Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 172280 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Vashty Amanda Hosfiar
"Melasma adalah kelainan pigmentasi didapat akibat disfungsi melanogenesis yang sering ditemukan pada wajah. Belum ada modalitas terapi melasma yang memberikan hasil yang memuaskan dan kekambuhan sering terjadi. Asam traneksamat diketahui dapat menghambat melanogenesis pada melasma. Pada beberapa studi, terbukti bahwa asam traneksamat oral dapat memperbaiki melasma, namun efek samping lebih banyak dilaporkan pada pemberian per oral sehingga asam traneksamat intradermal lebih dipilih. Belum pernah dilakukan uji klinis yang membuktikan efektivitas dan keamanan injeksi asam traneksamat intradermal sebagai terapi melasma di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas dan keamanan injeksi asam traneksamat intradermal sebagai terapi ajuvan pada tata laksana melasma. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda dengan metode split face yang dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2021 di Poliklinik Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM). Sebanyak 32 subjek penelitian (SP) dirandomisasi untuk mendapatkan injeksi asam traneksamat 10 mg/ml atau plasebo intradermal pada salah satu sisi wajah. Penelitian dilakukan selama 12 minggu dengan interval terapi injeksi 2 minggu. Seluruh SP mendapatkan terapi krim hidrokuinon 4% yang dioleskan sekali sehari malam hari dan tabir surya SPF 33 dua kali sehari selama 12 minggu. Penilaian skor MASI modifikasi (mMASI) dan pemeriksaan mexameter yang terdiri atas indeks melanin (IM) dan eritema (IE) dilakukan pada setiap kunjungan. Tiga puluh satu SP menyelesaikan penelitian, didapatkan rerata usia SP 49,9 tahun dengan median durasi melasma adalah 42 bulan, sebagian besar memiliki melasma tipe campuran. Penurunan skor mMASI lebih besar dan cepat pada pemberian terapi ajuvan asam traneksamat dibandingkan dengan plasebo sedangkan besar dan kecepatan penurunan skor IM dan IE tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok. Mayoritas SP tidak mengalami efek samping akibat pemberian asam traneksamat. Penilaian kepuasan SP terhadap terapi dengan patient global assessment menunjukkan respons sangat baik pada kelompok intervensi dan respons baik pada kelompok plasebo. Berdasarkan hasil penelitian ini, terapi ajuvan injeksi asam traneksamat intradermal 10 mg/ml efektif dan aman dalam menurunkan skor mMASI pada pasien melasma dengan tipe kulit IV – V.

Melasma is an acquired pigmentary disorder caused by melanogenesis dysfunction which is often identified on face. There has been no satisfying modality for melasma treatment and recurrence often occurs. Tranexamic acid is known to inhibit melanogenesis in melasma. Several studies found that oral tranexamic acid can improve melasma but a lot of side effects have been associated with oral administration. Therefore, intradermal tranexamic acid is preferred. There has never been a clinical trial that has proven the effectiveness and safety of intradermal tranexamic acid injection as melasma therapy in Indonesia. Thus, we conducted this study to evaluate the effectivity and safety of intradermal tranexamic acid as an adjuvant therapy for melasma treatment. A double-blind randomised controlled trial was performed with split face method from February to May 2021 in Dermatology and Venereology Clinic Faculty of Medicine Universitas Indonesia/dr. Cipto Mangunkusumo National Central General Hospital. A total of 32 subjects were randomised to receive whether intradermal tranexamic acid 10 mg/ml or placebo either on the right or the left side of their face. The study was performed for 12 weeks with injection interval of 2 weeks. All subjects were provided with 4% hydroquinone cream to be used once daily at night and sunscreen SPF 33 to be used twice daily for 12 weeks. Assessment for modification MASI (mMASI) score and mexameter examination which includes melanin index (MI) and erythema index (EI) were performed on every visit. Thirty-one subjects completed the study. All subjects had mean age of 49.9 years old. Median of melasma duration was 42 months. Almost all subjects had mixed type melasma. The decrease of mMASI score was larger and faster in tranexamic acid group compared to placebo while the decrease of MI and EI score was not significantly different between both groups. Majority of subjects did not experience any side effects due to tranexamic acid injection. Subjects overall treatment satisfaction assessed with patient global assessment showed very good response on most of the subjects in intervention group and good response in placebo group. On the basis of these results, adjuvant therapy with intradermal injection of 10 mg/ml tranexamic acid is effective and safe in reducing mMASI score in melasma patients with Fitzpatrick skin type IV-V."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sara Tania Aprianty
"Pasien kanker yang mempunyai nilai skala resiko Braden 10 sampai 12 dengan mobilisasi yang sulit karena metastasis tulang mempunyai resiko terjadinya luka tekan pada saat menjalani rawat inap. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektifitas perubahan posisi setiap 2 jam dengan efektivitas penggunaan foam dressing untuk mencegah terjadinya luka tekan. Penelitian ini menggunakan randomized control trial cross over design, yaitu semua reponden mendapat perlakuan perubahan posisi setiap 2 jam dan penggunaan foam dressing masing masing selama 3 hari. Jumlah sampel 10 orang, semua sampel mendapat dua perlakuan. Hasil uji t-independent menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada waktu
yang digunakan pada masing masing kelompok (p value = 0,018 ; =0,05) namun biaya yang dibutuhkan untuk penggunaan foam dressing lebih tinggi dibandingkan dengan perubahan posisi setiap 2 jam.

