuh LIC selanjutnya dikarakterisasi untuk melihat sifat material dan kinerja elektrokimia. LIC turunan eceng gondok dapat mencapai kapasitansi spesifik 32.11 F
/ g, energi spesifik 17.83 Wh /
kg dan daya spesifik 160.53 W / kg.

ABSTRACT
Lithium Ion Capacitor (LIC) has shown promising performance to meet the needs of the needs in high energy and power density of the era of electric vehicles nowadays. The development of electrode materials and electrolyte in recent years have been improvised LIC performance significantly. One of the active materials of LIC electrodes, activated carbon (AC) can be synthesized from various biomass, one of which is the water hyacinth. Its abundant availability and low utilization make the water hyacinth as a promising activated carbon source. To observe the most optimal physical properties of AC, this study also compares various activation temperatures. In this study, full cell LIC was fabricated using LTO based anode and water hyacinth derived AC as cathode. The LIC full cell is further characterized to see the material properties and electrochemical performance. Water hyacinth derived LIC can achieve a specific capacitance of 32.11 F/g, specific energy of 17.83 Wh/kg and specific power of 160.53 W/kg."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Dirga Harya Putera
"ABSTRAK
Eceng gondok tergolong serat alam yang keberadaannya melimpah di Indonesia. Serat alam ini tersusun atas serat selulosa yang merupakan komponen struktural utama dinding sel tanaman hijau. Untuk mendapatkan serat selulosa dari eceng gondok, dilakukan beberapa perlakuan. Pada penelitian ini dilakukan perlakuan pengekstrakkan serat selulosa secara kimiawi, antara lain proses dewaxing, penghilangan hemiselulosa, delignifikasi, tahap pendapatan selulosa murni, dan tahap pengeringan. Digunakan variasi pelarut, yakni Sodium Chlorite (NaClO2), Hydrocloric Acid (HCl), dan Hydrogen Peroxide (H2O2), yang bertujuan untuk mengetahui pelarut mana yang paling efektif dalam pengekstraksian serat selulosa tanaman eceng gondok. Didapatkan pada penelitian ini bahwa, pelarut NaClO2 dinilai paling efektif untuk ekstraksi serat selulosa. Hal ini berdasarkan dari gugus fungsi serat yang terbentuk pada analisis FTIR (Fourier Transform Infrared), karakteristik termal yang didapat dari analisis TGA (Thermogravimetric Analysis), dan dari kandungan hemiselulosa yang paling sedikit dibandingkan dengan pelarut lainnya dari analisis HPLC (High Pressure Liquid Chromatography).

ABSTRACT
Water hyacinth, classified as a natural fibres that is abundance in Indonesia. This natural fibre consists of cellulose fibres which is the main structural component of cell wall of green plant. To obtain cellulose fibers, chemical treatment such as dewaxing, removal of hemicelluloce component, delignification, until drying process of cellulose fibre have been made in this research. Variation of solvent is used, Sodium Chlorite (NaClO2), Hydrogen Peroxide (H2O2), and Hydrocloric Acid (HCl) Ammonia, with a purpose to determine which are the most effective solvent in this extraction. From this study, we obtained that the most effective solvent in the extraction of cellulose fibre from water hyacinth plant is NaClO2 solution. It is based on the functional group formed on the analysis of FTIR (Fourier Transform Infrared), thermal characteristic obtained from thermagravimetric analysis, and content of hemicellulose from high pressure liquid chromatography analysis.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43696
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>