Cancer patients who had score braden scale 10 to 12 with mobilizations difficulty because
of bone metastases have the risk of pressure ulcers on when hospitalization. Research
purposes is to compare effectiveness changes of position every two hours with the use of
foam dressings to prevent pressure ulcers. This research use randomized control trial cross
overs design, and they received treatment changes of position every two hours and use of
foam dressings each over 3 days. The number of samples 10, all samples had two treatment.
Results test t-independent show there is a significant difference on the time used on each
group ( p value = 0,018;  =0,05 ) but use of foam dressing need more cost than positioning
every 2 hours.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T35505
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutabarat, Rodinda Marsha Ruth
"Pendahuluan: Berbagai modalitas terapi yang tersedia untuk melasma belum memberikan hasil yang memuaskan serta kekambuhan sering terjadi setelah terapi dihentikan. Asam traneksamat merupakan penghambat plasmin yang dapat mencegah melanogenesis. Beberpa studi telah membuktikan efek injeksi asam traneksamat (AT) intradermal sebagai terapi melasma, namun belum ada sebuah konsensus yang menentukan konsentrasi injeksi AT intradermal yang paling tepat dan efektif. Di Indonesia, belum pernah dilakukan uji klinis yang membandingkan efektivitas dan keamanan injeksi AT intradermal dengan konsentrsi yang berbeda untuk tata laksana melasma. Tujuan Penelitian: Membandingkan efektivitas dan keamanan injeksi AT intradermal konsentrasi 25 mg/ml dengan 10 mg/ml sebagai terapi ajuvan pada tata laksana melasma. Metodologi penelitian: Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol tersamar ganda dengan metode split-face. Sebanyak 30 subjek penelitian (SP) dirandomisasi untuk mendapatkan injeksi AT intradermal 25 mg/ml atau 10 mg/ml pada salah satu sisi wajah. Penelitian dilakukan selama 8 minggu dan terapi injeksi diberikan sejak minggu ke-2 dengan interval 2 minggu. Seluruh SP mendapatkan terapi krim tabir surya SPF 45 dan krim tretinoin 0,05% yang dioleskan sekali sehari malam hari selama 8 minggu. Penilaian skor MASI modifikasi (mMASI) dan pemeriksaan mexameter yang terdiri atas indeks melanin (IM) dan eritema (IE) dilakukan pada setiap kunjungan. Hasil penelitian: Terdapat 27 SP yang menyelesaikan penelitian dengan rerata usia 49,67 tahun dan sebagian besar memiliki melasma tipe campuran. Terdapat penurunan bermakna skor mMASI dan IM pada pemberian terapi ajuvan injeksi AT intradermal 25 mg/ml dan 10 mg/ml, namun besar dan kecepatan penurunan skor tersebut tidak berbeda bermakna pada konsentrasi 25 mg/ml dibandingkan dengan 10 mg/ml. Mayoritas SP tidak mengalami efek samping bermakna akibat injeksi AT. Kesimpulan: Terapi ajuvan injeksi AT intradermal 25 mg/ml dan 10 mg/ml efektif dan aman dalam menurunkan skor mMASI dan IM pada pasien melasma dengan tipe kulit Fitzpatrick IV dan V.

Background: The various treatment modalities available for melasma have yet to provide satisfactory results, and recurrence often occurs after discontinued therapy. Tranexamic acid (TA), a plasmin inhibitor, can prevent melanogenesis. Several studies have demonstrated the effectiveness of intradermal injections of TA as a treatment for melasma. However, there is no consensus on the most appropriate and effective concentration for these injections. In Indonesia, no clinical trials have been conducted to compare the effectiveness and safety of intradermal TA injections at different concentrations to manage melasma. Research Objective: Comparing the effectiveness and safety of intradermal TA injections at 25 mg/ml and 10 mg/ml concentrations as adjuvant therapy for melasma. Methods: A double-blind, randomized controlled trial was performed with the split-face method. A total of 30 subjects were randomized to receive intradermal TA 25 mg/ml or 10 mg/ml either on the right or the left side of their face. The study research was conducted over eight weeks, with injection therapy administered starting from the second week at 2-week intervals. All subjects received SPF 45 sunscreen and 0.05% tretinoin cream for eight weeks. Assessment for modification MASI (mMASI) score and mexameter examination, which includes melanin index (MI) and erythema index (EI), were performed on every visit. Results: Twenty-seven subjects completed the study, with an average age of 49.67 years, and most had mixed-type melasma. There was a significant decrease in mMASI and MI scores with adjuvant therapy using 25 mg/ml and 10 mg/ml intradermal tranexamic acid injections. However, the score reduction did not significantly differ between the 25 mg/ml and 10 mg/ml concentrations. The majority of subjects did not experience significant side effects from the tranexamic acid injections. Conclusion: Adjuvant therapy with intradermal injection of TA 25 mg/ml and 10 mg/ml effectively and safely reduces the mMASI and MI scores in melasma patients with Fitzpatrick skin types IV and V."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Iris Rengganis
Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2018
616 IRI s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Michael Hartanto Angriawan
"ABSTRAK
Latar belakang: Perekat medis akrilat banyak digunakan dalam layanan kesehatan tetapi kerap menimbulkan Medical adhesive-related skin injury (MARSI). Pencegahan dapat dilakukan dengan menambahkan larutan NaCl 0,9%, vaselin album, atau alkohol saat pengangkatan.  Namun belum didukung oleh penelitian. Tujuan: Mengetahui efektivitas penambahan bahan topikal dalam prosedur pelepasan perekat akrilat dalam mengurangi angka kejadian MARSI dan parameter objektif terkait. Metode: Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar tunggal. Dilakukan penempelan perekat akrilat pada empat lokasi di kulit lengan atas dewasa normal. Pada hari ketiga dan keenam perekat diangkat dengan/tanpa menambahkan bahan topikal secara acak pada keempat lokasi dan dilakukan evaluasi angka kejadian MARSI, skor eritema klinis, nilai eritema mexameter, TEWL, dan skor VAS nyeri. Hasil: Terdapat 224 lokasi uji dari 56 sampel. Angka kejadian MARSI pasca pengangkatan pertama 49,5% dan kedua 59,3%, terendah pada alkohol 50%. Alkohol menunjukkan peningkatan rerata skor eritema terendah baik klinis (p=0,102) maupun mexameter (p=0,024).  Alkohol dan vaselin menghasilkan peningkatan nilai TEWL terendah (p=0,709). Alkohol dan NaCl 0,9% tidak bermakna meningkatan skor VAS nyeri (p=0,173 dan p=0,699). Kesimpulan: Penambahan bahan topikal dapat mengurangi angka kejadian MARSI, namun tidak bermakna secara statistik. Alkohol secara konsisten menunjukkan perubahan parameter terkait yang lebih baik.

ABSTRACT
Background: Acrylic-based tapes are widely used in medicine but frequently associated with medical adhesive-related skin injury (MARSI). Addition of normal saline, vaseline or alcohol in its removal may prevent this, but studies are lacking. Aim: To determine the effectiveness of topical substances in reducing MARSI and related parameters during the removal of acrylic-based adhesives. Methods: We conducted a single-blind randomized controlled trial on the skin of normal adults. Tapes were placed on four sites on the upper forearms which were removed on the third and sixth days with/without applying the substances. The incidence, erythema based on clinical scores and mexameter, TEWL, and pain VAS were measured. Results: We obtained 224 test locations from 56 subjects. The incidence was 49.5% on the third day, increasing to 59.3% on the sixth; it was lower in alcohol group (50%). Alcohol resulted in lower mean of clinical erythema (p=0.102) and mexameter scores (p=0.024).  Both alcohol and vaseline gave the lowest TEWL increase (p= 0.709). Alcohol and normal saline was insignificantly increasing pain score (p=0.173 and p=0.699). Conclusion: Application of substances reduced MARSI incidence, but not statistically significant. Alcohol consistently demonstrated more favorable outcome in MARSI-related parameters.

 

"
2019
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lodén, Marie, editor
"This new book bridges the gap between the moisturizers and the skin by covering all the essential information required to tailor the use of moisturizers to particular disorders and patients. Important aspects of skin biochemistry and barrier function are explained, and the ingredients and treatment effects of moisturizers are explored in depth. Careful attention is paid to controversies, including the role of certain moisturizers in inducing dryness/eczema, asthma, and comedones. "
Berlin: Springer, 2012
e20420785
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Dwita Medya Pangesti
"ABSTRAK
Asam azelat merupakan senyawa kimia yang banyak digunakan dalam dermatologi. Untuk meningkatkan efektivitas asam azelat dibentuk ke dalam vesikel transfersom. Transfersom adalah vesikel yang berkemampuan deformabilitas dan dibuat dengan metode lapis tipis. Namun transfersom memiliki kekurangan yaitu tidak stabil selama masa penyimpanan. Maka dari itu dibentuk protransfersom melalui metode freeze dry. Lioprotektan trehalosa digunakan untuk menjaga stabilitas protransfersom selama proses freeze dry. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan stabilitas transfersom dan protransfersom asam azelat serta mengetahui pengaruh lioprotektan trehalosa terhadap protransfersom asam azelat. Selama masa penyimpanan 4 minggu pada suhu 4o transfersom, protransfersom dengan trehalosa, dan protransfersom tanpa trehalosa mengalami penurunan presentase efisiensi penjerapan sebesar 34,23 ; 12,19 ; 29,96 . Sedangkan pada suhu 28o masing-masing mengalami penurunan sebesar 35,36 ; 24,54 rsquo; 32,06 . Ukuran partikel transfersom dan protransfersom dengan trehalosa yang disimpan pada suhu 4o cenderung stabil. Hasil dari penelitian ini yaitu protransfersom memiliki stabilitas lebih baik dibandingkan transfersom. Penggunaan lioprotektan trehalosa memberikan stabilitas yang lebih baik pada protransfersom. Selain itu, penyimpanan pada suhu rendah dan dalam bentuk kering mampu mempertahankan stabilitas protransfersom asam azelat.

ABSTRACT
Azelaic acid is a chemical compound widely used in dermatology. To increase the effectiveness of azelaic acid was formed into transfersome. Transfersome is a vesicle capable of deformability which was made by thin layer method. Transfersome did not stabilized during storage, so it was formed protransfersome through freeze dry method. Lyoprotectant trehalose was used to maintain the stability of protransfersome during freeze dry process. The purposes of this research were comparing transfersome and protransfersome azelaic acid stability, and detecting the effects of trehalose lyoprotectant on protransfersome azelaic acid. During storage period at 4oC for 4 weeks, the entrapment efficiency of transfersome, protransfersome with trehalose, and protransfersome without trehalose were decreased by 34,23 12,19 29,96 respectively. On the other hand, at 28oC for 4 weeks, the percentage were decreased by 35,36 24,54 rsquo 32,06 respectively. Particle size of transfersome and protransfersome with trehalose were stable at 4oC. The result of this study shows that protransfersomes have better stability than transfersomes. Trehalose provides better stability on protransfersome azelaic acid. In addition, protransfersome stability can be mantain by storing at low temperature and dry form. "
2017
S70081
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Desy Andarini
"Adenokarsinoma rekti merupakan salah satu masalah kesehatan di daerah perkotaan. Faktor gaya hidup masyarakat perkotaan seperti Western diet dan kurang aktifitas fisik menjadi faktor predisposisi penting peningkatan insiden kasus ini. Tatalaksana bedah pada kasus ini sering disertai dengan pembuatan stoma. Tujuan penulian ini adalah menganalisa intervensi keperawatan yaitu pembersihan kantong stoma dalam mencegah terjadinya kerusakan integritas kulit pada pasien pasca operasi adenokarsinoma rekti. Hasil analisa praktik mahasiswa di ruang rawat bedah RSUP Fatmawati menunjukkan bahwa masalah iritasi kulit dan infeksi jamur dapat muncul akibat kurang tepatnya tindakan pembersihan kantong stoma. Rekomendasi penulisan ini adalah agar tindakan pembersihan kantong stoma dapat dilakukan sesuai standar dan disesuaikan dengan tipe stoma guna mengurangi resiko komplikasi dan menurunkan angka morbiditas pada pasien pasca operasi adenokarsinoma rekti.

Rectal Adenocarcinoma is one of the health problem in urban areas. Lifestyle factor of the urban community, such as Western diet and lack of physical activity become an important predisposing factor that increase incidence of this case. The surgical management of this case is often followed by stoma surgery. This article aimed to analyze the implication of stoma bag cleaning as nursing intervention to prevent risk for impaired skin integrity in patients undergoing rectal adenocarcinoma postoperative care. The results of student practice at surgical wards of RSUP Fatmawati showed that the skin irritation and fungal infection can develop from improper process of emptying and cleaning the stoma bag. This article recommends that protocol of cleaning the stoma bag can be carried out according to the standard and suited to the type of the stoma in order to reduce complications and postoperative morbidity in patients with rectal adenocarcinoma.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ghosh, Sanjay
New Delhi: Jaype Brothers Medical Publishing, 2014
616.5 GHO o
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>